1. Jumlah Anggaran Nasional 2002-2011 sekitar Rp 136,1 miliar dan anggaran daerah (APBD Propinsi) sekitar Rp 16,1 miliar (kebanyakan dialokasikan oleh Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur). 2. Kegiatan Utama:
• 2002 – 2003: difokuskan pada pembentukan Pokja di Depdiknas, peningkatan kapasitas Pokja, penelitian untuk merumuskan Kertas Kerja, pelatihan GAP/POP untuk Pokja, kampanye media.
• 2003-2006: Pengembangan kapasitas pada unit utama di Depdiknas, peningkatan kapasitas Pokja Depdiknas, Dukungan terhadap PUG di 15 provinsi, peningkatan kapasitas untuk 15 Pokja Provinsi, Pelatihan GAP/POP di 15 provinsi, melanjutkan kegiatan merumuskan Kertas Kerja di 15 propinsi.
• 2006-2008: peningkatan kapasitas di Unit utama Depdiknas, peningkatan kapasitas Pokja Depdiknas, kampanye media, dan evaluasi PUG. Juga mendukung PUG di 32 Provinsi untuk merumuskan Pokja, peningkatan kapasitas dan diskusi meja bundar bagi para pengambil keputusan, pelatihan GAP/POP, pelatihan kurikulum dan bahan ajar yang responsif gender, Kertas Kerja dan kampanye media.
• 2009-2011: pelatihan GAP/POP, Pelatihan anggaran gender, pelatihan audit gender, penguatan status Pokja, kampanye media. Dukungan terhadap PUG di tingkat provinsi dan kabupaten/ kota seperti pelatihan kurikulum dan bahan pengajaran yang responsif gender, peningkatan kapasitas untuk Pokja di tingkat propinsi, model percontohan di kabupaten terpilih untuk model PUG unit sekolah.
3. Institusi PUG (Pokja dan focal point)
• Tingkat Pusat:
o Kelompok kerja PUG (Pokja) di tingkat pusat (Depdiknas) yang didirikan pada tahun 2002 oleh Ditjen PAUDNI sebagai kepala Pokja yang direvisi setiap tahun sampai 2006
o Meningkatkan status Kelompok Kerja PUG yang ditandatangani oleh Departemen Pendidikan Nasional mulai tahun 2007 sampai sekarang
o Focal point adalah perwakilan dari unit utama Depdiknas
• Tingkat Provinsi:
o Kelompok kerja PUG (Pokja) di tingkat provinsi telah dibentuk di 32 provinsi yang ditandatangani oleh beberapa Gubernur dan beberapa Kepala Dinas Pendidikan di tingkat propinsi.
o Focal point ditugaskan oleh Kepala Bidang di Dinas Pendidikan dan wakil dari setiap bagian di Dinas Pendidikan;
• Tingkat Kabupaten:
o Kelompok Kerja PUG (Pokja) di tingkat kabupaten/kota telah dibentuk di 54 kabupaten/ kota yang ditandatangani oleh beberapa Bupati dan Walikota dan beberapa oleh Kepala Dinas Pendidikan kabupaten /kota.
o Setiap kabupaten memiliki 2 kecamatan sebagai model percontohan PUG di unit sekolah (PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MAN, PKBM). Misalnya Kecamatan Tempel di Kabupaten Sleman dan Kecamatan Ceper di Kabupaten Klaten.
Annex 3 Definisi & Konsep Gender
Istilah jenis kelamin menggambarkan perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan.
Sedangkan gender adalah konstruk sosial dan budaya, yang menunjukkan perbedaan ciri-ciri laki dan perempuan dan dengan demikian menunjukkan pula peran dan tanggung jawab masing-masing. Oleh sebab itu, isi peran dan ciri-ciri lain yang tergantung gender akan berubah dari waktu ke waktu dan di antara lingkungan budaya yang berbeda. Konsep gender termasuk pengertian tentang sifat, kemampuan dan perilaku yang diharapkan dari perempuan maupun laki (yaitu hakekat perempuan-an” dan “ke-laki-laki-an” yang disebut feminitas dan maskulinitas). Konsep gender ini berguna juga dalam menganalisis bagaimana caranya praktek-praktek pembedaan di antara laki dan perempuan dipelihara dalam kebiasaan sehari-hari.
