• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKSES MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENGELOLAAN HUTAN BERSAMA MASYARAKAT (PHBM)

6.2 Sejarah Akses Masyarakat di dalam Kawasan PHBM

Tahun 1995 terjadi perambahan liar di kawasan hutan Tahura Wan Abdul Rachman (WAR) yang dilakukan oleh masyarakat dikarenakan tingginya dorongan akan kebutuhan lahan. Akibatnya fungsi hutan secara optimal berkurang karena terjadinya kerusakan hutan, sehingga menurun daya dukung lahan terutama sebagai catchment area. Perambahan liar dilakukan oleh masyarakat sebagai pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, karena terbatasnya lapangan pekerjaan serta serta rendahnya pendidikan yang dimiliki. Hal ini dikarenakan masyarakat belum banyak dilibatkan dalam pengelolaan hutan dan pengetahuan masyarakat terhadap menjaga kelestarian hutan masih minim. Sinergi antara masyarakat di sekitar kawasan Tahura WAR dengan pemerintah pusat (Dinas Kehutanan Provinsi Lampung) masih kurang.Sosialisasi keberadaan hutan masih lemah sehingga berakibat perumbakaan lahan kawasan hutan menjadi tidak terkendali. Hal ini dikarenakan masih ada anggapan dari dalam diri masyarakat bahwa hutan sebagai lahan tidak bertuan.

Masyarakat menganggap dengan adanya hutan sebagai lahan tidak bertuan mengakibatkan terbukanya akses atau jalan masuk ke dalam kawasan hutan untuk memperoleh mata pencaharian baru. Masyarakat bisa leluasa masuk ke dalam hutan dan mengaksesnya dengan mudah, karena tindakan penegakan hukum pada waktu itu sangat lemah dan tidak konsisten. Masyarakat melakukan permbahan hutan di Tahura WAR akibat desakan ekonomi dan tingginya populasi serta beban tanggungan tenaga produktif. Berikut penuturan salah satu masyarakat yang waktu itu pernah melakukan perambahan di dalam kawasan Tahura WAR:

“Bapak waktu itu (tahun 1995) melakukan perambahan di kawasan Tahura mas,karena tidak memiliki pekerjaan lagi untuk menghidupi keluarga, sedangkan pekerjaan bapak serabutan dan tidak menentu.Bapak tidak mengetahui bahwa merambah hutan itu dilarang, karena yang bapak ketahui hutan itu merupakan sumber penghidupan untuk mendapatkan rezeki. Bapak melakukan perambahan hutan karena bapak diajak oleh tetangga bapak dan dengan merambah hutan bisa mendapatkan lahan garapan sebagai mata pencaharian untuk mendapatkan rezeki. Lahan yang bapal garap ditanami tanaman palawija,kemudian pohon-pohon yang bapak tebang di jual ke penjual kayu, hasil dari jual kayu dan penen tanaman palawija bapak gunakan untuk menghidupi keluarga

saya waktu itu.” (AMD, 52 tahun)

Pihak pemerintah Dinas Kehutanan Provinsi Lampung akhirnya menyadari bahwa kerusakan hutan di Tahura WAR sudah amatlah parah, sehingga mereka mencari solusi untuk menghentikan perambahan hutan. Solusi yang mereka buat adalah dengan melibatkan partisipatif masyarakat di sekitar kawasan Tahura WAR untuk mengembalikan fungsi hutan kembali secara optimal dan lestari serta bernilai ekonomi. Solusi yang dibuat merupakan suatu program yang bernama Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), program tersebut di buat dan direalisasikan oleh UPTD Tahura Wan Abdul Rachman Dinas Kehutanan Provinsi Lampung. Program tersebut awalnya mereka coba langsung kepada masyarakat yang merambah hutan Tahura WAR di daerah Desa Bogorejo pada tahun 1997.

