a = nilai daya tarik lokasi alternatif
V. GAMBARAN UMUM
5.5 Kondisi Sumberdaya Alam 1 Sumberdaya Teresterial
5.5.2 Sumberdaya Laut
Kabupaten Wakatobi mempunyai potensi sumberdaya laut yang lebih besar dibanding sumberdaya darat, karena luas lautnya lebih besar (97%) dari wilayah daratannya. Potensi kelautan yang terdapat di daerah ini antara lain ikan, teripang, gurita, cumi-cumi, kepiting, lobster, duri babi, kerang, rumput laut, mangrove, padang lamun, terumbu karang, wisata pantai dan wisata bahari.
Bentuk topografi daerah Wakatobi umumnya datar, dan disekitarnya terdapat beberapa atol seperti Karang Kapota, Karang Kaledupa, dan Karang Tomia. Konfigurasi terumbu karang pada umumnya datar, kadang-kadang muncul di permukaan dengan beberapa daerah mempunyai tubir-tubir karang yang tajam. Perairan lautnya secara umum mempunyai konfigurasi perairan dari mulai datar kemudian melandai ke arah laut, dan beberapa daerah perairan bertubir curam. Kedalaman airnya bervariasi, dengan bagian terdalam terletak di sebelah barat dan timur Pulau Kaledupa (sampai 1.044 m). Dasar perairan bervariasi antara berpasir dan berkarang (Hidayati et al. 2007).
Keragaman karang berdasarkan hasil survei WWF Indonesia (2003), mencatat 396 spesies karang Scleractinia hermatipic yang terbagi dalam 68 genus dan 15 famili. Terdapat pula 10 spesies dari spesies karang keras non
scleractinia atau ahermatipic dan 28 genera karang lunak. Tingkat keragaman tersebut termasuk relatif tinggi karena Wakatobi terletak di pusat keanekaragaman hayati terumbu karang. Lima tipe komunitas ekologi karang yang diidentifikasi, terdiri dari dua daerah perairan dalam, dua daerah perairan dangkal dan satu komunitas laguna. Tipe-tipe ini tersebar luas di wilayah
Wakatobi, namun tidak ada pola geografis yang dapat dipastikan. Atol di Tomia bagian barat laut memiliki keragaman spesies paling tinggi dan laguna Karang Kaledupa memiliki komunitas karang paling tidak umum dan kelimpahan spesies langka yang paling tinggi.
Kondisi terumbu karang menurut hasil survei REA (2003), pada penelitian di 33 stasiun, secara umum berada dalam keadaan baik. Adanya keragaman yang masih tinggi dari organisme terumbu karang dan adanya keterkaitan yang kuat dengan terumbu yang ada di Laut Banda dan Laut Flores. Tetapi, pada tahun 2006 berdasarkan hasil studi CRITC LIPI, kondisi terumbu karang mengalami penurunan menjadi kategori sedang. Kategori ini didasarkan dari survei di 52 stasiun RRI yang menggambarkan tutupan karang hidup rata-rata di kawasan ini mencapai 31%. Persentase tutupan karang hidup rata-rata tertinggi di Pulau Tomia sebesar 44%, dan terendah di Pulau Wanci sebesar 27%, sedangkan di Pulau Kaledupa besaran tutupan karangnya berada pada kisaran kedua pulau tersebut.
Potensi mangrove di Kabupaten Wakatobi hanya terdapat di Pulau Kaledupa dan Pulau Tomia saja. Di Pulau Kaledupa, terdapat hutan mangrove seluas 127,5 hektar di Desa Horuo, Desa Sombano 7 hektar, Desa Laulua 16,5 hektar, Desa Ambeua 2,25 hektar, Desa Lagiwae 7 hektar, Desa Balasuna 102 hektar, Desa Tampara 42 hektar, Desa Kasuwari 13,8 hektar, Desa Sandi 110,5 hektar, Desa Langge 10 hektar, Desa Tanomeha 150 hektar, Desa Lentea 198 hektar dan Desa Darawa 16,5 hektar. Di Pulau Tomia hanya terdapat di Desa Waitii Barat seluas 1,4 hektar. Sedangkan di Pulau Wanci dan Pulau Binongko tidak terdapat hutan mangrove (La Ola 2004).
