WELAS ASIH PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA: SEBUAH STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF - USD Repository

107 

Teks penuh

(1)

i

WELAS ASIH PADA MAHASISWA PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA:

SEBUAH STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Program Studi Psikologi

Disusun oleh: Stefanus Tino Adika

NIM: 07 9114 039

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Sedikit karya kecil ini saya persembahkan untuk……… Jesus Kristus yang selalu memberikan sinar terang dan bimbingan

terhadap penulis….

Almarhum Bapak saya RR. Utomo yang sudah berada di Surga, sedikit persembahan supaya di surga bapak bisa tersenyum bangga untuk anakmu ini, semoga semakin tenang disana dengan kebahagiaan. Untuk

Ibu saya MM. Trimurtini yang tanpa hentinya memberikan tawa dan tangis untuk penulis agar segera menyelesaikan penulisan skripsi ini, sekiranya ini persembahan yang sangat spesial untuk ke dua orang tua saya yang telah memberikan penulis semangat yang baru dan semangat

yang tidak akan pernah padam.

Untuk ke dua saudara saya kakak dan adik saya Yohana Fransiska Atikasari serta Paulus Nico Ardianto, terima kasih untuk semangat dan

perhatiannya.

Untuk Monika Dewi Ratna W. teman suka dan duka penulis selama lebih dari 8th, perjalanan yang panjang masih menanti kita. Indah akan tiba

pada waktunya, harapan dan doa menyertai kita selalu.

Untuk semua sahabat penulis, kalian semua sudah menjadi bagian dari keluarga. Kalian semua hebat, saya bangga terhadap kalian semua.

(5)
(6)

vi

WELAS ASIH PADA MAHASISWA PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA:

SEBUAH STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF

Stefanus Tino Adika

ABSTRAK

Welas asih adalah cara adaptif untuk berhubungan dengan diri ketika mempertimbangkan kekurangan pribadi atau dalam keadaan sulit. Ketika dihadapkan dengan perjuangan hidup yang sukar, atau menghadapi kesalahan pribadi, kegagalan, dan kekurangan; welas asih merespon dengan kebaikan daripada mencerca diri secara kasar, mengakui bahwa ketidaksempurnaan adalah bagian dari pengalaman manusia bersama. Penelitian ini menguji welas asih pada mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma ( N = 281 ; Musia = 19,8 ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat welas asih adalah rendah (μh = 45 > μe = 37.19). Selain itu, penelitian ini menguji (1) perbedaan welas asih berdasarkan jenis kelamin dan (2) perbedaan welas asih antara remaja dengan dewasa muda. Hasil menunjukkan bahwa ada perbedaan welas asih berdasarkan jenis kelamin, sebaliknya tidak ada perbedaan welas asih antara remaja dengan dewasa muda. Saran untuk penelitian selanjutnya meliputi: eksplorasi welas asih dengan melakukan wawancara ingatan awal dan menjelaskan karakter welas asih pada setiap tahap perkembangan secara menyeluruh.

(7)

vii

SELF-COMPASSION AMONG STUDENTS OF PSYCHOLOGY AT SANATA DHARMA UNIVERSITY:

A QUANTITATIVE DESCRIPTIVE RESEARCH

Stefanus Tino Adika

ABSTRACT

Self-compassion is an adaptive way of relating to the self when considering personal inadequacies or difficult life circumstances. When faced with difficult life struggles, or confronting personal mistakes, failures, and inadequacies, self-compassion responds with kindness rather than harsh self-judgment, recognizing that imperfection is part of the shared human experience. The current study examined self-compassion among students of Psychology at Sanata Dharma University (N=281; Mage=19.8). Results indicated that the level of self-compassion is low (μh = 45 > μe = 37.19). In addition, the current study examined (1) the difference of self-compassion on sex and (2) the difference of self-compassion between adolescents and young adults. Results indicated that there was difference self-compassion on sex, conversely there was no difference between adolescents and young adults. Recommendations for future research include: exploration of compassion by doing an earliest momories interview and explicate the character of self-compassion on each stage of development.

(8)
(9)

ix

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kupanjatkan pada Tuhan pemilik Semesta, karena atas bimbingan dan berkat yang diberikanNYA penulis dapat menyelesaikan skripsi yang jauh

belum sempurna ini yang berjudul “Welas Asih pada Mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma: Sebuah Studi Deskriptif Kuantitatif” ini diajukan kepada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma untuk memenuhi sebagian dari syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Psikologi.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak skripsi ini tidak bakal pernah terwujud. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Sang Khalik yang disembah dengan berbagai cara yang telah menyinari berkat dan membimbing penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Penulis selalu percaya bahwa DIA akan selalu hadir untuk membimbing dan memberikan jalan yang terbaik untuk penulis.

2. Orang Tua tercinta, Alm. Bapak Robertus Redjo Utomo yang sudah berada di Pangkuan Sang Pencipta, untuk pelajaran sebagaimana menjadi sebagai seorang pria. Dukungan serta pendidikan tanggung jawab dalam lingkup sebagaimana biasa disebut sebagai sebuah keluarga akan selalu hidup dan berkobar pada jiwa ini. Untuk Ibunda tercinta MM. Trimurtini yang sampai saat ini tidak pernah lelah memberikan semangat dan doa untuk segala kelancaran penulis.

3. Yohana Fransika Atikasari dan Paulus Nico Ardianto, terima kasih untuk semangat dan kehangatan yang tidak pernah ada habisnya sebagai bagian dari keluarga ini.

4. Untuk Dr. Tarsisius Priyo Widiyanto selaku Dekan Fakultas Psikologi atas ijin yang telah diberikan kepada penulis dalam melakukan penelitian ini. 5. MM. Nimas Eki Suprawati, M.Si., Psi selaku dosen pembimbing yang

(10)

Terima kasih Bu untuk bimbingan hingga akhirnya mampu bisa menyelesaikan studi ini.

6. Dr. Ratri Sunar Astuti selaku ketua program studi yang telah memberikan kelancaran penulis selama mengikuti perkuliahan di Fakultas Psikologi. 7. My Lucky Angel Monika Dewi Ratna W. untuk waktu, semangat dan

dukungan yang tidak ada habisnya bagi penulis hingga bisa menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga untuk segala kisah yang sudah dilalui, semoga akan indah pada waktunya.

8. Pak Gie, Mas Gandung, Mas Doni, Mbak Nany, Mas Muji untuk semua bantuannya dalam masa perkuliahan penulis samapi selesai mengerjakan skripsi ini.

9. Sahabat, konsultan beserta Bos besarku, Albertus Harimurti yang telah meluangkan banyak waktu, pikiran, semangat dan tenaga untuk berbagi pikiran kapan saja penulis minta. Terima kasih sekali lagi yang tidak akan pernah akan ada habisnya.

10.Kang Jaya dan Pakdhe Wahyu setiajati, untuk waktu dan tenaga yang membuat penulis bisa menyelesaikan skripsi ini.

11.Keluarga kecil, dimana penulis tinggal di rumah kontrakan bersama Bambang, Wawan, Anton untuk segala suka dan duka melewati kehidupan yang keras ini. Menyusul kembali Dimas untuk memberikan penulis semangat kerja yang baru.

12.Keluarga besar gowok rumah cinta, Tatang, Budi, Taufik, Vio, Hendy, Boy, Dino, Aziz, Andro, Mardi, Nanta untuk semangat dan harapan kita meraih impian bersama.

13.Th. Eriek Yonathan beserta keluarga kecilnya, sang istri Eva Deviana, serta keponakan kecilku Ecuel yang semakin tambah ganteng. Terima kasih untuk pengalaman dan memberikan penulis mengerti makna akan persahabatan.

(11)

sebutkan satu demi satu. Terima kasih telah memberikan motivasi untuk Kiplek, Sikak, Yatim, Dyan Martikatama, Plenthong, dan yang lainnya yang tidak bisa disebutkan satu demi satu. Kalian pemuda harapan bangsa yang sangat hebat, terima kasih untuk waktu dan tenaga dalam penyebaran skala yang penulis lakukan.

17.Untuk Mas Dian K, inspirasi dan motivasi membuat penulis menjadi berkembang dan mampu untuk menemukan arti yang dinamakan persahabatan dan inilah kehidupan.

18.Untuk Keluarga Besar Palguno, Mas Agus, Joko Think, Ary Idek, Deta, Hendra, Ery, dan yang tidak bisa disebutkan satu-demi satu. Terima kasih untuk dukungan dan semangat hingga akhirnya selesai juga penulisan skripsi ini.

19.Untuk si hijau, yang menemaniku dimana saat hujan dan terikanya panas matahari melewati jalanan guna tujuan melakukan pencarian jurnal dan mengantarkanku ke kampus Fakultas Psikologi.

20.Untuk Don Fernando yang saat ini sedang istirahat di dalam almari, berkat jasa dan ketangguhanmu penulis mampu membuat penulisan awal skripsi ini.

