47 BAB 3
METODE PENELITIAN
Bab tiga menjelaskan rangkaian metode yang digunakan dalam penelitian.
Ada beberapa hal yang dijelaskan meliputi: (1) Jenis penelitian, (2) Lokasi dan
waktu penelitian, (3) Partisipan, (4) Pengumpulan data, (5) Prosedur penelitian (6)
Variabel dan definisi operasional, (7) Metode analisis data, (8) Tingkat keabsahan
data (trusthworthines of data), dan (9) Pertimbangan etik.
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah action research
yang bertujuan untuk mengembangkan program orientasi kerja di Rumah Sakit
Umum Natama Kota Tebing Tinggi dengan berbasis caring. Kegiatan dalam siklus action research melibatkan partisipasi aktif dari partisipan dalam merencanakan kegiatan, melaksanakan kegiatan, mengamati dan memantau
kegiatan serta melakukan refleksi terhadap kegiatan yang telah dilaksanakan
selama melakukan pengembangan program orientasi kerja. Pelaksanakan kegiatan
dalam tahap penelitian action research dapat berubah sesuai dengan keadaan yang
terjadi. Penggunaan metode action research bertujuan untuk mengubah teori dan praktik. Action research atau penelitian tindakan menurut Kemmis dan McTanggart (1988) adalah suatu bentuk penelitian reflektif diri secara kolektif
dilakukan peneliti bersama partisipan dalam situasi sosial untuk meningkatkan
penalaran praktek sosial dan pendidikan peneliti dan partisipan serta pemahaman
peneliti dan partisipan tentang perilaku dan situasi dimana praktek-praktek
tersebut akan dilakukan.
48
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi
tentang program orientasi kerja di unit rawat inap secara khusus. Rumah sakit
tersebut merupakan rumah sakit yang terus melakukan recruitment pegawai terutama tenaga perawat. Hubungan antara peneliti dan pihak-pihak terkait di
rumah sakit tersebut terjalin dengan baik sehingga memudahkan peneliti dalam
melakukan penelitian ini. Waktu penelitian dimulai pada bulan Pebruari 2016
sampai dengan Agustus 2016. Pertimbangan waktu tersebut cukup panjang karena
penelitian ini harus menyesuaikan dengan metode action research yang memiliki siklus dengan beberapa tahapan sehingga membutuhkan waktu yang panjang agar
mendapatkan hasil penelitian yang representatif dan menyesuaikan dengan situasi
dan kondisi pihak-pihak terkait di rumah sakit tersebut.
3.3. Partisipan Penelitian
Partisipan dalam penelitian ini yaitu 13 orang yang terdiri dari 2 bagian
yaitu (1) Partisipan untuk data kualitatif yaitu tim pelaksana yang terdiri dari 1
orang kepala bidang keperawatan, dan 5 orang kepala unit/ ruangan, (2) Partisipan
untuk data kuantitatif yaitu 7 orang perawat baru, maksudnya adalah perawat baru
masuk dan baru bekerja maksimal 1 tahun di rumah sakit tersebut yang belum dan
atau sudah mendapatkan program orientasi kerja. Penentuan jumlah sampel
diambil dengan cara purposive sampling. Dimana purposive sampling merupakan penentuan jumlah sampel dengan menggunakan pengetahuan peneliti untuk
memilih orang-orang yang dinilai menjadi khas dari populasi atau sangat
berpengetahuan tentang isu-isu yang diteliti (Polit & Beck, 2012). Dimana pada
penelitian ini, menurut pemahaman dan pengetahuan peneliti pada topik penelitian
ini bahwa partisipan dibagi atas 2 bagian yang sesuai dengan penelitian ini yaitu
partisipan yang dianggap memiliki wewenang dan tangggungjawab dalam
pelaksanaan program orientasi kerja di rumah sakit tersebut yaitu tim pelaksana
dan partisipan yang menjalani program orientasi kerja yaitu perawat baru.
3.4. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan berbagai metode yaitu
wawancara individu, observasi, self report, focus group discussion dan beberapa alat pengumpulan data yaitu panduan wawancara, panduan focus group discussion, kuisioner, lembar observasi, serta alat tambahan atau penunjang yaitu voice recorder. Berikut ini dijelaskan tentang metode dan alat pengumpulan data tersebut, yaitu:
3.4.1.Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada tahap ini dilakukan dengan:
1. Wawancara Individu
Pada penelitian ini, wawancara dilakukan dengan tehnik indepth interview. Hal ini berguna untuk mendapatkan informasi yang banyak dari partisipan.
Wawancara dilakukan berdasarkan panduan wawancara yang telah dipersiapkan
oleh peneliti. Pengembangan pertanyaan dilakukan peneliti dengan menggunakan
tehnik probing. Tehnik probing dilakukan dengan memberikan pertanyaan
50
lanjutan yang dikembangkan berdasarkan atas jawaban yang diberikan oleh
partisipan. Wawancara dilakukan pada tahap reconnaissance terhadap 4 orang partisipan yaitu 1 orang kepala bidang keperawatan, dan 3 orang kepala ruangan.
Lama wawancara antara 30-60 menit. Wawancara direkam dengan menggunakan
alat bantu rekam. Hasil wawancara dibuat dalam bentuk transkrip wawancara dan
kemudian dianalisis.
2. Observasi
Program orientasi kerja yang dilakukan oleh bidang keperawatan dan kepala
ruangan rumah sakit dinilai oleh peneliti melalui lembar observasi. Pada tahap
observasi, peneliti terlibat langsung dalam kegiatan program orientasi kerja
tersebut. Observasi dilaksanakan pada tahap observing yang bersamaan dengan tahap action. Kegiatan observasi merupakan kegiatan untuk mengamati implementasi program orientasi kerja oleh tim pelaksana program tersebut yang
dilaksanakan bulan Juli sampai dengan Agustus 2016. Tujuan dari tahap ini
adalah untuk menilai penerapan program orientasi kerja berbasis caring yang dilakukan oleh bagian terkait pada program tersebut.
3. Self Report
Tehnik self report dilakukan dengan meminta partisipan mengisi kuisioner
tingkat pengetahuan perawat dan tingkat kepuasan perawat. Penyebaran kuisioner
dan pengumpulan data dilakukan pada tahap reconnaissance yaitu pada bulan Juni
2016 dan berikutnya pada tahap reflecting yaitu pada bulan Agustus 2016. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui persepsi partisipan perawat baru sebelum
melakukan wawancara langsung kepada partisipan apabila partisipan dianggap
tidak mampu untuk mengisi kuisioner sendiri.
4. Focus Group Discussion (FGD)
FGD dilakukan untuk mengetahui persepsi partisipan. FGD dilakukan
setelah program orientasi kerja berbasis caring dilaksanakan. FGD dilakukan satu
kali pada fase reflecting kepada empat orang partisipan yaitu 1 orang kepala bidang keperawatan, dan 3 orang kepala unit/ ruangan. Dalam FGD peneliti
berperan sebagai moderator selama proses FGD berlangsung. Tugas moderator
adalah memimpin diskusi dan memberikan pertanyaan yang telah disusun
sebelumnya. Selain itu, FGD juga dilakukan pada tahap acting untuk merumuskan
dan menyusun SPO (Standar Prosedur Operasional).
3.4.2.Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari (1)
Panduan wawancara, (2) Panduan Focus Group Discussion (FGD), (3) Kuisioner
pengetahuan tentang program orientasi kerja, (4) Kuisioner tingkat kepuasan
perawat yang menjalani program orientasi kerja, dan (5) Lembar observasi dan (6)
Alat tambahan atau penunjang yaitu voice recorder. Alat pengumpulan data dalam
penelitian ini dibuat sendiri oleh peneliti berdasarkan teori yang ada dan kemudian
di modifikasi oleh peneliti sesuai kebutuhan.
Semua alat pengumpulan data seperti panduan wawancara, panduan focus group discussion, kuisioner pengetahuan tentang program orientasi kerja, kuisioner tingkat kepuasan perawat yang menjalani program orientasi kerja, dan
lembar observasi yang disiapkan oleh peneliti telah dilakukan uji validitas dengan
52
menggunakan Content Validity Index (CVI) oleh tiga orang expert sesuai dengan
kompetensi objek penelitian yaitu Ibu Liberta Lumbantoruan, S.Kp., M.Kep, Ibu
Sabarina, S.Kep.,Ns, M.Kep dan Bapak Mompang Tua P. Harahap, S.Kep.,Ns,
M.Kep.