Padang lamun di Kabupaten Wakatobi hanya terdapat di Pulau Wanci, Pulau Kaledupa dan Pulau Tomia saja. Potensi lamun di Pulau Wanci terdapat di Desa Mola Selatan sebesar 16,1 hektar dan Desa Mola 12 hektar. Di Pulau Kaledupa, potensi lamun terdapat di Desa Horuo 17 hektar, Desa Sombano 7 hektar, Desa Laulua 11 hektar, Desa Sama Bahari 75 hektar, Desa Ambeua 2,25 hektar, Desa Lagiwae 7 hektar, Desa Ollo 3 hektar, Desa Buranga 60 hektar, Desa Balasuna 60 hektar, Desa Tampara 30 hektar, Desa Kasuwari 11,5 hektar, Desa Sandi 97,5 hektar, Desa Langge 10 hektar, Desa Tanomeha 120 hektar, Desa Lentea 132 hektar, Desa Darawa 165 hektar. Di Pulau Tomia terdapat potensi Lamun di Desa Waitii Barat seluas 14 hektar (La Ola 2004).
Sumberdaya laut yang ada di wilayah Wakatobi khususnya terumbu karang, mengalami kerusakan akibat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pondasi rumah, pembuatan dermaga, jalan, bahan dasar reklamasi pantai serta untuk pemanfaatan kegiatan perikanan tangkap (sebagai pemberat alat tangkap bubu) dan pemanfaatan bagi kegiatan budi daya rumput laut. Selain pengambilan karang oleh masyarakat, penggunaan alat tangkap yang merusak, turut berkontribusi pada kerusakan terumbu karang di wilayah ini. Beberapa kegiatan pemanfaatan sumberdaya yang merusak terumbu karang seperti pengambilan gurita dari sarangnya dengan menggunakan linggis, serta mencungkil batu karang untuk pengambilan mata tujuh (abalon). Dari data hasil penelitian La Ola (2004) ditemukan besaran kerusakan terumbu karang akibat pelaksanaan budaya membangun rumah di laut dengan pondasi batu karang pada pulau-pulau kecil di Kepulauan Wakatobi rata-rata sebesar 355,33 m3/tahun. Akibat budaya masyarakat yang membangun rumah di laut
dengan pondasi batu karang menyebabkan degradasi terumbu karang dan penurunan biomassa ikan kerapu pada lingkungan terumbu karang sebesar 0,053487123 ton/m3 atau 802,306845 ton/Ha (0,053487123 ton/m3 x 15000 m3/Ha) atau 19 ton/tahun (0,053487123 ton/m3 x 355,33 m3/tahun) atau sebesar 3,3126183% / tahun.
Selain pemanfaatan ekosistem terumbu karang, masyarakat juga memanfaatkan hutan mangrove sebagai sumber bahan baku kegiatan rumah tangga (kayu bakar, tiang rumah) maupun digunakan sebagai kayu penyangga jaring pada alat tangkap sero maupun untuk kegiatan budi daya rumput laut. Selain itu, lokasi hutan mangrove telah dikonversi menjadi areal pemukiman, pelabuhan dan kegiatan lainnya. Berdasarkan penelitian La Ola (2004), akibat pemanfaatan hutan mangrove untuk lokasi pemukiman penduduk seluas 2,5 ha, maka ditemukan telah terjadi penurunan produksi biomassa kepiting dari Tahun 1985–2001 pada lingkungan mangrove sebesar 59,375 kg/tahun atau sebesar 23,75 kg/ha/tahun (rata-rata sebesar 9,3385996% / tahun).
Sumberdaya laut yang juga menjadi potensi dan telah dimanfaatkan oleh masyarakat di wilayah GPK adalah padang lamun. Lokasi padang lamun yang ada diwilayah ini, telah dikonversi bagi peruntukan kegiatan lain seperti kegiatan budi daya, pelabuhan, pemukiman dan kegiatan lainnya. Berdasarkan data penelitian La Ola (2004), akibat konversi ekosistem lamun pada Tahun 1985–2001 menyebabkan terjadi penurunan biomassa ikan Balanak yang
hidup pada lingkungan lamun sebesar 4,2396719%/tahun. Selanjutnya lebih spesifik diuraikan besaran rata-rata produksi biomassa ikan Balanak pada lingkungan lamun akibat pemanfaatan untuk lokasi pemukiman penduduk seluas 2,5 ha mengalami penurunan produksi sebesar 218,7506 kg/tahun atau sebesar 87,50024 kg/ha/tahun.
