2. TEORI PENUNJANG
2.1 Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan seseorang mengalami ketidakmampuan secara ekonomi untuk memenuhi standar hidup rata-rata masyarakat di suatu daerah.
Kondisi tidak mampu ini mencakup antara lain memenuhi kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan. Ketidakmampuan ini juga dapat dilihat dari sisi pendapatan yang tidak mampu menutupi kebutuhan utama lainnya seperti kesehatan, pendidikan, hingga rekreasi (Nugroho, 1995). Definisi yang sama juga dikemukakan oleh Suryawati (2004) dimana masyarakat disebut miskin apabila memiliki pendapatan lebih rendah dari rata-rata pendapatan sehingga tidak banyak memiliki kesempatan untuk mensejahterakan dirinya (Suryawati, 2004). Lebih luas, ketidakmampuan secara sosial maupun politik juga dapat menjadi golongan masyarakat miskin (Suryawati, 2004). Pada tahun 2006, Harahap mengungkapkan bahwa kemiskinan merupakan bentuk permasalahan pembangunan yang diakibatkan pertumbuhan ekonomi yang tidak seimbang sehingga berdampak negatif pada kesenjangan pendapatan maupun kesenjangan pendapatan.
Konsep kemiskinan yang digunakan World Bank adalah konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach) atau tingkat konsumsi per kapita. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Lebih lanjut, penduduk Miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan. Variabel ini dikarenakan tingkat konsumsi seseorang akan lebih stabil daripada pendapatannya. Selain itu, kategori orang yang dikelompokkan miskin adalah orang yang per kapita pendapatannya kurang dari 2 Dollar Amerika per hari.
Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memandang bahwa kemiskinan memiliki banyak bentuk, seperti antara lain keterbatasan pendapatan dan kecukupan sumber daya produksi untuk menjamin mata pencaharian secara terus-menerus, kelaparan dan kurang gizi, kesehatan yang rendah, keterbatasan
akses pada pendidikan dan pelayanan dasar, peningkatan jumlah penderita penyakit dan kematian karena penyakit, gelandangan dan rumah kumuh, lingkungan yang tidak sehat, serta diskriminasi sosial dan keterasingan. Kemiskinan juga ditandai dengan keterbatasan pada partisipasi pengambilan keputusan dalam kehidupan sosial budaya masyarakat
2.2 Perkembangan Sektor Keuangan (Financial Development)
Perkembangan sektor keuangan (Financial development) merupakan usaha untuk membuat perekonomian lebih efektif dan efisien yang dilakukan melalui institusi pemerintah, perusahaan, dan sistem ekonomi (World Bank, 2012).
Pemerintah memegang peran sebagai regulator, dapat membuat pengembangan pada sektor keuangan melalui kebijakan-kebijakan yang dilakukan. Hal ini dapat bersifat berkaitan dengan peraturan dalam sektor keuangan maupun kebijakan dalam penerbitan uang di suatu negara. Dari sisi perusahaan, perusahaan memegang peran penting dalam meningkatkan perkembangan sektor keuangan dengan peningkatan performa bisnisnya. Dengan bisnis yang baik, hal ini akan meningkatkan sektor keuangan negara melalui pemanfaatan produk-produk keuangan oleh perusahaan. Dengan performa bisnis yang baik dapat membuat perekonomian meningkat pula. Untuk meningkatkan performa bisnis, perusahaan dapat menggunakan kredit.
Perkembangan sektor keuangan juga mempunyai definisi yaitu bagian strategi dari sektor swasta untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi serta menurunkan angka kemiskinan (Eryılmaz, 2015). Indikator yang digunakan adalah hutang atau kredit kepada sektor privat atau swasta (Worldbank, 2012). Ketika sektor swasta menerima kredit, mereka mampu meningkatkan kapabilitas mereka.
Dengan peningkatan output, maka perekonomian dapat berkembang.
Berkembangnya ekonomi akan dinikmati masyarakat dengan terbukanya banyak lapangan kerja.