Skala Content Validity Index (CVI) antara 0,86 – 1,00. Untuk uji validitas dilakukan dengan 4 item sebagai penilaiannya yaitu relevan (relevance), kejelasan
(clarity), kesederhanaan (simplicity), ambiguitas (ambiguity). Setiap item diberi penilaian 1 sampai dengan 4, dimana nilai 1 merupakan tidak sesuai item, nilai 2
merupakan perlu direvisi banyak, nilai 3 merupakan sesuai item tetapi perlu
sedikit revisi dan nilai 4 berarti item tersebut sudah valid. Uji validitas
dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Mei 2016.
Panduan wawancara individu dibuat sendiri oleh peneliti yang terdiri dari
delapan pertanyaan terbuka tentang persepsi partisipan terhadap pelaksanaan
program orientasi kerja. Pertanyaan wawancara digunakan untuk mengetahui
bagaimana pemahaman partisipan tentang program orientasi kerja, tujuan
pelaksanaan program orientasi kerja, manfaat pelaksanaan program orientasi
kerja, hambatan dalam pelaksanaan program orientasi kerja, pelaksanaan program
orientasi kerja yang telah berjalan, dan harapan terhadap pelaksanaan program
orientasi kerja. Hasil perhitungan atas uji validitas yang telah dilakukan maka
didapatkan bahwa panduan wawancara tersebut dikatakan valid karena memiliki
nilai CVI 0,95. Terdapat perbaikan pada item nomor 4 dan nomor 6 yaitu sedikit
perubahan kalimat pertanyaan tanpa merubah konteks pertanyaan serta merubah
Panduan focus group discussion terdiri dari lima pertanyaan terbuka tentang
evaluasi pelaksanaan program orientasi kerja berbasis caring. Pertanyaan digunakan untuk menggali informasi tentang hal-hal yang perlu dilaksanakan pada
program orientasi kerja berdasarkan pengalaman, manfaat bagi perawat khususnya
dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya, faktor-faktor yang mendukung
dan menghambat proses pelaksanaan program orientasi kerja, serta harapan dalam
pelaksanaan program orientasi kerja bagi perawat baru di Rumah Sakit Umum
Natama Kota Tebing Tinggi. Hasil perhitungan atas uji validitas yang telah
dilakukan maka didapatkan bahwa panduan focus group discussion tersebut dikatakan valid karena memiliki nilai CVI 1,00.
Kuisioner pengetahuan perawat tentang pelaksanaan program orientasi kerja
terdiri dari 20 pernyataan dimana 2 pernyataan negatip yaitu item nomor 7 dan
nomor 9 dan 18 pernyataan positip dengan pilihan “benar” dan “salah”. Jika
partisipan memilih pernyataan tersebut “benar” maka diberi nilai 1 (satu), jika
partisipan memilih pernyataan tersebut “salah” maka diberi nilai 0 (nol). Jawaban
partisipan dibagi menjadi 3 kelas yaitu baik, cukup, kurang. Jika pengetahuanya
baik maka nilainya dari 14-20, jika pengetahuannya cukup maka nilainya 7-13
dan jika pengetahuanya kurang maka nilainya 0-6. Hasil perhitungan atas uji
validitas yang telah dilakukan maka didapatkan bahwa kuisioner tersebut
dikatakan valid karena memiliki nilai CVI 0,98. Terdapat perbaikan pada item
nomor 4 yaitu sedikit perubahan kalimat tersebut.
Kuisioner tentang kepuasan perawat terhadap pelaksanaan program orientasi
kerja disusun berdasarkan tinjauan pustaka tentang konsep orientasi kerja dan
54
konsep caring ; Intrapersonal teaching learning yang terdiri dari 20 pernyataan. Unsur-unsur caring dielaborasikan dengan konsep program orientasi kerja yang bertujuan untuk menilai caring dalam pelaksanaan program orientasi kerja. Setiap
pernyataan terdiri atas 4 pilihan jawaban yaitu sangat puas, puas, tidak puas, dan
sangat tidak puas. Apabila partisipan menjawab sangat puas diberi nilai 4 (empat),
puas diberi nilai 3 (tiga), tidak puas diberi nilai 2 (dua), dan sangat tidak puas
diberi nilai 1 (satu). Jika partisipan merasa sangat puas total nilai 61-80
(76%-100%), puas total nilai 41-60 (51%-75%), tidak puas total nilai 21-40 (26%-50%)
dan sangat tidak puas total nilai 1-20 (0-25%). Hasil perhitungan atas uji validitas
yang telah dilakukan maka didapatkan bahwa kuisioner tersebut dikatakan valid
karena memiliki nilai CVI 0,98. Terdapat perubahan pada item nomor 17 yaitu
perubahan kalimat tersebut dan lebih menyederhanakan kalimat-kalimat setiap
item dari pernyataan tersebut tanpa mengubah atau mengurangi konteks atau
tujuan dan maksud pernyataan tersebut.
Lembar observasi terdiri dari 24 pernyataan yang terkait dengan
pelaksanaan program orientasi kerja yang dilaksanakan oleh tim pelaksana
program orientasi kerja. Hal yang di observasi ditinjau dari 3 bagian yaitu
mengobservasi pelaksana/ tim program orientasi kerja, observasi terhadap peserta
program orientasi kerja, dan observasi terhadap dokumen program orientasi kerja.
Hasil perhitungan atas uji validitas yang telah dilakukan maka didapatkan bahwa
pernyataan pada lembar observasi tersebut dikatakan valid karena memiliki nilai
CVI 0,97. Terdapat perubahan pada item nomor 14 dan sedikit penambahan
pernyataan tersebut. Semua instrumen penelitian telah dilakukan uji validitas
kepada expert yang dinyatakan valid dan untuk setiap perbaikan telah dikonsulkan
kembali kepada expert dan pembimbing. Alat tambahan atau penunjang yaitu voice recorder, digunakan untuk merekam suara pada saat dilakukan wawancara dan focus group discussion.
3.5. Prosedur Penelitian
Langkah-langkah action research yang dilakukan dalam pengembangan program orientasi kerja di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi terdiri
atas tahap reconnaissance dan siklus action research (planning, acting, observing
and reflecting). Langkah-langkah tersebut dijelaskan sebagai berikut: 1. Tahap Reconnaissance
Pada tahap ini dilakukan kegiatan dimulai dari bulan Pebruari sampai
dengan bulan Juni 2016. Adapun kegiatan yang dilakukan yaitu mendapatkan
setting penelitian dan partisipan, mendapatkan persepsi tim pelaksana program orientasi kerja bagi perawat dan pihak terkait tentang program orientasi kerja,
mengetahui pengetahuan perawat tentang program orientasi kerja, dan kepuasan
perawat terhadap pelaksanaan program orientasi kerja yang dilaksanakan selama
ini di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi.
2. Siklus Action Research
Siklus action research terdiri atas empat langkah yaitu planning, acting, observing, dan reflecting. Berikut adalah tahapan yang dilaksanakan, yaitu:
56
1. Planning
Pada tahap ini peneliti melakukan perencanaan atas kegiatan yang dilakukan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Beberapa kegiatan yang dibuat
dalam tahap ini antara lain merencanakan pembentukan tim dalam pelaksanaan
program orientasi kerja perawat, merencanakan seminar tentang caring dan program orientasi kerja, merencanakan untuk berdiskusi dalam pembuatan
Standar Prosedur Operasional (SPO) program orientasi kerja, merencanakan
seminar dan sosialisasi SPO program orientasi kerja, merencanakan penerapan
SPO program orientasi kerja dan merancang format penilaian hasil pelaksanaan
program orientasi kerja.
2. Acting
Tahap ini merupakan tahap penerapan atas rencana tindakan yang telah
disusun. Pada tahap tindakan ini kegiatan yang dilakukan yaitu pembentukan
tim dalam pelaksanaan program orientasi kerja perawat. Setelah itu peneliti
memberikan seminar tentang caring dan program orientasi kerja, kemudian bersama-sama pihak terkait mendiskusikan pembuatan standar pelaksanaan
program orientasi kerja perawat, membuat seminar sosialisasi standar prosedur
operasional pelaksanaan program orientasi kerja bagi perawat, pemberian
materi caring, selanjutnya mengaplikasikan standar tersebut dan merancang format penilaian hasil pelaksanaan program orientasi kerja bagi perawat.
3. Observing
Tahap ini peneliti melakukan pengamatan atas tindakan yang telah dilakukan
telah dibuat sebelumnya atau tidak, apakah partisipan melaksanakan program
orientasi kerja sesuai dengan standar yang telah dibuat. Observasi dilakukan
dengan menggunakan pedoman observasi yang telah disusun sebelumnya.
