• Tidak ada hasil yang ditemukan

Surat Keputusan Bersama 2 Menteri sebagai Sumber Konflik

Dalam dokumen KONFLIK UMAT BERAGAMA DAN BUDAYA LOKAL (Halaman 32-36)

DAMPAK KEBIJAKAN PEMERINTAH DI BIDANG PENDIDIKAN

C. Konfigurasi Konflik

1. Surat Keputusan Bersama 2 Menteri sebagai Sumber Konflik

Latar Belakang: Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang berkaitan

dengan kerukunan hidup antar umat beragama di DIY sebenarnya telah muncul setahun sebelum SKB 2 menteri yang ditetapkan tanggal 8 Oktober 1999 maupun SKB 3 Menteri yang ditetapkan pada tanggal 21 Maret 2001. Pada waktu itu telah lahir Surat Edaran Bersama Kepala Kanwil Depdiknas dan Kepala Kanwil Depag, tanggal 15 Juni 1998 yang berisi ‘Pedoman Pendidikan Agama Pada Sekolah Swasta yang Berciri Khas Agama di DIY.’

Landasan hukum yang melatarbelakangi lahirnya SKB adalah UUD 1945, pasal 29, ayat 2 yang isinya: Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduknya untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu. Alasan yuridis formal lainnya adalah dengan mengacu pada kata pertama dari tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional 1998 yakni demi meningkatkan keimanan dan ketaqwaan siswa. Tujuan tersebut jelas tak dapat terlaksana jika siswa tidak dapat memperdalam dan menerima pendidikan agama sesuai dengan agamanya, hal ini terutama siswa yang ada di sekolah swasta yang berciri khas agama. Hal tersebut -- jika dikaitkan dengan tujuan pendidikan nasional-- menjadi tidak sejalan, sebab undang-undang tersebut menyatakan siswa berhak mendapat pendidikan agama sesuai yang dianutnya. Akan tetapi karena siswa maupun orang tuanya banyak yang belum tahu tentang fungsi dan isi undang-undang tersebut, mereka tidak menyampaikan pendapat atau tuntutannya kepada lembaga penyelenggara pendidikan.

Sosialisasi : Langkah-langkah sosialisasi telah dilakukan sejak munculnya SKB

Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propindi DIY, dengan cara mengundang para kepala sekolah serta ketua yayasan untuk melakukan dialog masalah pelaksanaan SKB. Isu pokoknya bahwa salah satu aspek reformasi bidang hukum dalam sektor pendidikan adalah masalah pendidikan agama, yang menjadi hak siswa untuk mendapatkannya sesuai dengan agama yang dianutnya.

Sosialisasi juga dilakukan kepada masyarakat. Pihak Kanwil Departemen Agama DIY telah menyampaikan tentang pelaksanaan SKB 2 Menteri maupun 3 Menteri ini melalui rapat koordinasi bidang penerangan agama untuk menitipkan kepada penyuluh agama agar masyarakat tahu bahwa anak-anak mempunyai kewajiban untuk mengikuti pendidikan agama sesuai yang dianutnya. Sosialisasi Kanwil Departemen Agama Kabupaten dilakukan oleh Kakandep, Kepala Bidang sampai ke cabang-cabang maupun ranting. Hal ini juga dilakukan di Kabupaten Kulonprogo. Pada tingkat masyarakat, sosialisasi antara lain dilakukan oleh Forum Ukhuwah Islamiyah DIY yang menyebarkan surat edaran tentang hal ini.