Perkembangan sektor keuangan juga didefinisikan sebagai perkembangan dalam ukuran, efisiensi, stabilitas, dan kemudahan dalam penggunaan sarana keuangan (Eryigit dan Dulgeroglu, 2015). Dengan sistem keuangan yang baik di suatu negara, hal ini akan sangat berguna terhadap pelaku-pelaku ekonomi yang
menggunakan jasa keuangan. Sektor keuangan yang maju akan bermanfaat bagi perusahaan maupun perorangan melalui produk-produk keuangan yang tersedia guna untuk pengembangan perusahaan dan manajemen resiko. Bagi perorangan, produk-produk keuangan yang berkembang juga dapat dinikmati sebagai sarana investasi maupun manajemen resiko. Perkembangan sektor keuangan juga berarti memperluas kapasitas institusi dan pasar keuangan untuk meningkatkan investasi (Topcu, 2017). Indikator yang digunakan untuk mengukur kapasitas sektor keuangan dan perkembangnya dalam suatu negara adalah jumlah uang beredar (money supply) (McKinnon, 1973; King dan Levine, 1993; Odhiambo, 2008;
Jeanneney dan Kpodar, 2008).
Perkembangan sektor keuangan yang tidak tepat dan tidak normal seperti pembangunan yang timpang dalam suatu negara akan berdampak terhadap peningkatan angka masyarakat miskin. Keadaan tidak normal ini seperti ketika terjadi krisis ekonomi global maupun pada negara tersebut. Alasannya adalah bahwa ketika perkembangan sektor keuangan di suatu negara meningkat dan adanya kemudahan untuk melakukan kredit, hanya akan berdampak kepada orang kaya atau yang mampu, dimana yang memenuhi syarat untuk mendapatkan kredit dan tidak mampu berlanjut kepada masyarakat miskin tadi. Pada akhirnya, memang perekonomian terlihat meningkat, namun itu dikarenakan kontribusi dari meningkatnya ekonomi masyarakat yang bergolongan mampu, sedangkan kepada masyarakat miskin, hal ini tidak berdampak (Levine, 2000).
2.2.1 Kredit Kepada Sektor Swasta (Credit to Private Sector)
Definisi dari kredit domestik ke sektor swasta adalah jumlah perhitungan sumber dana atau hutang yang diberikan kepada sektor swasta non keuangan oleh perbankan dan perusahaan keuangan sejenis. Perusahaan keuangan yang terkait dalam pengaliran dana ini antara lain adalah perusahaan leasing, perusahaan pemberi pinjaman keuangan, perusahaan asuransi, pengelolah dana pensiun, dan perusahaan valuta asing. Hal ini dapat berupa melalui pinjaman atau hutang, bantuan modal, kredit perdagangan dan piutang lain-lain, yang mengharuskan adanya pembayaran kembali (Baden, 2000).
Menurut teori trickle to down effect, pihak privat atau swasta adalah pihak yang memegang peran penting dalam menggerakan roda pertumbuhan ekonomi.
Ketika perkembangan sektor keuangan meningkat maka akan menciptakan optimalisasi kredit rill bagi sektor swasta yang digunakan untuk mengembangkan usaha. Dengan kredit rill yang diterima, memungkinkan perusahaan meningkatkan kapabilitasnya dalam hal produktifitas. yang dapat bebrdampak terhadap masyarkat miskin. Modal yang diterima perusahaan akan memberikan berbagai efek turunan positif bagi masyarakat. Pertama, dari modal yang diterima dari kredit, perusahaan dapat melakukan investasi dan ekspansi usaha yang berdampak pada terciptanya lapangan kerja baru. Kemudian, lapangan kerja baru ini akan memberikan manfaat dengan menyerap tenaga kerja dan menurunkan angka pengangguran serta kemiskinan. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2.1 berikut.
Gambar 2.1 Diagram Trickle Down Effect
Menurut, Modigliani dan Miller (1963), Kredit yang diterima perusahaan akan menjadi leverage untuk meningkatkan return perusahaan. Apabila hutang digunakan tinggi, maka perusahaan pun juga akan memiliki profitabilitas yang tinggi karena dengan berhutang baik panjang maupun pendek, perusahaan bisa melakukan investasi atau memiliki modal yang lebih untuk digunakan sebagai operasional perusahaan sehingga dapat meningkatkan penjualan perusahaan dan pada saat penjualan meningkat maka laba juga akan meningkat.
