8
Universitas Kristen Petra
2. LANDASAN TEORI
2.1 Agency Theory
Agency theory menurut Alalade et al. (2014) merupakan hubungan antara pemilik seperti pemegang saham dan agen seperti eksekutif dan manajer perusahaan. Dalam teori terselbut, pemegang saham diartikan sebagai pemilik atau pelaku dari perusahaan yang menyewa agen untuk melakukan pekerjaan.
Agency Theory dapat digunakan untuk mengeksplorasi hubungan antara pemilik dengan struktur manajemen (Alalade, Onadeko, & Okezie, 2014). Agency Theory sebenarnya menjelaskan mengenai agency problem yang timbul dari pemisahan kepemilikan dan kontrol (Paul, Ebelechukwu, & Yakubu, 2015). Agency problem merupakan dampak dari adanya perbedaan informasi antara pemegang saham dan pihak manajemen merupakan kenyataan empiris yang tidak dapat dihindari dari sebuah hubungan keagenan (Khafid, 2012).
Ikhsan (2012) menjelaskan bahwa agency problem dapat terjadi karena adanya kesenjangan informasi antara agen sebagai pihak internal perusahaan yag lebih banyak memiliki informasi mengenai keadaan perusahaan yang sesungguhnya dengan principal. Sedangkan untuk mengurangi agency problem tersebut, perusahaan membutuhkan agency cost (Ikhsan, 2012). Agency cost menurut Nuswandari (2009) adalah biaya yang timbul agar manajer bertindak selaras dengan tujuan pemilik. Namun, Hassan dan Ahmed (2012) menyebutkan bahwa corporate governance merupakan mekanisme yang dapat digunakan untuk mengurangi agency cost yang timbul sebagai akibat dari konflik kepentingan antara manajer dengan pemegang saham. Shiri et al (2012) kemudian menyatakan hal serupa bahwa coporate governance dapat mengurangi agency cost dengan membatasi perilaku opurtunistik manajemen yang akan berdampak pada peningkatan kualitas dan keandalan pelaporan dan meningkatkan nilai perusahaan.
Untuk mengurangi agency conflicts, corporate governance muncul sebagai
sistem yang menyediakan pedoman dan prinsip yang dapat menyelaraskan
kepentingan yang berbeda, terutama kepentingan manajer dengan kepentingan
pemegang saham (El-Chaarani, 2014). Selain itu, corporate governance juga
9
Universitas Kristen Petra
menjadi upaya untuk mengendalkan atau mengatasi perilaku manajemen yang mengutamakan kepentingan pribadi (Nuswandari, 2009). Investor sebagai pemilik juga lebih cenderung berinvestasi pada perusahaan yang mengimplementasikan good corporate governance, karena mereka percaya bahwa kepentingan mereka akan dilindungi secara efektif pada perusahaan tersebut (Chalevas & Tzovas, 2010). Selain itu, pemilik dapat mengamati perilaku agen dengan mengadopsi corporate governance mechanism (M. K. Hassan & Halbouni, 2013). Dalam agency theory terdapat pandangan kontraktual antara manajer dengan pemegang saham, dimana manajer hanya bertujuan untuk memaksimalkan kekayaan para pemegang saham (Tornyeva & Wereko, 2012).
2.2 Good Corporate Governance (GCG)
Corporate governance merupakan seperangkat hubungan antara manajemen perusahaan, dewan, pemegang saham, dan pemangku kepentingan lainnya (Haddad et al., 2011). GCG menjadi suatu alat kendali bagi pengelolaan perusahaan untuk menghindari hal-hal yang dapat mengganggu kesinambungan perusahaan (Suprayitno et al., 2011) . Corporate governance menjamin investor mendapatkan laba atas investasi mereka dan mempromosikan keadilan perusahaan, transparansi, dan akuntabilitas, serta menetapkan bagaimana pemegang saham dan stakeholder, manajemen, serta dewan direksi untuk berpartisipasi dalam menentukan arah dan kinerja perusahaan (Haddad et al., 2011). Selain itu, corporate governance menjadi alat kontrol yang memungkinkan terjadinya sistem pembagian keuntungan yang seimbang antara stakeholder dan perusahaaan (Nuswandari, 2009). Secara sederhana corporate governance berarti sejauh mana perusahaan dijalankan secara terbuka dan jujur (Aggarwal, 2013;
Haddad et al., 2011).
