Skripsi Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Fisika

87 

Teks penuh

(1)

PEMBELAJARAN FISIKA

DENGAN METODE DEMONSTRASI UNTUK

MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA

TENTANG GAYA LORENTZ

PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh :

Ida Andriyani Rahayuningsih 011424005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(2)

i

PEMBELAJARAN FISIKA

DENGAN METODE DEMONSTRASI UNTUK

MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA

TENTANG GAYA LORENTZ

PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS

Skripsi

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Fisika

Oleh :

Ida Andriyani Rahayuningsih 011424005

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(3)
(4)
(5)

iv

Halaman Motto dan Persembahan

“Apapun yang terjadi hadapi dengan senyuman dan maju terus pantang putus asa”

(6)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas "SKRIPSI" ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan dan dibuat di perguruan tinggi manapun kecuali kami mengambil atau mengutip data dari buku yang tertera pada daftar pustaka. Dan, sepengetahuan kami juga tidak terdapat karya tulis yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, sehingga karya tulis yang kami buat ini adalah asli karya penulis.

Yogyakarta, 30 Juli 2010 Penulis

(7)

vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswi Universitas Sanata Dharma:

nama : IDA ANDRIYANI R

Nomor Induk Mahasiswa : 011424005

demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul

PEMBELAJARAN FISIKA

DENGAN METODE DEMONSTRASI UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA

TENTANG GAYA LORENTZ PADA SEKOLAH MENENGAH ATAS

beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 30 Juli 2010

Yang menyatakan,

(8)

vii ABSTRAK

Penelitian tentang pembelajaran fisika dengan Metode Demonstrasi untuk meningkatkan pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan gaya Lorentz di SMA Negeri I Ngaglik Sleman Yogyakarta pada kelas XI IPA.

(9)

viii

ABSTRACT

A research of Physics learning process using Demonstrative method about student’s concept understanding on Lorentz force in SMA Negeri 1 Ngaglik, Sleman, Yogyakarta for grade XI IPA.

(10)

ix DAFTAR ISI

Halaman Judul……… i

Halaman Persetujuan Pembimbing ………. ii

Halaman Pengesahan………. iii

Persembahan……….. iv

Pernyataan Keaslian Karya……….. v

Abstrak……… vi

Abstract………... viii

Daftar Isi……….. ix

Kata Pengantar……… xi

Daftar Gambar……… xiii

Daftar Tabel………. xiv

BAB I. PENDAHULUAN………. 1

A. Latar Belakang Permasalahan………. 1

B. Perumusan Masalah……… 4

C. Tujuan Penelitian……… 4

D. Pembatasan Masalah………... 5

E. Manfaat Penelitian……….. 5

BAB II. DASAR TEORI……… 6

A. Hakikat Pembelajaran Fisika………. 6

B. Tujuan Pembelajaran Fisika……… 8

C. Macam–macam Metode Pembelajaran……… 10

D. Prestasi Belajar……… 10

E. Metode Demonstrasi……… 12

(11)

x

BAB III. METODE PENELITIAN………. 16

A. Jenis Penelitian……….. 16

B. Waktu Dan Tempat Penelitian………... 16

C. Subyek Penelitian……….. 16

D. Prosedur Pengambilan Data………... 17

E. Instrumen Penelitian………. 21

F. Analisis Data……….. 22

BAB IV. DATA DAN PEMBAHASAN………. 26

A. Pelaksanaan Penelitian……….. 26

B. Data Penelitian Dan Pembahasan………. 27

a. Data Penelitian Perbedaan Kelas……….. 27

b. Pengambilan Data Prestasi Belajar………... 30

BAB V. PENUTUP……….. 40

A. Kesimpulan……….. 40

B. Saran……… 40

DAFTAR PUSTAKA………. 42

(12)

xi

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karuniaNya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi ini adalah sebagian persyaratan untuk mencapai derajat sarjana S-1 program studi Pendidikan Fisika, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma.