4. Reflecting
Tahap reflecting adalah tahap penilaian atas kegiatan yang telah dijalani selama
siklus dalam action research. Pada tahap ini peneliti menilai sejauh mana kegiatan yang direncanakan tersebut telah dilaksanakan. Tujuan pada tahap ini
adalah menilai kemajuan, kelemahan dan kendala apa saja yang ditemukan
oleh partisipan selama proses kegiatan pelaksanaan program orientasi kerja
dilakukan. Setelah itu peneliti berupaya untuk memahami, memaknai dan
menyimpulkan data-data yang ditemukan.
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu mengadakan focus group discussion (FGD) dengan para partisipan. Tujuan dari FGD adalah untuk menyelidiki tentang persepsi perawat setelah dilaksanakannya kegiatan
program orientasi kerja perawat tersebut. FGD juga digunakan untuk
mendapatkan informasi tentang faktor pendukung dan penghambat selama
kegiatan program orientasi kerja. FGD dilakukan juga untuk mengetahui
seberapa besar antusias dan kepuasan tim pelaksana program orientasi kerja
dalam menerapkan program orientasi kerja berbasis caring.
Pada tahap reflecting dilakukan kembali penyebaran kuisioner tingkat pengetahuan dan kepuasan perawat baru terhadap pelaksanaan program
orientasi kerja. Penyebaran kuisioner pada tahap reflecting merupakan tahap penilaian terhadap pengetahuan dan kepuasan perawat baru setelah menjalani
58
program orientasi kerja berbasis caring. Dari hasil kegiatan program orientasi kerja yang telah diikuti oleh perawat baru tersebut diketahui adanya
peningkatan pengetahuan dan kepuasan perawat baru, karena dalam proses
program orientasi kerja tersebut diberikan berbagai informasi yang
berhubungan dengan peran, tugas dan tanggungjawab perawat baru tersebut
59 Tabel 3.1. Kegiatan Reconnaissance Pengembangan Program Orientasi Kerja Berbasis Caring Di Rumah Sakit Umum
Natama Kota Tebing Tinggi
Pebruari s/d Mei 2016 Mei s/d Juni 2016 Juni 2016
1. Melakukan prolonged engagement 2. Membuat pertemuan kembali
dengan melibatkan seluruh partisipan secara bersama-sama. 3. Menyampaikan maksud dan tujuan
peneliti untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Umum Natama.
6. Menyampaikan batas waktu penelitian.
7. Mencari informasi kembali secara menyeluruh tentang setting tempat penelitian.
1. Melakukan wawancara pada partisipan secara individu tentang pelaksanaan program orientasi kerja.
2. Partisipan yang dilakukan wawancara adalah partisipan yang belum pernah di wawancarai oleh peneliti.
3. Lama wawancara 30 sampai 60 menit untuk masing- masing partisipan.
4. Wawancara menggunakan panduan wawancara dan recorder.
5. Hasil wawancara dibuat dalam bentuk transkrip dan dianalisis.
6. Melakukan penyebaran kuisioner tentang pengetahuan dan kepuasan perawat pada partisipan perawat baru.
1. Mengumpulkan kembali kuisioner yang telah dibagikan sebelumnya kepada partisipan perawat baru.
2. Melakukan analisa data
3. Melakukan member checking terhadap hasil wawancara dan penyebaran kuisioner kepada partisipan.
60
3.6. Variabel dan Defenisi Operasional
Variabel yang diteliti adalah pengembangan program orientasi kerja bagi
perawat baru di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi. Defenisi
operasional pengembangan program orientasi kerja adalah suatu kegiatan
sistematis dalam pelaksanaan program orientasi kerja yang berdasarkan atas
caring: intrapersonal teaching learning; caritas coaching oleh tim pelaksana program orientasi kerja terhadap perawat baru di Rumah Sakit Umum Natama
Kota Tebing Tinggi yang dikembangkan dengan menggunakan metode action research yang menghasilkan suatu standar prosedur operasional program orientasi kerja bagi perawat. Program yang dikembangkan tersebut dapat meningkatkan
pengetahuan dan perilaku tim pelaksana program orientasi kerja tentang caring, pengetahuan dan perilaku perawat baru khususnya mengenai prinsip keperawatan
yaitu caring dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai perawat, dan tingkat kepuasan perawat baru dalam mengikuti program orientasi kerja.
3.7. Metode Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini terbagi dua jenis yaitu analisis data
kualitatif dan analisis data kuantitatif. Analisis data kualitatif dilakukan untuk data
analisis data kualitatif menurut Colaizzi (1978) dalam Streubert dan Carpenter
(1995) sebagai berikut:
1. Membaca seluruh deskripsi wawancara yang telah diungkapkan oleh
partisipan. Dalam proses analisis ini, pernyataan partisipan ditranskrip dari
audio rekaman wawancara.
2. Melakukan ekstraksi (pemisahan) terhadap pernyataan signifikan (pernyataan
yang secara langsung berhubungan dengan fenomena yang diteliti). Setiap
pernyataan dalam transkrip partisipan yang berhubungan langsung dengan
fenomena yang diteliti dianggap signifikan. Pernyataan yang signifikan
diekstraksi dari masing-masing transkrip dan diberikan nomor.
3. Menguraikan makna yang terkandung dalam pernyataan signifikan. Tahap
analisis ini peneliti berupaya untuk memformulasikan kembali pernyataan
signifikan umum diekstraksi dari transkrip partisipan.
4. Menggabungkan makna yang dirumuskan ke dalam kelompok tema. Peneliti
menetapkan atau mengatur makna yang telah dirumuskan ke dalam kelompok
sejenis. Dengan kata lain, makna yang dirumuskan dikelompokkan kedalam
kelompok tema. Artinya, beberapa pernyataan mungkin berhubungan.
5. Mengembangkan sebuah deskripsi tema dengan lengkap (yaitu deskripsi yang
komprehensif dari pengalaman yang diungkapkan partisipan). Sebuah deskripsi
yang lengkap dikembangkan melalui sintesis dari semua kelompok tema dan
makna yang dirumuskan dan dijelaskan oleh peneliti.
6. Mengidentifikasi landasan struktur dari fenomena tersebut. Struktur dasar
mengacu kepada esensi dari fenomena pengalaman yang diungkapkan dengan
analisis ketat dari setiap deskripsi lengkap dari fenomena tersebut.
62
7. Kembali ke partisipan untuk melakukan validasi. Pertemuan untuk tindak
lanjut dibuat antara peneliti dengan masing-masing partisipan untuk tujuan
memvalidasi esensi dari fenomena dengan partisipan. Setiap perubahan yang
dibuat disesuaikan dengan umpan balik partisipan untuk memastikan makna
yang dimaksudkan partisipan tersampaikan dalam struktur dasar dari fenomena
tersebut. Integrasi dari informasi tambahan oleh partisipan untuk dimasukkan
ke dalam deskripsi final dari fenomena yang terjadi saat ini.
Analisis data kuantitatif dilakukan pada tahap reconnaissance, observasi, dan refleksi. Data pada tahap reconnaissance dan tahap refleksi dikumpulkan dengan menggunakan lembar kuisioner, sedangkan data pada tahap observasi
didapatkan dengan menggunakan lembar observasi. Analisis data menggunakan
statistik diskriptif kuantitatif untuk melihat rata-rata tingkat pengetahuan perawat
baru dan kepuasan perawat baru sebelum dan sesudah pelaksanaan program
orientasi kerja.
3.8. Keabsahan Data
Keabsahan data bertujuan untuk memperoleh tingkat kepercayaan yang
berkaitan dengan seberapa jauh kebenaran hasil penelitian, mengungkapkan dan
memperjelas data dengan fakta-fakta aktual dilapangan. Lincoln dan Guba (1985,
dalam Polit dan Beck, 2012) menentukan beberapa kriteria dalam keabsahan data
penelitian kualitatif yaitu credibility, transferability, dependability, confirmability,
Credibility dipertahankan melalui teknik prolonged engagement, member check dan triangulation. Prolonged engagement merupakan tehnik untuk membangun kepercayaan antara peneliti dan partisipan. Prolonged engagement dilakukan saat melakukan tahap reconnaissance dan hubungan dengan partisipan sebelumnya telah terjalin dengan baik karena adanya hubungan kerjasama antara
tempat kerja peneliti dan tempat penelitian. Pendekatan-pendekatan yang
dilakukan meliputi pendekatan kepada pihak yayasan dan pimpinan atau direktur
serta kepala-kepala unit yang bertanggungjawab dalam hal membimbing perawat
baru di rumah sakit tersebut. Pendekatan juga dilakukan kepada perawat baru
yang terlibat dalam penelitian. Tujuan dari semua pendekatan yang dilakukan
adalah untuk mengenal dan memahami situasi atau setting penelitian sehingga antara peneliti dan partisipan memiliki hubungan yang dekat sehingga semakin
akrab, semakin terbuka, dan muncul hubungan saling percaya, dengan demikian
partisipasi para partisipan dapat terwujud. Member check dilakukan dengan memberikan dokumen temuan data pada partisipan untuk dibaca pada tahap
validasi data sebagai upaya untuk memperoleh kepastian atau objektifitas data
yang diperoleh. Triangulation dilakukan untuk mengecek kebenaran data dengan membandingkan data yang diperoleh dengan data dari sumber lain. Tehnik
triangulation dilakukan peneliti dengan melakukan metode pengumpulan data yang beragam terdiri dari wawancara, observasi, focus group discussion, dan penyebaran kuisioner.