Upaya Pelaksanaan: Dalam upaya pelaksanaan SKB tersebut Gubernur Propinsi

DIY mengeluarkan Surat Edaran tertanggal 10 Mei 2001 yang intinya berbunyi sebagai berikut: (1) Dalam pelaksanaan pendidikan kepentingan anak diutamakan, (2) Aqidah/keimanan anak didik oleh pengelola pendidikan/sekolah tetap diperhatikan dan dijamin, (3) Agar melaksanakan SKB 3 Menteri tersebut di atas dengan baik dan sebagaimana mestinya sesuai degan ketentuan pasal 13 khususnya Ebta untuk pelajaran Pendidikan Agama pada sekolah baik negeri maupun swasta dilaksanakan sebagai berikut: (a) EBTA pendidikan agama diberikan sesuai dengan agama yang dianut oleh siswa yang bersangkutan, dan nilai pendidikan agama yang ditulis dalam rapor adalah nilai pendidikan agama yang dianut oleh siswa yang bersangkutan, (b) Pemberian nilai untuk mata pelajaran pendidikan agama kepada siswa pemeluk suatu agama tertentu yang di sekolahnya tidak dapat diajarkan pendidikan agama bagi siswa yang bersangkutan, dilakukan oleh pembina agama yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Wilayah dan diangkat oleh kepala Dinas Kabupaten/Kota setempat. (c) Dalam hal pembina agama sebagaimana dimaksud dalam butir (b) tidak dapat ditunjuk dan diangkat, penentuan pemberian nilai mata pelajaran pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianut siswa yang bersangkutan, pengaturannya diserahkan kepada Kepala Dinas propinsi/Kabupaten/Kota setempat. Untuk itu penanganan harus dilaksanakan kasus demi kasus.

Sementara upaya melaksanakan SKB 2 Menteri dan 3 Menteri di Kabupaten Kulon Progo antara lain dilakukan oleh Departemen Agama dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan: Pertama, Depag memberikan surat tugas pada guru pendidikan agama Islam untuk mengajar di sekolah Kristiani. Para guru tersebut diambil dari guru agama Islam yang mengajar di sekolah negeri terdekat dengan sekolah Kristiani. Mereka pun berstatus sebagai pengawas dan korektor pendidikan agama Islam di sekolah swasta yang berciri khusus (tahun 2000/2001). Kedua, Depag menetapkan bahwa kurikulum pendidikan agama Islam dan buku-buku yang digunakan untuk mengajar agama Islam di sekolah Kristiani sama dengan kurikulum dan buku yang diberikan pada siswa-siswa yang bersekolah di sekolah negeri. Bersamaan dengan itu Depdikbud Kulon Progo (1) menerima kehadiran 2 orang yang membawa surat tugas (Nomor: 23/BAKTI/2000) untuk melakukan tugas reportase pelaksanaan EBTA pendidikan agama tahun ajaran 1999/2000 di sekolah-sekolah swasta berciri khas keagamaan di wilayah Kulon Progo. (2) pada tanggal 7 Juni 2000 mengirimkan surat ke Diknas DIY yang isinya: ada 6 sekolah yayasan penyelenggara pendidikan Kristiani di Kulon Progo yang tidak melaksanakan EBTA agama sesuai yang dianut siswa yaitu SMK Bopkri Wates, SMU Bopkri Wates, SMK Bopkri Sentolo, SMK Bopkri Samigaluh, SMU Sanjaya Nanggulan dan SMK Marsudi Luhur Wates. Hanya ada satu sekolah/yayasan Kristiani yang melaksanakan yaitu SMK Maranatha Temon.

2. Pandangan dan Alasan

Munculnya SKB telah melahirkan konflik di antara umat Islam dan Kristiani, terutama konflik ide berupa pandangan masing-masing pihak.

Pertama, pandangan yang berasal dari instansi pemerintah maupun Yayasan Penyelenggara Pendidikan Islam (YPPI) yang menyambut baik terhadap isi atau materi SKB. Menurut mereka, bila dilihat dari isi atau materi SKB sudah memadai, adil dan proporsional sebab di dalam SKB itu telah mengatur agar setiap siswa mendapatkan haknya dalam memperoleh pendidikan agama sesuai dengan keyakinannya. Walaupun dari keseluruhan isi maupun materi SKB tersebut dianggap tidak mempunyai daya yang benar-benar bisa dipatuhi oleh sekolah, sebab dalam SKB belum diatur mekanisme sangsi bagi sekolah yang tidak melaksnakan aturan tersebut.

