Dari Suriah, El lantas membalas surat Kashva de ngan ke- ke-gundahan yang memuncak
18. Tuan Rumah Keriput
18. Tuan Rumah Keriput
K
ashva siuman dengan rahang yang terasa menggem-bung; berdenyut-denyut. Dia merabai tulang bagian ba-wah pipi nya. Tidak sedramatis imajinasinya, ternyata. Sedikit bengkak, te tapi tidak sampai menggembung, meski tetap saja terasa sakit. Sekelebat dia mengingat apa yang dia alami sebe-lumnya. Menggeretak gigi-gigi jadinya. “Mashya ... lancang.”Kashva perlahan membiarkan indra-indranya ber kenalan dengan lingkungan yang ada di sekeliling. Kotak kayu tuanya menggeletak di samping. Punggung Kashva menyandar di po-kok pohon. Rapat dahan dan berimpitan daun-daunnya. Sudah malam. Matanya me nangkap keramaian tak jauh dari tempat itu. Aku ada di perkampungan penduduk.
Cahaya meliuk-liuk. Api-api unggun berjajar. Tujuh api ung-gun menjilati udara di sepanjang gang sempit. Bilangan ganjil yang mendatangkan keberuntungan. Setidak nya itu keyakinan orang Persia. Warna temaram pada tembok-tembok yang disu-sun dari bata dan lem pung di sepanjang gang, menjadi cermin yang tidak sempurna bagi api-api itu.
Kashva mengalihkan pandangannya ke ujung gang. Se-kerumun orang berbincang asyik. Beberapa perempuan de ngan
mantel-mantel semata kaki lalu mengelilingi api ung gun seperti nge-ngat memburu cahaya. Mereka mulai ber tepuk tangan gembira.
Seorang laki-laki berdiri di depan api unggun pertama. Bersiap-siap. Mulutnya berkomat-kamit. Di belakang dia, be berapa pemuda melakukan persiapan yang sama. Bibir Kash va ikut berkomat-kamit, “Sorkhi-ye to az man o zardiye man be to. Berikanlah binar merah kese-hatanmu padaku dan ambillah rona pucat kesakitanku,” bisik Kashva. Dia yakin, para lelaki itu menggumamkan doa yang sama.
Tubuh-tubuh mereka akan segera melambungi api-api unggun itu. Membasuh dosa-dosa, sementara bongkahan kayu membara, de-daunan yang sudah berubah warna, dan asap menggumpal mengan-cam kaki-kaki mereka.
“Kau!”
Mencolot sesuatu dari dada Kashva: kemarahan. Raksa sa itu, Mashya, ujug-ujug berdiri di samping tempat dia du duk. Meski gelap malam menyembunyikan detail wajahnya, Kashva yakin dia tidak akan keliru, “Kau pikir siapa dirimu!”
Mashya mengangsurkan sesuatu, buah pir, sementara Kashva me-malingkan wajah. “Harusnya kubalas perbuat an mu.” Kashva meman-dangi lagi kerumunan orang dan api-api unggun itu. “Kau beruntung aku tidak menyukai kekerasan.”
Mashya belum bergerak dari awal posisinya. Pir di ta ngannya ma-sih tak bertuan. Kashva menoleh lagi. Meraih pir itu kemudian. Pada ekspresi Mashya yang sedingin salju, Kashva menangkap sebuah ketu-lusan, meski sedikit. Sementara Kashva adalah seorang laki-laki yang selalu berhati-hati dengan hati orang lain. Tidak ingin mengecewakan apalagi menyakiti. Terutama setelah peristiwa 10 tahun lalu. Peristiwa yang terikat kuat dengan Gathas dan otaknya.
“Kau menggendongku sejauh ini?” Kashva mengunyah pir itu per lahan. Kulit pir terasa kesat di lidahnya sebelum mencurahi mu-lutnya dengan kesegaran yang murni. Mashya duduk di sebelahnya. Tatapan lelaki raksasa itu mengambangi udara. Meski tak yakin pasti berapa lama dia pingsan, Kashva yakin itu cukup lama. Selama itu pula
TUAN RUMAH KERIPUT
133
Mashya me nimpakan berat tubuh Kashva di punggung atau pundak-nya. Pekerjaan yang harus dihargai.
“Berbicaralah sedikit,” kata Kashva, “itu tidak akan me ngurangi keangkeranmu.”
