BAB II NILAI-NILAI DAN PENDIDIKAN DI SEKOLAH
A. Tindakan-Tindakan sebagai Tanda dari Nilai-nilai
Tindakan-tindakan orang sering memberikan kepada kita tanda mengenai apa yang mereka nilai. Mencoba memperhatikan apa yang or- ang lakukan dengan meluangkan waktu, kalau ia bukan sedang dibujuk atau diancam. Andaikan, sebagai contoh, bahwa seseorang menghabiskan dari waktu luangnya mengajar anak-anak yang mempunyai kesulitan belajar membaca. Secara individual dalam kasus ini memberikan sedikit waktu untuk melihat buku-buku yang cocok dan materi-materi yang anak dapat gunakan, menemukan tempat-tempat yang tenang untuk berdiam dan bekerja dengan mereka, mendesain berbagai materi khusus, dan tentu juga bekerja dengan anak-anak iu sendiri. Jika orang itu, tidak menghendaki untuk melakukan hal itu dan bukan sedang dibayar untuk itu, kita akan cenderung untuk percaya bahwa ia menilai semacam itu dari aktivitas. Dengan kata lain, ia menganggap mengajar adalah sesuatu yang penting dan bermanfaat untuk dilakukan.
Di sini akan diperlihatkan 4 (empat) contoh dari perilaku. Nilai- nilai apa yang mereka anjurkan?
Peristiwa 1. Pembakaran Buku
Minneapolis, kira-kira 3 lusin salinan dari novel yang berjudul
“Lima Rumah Pembantaian” dibakar minggu yang lalu di Drake N.D, atas perintah dewan pengurus sekolah setempat.
Berdasarkan tindakan dari pengaduan seorang mahasiswa tingkat 2, maka Dewan Pengurus mengadakan pertemuan khusus hari Selasa, dan telah setuju dengan para gadis bahwa buku tersebut merupakan buku yang tidak senonoh. Beberapa materi dalam pertemuan tersebut telah menjelaskan bahwa novel Kurt Vonnegut. Jr mengenai persekutuan pemboman kota Dresden, Jerman dalam PD II adalah sebagai “alat setan”.
Dewan Pengurus sekolah telah diperintahkan Dale Fuhrman, pengawas sekolah, untuk mengawasi pemusnahan buku-buku tersebut. Buku-buku lainnya direncanakan untuk dimusnahkan, karena dipandang bahasanya yang tidak sopan seperti “Pelepasan” James Dickey dan kumpulan cerita pendek Ernest Hemingway, William Faulkner dan John Steinbeck.
Segala sesuatunya telah diserahkan kepada para peserta didik dari ibu kota North Dakota, yang jumlah penduduknya 700, melalui Bruce Severy, guru bahasa Inggeris, berusia 27 tahun, yang menurut laporan dikontrak, karena pandangannya yang kosmopolitan.
Severy dalam pemeriksaan Dewan Sekolah menyatakan bahwa pengarang buku tersebut sedang mencoba untuk menceritakan kisahnya sebagaimana adanya, dengan menggunakan bahasa sebagaimana yang digunakan saat ini, namun di luar dunia nyata.
Menyinggung terhadap fakta bahwa tidak ada satupun anggota dewan sekolah yang telah membaca buku-buku yang mereka perintahkan untuk dimusnahkan, dengan keras Severy mengatakan “Tidak satupun dapat membuat penilaian tentang buku, tanpa membaca sama sekali sebuah buku. Segala sesuatu yang mengandung kekurangan adalah ketidakjujuran secara akademis, irrasional dan anti intelektual”.
Lima anggota Dewan Pengurus telah memutuskan dengan suara bulat untuk membakar buku-buku tersebut dan menentang untuk mengkontrak Severy untuk tahun depan.
Peristiwa 2: Seorang Idealis yang Kehilangan Idealisme Saat saya lulus dari perguruan tinggi, saya banyak mempunyai cita-cita tentang kejujuran, berlaku adil dan kerja sama, yang telah saya pelajari di rumah, di sekolah dan dari literatur. Pekerjaan pertama saya, setelah lulus sekolah adalah salesman mesin tik. Pada hari pertama, saya mempelajari bahwa berbagai mesin tik, tidak dijual
dengan harga yang sama, tetapi orang yang menawar dan memasukkan ke daftar tunggu, dapat mendapatkan mesin tik dengan setengah harga dari daftar harga. Saya merasa bahwa itu tidak adil bagi pembeli yang membayar sesuai dengan daftar harga. Salesman lain menertawakan saya dan tidak mengerti ketololan sikap saya. Mereka memberitahu saya untuk melupakan hal-hal yang telah saya pelajari di sekolah. Dan bahwa saya tidak dapat memperoleh uang yang banyak, kalau terlalu jujur. Bila saya menjawab bahwa uang bukanlah segala-galanya. Mereka mengejek saya: “Oh! Bukan? Baiklah, itu menolong”. Saya seorang ideal dan saya telah berhenti.