Program PHBM yangdilakukan oleh pemerintah kepada masyarakat Desa Bogorejo menemui hambatan. Hambatan yang tejadi adalah perbedaan pandangan dan kepentingan antara masyarakat dengan pihak pemerintah, sehingga sulit program PHBM ini terlaksana dengan baik dan bijak. Pandangan dan kepentingan pemerintah yaitu ingin mengembalikan fungsi hutan serta daya dukung hutan kembali seperti dahulu. Kemudian, pandangan dan kepentingan masyarakat yaitu bahwa kawasan hutan merupakan sumber penghidupan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta sebagai lahan garapan yang bisa dilanjutkan usahanya oleh anak-anak mereka kelak nanti. Perbedaan pendapat ini yang membuat antara pihak pemerintah yaitu UPTD Tahura WAR Dinas Kehutanan Provinsi Lampung dengan masyarakat sekitar hutan Tahura WAR yaitu masyarakat Desa Bogorejo terjadi konflik.

Masyarakat di Desa Bogorejo berpegang teguh bahwa mereka tidak akan meninggalkan lahan garapan yang berada di dalam kawasan Tahura WAR. Padahal pemerintah melalui program PHBM telah membuat suatu rencana yaitu berupa pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga hutan kefungsinya kembali secara ekologi, akan tetapi bernilai ekonomi. Awalnya masyarakat menolak dengan program PHBM tersebut, bahkan masyarakat menjaga kawasan sekitar hutan, agar pemerintah tidak bisa mengusir keluar mereka dari kawasan Tahura yang merupakan bagi masyarakat sebagai sumber nafkah mereka.Seperti yang disampaikan oleh dua orang informan berikut ini:

“Waktu itu mas, bapak beserta masyarakat diajak program oleh pemerintah, tetapi kami menolak dengan keras tidak mau ikut dan tidak mau diusir dari dalam kawasan, karena kami merasa bahwa hutan dan lahan yang kami garap adalah milik gusti Allah. Bapak bersama masyarakat lainnya sudah bersiap dan berjaga-jaga di sekitar kawasan agar pemerintah tidak bisa menjalankan programnya tersebut, bapak beserta masyarakat sudah menyiapakan berbagai peralatan (celurit, golok, cangkul) apabila pemerintah tetap memaksa bapak dan

masyarakat untuk ikut program tersebut.” (MTO/Ketua

Gapoktan, 60 tahun)

“Pada saat ingin mengajak dan mensosialisasikan program

PHBM hambatannya luar bisa, saya dan kawan-kawan UPTD Tahura begitu berat menjalankannya. Karena masyarakat beranggapan mereka tidak akan bisa mengakses lahan garapan mereka di dalam kawasanm, padahal tidak seperti itu. Kami berkeinginan hutan di Tahura kembali ke seperti dahulu sebagaimana fungsi hutan secara alamidan lestari. Akan tetapi yang kami lakukan dengan program PHBM untuk masayarakat dianggap salah, bahkan waktu mengajak negosiasi untuk program PHBM saya dan kawan-kawan ditodongi celurit dan golok oleh masyarakat. Mereka bilang ke saya, sambil menodongi celurit dan golok bahwa pemerintah hanya bisa membuat masyarakat sengasara dan hidup dalam kemiskinan. Padahal program yang kami bawa ingin merubah mereka ke arah lebih sejahtera bukan seperti yang mereka

pikirkan.” (WYG/Kepala UPTD Tahura WAR, 52 tahun)

Program PHBM pada tahun 1997 yang dilakukan oleh pemerintah belum bisa mempengaruhi dan merubah pandangan serta perilaku masyarakat di sekitar kawasan Tahura.Pemerintah tetap belum menyerah dan terus berupaya untuk bisa melaksanakan program PHBM agar kawasan hutan Tahura WAR bisa kembali lagi seperti dahulu. Masyarakat mulai sadar bahwa program PHBM tersebut penting dan berguna bagi mereka pada saat tahun 1998 terjadi bencana alam yaitu tanah longsor dan banjir bandang. Musibah bencana alam tersebut membuat Kecamatan Gedong Tataan terendam banjir, kemudian rumah-rumah penduduk di

sekitar kawasan pada rusak dan tertimbun tanah longsor. Masyarakat pun mulai menyadari akibat mereka merambah hutan dan tidak mereboisasi ulang kawasan hutan menyebabkan terjadinya bencana alam yang merugikan mereka sendiri.