Kashva menggigit lagi daging buah pir di genggamannya. Meno-leh ke Mashya kemudian, “Kau tidak makan?”
“Sebuah keluarga mengundang kita makan malam.” Ma shya bang-kit dari duduknya.“Kita ke sana sekarang.”
“Diundang?” Kashva menelan bagian terakhir buah pir nya. Semua tertelan kecuali biji hitamnya. “Kau memiliki kenalan di perkampung-an ini?”
Mashya menggeleng.
“Aku tidak ikut,” Kashva memaku dirinya, “kau pasti me maksa mereka. Aku tidak akan memakan santapan dari hasil perampokan.”
Mashya menatap Kashva dengan mata membulat. Ke lopaknya ter-angkat. Rahangnya mulai bergerak-gerak se macam orang mengunyah se suatu. Kashva menantang ta tapan mata itu. “Kau tidak bisa selalu me-nang, Mashya!” suaranya menegar. “Tidak semua hal boleh kaulakukan ha nya karena kau bisa melakukannya, berkuasa untuk melakukannya.”
Kashva merogoh kantung mantel bertudungnya. Masih ada bebe-rapa keping dirham cukup untuk membayar biaya makan yang layak. Ia masih menyimpan cadangan uang di kotak kayunya. Kashva kemu-dian mengangsurkan uangnya ke Mashya. Telapak tangannya terbuka. Dua keping uang logam merdeka untuk diambil. “Kau bayar semua pengeluaran keluarga yang menyiapkan makan malam itu, baru kau kembali kemari.”
Mashya tak bereaksi. Kashva meninggikan suaranya, “Ka lau kau menolak, sampai mati pun aku tidak bisa kau paksa.”
Mashya masih tak bergerak beberapa detik. Sampai kemudian dia menyambar uang di telapak tangan Kashva lewat gerakan mendadak. Tanpa bicara apa-apa, dia lalu berderap meninggalkan Kashva.
Kashva mendiamkan indranya, menikmati alunan santur dan tar menelusup dari celah dinding lempung rumah penduduk. Musik yang eksotik dan tua. Kashva mulai menghitung kemungkinan. Apakah
perjalanan menuju Ghatas ti dak bisa dicegah? Ide ini sungguh buruk mengingat apa yang ia alami saat meninggalkan Gathas, bertahun-t ahun sebe lumnya.
Lamunan Kashva membuyar ketika Mashya kembali. Langkah nya seperti hendak mengguncang bumi. Dia berdiri di hadapan Khasva tan pa kata-kata. Seperti biasa.
“Sudah?”
Tidak ada jawaban. Kashva bangkit dengan malas. “Aku bisa me-nanyai pemilik rumah untuk memastikannya.”
Dua orang itu berjalan depan-belakang. Kashva meminta Mashya menunjukkan arah rumah yang dimaksud. Dia mengangkat dirinya sen diri sebagai kepala rombongan kecil itu. Seperti seorang ayah yang hendak mengetes tingkat kejujuran anaknya.
Mereka memasuki sebuah rumah yang dinding-dindingnya tersu-sun oleh bata merah dengan halaman yang ramai oleh pohon ceri. Ada kesibukan di halaman. Lentera-lentera menyala, orang-orang menik-mati hidangan dalam kegembiraan. Obrolan para perempuan berbaur dengan ocehan para bocah. “Silakan masuk, Tuan berdua. Sungguh ber untung ka mi kedatangan tamu dari jauh.”
Seorang lelaki keriput yang mengingatkan Kashva terhadap so-sok Yim menyambut dua tamu itu di muka rumah. Sebelum menjawab ucapan selamat datang tuan rumah, Kash va mengamati ekspresi lelaki tua itu. Mata cekungnya, ekspresi wajahnya, bahasa tubuhnya. Kashva yakin dia bisa langsung menyadari jika ada pemaksaan di belakang ade-gan ini. Sementara waktu, dia percaya semua baik-baik saja.
“Maaf merepotkan.” Kashva tersenyum sembari melirik Mashya. Keduanya masuk ke rumah dan langsung dipersilakan duduk di kursi yang mengitari meja makan.
“Waktunya menikmati chai o sjirini, silakan ... silakan,” kata tu an rumah. Kashva mengangguk-angguk lagi dan berharap Mashya me-lakukan hal sama, meski itu kemungkinan kecil terjadi.