Selain pemanfaatan berbagai sumberdaya laut seperti terumbu karang, hutan mangrove dan padang lamun secara spesifik, secara umum pengelolaan sumberdaya laut di Kepulauan Wakatobi dimanfaatkan untuk tiga jenis kegiatan, yaitu kegiatan perikanan khususnya perikanan tangkap, kegiatan budi daya khususnya budi daya rumput laut dan kegiatan pariwisata khususnya wisata bahari. Rincian dari masing-masing kegiatan, diuraikan sebagai berikut:
1) Perikanan Tangkap
Eksploitasi perikanan di Kabupaten Wakatobi, khususnya di wilayah Gugus Pulau Kaledupa terfokus pada daerah pesisir, dan dilakukan oleh nelayan tradisional dengan sarana penangkapan yang sederhana. Produksi ikan di Kabupaten Wakatobi sekitar 3.000 ton per tahun, terdiri dari ikan pelagis (kecil dan besar) 2.300 ton dan ikan demersal (karang) 700 ton. Di daerah ini terdapat 7 spot pemijahan ikan dengan 29 spesies ikan yang telah teridentifikasi (DKP 2006). Berdasarkan survei WWF (2003), dengan ekstrapolasi indeks keragaman ikan karang (Coral Fish Diversity Index, CFDI) potensi perikanan di Kabupaten Wakatobi sekitar 942 spesies ikan. Famili- famili yang paling beragam spesiesnya antara lain wrase (Labridae), kakap (Lutjanidae), kerapu (Serranidae), surgeon (Acanthuridae), damsel
(Pomacentridae), angel (Pomacanthidae), cardinal (Apogonidae), kakatua (Scaridae), dan squirrel (Holocentridae).
Kondisi sumberdaya laut di wilayah GPK telah mengalami degradasi. Sebagai indikator keadaan sumberdaya, dari laporan penelitian Duncan (2005) yang melakukan pendataan antara tahun 1996 sampai 2002, diperoleh informasi bahwa ada beberapa predator yang tidak lagi ditemukan oleh para penyelam Operation Wallacea Ltd serta para nelayan. Hal lain juga terindikasi dari rendahnya hasil usaha penangkapan menggunakan pancing pada dinding tubir karang di sekitar Pulau Kaledupa.
Pedagang perantara (tengkulak) setempat menyatakan bahwa persediaan (stok) ikan hiu, lobster, dan ikan kerapu telah menurun drastis sejak mereka mengkomersilkannya. Bahkan saat ini spesies tersebut diperoleh hanya berasal dari karang bagian luar. Indikasi lain, dapat pula dilihat pada hasil penangkapan gurita, yang walaupun jumlahnya mengalami peningkatan sangat drastis sekitar tiga tahun terakhir, akan tetapi ukuran yang ditangkap oleh nelayan semakin kecil.
Para pedagang pengumpul teripang juga menyatakan bahwa kelimpahan teripang sudah menurun drastis dan ukurannya semakin kecil serta beberapa spesies yang sangat laku di pasaran tidak ditemukan lagi di daerah ini. Hasil penangkapan ikan sekarang ukurannya semakin kecil dan ikan yang diperoleh untuk dijual tidak lagi bernilai ekonomi tinggi. Para pedagang pengumpul menyadari bahwa telah ada penurunan persediaan ikan, dan berharap ada pembatasan ukuran penangkapan untuk keberlanjutan pendapatan mereka. Namun demikian para pedagang masih terus membeli semua jenis ikan dari nelayan pada berbagai ukuran, sebab tidak ada pembatasan ukuran ikan yang boleh diperdagangkan. Gambaran tentang persepsi dari 315 nelayan yang telah diwawancara pada penelitian Duncan (2005) pada tahun 2003 dan 2004 berdasarkan tingkat perubahan spesies ikan, jumlah tangkapan, serta ukuran dari tangkapan selama 5 tahun terakhir dengan menggunakan jenis alat tangkap dan pada periode yang sama, disajikan pada gambar berikut:
Gambar 10 Tingkat perubahan spesies, jumlah tangkapan, serta ukuran ikan dari hasil tangkapan selama 5 tahun terakhir.