Corporate governance juga menjadi alat untuk mencapai tujuan dalam
mempromosikan transparansi dan akuntabilitas, serta memenuhi harapan wajar
dan melindungi kepentingan berbagai kelompok pemangku kepentingan
(Aggarwal, 2013). Sejalan dengan stakeholder theory, menurut Nuswadari (2009)
GCG merupakan seperangkat sistem yang mengatur dan mengendalikan
perusahaan untuk menciptakan nilai tambah bagi stakeholder. Haddad et al.
10
Universitas Kristen Petra
(2011) berpendapat bahwa pada dasarnya corporate governance berkaitan dengan bagaimana cara agar semua pihak yang berkepentingan dalam kesejahteraan perusahaan (stakeholder) berusaha untuk memastikan bahwa manajer dan insiders lainnya selalu mengambil langkah atau mengadopsi mekanisme yang tepat untuk melindungi kepentingan stakeholder (Alalade et al., 2014). Menurut Dallas (2004) dalam Ikhsan (2012) menyatakan bahwa corporate governance merupakan mekanisme yang digunakan oleh pemegang saham dan kreditor perusahaan sebagai para pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mengendalikan tindakan manajemen dalam memaksimalkan kinerja keuangan perusahaan. Menurut Nuswandari (2009) corporate governance merupakan pedoman bagi manajer untuk bekerja secara efektif dan efisien yang dapat menurunkan biaya modal dan menurunkan resiko sehingga dapat menghasilkan profitabilitas yang tinggi.
Dengan dilaksanakannya mekanisme corporate governance dengan baik diharapkan mampu menghasilkan laba yang berkualitas (Khafid, 2012).
Corporate governance yang sehat akan menghasilkan reputasi yang baik (Nasieku et al., 2014). Perusahaan dengan reputasi yang baik akan lebih memiliki cost advantage karena kebanyakan orang lebih memilih untuk bekerja dengan perusahaan yang memiliki reputasi yang baik sehingga mereka akan bekerja lebih keras (Nasieku et al., 2014). Mekanisme GCG yang baik dapat membatasi kepemilikan saham manajerial dan membantu mengurangi discretionary accrual, sehingga dapat mengurangi tingkat kesalahan accrual dan meningkatkan persistensi laba (Gulzar, 2011).
IICG mendefinisikan corporate governance sebagai serangkaian mekanisme yang digunakan untuk dapat mengarahkan dan mengendalikan perusahaan agar kegiatan operasional perusahaan dapat berjalan sesuai dengan harapan para pemangku kepentingan. GCG digunakan oleh organ-organ perusahaan sebagai upaya dalam memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
Menurut Bapepam LK, organ perusahaan yang dimaksud adalah:
1. Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Seluruh pemegang saham biasa memiliki hak untuk mengikuti RUPS dan
memiliki jumlah suara yang sama sesuai saham yang dimiliki. Menurut
KNKG (2006) RUPS merupakan organ perusahaan yang menjadi wadah bagi
11
Universitas Kristen Petra
para pemegang saham untuk pengambilan keputusan yang penting yang berkaitan dengan modal yang ditanam di perusahaan. Tugas dari RUPS menurut Bapepam LK adalah menyetujui laporan tahunan dan laporan keuangan, pembagian keuntungan dan kerugian termasuk pembayaran dividen, perubahan modal dasar, perubahan dan pembubaran organisasi dan transaksi luar biasa.
2. Dewan Komisaris
Dewan Komisaris memiliki peran penting dalam kerangka GCG. Dewan Komisaris bertanggung jawab dalam melakukan pengawasan terhadap kebijakan manajemen serta pelaksanaannya, serta memberikan saran kepada Direksi. Selain itu menurut KNKG (2006) Dewan Komisaris juga bertugas untuk memastikan bahwa perusahaan telah melakukan GCG yang sesuai dengan peraturan dan regulasi.
