• Tidak ada hasil yang ditemukan

Salah Satu Sudut Kota Madinah, 627 Masehi

Dalam dokumen Muhammad LPH (Halaman 110-119)

R

enta, buta, pengemis, dan dia seorang Yahudi. Lelaki tua itu mendudukkan badan ringkihnya seperti kain usang yang teronggok. Kepala bergerak-gerak, telinga menjadi matanya. Seperti kemarin, jarang yang menghampi-rinya dan melemparkan sejumlah receh untuknya menyambung hidup. Dia menunggu seseorang yang setiap pagi menjadi yang pertama mendatanginya. Pengemis tua itu yakin, pagi ini pun tidak akan ada yang berubah.

Dia datang. Dia datang. Pengemis itu mengenali langkah

se-seorang yang ajek mendatanginya setiap pagi. Dia bersiap un-tuk mengulangi mantra yang dia rapal setiap hari, setiap kali ada orang yang menghampirinya dan memberi keping receh untuk menyambung napasnya.

“Janganlah engkau mendekati Muhammad karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau men dekatinya, engkau akan dipengaruhinya.”

Dimulai. Ini pengulangan setiap hari. Rutinitas yang ti dak pernah terganti. Seseorang itu akan menyuapkan ma kanan lu-nak kepada pengemis renta dengan mulutnya sendi ri. Perlahan dan penuh kelembutan. Seperti induk burung yang menyuapi

anaknya me lalui paruhnya. Makanan selembut apa pun akan sulit di-kunyah oleh pengemis renta itu. Apa yang dilakukan seseorang yang senantiasa mengunjunginya setiap pagi sama saja dengan surga.

Dia tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya menganga kan mulut-nya, makanan yang halus siap telan berpindah ke rongga mulutnya. Orang itu mengunyahkan makanan untuk dia dengan mulutnya sen-diri. Perlahan-lahan, sampai tandas seluruh makanan yang ia bawa.

“Janganlah engkau mendekati Muhammad,” si tua meng ulang ka-limatnya. Seolah, dia mendapat layanan ekstra dari orang tak dikenal-nya itu karena kalimat-kalimat yang ia ucapkan, “Jangan ... karena dia orang gila, pembohong, dan tukang sihir! Jika engkau mendekatinya, engkau akan dipengaruhinya.”

Orang itu tersenyum. Tidak bersuara. Dia bangkit perlahan setelah memastikan si tua selesai dengan makanannya. Lelaki itu bangkit lalu menderap meninggalkan si pengemis. Langkahnya tegap dan terukur. Ritmis dan berpendar wibawa. Lelaki itu ... dirimu, wahai Muhammad Al-Mustafa.

e

‘Aisyah sedang melakukan hal-hal kecil ketika engkau datang ke bilik-nya. Orang-orang se-Madinah biasa berspekulasi, eng kau sedang da-lam suasana bahagia setiap berada dada-lam jadwal di bilik ‘Aisyah. Se-bagai seorang sayyid yang berkuasa di Arabia, dirimu bahkan tidak memiliki kamar sendiri.

Engkau tinggal di bilik-bilik istrimu secara bergiliran. Ru mahmu sendiri menjadi tempat umum. Orang-orang berdatangan untuk ber-konsultasi denganmu tentang masalah-masalah sosial atau agama, maupun pengadilan dalam pertikaian.

“Ke mana saja engkau seharian hingga sekarang?”

Tak ada beban. Meski ‘Aisyah tidak pernah lupa bahwa dia meya kini lelaki yang menjadi suaminya itu seorang nabi, dalam hal-hal khusus, dia tetap memperlakukan dirinya seba gai istri yang ingin disa yangi.

“Wahai, yang mungil cantik,” katamu lembut, “aku bersama Ummu Salamah.”

PENGEMIS

85

“Apakah engkau tidak memenuhi kewajibanmu terhadap Ummu Salamah?” tanya ‘Aisyah menyentil sedikit keterlambatanmu menda-tangi biliknya.

Engkau tersenyum tanpa kata-kata. ‘Aisyah meneruskan kalimat-nya, “Rasulullah, katakan kepadaku pendapatmu. Ji ka engkau berjalan di antara dua turunan pada sebuah bukit, yang satu belum disentuh dan belum dimakan tanamannya, sebaliknya, yang lain sudah, pada yang mana engkau akan gembalakan hewanmu?”