Nelayan generasi tua telah menyadari bahwa sebenarnya telah lama terjadi perubahan pada kondisi sumberdaya perikanan di wilayah GPK sejak adanya penggunaan jaring insang (gillnet) yang menyebabkan berkurangnya
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
Species Number Size
% R e s p o n d e n ts
kelimpahan ikan. Sementara itu banyak nelayan jaring yang menganggap bahwa dengan adanya peningkatan jumlah sero yang sangat drastis mengakibatkan hasil penangkapan mereka menurun. Para nelayan menyatakan bahwa mereka telah beberapa kali mengganti teknik penangkapan ikan yang mereka lakukan yaitu: dari penggunaan pancing biasa kemudian berganti menggunakan jaring dan pada akhirnya menggunakan sero. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan jumlah hasil tangkapan mereka yang semakin menurun dengan alat tangkap yang telah mereka pakai sebelumnya. Keperluan mengganti alat tangkap dari alat yang kurang efisien menjadi alat tangkap yang lebih efisien dengan sendirinya telah menggambarkan bahwa telah berkurangnya jumlah persediaan ikan di wilayah GPK, sementara kebutuhan sumberdaya ikan dan jumlah penangkapan terus mengalami peningkatan.
Data frekuensi hasil tangkapan dari beberapa jenis alat tangkap yang digunakan seperti jaring, sero dan bubu (merupakan jenis alat tangkap yang dominan di Gugus Pulau Kaledupa sejak 2002) menggambarkan bahwa hanya sekitar 45-60% ikan yang ditangkap telah dewasa (Gambar 11). Jika berdasarkan tingkat ukuran terkecil yang ditangkap, maka ternyata 80% hasil tangkapan adalah di bawah rata-rata ukuran ikan dewasa (Duncan 2005).
Gambar 11 Presentase penangkapan ikan dewasa pada setiap teknik penangkapan pada tahun 2003, ukuran dewasa berdasarkan Fish Base 2000.
Dari data di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kegiatan pemanfaatan sumberdaya untuk kegiatan perikanan di wilayah GPK, selain menggunakan cara-cara penangkapan yang bersifat destruktif, sering pula
Gillnet Fish Fence B ubu Traps Largest Mean Smallest 0% 10% 20% 30% 40% 50% 60% 70% 80% 90% 100% P e rc e n ta g e o f C a tc h M a tu re
menangkap ikan yang termasuk kategori belum dewasa. Sehingga pada masa mendatang, pengembangan kegiatan perikanan harus dilakukan dengan menggunakan cara penangkapan yang ramah lingkungan, dengan cara menetapkan alat tangkap yang bersifat selektif, sehingga sedikit menangkap ikan yang belum dewasa. Dengan demikian keberadaan sumberdaya perikanan dapat tetap lestari dan dapat diwariskan pada generasi selanjutnya.
2) Budi Daya Rumput Laut
Selain sumberdaya perikanan, sumberdaya laut lain yang terdapat di Wakatobi adalah rumput laut yang dibudidayakan oleh masyarakat setempat. Wilayah ini merupakan salah satu pusat budi daya rumput laut di Provinsi Sulawesi Tenggara. Lokasi budi daya terletak di Pulau Kaledupa, Wanci dan Tomia, lokasi terluas terdapat di Pulau Kaledupa (3.139 ha). Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi mengidentifikasi areal yang cocok untuk lokasi budi daya rumput laut seluas 8.364 hektar, namun yang dikembangkan baru 6000an hektar. Produksi rumput laut masih berkisar 3.000–4.000 ton per tahun.
Jenis rumput laut yang dibudidayakan di Gugus Pulau Kaledupa juga mengalami perubahan. Pada awalnya, jenis rumput laut yang dibudidayakan adalah jenis Euchema spp. (lokal = garangga kansee), kemudian pada tahun 1993 berganti ke jenis Euchema cottonii. Saat ini jenis rumput laut yang dibudidayakan selain E. Cottonii, juga dibudidayakan rumput laut dari jenis
Gracilaria spp.
