STRATEGI NAFKAH RUMAHTANGGA PETAN
7.2 Strategi Pola Nafkah Ganda (Diversifikasi)
Scoones (1998) dalam penerapan strategi nafkah, rumahtangga petani memanfaatkan berbagai sumberdaya yang dimiliki dalam upaya mempertahankan hidup. Salah satu cara mempertahankan hidup dilakukan dengan pola nafkah ganda (diversifikasi), melakukan penerapan keanekaragaman pola nafkah dengan cara mencari pekerjaan lain selain pertanian untuk meningkatkan pendapatan atau dengan mengerahkan tenaga kerja keluarga (ayah, ibu, dan anak) untuk ikut bekerja, selain pertanian dan memperoleh pendapatan. Rumah tangga petani melakukan strategi pola nafkah ganda karena pendapatan dari pertanian tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari atau pekerjaan menjadi petani tidak dapat memberikan pendapatan yang stabil dan aman.
Aset berupa hewan ternak seperti, ayam/unggas, kambing, sapi/kerbau banyak dimiliki oleh rumahtangga petani di Dusun III, Desa Bogorejo.Aset ini dijadikan investasi atau tabungan sementara, karena sewaktu-waktu dapat dijual apabila ada keperluan mendesak atau untuk meningkatkan pendapatan rumahtangga. Pada umumnya penjualan hewan ternak berupa sapi atau kambing akan dilakukan ketika rumahtangga membutuhkan dana tambahan dalam jumlah besar. Hal tersebut dilkukan ketika rumahtangga ingin menyelenggarakan hajatan, merenovasi rumah, biaya untuk sekolah anaknya, dan biaya untuk berobat bagi anggota keluarga yang sedang sakit serta untuk membayar biaya persalinan istri. Namun hasil penjualan dari hewan ternak pub terkadang digunakan untuk menutupi biaya kebutuhan hidup sehati-hari dan biaya untuk keperluan usahatani. Seperti yang disampaikan oleh tiga responden berikut ini:
“Bapak menjual sembilan ekor kambing untuk merenovasi rumah dari membeli bahan-bahan bangunan dan ongkos tukangnya serta untuk biaya keperluan sehari-hari untuk
hidup”. (FRZ, 47 tahun)
“Kemarin waktu biaya berobat buat anak saya yang paling
bungsu ini, karena sakit demam berdarah saya menjual tiga ekor kambing buat biaya obat dan perawtan di rumah sakit. Waktu pertengahan tahun kemarin saya menjual lima ekor kambing untuk biaya sekolah anak saya dan segala
“Bapak menjual dua ekor kambing untuk membeli pupuk buat lahan di kawasan, karena lahan di kawasan belum saya pupuk takut nanti gagal panen”. (MRJ, 70 tahun)
Kepemilikan hewan ternak berupa kambing merupakan salah satu modal utama masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup dalam bertahan hidup. Penjualan hewan kambing diperlukan rumahtangga untuk mendapatkan dana dalam jumlah besar. Penjualan hewan ternak cukup untuk membantu rumahtangga apabila sewaktu-waktu memerlukan dana besar. Kepemilikan aset berupa hewan ternak menjadi hal yang penting karena merupakan investasi bagi rumahtangga. Tabel 16 Jumlah dan persentase responden menurut kepemilikan hewan ternak di
Dusun III, Desa Bogorejo Tahun 2012 Jenis Ternak Jumlah Pemilik
(Orang) Persentase Ayam/unggas 15 45.7 Kambing 4 11.4 Ayam/unggas-kambing 11 31.4 Ayam/unggas-kambing-sapi 1 2.9 Tidak memiliki 3 8.6 Total 35 100
Tabel 16 memperlihatkan bahwa 45.7 persen responden memiliki aset hewan ternak berupa ayam/unggas. Ternak ayam/unggas dikelola dan dikembangbiakan untuk dijual atau untuk dikonsumsi sebagai pelengkap menu makanan sehari-hari. Selain itu, ayam/unggas-kambing memperlihatkan persentase sebesar 31.4 persen, dimana ternak ayam/unggas-kambing dikembangbiakan untuk dijual. Kambing menjadi aset andalan bagi rumahtangga sebagai investai untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, pemenuhan dana besar untuk hajatan atau renovasi rumah, dan keperluan-keperluan lainnya.