Engkau pasti telah paham ke mana arah kalimat ‘Aisyah. “Tentu turunan yang belum dimakan tanamannya.”

“Begitulah,” mata ‘Aisyah berbinar, “aku tidak seperti istri-istrimu yang lain. Mereka semua pernah mempunyai suami sebelumnya, ke-cuali aku.”

Engkau tersenyum dan tidak mengatakan apa pun. ‘Aisyah rupa-nya juga tidak sedang menunggu jawaban apa pun. Dia harupa-nya ingin menegaskan seberapa istimewa dirinya. Se telah peristiwa kalung, ‘A isyah semakin menyadari betapa rentan kehidupan istri-istrimu. Madinah sudah bukan Yatsrib yang dulu. Ketika engkau dan orang-orang Makkah yang percaya akan kenabianmu datang ke Yatsrib, da erah ini tidak seramai Makkah, kota kelahiranmu yang menolak ajaranmu. Yatsrib hanya sebuah oase. Bentangan hijau yang luasnya sekitar 20 mil. Daerah ini dikepung oleh bukit-bukit berapi, cadas, dan tanah berbatu tandus.

Sama sekali bukan daerah yang menjanjikan. Hanya sebuah hu-nian pertahu-nian, didiami oleh kelompok-kelompok suku yang hidup berdekatan tetapi saling bersaing de ngan cara yang mematikan. Awal-nya, daerah itu dihuni oleh orang-orang Yahudi yang konon merupakan pelarian dari Palestina setelah Romawi memadamkan pemberontakan di daerah sengketa itu pada tahun 135 Masehi. Atau mungkin mereka orang Arab asli yang beralih agama dari pagan menjadi Yahudi.

Jauh sebelum kedatanganmu pun, ada tiga suku Yahudi utama di Yatsrib: Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan yang le bih kecil Bani Qainuqa’. Orang-orang Yahudi ini mempertahankan identitas agama mereka, tetapi selebihnya nyaris sama dengan tetangga Arab mereka.

Mereka menamai anak-anak mereka dengan nama Arab, bukan Ibrani, berpakaian seperti orang Arab, berkonvensi sistem kesukuan dan ke-rap lebih kasar dan jahat. Mereka juga membenci dirimu.

Kelompok lain yang datang belakangan ke Yatsrib dari Arabia Se-latan adalah Bani Qailah. Mereka memecah diri menjadi dua suku: Aus dan Khazraj. Meski awalnya hanyalah kelompok suku lemah, dua suku ini terus bertumbuh dan akhirnya justru mendominasi Yatsrib, me-miliki tanah mere ka sendiri dan membangun benteng-benteng tinggi. Sayangnya, pertikaian di antara mereka tak terhindarkan.

Tidak ada yang diakui sebagai pemimpin atau pemilik otoritas tertinggi. Seorang kepala suku Khazraj bernama ‘Abdullah bin Ubai memperoleh cukup simpati karena cenderung tidak berpihak kepada salah satu suku. Setidaknya dia menolak terlibat Perang Bu‘ats yang menjadi puncak pertikaian sipil di antara suku-suku itu.

Ketika mahkota kepala suku tertinggi tengah disiapkan untuk ‘Abdullah bin Ubai, engkau datang dari Makkah lewat sebuah peris-tiwa legendaris bernama Hijrah. Sebuah revolusi yang diawali keda-tangan sekelompok peziarah Khazraj ke Makkah bertahun-tahun se belumnya. Mereka menemuimu dan begitu antusias mendengar pengakuanmu sebagai nabi bagi bangsa Arab dan telah membawa un-tuk mereka kitab suci berbahasa Arab.

Ini sebuah ide yang brilian. Kaum Yahudi Yatsrib selama berta-hun-tahun memamerkan penyembahan monoteisme mereka. Seki-an lama, orSeki-ang-orSeki-ang Khazraj dSeki-an Aus merasa rendah diri terhadap bangsa Yahudi yang memiliki kitab suci sendiri dan mengejek mereka sebagai “orang-orang yang tidak berpengetahuan.”

Muhammad jauh lebih berpotensi menjadi pemimpin yang tidak ber-pihak dibanding Ibn Ubai, begitu pikir para peziarah itu. “Kami telah

meninggalkan orang-orang kami karena tak ada suku yang terpecah-belah oleh kebencian dan dendam seperti mereka. Mungkin Tuhan akan menyatukan mereka melalui Anda. Perkenankan kami pergi ke mereka dan meng ajak mereka untuk mengikuti agamamu; dan jika Tuhan menyatukan mereka dalam agama ini, tak ada manusia yang lebih hebat daripada Anda.”