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

PERSEMBAHAN ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... iv

ABSTRAK... ... v

ABSTRACT ... vi

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... vii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah………. 1

B. Rumusan Masalah……….. 10

C. Tujuan Penelitian……… 11

D. Manfaat Penelitian………. 11

BAB II : LANDASAN TEORI ... 12

A. Welas Asih………..………….………….. 12

1. Pengertian Welas Asih…….……… 12

(13)

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Welas Asih...22

C. Welas Asih Mahasiswa Universitas Sanata Dharma………...…... 23

D. Pertanyaan Penelitian………....….. 25

BAB III : METODE PENELITIAN……….. 26

A. Jenis Penelitian………... 26

B. Variabel Penelitian………. 26

C. Definisi Operasional……….. 26

D. Subjek Penelitian……… 27

E. Metode dan Alat Pengumpulan Data……….. 28

F. Validitas, Analisis Item dan Reliabilitas……… 30

1. Validitas……….….. 30

2. Analisis Item……… 31

3. Reliabilitas………... 31

G. Metode Analisis Data……….…… 32

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…... 34

A. Orientasi Kancah Dan Persiapan Penelitian... 34

B. Pelaksanaan Penelitian... 35

C. Hasil Penelitian... 36

1. Deskripsi Subjek Penelitian... 36

2. Uji Normalitas... 36

3. Deskripsi Data Penelitian... 37

(14)

5. Deskripsi Data Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin dan Masa

Perkembangan………..… 43

D. Pembahasan ... 45

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN... 53

A. Kesimpulan ... 53

B. Saran ... 53

DAFTAR PUSTAKA ... 56

(15)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Blue Print dan Sebaran Item Skala Welas Asih ... 29

Tabel 3.2 Pemberian Skor Skala Welas Asih ... 30

Tabel 4.1 Pelaksanaan Penelitian ... 35

Tabel 4.2 Deskripsi Subjek Penelitian ... 36

Tabel 4.3 Uji Normalitas Data ... 37

Tabel 4.4 Hasil Analisis Deskriptif Penelitian ... 39

Tabel 4.5 Uji One Sample T-Test ... 40

Tabel 4.6 Hasil Analisis Deskriptif Tiap Angkatan ... 41

Tabel 4.7 Uji One Sample T-Test Tiap Angkatan ... 42

Tabel 4.8 Uji Two Independent Sample T-Test Jenis Kelamin ... 43

(16)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Self-Compassion Scale…...……….….. 61

Lampiran Skala Welas Asih….……….………..….. 64

Lampiran Hasil Uji Coba ……….….. 68

Lampiran Hasil Uji Coba Terpakai……….... 71

Lampiran Total Skor dan Histogram………...….. 73

Lampiran Data Deskriptif Jenis Kelamin dan Tahun Angkatan…………... 76

Lampiran Hasil Uji Normalitas Data………... 78

Lampiran Hasil Uji One Sample T-Test Keseluruhan Data………...… 80

Lampiran Hasil Uji One Sample T-Test Tahun Angkatan, Komponen dan Aspek... 82

Lampiran Hasil Uji Two Independent Sample T-Test Jenis Kelamin…….... 90

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam buku Motivation and Personality (1954), Maslow menuliskan bahwa seseorang yang mengalami aktualisasi diri memelihara kapasitas untuk merasa kagum dan mengalami pengalaman puncak. Individu tersebut merupakan orang yang kreatif, demokratis, dan rendah hati. Juga memposisikan humor tanpa permusuhan dan bela rasa (compassion) yang mendalam bagi orang lain. Bela rasa tidak hanya menjadi pembicaraan kaum psikologi humanistik semata. Bela rasa adalah kekhasan yang dimiliki oleh setiap individu. Allport (1961) menyebutkan bahwa bela rasa merupakan syarat yang harus ada guna menjadi pribadi yang matang. Pribadi yang

matang ditandai dengan “relasi hangat antara diri dengan orang lain”.

Pengejawantahan dari relasi hangat ini adalah cinta terhadap orang lain dalam cara yang intim dan penuh welas kasih.

(18)

lain dan tidak menghindari atau memutuskan hubungan dengan orang tersebut, sehingga perasaan kebaikan terhadap orang lain dan keinginan untuk

meringankan penderitaan oranglain yang muncul”. Sedangkan Snyder (2011)

mendefinisikan bela rasa sebagai sebuah aspek kemanusiaan yang melibatkan pencarian di luar diri sendiri dan berpikir tentang orang lain layaknya merawat dan mengidentifikasi diri dengan orang lain tersebut. Dalam psikologi positif, individu yang mempraktekkan bela rasa perlu untuk (a) memahami kesulitan orang lain dan menganggapnya serius, (b) memahami bahwa kesulitan orang yang mengalami tidak merugikan individu, dan (c) bahwa individu, sebagai pengamat, mampu mengidentifikasi diri dengan penderitaan orang lain.

(19)

kemampuan memahami alternatif dan menentukan pilihan (baik-buruk, benar-salah). Terakhir adalah bela rasa yang dimaknai sebagai kemauan untuk berbela rasa pada sesama dan lingkungan (Man and women for and with others). Unsur-unsur dalam bela rasa adalah: peduli, peka, rela, dan tanggap.

Ditilik dari unsur-unsur bela rasa tersebut, maka bela rasa yang ditekankan dalam semangat dasar tersebut adalah bela rasa yang arahnya ke luar (outward compassion) atau terarah ke oranglain. Dengan demikian unsur nilai yang mengikuti; peduli, peka, rela, dan tanggap, berarti bahwa peduli pada oranglain, peka terhadap oranglain, rela berkorban bagi oranglain, dan tanggap terhadap permasalahan oranglain.

(20)

konsep diri, keterampilan sosial, nilai-nilai, kematangan penalaran moral, perilaku prososial, dan pengetahuan mengenai moralitas atau suara hati.

Dalam sebuah bagian, Adi dkk. (2010) menuliskan:

“…..proses pendidikan di USD merupakan bagian integral dari pergulatan kemanusiaan dalam ranah akademik demi lahirnya pribadi-pribadi magis, yaitu pribadi yang selalu memimpikan dan mengupayakan kebaikan bersama yang lebih”. (hal. 25)

Sesuai dengan isi teks tersebut, maka yang ingin dicapai dari pendidikan karakter ini adalah seorang pribadi yang utuh atau pribadi yang magis. Pribadi yang utuh ini dicapai lewat pengembangan karakter dengan semangat 3C. Semangat ini sepakat bahwa manusia adalah tujuan, dan bukan alat.

Oleh karenanya, untuk mengedepankan manusia sebagai tujuan adalah dengan menghargai. Menghargai memiliki implikasi bahwa yang dihargai tidak hanya orang lain, melainkan juga diri sendiri. Penghargaan terhadap diri sendiri inilah yang kemudian mewujud dalam self-compassion (selanjutnya akan disebut “welas asih”). Jika bela rasaterarah ke luar diri, maka welas asih terarah ke dalam diri (Germer & Neff, 2013).

(21)

diri sebagai bagian pengalaman manusia yang lebih luas daripada melihatnya terpisah dan terasing, dan (c) kewaskitaan – mengatasi pikiran dan perasaan yang menyakitkan dalam kesadaran yang seimbang daripada mengidentifikasikannya secara berlebihan dalam cara yang membesar-besarkan.

Bagi Kristin Neff (2011) welas asih menjadi semacam piranti untuk mencapai penyembuhan psikologis, kesejahteraan, dan relasi yang lebih baik. Welas asih adalah “cara yang lebih waras untuk berhubungan dengan diri sendiri”. Neff membedakan harga diri (self-esteem) dengan welas asih. Jika harga diri berdasarkan pada pencapaian superior, maka welas asih lebih pada kualitas pribadi yang sifatnya konstan, dalam menilai dan memperlakukan diri dengan baik layaknya manusia (Greenberg, 2012). Jika Neff mengklaim bahwa harga diri mampu membuat individu cenderung depresif jika target tidak tercapai, maka welas asih tidak. Sikap peduli terhadap diri sendiri ini membantu individu untuk mengenal kesamaan dan hubungan dengan oranglain, yang berbagi dengan si individu mengenai aspirasi umum dan sumber penderitaan.

(22)

mengantar individu ke dalam jurang keputusasaan. Welas asih membuat

individu berani mengakui “ya, saya kacau”, tanpa membuat individu

berpemahaman bahwa dirinya (dan hidupnya) adalah sesuatu yang mengerikan. Welas asih membuat individu menjadi orang yang memiliki kekuatan sekaligus kelemahan disertai kesempatan untuk meningkatkan. Dalam atmosfer kehangatan ini, melihat lebih akrab pada kelemahan-kelemahan ini tidaklah menakutkan.