Tahun 1998 juga terjadinya krisis moneter, dimana banyaknya para transmigran dari Pulau Jawa ke Pulau Sumatera (Lampung).Perambahan terjadi lebih besar pada tahun tersebut, karena banyak warga pendatang menempati di sekitar kawasan Tahura untuk mencari sumber penghidupan dari menggarap lahan. Masyarakat di sekitar kawasan Tahura terutama masyarakat Desa Bogorejo berusaha mengusir para warga pendatang tersebut agar tidak merambah hutan kembali, karena ditakutkan terjadi bencana banjir dan tanah longsor. Cara yang dilakukan ada dengan berdiskusi ataupun denga cara kekerasan agara warga pendatang tidak merambah hutan di kawasan Tahura kembali.

Saat terjadinya krisis moneter pemerintah tetap konsisten untuk melaksanakan program PHBM kepada masyarakat di sekitar kawasan Tahura. Pemerintah juga sudah mulai memberikan bantuan-bantuan untuk korban banjir dan tanah longsor.Pemerintah akhirnya mengajak diskusi bersama dan kerjasama dengan para masyarakat Desa Bogorejo untuk mensosialisasikan program PHBM kepada mereka. Masyarakat sudah mulai menerima antusias program PHBM tersebut, meskipun belum seluruhnya setuju dengan program PHBM tersebut. Kerjasama yang dilakukan melalui program PHBM adalah menjaga kelestarian kawasan Tahura WAR dan memberikan akses atau jalan masuk bagi masyarakat untuk menggarap lahan di kawasan Tahura. Masyarakat yang mengikuti program PHBM diberikan pelatihan, penyuluhan, dan perencanaan dalam menggarap lahan di kawasan dengan baik dan bijak. Masyarakat yang telah ikut program PHBM diberikan izin legal untuk masuk ke kawasan Tahura serta tidak lagi berkonflik dengan pemerintah.

Tahun 1999 pihak pemerintah melalui program PHBM membentuk kelompok tani Wana Karya di Desa Bogorejo. Fungsi kelompok tani tersebut adalah untuk mengkoordinir masyarakat yang ikut dalam program PHBM di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman serta sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi anggota kelompok yang mengalami permasalahan atau kendala di dalam kawasan Tahura kepada pihak pemerintah (UPTD Tahura WAR). Pihak Tahura pada saat tahun tersebut mengadakan penyuluhan untuk menanami tanaman MPTS (Multi Purpose Tree Species) untuk menggantikan tanaman sebelumnya (palawija). Awalnya banyak anggota kelompokyang tidak mengetahui tentang tanaman tersebut, bahkan hanya sedikit anggota kelompok yang datang dalam penyuluhan tersebut karena tidak mengerti jenis tanaman tersbut. Seperti yang disampaikan oleh salah satu responden berikut ini:

“Pada waktu penyuluhan tanaman MPTS oleh pihak UPTD

Tahura, bapak tidak tahu dik, jenis tanaman apa itu. Berasa asing di telinga jenis tanaman tersebut, yang bapak tahu

hanya tanaman palawija dan perkebunan saja”. (JND, 60 tahun)

Rupanya dari sedikit anggota kelompok yang ikut penyuluhan mulai paham bahwa jenis tanaman yang mereka tanam untuk di kawasan adalah jenis tanaman yang bertajuk tinggi seperti petai, kemiri, durian, dan karet. Tanaman

tersebut akhirnya digunakan untuk ditanami di dalam kawasan Tahura oleh selurung anggota kelompok tani di Desa Bogorejo. Rupanya pihak UPTD Tahura ingin melestarikan kawasan hutan secara lestari serta bernilai ekonomi bagi masyarakat. Masyarakat telah diberikan izin untuk mengakses lahan garapan di kawasan Tahura WAR dengan mengikuti program PHBM sesuai dengan aturan- aturan yang telah disepakati antara Pemerintah UPTD Tahura WAR dengan Kelompok Tani Wana Karya di Desa Bogorejo.