Transferability memiliki makna bahwa penelitian ini dapat digunakan pada setting yang berbeda. Kriteria penelitian ini terpenuhi dengan menjelaskan secara
64
rinci data yang diperoleh termasuk juga situasi organisasi dan geografis tempat
penelitian serta temuan yang diperoleh. Temuan atau hasil penelitian dianalisa
dengan menggunakan literatur yang sesuai dengan topik penelitian.
Dependability mengacu pada bukti yang konsisten dan stabil. Mengacu pada stabilitas data dari waktu ke waktu dan kondisi. Menurut Shenton, K (2004) dalam
rangka untuk mengatasi masalah dependability lebih langsung, proses dalam penelitian harus dilaporkan secara rinci, sehingga memungkinkan peneliti
selanjutnya untuk mengulanginya, untuk mendapatkan hasil yang sama. Untuk
memenuhi kriteria ini peneliti melaporkan secara detail setiap proses penelitian
kepada pembimbing yaitu Bapak Setiawan, S.Kp., MNS., Ph.D dan Bapak
Achmad Fathi, S.Kep., Ns., MNS untuk menilai apakah proses dan hasil yang
diperoleh sudah sesuai sehingga data yang diperoleh dari hasil penelitian dapat
lebih objektif. Selain itu dilakukan tehnik thic description atau dokumen yang tebal dengan cara mengumpulkan semua dokumen yang terkait penelitian dalam
satu map.
Confirmability mengacu pada objektifitas atau netralitas data, dimana tercapai persetujuan antara dua orang atau lebih tentang relevansi dan arti data.
Confirmability tercapai jika peneliti dapat meyakinkan orang lain bahwa data yang dikumpulkan adalah data yang objektif, seperti apa adanya di lapangan.
Setiawan, S.Kp, MNS, Ph.D expert yang ahli dalam penelitian kualitatif dengan metode action research. Salah satu yang dilakukan dalam check expert adalah untuk validasi hasil dan tema yang ditemukan saat melakukan analisa data.
Authenticity mengacu pada sejauh mana peneliti secara adil dan dengan tepat menunjukkan kenyataan yang terjadi. Keaslian muncul dalam laporan ketika
laporan tersebut dapat menyampaikan perasaan partisipan sebagaimana yang
mereka rasakan. Teks memiliki keaslian jika dapat mengajak pembaca merasa
perwakilan dari pengalaman yang digambarkan dari kehidupan tersebut, dan
memungkinkan pembaca untuk mengembangkan kepekaan terhadap isu-isu yang
digambarkan. Ketika teks mencapai keaslian, pembaca lebih mampu memahami
hal yang digambarkan tersebut. Authenticity dilakukan dengan cara membuat beberapa pernyataan partisipan sebagai data yang mendukung terhadap tema-tema
yang dihasilkan pada temuan saat penelitian. Untuk memudahkan pembaca
memahami teks tersebut maka penelitian ini disusun secara sistematis dan
menggunakan penjabaran kata-kata yang mudah dipahami.
3.9. Pertimbangan Etik
Penelitian ini telah mendapatkan ethical clearance dari Komite Etik Keperawatan di Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara pada tanggal
18 April 2016. Pengumpulan data dilakukan setelah partisipan menyetujui
keikutsertaan dalam penelitian dan menandatangani informed consent yang berisi informasi terkait etik penelitian. Semua partisipan penelitian telah
menandatangani informed consent sebelum dilakukan wawancara.
66
Peneliti menjelaskan kepada partisipan bahwa penelitian ini tidak
memberikan resiko secara fisik dan informasi yang diberikan partisipan tidak
digunakan untuk sesuatu yang merugikan bagi partisipan (beneficience). Kerahasian partisipan dan pemberi informasi dijaga dengan tidak menyebutkan
nama mereka saat wawancara. Peneliti juga mengganti nama partisipan dengan
inisial untuk menjaga kerahasiaan informasi yang diberikan oleh partisipan
(confidentiality). Data disimpan dengan nama kode khusus sehingga tidak ada hubungan antara kode dengan identitas partisipan dan nama partisipan hanya
diketahui oleh peneliti.
Saat partisipan sudah setuju untuk berpartisipasi dalam penelitian ini, semua
partisipan diberi tahu bahwa mereka dapat mengundurkan diri dari penelitian ini
kapanpun mereka kehendaki. Peneliti juga tidak memaksa keikutsertaan partisipan
dan partisipan berhak untuk menarik keikutsertaannya dalam penelitian kapan saja
diinginkanya (otonomi), selain itu Mereka juga diberi tahu bahwa jika isi
wawancara menyebabkan ketidaknyamanan emosional atau stress, mereka dapat
langsung menghentikan wawancara saat itu juga dan bebas menolak untuk
memberikan jawaban pada pertanyaan apapun. Semua partisipan diberi tahu
bahwa kesediaan atau penolakan mereka untuk terlibat dalam penelitian ini tidak
67
67 KEGIATAN PENELITIAN : PENGEMBANGAN PROGRAM ORIENTASI KERJA BERBASIS CARING
DI RUMAH SAKIT UMUM NATAMA KOTA TEBING TINGGI
Out come;
Pengetahuan tim pelaksana tentang program orientasi kerja berbasis caring
Pengetahuan perawat baru tentang program orientasi kerja berbasis caring
Tingkat kepuasan perawat baru mengikuti program orientasi kerja berbasis caring
Reconnaissance
RECONNAISSANCE -Setting tempat penelitian
-Pelaksanaan program orientasi kerja tidak terjadwal, SPO tidak terlaksana, evaluasi program tidak maksimal dan tidak terstruktur.
-Masalah perawat baru: tidak percaya diri, terjadi kesenjangan, tidak peduli, tidak ramah, turnover tinggi, hubungan dengan rekan kerja buruk
-Hambatan: waktu, kesibukan, kurang peduli, pimpinan
PLANNING
-Merencanakan pembentukan tim pelaksana program orientasi kerja
-Merencanakan seminar tentang caring dan program orientasi kerja
-Merencanakan untuk pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) program orientasi kerja berbasis caring
-Merencanakan seminar dan sosialisasi SPO program orientasi kerja berbasis caring
-Merencanakan penerapan SPO program orientasi kerja berbasis caring
- Pembentukan tim pelaksana program orientasi kerja berbasis caring
- Seminar tentang caring dan program orientasi kerja - Pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) program
orientasi kerja berbasis caring
- Seminar dan sosialisasi SPO program orientasi kerja berbasis caring
- Penerapan SPO program orientasi kerja berbasis caring - Merancang format penilaian hasil pelaksanaan program
orientasi kerja berbasis caring
OBSERVATION
- Mengobservasi tim pelaksana program orientasi kerja dalam melaksanakan program orientasi kerja berbasis caring
- Mengobservasi peserta (perawat baru) dalam pelaksanaan program orientasi kerja berbasis caring
- Mengobservasi penggunaan dokumen ; SPO program orientasi kerja bebasis caring
REFLECTION
- Penghambat : waktu, beban kerja besar, fasilitas belummemadai, pemahaman kurang, ketidak pedulian - Pendukung : kerjasama, SPO, pimpinan, waktu, tempat - Tema : pengalaman, manfaat, faktor pendukung, faktor
penghambat, harapan pelaksanaan program orientasi kerja berbasis caring
- Pengetahuan perawat baru meningkat, sebelum penerapan program 57,14% baik, setelah penerapan program 100% baik.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
Pengumpulan data telah dilaksanakan dari bulan Pebruari sampai Juni 2016
di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi. Bab ini menjelaskan tentang
hasil penelitian tentang Pengembangan Program Orientasi Kerja Bebasis Caring Di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi yang dikelompokkan dalam
beberapa pokok bahasan sebagai berikut:
4.1.Deskripsi lokasi penelitian
4.2.Karakteristik demografi partisipan
4.3.Proses pengembangan program orientasi kerja berbasis caring
4.3.1Tahapan reconnaissance meliputi:
1) Konteks studi yang menggambarkan setting tempat penelitian dan partisipan
2) Perspektif tim pelaksana program orientasi kerja tentang pelaksanaan
program orientasi kerja selama di Rumah Sakit Umum Natama Kota
Tebing Tinggi
3) Perspektif perawat baru tentang pelaksanaan program orientasi kerja
selama di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi yang
meliputi pengetahuan dan kepuasan.
