171 DAN UNGKAPAN SOLIDARITAS
D. Upaya Pengendalian Potensi Konflik
Sebenarnya selama ini sudah banyak kegiatan yang dilakukan dalam rangka merekatkan hubungan antarkelompok, khususnya antarumat beragama. Hanya saja seperti dikemukakan oleh UA (58 tahun) banyak dari kegiatan tersebut belum dianggap optimal. Adapun bentuk-bentuk pengendalian yang dilakukan sebagai berikut.
Pertama, bergotong royong membersihkan tempat ibadah umat beragama. Upaya ini dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkembangkan kebersamaan dan kerukunan di antara kelompok umat beragama. Misalnya melakukan pembersihan tempat ibadah di awali dari pembersihan tempat ibadah Masjid Jami’ Cakranegara yang dipimpin langsung oleh Kakandepag Mataram dan diikuti seluruh pimpinan agama yang ada di Mataram. Selain itu melakukan pembersihan pura yang ada di Cakranegara, dan pembersihan Wihara yang ada di Mataram.
Kedua, dialog dan diskusi antarumat beragama sekota Mataram. Kegiatan ini dilakukan di aula Departemen Agama Mataram tahun 2004. yang diikuti oleh pimpinan agama, organisasi kepemudaan masing-masing agama, dan tokoh masyarakat. Diskusi tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membentuk Forum Komunikasi Antar Umat Beragama.
Dialog antar umat beragama juga dilakukan dalam rangka sosialisasi Peraturan Bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri tahun 2006, pada tanggal 27, 28 juli 2005 di aula Departemen Agama Mataram. Dalam acara tersebut diikuti oleh ketua majelis agama, ormas keagamaan, tokoh masyarakat, Bakesbanglinmas, kejaksaan, organisasi kepemudaaan NW, NU, Muhammdiyah, pemuda Kristen, pemuda Hindu, pemuda Katholik, dan pemuda Walubi. Pada dialog tersebut terbentuk pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Mataram.
Ketiga, melakukan ngayo (Bahasa Sasak). Ngayo dapat diartikan dengan pertemuan silaturahim antar berbagai unsur. Ngayo ini pertama kali dilakukan di rumah Kakandepadg Mataram yang diikuti MUI, WALUBI, PHDI, dan PGI. Dalam
ngayo tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mengadakan silaturahim dalam 3 bulan sekali.
Keempat, melalui kegijakan pemerintah kota yang berusaha mendukung tumbuh-kembangnya kerukunan umat beragama. Kebijakan tersebut meliputi: (a) Himbauan kepada masyarakat oleh pemerintah daerah, untuk ini walikota mengeluarkan surat edaran yang berisi pentingnya toleransi antarumat beragama dalam ritual keagamaan. (b) Menciptakan slogan Kota Mataram “ di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.” (c) Pencanangan hari Jum’at sebagai hari imtaq untuk seluruh umat beragama sehingga masing-masing instansi, sekolah harus memakai pakaian sesuai dengan agama yang dianutnya. (d) Optimalisasi peran serta pemerintah desa untuk selalu memfasilitasi dialog antarumat beragama
Kelima, memfungsikan lagi hukum adat yang ada di Lombok yang biasa di sebut dengan awig-awig yaitu peraturan yang dipegang teguh oleh masyarakat. Berdasarkan deskripsi tersebut nampak bahwa upaya pengendalian konflik antarumat beragama lebih banyak dilakukan oleh pemerintah, sementara prakarsa dari pihak masyarakat belum banyak berkembang. Memang ada upaya untuk memfungsikan kembali awig-awig namun hal itu juga baru datang dari pemerintah.