Chai o sjirini, teh dan kue, terhidang. Kashva segera me rasa
kem-bali ke peradaban setelah sekian hari memakan da ging hambar kego-songan dan buah-buah hutan. Tidak istimewa sebenarnya. Kalah jauh
TUAN RUMAH KERIPUT
135
dengan macam-macam masakan Yim di Kuil Sistan. Setidaknya pemi-lik rumah ini membumbuinya dengan benar. Ada hiburan untuk lidah Kashva yang belakangan terasa bebal akibat makanan-makanan tanpa bumbu. Nasi hangat dengan baluran mentega dan ikan panggang ber-bumbu. Cukup menjanjikan.
Di meja lain di ruangan yang sama, tergelar makanan tujuh per-sembahan, haft sin: masakan samanoo, zaitun liar, sayuran hijau, ka-cang-kacangan, cuka, bawang, dan apel. Sayuran hijau diikat dengan pengikat berwarna merah melambangkan kehidupan anyar, mening-galkan kehidupan yang tertinggal di tahun sebelumnya. Bawang disa-jikan untuk menghindari hal-hal buruk. Sebutir jeruk masam diapung-kan di permukaan air dalam mangkuk, analogi bumi yang melayang di tengah medan kosmos.
Usai menyantap makan malam, tuan rumah mengajak Khasva ke pekarangan bergabung dengan anggota keluarga yang menggelar pesta kebun. Anggur dihidangkan. Kashva menerimanya tapi enggan meminumnya.
“Jika sudah minum anggur saya tidak bisa berhenti,” ujar Kashva menolak dengan cara halus sembari tersenyum, “kalau Anda menjadi saya, Anda tidak ingin mabuk sampai beberapa hari ke depan.”
“Anda sedang dalam perjalanan penting, Tuan?” si tuan rumah sedikit menyelidik.
Kashva berusaha tidak terganggu dengan pertanyaan itu. Semen-tara Mashya sudah mulai menenggak anggur dari gelas kecilnya. “Bu-kan urusan gawat, tapi memang membutuh“Bu-kan konsentrasi.” Kashva mendatangi Mashya dan merebut gelas dari tangan lelaki raksasa yang baru saja menuangkan anggur sekali lagi dari botol tanah liat itu. “Ku-pikir kau pun tidak sedang ingin mabuk, Mashya.”
Tuan rumah keriput tampak gelisah. Dia menyimpan semacam ke khawatiran. Kemungkinan besar itu datang dari kehadiran Mashya. Anggota keluarga lainnya pun tampak be reaksi dengan kejadian itu. Merebut gelas anggur dari orang lain bukan masalah sepele. Meng-genggam gelas bekas Mashya, sekarang justru Kashva yang kebingung-an, akan di apakan anggur di dalamnya. Dia menyadari kekhawatiran
orang-orang. “Tenang saja. Dia tanggung jawab saya,” ujar Kashva me-yakinkan orang-orang.
“Ah, tentu saja, Tuan,” kata tuan rumah keriput. Dia ber usaha membuyarkan suasana tegang. “Tuan bisa memercikkan anggur tuan ke kebun. Persembahan untuk para arwah. Supaya leluhur tahu Anda orang yang tidak mementingkan diri sendiri. Anda akan disucikan dari kesalahan sebelumnya.”
Kashva tahu tradisi itu. Dia lalu menghampiri Mashya. “Sebaiknya kau yang memercikkan anggur itu ke kebun.” Kash va mengangsurkan gelas di tangannya. “Ini anggurmu. Lagi pula bukan aku yang mem-buat orang pingsan dengan kepalan tangan sehingga perlu disucikan dosa-dosanya.”
Setelah mengatakan itu, Kashva mendatangi pemilik ru mah tem-pat dia bertamu. “Apakah Gathas masih jauh dari desa ini, Tuan?”
“Gathas?” berpikir sejenak, lelaki keriput itu mengangkat dua ta-ngannya. Jemarinya bergerak-gerak, seperti sedang menghitung sesu-atu. “Tidak, Tuan. Jika perjalanan Anda tanpa halangan, dalam dua tiga hari Anda akan mencapai Gathas.”
Kashva menoleh ke Mashya yang seharusnya sudah ber diri di de-pan kebun dan memercikkan anggurnya ke sana. Tidak. Mashya masih duduk manis di tempatnya semula sembari menikmati tegukan ang-gur terakhir dari gelasnya. Kashva mendengus, “Makhluk pandir!”