4.3.2 Proses action research: planning, action, observation dan reflection
4.1.Deskripsi Lokasi Penelitian
Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi adalah institusi pelayanan
kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan/ perusahaan
yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat. Rumah
sakit ini beralamat di Jalan Kartini No. 30A, Kota Tebing Tinggi, Provinsi
Sumatera Utara. Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi pada awalnya
merupakan sebuah Klinik pada tahun 2003, kemudian pada tahun 2013
berkembang menjadi Rumah Sakit Umum dengan izin operasional
440/292/DKK/Tahun 2015.
Visi Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi yaitu “menjadikan
Rumah Sakit Umum Natama sebagai sarana pelayanan kesehatan yang tepat guna
serta tepat sasaran yang berkualitas dan berintegritas dengan pelayanan prima bagi
masyarakat demi tercapainya cita-cita pembangunan nasional khususnya dalam
bidang kesehatan. Untuk mewujudkan visi tersebut maka Rumah Sakit Umum
Natama memiliki Misi yaitu 1). Keluarga sehat bahagia idaman Natama, 2).
Mewujudkan sarana kesehatan yang mandiri dan berdaya saing yang mempunyai
mutu pelayanan bagi masyarakat dengan memberikan pola pelayanan kesehatan
dengan sistem kecepatan dalam penindakan pasien serta ketepatan penanganan
terhadap pasien, 3). Memberikan pelayanan bagi masyarakat disetiap wilayah baik
ditingkat perkotaan maupun tingkat pedesaan serta bekerjasama dengan
pihak-pihak swasta dan instansi terkait lainnya serta menjalin hubungan dengan rekan
sejawat secara sinergi dan berkesinambungan dalam penanganan layanan
kesehatan dan penyediaan layanan ambulance angkutan pasien, memberikan spa
70
baby, salon bagi pasien yang telah selesai melahirkan agar supaya kondisi kembali fress dan sehat.
Struktur organisasi Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi terdiri
atas : PT. Natama Regar Margana, kemudian Direktur Utama yang dibantu oleh
Bidang Pelayanan Medis dan Bidang Umum. Bidang Pelayanan Medis dibantu
oleh Bagian Keperawatan dan Bagian Penunjang Medis. Bidang Umum dibantu
oleh Bagian Administrasi dan Keuangan, dan Bagian Personalia dan Umum.
Fasilitas ruangan yang tersedia di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing
Tinggi tersebut terdiri dari ruang super VIP ada 2 tempat tidur, ruang VIP ada 5
tempat tidur, ruang kelas I ada 8 tempat tidur, ruang kelas II ada 6 tempat tidur,
ruang kelas III ada 8 tempat tidur, ruang isolasi ada 1 tempat tidur, ruang IGD ada
4 tempat tidur, ruang ICU ada 4 tempat tidur, ruang poli obgyn ada 1 tempat tidur,
ruang poli penyakit dalam ada 1 tempat tidur, ruang poli anak ada 1 tempat tidur,
ruang bayi sehat ada 13 box, ruang poli bedah ada 1 tempat tidur, ruang poli gigi
ada 1 tempat tidur, ruang VK ada 5 tempat tidur, ruang OK ada 2 tempat tidur,
dan ruang NICU ada 2 inkubator.
Susunan kepegawaian Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi
terdiri atas tenaga dokter spesialis, dokter umum, apoteker, keperawatan dan
administrasi dengan jenjang pendidikan SMU, D3, dan S1. Saat ini total jumlah
tenaga keperawatan ada 30 orang. Penerimaan pegawai tidak ditentukan waktu
dan jumlahnya, jadi kapan saja dibutuhkan dan diperlukan dapat dilakukan
penerimaan pegawai. Rata-rata tenaga keperawatan di rumah sakit tersebut masih
4.2.Karakteristik Demografi Partisipan
Partisipan dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok partisipan yaitu
kelompok tim pelaksana program dan kelompok partisipan perawat baru. Jumlah
partisipan tim pelaksana program sebanyak 6 orang dan partisipan perawat baru
sebanyak 7 orang. Berdasarkan karakteristik demografi partisipan tim pelaksana
program diketahui bahwa mayoritas partisipan atau sebanyak 66,67% berjenis
kelamin perempuan, umur partisipan rata-rata dengan rentang 25-30 tahun
(dewasa awal) sebesar 100%. Jenjang pendidikan partisipan seluruhnya adalah
jenjang pendidikan diploma III. Berdasarkan status perkawinan didapatkan bahwa
mayoritas partisipan belum kawin sebanyak 50% dan berdasarkan masa kerja
partisipan terbanyak adalah < 5 tahun. Rincian karakteristik demografi partisipan
tim pelaksana program orientasi kerja dapat dilihat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1. Karakteristik Demografi Partisipan Tim Pelaksana Program Orientasi Kerja (n = 6)
No Karakteristik Frekuensi Presentasi (%)
1 Jenis kelamin:
Laki-laki 2 33.33
Perempuan 4 66.67
2 Umur:
25- 30 tahun 6 100.00
3 Jenjang Pendidikan:
Diploma III 6 100.00
4 Status Perkawinan:
Kawin 3 50.00
Belum kawin 3 50.00
5 Lama Kerja
< 5 tahun 6 100.00
Partisipan perawat baru yang terlibat dalam program orientasi kerja ini
sebanyak 7 orang dimana berdasarkan data karakteristik demografi diperoleh
72
partisipan berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 4 orang (57,14%) dan
laki-laki sebanyak 3 orang (42,86%). Seluruh partisipan berumur 22 – 25 tahun
dimana masuk dalam kelompok umur masa remaja akhir. Rincian karakteristik
partisipan perawat baru dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2. Karakteristik Demografi Partisipan Perawat Baru (n = 7)
No Karakteristik Frekuensi Presentasi (%)
1 Jenis kelamin:
Laki-laki 3 42.86
Perempuan 4 57.14
2 Umur:
22- 25 tahun 7 100.00
4.3.Proses Pengembangan Program Orientasi Kerja Berbasis Caring
Proses pengembangan program orientasi kerja berbasis caring dijelaskan menjadi 2 tahap. Tahap pertama adalah reconnaissance, tahap ini menjelaskan mulai dari pendekatan kepada pihak-pihak yang berkepentingan di tempat
penelitian sampai dengan mendapatkan masalah untuk diteliti. Tahap kedua
menjelaskan tentang tahap siklus action research mulai dari tahap planning, action, dan observation serta reflection.
4.3.1Tahapan Reconnaissance
Tahap reconnaissance dilaksanakan peneliti sejak bulan Pebruari sampai Mei 2016. Peneliti melakukan pendekatan kepada pemilik Rumah Sakit tersebut
dan pejabat struktural untuk mendapatkan izin dan mendukung dilakukannya
dengan melakukan wawancara kepada partisipan tim perumus atau pelaksana pada
tahap reconnaissance dan self report oleh partisipan perawat baru.
Hasil pengumpulan data pada tahap reconnaissance dikelompokan ke dalam
tiga bagian yaitu (1) Konteks studi yang menggambarkan setting tempat penelitian
dan partisipan, (2) Perspektif tim pelaksana tentang program orientasi kerja
selama ini di rumah sakit tersebut, dan (3) Perspektif perawat baru tentang
pelaksanaan program orientasi kerja selama di Rumah Sakit Umum Natama Kota
Tebing Tinggi yang meliputi pengetahuan dan kepuasan. Berikut penjelasan dari
hasil reconnaissance, yaitu:
1) Setting tempat penelitian dan partisipan
Penelitian dilakukan di unit rawatan (unit rawat inap) yang terletak dilantai
2 yang terdiri dari 33 tempat tidur, 14 ruangan, 1 ruangan isolasi, 1 nurse station, ruang khusus kepala ruangan, dan ruangan tempat penyimpanan peralatan dan
perlengkapan. Rata-rata jumlah pasien perbulannya sebanyak 150 pasien. Rumah
Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi memberikan pelayanan kepada pasien
umum, tidak ada pelayanan untuk pasien yang menggunakan Badan
Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS) di rumah sakit tersebut.