Tingkat kesamaan (paritas) gender berupa hitungan kuantitatif. Paritas gender di bidang pendidikan berarti jumlah anak laki-laki dan perempuan yang menerima pelayanan pendidikan sama pada setiap tingkat pendidikan dan dalam bentuk yang beragam.
Keadilan gender adalah proses yang adil untuk laki maupun perempuan. Untuk menjamin keadilan tersebut, sering kali diperlukan aturan khusus untuk mengimbangi hal-hal yang mengakibatkan perempuan dan laki tidak “bermain” pada lapangan yang sama. Misalnya, dalam satu negara, jika jumlah mahasiswa laki lebih banyak daripada jumlah mahasiswa perempuan (terutama dalam bidang sains dan teknologi) bisa diberlakukan sistem kuota dalam penerimaan mahasiswa perempuan atau aturan lain yang memihak pada perempuan (disebut aksi afirmatif). Kebijakan tersebut dapat membantu mencapai jumlah mahasiswa perempuan yang sama dengan laki atau setidaknya paling sedikit lebih banyak mahasiswa perempuan terdaftar dalam bidang tersebut.
Kesetaraan gender berarti perempuan dan laki memperoleh kesetaraan dalam keadaan, perlakuan dan kesempatan untuk mencapai seluruh potensinya, hak asasi dan martabatnya serta untuk memberi sumbangan (dan menerima manfaat) dari proses pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan politik. Oleh sebab itu kesetaraan gender menuntut agar kesamaan maupun perbedaan laki dan perempuan serta peran masing-masing dihargai sama tinggi oleh masyarakat. Penghargaan sama tersebut akan terjadi apabila laki dan perempuan menjadi mitra sejajar dalam rumah tangga, lingkungan dan masyarakat luas. Keadilan gender merupakan salah satu sarana untuk mencapai kesetaraan gender.
Kesetaraan gender dalam pendidikan berarti anak perempuan dan anak laki dijamin dan benar-benar diberikan kesempatan dan perlakuan yang sama dalam mengakses pendidikan, proses belajar-mengajar dan berhasil dalam pendidikan bermutu baik serta bebas dari stereotip.
Pengarusutamaan gender dalam pendidikan adalah proses penilaian dampak dari suatu tindakan yang sedang dipertimbangkan/direncanakan; yaitu dampak bagi perempuan maupun lelaki. Tindakan yang dimaksud termasuk peraturan/perundangan, kebijakan atau program pada semua tingkat pendidikan. Pengarusutamaan gender merupakan salah satu strategi untuk menjamin bahwa kepentingan dan pengalaman perempuan maupun laki menjadi bagian integral dari proses rancangan, pelaksanaan serta pemantauan dan evaluasi kebijakan dan program pendidikan sehingga anak laki dan perempuan juga perempuan dan laki-laki dewasa mendapatkan manfaat yang sama sekaligus menjamin bahwa ketidaksetaraan tidak berlanjut. Tujuan akhir pengarusutamaan gender dalam pendidikan adalah pencapaian kesetaraan gender dalam pendidikan.
Pemberdayaan menyangkut manusia, baik perempuan maupun laki, yaitu kemampuan untuk mengambil-alih kendali atas hidupnya sendiri: menetapkan kepentingannya, mengembangkan keterampilan (termasuk keterampilan hidup), membangun kepercayaan diri, memecahkan masalah dan meningkatkan kemandirian. Pendidikan medukung proses pemberdayaan, antara lain dengan mendorong anak laki dan perempuan untuk mempersoalkan adanya ketidakadilan serta bertindak untuk mengubahnya.
