DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG PENDIDIKAN
C. Konfigurasi Konflik
3. Proses dan Dampak Konflik
Pandangan umum dan upaya pelaksanaan SKB tersebut pada tingkat sekolah di Kulonprogo berlangsung dengan dinamika yang lebih keras. YPPK menolak memberikan pendidikan Islam terhadap siswa muslim yang bersekolah di sekolah Kristiani, satu di antaranya di sebuah sekolah Kristen di Samigaluh. Penolakan ini mendapat reaksi bukan hanya dari pihak pemerintah, namun juga dari umat Islam. Adapun prosesnya sebagai berikut:
Pertama, pada bulan Desember 2000 terjadi demonstrasi siswa/i SMK Bopkri
yang beragama Islam di Balai Desa Pagerharjo. Demonstrasi yang dimotori oleh seorang guru muslim di sekolah tersebut pada intinya mengadukan tentang penolakan sekolahnya terhadap SKB 2 Menteri. Pihak aparat desa ketika itu meskipun banyak yang muslim, nampak kurang antusias menanggapi demonstrasi tersebut dengan alasan tidak ada pemberitahuan sebelumnya sehingga merasa dilangkahi atau merasa ‘kecolongan’. Selain itu kegiatan tersebut dianggap menimbulkan keresahan dalam masyarakat karena demonstrasi ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Kedua, menindaklanjuti demonstrasi tersebut pemerintah desa melakukan pertemuan di balai desa. Dengan menghadirkan pihak-pihak yang berkonflik, di antaranya pimpinan sekolah, pihak pemerintah kabupaten dan kecamatan seperti Kepala Pendidikan Nasional Kabupaten Kulonprogo, Bakesbanglinmas, dan Camat dan Kepala Penyuluhan Agama Kantor Urusan Agama Samigaluh, guru-guru sekolah yang bersangkutan, Majelis Ulama’ Indonesia Kulonprogo, tokoh agama yang mewakili dari NU, dan Forum Ukhuwah Islamiyah
Ketiga, pertemuan yang dimaksudkan untuk berdialog tersebut berlangsung dalam suasana sangat tegang dan panas karena terbuka untuk umum. Sering terdengar hujatan, gebrakan meja, dan bahkan ada pengunjung yang naik ke atas meja. Hardikan dan intimidasi tersebut ditujukan kepada pihak pemerintah kabupan (Diknas) dan KUA kecamatan, MUI Kulonprogo, dan tokoh Islam. Menurut informan saya, masyarakat yang menghujat tersebut adalah orang-orang yang didatangkan oleh pihak sekolah dan (oknum) pemerintah desa dalam rangka menolak upaya pemindahan siswa dari sekolah Kristen ke calon SMK Negeri Samigaluh yang diletakkan di SMP 4 N Samigaluh. Dalam pertemuan tersebut tidak tercapai kesepakatan, masing-masing pihak tetap menegaskan posisinya. Pihak sekolah Kristen tetap menolak memberikan pendidikan agama Islam terhadap siswa muslim, begitu juga pemerintah desa dan sebagian masyarakat menolak pemindahan siswa dan pendirian SMKN Samigaluh.
Keempat, Tidak adanya kesepakatan dan ketidakpuasan tiap pihak telah mempertebal ‘in-group’ atau identitas masing-masing. Dari pihak muslim muncul Forum Penyelamat Aspirasi (Forpentas) yang dikoordinir Drs. H. Maryono. Forum ini mengadvokasi siswa dan wali siswa muslim sekolah Kristen, di antaranya menyampaikan orasi dan aspirasi kepada Pemda Kulonprogo, Kantor Departemen Pendidikan Nasional kabupaten dan propinsi dengan 2 tuntutan pokok yaitu: (1) supaya pemerintah memberlakukan SKB 2 dan 3 Menteri di sekolah Kristen di Samigaluh, (2) agar siswa muslim yang keluar dari sekolah Kristen tersebut dapat melanjutkan ke SMKN yang dipersiapkan. Selain itu dua organisasi Islam yaitu Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK) dan Forum Ukhuwah Islamiyah ikut terlibat dalam proses konflik.
Sementara dari pihak Kristiani menyusun kekuatan dengan terus mempengaruhi elemen-elemen yang ada di masyarakat setempat seperti perangkat
desa/dusun, dan sebagian umat Islam sehingga mereka menolak terhadap pengeluaran siswa dan pendirian SMKN di Samigaluh.