Perawat di unit rawat inap terdiri dari 9 perawat pelaksana dan 1 orang
kepala ruangan. Pendidikan perawat di unit tersebut seluruhnya lulusan Diploma
III keperawatan. Di unit tersebut juga terdapat 2 orang bidan lulusan Diploma III
kebidanan. Dalam memberikan pelayanan kepada pasien, pimpinan dan yayasan
selalu menekankan agar mengutamakan pelayanan yang ramah dan teraupetik
kepada setiap pasien dan keluarganya, karena menurut pimpinan hal tersebutlah
74
yang harus diutamakan di rumah sakit tersebut untuk menarik perhatian
masyarakat.
Metode pelayanan keperawatan yang digunakan adalah metode fungsional,
mengingat perawat di unit tersebut jumlahnya sedikit. Pembagian kerja dibagi atas
3 shift yaitu pagi, sore dan malam. Pelaksanaan program orientasi kerja di unit
tersebut belum dilaksanakan dengan baik selama ini, mengingat kepala ruangan
sibuk dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya lebih ke pelayanan
terhadap pasien.
2) Perspektif tim pelaksana program orientasi kerja tentang pelaksanaan program orientasi kerja selama di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi.
Wawancara dengan teknik indept interview terhadap partisipan tersebut berdasarkan pada beberapa pokok bahasan yaitu 1) Pengertian orientasi kerja, 2)
Tujuan dari pelaksanaan program orientasi kerja, 3) Manfaat dari pelaksanaan
program orientasi kerja, 4) Pelaksanaan program orientasi kerja, 5) Yang
bertanggungjawab dalam pelaksanaan program orientasi kerja, 6) Materi yang
perlu dilaksanakan dalam program orientasi kerja bagi perawat, 7) Hambatan
dalam pelaksanaan program orientasi kerja, 8) Harapan atas pelaksanaan program
orientasi kerja. Berikut diuraikan setiap pokok bahasan tersebut, yaitu:
1. Pengertian orientasi kerja
Partisipan mengungkapkan bahwa program orientasi kerja merupakan
hal-hal yang belum diketahui ditempat kerja tersebut serta dibuat suatu penilaiannya.
Pengertian ini sesuai dengan pernyataan partisipan seperti pada kutipan berikut :
“memberikan informasi kepada karyawan-karyawan lainnya tentang tehnik atau standar kerja yang ada di rumah sakit ini” (Partisipan 1)
“orientasi kerja itu adalah... awal dari permulaan bekerja... untuk mengenal hal-hal yang belum diketahui di tempat tersebut” (Partisipan 2) “orientasi kerja itu... simpelnya... penempatan posisi seseorang yang baru bekerja dan disitu nanti dibuat penilaian dimana kelebihan atau kekurangannya disaat melakukan orientasi itu” (Partisipan 3).
“orientasi kerja itu pengenalan diri tentang masalah lingkungan kerja...” (Partisipan 4).
2. Tujuan dari pelaksanaan program orientasi kerja
Menurut partisipan, tujuan program orientasi kerja adalah untuk
meningkatkan kerjasama antar karyawan, agar tidak ada kesenjangan satu sama
lain, supaya dapat memahami situasi tempat kerja dan program orientasi kerja
juga bertujuan untuk melihat dan menilai pegawai baru tentang kompetensinya
dalam bekerja. Tujuan ini sesuai dengan pernyataan partisipan seperti kutipan
berikut:
“tujuannya itu bisa saling kerjasama kalau yang... seandainya... disatu sisi... apa ya... anggota itu ada masalah diruangan dengan yang lainnya. Intinya untuk meningkatkan kerjasamalah antar karyawan” (Partisipan 1) “untuk melihat dan menilai yang baru bergabung di rumah sakit kita, jadi kita tahu dimana kompetensi ataupun... sampai dimana dia bisa melakukan pekerjaan di rumah sakit” (Partisipan 3)
76
“untuk bisa bersosialisasi dengan kita, bisa bergabunglah intinya dengan kita disini” (Partisipan 3)
“ha... itu... biar gak ada kesenjanganlah. Tujuannya supaya dapat memahamilah situasi dimana kita kerja...”. (Partisipan 4)
3. Manfaat dari pelaksanaan orientasi kerja
Partisipan mengungkapkan bahwa manfaat dari program orientasi kerja
adalah agar karyawan mengerti tentang keadaan, sistem kerja, jam kerja,
mengenali lingkungan barunya, mengetahui mana yang boleh dan mana yang
tidak boleh dilakukan oleh perawat, menambah ilmu pengetahuan dan tidak terjadi
kecemburuan sosial antar pegawai. Manfaat ini sesuai dengan pernyataan
partisipan seperti pada kutipan berikut :
“karyawan-karyawan rumah sakit mengerti tentang keadaan dan bentuk rumah sakit, uda gitu sistem kerja di rumah sakit, dan agar tidak terjadi kecemburuan sosial,....”. (Partisipan 2)
“ya otomatis dia bisa mengenali lingkungannya, dia bisa melakukan dan mana yang tidak bisa dilakukan, dia bisa bertambah ilmunya dari dia tidak tahu menjadi tahu, jadi intinya seperti itulah pak”. (Partisipan 3)
4. Pelaksanaan program orientasi kerja
Menurut partisipan, pelaksanaan program orientasi kerja sudah dilaksanakan
selama ini setiap ada pegawai baru. Pelaksanaanya tidak mengikuti standar yang
ada, hanya memperkenalkan pegawai terhadap hal-hal yang umum saja dan tidak
ada waktu yang dijadwalkan untuk pelaksanaan program orientasi kerja.
Pemberian materi tidak dilaksanakan dengan baik, hanya secara lisan saja tanpa
program orientasi kerja secara umum dilaksanakan 1 hari dan secara khusus
dilaksanakan selama 1 minggu di setiap ruangan. Proses penilaiannya dilakukan
oleh setiap kepala ruangan berdiskusi dengan kepala perawatan dan direktur
dengan cara mendengarkan pendapat dan berdiskusi dari setiap orang dalam tim
tersebut. Proses pelaksanaan program orientasi kerja ini sesuai dengan pernyataan
partisipan seperti kutipan berikut :
“orientasi itu biasanya disaat dia langsung masuk itukan dikasih tahu kalau kepala ruangannya ini orangnya, terus direktur dan pemilik perusahaan,... jadwal khususnya gak ada, berjalan sesuai dengan shifnya aja... (Partisipan 1)
“evaluasinya setelah tanggal terakhir orientasi. Di evaluasi... nanti kita kumpul lagi sama kanit-kanit masing-masing. Gimana perkembangan dia kita kumpul jadi satu lagi, kita omongin lagi” (Partisipan 1)
“kalau selama saya bekerja di Natama bentuk orientasi di rumah sakit itu ada. Seandainya ada pegawai baru yang baru masuk bekerja... pegawai yang baru masuk itu dibimbing dijelaskan kepada direktur dan yayasan Natama, setelah paham dan mengerti besoknya mereka uda bekerja....” (Partisipan 2)
Masalah yang berkaitan dengan program orientasi kerja:
Partisipan mengungkapkan bahwa beberapa masalah masih terus terjadi
walaupun pelaksanaan program orientasi kerja telah dilaksanakan. Beberapa
masalah tersebut diantaranya adalah masih ada kesenjangan, masih ada batasan,
masih ada yang tidak perduli, perawatnya kurang ramah kepada pasien, kurang
percaya diri dalam bekerja dan pelaksanaan program orientasi kerja tidak
berdasarkan standar yang ada. Berikut kutipan wawancara terhadap partisipan :
78
“...karena tidak adanya orientasi yang benar, jadi kecemburuan sosial, tidak enak hati, bulan depan dia ngajukan surat berhenti dengan alasan mencari kerja ditempat lain. Padahal dia uda gak senang terhadap sesama kawan kerjanya”. (Partisipan 2)
“ketika pasien memanggil lama datangnya. Itu tadi mungkin pak udur-uduran, uda gitu pasien mau minta tolong mukanya cemberut, uda gitu gak ada senyumnya itu sering terjadi”. (Partisipan 2)
5. Yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program orientasi kerja
Partisipan mengatakan bahwa pelaksanaan program orientasi kerja di
Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi khususnya program orientasi
kerja untuk staf keperawatan adalah kepala keperawatan dan kepala unit
masing-masing unit kerja. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan seperti pada
kutipan berikut :
“yang bertanggungjawab kepala keperawatan. Dia yang mengorientasikan ke ruangan-ruangan, dia yang mengenalkan ke kepala ruangan... kalau kepala ruangan ya sebatas membimbing di ruangannya”. (Partisipan 3)
“kepala keperawatan yang bertanggungjawab seluruhnya... untuk kepala ruangan yang bertanggungjawab diruangan kami masing-masing”. (Partisipan 4)
6. Materi yang perlu dilaksanakan dalam program orientasi kerja bagi perawat