2.2.2 Jumlah Uang Beredar (Broad of Money Stock)
Jumlah uang beredar merupakan variabel monestasi dari sektor keuangan suatu negara. Artinya jumlah uang beredar ini akan menggambarkan bagaimana kapasitas sektor keuangan negara atau daerah tersebut. Meningkatnya jumlah uang beredar dapat mengartikan sektor keuangan yang berkembang. Jumlah uang beredar menggambarkan tingkat access of financial asset di suatu negara, artinya semakin tinggi nilai ini, berarti penggunaan asset keuangan juga makin tinggi (McKinnon, 1973; King dan Levine, 1993; Odhiambo, 2008; Jeanneney dan Kpodar,2008).
Secara umum, definisi dari jumlah uang beredar adalah seluruh jumlah yang yang telah dikeluarkan dan diedarkan oleh bank sentral suatu negara. Uang beredar yang termasuk adalah seluruh jenis uang yang ada di dalam perekonomia di negara tersebut, yaitu jumlah dari mata uang dalam peredaran ditambah dengan uang giral dalam bank-bank umum. Jumlah uang beredar ini kemudian dibagi menjadi 2 bagian besar, yaitu uang beredar dalam arti sempit (M1) dan arti luas (M2) (Sukirno, 1981). Namun, dalam perkembangannya, menurut Boediono (1994), jenis perhitungan uang beredar dibedakan menjadi 2 definisi, sebagai berikut : a. Uang Beredar Dalam Arti Sempit (M1)
Definisi jumlah uang beredar dalam arti sempit (M1) adalah daya beli yang langsung bisa digunakan untuk pembayaran(Boediono, 1994: 3-5). Dalam perhitungan yang di standartisasi oleh Bank Indonesia (BI), M1 di Indonesia meliputi antara lain uang kartal yang dipegang masyarakat dan uang giral (giro yang berdenominasi Rupiah).
b. Uang Beredar Dalam Arti Luas (M2).
Lebih luas dari M1 yang hanya mencakup uang kartal dan uang giral, Uang beredar M2 mencakup jenis golongan uang yang lebih luas. M2 diartikan sebagai M1 ditambah deposito berjangka dan saldo tabungan milik masyarakat pada bank- bank. Berkembangan M2 dapat memiliki pengaruh terhadap perkembangan harga, produksi dan keadaan ekonomi pada umumnya. Secara umum, formula untuk menghitung M2 adalah sebagai berikut:
M2 = M1 + TD + SD (2.1)
TD merupakan time deposits (deposito berjangka), SD adalah savings deposits atau saldo tabungan (Boediono, 1994:5-6). Tidak ada definisi M2 yang berlaku umum untuk setiap negara, karena masing-masing negara mempunyai ciri khas tersendiri.
Menurut standar yang berlaku di Indonesia oleh Bank Indonesia, M2 antara lain meliputi M1, uang kuasi yang mencakup tabungan, simpanan berjangka dalam rupiah dan valas, giro dalam valuta asing, dan surat berharga yang diterbitkan oleh sistem moneter yang dimiliki sektor swasta domestik dengan sisa jangka waktu sampai dengan satu tahun.
2.3 Inflasi
Pengertian inflasi ada awalnya adalah banyaknya jumlah uang yang beredar (Chisholm, 1922). Namun makin berkembangnya perekonomian, Inflasi saat ini memiliki definisi yaitu suatu situasi dimana dalam suatu wilayah terjadi kenaikan tingkat harga pada umumnya yang mencakup sebagian besar barang-barang kebutuhan pokok, jasa-jasa maupun faktor-faktor produksi di negara tersebut (Samuelson, 2001).
Faktor yang paling mendasar, inflasi terjadi akibat dari jumlah uang beredar di tangan terlalu banyak. Dengan jumlah uang yang banyak di tangan masyarakat maka harga barang rata-rata akan menjadi lebih tinggi sebab jumlah uang yang ada lebih tinggi dari jumlah supply barang yang ada. Akibat dari hal ini, harga barang secara otomatis akan ikut meningkat (Samuelson, 2001).
Menurut Bank Indonesia, secara sederhana inflasi diartikan sebagai meningkatnya harga-harga secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya.
Indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). Perubahan IHK dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Penentuan barang dan jasa dalam keranjang IHK dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Kemudian, BPS akan memonitor perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut secara bulanan
di beberapa kota, di pasar tradisional dan modern terhadap beberapa jenis barang/jasa di setiap kota.