Tabel 17 di bawah ini mengelompokkan karakteristik responden menurut tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan yang dikaitkan dengan strategi pola nafkah ganda dari sektor non-pertanian. Strategi tersebut merupakan pekerjaan yang dijalani oleh responden di luar pertanian berbasis lahan, seperti buruh tani, buruh nyadap karet di PTPN VII, buruh bangunan, berdagang warung, pegawai negeri (PNS), supir, satpam, usaha salon, dagang rongsokan dan kontrakan rumah.
Tabel 17 Karakteristik responden yang memiliki strategi pola nafkah gandadi Dusun III, Desa Bogorejo Tahun 2012
Strategi Pola Nafkah Ganda
Tingkat Pendidikan Jumlah Tanggungan Buruh Tani Tidak sekolah: 1
Lulus SD: 15 Lulus SMP: 7
1-2 orang: 5 3-4 orang: 16 > 4 orang: 1 Buruh Bangunan Lulus SD: 1 1-2 orang: 1 Dagang Warung Lulus SD: 2
Lulus SMP: 1
1-2 orang: 1 3-4 orang: 2
Nyadap karet Lulus SD: 2 1-2 orang: 1
3-4 orang: 1
PNS Lulus SMA: 2 1-2 orang: 1
3-4 orang: 1
Satpam Lulus SMA: 2 -
Supir Lulus SD: 1 1-2 orang: 1
Salon Lulus SMA: 1 -
Bidan Lulus PT/Akademi -
Kontrakan Rumah Lulus SD: 1 > 4 orang: 1 Dagang Rongsokan Lulus SD: 1 3-4 orang: 1
Sesuai Tabel 17 terlihat bahwa pilihan pekerjaan atau usaha di luar pertanian antara lain buruh tani, buruh nyadap karet di PTPN VII, buruh bangunan, berdagang warung, pegawai negeri (PNS), supir, satpam, usaha salon, dagang rongsokan dan kontrakan rumah. Tingkat pendidikan sebagian besar rumahtangga merupakan lulusan Sekolah Dasar (SD). Pekerjaan utama sebagai petani di lahan sendiri dan lahan dari PHBM tidak mencukupi kebutuhan sehari- hari, ditambah beban tanggungan dalam rumahtangga rata-rata sekitar 1-4 orang, sehingga membuat kepala keluarga atau anggota keluarga mencari sumber nafkah alternatif. Tingkat pendidikan responden yang rata-rata tamatan Sekolah Dasar (SD) membuat pilihan-pilihan dalam mencari sumber nafkah menjadi terbatas.Keterbatasan pilihan tersebut disebabkan rendahnya tingkat pendidikan serta minimnya keterampilan dan keahlian petani untuk bekerja di luar sektor pertanian. Umumnya jenis pekerjaan yang dilakukan oleh petani adalah sebagai pekerja di sektor penyedia jasa (seperti buruh tani) dan sektor perdagangan (berdagang warung dan usaha jual-beli).
Bekerja sebagai buruh tani merupakan salah satu strategi nafkah non- pertanian.Pekerjaan tersebut dilakukan dan didapatkan dari jasa menggarap lahan milik warga di dalam desa ataupun di luar desa. Pekerjaan sebagai buruh tani dilakukan antara tiga sampai lima hari dalam waktu seminggu sesuai dari luas garapan yang mereka garap. Upah yang diperoleh berkisar antara Rp30 000 hingga Rp60 000 per hari. Bila hanya bekerja separuh waktu, maka upah yang diperoleh setengah dari upah normal per harinya. Pekerjaan sebagai buruh tani menjadi pilihan karena keterbatasan keahlian dan keterampilan serta rendahnya tingkat pendidikan yang responden dimiliki.Biasanya para responden bekerja sebagai buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan modal untuk usaha tani. Seperti yang disampaikan responden berikut ini:
“Saya bekerja sebagai buruh tani mas, karena untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari untuk istri dan anak. Lahan yang saya peroleh dari lahan PHBM dan lahan milik sendiri tidak terlalu cukup, terkadang hasil tersebut hanya untuk digunakan kembali dalam membeli pupuk dan biaya perawatannya. Jadi, saya mengandalkan kerja sebagai buruh tani untuk menghidupi istri sama anak sehari-hari”. (IWN, 33 tahun)
Responden lainnya memilih untuk berdagang barang-barang kebutuhan sehari-hari.Berdagang kebutuhan sehari-hari dengan membuka warung dianggap cukup menguntungkan karena jumlah warung di desa sangat minim. Meskipun minim jumlahnya, namun unit skala usahanya terbilang cukup besar. Hal ini terlihat dari jenis barang yang dijual merupakan barang-barang kebutuhan sehari- hari, alat-alat rumahtangga, dan alat-alat pertanian. Keberadaan warung di desa juga memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Mengingat akses jalan dari desa ke pasar terdekat sangat jauhdan sulit untuk ditempuh apabila musim hujan tiba. Jenis pekerjaan lain yang dijalani oleh responden selain berdagang dan buruh tani adalah sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Bekerja sebagai PNS mendapatkan upah/gaji sebesar Rp850 000 setiap bulannya.