Saya berhenti kerja, sebelum saya dapat memperoleh pekerjaan yang lain. Selama waktu itu, saya kadang-kadang bertemu dengan berbagai teman sekolah dan mereka menceritakan pengalaman- pengalaman yang serupa kepada saya. Mereka mengatakan bahwa mereka menderita kelaparan. Jika mereka terlalu jujur. Semua dari mereka adalah para gadis yang menunggu-nunggu untuk menikah dengan standar yang menyenangkan dan mereka mengatakan mereka tidak mengerti bagaimana mereka dapat mampu untuk menjadi jujur sekali. Perasaan saya menjadi kurang stabil, mereka telah menjadi orang dibandingkan dengan saya saat melepaskan pekerjaan pertama saya.
Kemudian saya memperoleh kesempatan dalam bisnis mobil bekas. Saya mempelajari bahwa bisnis ini mempunyai lebih banyak tipu muslihat untuk menipu para konsumen daripada saya bekerja sebelumnya. Mobil-mobil dengan silindernya yang sudah retak dengan separo dari giginya lepas dari las rodanya, dengan banyak kecacatan, dijual dengan “digaransi”. Ketika konsumen kembali dan meminta garansinya, dia harus menuntut untuk mendapatkan garansinya tersebut dan amat sedikit yang mau, karena sulit dan mahal biaya mengurusnya. Bos mengatakan kamu dapat percaya kepada sifat manusia. Jika mobil-mobil yang sulit dapat dijual dan penjualannya aman, bos menyatakan tidak ragu-ragu. Ketika saya mempelajari kejadian tersebut, saya tidak berhenti meninggalkan bisnis ini, seperti sebelumnya, saya merasa jijik dan ingin berhenti, tetapi saya berargumen bahwa saya tidak mempunyai banyak kesempatan untuk menemukan sebuah perusahaan yang bagus. Saya mengetahui bahwa permainan tersebut curang, buruk, tetapi permainan tersebut harus dimainkan, - hukum rimba dan yang
dipilih orang -, saya mengetahui bahwa saya tidak jujur dan pada tingkatan itu saya merasa bahwa saya lebih jujur daripada kawan saya. Perihal tersebut menggores dan menembus hati saya, sebagai hal yang asing, yaitu di mana semua orang-orang itu merasa bangga dengan kemam- puannya untuk menipu para konsumen. Mereka menyombongkan ketidakjujuran yang mereka miliki dan dipuji oleh kawan-kawan dan musuhnya sebagai ukuran kemampuannya, untuk melepaskan diri dari transaksi yang tidak jujur: hal tersebut disebut kelicikan. Hal yang lain adalah bahwa orang-orang tersebut bersepakat dalam mengutuk perampok-perampok, gangster-gangster, pembobol rumah, dan pencuri- pencuri. Mereka tidak pernah menganggap mereka sendiri satu golongan yang dikutuknya, dan akan marah sekali, jika dituduh tidak jujur, dan mereka menganggap hal itu sebagai bisnis yang baik.
Kadang-kadang, seperti tahun-tahun yang telah lewat, saya telah memikirkan saya sendiri sewaktu di universitas, yang idealistis, jujur dan bijaksana, tenggang rasa terhadap yang lainnya dan kadangkala sekarang saya malu pada diri sendiri. Tidak lama lagi ingatan-ingatan sedemikian itu menjadi berkurang dan hal tersebut menjadi sulit untuk membedakan saya dengan kawan-kawan saya. Jika anda telah menuduh saya tidak jujur, saya akan menyangkal tuduhan itu, tetapi dengan sedikit agak berapi-api daripada teman-teman bisnis saya, dan setelah kesemuanya itu, bagaimanapun saya telah belajar sebuah kode perilaku yang berbeda. Peristiwa 3: Berlayar Dengan Sebuah Perahu Kecil
Kawan saya Bill Huntington dan saya sedang merencanakan untuk berlayar dengan perahu kecil menuju ke jurusan Barat ke lokasi percobaan bom-H Pasifik. kami akan tetap ke sana sepanjang percobaan- percobaan bom-H tetap diteruskan. Mengapa? Sebab ini merupakan cara saya untuk mengatakan kepada pemerintah British dan Krem- lin: “Stop! Stop! Kegilaan ini, sebelum hal tersebut terlambat”.
Saya pergi dengan alasan seperti yang dikatakan Shakespeare “Tindakan merupakan kepandaian berbicara”. Tanpa beberapa tindakan langsung seperti itu, rakyat biasa kurang kekuatannya untuk lebih kuat dilihat dan didengar pemerintah mereka.