Peningkatan in-group masing-masing pihak ini seiring dengan yang terjadi pada level propinsi. Di kalangan pendukung sikap umat YPP Kristiani ada yang membentuk Forum Komunikasi Orang Tua Siswa Sekolah Swasta Kristiani yang diketuai oleh KGPH Hadiwinoto (kakak Sri Sultan Hamengku Buwono X). Forum ini terdiri dari orangtua siswa yang mempunyai agama berbeda dengan agama yang dianut sekolah swasta tempat mereka belajar. Mereka membuat surat pernyataan, bertanggal 2 Juni 2000, yang ditujukan kepada Kakanwil Depdiknas, Kakanwil Depag, Kepala Dinas P&P di Propinsi DIY dengan tembusan kepada Presiden, Menteri Pendidikan, Menteri Agama, Gubernur DIY, Dirjen Dikdasmen Depdiknas di Jakarta, DPRD Tk. I DIY dan DPRD Tk. II Kota/Kabupaten se DIY. Mereka menyatakan keprihatianan dengan adanya informasi bahwa ada kemungkinan putra/putri mereka tidak akan menerima STTB atau bahkan tidak diluluskan karena mereka tidak mengikuti EBTA pendidikan agama sesuai dengan agama yang mereka anut. Dalam surat pernyataan tersebut mereka mengungkapkan bahwa dengan sadar mereka menggunakan hak mereka untuk memilih sekolah swata Kristiani dan menerima pendidikan agama ciri khas sekolah tersebut.
Selain itu di lingkungan Kristiani juga terbentuk Forum Komunikasi Yayasan Pengelola Sekolah Kristiani (Katolik dan Protestan). Sementara di kalangan muslim memperkuat barisan melalui Forum Ukhuwah Islamiyah DIY, Majelis Dikdasmenbud Pimpinan Wilayah Muhammadiyah juga ikut mendukung terhadap SKB 2 dan 3 Manteri dengan mengirimkan surat kepada Departamen Pendidikan dan Kebudayaan DIY.
Kelima, Suasana tegang antarkelompok dalam masyarakat terutama di Desa Pagerharjo semakin terasa. Antarkelompok yang bertikai saling mengintimidasi dan mempersiapkan segala kemungkinan. Proses konflik mulai bergeser dari konflik ide/wacana ke kemungkinan konflik sosial-fisik.
Pihak yang tidak senang dengan pengeluaran siswa dan pendirian SMKN Samigaluh melakukan intimidasi kepada siswa dan walinya, misalnya penyegelan sekolah, pencurian papan dan peralatan sekolah, bahkan pelarangan kepada sopir angkutan umum mengangkut siswa-siswa yang akan berangkat ke SMKN di SMP 4 Samigaluh. Sementara dari pihak muslim melakukan reaksi dan ini melibatkan
Gerakan Pemuda Ka’bah (GPK), GPK dengan massa sekitar 2 mobil mencari orang-orang yang melakukan intimidasi terhadap siswa dan walinya. Mengetahui hal tersebut kelompok yang pertama mempersiapkan diri untuk melawan. Kedua kelompok tidak saling bertemu dan tidak terjadi konflik fisik karena kesigapan aparat kepolisian.
Keenam, Semenjak terjadinya puncak konflik tersebut, aparat kepolisian terus
berjaga-jaga untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya konflik fisik, namun di sisi lain kelompok-kelompok yang bertika masih saling waspada, bahkan cenderung terus melakukan intimidasi. Konflik sosial-fisik merada seiring dengan berjalannya waktu, namun konflik ide terus berlangsung walaupun tersubordinasi untuk sementara waktu.
Ketujuh, dalam proses konflik tersebut ada beberapa media yang dijadikan sebagai alat pengungkap kepentingan masing-masing, misalnya brosur, pamflet, orasi massa melalui demonstrasi sebagaimana dilakukan pihak muslim. Sementara di kalangan Kristiani melakukan isu moral-personal yang ditujukan kepada salah satu guru muslim yang mengajar di SMK Bopkri, dan penggalangan kekuatan yang ada dalam masyarakat seperti di kalangan ojek, petani, masyarakat di kampung dan pemerintah desa. Bahkan media massa seperti surat kabar dan telivisi juga memberitakannya dan sekaligus menjadi ajang penciptaan opini publik dari kedua belah pihak.
Kedelapan, sejak kasus tersebut kini telah berdiri SMK Negeri Samigaluh (Vilial) yang sementara bertempat di SMPN 4 Samigaluh berdasarkan SK Bupati no 218 tahun 2003. Sampai tahun 2005 ini, SMK Bopkri Samigaluh mengalami penurunan siswa yaitu dari 224 orang sebelum konflik terjadi dan sekarang tinggal 122 orang, sebagian besar siswa muslim. Bahkan tahun 2004 SMK Bopkri (Yayasan dan sekolah) memberi pendidikan agama Islam kepada siswa muslim, dan siswanya diperbolehkan berkerudung, tapi guru dipilih oleh yayasan. Pemberian pendidikan agama Islam ini dilakukan di luar jam sekolah.
Hal ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi telah berdampak terhadap tindakan akomodatif yaitu melunaknya sikap dan kebijakan dari YPKK dan pimpinan sekolah. Di sisi lain di kalangan orang tua muslim mulai ada kesadaran baru akan makna pentingnya pendidikan agama bagi anaka-anaknya, setidaknya dapat dilihat dari kehati-hatian orang tua untuk menyekolahkan anaknya ke sekolah Kristiani.