3. Dewan Direksi
Dewan Direksi bertanggung jawab dalam pengelolaan perusahaan dan bertanggung jawab kepada RUPS. Sususan dewan direksi berperan penting dalam menyelaraskan kepentingan manajer dengan pemegang saham (El- Chaarani, 2014).
4. Komite Dewan
Komite Dewan bertugas untuk dalam mengawasi dan memberikan saran kepada Dewan Komisaris dan Dewan Direksi.
5. Auditor Eksternal
Audit independen tahunan sebaiknya dilakukan oleh auditor eksternal independen. Auditor eksternal merupakan badan yang terpisah dari perusahaan dan dipilih melalui RUPS untuk mengaudit laporan keuangan perusahaan yang terdaftar, mempersiapkan laporan auditor dan menyerahkan kepada jajaran direksi.
6. Auditor Internal
Auditor internal memiliki peran penting dalam memperkuat praktik GCG pada
perusahaan yang terdaftar.
12
Universitas Kristen Petra
7. Sekretaris Perusahaan
Tugas sekretaris perusahaan adalah mengikuti perkembagan peraturan tentang pasar modal, menjamin ketersediaan informasi perusahaan yang dapat diakses oleh publik, memberi nasihat atau masukan kepada Direksi Emiten atau perusahaan publik untuk mematuhi hukum pasar modal dan peraturan pelaksanaannya, serta bertindak sebagai penghubung antara emiten atau perusahaan publik dengan OJK dan publik.
Corporate Governance Perception Index merupakan angka indek yang mencerminkan penerapan mekanisme GCG yang merupakan hasil riset dari IICG (Ikhsan, 2012). Menurut Suprayitno et al (2011) penilaian CGPI dilakukan melalui 4 tahapan yaitu: Self Assessment, Kelengkapan Dokumen, Penyusunan Makalah, dan Observasi. Dalam tahapan self assessment, CGPI menilai apakah perusahaan telah melaksanakan GCG di perusahaan tersebut, penilaian tersebut meliputi indikator penilaian: Komitmen; Transparansi; Akuntabilitas;
Responsibilitas; Independensi; Keadilan; Kompetensi; Kepemimpinan;
Kemampuan Bekerjasama; Visi, Misi dan Tata Nilai; Strategi dan Kebijakan;
Etika; serta Iklim Etikal. Penilaian ini menggunakan kuisioner yang diisi oleh seluruh pemangku kepentingan perusahaan. Kelengkapan dokumen merupakan tahapan dimana perusahaan diminta untuk melaporkan dokumen dan bukti pendukung yang menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah menerapkan praktik corporate governance. Tahapan penyusunan makalah adalah ketika perusahaan menyusun makalah yang berisi proses dan upaya yang dilakukan dalam penerapan GCG dan etika di perusahaan sesuai dengan sistematika yang telah ditentukan. Tahap terakhir yaitu tahap observasi, tahapan ini dilakukan untuk memastikan bahwa praktik GCG dan upaya perusahaan dalam membangun etika telah dilakukan. Penilaian pada tahap observasi adalah melalui presentasi dan diskusi tanya jawab dengan dewan komisaris, direksi dan manajemen serta pihak lain yang terkait
Good Corporate Governance pada penelitian ini diukur menggunakan
Corporate Governance Perception Index (CGPI). Riset CGPI oleh IICG bertujuan
untuk mendorong praktik GCG di Indonesia dalam menciptakan dunia bisnis yang
beretika, bermartabat, serta berkelanjutan. Kategori pemeringkatan oleh IICG
13
Universitas Kristen Petra
adalah : Skore 55 – 69 cukup terpercaya, Skore 70 – 84 terpercaya dan 85 – 100 sangat terpercaya.
2.3 Persistensi Laba
Persistensi laba merupakan salah satu atribut untuk mengukur kualitas laba (Ikhsan, 2012). Doukakis (2010) menyatakan bahwa persistensi laba dapat menggambarkan sejauh mana laba periode sekarang dapat menggambarkan laba masa depan. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Laksmana dan Yang (2009) menyebutkan bahwa persistensi laba diinginkan karena sifatnya yang berulang.