Jenis pekerjaan lain yang dilakukan oleh rumahtangga untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari dan meningkatkan pendapatannya adalah usaha salon, supir, nyadap karet di PTPN VII, buruh bangunan, bidan, satpam, kontrakan rumah, dan dagang rongsokan. Jenis pekerjaan tersebut rumahtangga lakukan agar tidak terpaku terhadap sumber pendapatan dari pertanian saja. Pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan tersebut merupakan sebagai tabungan dan investasi untuk mencegah gagal panen atau hasil panen tidak maksimal dari lahan pertanian yang dimiliki. Selain itu hasil pendapatan pekerjaan tersebut dibutuhkan rumahtangga untuk membiayai sekolah anaknya, diperuntukan bagi biaya kesehatan (pengobatan dan persalinan), biaya pernikahan/hajatan, biaya renovasi rumah, dan biaya untuk produksi usahatani.
Strategi pola nafkah ganda yang berlangsung pada rumahtangga petani adalah sebagai berikut. Pertama, suami bekerja di sektor non-pertaniandi luar dari pekerjaan yang dilakukan dari sektor pertanian, contoh kasus Bapak IWN berikut ini.
Berdasarkan kisah kehidupan Bapak IWN, menunjukkan bahwa pola nafkah ganda dilakukan karena pendapatan dari petani tidak dapat mencukupi biaya kehidupan sehari-hari. Lokasi tempat Bapak IWN bekerja sebagai petani adalah di lahan pertanian PHBM di kawasan Tahura WAR dan lahan pertanian di depan rumahnya. Kecilnya luas lahan yang digarap dan keterbatasan modal usahatani menyebakan pendapatan yang diperoleh tidaklah besar dan kurang mencukupi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Cara untuk terpenuhi kebutuhan hidup sehari- hari adalah dengan berkerja diluar sektor pertanian. Pekerjaan yang dilakukan adalah sebagai buruh tani, buruh bangunan, dan supir truk, agar pendapatan yang diperoleh bisa digunakan untuk kehidupan sehari-hari.
Kedua, suami-istri yang masing-masing bekerja disektor non-pertanian yaitu buruh tani dan berdagang warung, contoh kasus Bapak SHR.
Box 1. Kisah kehidupan kasus Bapak IWN, 33 tahun
Bapak IWN merupakan petani di Dusun III, Desa Bogorejo yang hanya memiliki pendidikan tamatan SD. Bapak IWN merupakan pendatang dari Sumatera Utara. Awalnya Bapak IWN merupakan petani yang mengikuti program PHBM dan memiliki lahan pertanian di dalam kawasan Tahura WAR serta memiliki lahan pertanian di depan rumahnya. Kecilnya luas lahan pertanian yang dimiliki,serta keterbatasan modal untuk biaya usahatani, menyebabkan hasil yang diperoleh tidaklah besar. Pendapatan yang diperoleh dari ke dua lahan tersebut tidak selalu mencukupi untuk keperluan hidup sehari-hari, oleh karena itu Bapak IWN melakukan pekerjaan lain di luar sektor pertanian dan dari sektor off-farm untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pekerjaan yang dilakukan di luar sektor pertanian adalah sebagai buruh bangunan dan supir truk, sedangkan pekerjaan yang dilakukan dari off-farm
sebagai buruhtani. Hasil yang diperoleh dari pekerjaan di luar sektor non- pertanian sebagai buruh bangunan sebesar Rp525 000 dan supir truk sebesar Rp7 200 000 serta hasil yang diperoleh dari pekerjaan off-farm sebagai buruhtani sebesar Rp900 000. Hasil yang diperoleh dari pekerjaan yang Bapak IWN lakukan digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari serta untuk digunakan modal biaya produksi usahatani di ke dua lahan tersebut.