Syahdan, hasil penelitian menunjukkan bahwa welas asih dapat meningkatkan kesehatan mental (Neff, 2011; Terry & Leary, 2011; Terry, Leary, Mehta, & Henderson, 2013; Neff, Kirkpatrick, & Rude, 2007). Juga, Barnard & Curry (2011) menemukan bahwa welas asih berkaitan erat dengan psikologi humanistik, pengecaman-diri (self-criticism), harga diri ( self-esteem), mengasihani-diri (self-pity), egosentrisme (self-centeredness), maupun kepuasan-diri (self-complacency). Germer & Neff (2013) menyatakan bahwa ada peningkatan kuantitas riset mengenai welas asih sejak 2003. Ada sekitar 200 artikel jurnal dan disertasi yang meneliti topik tersebut. Apa yang ditemukan oleh para peneliti adalah welas asih yang lebih besar terkait dengan psikopatologi yang rendah. MacBeth & Gumley (dalam Germer & Neff, 2013) menemukan bahwa welas asih berpengaruh besar terhadap depresi, kecemasan, dan stres.

(23)

perkuliahan. Guna mengembangkan welas asih, dibutuhkan langkah lebih jauh lagi. Korthagen & Vasalos (2009) menyatakan bahwa refleksi menciptakan sebuah keseimbangan pikiran, perasaan, serta kehendak sebagaimana yang menjadi sumber berperilaku. Dari proses penyeimbangan yang berfokus terhadap masa lalu namun berorientasi ke masa depan inilah kemudian tercipta transformasi diri yang ditandai dengan kekinian dan kewaskitaan.

Bertolak dari hubungan logis tersebut, maka dalam proses pendidikan USD pengembangan welas asih dapat dilakukan lewat refleksi. Refleksi dalam hal ini mengarah pada pandangan bahwa pendidikan adalah proses penyadaran (menjadi lebih waskita). Reznitskaya & Sternberg (2004) juga menuliskan bahwa fungsi refleksi dapat membantu peserta didik memantau dan mengontrol berbagai proses pembelajaran. Ini berarti refleksi meningkatkan kewaskitaan, dan kewaskitaan itu sendiri berpengaruh signifikan terhadap aspek lain dalam welas asih. Berkaitan dengan hal termaksud, Adi dkk. (2010) menuliskan:

“Dalam pendidikan berbasis Ignasian, refleksi mengambil peran yang penting. Dengan berefleksi, mahasiswa menimbang dan memilih pengalaman-pengalamannya untuk menemukan dirinya yang otentik. Dengan cara ini, ia dapat mengambil keputusan dan bertindak sesuai dengan martabatnya yang luhur .” (hlm. 26)

Sayangnya, proses refleksi ini tidak kasat mata ketika akhir kuliah (atau semester) di kelas-kelas. Padahal, kelas menjadi ruang paling kondusif dalam melakukan refleksi. Jangankan di kelas, bahkan di kepanitiaan (yang

(24)

Bahkan, dalam penelitian mengenai persepsi nilai oleh Zamharin (2012), nilai yang mendapat peringkat 1 dan 2 menurut mahasiswa adalah nilai humanis dan kerja sama yang notabene dipahami mahasiswa sebagai bagian dari hubungan interpersonal ‒ yang berarti bela rasa, bukan welas asih. Penelitian Zamharin ini menjadi cermin yang baik dalam menggambarkan pendidikan yang dialami mahasiswa.

Mengetahui bagaimana gambaran welas asih dan menyajikan contoh yang tepat dalam kehidupan mahasiswa bukanlah hal mudah. Bela rasa lebih mudah dilihat karena terjadi antar individu. Sedangkan welas asih terjadi dalam hubungan individu dengan dirinya sendiri, oleh karena itu welas asih termasuk dalam ranah yang cukup privat. Namun, ketika akan tiba waktu ujian, welas asih yang “terlihat” rendah dengan mudah terlihat. Misalnya menumpuknya tugas yang seharusnya bisa dikerjakan secara bertahap. Begadang menjadi tradisi yang begitu kental dalam kultus mahasiswa ketika ujian akan dilaksanakan. Padahal, ini hanya membuat mahasiswa lelah dan proses belajar menjadi kurang efektif. Bahkan tidak jarang pula yang merasa

tidak “enak badan” ketika ujian dan setelah ujian berlangsung (berimbas pada

kesehatan secara fisik). Dengan satu kasus ini, tidak serta merta bisa disimpulkan bahwa welas asih mahasiswa Sanata Dharma adalah rendah. Oleh karena itu, studi deskripsi perlu dilakukan utuk memperoleh data yang lebih sahih.

(25)

mahasiswa dengan welas asih yang tinggi memiliki level bela rasa yang tinggi pula. Namun, hal tersebut ditemukan di tradisi Barat. Oleh karena itu, partisipan dengan adat ketimuran menjadi pertanyaan dan perbincangan yang menarik, sebagaimana dicerminkan dalam diri mahasiswa Psikologi Universitas Sanata Dharma.

Dari uraian pendek di atas, welas asih pada mahasiswa Sanata Dharma mendapatkan urgensi tersendiri untuk ditelisik. Selain itu, seakan-akan uraian semangat dasar Universitas Sanata Dharma perlu diperlengkap. Bela rasa sebaiknya berorientasi ke dalam (diri sendiri) maupun ke luar (liyan). Apa

yang tidak ada dalam uraian semangat dasar tersebut adalah kata “self”. Self

mengandung pemahaman bahwa ada waktu di mana seseorang harus menghadapi masalahnya sendiri. Tidak setiap hal dapat dibicarakan dengan oranglain. Setiap orang menyimpan masalah dan pemecahannya masing-masing sama dengan setiap orang memiliki ruang privat masing-masing-masing-masing. Oleh karena itu, keunikan manusia di sini sangat ditekankan. Germer & Neff (2013) sendiri menjelaskan bahwa kecenderungan manusia adalah berbela rasa terhadap orang lain, namun tidak untuk dirinya sendiri. Tidak heran apabila di dunia Barat kemudian muncul istilah “woe is me” atau “sengsara adalah saya”.

(26)

(2010) bahwa seseorang dengan welas asih tinggi cenderung memiliki bela rasa yang tinggi pula, namun tidak untuk sebaliknya. Oleh karena itu, menjadi penting bagi mahasiswa psikologi untuk secara reflektif melihat dirinya mengenai bagaimana dirinya mampu untuk peduli dan berwelas-asih terhadap diri sendiri. Dengan terus melatih kemampuan welas asih secara reflektif dan ketika suatu waktu mahasiswa tersebut terjun dan menyapa masyarakat, maka harapannya di masa depan mahasiswa tersebut mampu bertindak sebagai seorang professional helper. Berkaitan dengan hal tersebut, menyelidiki welas asih pada mahasiswa psikologi menjadi amatlah penting.

Alhasil, bertolak dari signifikansi welas asih terhadap kesehatan mental individu dan uraian mengenai bela rasa dalam semangat dasar Universitas Sanata Dharma, serta basis dasar dan menyiapkan mahasiswa psikologi sebagai seorang professional helper, muncul pertanyaan kritis yang penting untuk ditelusuri. Pertanyaan tersebut adalah; bagaimana gambaran welas asih pada mahasiswa psikologi Sanata Dharma? Jawaban dari pertanyaan tersebut akan mengantar ke dalam proses pendidikan yang “lebih

jauh”. “Lebih jauh” di sini tidak memiliki makna lain kecuali pendidikan

yang semakin memanusiakan manusia.

B. Rumusan Masalah

(27)

C. Tujuan Penelitian

Bertolak dari pertanyaan pada rumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan gambaran welas asih pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

D. Manfaat Penelitian

Secara teoritis, penelitian ini akan bermanfaat dalam kajian welas asih yang dalam dunia psikologi masih relatif baru. Oleh karena itu, penelitian ini bisa menjadi studi permulaan dalam konsep welas asih sehingga membuka pintu lebih lebar untuk penelitian yang membutuhkan literatur welas asih, khususnya pada mahasiswa.

(28)

12

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Welas Asih

1. Pengertian Welas Asih

Dalam sebuah wawancara mengenai definisi welas asih, Neff (2011) memberi sebuah contoh mengenai persahabatan. Ketika seorang teman sedang memiliki masalah lalu bercerita, kemungkinan orang yang diceritai akan menunjukkan kehangatan, rasa peduli, kebaikan hati. Pendeknya, orang yang diceritai memberikan emosi yang positif dan sifatnya menolong. Demikian pula dengan welas asih, bedanya adalah bahwa “Welas asih secara sederhana berarti bela rasa yang terararah ke dalam diri” (Germer & Neff, 2013). Singkatnya, welas asih adalah sebuah cara berelasi dengan keterbukaan-hati terhadap aspek negatif dari diri sendiri dan pengalaman. Neff (2003a) menambahkan bahwa welas asih memerlukan pengetahuan bahwa penderitaan, kegagalan, dan ketidak-adekuatan adalah bagian dari kondisi manusia, yang semua orang ‒ termasuk diri sendiri ‒ layak untuk diwelas-asihi.