Selain jumlah pembudidaya dan jenis rumput laut yang mengalami perubahan, metode budi daya rumput laut yang dikembangkan oleh masyarakat setempat juga mengalami beberapa perubahan. Pada periode awal kegiatan budi daya rumput laut, metode yang digunakan adalah metode rakit apung. Kemudian pada tahun 1993, menggunakan metode long line
dalam melakukan kegiatan budi daya, terutama dilakukan oleh pembudidaya di Desa Sombano. Pada periode 1999–2000, metode yang digunakan berubah menjadi metode lepas dasar, meskipun beberapa pembudidaya tetap menggunakan metode long line. Pada era tahun 2005an, pembudidaya mencoba melakukan kegiatan budi daya dengan metode jaring. Namun metode ini mengalami kegagalan, sehingga hanya dilakukan pada satu kali musim tanam saja. Selanjutnya pembudidaya menggunakan perpaduan
metode long line dan metode lepas dasar hingga saat ini, yang dilakukan secara bergiliran dan tergantung pada musim.
3) Wisata Bahari
Potensi sumberdaya laut yang juga terdapat di Kabupaten Wakatobi adalah wisata pantai dan wisata bahari. Kegiatan ini dapat dilakukan karena keindahan dan keunikan pantai dan terumbu karang di wilayah Wakatobi. Daerah wisata yang telah dikembangkan adalah Pulau Hoga di Kecamatan Kaledupa dan Pulau Onemobaa di Kecamatan Tomia. Wisatawan dapat melakukan kegiatan berenang, snorkling, menyelam atau sekedar berjemur di pantai.
Pariwisata merupakan kegiatan ekonomi yang baru dikembangkan dan dinilai mempunyai prospek ekonomi yang baik. Pada tahun 2007, pariwisata menyumbang Rp 204 juta pada pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Wakatobi. Pendapatan ini naik dari tahun sebelumnya yang mencapai 150 juta. Retribusi yang diperoleh dari pajak hotel, losmen (wisma), rumah makan, sebesar Rp 98.438.500,- pada tahun 2005.
Saat ini Wakatobi memiliki dua bandara, yang terletak di Tomia dan di Pulau Wangi-Wangi. Bandara Maranggo yang terletak di Tomia, dibangun oleh investor asing asal Swiss, Lorenz Mader. Investor itu membuka usaha Wakatobi Dive Resort di Tomia dan membangun pondok-pondok wisata di Pulau Onemobaa, pulau mungil di depan Pulau Tomia. Keberadaan kawasan wisata tersebut sedikit banyak memberi dampak positif bagi penduduk. Selain menciptakan lapangan kerja, masyarakat juga dilibatkan pada pengembangan pariwisata, diantaranya sebagai pemasok kerajinan rakyat tenun Tomia dan pandai besi, serta terlibat dalam pertunjukan seni budaya.
Terdapat potensi ekowisata di wilayah GPK berupa wisata pantai dan wisata bahari. Objek wisata pantai yang telah dikembangkan adalah pantai Peropa dan Pulau Hoga. Pulau Hoga selain sebagai lokasi wisata pantai dan wisata bahari, juga sebagai lokasi pusat penelitian laut, yang dioperasikan oleh
Wallacea Ltd.
Keikutsertaan masyarakat dalam kegiatan wisata bahari di Pulau Hoga adalah dengan membangun home stay. Perkembangan home stay terus mengalami peningkatan, seiring makin meningkatnya kegiatan penelitian dan kegiatan wisata di daerah ini. Saat ini jumlah home stay telah mencapai 189
buah, dan terdiri dari 378 tempat tidur. Selain potensi wisata bahari yang berlokasi di Pulau Hoga, potensi wisata lain berupa wisata budaya berada di Pulau Kaledupa juga mendapat perhatian dari PEMDA untuk dikembangkan dan dijadikan daya tarik dari kegiatan pariwisata di wilayah GPK.
Perkembangan wisata bahari di wilayah GPK kedepan akan lebih meningkat seiring terbukanya akses transportasi udara ke wilayah Wakatobi. Turis yang ingin menikmati obyek wisata alam di kepulauan yang memiliki ekosistem terumbu karang indah di bawah laut, akan lebih mudah dengan adanya pelayanan transportasi udara yang berlokasi di Pulau Wangi-Wangi.