PENGEMIS

87

Parameter keberhasilan sudah selesai dihitung. Jika eng k au mam-pu menyatukan suku-suku di Yatsrib dengan ajaran tauhid kakek mo-yangmu Ibrahim sebagai perekat, mahkota kepemimpinan Yats rib ada di tanganmu. Dengan begitu, agama yang engkau bawa akan semakin banyak orang percaya. Konsekuensinya, peng akuan akan amanat ke-nabianmu akan sulit terbantahkan.

Belakangan, tangga puncak pada keberhasilan itu sudah demiki-an dekat. ‘Aisyah memahami itu. Ditukarnya nama Yatsrib menjadi Madinah lalu berbagai kemenanganmu da lam melindungi Madinah adalah tanda-tanda kemenangan yang sangat terang, seterang ma-tahari di siang yang tak berpenghalang.

Namun, engkau tetaplah engkau. Setelah Islam berkuasa di Madinah, engkau tidak pernah memaksa siapa pun untuk menjadi Muslim. Engkau mewujudkan hubungan antarmanusia yang setaraf, tidak bertingkat-tingkat. Selama bertahun-tahun, seorang pemuda Yahudi menjadi saha-batmu dan mengikuti ke mana pun engkau pergi. Engkau menyayangi nya, dan dia begitu nyaman selalu mendampingimu. Engkau tidak pernah me-minta pemuda itu mencampakkan keyakin an orangtuanya.

Engkau pemimpin Islam, tetapi tak menganggap Yahudi layak di hinakan. Bukankah pernah bertanya-tanya para sahabatmu ketika seorang Yahudi Madinah dikuburkan dan engkau berdiri memberi penghormatan?

“Bukankah dia juga manusia?” tanyamu ketika para saha batmu bertanya, mengapa engkau menghormati yang telah mati itu sedang-kan jelas-jelas dia seorang Yahudi.

Pengaruhmu semakin menguasai Madinah. Keberhasil an-keber-hasilan yang juga dibarengi oleh berbagai kudeta tak terlihat. Nama Ibn Ubai berkelebat di benak ‘Aisyah. Lelaki itu jelas ikut berperan sentral dalam penyebaran fi tnah “kalung” antara dirinya dan Shafwan bin Mu‘aththal selain berbagai fi tnah lain yang disebar untuk meng-goyang kepemimpinanmu.

Orang-orang semacam Ubai melihat kesempatan untuk memper-oleh posisi lewat klaim keislamannya. Mengaku telah memeluk I slam, sedangkan di hatinya tersusun rencana-rencana untuk meng ambil

ke-untungan dari pengakuan tersebut. Orang-orang hipokrit ini menjadi penyakit mematikan bagi umat, karena mereka menyerangmu dan komunitas Islam dari dalam. Engkau sangat tahu itu. ‘Aisyah pun me-ngetahui fakta itu.

Madinah benar-benar tak sama seperti dulu lagi.

Ketukan lembut di pintu. ‘Aisyah bertanya-tanya, siapa dia yang datang. Apakah orang-orang yang hendak berkonsultasi kepadamu atau pemberi hadiah yang memang gemar memberikan berbagai bing-kisan kepadamu ketika engkau ada di bilik ‘Aisyah?

‘Aisyah mengangguk kepadamu, meminta izin untuk mem buka pintu, sementara engkau menyiapkan diri. Derit daun pintu kayu ter-buka bersamaan dengan perasaan tak ke ruan dalam diri ‘Aisyah ketika menemukan wajah seseorang di muka pintunya.

“Saya hendak menemui Rasulullah.”

‘Aisyah terpana tanpa kata-kata. Orang yang berkata hen dak me-nemuimu itu adalah seorang perempuan dengan pesona yang begitu bermagnet. Bahkan ‘Aisyah yang juga seorang perempuan pun tak me-nampik daya tarik dan kerupawanan fi sik perempuan di depannya.

“Saya Juwairiyah, putri Harits. Datang hendak membicarakan hal berkenaan dengan tebusan diri saya.”