(29)

Dalam penelitian mengenai welas asih, Barnard & Curry (2011) membentangkan hubungan welas asih dengan psikologi humanistik, pengecaman-diri (self-criticism), harga diri (self-esteem), mengasihani-diri (self-pity), egosentrisme (self-centeredness), maupun kepuasan-diri (self-complacency). Dengan psikologi humanistik, komponen kebaikan dalam welas asih memiliki konsistensi dengan kunci menuju kesejahteraan-diri. Kunci menuju kesejahteraan-diri adalah tidak terlalu defensif dan mengambil sudut pandang terhadap diri ketika menderita, kemudian belajar memahami dan menerima kegagalan personal tanpa menghakimi, mencintai, dan memaafkan.

Pengecaman-diri menimbulkan rasa isolasi serta pelepasan perilakuan maupun mental. Hal ini berarti pengecaman-diri menunjukkan rendahnya intimasi dan perjuangan afiliatif yang kemungkinan disebabkan ketakutan akan penolakan. Ketika seseorang sedang mengecam-diri, afek negatif bermunculan. Selain itu, mengecam--diri cenderung mendorong tindakan untuk menghindari situasi dan memungkinkan terbukanya kesempatan menuju kegagalan.

(30)

Selanjutya adalah kaitan antara welas asih dengan mengasihani-diri, egosentrisme, maupun kepuasan-diri. Mengasihani-diri memiliki arti bahwa individu kehilangan rasa kemanusiaan dan cenderung over-identifikasi dengan perasaan, pikiran, dan pengalaman. Ini menunjukkan bahwa welas asih dengan mengasihani-diri merupakan dua konstruk yang berbeda. Demikian pula dengan egosentrisme yang kehilangan komponen rasa kemanusiaan. Bahkan welas asih justru mendukung keterhubungan-sosial (Neff, 2003a). Kepuasan-diri juga merupakan konstruk yang berbeda dengan welas asih. Welas asih membicarakan tentang ketenangan-diri, bukan ketidakacuhan atau penyerahan diri, melainkan pemahaman akan kesalahan. Kepuasan-diri sangat mugkin untuk mengantarkan seseorang menjadi defensif apabila menghadapi kegagalan.

(31)

dengan perenungan, supresi pikiran, dan penghindaran (Neff et al., 2005; Neff, Kirkpatrick, & Rude, 2007; Neff & Vonk, 2009; Raes, 2010; Thompson & Waltz, 2008).

Bertolak dari uraian di atas, welas asih merupakan konsep yang sedang berkembang dalam penelitian psikologi. Konsep yang mengadaptasi tradisi Timur ini didefinisikan sebagai bela rasa yang diarahkan terhadap diri sendiri. Misalnya ketika seorang mahasiswa memperoleh nilai yang buruk dalam 3 semester awal. Buruknya nilai ini memunculkan kecemasan dalam diri mahasiswa tersebut. Kecemasan ini kemudian memunculkan tegangan antara mahasiswa dengan dunia batin maupun dunia luar. Ketegangan ini perlu direduksi. Apabila mahasiswa tersebut memiliki welas asih yang baik, maka rasa gagal yang memunculkan sikap peremehan diri akan mudah dikontrol. Pengendalian ini akan diwujudkan dalam sikap yang lebih positif, misalnya membuat komparasi yang lebih luas bahwa setiap orang pernah mengalami kegagalan. Kegagalan bukan berarti seseorang tidak mampu. Kegagalan ini menjadi momentum diri untuk berusaha lebih keras dan rasional di semester berikutnya. Dengan demikian, pola belajar akan diubah demi mencapai apa yang diharapkan.

(32)

saja arahnya berbeda. Jika bela rasa arahnya ke luar, maka welas asih ke dalam.

2. Komponen Welas Asih

Menurut Germer & Neff (2013) ada tiga komponen inti dalam welas asih (dan bela rasa); (a) kebaikan, (b) rasa kemanusiaan; (c) kewaskitaan. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai ketiganya:

a. Kebaikan vs Penilaian Diri

(33)

otokritik. Bila kenyataan ini diterima dengan simpati dan kebaikan, ketenangan emosional akan dialami (Neff, 2009).

Dalam kajian psikologi positif, komponen ini bersinggungan erat dengan penerimaan-diri yang menjadi dimensi kesejahteraan psikologis. Penerimaan-diri dipahami sebagai ciri utama dari kesehatan mental sebagaimana karakteristik aktualisasi diri, fungsi diri yang optimal, dan kematangan psikis (Ryff & Singer, 1996). Seseorang yang berbaik-hati terhadap dirinya akan cenderung lebih menerima dirinya karena mereka bersikap lembut terhadap dirinya sendiri.

(34)

b. Rasa Kemanusiaan vs Isolasi

Komponen ini berarti melihat pengalaman diri sebagai bagian dari pengalaman manusia yang lebih luas daripada memisahkan serta mengisolasinya. Frustrasi karena tidak memperoleh persis seperti yang diinginkan sering disertai dengan irasionalitas dalam nuansa isolasi―seolah-olah "aku" adalah satu-satunya orang yang menderita atau membuat kesalahan.

Namun, semua manusia menderita. Menjadi "manusia" berarti seseorang bersifat fana, rentan dan tidak sempurna. Oleh karena itu, welas asih melibatkan pengakuan bahwa penderitaan dan kekurangan pribadi adalah bagian dari pengalaman bersama seluruh manusia - sesuatu yang dilalui semua orang, bukannya cuma “aku” sendiri.

(35)

untuk memiliki masalah kemarahan, masalah kecanduan, melemahkan kecemasan sosial, gangguan makan, dan sebagainya?

Banyak aspek dari diri sendiri dan keadaan hidup yang tidak bisa dipilih individu, melainkan berasal dari faktor tak terhitung [genetik dan (atau) lingkungan] di mana individu memiliki sedikit kontrol atasnya. Dengan mengakui ketergantungan esensial individu, kegagalan dan kesulitan hidup tidak harus diambil secara pribadi, tetapi dapat diakui dengan kasih sayang, tidak menghakimi, dan pemahaman (Neff, 2009).

Pada konsep bela rasa, rasa kemanusiaan memiliki konstruk lawan berupa rasa pemisahan (separation). Setelah seseorang mampu melihat yang lain terpisah dari diri, adalah mungkin untuk mengorbankan respon welas asih kepada individu yang dalam sedang menderita. Dalam welas asih, jika seseorang melakukan ini untuk diri sendiri, individu yang memotong diri dari rasa kemanusiaan dan menjadi terisolasi. Dengan demikian, dalam welas asih, isolasi (isolation) adalah kebalikan dari kemanusiaan, tetapi dalam bela rasa dikonseptualisasikan dalam cara yang sedikit berbeda di mana keterpisahan dari orang lain menjadi hasilnya (Pommier, 2010).

c. Kewaskitaan vs Over-identifikasi

(36)

menyeimbangkannya dengan kesadaran daripada mengidentifikasikannya secara berlebih. Dalam terapi kognitif, melebih-lebihkan sesuatu adalah simptom buah pikir negatif yang mengantar individu menuju depresi. Dalam pemahaman di sini, yang perlu ditekankan adalah bahwa welas asih juga memerlukan pendekatan yang seimbang untuk emosi negatif sehingga perasaan tidak direpresi atau dibesar-besarkan. Sikap seimbang ini berasal dari proses yang berkaitan dengan pengalaman pribadi orang lain yang juga menderita, sehingga menempatkan situasi ke dalam perspektif yang lebih luas.

Hal tersebut juga berasal dari kehendak untuk mengamati pikiran negatif dan emosi dengan keterbukaan dan kejelasan, sehingga mereka mengada di kesadaran. Kewaskitaan adalah tidak menghakimi, keadaan pikiran reseptif di mana seseorang mengamati pikiran dan perasaan seperti mereka, tanpa berusaha untuk menekan atau menolak mereka. Seseorang tidak bisa mengabaikan rasa sakit dan merasa kasihan terhadapnya di saat yang sama. Pada saat yang sama, kewaskitaan mengharuskan seseorang untuk tidak melakukan “over-identifikasi” dengan pikiran dan perasaan, yang dengan mudah menghantarnya untuk terjebak dan hanyut oleh reaktivitas negatif (Neff, 2009).

(37)

Ketika seorang individu tidak waskita dalam situasi yang melibatkan diri, mereka kemungkinan melakukan over-identifikasi terhadap rasa sakit. Menyangkal penderitaan diri mengantar seseorang menjadi terlalu terlibat dengan rasa sakit. Dalam hal bela rasa, over-identifikasi terhadap penderitaan orang lain bukanlah yang seringkali terjadi. Akan jauh lebih mungkin untuk menolak atau melepaskan diri penderitaan maupun rasa sakit yang dialami orang lain (disengagement). Dengan demikian, konstruk lawan dari bela rasa adalah pelepasan dari liyan, sedangkan pada welas asih adalah over-identifikasi (Pommier, 2010).