Indikator inflasi lainnya berdasarkan international best practice antara lain:
a. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB). Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas ialah harga transaksi yang terjadi antara penjual/pedagang besar pertama dengan pembeli/pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas.
b. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB) menggambarkan pengukuran level harga barang akhir (final goods) dan jasa yang diproduksi di dalam suatu ekonomi (negeri).
Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.
Dalam arti lain, inflasi juga berarti keadaan dimana melemahnya daya beli masyarakat disebabkan merosotnya atau menurunnya nilai instrinsik mata uang suatu negara. Oleh sebab itu, pertumbuhan perekonomian dapat menjadi tidak stabil dengan tingginya tingkat inflasi. Hal ini sesuai dengan teori wealth effect, dimana kenaikan level harga akan membuat nilai uang dan asset keuangan lainnya menjadi menurun. Hal ini tercermin juga pada kurva aggregate demand.
Gambar 2.2 Kurva Aggregate Demand
Pada Gambar 2.2 dapat dilihat, ketika harga meningkat, maka daya beli atau permintaan akan menurun. Begitu pula dengan sebaliknya. Ketika harga menurun, maka akan menghasilkan kenaikan permintaan dan daya beli.
Jenis jenis inflasi yang terjadi dapat dikelompokkan berdasarkan sifat dan sebab terjadinya. Jenis jenis inflasi berdasarkan sifatnya terbagi menjadi empat
kelompok utama yaitu inflasi sangat tinggi, inflasi berat, inflasi menengah dan inflasi rendah (Nanga, 2005).
a. Inflasi rendah adalah inflasi yang besarnya kurang dari 10 % tahun. Inflasi seperti ini terkesan dibutuhkan dalam perekonomian untuk mendorong produsen agar memproduksi lebih banyak barang dan jasa.
b. Inflasi menengah adalah inflasi yang besarnya berkisar antara 10-30 % setiap tahun. Inflasi menengah terjadi saat harga-harga barang dan jasa naik secara cepat dan besar.
c. Inflasi berat atau high inflation adalah sebuah inflasi yang berada dalam kisaran 30-100% setiap tahunnya.
d. Inflasi sangat tinggi atau Hyperinflation adalah inflasi yang terjadi dengan kenaikan harga mencapai 4 digit atau diatas 100 %.
Berikutnya, jenis inflasi berdasarkan sebabnya dapat dibagi menjadi tiga yaitu demand pull inflation, cost pull inflation dan bottle neck inflation (Nanga, 2005).
a. Demand pull inflation adalah inflasi yang terjadi akibat pengaruh permintaan (demand) yang tidak diimbangi dengan peningkatan jumlah penawaran produksi. Hal ini mengakibatkan kenaikan harga barang sesuai dengan hukum permintaan yaitu apabila permintaan tinggi sedangkan penawaran tetap maka harga akan naik.
b. Cost inflation adalah inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi yang disebabkan oleh kenaikan biaya input atau biaya faktor produksi.
c. Bottle neck inflasi adalah inflasi yang disebabkan oleh faktor penawaran atau faktor permintaan.
2.4 Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara yang berkesinambungan menuju keadaan yang lebih baik selama periode tertentu. Menurut Sukirno (2000) pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran
masyarakat meningkat. Sehingga pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Adanya pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Pada zaman ekonomi neoklasik saat ini, teori pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan oleh Robert Solow (1956), pertumbuhan ekonomi tergantung kepada perkembangan faktor-faktor produksi.
Dalam persamaan, pandangan ini dapat dinyatakan dengan persamaan:
AY = f (AK,AL,AT) (2.2)
Dimana :
AY adalah tingkat pertumbuhan ekonomi
AK adalah tingkat pertumbuhan modal
AL adalah tingkat pertumbuhan tenaga kerja
At adalah tingkat pertumbuhan teknologi
Pertama, dengan pertumbuhan modal, berarti perekonomian sedang dalam kondisi yang baik. Dengan meningkatnya modal berarti perusahaan mempunyai potensi yang lebih besar dalam mengelolah bisnisnya. Pertumbuhan modal, akan mendorong untuk peningkatan pada output pada suatu negara, yang akan menumbuhkan perekonomian. Kedua, pertumbuhan tenaga kerja akan mendorong perekonomian. Hal ini berhubungan dengan peningkatan modal. Ketika ada peningkatan modal, maka perusahaan dinilai akan dapat menciptakan lapangan- lapangan kerja baru. Ketika produktifitas dan kapabilitas perusahaan meningkat, maka mereka membutuhkan tenaga kerja untuk menghasilkan output. Dengan terserapnya tenaga kerja, maka tingkat pengangguran akan menurun. Kebutuhan tenaga kerja dapat terpenuhi ketika tersedianya tenaga kerja terampil. Karena jika tidak terampil, maka pertumbuhan perekonomian tidak dapat terwujud. Ketiga, pertumbuhan ekonomi dapat terjadi akibat dari peningkatan teknologi dan inovasi.