Penulis dapat menyelesaikan Skripsi dengan judul “ Pembelajaran Fisika Dengan Metode Demonstrasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa tentang gaya Lorentz Pada Sekolah Menengah Atas” karena adanya bantuan dan kerjasama dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Drs. A. Atmadi, M.Si. selaku dosen pembimbing yang memberikan dorongan, semangat, saran dan kritikan serta membimbing penulis dalam penulisan skripsi ini.

2. Kepala sekolah SMA Negeri 1 Ngaglik Sleman Yogyakarta

3. Ibu Sri Setiyati, selaku guru bidang studi Fisika kelas X1 IPA SMA Negeri 1 Ngaglik Sleman Yogyakarta.

4. Drs. Domi Saverinus, M.Si, selaku Dosen Pembimbing Akademik.

5. Segenap dosen Pendidikan Fisika Universitas Sanata Dharma, yang telah membimbing penulis selama kuliah di Universitas Sanata Dharma.

6. Bapak dan Ibu tercinta untuk doa, dukungan, nasehat dan kasih sayangnya. 7. Suamiku dan putri kecilku “ARETA” yang selalu memberikan dukungan

(13)

xii

8. Adik-adikku yang selalu mendukung dan membantu terselesainya skripsi ini.

9. Semua rekan-rekan mahasiswa, sahabat dan teman-teman yang membantu terselesaikan skripsi ini.

10.Serta semua pihak yang telah membantu atas terselesainya Skripsi ini serta yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari dalam pembahasan masalah ini masih jauh dari sempurna, maka penulis terbuka untuk menerima kritik dan saran yang membangun.

Semoga naskah ini berguna bagi mahasiswa Pendidikan Fisika dan pembaca lainnya. Jika ada kesalahan dalam penulisan naskah ini penulis minta maaf yang sebesar-besarnya, terima kasih.

Yogyakarta, 30 Juli 2010 Penulis

(14)

xiii

DAFTAR GAMBAR

Hal Gambar 4.1. Grafik Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Kelas Kontrol………… 32

(15)

xiv

DAFTAR TABEL

Hal Tabel 4.1. Daftar Nilai Raport Semester Kelas XI IPA……… 27 Tabel 4.2. Daftar Nilai Kelas Kontrol Kelas XI IPA 1………. 31 Tabel 4.3. Daftar Nilai Kelas Penelitian Kelas XI IPA 2……….. 32 Tabel 4.4. Selisih Nilai Pos Test Dan Pre Test Pada kelas Kontrol maupun Pada

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan

Banyak siswa mempunyai pendapat bahwa pelajaran fisika

merupakan pelajaran yang sukar. Hal ini dikarenakan pembelajaran fisika

sering dilakukan secara tradisional yang didominasi oleh pemindahan

pengetahuan dari guru kepada siswa. Siswa tidak tertarik pada fisika, tidak

memiliki motivasi untuk belajar fisika dan akhirnya menutup diri pada

fisika.

Pelajaran fisika yang sukar dan tidak menyenangkan biasanya

dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berkaitan satu dengan yang lainnya,

seperti kurikulum, kemampuan dan sikap guru, sistem evaluasi, sikap

siswa terhadap fisika dan motivasi siswa dalam belajar fisika serta sarana

dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran fisika.

Proses pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang

kegiatannya didominasi oleh siswa. Yang ditekankan bukan bagaimana

guru mengajar, melainkan bagaimana guru menciptakan situasi,

merancang kegiatan, membimbing dan membantu siswa, sehingga siswa

terlibat dalam kegiatan belajar yang relevan dan berkesinambungan.

Pembelajaran yang seperti itulah yang secara terus menerus mengaktifkan

siswa. Pembelajaran berpusat pada siswa artinya siswa sebagai pelaku

utama atau subyek belajar, kegiatan didominasi oleh siswa, siswa

(17)

dalam menciptakan situasi belajar yang mendukung supaya kegiatan

pembelajaran berjalan dengan baik.

Reorientasi sistem pembelajaran baru yang lebih efektif dapat

dilakukan melalui berbagai macam metode dan pendekatan. Pendekatan

dan metode merupakan dua hal yang sering kita jumpai penggunaannya

secara bersamaan. Dalam prakteknya, penggunaan kedua kata ini

seringkali saling menggantikan meskipun memiliki pengertian yang

berbeda. Menurut Masofa (2008), pendekatan merupakan teori atau

asumsi. Metode adalah pengembangan yang lebih konkret dari teori

tersebut, berupa prosedur-prosedur berdasarkan teori tersebut di dalam

berbagai bentuk kegiatan kelas.