(38)

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Welas Asih

Berikut adalah beberapa faktor yang berpengaruh dengan tingkat welas asih dalam diri setiap individu:

1. Pola Asuh

Greenberg (2012) mengklaim bahwa welas asih adalah sebentuk keahlian yang dapat dilatih dan ditingkatkan lewat belajar. Dalam hal ini, hubungan antara anak dengan penjaga, khususnya orang tua, mendapatkan tempat penting. Apabila anak mendapatkan hukuman karena marah atau atau sedih, maka anak cenderung belajar bahwa kedua kondisi tersebut adalah buruk. Jika anak merasa ditolak saat berbagi mengenai kekecewaannya, maka mereka akan cenderung mencerca dirinya atau memandang rendah dirinya.

2. Kelekatan

Kelekatan terhadap orang tua juga berpotensi besar dalam membentuk welas asih. Neff & McGehee (2010) menemukan bahwa remaja dan dewasa awal dengan kelekatan yang aman (secure attachment style, selanjutnya disingkat SAS), memiliki level welas asih yang tinggi. Sesuai dengan model Bartholomew, SAS melibatkan keyakinan bahwa orang lain mendukung dirinya dan bahwa individu tersebut mearasa aman dan berarti sebagai seorang manusia. Remaja dan dewasa awal dengan

(39)

style (FAS), yang dikarakterisasikan dengan kurangnya keyakinan terhadap orang lain dan ragu akan keberartian diri. Remaja dan dewasa awal dengan keterikatan jenis ini cenderung memiliki welas asih dengan tingkat rendah. Sedangkan pada dismissive attachment style (DAS) justru dilaporkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan welas asih. DAS sendiri merupakan keterikatan yang ditandai dengan menganggap remeh hubungan interpersonal yang melebih-lebihkan keberartian diri.

3. Budaya

Greenberg (2012) juga menuliskan bahwa faktor budaya juga menjadi penentu welas asih seseorang. Budaya dalam istilah ini dipahami secara luas, sehingga institusi sosial seperti sistem pemerintahan dan agama juga termasuk dalam budaya. Dalam budaya yang mendasarkan ketakutan terhadap hukuman sebagai basis pembelajaran (misalnya dalam despotisme atau fasisme), level welas asih akan cenderung rendah.

C. Welas Asih Mahasiswa Universitas Sanata Dharma

(40)

Pengklasifikasian welas asih dalam ranah kecakapan emosional menunjukkan bahwa dalam setiap manusia terdapat anasir welas asih, hanya saja dengan tingkatan yang berbeda. Secara khusus, tingkat welas asih yang tinggi dibutuhkan oleh setiap orang yang akan berkecimpung dalam masyarakat. Lebih detilnya, kebutuhan untuk peduli atau berempati, sebagaimana dibutuhkan seorang perawat, guru, juga profesi seperti psikolog. Menarik bahwa diskursus mengenai welas asih mendapatkan bagiannya yang besar dalam lingkup ilmu psikologi. Dalam hal ini, seorang psikolog, HRD, atau pekerja sosial nantinya akan menyapa masyarakat dengan kepedulian dan empati. Kepedulian dan empati yang nantinya akan dijadikan bekal untuk menyapa masyarakat sangatlah ditentukan bagaimana hubungan orang tersebut dengan dirinya sendiri. Artinya, sikap seseorang terhadap diri sendiri menjadi kunci keberhasilan seseorang yang akan melibatkan diri dalam masyarakat. Penelitian baru-baru ini dari Pommier (2010) menunjukkan bahwa individu dengan tingkat welas asih yang tinggi cenderung memiliki bela rasa yang tinggi. Singkatnya, individu yang mampu berbaik hati, peduli, dan empati terhadap diri sendiri, akan mampu untuk berbaik hati, peduli, dan empati terhadap orang lain.

(41)

Beretvas, 2012), mampu membangun sebuah keterikatan yang aman (Neff & McGehee, 2010), adaptif (Neff, Kirkpatrick, & Rude, 2007), regulasi diri yang adekuat (Terry & Leary, 2011), serta empatik (Birnie, Speca, & Carlson, 2010). Sedangkan mahasiswa dengan tingkat welas asih yang rendah adalah justru sebaliknya.

D. Pertanyaan Penelitian

(42)

26

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penilitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk menguraikan dan memberi penjelasan mengenai suatu keadaan sesuai variabel yang diteliti. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah welas asih. Setelah didapatkan deskripsi mengenai welas asih mahasiswa Psikologi USD, selanjutnya adalah digambarkan perbedaan antar jenis kelamin.

B. Identifikasi Variabel Penelitian

Variabel yang dideskripsikan adalah welas asih pada mahasiswa Psikologi USD.

C. Definisi Operasional

(43)

pengalaman diri sebagai bagian pengalaman manusia yang lebih luas daripada melihatnya terpisah dan terasing, dan (c) kewaskitaan – mengatasi pikiran dan perasaan yang menyakitkan dalam kesadaran yang seimbang daripada mengidentifikasikannya secara berlebihan dalam cara yang membesar-besarkan.

D. Subjek Penelitian

(44)

USD adalah penduduk Indonesia, asumsinya adalah bahwa subjek mengalami proses kultural yang berbasis pada tradisi Timur.

Kedua, harus mempertimbangkan jumlah partisipan. Menurut Kerlinger (2006), jumlah sampel dalam sebuah penelitian dianggap normal apabila minimal 30 sampel. Dengan demikian partisipan dalam sebuah penelitian kuantitatif akan sahih bila jumlah minimalnya adalah 30 partisipan. Kekuatan data dapat diperoleh dan semakin menyebar dengan jumlah partisipan yang semakin besar.

E. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, pengumpulan data menggunakan metode skala. Skala welas asih diadaptasi dari Neff (2003a). Jumlah item dalam skala ini adalah 26 item dengan enam indikator. Indikator pertama adalah kebaikan-diri yang tersebar pada item nomor 5, 12, 19, 23, dan 26. Kedua adalah item penilaian-diri yang tersebar dalam nomor 1, 8, 11, 16, dan 21. Lalu item rasa kemanusiaan pada nomor 3, 7, 10, dan 15. Selanjutnya item isolasi pada nomor 4, 13, 18, dan 25. Kelima adalah item kewaskitaan pada nomor 9, 14, 17, dan 22. Terakhir adalah item over-identifikasi yang terdapat dalam item nomor 2, 6, 20, dan 24.

Skala tersebut akan diadaptasi menggunakan metode terjemahan

back-translation tanpa mengubah format skala. Skala diterjemahkan oleh mahasiswa doktoral dari English Departement di Georgetown University

(45)

penilaian profesional oleh dosen pembimbing. Setelah itu, hasil terjemahan kemudian diuji-coba dengan menanyakan makna kepada dua orang mahasiswa Psikologi USD. Berikut adalah blue-print skala welas asih:

Tabel 3.1.

Blue Print dan Sebaran Item Skala Welas Asih

Indikator Sebaran Item Bobot

Kebaikan-diri 5, 12, 19, 23, 26 5

Penilaian-diri 1, 8, 11, 16, 21 5

Rasa Kemanusiaan 3, 7, 10, 15 4

Isolasi 4, 13, 18, 25 4

Kewaskitaan 9, 14, 17, 22 4

Over-identifikasi 2, 6, 20, 24 4

TOTAL 26 item

Skala menggunakan model skala Likert, menggunakan lima jawaban dengan rentang:

Hampir Tidak Pernah

Hampir Selalu

(46)

Pembagian item Favorable dan Unfavourable dapat dicermati pada

F. Validitas, Analisis Item dan Reliabilitas

1. Validitas

Validitas merupakan sejauhmana sebuah skala mampu mengukur atribut yang akan diukur (Azwar, 2009). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi. Clark-Carter (2010) menyatakan bahwa validitas ini merujuk pada tingkat seperti apa sebuah pengukuran dapat mencakup hal yang akan diukur. Salah satu cara untuk melakukan validitas ini adalah menanyakan seorang ahli dalam bidang yang diukur. Dalam hal ini, ahli yang dimaksud adalah dosen pembimbing (professional judgement).

(47)

yang berarti tiap item tertentu menggambarkan salah satu dari tiga komponen inti tersebut.

2. Analisis Item

Uji daya beda item atau analisis item dilakukan dengan cara menguji karakteristik masing-masing item yang menjadi bagian skala pengukuran. Menurut Azwar (2010), pengujian daya diskriminasi item dilakukan dengan cara menghitung koefisien korelasi antara distribusi skor item dengan distribusi skor skala itu sendiri. Hasil dari pengujian ini disebut koefisien korelasi item total (rix).