Yang dimaksud dengan berulang adalah laba yang didapatkan pada saat ini dapat berulang pada periode selanjutnya, sehingga investor akan lebih tertarik untuk berinvestasi jika laba yang didapatkan saat ini dipastikan berulang (Laksmana &
Yang, 2009). Khafid (2012) menyatakan bahwa laba sering digunakan sebagai salah satu indikator untuk memperkirakan prospek perusahaan di masa yang akan datang.
Persistensi laba menurut Francis et al (2004) merupakan salah satu komponen atribut laba yang memiliki dampak paling kuat terhadap pengurangan cost of equity yang secara tidak langsung memberi keuntungan bagi perusahaan.
Menurut Laksmana dan Yang (2009), persisten merupakan sejauh mana laba pada periode berjalan dapat mencerminkan periode masa depan, dan persisten yang dapat diartkan berulang atau berkelanjutan tersebut lebih diinginkan daripada pendapatan yang sifatnya sementara saja. Laba dikatakan persisten jika perusahaan dapat mempertahankan laba dalam jangka panjang, atau laba saat ini memberikan indikasi bagus bagi laba masa depan (Fanani, 2010). Laba yang berkelanjutan atau sustainable dapat diartikan sebagai laba yang berkualitas tinggi (Penman dan Zhang, 2002; Khafid, 2012; Ikhsan, 2012).
Untuk mengukur persistensi laba, Francis et al. (2004) mengikuti penelitian terdahulu dengan menghitung koefisien slope regresi antara earning per share periode sekarang dengan earning per share periode sebelumnya. Rumus yang digunakan untuk perhitungan persistensi laba adalah:
14
Universitas Kristen Petra
Nilai Ф yang semakin mendekati angka 1 diartikan bahwa laba perusahaan tersebut persisten. Sedangkan bila nilai Ф mendekati angka 0 maka laba perusahaan tersebut dianggap tidak persisten, yang dapat diartikan bahwa banyak komponen yang bersifat transitori.
Variabel kontrol yang digunakan pada penelitian ini berdasarkan penelitian terdahulu oleh Francis et al (2004), Dechow dan Dichev (2002), Laksmana dan Yang (2009) adalah ukuran perusahaan, volatilitas arus kas, volatilitas penjualan, siklus operasi, dan proporsi laba negatif.
2.3.1 Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan adalah skala yang mengklasifikasikan besar kecilnya suatu perusahaan (Aryani, 2011). Ukuran perusahaan digunakan dalam penelitian ini agar dapat mengendalikan kemungkinan dampak dari ukuran perusahaan pada discretionary acrual di perusahaan sampel (Hassan dan Ahmed, 2012).
Perusahaan besar memiliki operasi yang stabil dan dapat diprediksi yang akan berdampak pada laba yang semakin tinggi dan berkelanjutan (Dechow & Dichev, 2002). Scherer (1973) dalam Baginski et al. (1999) menunjukkan bukti bahwa variabilitas tingkat pertumbuhan perusahaan besar lebih rendah dari perusahaan kecil karena perusahaan besar memiliki sumber daya keuangan yang diharapkan dapat menstabilkan pertumbuhan dan menyebabkan aliran pendapatan lebih persisten. Francis et al. (2014) menyatakan bahwa ukuran perusahaan diproksikan dengan log dari total aset. Rumus untuk menghitung ukuran perusahaan (SIZE) adalah:
FSIZE= log (total aktiva) (2.2)
2.3.2 Volatilitas Arus Kas
Data arus kas merupakan indikator keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan akuntansi karena arus kas lebih sulit untuk dimanipulasi (Fanani, 2010). Standar deviasi dari arus kas yang tinggi menunjukkan ketidakpastian yang tinggi dalam lingkungan operasi (Dechow dan Dichev, 2002).
Volatilitas arus kas merupakan naik turunnya arus kas perusahaan pada periode
15
Universitas Kristen Petra
tertentu (Dechow dan Dichev, 2002). Arus kas yang berfluktuasi menunjukkan ketidakpastian pada pendapatan perusahaan atau laba semakin tidak persisten.
Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk mengukur volatilitas arus kas (VOLAK) menurut Francis et al. (2004) adalah:
2.3.3 Volatilitas Penjualan
Volatilitas penjualan merupakan varian penjualan dalam periode tertentu (Francis et al., 2004). Penjualan merupakan bagian terpenting dari siklus operasi perusahaan dalam menghasilkan laba (Fanani, 2010). Volatilitas penjualan menunjukkan kestabilan lingkungan operasi dan kemungkinan pemakaian akrual lebih besar daripada perkiraan dan estimasi (Dechow & Dichev, 2002). Volatilitas penjualan adalah standar deviasi penjualan dibagi dengan total aktiva (Fanani, 2010). Tingkat volatilitas penjualan yang tinggi menunjukkan persistensi laba yang rendah karena laba yang dihasilkan dianggap mengandung banyak gangguan (Fanani, 2010). Volatilitas penjualan menurut Fanani (2010) berpengaruh terhadap persistensi laba karena ketidakstabilan lingkungan operasi yang berhubungan dengan kesalahan estimasi menyebabkan persistensi laba yang rendah. Rumus yang digunakan untuk mengukur volatilitas penjualan (VOLPEN) menurut Francis et al. (2004) adalah:
2.3.4 Siklus Operasi
Siklus operasi adalah periode waktu rata-rata antara pembelian persediaan
dengan pendapatan kas yang akan diterima penjual (Fanani, 2010). Siklus operasi
perusahaan terdiri dari transaksi pembelian barang, penjualan barang, dan
pengumpulan piutang dari pelanggan (Fanani, 2010). Siklus operasi yang semakin
panjang menunjukkan semakin besar ketidakpastian, semakin banyaknya estimasi
dan error estimasi sehingga arus kas masa depan sulit untuk diprediksi (Dechow
16
Universitas Kristen Petra
dan Dichev, 2002; Fanani, 2010). Rumus yang digunakan untuk mengukur siklus operasi (SIOP) menurut Lakmana dan Yang (2009) adalah:
2.3.5 Proporsi Laba Negatif
Laba negatif didefinisikan sebagai kerugian dari continuing operations sebelum extraordinary items, discontinued operations dan efek dari perubahan akuntansi (Hayn, 1995). Laba negatif menunjukkan adanya guncangan negatif di lingkungan operasi perusahaan yang menyebabkan kesalahan estimasi (Dechow dan Dichev, 2002). Semakin sering laba negatif terjadi menunjukkan laba yang semakin tidak persisten. Rumus yang digunakan untuk mengukur proporsi laba negatif (PRONEG) menurut Dechow dan Dichev (2002) adalah:
2.4 Penelitian Terdahulu
Saat ini pembuat kebijakan menyadari bahwa corporate governance dapat mempromosikan persistensi dalam pasar keuangan, meningkatkan investasi dan mengarahkan pada pertumbuhan ekonomi (Shiri et al., 2012). Penelitian terdahulu terhadap GCG terhadap kinerja keuangan telah banyak dilakukan, namun variabel kinerja keuangan yang digunakan merupakan variabel periodik. Namun, pengaruh GCG dipercaya tidak hanya penelitian terhadap pengaruh good corporate governance terhadap persistensi laba belum banyak dilakukan.
Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ikhsan (2012) yang meneliti
mengenai hubungan antara corporate governance dan konsentrasi kepemilikan
dengan persistensi laba menunjukkan hasil bahwa corporate governance
mempunyai pengaruh positif signifikan terhadap persistensi laba. Penelitian
17
Universitas Kristen Petra
tersebut dilakukan di Indonesia pada periode pengamatan tahun 2005-2009 dengan sampel sebanyak 71 perusahaan. Hasil penelitian membuktikan bahwa semakin baik corporate governance yang dijalankan oleh perusahaan maka akan mengontrol manajemen sehingga mampu menghasilkan laba yang berkualitas.
Dengan kata lain, semakin baik perusahaan menjalankan corporate governance maka laba akan semakin persisten.