Perempuan dalam Pembangunan adalah konsep yang didasarkan pada kesadaran bahwa perempuan mempunyai peran penting dalam proses pembangunan. Namun demikian, pendekatan WID belum tentu bisa mengubah hubungan laki-perempuan yang bersifat bertingkat atas-bawah (hierarkis) berdasarkan
gender. WID lebih banyak mendukung terpenuhinya kebutuhan praktis kaum perempuan, seperti pengembangan keterampilan perempuan untuk mencari nafkah (income generating).
Gender dan Pembangunan merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada tindakan untuk mengatasi ketidaksetaraan hubungan gender dalam seluruh siklus pembangunan (kesempatan akses, proses dan hasil) yang menghambat keikutsertaan perempuan secara penuh dalam proses pembangunan maupun dalam menerima manfaat pembangunan. Konsep GAD dikembangkan dari proses “belajar dari pengalaman” terhadap program dan kegiatan WID. GAD bertujuan agar laki maupun perempuan sama-sama ikut serta dalam mengambil keputusan dan berbagi manfaat. Pendekatan ini menekankan pada usaha strategis jangka panjang untuk mencapai tujuan akhir yaitu kesetaraan gender.
Perbedaan utama antara WID dan GAD adalah bahwa selama ini proyek-proyek WID cenderung melayani kebutuhan praktis khas perempuan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan sehari-hari bagi perempuan maupun keluarganya tanpa analisis gender yang menyeluruh.
Kebutuhan praktis adalah kebutuhan fisik langsung sehari-hari seperti air, tempat tinggal, pakaian dan makanan. Memenuhi kebutuhan praktis perempuan tersebut menitikberatkan pada upaya, di antaranya membebaskan kaum perempuan dari tugas mengambil air, mendorong pendidikan keterampilan dan mendukung kegiatan yang menghasilkan pendapatan sehingga mengentaskan kemiskinan yang dihadapi oleh para perempuan dan keluarganya.
Kepentingan strategis gender bersifat jangka panjang, tidak harus menyangkut fisik/materi, sering kali berhubungan dengan perubahan struktural masyarakat. Intervensi yang berdasarkan kepentingan strategis gender menitikberatkan pada isu-isu mendasar terkait dengan subordinasi perempuan (atau jarang kali subordinasi laki) dan ketidakadilan gender. Dalam bidang pendidikan, kepentingan strategis gender menitikberatkan pada penciptaan lingkungan pendidikan yang medukung pencegahan sikap dan perilaku yang berbias gender serta mendorong pemberdayaan perempuan dewasa maupun anak agar dapat mengambilalih kendali atas hidupnya sendiri dengan menjadi agen perubahan (change agent) yang aktif.
Analisis gender menyelidiki perbedaan pengalaman, pengetahuan dan kegiatan antara perempuan dan laki dalam lingkup tertentu. Analisis tersebut mengkaji perbedaan-perbedaan tersebut agar kebijakan, program dan proyek bisa mengenali dan memenuhi kebutuhan perempuan dan laki yang berbeda. Oleh karena itu, analisis gender tersebut merupakan unsur yang tak terpisahkan dari analisis kebijakan yang secara khusus melihat bagaimana kebijakan publik akan mempunyai dampak yang berbeda terhadap perempuan dan laki. Analisis ini menyadarkan bahwa kebijakan maupun pelaksanaannya tidak mungkin bersifat netral terhadap gender, terutama dalam masyarakat di mana ada peran tertentu yang melekat pada laki atau perempuan. Analisis gender biasanya didukung oleh penggunaan informasi dan data yang dipilah menurut laki-laki dan perempuan serta membutuhkan pemahaman yang baik dan kepekaan terhadap lingkup sosial-budayanya.