Nilai indeks daya beda item yang digunakan pada penelitian ini adalah ≥ 0,250. Berdasarkan hasil seleksi item diperoleh 11 item yang memiliki diskriminasi item rendah, sehingga peneliti memutuskan untuk menggugurkannya. Namun demikian, terdapat satu aitem yang tetap dipertahankan peneliti dengan nilai rix = 0,245 dikarenakan untuk menjaga konstruk welas asih agar tetap seimbang pada masing-masing aspeknya.

3. Reliabilitas

(48)

Hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan bahwa koefisien Alpha Cronbach pada variabel tersebut menunjukan nilai 0,464 pada jumlah aitem 26. Setelah dilakukannya seleksi item dengan menggugurkan 11 aitem dan diperoleh 15 aitem, terhitung koefisien

Alpha Cronbach pada skala tersebut adalah 0,821. Hal ini menunjukkan bahwa skala welas asih memiliki koefisien Alpha Cronbach yang tinggi karena nilai yang dimiliki mendekati angka 1,00.

Tabel 3.3.

Sebaran Item Skala Welas Asih setelah Pengguguran Item

Indikator Sebaran Item Bobot

Kebaikan-diri 12, 19, 23 3

Penilaian-diri 11, 16, 21 3

Rasa Kemanusiaan 10 1

Isolasi 4, 13, 25 3

Kewaskitaan 14, 22 2

Over-identifikasi 6, 20, 24 3

TOTAL 15 item

G. Metode Analisis Data

(49)

peneliti mengelola data agar dapat disajikan ke dalam bentuk-bentuk yang lebih berguna, sehingga dapat lebih mudah dipahami (Subagyo, 2003). Statistik deskriptif dapat disertai dengan perhitungan-perhitungan sederhana yang bertujuan untuk memperjelas suatu karakteristik data yang bersangkutan dalam penelitian (Azwar, 1999).

(50)

34

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Orientasi Kancah Dan Persiapan Penelitian

Neff (2009) memberikan saran bahwa skala welas asih tergolong reliabel ketika diterapkan dalam remaja belasan tahun dengan latar belakang sosial ekonomi dan pendidikan yang sama. Berbasis pada variabel penelitian, subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa Psikologi USD. Secara umum, subjek mahasiswa menarik untuk diteliti karena usia kronologisnya lebih dari 13 tahun. Sebagaimana Neff mengklaim bahwa welas asih akan menjadi tepat diteliti pada subjek dengan usia lebih dari 13 tahun. Subjek mahasiswa dalam penelitian ini memiliki rentang usia antara 17 sampai 26 tahun.

(51)

B. Pelaksanaan Penelitian

Pelaksanaan penelitian dilakukan antara bulan Januari hingga Mei 2014. Alat pengukuran yang digunakan adalah Welas asih Scale gubahan Neff (2003). Dari 400 skala yang disebar, jumlah skala yang diterima kembali oleh peneliti adalah 317 lembar. Namun kemudian diseleksi berdasar kelengkapannya. Oleh karena itu, data yang diolah dalam penelitian ini merupakan data sebanyak 281 subjek. Sebagai bahan pembantu, berikut adalah tabel pelakasanaan penelitian:

Tabel 4.1. Pelaksanaan Penelitian

Tanggal Pelaksanaan Kegiatan Tempat Pelaksanaan

Jan - Maret 2014 Penyusunan Bab I sampai dengan Bab

III -

15 April 2014 Penyaduran Item Lewat surel, Realino

15 Mei 2014

Pemeriksaan Item lewat penilaian profesional oleh Didik Suryo

Hartoko, M.Si. Jarakan, Tirtomartani, Kalasan, Sleman, D.I. Yogyakarta.

15 Mei 2014

Uji coba intersubyektivitas item dengan dua mahasiswa Psikologi

USD angkatan 2012. Kopi Selir Paingan, Depok, Maguwoharjo, Sleman, D.I. Yogyakarta.

16 Mei 2014

Pemeriksaan Item lewat penilaian profesional oleh Nimas Eki Suprawati, M.Psi., Psi.

Kampus III USD Paingan, Depok, Maguwoharjo, Sleman, D.I. Yogyakarta.

16-18 Mei 2014 Penyebaran skala ke mahasiswa Psikologi USD.

Kampus III USD Paingan, Depok, Maguwoharjo, Sleman, D.I. Yogyakarta dan sekitarnya.

19 - 23 Mei 2014

Analisis dan pembahasan hasil

(52)

C. Hasil Penelitian

1. Deskripsi Subjek Penelitian

Subjek pada penelitian ini adalah mahasiswa Psikologi USD angkatan 2010 – 2011 – 2012 – 2013. Berikut adalah gambaran subjek verdasarkan tahun angkatan dan jenis kelamin.

Tabel 4.2.

Guna mengetahui apakah data populasi memiliki distribusi normal atau tidak, dilakukan uji normalitas (Noor, 2011). Salah satu teknik yang dilakukan untuk menguji normalitas adalah dengan menggunakan teknik

Kolmogorov-Smirnov. Dengan metode ini, maka suatu data dikatakan memiliki distribusi yang normal jika memenuhi syarat, yakni nilai

signifikansinya lebih besar dari nilai alpha sebesar 0,05 ( p > α 0,05).

(53)

Tabel 4.3. Uji Normalitas Data

Total

N 281

Normal Parametersa Mean 37.19

Std. Deviation 7.527

Most Extreme Differences Absolute .056

Positive .056

Negative -.037

Kolmogorov-Smirnov Z .941

Asymp.Sig. (2-tailed) .338

Berdasarkan hasil di atas, maka didapatkan hasil nilai signifikansinya (p) adalah sebesar 0,338. Nilai signifikansi sebesar 0,338, ternyata lebih besar dari nilai 0,05 ( p > 0,05). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa data memiliki distribusi normal.

3. Deskripsi Data Penelitian

Guna memudahkan proses analisis, data welas asih yang diperoleh dalam penelitian ini akan dibuat secara sistematis lewat:

a. Analisis Deskriptif

Lewat analisis deskriptif, maka akan diperoleh mean teoritik dan

(54)

minimum dan maksimum. Sedangkan nilai mean empirik adalah rata-rata skor dari hasil penelitian.

Guna mencari nilai mean teoritik, maka penentuan skor minimum dan maksimum dari alat harus dilakukan. Jumlah butir pernyataan pada alat ukur adalah sejumlah 15, dengan rentang nilai jawaban bermula dari nilai 1 sampai dengan nilai 5. Skor minimum dari alat ukur adalah sebesar 15, yang berasal dari 15 item dikalikan skor 1, dan skor maksimum dari alat ukur adalah 75, yang berasal dari 15 item dikalikan dengan skor 5. Kemudian, rentangan skor pada skala adalah sebesar 60, yakni nilai skor maksimum dikurang skor minimum. Kemudian hasil rentangan skor dibagi ke dalam enam satuan standar deviasi, sehingga nilai standar deviasi dari alat ukur adalah sebesar 10. Adapun mean

(55)

Berikut adalah hasil analisis deskriptif dari keseluruhan data alat ukur:

Tabel 4.4.

Hasil Analisis Deskriptif Penelitian

Parameter Statistik Nilai Teoritik Nilai Empirik

N 281 281

Skor Minimum 15 15

Skor Maksimum 75 60

Range 60 45

Mean 45 37,19

SD 10 7,527

Berdasarkan tabel di atas, maka nilai empirik sebesar bernilai 37,19. Nilai ini lebih kecil jika dibandingkan dengan nilai mean teoritik, yakni sebesar 45. Hal ini menunjukan ada perbedaan di antara kedua nilai mean. Perbedaan yang terjadi menunjukan bahwa kecenderungan welas asih pada mahasiswa adalah rendah.

b. Uji One Sample T-Test

(56)

memiliki perbedaan dengan nilai dari suatu sampel. Pengujian ini akan menggunakan nilai rerata dari nilai hipotetik.

Berikut adalah paparan mengenai hasil Uji One Sample T-Test

pada data penelitian:

Tabel 4.5.

Uji Statistik One Sample T-Test

Test Value = 45

95% Confidence Interval of the Difference

T Df Sig.

(2tailed)

Mean

Difference Lower Upper

selfcompassion -17.397 280 .000 -7.811 -8.70 -6.93

Berdasarkan hal tersebut, yakni bahwa ada perbedaan di antara rata-rata dari mean hipotetik dan mean empirik. Di mana nilai mean

empirik lebih kecil dibanding mean hipotetik yang ditunjukkan dengan nilai -7.811 pada bagian mean difference. Hal ini semakin menegaskan bahwa tingkat welas asih subjek adalah rendah.

4. Deskripsi Data Penelitian Tiap Angkatan

(57)

a. Analisis Deskriptif Tiap Angkatan

Penelitian ini diikuti subjek dengan rentang empat angkatan, yakni 2010 – 2011 – 2012 – 2013. Berikut adalah hasil analisis deskriptif subjek penelitian pada tahun angkatan yang berbeda: setiap angkatan cenderung lebih rendah daripada nilai mean

(58)

b. Analisis Uji One Sample T-Test Tiap Angkatan

Berikut adalah hasil uji One Sample T-Test untuk setiap subjek pada tahun angkatan yang berbeda.