Menurut Solow, teknologi dan inovasi mempunyai pengaruh secara tidak langsung melalui dua faktor sebelumnya yaitu pertumbuhan modal dan tenaga kerja.
Ketersediaan modal dan sumber daya manusia yang tidak diikuti dengan teknologi dan inovasi, maka pertumbuhan ekonomi hanya akan mencapai titik output maksimal. Namun, dengan teknologi dan pendidikan, maka output yang dihasilkan
dapat menjadi jauh lebih tinggi meskipun dengan input yang sama. Hal ini dikarenakan inovasi. Lebih lanjut, ketika output meningkat, maka hal ini akan meningkatkan modal, sehingga pertumbuhan perekonomian menjadi lebih cepat.
Indikator yang digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu negara adalah dengan melihat data produk domestik bruto (gross domestic product) negara.
2.4.1 Produk Domestik Bruto (Gross Domestic Product)
Produk domestic produk (Gross Domestic Product) adalah nilai total dari semua barang dan jasa yang dihasilkan di dalam suatu negara dalam suatu periode, biasanya satu tahun. Terdapat beberapa hal yang tidak termasuk dalam perhitungan GDP suatu negara seperti nilai yang terjadi di luar pasar Indonesia.
Mankiw (2006) kemudian melanjutkan bahwa GDP merupakan stastitika perekonomian yang sangat penting karena dianggap sebagai ukuran tunggal mengenai kesejahteraan masyarakat. Hal ini karena GDP mengukur dua hal utama yaitu total pendapatan semua orang dalam negri dan nilai total pembelanjaan negara dalam barang dan jasa.
Lebih lanjut, dalam perhitungan GDP suatu negara, dibagi menjadi 2 metode perhitungan nilai GDP antara lain GDP Riil dan GDP Nominal.
2.4.1.1 Produk Domestik Bruto Riil (Real Gross Domestic Product)
Pada dasarnya, PDB Riil atau real gross domestic product dihitung dari nilai jumlah produksi dan jasa yang dihitung menggunakan harga tetap. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan harga tahun pokok yang tetap untuk menentukan nilai produksi barang dan jasa dalam perekonomian. Nilai ekonomi ini digunakan setelah pertimbangan nilai inflasi atau deflasi negara tersebut. GDP Riil mempunyai kelebihan karena tidak dipengaruhi perubahan harga, sehingga GDP riil hanya mencerminkan perubahan pada jumlah barang dan jasa yang diproduksi.
Artinya, GDP riil merupakan ukuran produksi barang dan jasa dalam perekonomian (Mankiw, 2006).
2.4.1.2 Nominal Produk Domestik Bruto (Nominal Gross Domestic Product) PDB Nominal atau nominal gross domestic product biasa disebut angka GDP mentah karena belum dilakukan penyesuaian inflasi atau deflasi. Perhitungan yang digunakan berkebalikan dari nilai dari PDB Riil. Dalam perhitungan PDB nominal suatu negara digunakan perhitungan jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu periode dengan perhitungan harga yang berubah-ubah mengikuti kenaikan dan penurunan nilai harga yang berlaku di pasar (Mankiw, 2006).
2.4.1.3 Produk Domestik Bruto per Kapita (Gross Domestic Product per Capita) GDP per kapita adalah nilai total dari GDP dibagi dengan total jumlah penduduk pada suatu tahun. Dengan demikian, GDP per kapita yang merupakan nilai dari besar GDP dibagi dengan jumlah penduduk daerah tersebut, merupakan alat yang lebih baik dalam memberikan penilaian kualitas dan standar hidup dari warga negaranya (Mankiw, 2006). Dalam perekonomian saat ini GDP per kapita digunakan untuk menjadi indikator pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hal ini dikarenakan dengan melihat pertumbuhan GDP per kapita, dapat diketahui pertumbuhan ekonomi rata-rata masyarakat pada suatu negara (Honohan, 2004;
Jalilian and Kirkpatrick, 2005; Beck, 2007).