Box 2. Kisah kehidupan kasus Bapak SHR, 70 tahun
Bapak SHR merupakan petani di Dusun III, Desa Bogorejo yang hanya memiliki pendidikan tamatan SD. Bapak SHR merupakan pendatang dari Jawa Barat. Hasil pendapatan yang diperoleh tidaklah besar sebagai petani. Beliau melakukan pekerjaan di sektor off-farm sebagai buruh tani, sedangkanistri dari Bapak SHR melakukan pekerjaan di sektor non-pertanian yaitu berdagang warung. Berdagang warung dijalankan dari modal sangat kecil, hanya terbatas barang yang di jual. Berjalannya waktu rupanya hasil yang diperoleh dari berdagang warung cukup besar dan bisa menambah pendapatan bagi rumahtangganya untuk kehidupan sehari-hari serta modal biaya usahatani di lahan PHBM dan lahan milik sendiri. Pendapatan yang diperoleh dari berdagang warung sebesar Rp10 950 000 dan pendapatan yang diperoleh sebagai buruh tani sebesar Rp1 500 000, sehingga bisa membantu kekurangan dari pendapatan pertanian.
Berdasarkan kisah kehidupan kasus Bapak SHR, pola nafkah ganda dilakukan suami-istri adalah bekerja di luar sektor pertanian sebagai buruh tani dan berdagang warung. Berdagang warung yang dilakukan oleh istri Bapak SHR dijalankan dengn modal yang sangat kecil, akan tetapi berjalannya waktu hasil yang diperoleh dari berdagang warung cukup besar dan bisa menambah pendapatan bagi kebutuhan hidup sehari-hari. Selain itu, pola nafkah ganda ini bertujuan untuk membantu kekurangan dari pendapatan pertanian, sehingga rumahtangga Bapak SHR dapat memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menambah pendaptan. Ketiga, suami bekerja di sektor non- pertanian dan anak berusaha salon contoh kasus Bapak KMD.
.
Berdasarkan kisah kehidupan kasus Bapak KMD, pola nafkah ganda dilakukan suami dan anak adalah bekerja di luar sektor pertanian dengan melakukan usaha kontrakan rumah yang berasal dari warisan orang tuanya. Kemudian hasil pendapatan dari kontrakan rumah tersebut beliau gunakan sebagian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan sebagian lagi digunakan untuk usaha salon. Usaha salon dikelola oleh anak peremuannya yang merupakan lulusan SMK, hasil dari usaha salon menambah pendapatan dan digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.Usaha yang dilakukan oleh Bapak KMD dengan anaknya dilakukan sebagai cara untuk tetap memenuhi kebutuhan hidup rumahtangganya dan mencari alternatif pekerjaan lain untuk memperoleh pendapatan dari luar sektor pertanian. Pendapatan dari sektor pertanian yang selama ini diperoleh tidaklah menentu dan terkadang kurang untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari.
Box 3. Kisah kehidupan kasus Bapak KMD, 55 tahun
Bapak KMD merupakan petani di Dusun III, Desa Bogorejo yang hanya memiliki pendidikan tamatan SD. Bapak KMD merupakan penduduk Lampung asli.Beliau melakukan pekerjaan di luar pertanian dengan melakukan usaha kontrakan rumah.Rumah yang dikontrakkan merupakan rumah warisan dari orang tuanya tetapi rumah tersebut tidak ditempati oleh Bapak KMD, beliau kontrakan bagi warga Desa Bogorejo yang mau menempati. Rumah tersebut dikontrakan kepada warga sebesar Rp2 000 000 per tahun. Hasil tersebut dia gunakan sebagian untuk kebutuhan hidup sehari- hari dan sebagian lagi beliau modalkan untuk usaha salon. Usaha salon tersebut dikelola oleh anak perempuannya yang merupakan lulusan SMK, hasil yang diperoleh dari usaha salon sebesar Rp400 000 per bulan, hasil tersebut digunakan untuk membantu kebutuhan hidup sehari-hari rumahtangga dan digunakan juga untuk modal biaya usahatani di lahan yang dimilikinya. Hasil pendapatan yang diperoleh dari rumah kontrakan dan usaha salon membantu pendapatan rumahtangga Bapak KMD untuk memenuhi kebutuhan hidup per harinya sebesar Rp53 000 dan untuk modal usahatani di lahan PHBM serta lahan milik sendiri.