Partisipan mengungkapkan bahwa materi yang perlu diberikan dalam
pelaksanaan program orientasi kerja bagi perawat salah satunya adalah materi
tentang cara berkomunikasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan seperti
“perlu, kalau materi ya harus ada. materi komunikasi juga utamanya pak. Selama ini uda sih uda bagus, Cuma perlu ditingkatkan lagi gito lo pak... kadang-kadang masih ini sih masih masih seperti ada pelayanan yang menyatakan perawatnya masih kurang ramah atau apa gitu”. (Partisipan 1)
“kalau materi yang diberikan... sebenarnya kalau masalah itu dari mulai dia diterima kepala keperawatan, kepala keperawatan uda bilang ke dia kalau disini yang kita utamakan ya cuma pelayanan, kalau masalah tindakan dan fasilitas rumah sakit itu ya sama semua rumah sakit disini itu... jadikan kalau setiap tindakan itu yang paling penting harus sapa dan senyum itu yang terpenting ditekankan kepada pegawai baru”.(Partisipan 3)
7. Hambatan dalam pelaksanaan program orientasi kerja
Beberapa hambatan dalam pelaksanaan program orientasi kerja yang
diungkapkan oleh partisipan adalah waktu yang tidak dimiliki oleh kepala unit
untuk lebih fokus dalam memberikan bimbingan dalam program orientasi kerja,
kurang peduli, dan atasan. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan seperti
pada kutipan berikut :
“kadang,,ini waktu, hambatanya waktu pak. ...kadang uda kita tentuin jadwalnya hari ini misalnya, kadang kita kumpul gitukan kadang gak jadi. Jadi tetap aja waktu yang menjadi hambatan. ...kurang peduli dengan materi, dengan sekitar kadang juga seperti itu”. (Partisipan 1)
“kalau kami ini kan pelaksana pak, jadi kalaupun uda dilaksanakan nanti atasannya gak ini ya cemana”. (Partisipan 4)
8. Harapan atas pelaksanaan program orientasi kerja
Partisipan mengatakan harapannya untuk program orientasi kerja di Rumah
Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi yaitu pelaksanaannya sebaiknya
dilaksanakan dengan sebenar-benarnya, sebaiknya ada SOP yang dijalankan
80
dengan baik, dan ada waktu yang terjadwalkan untuk program orientasi kerja. Hal
ini sesuai dengan pernyataan partisipan seperti pada kutipan berikut :
“jadi harapanya ada suatu standar khusus pak secara tertulis bagaimana cara orientasi di rumah sakit kami ini...”. (Partisipan 3)
“...waktu orientasi itu harus ada juga lah seperti.... apa namanya... pemberian materi saat mereka diorientasi,....”. (Partisipan 4)
Tabel 4.3. Matriks Tema Wawancara Tahap Reconnaissance
No Tema Kategori
1 Pelaksanaan program orientasi kerja
1. Tidak terjadwal dengan baik
2. Ada SPO tapi tidak terlaksana dengan baik 3. Tidak ada materi yang diberikan
4. Evaluasi program berdasarkan hasil diskusi tim
2 Masalah terkait program
orientasi kerja
1. Tidak percaya diri dalam bekerja 2. Terjadi kesenjangan
3. Tidak peduli
4. Pelayanan tidak ramah ke pasien 5. Turnover sering terjadi
6. Hubungan dengan rekan kerja buruk
3) Perspektif perawat baru tentang pelaksanaan program orientasi kerja selama di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi yang meliputi pengetahuan dan kepuasan.
Berdasarkan hasil kuisioner pengetahuan perawat baru tentang program
orientasi kerja di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi yang
dibagikan kepada 7 orang perawat baru didapat hasil yaitu 4 perawat (57,14%)
berpengetahuan baik dan 3 perawat (42,86%) berpengetahuan cukup.
Tabel 4.4. Pengetahuan Perawat Baru Tentang Program Orientasi Kerja Di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi (n : 7)
No Pengetahuan Frekuensi Presentasi (%)
1 Baik 4 57,14
2 Cukup 3 42,86
3 Kurang - -
Jumlah 7 100
Berdasarkan hasil kuisioner kepuasan perawat baru tentang program
orientasi kerja di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi yang
dibagikan kepada 7 orang perawat baru didapat hasil yaitu 3 perawat (42,86%)
merasa sangat puas dan 4 perawat (57,14%) merasa puas.
Tabel 4.5. Kepuasan Perawat Baru Tentang Program Orientasi Kerja Di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi (n : 7)
No Kepuasan Frekuensi Presentasi (%)
1 Sangat puas 3 42,86
2 Puas 4 57.14
3 Tidak puas - -
4 Sangat tidak puas - -
Jumlah 7 100.00
82
4.3.2 Proses Action Research: Planning, Action, Observation dan Reflection Pelaksanaan action research pada penelitian ini adalah satu siklus action research tentang pengembangan program orientasi kerja berbasis caring di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi melalui tahapan planning, action dan observation serta reflection. Setiap tahapan action research mencakup kegiatan yang dilakukan oleh peneliti. Kegiatan action research dilaksanakan selama 11 minggu di mulai dari tanggal 4 Juni sampai dengan 20 Agustus 2016.
Berikut ini akan dijelaskan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan pada
masing-masing tahap.
4.3.2.1. Tahap Planning
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah menyusun rencana aksi atau
rencana kegiatan yang kemudian dilaksanakan pada tahap penelitian berikutnya.
Tahap planning telah dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2016 yang bertujuan untuk
mengembangkan program orientasi kerja berbasis caring di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi. Berdasarkan permasalahan yang telah ditemukan
pada tahap reconnaissance maka pada tahap ini direncanakan beberapa kegiatan untuk mendukung tercapainya tujuan yang telah dirumuskan. Rencana-rencana
yang telah disusun kemudian dijadikan panduan untuk membuat pengembangan
program orientasi kerja berbasis caring di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi.
Rencana yang telah disusun pada tahap planning yaitu merencanakan pembentukan tim pelaksana program orientasi kerja yaitu tanggal 4 Juni 2016,
orientasi kerja serta pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) program
orientasi kerja berbasis caring yaitu tanggal 6 Juni sampai dengan 23 Juli 2016, merencanakan seminar dan sosialisasi SPO program orientasi kerja berbasis
caring yaitu 25 sampai dengan 30 Juli 2016, merencanakan penerapan SPO dan observasi terhadap pelaksanaan program orientasi kerja berbasis caring yaitu tanggal 26 Juli sampai dengan 13 Agustus 2016. Untuk tahap reflection direncanakan tanggal 15 sampai dengan 20 Agustus 2016.
4.3.2.2. Tahap Action
Tahap action dilaksanakan mulai tanggal 4 Juni sampai dengan 6 Agustus 2016. Terdapat lima kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu pembentukan
tim pelaksana program orientasi kerja, pemberian seminar tentang caring dan program orientasi kerja, pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) program
orientasi kerja berbasis caring, seminar dan sosialisasi SPO program orientasi kerja berbasis caring, dan penerapan SPO program orientasi kerja berbasis caring.
Kegiatan pada tahap action, yaitu:
1. Pembentukan tim pelaksana program orientasi kerja
Sebelum dilakukan pembentukan tim pelaksana program orientasi kerja
berbasis caring, peneliti bertemu dengan direktur utama dan kepala keperawatan
Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi pada tanggal 2 Juni 2016. Pada
pertemuan ini peneliti menjelaskan tentang penelitian yang akan dijalankan di
Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi. Pada pertemuan tersebut
direktur dan kepala keperawatan sangat mendukung rencana penelitian tersebut.
Direktur mengungkapkan bahwa pelaksanaan program orientasi kerja di Rumah
84
Sakit tersebut belum sesuai dengan standar dan masih belum efektif dikarenakan
berbagai faktor misalnya sumber daya manusia yang tidak memadai baik jumlah
maupun kompetensinya. Untuk itulah direktur tersebut berharap program yang
akan dijalankan oleh peneliti dapat memberikan perubahan yang baik untuk
pengetahuan sumber daya manusia perawat khususnya mengenai standar prosedur
operasional program orientasi kerja.