Tahun 2012 hadirnya program PHBM memberikan perubahan sosial bagi masyarakat di Desa Bogorejo. perubahan yang diperoleh adalah lahan yang mereka garap menjadi suatu basis nafkah sebagai sumber penghidupan. Terjaganya ketersedian air secara berkelanjutan untuk kebutuhan hidup sehari- hari bagi masyarakat di sekitar Tahura WAR. Terjalin hubungan komunikasi secara harmonis dengan pemerintah dan mencegah terjadinya konflik kembali. Dilibatkannya masyarakat sebagai subjek dalam pengelolaan hutan secara ekologis tetapi bernilai ekonomis.

Keberadaan masyarakat di sekitar kawasan Tahura Wan Abdul Rachman membuat ketergantungan masyarakat dalam mengakses di kawasan hutan sebagai sumber nafkah dalam memenuhi kebutuhan hidup. Rupanya akses yang mereka oleh untuk memenuhi kebutuhan mereka ada pasang surutnya sehingga masyarakat bisa mendapatkan izin dan legal untuk mengakses di dalam kawasan Tahura melalui program PHBM. Berikut ini penjelasan Tabel 12 matriks tentang sejarah akses masyarakat di dalam kawasan PHBM Tahura WAR:

Tabel 12 Sejarah akses masyarakat terhadap kawasan Tahura Wan Abdul Rachman melalui program PHBM

Tahun Sejarah Akses PHBM

1995  Terjadinya perambahan liar di dalam kawasan Tahura Wan Abdul Rachman oleh masyarakat sekitar hutan, sehingga fungsi hutan secara alami tidak optimal.

 Tingginya dorongan akan kebutuhan lahan usaha bagi masyarakat.

 Sosialisasi keberadaan hutan masih lemah sehingga berakibat pembukaan lahan di kawasan hutan menjadi tidak terkendali.

1997  Munculnya program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat yang dibuat oleh UPTD Tahura Wan Abdul Rachman Dinas Kehutanan Provimsi Lampung.

 Program PHBM yaitu dengan melibatkan partispatif masyarakat di sekitar kawasan Tahura WAR untuk mengembalikan fungsi hutan kembali secara optimal dan lestari serta bernilai ekonomi.

 Masyarakat menolak adanya program tersebut, karena beranggapan dengan adanya program tersebut malah akan membuta hidup mereka sengsara dalam kemiskinan.

1998  Akibat perambahan hutan yang telah dilakukan oleh masyarakat, terjadi bencana alam berupa banjir bandang dan tanah longsor.

 Terjadinya krisis moneter yang menyebabkan transmigrasi besar-besaran, mengakibatkan terjadi konflik antara warga pendatang dengan warga lokal (masyarakat Desa Bogorejo) di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman dalam memperubatkan akses lahan garapan.

 Masyarakat mulai sadar akan dampak yang ditimbulkan, akhirnya menerima dan ikut berkerjasama dalam program PHBM yang dibuat oleh pemerintah (UPTD Tahura WAR).

 Kerjasama yang dilakukan melalui program PHBM adalah menjaga kelestarian kawasan Tahura WAR dan memberikan akses atau jalan masuk bagi masyarakat untuk menggarap lahan di kawasan Tahura. Masyarakat yang mengikuti program PHBM diberikan pelatihan, penyuluhan, dan perencanaan dalam menggarap lahan di kawasan dengan baik dan bijak.

1999  Program PHBM membentuk kelompok tani bagi masyarakat Desa Bogorejo yaitu kelompok tani Wana Karya.

 Fungsi kelompok tani tersebut adalah untuk mengkoordinir masyarakat yang ikut dalam program PHBM di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman serta sebagai wadah untuk menyampaikan aspirasi anggota kelompok yang mengalami permasalahan atau kendala di dalam kawasan Tahura.

 Memberikan izin dan melegalkan masyarakat Desa Bogorejo untuk mengakses dan menggarap lahan di dalam kawasan Tahura Wan Abdul Rachman.

2012  Program PHBM menjadikan suatu basis nafkah sebagai sumber penghidupan,

 Ketersediaan air yang berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar Tahura WAR

 Terjalinnya hubungan komunikasi secara harmonis dengan pemerintah.  Dilibatkan sebagai subjek dalam pengelolaan Tahura WAR.

6.3 Keterlibatan dan Peran dalam Program Pengelolaan Hutan Bersama