Yayasan Penyelenggara Pendidikan Islam sangat setuju dengan beberapa alasan:

1) Membantu siswa agar tidak mengalami kekaburan atau kebingungan dalam memahami imannya. Pelajaran agama itu bukan hanya sekedar memberikan pengetahuan agama semata melainkan sebagai proses pendidikan iman siswa. Itu sebabnya pendidikan agama perlu ditangani oleh guru yang mempunyai latarbelakang keagamaan yang sama dengan siswanya;

2) Menyadarkan Yayasan Penyelenggara Pendidikan Kristiani untuk tidak lagi mewajibkan orang tua membuat surat pernyataan: bersedia membiarkan anaknya mempelajari agama sesuai dengan agama yang dianut sekolah/yayasan

3) Sekarang ini, masyarakat sudah cukup kritis untuk mempersoalkan hal tersebut, maka jika tidak ada keterbukaan dari pihak sekolah/yayasan, kemungkinan peminat yang akan masuk ke sekolah tersebut dapat menjadi berkurang. Dengan adanya perkembangan sekolah-sekolah yang dikelola Muhammadiyah dan kelompok Islam yang lain, maka sekarang ini masyarakat pun mempunyai alternatif lain untuk memasukkan anaknya ke sekolah yang sesuai dengan agama yang ia anut.

Kedua, pandangan pengelola Yayasan Penyelenggara Pendidikan Kristiani (YPPK) yang merasa keberatan dengan munculnya SKB 2 dan 3 Menteri tersebut. Mereka melihat kebijakan tersebut lebih bersifat politis, karena pemerintah melihat kekhawatiran dari masyarakat (kalangan Islam) itu dalam konteks Kristenisasi. Yayasan Kristiani mensinyalir adanya kekhawatiran yang berlebihan dari pihak-pihak tertentu bahwa sekolah yang dikelola oleh yayasan Kristiani menjadi ajang penyiaran agama yang dapat mengakibatkan siswa melakukan perpindahan agama.

Sikap kontra muncul dari pihak YPP Kristiani dengan alasan:

1) SKB tersebut cacat hukum sebab berlawanan dengan isi Undang-undang No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Menurut mereka di dalam undang-undang tersebut tidak ditemukan satu pasal-pun yang memberikan ketentuan tentang keharusan memberikan pendidikan agama tertentu bagi peserta didik di sekolah-sekolah swasta yang berciri khas keagamaan. Perubahan kata hak dalam sistem perundangan di atasnya menjadi wajib dalam SKB 2 Menteri telah memberi implikasi yang sangat besar. Dalam kata hak mengandung adanya kebebasan, dapat menolak maupun menerima, tidak ada keharusan, yang bersangkutan dapat menentukan apa yang akan dipilihnya. Adapun kata wajib berarti keharusan yang mengikat untuk dilaksanakan, jadi dengan kata wajib ini

kebebasan tidak ada. Mereka menafsirkasn hal ini dari pasal 14 ayat 5 PP 28 th. 1990 maupun Pasal 17 angka 2 PP 29 th. 1990 tentang Pedoman Pendidikan Agama pada sekolah swasta yang berciri khas agama di DIY, yang menyatakan bahwa sekolah swasta yang mempunyai ciri khas berdasarkan agama tertentu tidak diwajibkan menyelenggarakan pendidikan agama lain dari agama yang menjadi ciri khas sekolah tersebut dan menyerahkan pendidikan agama kepada Pemerintah dan orang-tua masing-masing.

2) SKB 2 Menteri ini tidak sesuai dengan prinsip pendidikan di sekolah tersebut yaitu prinsip kebebasan bagi siswa untuk memilih dan menentukan sendiri, sehingga mendidik anak menjadi dewasa dan bertanggung jawab.

3) Setiap orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah Kristiani sejak awal sudah mengetahui bila anaknya akan mendapatkan pelajaran agama yang berbeda dengan yang dianutnya. Berarti mereka itu memiliki hak dan kebebasan untuk menentukan pilihan tersebut.

4) Pendidikan itu pada prinsipnya terbuka untuk umum (terbuka terhadap suku, agama, ras dan golongan apa saja) yang secara akademis bermutu dan memperhatikan pembentukan kepribadian manusia seutuhnya

Dalam dokumen KONFLIK UMAT BERAGAMA DAN BUDAYA LOKAL (Halaman 32-36)