Selain kelima upaya tersebut masih ada upaya-upaya yang dilakukan pemerintah setempat, dan upaya tersebut sama seperti yang dilakukan di daerah lain karena sifatnya berupa kebijakan dalam skala nasional. Upaya tersebut misalnya yang dilakukan oleh Kesbanglinmas yaitu kegiatan sosialisasi wawasan kebangsaan (Wasbang), deteksi dini kemungkinan terjadinya konflik suku, agama, ras, dan antrgolongan (SARA). Kegiatan ini dilakukan Komunikasi Intelejen Daerah (Kominda). Juga sosialisasi program pemerintah di bidang keagamaan, khususnya yang berkaitan dengan hubungan intern dan antarumat beragama yang dikoordinir oleh Departemen Agama.
E. Upaya Penyelesaian Konflik
Upaya yang dilakukan dalam menyelesaikan konflik antarumat beragama, baik pada kasus 171 maupun yang lainnya masih didominasi oleh pendekatan struktural. Artinya pemerintah yang dominan dalam memprakarsai dan memimpin serta memfasilitasi penyelesaian. Dalam hal ini dengan cara menggerakan seluruh
stackholder yaitu mengumpulkan seluruh pejabat pemerintah yang terkait, tokoh agama khususnya tuan guru, tokoh masyarakat dan kepemudaan (AMPIBI).
Walikota secara langsung mengundang mereka untuk berkumpul di pendopo. Dari hasil pertemuan itu kemudian diambil keputusan bersama. Misalnya dalam kasus 171 ada beberapa keputusan yaitu: (a) Melindungi seluruh masyarakat yang ada di Kota Mataram dari seluruh agama. (b) Membatasi jumlah gereja yang ada di Kota Mataram. (c) Relokasi gereja sehingga gereja hanya berdiri di kota Mataram hanya berjumlah 17 buah. (d) Mengadakan safari jum’at dan safari sholat fardu di seluruh masjid sehingga menyatukan langkah bahwa kejadian 171 itu sudah berakhir dan masyarakat di harapkan tenang. (e) Mendirikan forum umat beragama
Alasan mengapa walikota Mataram mengambil inisiatif ketika itu karena beberapa saat setelah kerusuhan roda perekonomian yang ada di Kota Mataram terganggu, sehingga akan berpengaruh kepada aspek sosial. Sebagaimana diketahui pada waktu itu banyak pedagang Cina yang mayoritas beragama Kristen yang tidak melakukan aktivitas.
Walapun dalam penyelesaian tersebut didominasi oleh lembaga pemerintah, namun dalam proses tersebut ada pemberian peran kepada tuan guru untuk menenangkan massa. Pemberian peran kepada tuan guru ini merupakan ciri khas Mataram, hal ini sekaligus menunjukkan masih tingginya penghargaan terhadap statusnya yang kharismatik di kalangan muslim-Sasak. Meskipun pemeranan modal sosial lokal ini belum optimal, tapi ke depan memang perlu dikembangkan terus. Sebagai elit yang memiliki fungsi sosio-kultural di kalangan muslim, maka ke depan peran mereka bukan hanya sebagai agent of change dalam pemikiran dan pengamalan keislaman yang kaffah, tapi juga pemimpin yang mampu melakukan penyelesaian konflik. Dengan demikian mereka akan dapat melakukan fungsi kepemimpinan yang polimorfis (polymorphic) di dalam masyarakatnya.
Untuk hasil penyelesaian konflik 171 sebenarnya banyak di antara kelompok agama yang tidak puas, baik dari kalangan muslim maupun dari kalangan nonmuslim, tetapi mereka tidak menampakkan secara langsung di masyarakat. Kalangan nonmuslim banyak yang tidak puas karena pemerintah dianggap tidak memperhatikan terhadap kurban seperti pengrusakan rumah Pendeta Sinaga dan rumah-rumah dari korban yang lain. Sementara dari pihak muslim sangat kecewa karena ternyata banyak
di antara gereja yang terbakar dibangun kembali tanpa mempertimbangkan kembali kelayakan pendirian gereja tersebut di sebuah lokasi yang ada.