Pembentukan tim pelaksana program orientasi kerja dilakukan pada tanggal
4 Juni 2016 yang terdiri dari 7 orang yaitu kepala keperawatan, kepala unit rawat
inap, kepala unit OK, kepala unit IGD, kepala unit VK, kepala unit ruang bayi,
kepala unit ICU. Setelah tim terpilih, maka direktur menetapkan tim yang tersebut
diatas dengan mengeluarkan surat keputusan tim pelaksana program orientasi
kerja Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi. Selanjutnya tim tersebut
dan peneliti bersama-sama membuat kesepakatan untuk melaksanakan
kegiatan-kegiatan dalam mengembangkan program orientasi kerja berbasis caring di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi.
2. Pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) program orientasi kerja
Pembuatan SPO ini dilaksanakan tanggal 6 Juni sampai dengan 22 Juli
2016, dimana kegiatan yang pertama kali dilakukan pada tahap pembuatan SPO
adalah membuat seminar tentang caring dan program orientasi kerja yang dibawakan sendiri oleh peneliti, dimana tujuannya adalah untuk memberikan
pengetahuan dan pemahaman kepada tim pelaksana program orientasi kerja
sebelum diadakan diskusi untuk membuat SPO tersebut. Sebelum seminar
pelaksana membuat persiapan waktu, tempat dan perlengkapan lainnya dan
selanjutnya peneliti mengundang yayasan, direktur dan tenaga keperawatan serta
pegawai non kesehatan untuk menghadiri acara tersebut. Seminar tentang caring dan program orientasi kerja tersebut dilaksanakan tanggal 11 Juni 2016, yang
dihadiri oleh direktur, tim pelaksana program orientasi kerja dan tenaga
keperawatan. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, peserta seminar tersebut
lebih kurang 80 persen telah memahami tentang program orientasi kerja dan
caring. Langkah kedua yang dilakukan oleh peneliti dan tim pelaksana yaitu melihat dan memahami kembali SPO yang ada di Rumah Sakit tersebut serta
berdiskusi tentang mengelaborasikan konsep caring kedalam SPO program orientasi kerja untuk pembuatan SPO pengembangan program orientasi kerja
berbasis caring. Kegiatan ini dilaksanakan tanggal 18 Juni 2016, jam 10.00 sampai dengan 12.30 wib di ruang pertemuan Rumah Sakit Umum Natama Kota
Tebing Tinggi. Pertemuan ini menghasilkan beberapa prinsip dari caring yang dimasukkan kedalam SPO program orientasi kerja berbasis caring, antara lain: person to person ecounters, comforting, touch, listening dan tindak lanjut, terbuka dan jujur, empati dan memberikan harpan, ramah tamah dan saling menghormati,
kesabaran, keberanian dan ketegasan, memberikan apresiasi, komunikasi efektif,
caring dalam spiritual. Selain hal tersebut, tim pelaksana dan peneliti juga menetapkan prosedur dalam pelaksanaan program orientasi kerja berbasis caring dengan berdasarkan beberapa prinsip coaching atau pembinaan menurut Jean Watson (2008) pada faktor carative yang ke 7 yaitu ͞interpersonal teaching learning͟.
86
Dalam pembuatan SPO baru tersebut partisipan cukup kesulitan untuk
memasukan konsep caring di SPO program orientasi kerja yang lama, untuk itulah peneliti selalu mengarahkan dan lebih banyak memberikan masukan dalam
pembuatan SPO yang baru tersebut. Beberapa kesulitan yang dihadapi dalam
pembuatan SPO ini yaitu partisipan kurang memahami konsep caring, partisipan menghadapi konflik internal di Rumah Sakit sehingga diskusi tidak berjalan
dengan optimal. Setelah masukan diterima dari seluruh peserta diskusi maka
selanjutnya peneliti menyusun draf SPO tersebut.
Pertemuan berikutnya dilaksanakan tanggal 16 Juli 2016 jam 11.00 wib di
ruang pertemuan Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi. Pada
pertemuan ini tim pelaksana dan peneliti membahas tentang draf SPO yang telah
dibuat dari hasil pertemuan sebelumnya. Pada pertemuan ini draf SPO tersebut
tidak banyak perubahan dan disetujui untuk diusulkan kepada direktur utama agar
dapat disyahkan. Kemudia simulasi pelaksanaan program orientasi kerja berbasis
caring dilaksanakan pada pertemuan ini dengan beberapa orang saja.
Pada tanggal 22 Juli 2016, draf SPO program orientasi kerja berbasis caring
tersebut diajukan ke direktur utama Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing
Tinggi. Pada tahap ini peneliti dan beberapa orang tim pelaksana berdiskusi
dengan direktur utama tentang program orientasi kerja dan draf SPO tersebut.
Dari hasil pertemuan itu, direktur langsung merespon dengan menyetujui SPO
tersebut dan segara diterapkan. Maka pada tanggal 23 Juli 2016 SPO tersebut
Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi jika penerapannya
menghasilkan hal-hal yang lebih baik dari sebelumnya.
3. Seminar dan sosialisasi SPO program orientasi kerja
Setelah disetujui direktur untuk dilaksanakan, selanjutnya SPO tersebut di
sosialisasikan pada hari Sabtu, 23 Juli 2016. Acara tersebut dihadiri tim pelaksana
program dan perawat baru yang akan mengikuti program tersebut. Pada tahap ini
peneliti memberikan pemahaman konsep caring kembali ke seluruh perawat yang
ada diruangan tersebut secara umum, kemudian selanjutnya menjelaskan isi SPO
yang akan dijalankan, diskusi, dan terakhir membuat rencana penerapan SPO
tersebut. Untuk lebih memberikan pemahaman kepada tim pelaksana, peneliti
menjelaskan kembali tahapan-tahapan dan perilaku yang akan diterapkan sesuai
standar yang telah dibuat tersebut ke setiap partisipan yang ada dalam tim
tersebut. Seminar dan sosialisasi ini bertujuan untuk menyamakan persepsi dan
komitmen dalam menerapkan SPO yang berbasis caring pada program orientasi kerja di Rumah Sakit Umum Natama Kota Tebing Tinggi.
Hasil diskusi menunjukkan bahwa tim pelaksana sangat tertarik untuk
menerapkan SPO tersebut dan mencoba untuk berperilaku sesuai tuntutan standar
yang telah dibuat dalam pelaksanaan program orientasi kerja. Beberapa partisipan
mengatakan bahwa dalam kondisi saat ini program ini mungkin sulit untuk
dilaksanakan sesuai harapan, tetapi partisipan dan peneliti tetap berusaha untuk
menerapkan dengan sebaik-baiknya. Untuk selanjutnya setelah sosialisasi selesai
maka peneliti bersama tim pelaksana membuat jadwal pelaksanaan program
orientasi kerja selama 2 minggu untuk unit rawat inap, yang terdiri dari
88
penyampaian materi (teori) selama 1 minggu dan dinas/ praktek di unit rawat inap
selama 1 minggu. Dimana dalam hal ini yang dijadikan sebagai narasumber dalam
penyampaian materi adalah peneliti dan seluruh partisipan yang ada di tim
pelaksana. Setiap orang akan melakukannya dan membawakan materi yang telah
disepakati bersama, sementara itu untuk praktek dilakukan hanya di satu unit saja
yaitu unit rawat inap. Dimana unit rawat inap merupakan unit pelayanan yang
utama dan komprehensif dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien dan
keluarganya. Sehingga dapat menerapkan atau mencontohkan perilaku caring dalam memberikan pelayanan keperawatan kepada pasien dan keluarganya oleh
perawat baru secara langsung.
4. Penerapan Standar Prosedur Operasional (SPO) program orientasi kerja
berbasis caring
Penerapan SPO baru tersebut dilaksanakan di ruang pertemuan Rumah Sakit
Umum Natama Kota Tebing Tinggi dalam hal penyampaian materi dan dinas/
praktek di unit rawat inap. Aplikasi SPO tersebut dilaksanakan dari mulai 25 Juli
sampai dengan 6 Agustus 2016, dimana penyampaian teori dari tanggal 25 sampai
dengan 30 Juli 2016 dan kegiatan dinas/ praktek diruangan dilaksanakan mulai
tanggal 1 sampai dengan 6 Agustus 2016. Sesuai ketentuan yang telah dibuat dan
disepakati oleh direktur utama, tim pelaksana dan peneliti bahwa program
orientasi kerja dilaksanakan selama 2 minggu untuk di unit rawat inap. Dalam hal
penyampaian materi dan dinas/ praktek, prinsip-prinsip caring yang telah di masukkan kedalam SPO program orientasi kerja tersebut wajib diterapkan oleh