Di bidang pendidikan, analisis gender dapat dimasukkan ke dalam analisis kurikulum untuk menilai bagaimana suatu kurikulum tertentu dapat berdampak pada sikap belajar, motivasi serta keberhasilan anak laki dan perempuan serta bagaimana mereka memahami diri mereka sendiri.
Buta gender adalah ketidaksadaran akan peran dan tanggung jawab anak laki/laki dewasa dan anak perempuan/perempuan dewasa yang diberikan kepada mereka oleh lingkungan dalam konteks dan latar belakang sosial, budaya, ekonomi dan politik yang spesifik. Proyek, program, kebijakan dan sikap yang buta gender serta tidak memperhitungkan adanya perbedaan peran dan kebutuhan tersebut mempertahankan status quo, dan tidak membantu mengubah struktur hubungan gender yang tidak setara. Misalnya, seorang guru buta gender mungkin berpikir bahwa pendidikan sekolah bersifat netral terhadap gender, karena tidak ada perbedaan antara anak laki dan perempuan dalam proses belajar mengajar. Namun, dalam kenyataannya, sikap stereotip dan bias gender di alam bawah sadar guru dapat mempengaruhi praktek di kelas dan menghasilkan perlakuan yang berbeda terhadap anak laki dan perempuan oleh guru yang bersangkutan.
Laporan anggaran gender adalah laproan pertanggungjawaban anggaran yang memuat pertanggungjawaban gender yang dihasilkan oleh suatu lembaga pemerintah untuk menunjukkan apa yang dilakukan program dan anggaran tersebut terhadap gender.
Netral terhadap gender adalah kata sifat yang menunjukkan sifat bahasa tertentu. Penggunaan bahasa netral terhadap gender mensyaratkan bahwa kata-kata yang kita gunakan tidak bermuatan bias terhadap perempuan atau laki. Pilihan kata yang tidak tepat memang dapat diartikan sebagai bias, diskriminatif atau merendahkan martabat, walaupun tidak dimaksudkan demikian. Contoh dalam bahasa Inggris, yaitu penggunaan kata humankind (manusia) yang mencakup perempuan maupun laki dibandingkan dengan istilah mankind (artinya manusia tapi man=laki) yang tampaknya tidak mencakup perempuan.
Dalam hal ini analisis gender amat penting, karena sistem/lembaga budaya, sosial, politik dan ekonomi yang ada belum tentu netral terhadap gender. Keyakinan bahwa pendidikan sekolah bersifat netral terhadap gender justru didasarkan pada kebutaan gender.
Kesadaran gender adalah kesadaran bahwa memang ada perbedaan sosial dan budaya antara perempuan dan laki dan kesadaran bahwa perbedaan tersebut merupakan perilaku yang diajarkan oleh masyarakat. Perbedaan tersebut mempengaruhi kemampuan perempuan untuk memperoleh dan mengatur kesempatan, termasuk kesempatan memperoleh dan mengatur sumber daya. Kepala sekolah yang sadar gender akan mengerti bahwa dia harus memberi perhatian khusus kepada cara pendidikan disampaikan kepada murid laki maupun perempuan karena masyarakat – dalam hal ini, guru - mungkin akan berbeda dalam menghargai murid laki dan murid perempuan. Hal ini bisa berdampak terhadap pembelajaran mereka.
Kepekaan Gender mencakup kemampuan menyadari dan menyadarkan orang lain tentang adanya perbedaan gender, termasuk isu-isu dan ketidaksetaraan gender serta kemampuan untuk memasukkan perbedaan tersebut ke dalam strategi dan tindakan. Namun kepekaan gender tidak berarti orang yang bersifat peka terhadap gender juga bersikap “tanggap gender” karena kepekaan gender tidak menjamin bahwa orang yang bersangkutan akan bertindak.