2.5 Hubungan Antar Konsep
2.5.1 Pengaruh Perkembangan Sektor Keuangan diukur dengan Kredit kepada Sektor Swasta terhadap Kemiskinan
Aliran kredit pada dasarnya merupakan media utama yang dapat digunakan untuk mengalirkan dana dari kelompok masyarakat yang kaya menuju ke masyarakat dengan pendapatan yang rendah. Kredit yang disalurkan tersebut dapat menjadi fasilitas bagi masyarakat miskin untuk meningkatkan produktifitas (Quartey, 2005). Pada awalnya, kredit yang disalurkan untuk sektor privat atau swasta memampukan perusahaan untuk meningkatkan produktifitas, kesempatan, dan lapangan kerja yang baru. Dengan terbukanya lapangan kerja baru, maka angka pengangguran akan menurun.
Di tahun yang 2005, Jalilian dan Kirkpatrick mendukung hasil temuan Quartey. Menggunakan sampel negara berkembang, hasil penelitian menunjukan bahwa kredit memberikan dampak kepada masyarakat yang kurang mampu secara tidak langsung. Pada penelitian lainnya, Beck (2007) menemukan bahwa dengan adanya aliran kredit, maka masyarakat miskin mampu menciptakan peluang baru kepada dirinya melalui perusahaan dan mampu meningkatkan pendapatannya.
Jeanneney dan Kpodar (2008) dalam penelitiannya juga menemukan bahwa dengan kredit yang disalurkan pada sektor swasta, akan memberikan dampak secara langsung terhadap penurunan jumlah kemiskinan. Swasta yang menerima kredit, mampu menggunakannya dengan tepat. Hal serupa dikemukakan oleh Odhiambo (2010). Hasil penelitian mengenai pengaruh perkembangan sektor keuangan terhadap penurunan jumlah masyarakat miskin yang dilakukan dengan sampel negara Kenya memberikan hasil bahwa ketika terdapat kredit yang disalurkan oleh bank, maka jumlah masyarakat miskin akan menurun secara signifikan. Hal ini dikarenakan ketika uang yang terdapat di bank digunakan maka uang tersebut menjadi bermanfaat untuk menggerakan ekonomi.
Disisi lain, ketika kondisi perekonomian suatu negara tidak berada dalam kondisi yang normal, maka kredit tidak akan memberikan dampak terhadap penurunan jumlah masyarakat miskin suatu negara. Hal ini disebabkan oleh karena yang mampu mendapatkan kredit adalah masyarakat golongan atas dan tidak mampu melakukan pengelolahan secara optimal, sehingga kesempatan dan peluang baru tidak muncul, sehingga menimbulkan kondisi pemerataan ekonomi yang timpang. (Banerjee dan Newman, 1993) (Galor dan Zeira, 1993).
2.5.2 Pengaruh Perkembangan Sektor Keuangan diukur dengan Jumlah Uang Beredar terhadap Kemiskinan
Jumlah uang beredar dibagi dengan gross domestic product di dalam suatu negara sering disebut sebagai variabel monestasi dari perkembangan sektor keuangan. Hal ini mengartikan bahwa ratio ini mencerminkan ukuran dan kapasitas sebenarnya dari sektor keuangan dalam perekonomian suatu negara. Ketika jumlah uang beredar meningkat, hal ini juga dapat menunjukan peningkatan pula pada
access to finance di negara tersebut (McKinnon, 1973; King dan Levine, 1993;
Odhiambo, 2008; Jeanneney dan Kpodar,2008).
Dalam pengaruh jumlah uang beredar dengan jumlah masyarakat miskin, menunjukan bahwa semakin tingginya nilai jumlah uang beredar ini di dalam suatu negara, maka mencerminkan bahwa perkembangan sektor keuangan negara tersebut semakin baik dan hal ini akan memberikan dampak terhadap penurunan jumlah masyarakat miskin (Jeanneney dan Kpodar, 2008). Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Odhiambo (2009) di Afrika Selatan. Hasil penelitian ini menemukan bahwa ketika jumlah uang beredar dalam suatu negara meningkat, maka tingkat konsumsi masyarakat per kapita akan meningkat dan memberikan dampak terhadap penurunan jumlah masyarakat miskin.