Saya pergi, sebab inilah waktu untuk melakukan sesuatu mengenai perdamaian, bukan hanya berbicara tentang perdamaian.
Saya pergi sebab seperti semua manusia, dalam hati saya, saya tahu bahwa seluruh ledakan-ledakan nuklir adalah dahsyat, jahat, tidak berguna bagi manusia.
Saya pergi sebab perang adalah bukan perpanjangan pertandingan dari permainan tusuk-menusuk di jaman feodal. Ini adalah bencana yang tidak terkirakan bagi seluruh manusia.
Saya pergi sebab sekarang ini anak-anak kecil dan kebanyakan dari mereka hingga kini, mereka belum dilahirkan oleh seseorang sebagai pasukan-pasukan di garis depan. Ini adalah tugas saya untuk berdiri di antara mereka dari bahaya-bahaya mengerikan.
Saya pergi sebab, ini adalah cara pengecut dan merendahkan martabat saya, untuk menunggu terlalu lama, untuk setuju, dan dengan demikian bekerja sama dengan kekejian.
Saya pergi sebab seperti yang Gandhi katakan: “Tuhan berada dalam diri manusia, berhadapan dengan saya. Oleh karena itu untuk melukai dirinya adalah juga melukai Tuhannya sediri”.
Saya pergi untuk bersaksi bagi kebenaran yang ada dalam batin, yang kita semua mengetahuinya, “kekuatan dapat dilemahkan, tetapi cinta meguntungkan”.
Saya pergi sebab walau bagaimanapun, kesalahan, dosa dan pemerintah nampaknya tidak menyesal, saya masih yakin semua or- ang sesungguhnya berhati yang baik dan bahwa tindakan saya akan dibicarakan mereka.
Saya pergi dengan harapan untuk menolong berubahnya hati dan perkiraan dari orang di pemerintahan. Jika diperlukan saya bersedia, memberikan hidup saya untuk menolong perubahan kebijakan dari ketakutan, kekuatan dan penghancuran kepada satu kepercayaan, kebaikan dan pertolongan.
Saya pergi supaya mengatakan: “Hentikan pemborosan ini, perlombaan senjata ini dan ubahlah menjadi pertandingan-pertan- dingan perlucutan senjata. Stop berlomba-lomba dalam kejahatan, berlomba-lombalah untuk kebaikan”.
Saya pergi sebab saya memilikinya – jika saya sebut diri saya ini adalah manusia.
Jika kamu melihat sesuatu yang mengerikan terjadi, nalurimu adalah melakukan sesuatu yang berkenaan dengan itu. Kamu menjadi tidak berdaya dalam ketakutan yang apatis atau kamu bahkan dapat berbicara pada dirimu sendiri dan menyatakan bahwa itu bukanlah hal yang amat mengerikan. Saya tidak dapat melakukan hal seperti itu. Saya harus bertindak. Hal itu sungguh amat mengerikan. Kita semua mengetahuinya. Marilah kita semua bertindak.
Peristiwa 4: Sebuah Ujian Di Dalam Kelas Kampus yang Bising
Seorang guru akan mengawasi ujian di kelas, saat waktu ujian mulai tiba, dan peserta didik sedang mulai memasuki ruang kelasnya. Guru tersebut berkata:
- Stt, tak seorangpun diijinkan mengucapkan sepatah kata setelah melewati pintu ruangan ujian ini.
- Di kelas ini, kalian akan duduk di deretan kursi yang diberi nomor ganjil, yaitu pertama, ketiga, kelima, dan seterusnya.
- Kalian akan menempati kursi, setiap kursi pertama, diselang dengan dua kursi yang kosong di antara kamu.
- Kamu tidak perlu menggunakan tempat penyimpanan alat tulis atau perlengkapan apapun lainnya.
- Saya akan sabar menunggu kalian, tidak boleh ada bisik-bisik, tanda-tanda atau bahasa isyarat.
- Kamu akan sukses, jagalah mata kalian dan kertas-kertas kalian. - Baiklah... kita mulai ujian anda dengan kejujuran anda.
1. Dari setiap peristiwa-peristiwa di atas, pertimbangan-pertimbangan apa yang perlu diberikan mengenai nilai-nilai dari orang-orang yang bersangkutan di atas? 2. Tindakan-tindakan apakah dari pihak setiap individu dari peristiwa-peristiwa yang telah ditunjukkan yang dapat meyebabkan anda merubah pikiran anda mengenai apa yang mereka nilai? Mengapa?
3. Apakah maksud pokok dari percakapan pada peristiwa 4? Apakah hal-hal tersebut mengajarkan nilai-nilai?