‘Aisyah tak terlalu memperhatikan kata-kata Juwairiyah. Dia

sa-ngat cantik. Siapa pun lelaki yang melihatnya pasti terpikat olehnya. Nabi akan melihat perempuan ini seperti yang kulihat. Meski diliputi

kecemas-an, ‘Aisyah mempersilakan tamunya masuk. Apakah engkau telah maklum siapa yang bertandang ke rumahmu?

Engkau duduk dengan penuh empatik dan siap mende ngarkan. Barangkali sedikit banyak telah engkau dengar ki sah Juwairiyah dari orang-orang. Namun, kali ini engkau ingin mendengarkan langsung dari orang yang berkepenting an.

“Wahai, Tuan Pemimpin Madinah. Saya Juwairiyah, put ri Harits. Anda benar-benar tahu musibah yang menimpaku, dan aku datang untuk memohon bantuanmu mengenai pembebasanku.”

‘Aisyah terdiam di tempatnya. Tak salah duga, perempuan itu ada lah putri kepala suku Bani Al-Musthaliq yang engkau kalahkan

PENGEMIS

89

se waktu suku itu menyiapkan serangan ter hadap Madinah. Dia men-jadi bagian dari tawanan pe rang yang pembebasannya harus diperhi-tungkan. Ba nyak orang membicarakan kecantikan rupanya. Hari ini, ‘A isyah, istrimu, mengamini omongan orang-orang itu.

“Aku tawanan Tsabit bin Qais,” Juwairiyah melanjutkan kalimat-nya, “aku menginginkan kebebasanku dan berusaha membayar tebus-anku kepadanya dengan mencicil.”

Engkau menyimak, ‘Aisyah pun tidak mau satu kalimat pun ter-lewat. Seolah apa pun yang dikatakan Juwairiyah me libatkan dirinya. Ini etika kesukuan. Siapa kalah perang menjadi tawanan. Siapa meng-inginkan kebebasan harus mem berikan tebusan.

“Aku datang untuk meminta bantuan Anda untuk membantu pem bayaran cicilan kebebasanku.”

Apakah yang engkau pikirkan, wahai Pemimpin Madinah? Mung-kinkah sebuah pemikiran tengah engkau pertim bangkan? Sebuah so lusi untuk semua? “Apakah engkau meng inginkan yang lebih baik daripada itu?” Engkau menjawab Juwairiyah dengan cara yang sopan dan terhormat.

Juwairiyah telah mendengar segala tentangmu. Meng apa dia be-rani menghadapimu pun dipicu oleh segala kabar mengenai kebijak-sanaanmu. Dia tahu suaranya akan engkau dengarkan. Keluhannya akan engkau perhatikan. Sekarang, engkau menyebut sesuatu yang bo leh jadi menjadi jalan keluar yang membebaskanmu.

“Apa yang lebih baik itu?”

Juwairiyah menunggu jawabanmu. Sesuatu yang lebih baik

diban-ding besarnya tebusan seorang tawanan. Apakah itu?

Engkau berkata tenang, “Aku akan melunasi pencicilan pembe-basanmu kemudian menikahimu.”

Juwairiyah terdiam di tempatnya sementara ‘Aisyah me rasakan kecemburuan merambati hatinya. Juwairiyah me rasakan sesuatu juga merambati jiwanya. Tentu bukan se buah kecemburuan. Apakah dia merasakan sebuah kebahagiaan? Dari seorang tawanan yang bahkan pembebasannya harus ditebus, engkau hendak mengangkatnya ke posisi yang demikian terhormat. Setiap istrimu adalah Ummul

Muk-minîn: ibu kaum mukmin. Apakah mampu hati Juwairiyah menam-pung pe rasaan tak tertahankan itu?

“Saya bersedia,” kata Juwairiyah sembari menundukkan wajah-nya. Apa lagi jawaban yang sanggup dia berikan? Rasanya seperti ter-timpa surga.

Engkau mengangguk. Wahai Lelaki yang Selalu Menghormati Pe-rempuan, adakah sesuatu yang engkau pikirkan? Menikahi Juwairi-yah, apakah itu akan memberi berlimpah manfaat bagi umat?

‘Aisyah menahan sesuatu di dadanya. Ini pernikahan yang akan mengeliminasi pertumpahan darah antarsuku. Ju wairiyah menjadi bagian dari keluargamu, artinya ratusan keluarga yang awalnya men-jadi tawanan akan dibebaskan. Aku tak tahu apakah ada wanita yang

lebih terhormat dan lebih berkah di kalangan kaumnya dibanding Juwairi-yah binti Al-Harits, bisik ‘AisJuwairi-yah kepada dirinya sendiri.