Tabel 4.7.

Uji Statistik One Sample T-Test Tiap Angkatan

Test Value = 45

(59)

bagian mean difference menunjukkan bahwa level welas asih tiap angkatan cenderung rendah.

5. Deskripsi Data Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin dan Masa

Perkembangan

Menurut Santoso (2010), Independent Sampel T-Test digunakan untuk mengetahui perbedaan nilai rerata di antara dua buah sampel. Sebagaimana One Sample T-Test, dalam uji t untuk sampel bebas diperlukan dasar pengambilan keputusan untuk menguji signifikansinya.

1. Analisis Two Independent Sample T-Test untuk Jenis Kelamin

Berikut adalah hasil dari analisis perbedaan mean antara subjek laki-laki dan perempuan.

Tabel 4.8.

Uji Statistik Two Independent Sample T-Test Jenis Kelamin

JK N Mean SD

(60)

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan di antara kedua kelompok jenis kelamin.

2. Analisis Two Independent Sample T-Test untuk Masa Perkembangan Ditinjau dari masa perkembangan, subjek dalam penelitian ini terbagi ke dalam dua subjek. Pertama adalah mereka yang berusia 14-17 tahun atau disebut remaja. Dan kedua adalah dewasa awal dengan usia antara 19-24 (ditambah satu subjek berusia 26 tahun yang kemudian dikategorikan ke dalam masa perkembangan ini). Berikut hasil dari analisis perbedaan mean antara kedua masa perkembangan:

Tabel 4.9.

Uji Statistik Two Independent Sample T-Test Masa Perkembangan

MP N Mean SD

(61)

menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan dalam welas asihantara kedua masa perkembangan.

D. Pembahasan

Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa mean

empirik (37,19) subjek penelitian menunjukkan nilai yang lebih rendah dari

mean hipotetik (45). Dari kedua nilai tersebut, diperoleh selisih mean sebesar 7,811. Dengan kata lain, hasil ini mengungkapkan bahwa welas asih pada mahasiswa Psikologi USD cenderung rendah.

Dari tiga komponen utama, diperoleh data bahwa mean hipotetik dari tiap-tiap komponen self-kindness dan self-judgment, mindfulness dan over-identified, common humanity dan isolation, serta menghasilkan secara berurutan 18, 15, dan 12. Sedangkan mean empirik secara berurutan hasil penelitian menunjukkan kecenderungan welas asih yang rendah 14.76, 12.35, serta 10,08. Dengan demikian selisih masing-masing mean secara berurutan adalah 3.242, 2.648, serta 1.922. Ditinjau dari ketiga selisih tersebut, maka dalam penelitian ini komponen self-kindness dan self-judgement memiliki efek paling besar terhadap rendahnya welas asih pada mahasiswa Psikologi USD.

Kemudian selisih antara mean hipotetik dengan mean empirik tiap-tiap aspek juga diteliti. Dari keenam aspek, selisih mean terbesar dihasilkan pada item self-kindness (1.413) kemudian disusul oleh self-judgement

(62)

memahami serta memperlakukan diri secara tidak hangat dan tidak lembut terhadap dirinya sendiri ketika sedang dalam penderitaan, kegagalan, atau merasa tidak mampu. Hal ini, kemungkinan besar, juga berhubungan dengan penerimaan diri yang dipahami Ryff & Singer (1996) sebagai ciri utama dari kesehatan mental sebagaimana karakteristik aktualisasi diri, fungsi diri yang optimal, dan kematangan psikis. Berkaitan dengan penerimaan diri yang cenderung rendah menunjukkan bahwa individu kurang berbaik-hati terhadap diri sendiri. Dengan demikian kecenderungan self-kindness dan self-judgement yang rendah menunjukkan kesukaran untuk bersikap-lembut terhadap diri sendiri dan berarti penerimaan diri yang tidak adekuat.

Pommier (2010) menemukan bahwa bela rasa yang tinggi tidak serta merta menunjukkan bahwa welas asih juga tinggi, namun welas asih yang tinggi menunjukkan bahwa bela rasa juga tinggi. Berbasis dari tesis ini, level welas asih yang rendah dari subjek menunjukkan bahwa bela rasa subjek belum tentu memiliki level yang tinggi – bahkan ada kemungkinan level bela rasa justru rendah. Namun, untuk mengetahui secara pasti tingkat bela rasa, perlu juga penelitian yang mengkonduksi konstruk termaksud. Namun, ini menjadi data yang patut diperhatikan karena subjek berasal dari universitas yang pada dasarnya menawarkan bela rasa sebagai sebuah semangat dasar.

(63)

pendidikan selama ini, sejak subjek mengikuti pendidikan dari sekolah dasar hingga universitas, adalah bahwa peserta didik menjadi spesial ketika mendapatkan penghargaan karena prestasinya. Atau jika tidak, dalam kehidupan sehari-hari individu akan merasa “ada” ketika individu tersebut

merasa “lebih” terhadap orang lain – lebih lucu, lebih ramah, lebih dapat dipercaya. Efek jangka panjangnya adalah seorang individu akan cenderung

mencerca dirinya sendiri apabila individu termaksud tidak menjadi “lebih”.

Kritik secara kasar inilah yang kemudian berkaitan erat dengan kurangnya sifat lemah-lembut terhadap diri sendiri. Dalam hal ini, prinsip prestasi tersebut adalah efek dari self-esteem, di mana memiliki self-esteem yang tinggi butuh untuk merasa spesial dan di atas rata-rata (Neff, 2011).

(64)

berwelas-asih. Sedangkan dari keluarga yang menekan dan penuh konflik cenderung kurang mendukung welas asih. Lebih lanjut, Neff (2009)

menuliskan “Jika orang tua marah, bersikap dingin, atau mengecam anak-anak, mereka mungkin menjadi lebih dingin dan mengecam dirinya sendiri. Jika orang tua hangat, peduli, dan mendukung, mungkin hal tersebut akan

direfleksikan dalam dialog internal si anak.”

Dalam penelitian ini, masa perkembangan subjek (yang berarti juga usia) mempengaruhi level welas asih. Dikatakan Neff (2009) bahwa ada kecenderungan untuk menjadi lebih welas asih pada usia yang semakin menua. Bahkan dalam penelitiannya tersebut, Neff menemukan bahwa tidak ada perbedaaan welas asih antara remaja dengan dewasa awal. Pun penelitian ini juga tidak menemukan perbedaan yang signifikan antara remaja (N=52, M=39.0962, SD=9.30372) dengan dewasa awal (N=229, M=36.7555, SD=7.01387). Ditinjau dari kedua nilai mean, maka subjek dalam masa perkembangan remaja dalam penelitian ini justru lebih berwelas-asih terhadap dirinya sendiri dibandingkan dengan subjek yang telah memasuki tahap perkembangan dewasa awal.

(65)

justru berkebalikan dengan penelitian ini. Subjek dengan masa perkembangan dewasa awal justru memiliki level welas asih yang rendah, padahal yang diharapkan adalah justru lebih tinggi dibandingkan mereka yang remaja.

Santrock (2009) juga menjelaskan bahwa menginjak usia 17-20 tahun konflik dalam diri seorang remaja mulai berkurang ‒ meskipun tetap berpotensi depresif. Graber & Sontag (dalam Santrock, 2009) menemukan bahwa tingkat gangguan depresi remaja sebesar 15-20 persen, artinya 15-20 persen akan cenderung mengalami depresi. Bahkan, lebih lanjut, tingkat depresi yang terjadi pada remaja perempuan akan cenderung lebih tinggi dibanding remaja laki-laki. Alasannya adalah karena tekanan akan citra-tubuh yang ideal bagi perempuan yang terus menumpuk dan karenanya kecenderungan untuk mengalami depresi meningkat. Dari logika ini, level welas asih subjek dewasa awal seharusnya lebih tinggi dibandingkan remaja.

Jika mengikuti garis pemikiran dalam penelitian welas asih, yakni

bahwa “semakin tua usia individu akan semakin tinggi level welas asih” dan

(66)

Padahal dalam tahap dewasa awal, dalam relasi sosial, individu mulai untuk membangun intimitas dengan individu lain, khususnya yang berbeda jenis kelamin. Neff & Beretvas (2012) menemukan bahwa welas asih berkorelasi secara positif terhadap kesejahteraan psikologi yang dalam hal ini berupa keberartian diri, menjadi bahagia, dan mampu mengekpresikan pendapat dalam hubungan romantik. Mereka yang memiliki level welas asih tinggi memiliki rasa peduli, keterhubungan, dan resiliensi diri yang cenderung adekuat. Perlu diperhitungkan bahwa level welas asih yang rendah pada masa dewasa awal berpotensi untuk menjadi hambatan dalam menjalin relasi yang sarat akan intimitas.