Selanjutnya, Khafid (2012) meneliti mengenai pengaruh corporate governance dan struktur kepemilikan terhadap persistensi laba. Atribut corporate governance pada penelitian ini adalah komposisi dewan komisaris, komite audit, kepemilikan manajerial, dan kepemilikan institusional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 242 perusahaan terbuka yang telah memenuhi kriteria sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa komposisi dewan komisaris, kepemilikan manajerial, dan komite audit terbukti secara signifikan berpengaruh terhadap persistensi laba. Sedangkan, kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap persistensi laba. Hasil tersebut membuktikan bahwa dewan komisaris yang independen lebih efektif dalam melakukan pengawasan pada kinerja manajemen serta pelaporan keuangan dan pelaporan laba. Selanjutnya, kepemilikan manajerial dapat meningkatkan persistensi laba yang menjadi salah satu atribut dari kualitas laba karena kepemilikan bagi dewan direksi maupun manajemen dapat menjadi motivasi bagi kinerja manajer. Komite audit yang merupakan salah satu organ yang dibentuk untuk menciptakan GCG akan berpengaruh terhadap persistensi laba. Semakin banyak komite audit yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan corporate governance dapat meningkatkan pelaporan kualitas laba. Selanjutnya, kepemilikan institusional yang tidak berdampak pada persistensi laba menunjukkan bahwa keberadaan para pemilik saham institusional tidak berdampak secara langsung pada persistensi laba.
Kemudian penelitian Shiri et al (2012) di Iran dengan 131 sampel perusahaan yang meneliti tentang corporate governance mechanism dengan kualitas laba dengan persistensi laba sebagai salah satu atribut dari kualitas laba.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan
signifikan antara mekanisme corporate governance (the composition of the board
18
Universitas Kristen Petra
of the non-bound directors, absent from the CEO as a chairman or vice chairman, dan kepemilikan institusional) terhadap persistensi laba. Dengan meningkatnya indepensi pada dewan akan meningkatkan independensi pada pengambilan keputusan sehingga pengawasan terhadap manajemen akan semakin efektif. Dan kepemilikan di luar perusahaan dapat memacu peningkatan kualitas laba dengan kualitas akrual.
Penelitian lain yang dilakukan di Iran dilakukan oleh Mashayekhi dan Bazaz (2010) dengan 150 perusahaan sampel pada tahun 2005-2008. Hasil penelitian ini adalah ukuran dewan berpengaruh negatif signifikan terhadap persistensi laba yang menunjukkan bahwa semakin besar ukuran dewan maka kontrol akan semakin lemah dan kinerja akan semakin lemah. Proporsi dari independent outside directors on the board berpengaruh positif dan signifikan terhadap persistensi laba menunjukkan bahwa dewan yang semakin independen akan menurunkan agency cost sehingga menurunkan kemungkinan manipulasi pada laba sehingga laba lebih berkualitas. Selanjutnya CEO duality ditemukan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap persistensi laba karena pada penelitian ini tidak ditemukan bahwa pemisahan tugas menunjukkan corporate governance yang lebih baik sehingga menghasilkan laba yang lebih yang berkualitas. Dan number of board meetings ditemukan berpengaruh signifikan dan positif terhadap persistensi laba karena semakin banyaknya number of board meeting maka akan meningkatkan kualitas dari kinerja keuangan sehingga meningkatkan kualitas laba.
2.5 Hipotesis Penelitian
2.5.1 Pengaruh GCG Terhadap Persistensi Laba
GCG merupakan merupakan seperangkat sistem yang mengatur dan
mengendalikan perusahaan untuk menciptakan nilai tambah bagi stakeholder
(Nuswandari, 2009). Stakeholder theory didasarkan pada nilai stakeholder, yaitu
untuk memaksimalkan nilai seluruh pemangku kepentingan (Zhang, 2011). GCG
dapat digunakan untuk mengelola resiko sehingga dapat memenuhi kepuasan
pelanggan, pemasok, dan stakeholder lainnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
19
Universitas Kristen Petra
GCG digunakan untuk menjadi alat bagi perusahaan agar manajemen dapat memaksimalkan kepentingan stakeholder.