Kebijakan dan intervensi yang bersifat tanggap gender terkait dengan tindakan konkrit yang mencerminkan kebutuhan, harapan dan kemampuan khas bagi laki dan perempuan. Namun tindakan tanggap gender tersebut belum tentu menantang bias dan diskriminasi dalam kebijakan, praktek, gagasan dan keyakinan. Umpamanya kalau ada tempat di mana perempuan menghadapi kendala mereka tidak boleh keluar rumah pada malam hari, maka intervensi yang tanggap gender akan menjadwalkan pelatihan pada saat mereka dapat hadir yaitu pada siang hari. Intervensi semacam ini melayani kebutuhan perempuan (akan pelatihan) namun tidak menantang gagasan diskriminatif, yaitu bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah pada jam-jam tertentu.
Kebijakan dan intervensi yang bersifat transformasi gender menantang bias dan diskriminasi dalam kebijakan, praktek, gagasan dan keyakinan. Pendekatan ini bekerjasama dengan perempuan maupun laki untuk mengusahakan transformasi (perubahan mendasar) terhadap ketidaksetaraan dalam hubungan gender melalui upaya penyusunan kembali hubungan/pembagian kuasa antar perempuan dan laki supaya lebih setara.
Diskriminasi gender dimaksud segala pembedaan, penghalangan atau pembatasan yang berdasarkan pada peran dan norma gender yang dibangun secara sosial atau budaya yang menghalangi seseorang untuk memenuhi hak asasi manusia. Perempuan yang mengalami diskriminasi didorong untuk tidak melanjutkan pendidikannya atau tidak mengambil jurusan yang dianggap maskulin, seperti teknik mesin. Laki juga bisa mengalami diskriminasi dalam arti yang sama, umpamanya kalau mereka diejek karena belajar di “bidang yang feminin” seperti keperawatan.
Indeks Paritas Gender dihitung sebagai perbandingan jumlah perempuan per laki dalam bidang tertentu (atau perbandingan jumlah laki per perempuan). Nilai GPI sebesar 1 menunjukkan paritas, yaitu jumlah/ nilai perempuan sama dengan laki. Nilai GPI lebih besar atau lebih kecil dari 1 menunjukkan jumlah/nilai perempuan dan laki tidak sama.
Namun demikian paritas gender dapat terjadi apabila jumlah peserta perempuan maupun laki dalam bidang yang bersangkutan sangat kecil (seperti halnya pendidikan anak usia dini dan pendidikan menengah). Oleh sebab itu, menjadi sangat penting untuk melihat jumlah peserta absolut juga pada saat menghitung indek paritas.
Anggaran Tanggap Gender mengacu kepada analisis tentang dampak dari realisasi pendapatan dan pengeluaran pemerintah terhadap anak perempuan/perempuan dewasa dibandingkan dengan dampak terhadap anak lelaki/lelaki dewasa. ATG tidak menuntut bahwa anggaran harus dibagi menjadi anggaran perempuan dan anggaran laki. ATG juga tidak semata bertujuan menambah jumlah pengeluaran untuk program khusus perempuan. Melainkan ATG dapat membantu pemerintah memutuskan kebijakan mana yang perlu disesuaikan serta alokasi anggaran mana yang harus diubah untuk mengatasi ketidaksetaraan gender.
Data yang dipilah menurut jenis kelamin mengacu kepada data yang dikelompokkan menurut jenis kelamin sehingga tampak informasi tersendiri tentang perempuan dan laki. Data yang dipilah menurut jenis kelamin dapat mencerminkan peran, kenyataan dan keadaan umum dari perempuan dan laki dalam masyarakat. Sebagai contoh, tingkat ketunaaksaraan, tingkat partisipasi sekolah, tingkat melanjutkan sekolah, tingkat putus sekolah, tingkat kepemilikan usaha, tingkat partisipasi dalam angkatan kerja, perbedaan tingkat upah, jumlah orang yang dinafkahi (dependensi), tingkat kepemilikan rumah dan tanah, tingkat kredit dan hutang.