Apabila dalam kedua masa perkembangan tidak terdapat perbedaan yang signifikan, maka lain lagi dalam kategori jenis kelamin. Kemungkinan, tiadanya perbedaan ini akibat rentang usia yang begitu dekat sehingga perbedaan cenderung tidak signifikan. Dalam kategori jenis kelamin, ditemukan adanya perbedaan antara subjek perempuan (N=213; M=37.7042; SD=7.38) dengan laki-laki (N=68; M=35.5735; SD=7.82). Artinya, tingkat welas asih pada subjek perempuan cenderung lebih tinggi dibandingkan subjek laki-laki.

(67)

love). Karakter cinta keibuan yang lembut, mencintai tanpa syarat, juga memaafkan, cenderung dipelajari sejak kecil dan dilekatkan dalam konstruksi perempuan yang ideal. Jika dicermati lebih jauh, karakter ini berhubungan dengan pola asuh keluarga, terkhusus ibu, yang sifatnya cenderung lebih demokratis. Pola asuh demokratis ini, cenderung membentuk seseorang lebih menerima dirinya dibanding anak yang diasuh dalam pola asuh otoriter (demikian juga pada sistem agama maupun pemerintahan yang otoriter) maupun permisif. Oleh karena itu, sosok ideal perempuan yang lembut, memaafkan, dan mencintai tanpa syarat mempengaruhi tingkat welas asih perempuan dibandingkan dengan laki-laki yang memiliki karakter menguasai dan kompetisi.

Sistem yang “mengabaikan” juga menjadi penghambat seorang mahasiswa untuk mengembangkan welas asih. Sebagaimana dicermati dalam

(68)

mendamba perubahan ini, maka mungkin saja peran mereka sebagai rakyat yang melek hukum menjadi tidak berarti apapun. Ketidakberartian ini berpotensi menghasilkan manusia-manusia dengan welas asih yang rendah – dirinya sendiri-pun dianggap tidak berarti.

(69)

53

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang dilakukan, maka diperoleh kesimpulan bahwa tingkat welas asih pada subjek penelitian cenderung rendah. Hal ini disebabkan perbedaan mean hipotetik (µ = 45) dengan mean empirik (µ= 37.19), di mana mean empirik lebih kecil nilainya dibandingkan dengan

mean hipotetik. Kesimpulan ini juga diperoleh berdasarkan hasil perhitungan welas asih pada tiap tahun angkatan, dengan hasil yang menunjukkan nilai

mean empirik pada setiap angkatan lebih rendah daripada nilai hipotetiknya. Selain itu, perhitungan nilai empirik tiap-tiap aspek juga lebih rendah dibandingkan nilai hipotetiknya.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian mengenai welas asih pada mahasiswa Psikologi USD, ada tiga saran yang dapat diberikan:

1. Bagi Mahasiswa

(70)

proses keseharian. Selain itu baik juga untuk mengambil waktu hening untuk meningkatkan kewaskitaan, seperti bermeditasi. Selain itu, pembiasaan diri untuk mencatat mimpi atau peristiwa harian berpotensi meningkatkan pemahaman terhadap keadaan diri sendiri.

2. Bagi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat welas asih mahasiswa rendah. Berkaitan dnegan hal tersebut, untuk mempersiapkan cendekiawan atau praktisi yang ahli di bidang psikologi, fakultas perlu untuk memberikan dan menciptakan suasana kelas maupun sistem pembelajaran yang berpotensi melatih welas asih. Misalnya saja refleksi diberikan di tiap akhir masa kuliah oleh masing-masing dosen atau di kepanitiaan refleksi menjadi sebuah agenda wajib. Selain itu, tugas-tugas mata kulaih juga baik untuk menyesuaikan, misalnya saja jurnal mimpi yang berpotensi untuk semakin memahami diri atau praktik mengenai psikologi transpersonal lewat meditasi.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

(71)

mengungkap konsep ini lebih tuntas. Pertimbangannya adalah temuan dari penelitian ini yang justru terbalik dengan temuan Neff bahwa semakin tua seseorang, maka kecenderungan welas asih-nya akan semakin meningkat.

Selain itu, penelitian longitudinal kualitatif mengenai welas asih juga perlu dilakukan. Meskipun terkesan gigantis, namun akan menarik untuk memahami perkembangan welas asih di tiap-tiap masa perkembangan.

(72)

56

DAFTAR PUSTAKA

Adi, K., Dwiatmoko, A., Istono, M., Nugraha, S.T. & Maryarsanta, E. (2010).

Model pendidikan karakter di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Allport, G.W. (1961). Pattern and growth in personality. New York: Holt,

Rinehart & Winston.

Breines, J. (2013, October 13). The art of constructive self-criticism. Psychology

Today. Dipungut 9 Desember, 2013, dari

http://www.psychologytoday.com/blog/in-love-and-war/201310/the-art-constructive-self-criticism

Birnie, K., Speca, M., & Carlson, L.E. (2010). Exploring self-compassion and empathy in the context of Mindfulness-based Stress Reduction (MBSR).

Stress and Health, 26(5), 359-371.

Clark-Carter, D. (2010). Quantitative psychological research: The complete

student’s companion (eds. ke-3). New York: Psychology Press.

Elkind, D. (1967). Egocentrism in adolescence. Child Development, 38, 1025– 1034.

Fromm, E. (1963). The art of loving. New York: Harper & Row, Inc.

Germer, C.K. & Neff, K.D. (2013). Self-Compassion in clinical practice.

Journal Of Clinical Psychology: In Session, 69(8), 1-12.

Greenberg, M.A. (2013, 1 October). Why self-compassion helps you meet life's challenges. Psychology Today. Dipungut 9 Desember, 2013, dari

http://www.psychologytoday.com/blog/the-mindful-self-express/201310/why-self-compassion-helps-you-meet-lifes-challenges Heffernan, M., Griffin, M.T.Q., McNulty, S.R., & Fitzpatrick, J.J. (2010).

Self-compassion and emotional intellegence in nurses. Internastional Journal of Nursing Practice, 16, 366-373.

Jopling, D. A. (2000). Self-knowledge and the self. New York: Routledge.

(73)

57

Korthagen, F.A.J., & Vasalos, A. (2009, August). From reflection to presence and mindfulness: 30 years of developments concerning the concept of reflection in teacher education. Makalah disajikan dalam EARLI Conference, Amsterdam,

Maslow, A.H. (1954). Motivation and personality. New York : Harper Row Publ. Inc.

Neff, K. D. (2003a). Development and validation of a scale to measure self-compassion. Self and Identity, 2, 223–250.

Neff, K. D. (2003b). Self-compassion: An alternative conceptualization of a healthy attitude toward oneself. Self and Identity, 2, 85–102.

Neff, K. D., Kirkpatrick, K., & Rude, S.S. (2007). Self-compassion and adaptive psychological functioning. Journal of Research in Personality, 41, 908-916.

Neff, K.D., Pisitsungkagarm, K., & Hseih, Y. (2008). Self-compassion and self-construal in the United States, Thailand, and Taiwan. Journal of Cross-Cultural Psychology, 39(3), 267-285.

Neff, K.D. & McGehee, P. (2009). Self-compassion and psychological resilience among adolescents and young adults. Self and Identity, 9, 225–240.

Neff, K. D. (2011). Self-compassion, self-esteem, and well-being. Social and Personality Psychology Compass, 5/1, 1–12.

Neff, K.D. & Beretvas, S.N. (2012). The role of self-compassion in romantic relationship. Self and Identity, 9, 225–240.

Neff, K.D. & Pommier, E.A. (2013). The relationship about self-compassion and other-focused concern among college undergraduates, community adults, and practicing meditators. Self and Identity, 1-21.

Partino, H.R. dan Idrus, H.M. (2009). Statistik deskriptif. Yogyakarta: Safiria Insania Press.

Pommier, E.A. (2010). The compassion scale. Disertasi doktor yang tidak diterbitkan, University of Texas, Austin.

Reznitskaya, A., & Sternberg, R.J. (2004). Teaching students to make wise

judgements: The “Teaching for Wisdom” program. Dalam P.A. Linley &

Figur

Tabel 3.1.
Tabel 3 1 . View in document p.45
Tabel 3.2.
Tabel 3 2 . View in document p.46
Tabel 3.3.
Tabel 3 3 . View in document p.48
Tabel 4.1.
Tabel 4 1 . View in document p.51
Tabel 4.2.
Tabel 4 2 . View in document p.52
Tabel 4.3.
Tabel 4 3 . View in document p.53
Tabel 4.4.
Tabel 4 4 . View in document p.55
Tabel 4.5.
Tabel 4 5 . View in document p.56
Tabel 4.6.
Tabel 4 6 . View in document p.57
Tabel 4.7.
Tabel 4 7 . View in document p.58
Tabel 4.8.
Tabel 4 8 . View in document p.59
Tabel 4.9.
Tabel 4 9 . View in document p.60

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (107 Halaman)