Untuk memaksimalkan kepentingan stakeholder tersebut maka perusahaan menerapkan GCG untuk dapat mengontrol manajemen. GCG dapat menyelaraskan kepentingan pemegang saham dan manajemen, sehingga setiap keputusan yang diambil oleh manajemen digunakan untuk kepentingan pertumbuhan perusahaan. Dan sesuai dengan penelitian Haddad et al (2011) yang menyatakan bahwa perusahaan yang memiliki praktik GCG dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Manajemen yang berusaha untuk meningkatkan kinerja keuangan perusahaan akan terus berusaha untuk mempertahankan laba pada perusahaan sehingga laba akan semakin stabil. Persistensi laba dapat diartikan bahwa laba tersebut stabil dan berkelanjutan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin baik perusahaan menjalankan corporate governance maka laba akan semakin persisten. Maka dari pemaparan di atas dapat dihipotesiskan:
H1: GCG berpengaruh positif terhadap persistensi laba.
2.5.2 Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Persistensi Laba
Ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya suatu perusahaan.
Perusahaan besar memiliki sumber daya keuangan besar, hal tersebut akan membuat resiko bisnis dapat meyebar pada lini bisnis yang lain sehingga kegiatan operasional menjadi lebih stabil sehingga laba menjadi lebih persisten. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar ukuran perusahaan maka laba akan semakin persisten. Dari pemaparan tersebut dapat dihipotesiskan:
H2: Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap persistensi laba.
2.5.3 Pengaruh Volatilitas Arus Kas Terhadap Persistensi Laba
Volatilitas arus kas yang tinggi menunjukkan adanya ketidakpastian tinggi
dalam lingkungan operasi yang menyebabkan persistensi laba semakin rendah
(Fanani, 2010; Dechow dan Dichev, 2002). Jika volatilitas arus kas semakin tinggi
atau kas yang diperoleh dari aktivitas operasi semakin berfluktuasi maka laba
yang diperoleh semakin tidak pasti dan sulit untuk digunakan dalam memprediksi
20
Universitas Kristen Petra
laba pada masa yang akan datang. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi volatilitas arus kas maka laba semakin tidak persisten. Sehingga dari penjelasan tersebut dapat dihipotesiskan:
H3: Volatilitas arus kas berpengaruh negatif terhadap persistensi laba.
2.5.4 Pengaruh Volatilitas Penjualan Terhadap Persistensi Laba
Jika volatilitas penjualan semakin tinggi, maka persistensi laba akan semakin rendah (Dechow & Dichev, 2002). Volatilitas penjualan yang tinggi menunjukkan bahwa terdapat banyak gangguan pada penjualan atau adanya ketidakstabilan lingkungan operasi yang berhubungan dengan kesalahan estimasi sehingga laba menjadi tidak pasti dan tiak dapat diprediksi karena probabilitas laba terjadi di masa depan lebih kecil sehingga kurang dapat digunakan untuk memprediksi laba masa mendatang atau laba kurang persisten. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi volatilitas penjualan laba akan semakin tidak persisten. Berdasarkan pemaparan diatas dapat dihipotesiskan:
H4: Volatilitas penjualan berpengaruh negatif terhadap persistensi laba.
2.5.5 Pengaruh Siklus Operasi Terhadap Persistensi Laba
Semakin panjang siklus operasi, laba semakin tidak persisten (Hao, 2009).
Siklus operasi yang semakin panjang menunjukkan semakin besar ketidakpastian semakin banyaknya estimasi dan error estimasi (Dechow dan Dichev, 2002;
Fanani, 2010). Ketidakpastian dalam siklus operasi terkait dengan kegiatan operasional, semakin panjang siklus operasi maka akan semakin banyak kejadian yang dapat terjadi seperti perubahan perilaku konsumen, kondisi ekonomi, dan lain-lain sehingga kemungkinan untuk mendapatkan laba semakin tidak pasti dan tidak dapat diprediksi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ketika siklus operasi semakin panjang maka laba semakin tidak persisten. Sehingga dari pemaparan diatas dapat dihipotesiskan:
H5: Siklus operasi berpengaruh negatif terhadap persistensi laba.
21
Universitas Kristen Petra