Hasil temuan yang berbeda didapat dalam penelitian Odhiambo (2010) dengan sampel negara Kenya. Ketika jumlah uang meningkat, maka akan meningkatkan jumlah masyarakat miskin. Hal ini dipengaruhi kuat dengan efek ketika jumlah uang beredar meningkat, maka inflasi cenderung akan terjadi.
2.5.3 Pengaruh Inflasi terhadap Kemiskinan
Inflasi yang terjadi dalam suatu negara akan berdampak negatif terhadap jumlah masyarakat miskin. Ketika terjadi inflasi, maka nilai uang yang ada akan menurun. Dengan menurunnya nilai uang, maka daya beli masyarakat secara otomatis akan ikut menurun. Daya beli yang melemah akan menciptakan masyarakat yang akhirnya tidak mampu memenuhi kebutuhan standar hidupnya.
Hasil ini ditemukan oleh Honohan pada tahun 2004.
Dalam penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Easterly dan Fisher (2012) juga memberikan hasil yang sama dimana inflasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan jumlah masyarakat miskin. Ketika tingkat inflasi meningkat, maka jumlah masyarakat miskin di negara tersebut akan meningkat.
Pada periode sebelumnya, Romer dan Romer (1998) telah menemukan hasil penelitian yang mengutarakan dimana meningkatnya inflasi akan membuat jumlah masyarakat miskin makin meningkat. Ketika inflasi meningkat maka akses untuk menggunakan instrumen keuangan sebagai alat meningkatkan kekayaan makin sulit dicapai oleh beberapa golongan masyarakat. Hal ini dikarenakan daya beli mereka
yang menurun membuat mereka menjadi makin miskin. Ketika mereka berada dalam keadaan miskin, mereka tidak dapat menggunakan instrumen keuangan secara optimal, sebab status miskin mereka membuat beberapa produk dan jasa keuangan tidak dapat dimanfaatkan.
2.5.4 Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kemiskinan
Jeanneney dan Kpodar pada tahun 2008 menemukan dimana dengan adanya pertumbuhan ekonomi, maka jumlah masyarakat miskin dapat menurun. Hal ini didukung dengan temuan dari Odhiambo (2009), dimana pertumbuhan ekonomi suatu negara mengartikan kemajuan ekonomi negara tersebut, dimana hal ini akan memberikan keuntungan dari sisi kemudahan dalam berkegiatan ekonomi kepada masyarakat miskin. Hasil yang sama persis juga terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh Inoue dan Hamori (2012). Dimana perkembangan keuangan secara tidak langsung memberi dampak terhadap penurunan jumlah masyarakat miskin melalui pertumbuhan ekonomi. Ketika perekonomian bertumbuh, maka hal ini dapat mengurangi pengangguran.
Di sisi lain, penelitian yang dilakukan oleh De Janvry dan Sadoulet (2000) terhadap negara Amerika Latin periode 1970-1994 mendapatkan hasil yang berbeda. Meskipun pertumbuhan ekonomi memberikan dampak penurunan pada jumlah masyarakat miskin pada beberapa golongan, namun dampak negatif memberikan efek yang lebih kuat terhadap jumlah masyarakat miskin pada negara- negara tersebut. Hal ini dikarenakan beberapa golongan tidak mendapat bagian dari peningkatan ekonomi yang terjadi.
2.6 Kerangka Berpikir
Gambar 2.3 Kerangka Pengukuran Pengaruh Perkembangan Sektor Keuangan, Inflasi, dan Pertumbuhan Ekonomi terhadap Proporsi Masyarakat Miskin
2.7 Hipotesa Penelitian
1. Perkembangan sektor keuangan (kredit dan jumlah uang beredar) berpengaruh signifikan terhadap proporsi masyarakat miskin di Indonesia periode 2003-2015.
2. Inflasi berpengaruh signifikan terhadap proporsi masyarakat miskin di Indonesia periode 2003-2015.
3. Pertumbuhan ekonomi berpengaruh signifikan terhadap proporsi masyarakat miskin di Indonesia periode 2003-2015.