Dengan adanya bandar udara (Bandara) Matahora di Kota Wangi- Wangi, yang telah mulai beroperasi pada 22 Mei 2009 tampaknya telah mengurangi keterisolasian wilayah Wakatobi yang terletak di bagian timur Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) karena letak geografisnya berada di perairan Laut Banda. Karena untuk menjangkau wilayah ini yang letaknya cukup jauh dari Kota Kendari, ibukota Provinsi Sultra, sebelumnya masyarakat yang akan ke kota dan dari Kota Kendari – Wakatobi menggunakan kapal pelayaran rakyat dengan waktu tempuh sekitar 10 jam (musim gelombang laut rendah) sampai 15 jam (musim gelombang laut tinggi). Selain itu juga dapat melalui perjalanan laut dari Kota Kendari – Kota Bau-Bau dengan menggunakan kapal cepat, dan melanjutkan perjalanan darat menuju pelabuhan Lasalimu atau Pasar Wajo (Kabupaten Buton), kemudian menggunakan kapal pelayaran rakyat ke Wakatobi.
Pada tahun 2008, pemerintah Kabupaten Wakatobi, dengan dukungan DPRD dan masyarakat setempat membangun Bandara Matahora menggunakan dana APBD Wakatobi Tahun 2008. Pembangunan bandara tersebut dilakukan secara bertahap, mulai tahun 2008 dibangun landasan pacu sepanjang 1.400 meter, tahun 2009 diperpanjang menjadi 1.800 meter dan tahun 2010 akan diperpanjang menjadi 2.100 meter, agar dapat melayani pesawat berbadan lebar.
Bandara Matahora diresmikan oleh Menteri Perhubungan, diawali penerbangan perdana pesawat Susi Air–pesawat berkapasitas penumpang 16 orang, dari Kota Kendari ke Wakatobi yang membutuhkan waktu sekitar 45 menit. Kehadiran bandara ini diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi daerah dan sekitarnya, karena akses transportasi semakin terbuka, yang berarti perputaran roda perekonomian rakyat dapat meningkat.
Pengelolaan SDL di Kabupaten Wakatobi untuk berbagai kegiatan pemanfaatan, selama ini dilakukan oleh pemerintah, swasta, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau Non Goverment Organization (NGO), perguruan tinggi, serta masyarakat.
Pemerintah yang berperan dalam pengelolaan sumberdaya di Kabupaten Wakatobi terdiri dari pemerintah pusat yang diwakili oleh Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Wakatobi dan pemerintah daerah Kabupaten Wakatobi beserta satuan kerja perangkat daerah (SKPD).
Keberadaan lembaga-lembaga NGO seperti The Nature Conservancy
(TNC) dan World Wide Fund for Nature (WWF), LSM lokal (FORKANI), program Coremap-LIPI, keseluruhannya turut berkontribusi pada pengelolaan SDL Kabupaten Wakatobi. Selain itu terdapat pula Operation Wallacea Ltd. (Opwall) yang merupakan lembaga pusat penelitian laut internasional yang dipimpin oleh Chris Major dan berpusat di Inggris, turut memberi kontribusi dalam pengelolaan SDL di wilayah ini.
Keberadaan pihak swasta, baik swasta domestik maupun asing turut berperan dalam pengelolaan SDL. Pihak swasta asing yang beroperasi sejak pertengahan Tahun 1990-an adalah seorang pengusaha asal Swiss bernama Lorenz Mader, pemilik Wakatobi Dive Resort. Resort tersebut merupakan resort bertaraf internasional yang terletak di Pulau Onemobaa, Gugus Pulau Tomia. Selain swasta asing, kehadiran swasta lokal seperti Lembaga Alam Mitra Wakatobi yang bekerjasama dengan Opwall mengkoordinir kegiatan wisata bahari di Pulau Hoga.
Peran lain dalam pengelolaan SDL, ditunjukkan oleh pihak perguruan tinggi. Perguruan tinggi yang hadir di wilayah Wakatobi berasal dari perguruan tinggi negeri setempat yaitu pihak Universitas Haluoleo maupun dari pihak Institut Pertanian Bogor yang bekerjasama dengan Pemda Wakatobi dalam hal penelitian dan pengembangan, dan telah dilakukan penandatanganan MOU di Kota Bogor pada acara Promo dan Workshop Pariwisata Wakatobi.
Selain kehadiran pelaku-pelaku pengelola SDL yang dipaparkan sebelumnya, peran masyarakat juga turut berkontribusi dalam pengelolaan sumberdaya laut di Kabupaten Wakatobi. Masyarakat memanfaatkan SDL Kepulauan Wakatobi bagi kegiatan perikanan tangkap, budi daya rumput laut dan wisata bahari.