‘Aisyah paham konsekuensi-konsekuensi positif itu, te tapi rasa cemburu mana bisa diberi tahu? Meski demikian, dalam hati ‘Aisyah mampu mengukur kecemburuannya kali ini tidak lebih besar diban-ding kecemburuannya terhadap istrimu yang lain. Istri yang senanti-asa engkau sebut-sebut dalam berbagai kesempatan. Istri yang katamu telah diba ngunkan istana indah di surga oleh Allah. Istri yang sebenar-nya telah lama tak hidup bersamamu lagi. Bahkan, pernikah an ‘Aisyah sewaktu dirinya masih begitu belia salah satunya untuk melipur lara hatimu saat kehilangan istri istimewamu itu.

Setiap mengorbankan domba, engkau tidak pernah mem berikan bagian terbaik dari hewan-hewan korban itu kecuali kepada teman-t eman mendiang isteman-trimu iteman-tu. Isteman-tri yang teman-tidak pernah teman-terganteman-tikan mes-ki setelah kepergiannya, engkau menikahi istri-istri lain. Dia adalah Khadijah binti Khuwailid.

“Sesungguhnya, Khadijah telah berwasiat kepadaku,” katamu se-kali waktu.

Kalimat yang terpenggal oleh kalimat ‘Aisyah yang bernada tak biasa. “Khadijah ... Khadijah ... lagi-lagi Khadijah! Sepertinya di bumi ini tidak ada wanita lain kecuali Khadijah.”

PENGEMIS

91

“Apa yang engkau sebut tentang wanita lemah yang engkau cela, wahai Humaira? Bahwa engkau telah menggantikannya dengan yang lebih baik dibanding Khadijah?”

Engkau memilih nada paling bijak untuk menyatakan isi hatimu. Meluruskan apa yang bengkok dengan kelembut an. Sebab, Hawa di-ciptakan dari tulang rusuk Adam. Rusuk yang bengkok. Jika dilurus-kan dengan kasar, patahlah dia nanti. Engkau tidak adilurus-kan memanggil ‘Aisyah dengan sebutan Humaira, yang merah pipinya, jika engkau tengah dilanda emosi yang tak terkendali.

“Demi Allah, tidak ada yang dapat menggantikannya untukku yang lebih baik daripada Khadijah,” katamu. Intonasimu lembut, kata per kata terdengar jelas, “Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mendustakanku. Dia memban tuku pada saat orang-orang enggan me-nerimaku, dan dia memberiku keturunan yang tidak aku dapatkan dari istri-istriku lainnya.”

Berkelebat lagi adegan itu. ‘Aisyah menyadari pada waktu-waktu yang akan datang, kecemburuannya kepada Khadijah akan tetap ter-tanam. Beririsan dengan kesadaran bahwa dia tidak mungkin memi-likimu seorang diri. Dia seorang perempuan sedangkan engkau bagai 20 orang pria. ‘Aisyah lahir dan bertumbuh dalam sebuah kesadaran, dalam masyarakat suku, poligami bukan sesuatu yang abnormal.

Dia pun mengerti, jika diperbandingkan, kisah harem Raja Daud dan Raja Sulaiman membuat apa yang engkau miliki terlihat tidak ada apa-apanya. Baginya, tidak ada alasan untuk berpikir engkau menuruti ke-inginanmu sendiri seperti seorang raja menurutkan pacuan nafsunya.

Sekarang, hadir Juwairiyah yang akan menambah daf tar nama is-tri-istrimu. Sebersit pikiran membuat ‘Aisyah men cemburui Khadijah dengan alasan yang lebih mendasar. Istri istimewa itu pernah hidup be-gitu lama denganmu tanpa kehadiran madu. Dua puluh lima tahun me-lewati tahun-tahun perkawinan berdua saja. Dalam kesusah an mau pun kebahagiaan berdua saja. Dilengkapi anak-anak yang lahir ke mudian, adakah kehidupan yang lebih menjanjikan kebahagiaan dibanding itu?

Kehidupan semacam apakah yang mampu menancapkan kecinta-anmu terhadap seorang perempuan seperti cintamu kepada Khadijah?

14. Perempuan Suci

14. Perempuan Suci

Dalam dokumen Muhammad LPH (Halaman 110-119)