Untuk pembelajaran fisika, salah satu pendekatan yang efektif

adalah pendekatan penemuan yang disertai metode demonstrasi. Dengan

pendekatan penemuan yang disertai dengan metode demonstrasi, rasa

keingintahuan siswa dapat tersalurkan karena dengan pembelajaran dengan

pendekatan ini, guru menyajikan masalah kepada siswa dan meminta

mereka untuk memecahkan masalah tersebut malalui kegiatan penelitian

yang ditunjukkan dengan demonstrasi. Pendekatan dan metode ini dapat

menstimulasi siswa untuk lebih aktif dan kreatif berorientasi pada proses,

yaitu psoses untuk menangkap permasalahan yang diajukan oleh guru,

mengamati obyek yang diteliti dalam praktek demonstrasi, memunculkan

hipotesis, mempresentasikan hasil pengamatan mereka dan mengambil

(18)

Di dalam proses belajar mengajar sains diperlukan adanya suatu

rentetan proses gejala alam yang terjadi. Siswa dituntut untuk dapat

menjelaskan fenomena yang terjadi. Untuk dapat menjelaskan fenomena

tersebut diperlukan suatu urutan pertanyaan pembelajaran yang dapat

mengembangkan pola berfikir siswa. Oleh karena itu sentral pengajaran

sains adalah prosesnya (menekankan pada aspek proses), maka metode

mengajar yang memberikan peluang untuk terlaksannya pendekatan

keterampilan proses akan sangat berperan dalam membantu pola pikir dan

pemahaman siswa.

Metode mengajar yang mengutamakan pendekatan keterampilan

proses dalam proses belajar mengajar sains akan membuat sains lebih

menyenangkan dengan membentuk sikap meneliti di dalam diri siswa.

Pendekatan keterampilan proses akan mendorong kebiasaan berpikir

siswa, di mana siswa dibantu untuk menggagas pertanyaan-pertanyaan

yang muncul sebelum pembelajaran berlangsung. Dengan demikian dalam

diri siswa telah ditumbuhkembangkan sikap keilmuan.

Metode pembelajaran yang memungkinkan terlaksananya

pendekatan keterampilan proses salah satunya adalah metode demonstrasi.

Keterampilan proses dapat dikembangkan melalui pebelajaran sains

dengan berbantuan media, karena dengan adanya media siswa dirangsang

agar lebih berminat mencari pengetahuan dan melibatkan siswa secara

(19)

melakukan eksperimen, mengaplikasikan data dan mengaplikasikan

pengetahuan yang telah didapatkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Penerapan sistem pembelajaran dengan menerapkan pendekatan

dan metode yang kreatif dan inovatif diharapkan dapat memicu minat

siswa dalam aktifitas belajar yang tujuan akhirnya adalah meningkatkan

prestasi belajar siswa. Tujuan lain yang dapat dicapai dengan keberhasilan

pendekatan dan metode tersebut adalah terciptanya lingkungan belajar

yang kondusif dan berkualitas. Lingkungan belajar yang kondusif dan

berkualitas memberi pengaruh nyata bagi subyek didik, mengembangkan

potensi dan intelektualitasnya.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, perumusan masalahnya

adalah “Apakah pembelajaran fisika dengan metode demonstrasi pada

pokok bahasan gaya Lorentz dapat meningkatkan pemahaman konsep

siswa lebih baik daripada metode konvensional (ceramah)? “

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah mengetahui bagaimana pembelajaran

fisika dengan metode demonstrasi pada pokok bahasan gaya Lorentz ini

berpengaruh terhadap peningkatan pemahaman konsep siswa

(20)

D. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini penulis hanya akan membatasi pada

pembelajaran fisika dengan metode demonstrasi untuk meningkatkan

pemahaman konsep siswa pada pokok bahasan gaya Lorentz.

E. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah menambah pengetahuan dan

wawasan bagi guru dan calon guru fisika tentang pembelajaran sains yang

menekankan aspek proses dengan metode demonstrasi dan juga

menambah pembendaharaan guru dan calon guru fisika bahwa

pembelajaran sains dengan metode demonstrasi yang dipandu dengan

(21)

6 BAB II DASAR TEORI A. Hakikat Pembelajaran Fisika

Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses interaksi antara

peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku

ke arah yang lebih baik (Mulyasa, 2002: 100). Proses pembelajaran akan

senantiasa merupakan proses interaksi antara dua unsur manusiawi, yaitu

siswa sebagai pihak yang belajar dan guru sebagai pihak yang mengajar

(Sardiman A. M, 1986: 14).

Komponen pendukung dalam proses interaksi antara siswa dan

guru adalah sebagai berikut:

a. Interaksi pembelajaran memiliki tujuan, yaitu untuk membantu siswa

dalam suatu perkembangan tertentu.

b. Ada suatu prosedur (cara interaksi) yang direncana, didesain untuk

mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

c. Interaksi pembelajaran ditandai dengan aktivitas siswa, baik secara

fisik maupun mental karena siswa merupakan subyek pembelajaran,

maka aktivitas siswa merupakan syarat mutlak bagi berlangsungnya

interaksi proses pembelajaran.

d. Dalam interaksi pembelajaran, guru berperan sebagai pembimbing.

Dalam peranannya sebagai pembimbing ini guru harus dapat

(22)

e. Dalam interaksi pembelajaran diperlukan adanya batas waktu tertentu

dalam usaha pencapaian tujuan pembelajaran.

Selama melakukan kegiatan dalam pembelajaran perlu

ditumbuh-kembangkan kemampuan-kemampuan dalam menggunakan keterampilan

proses seperti mengajukan pertanyaan, menduga pertanyaan, merancang

penyelidikan, melakukan percobaan, mengelola dan merubah data,

mengevaluasi hasil dan mengkomunikasikan temuannya kepada beragam

orang dengan berbagai cara yang dapat memberi pemahaman dengan baik

( Balitbang, 2002: 1-2).

Kegiatan pembelajaran dapat diartikan sebagai menciptakan

situasi, kondisi, dan kemudahan, memberikan pengarahan dan bimbingan

yang mengantar siswa melakukan sederetan proses secara

berkesinambungan untuk membangun sendiri konsep dan mendefinisikan

(Kartika Budi, 1998: 169).

Menurut Elis dalam Kartika Budi (2001), efektifitas suatu

pembelajaran mengacu pada proses dan hasil. Pembelajaran dikatakan

berhasil jika dengan pembelajaran tersebut dapat menghasilkan siswa

dengan prestasi akademik tinggi. Keberhasilan pembelajaran dapat dilihat

dari hasil belajar siswa, yaitu banyaknya siswa yang berhasil dan kualitas

keberhasilannya.

Salah satu cabang dari Ilmu Pengetahuan Alam atau Sains adalah

(23)

Kartika Budi (1991: 8), sains adalah suatu bangunan pengetahuan (body of

knowlage) dan proses keillmuan (scientific process); Sains adalah

serangkaian konsep-konsep dan skema konsep-konsep yang saling terkait

yang dikembangkan sebagai hasil dari eksperimen dan observasi serta

berguna untuk eksperiment selanjutnya. Di sisi lain menurut Conant yang

dikutip oleh Kartika Budi (1991: 8), obyek dari IPA (Sains) adalah

mengkoordinasi pengalaman–pengalaman kita dan menyusunnya dalam

suatu sistem yang logis. Menurut Cambell (sebagai mana dikutip oleh

Kartika Budi, 1998: 161), sains adalah pengetahuan (knowlage) yang

bermanfaat dan praktis serta cara atau metode untuk memperolehnya.

Dari beberapa pengertian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa

sains merupakan suatu pengetahuan sebagai hasil dari eksperimen yang

dipelajari melalui interaksi dengan alam dengan menggunakan proses

keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Sains

berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis

sehingga sains bukan penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa

fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prinsip saja, tetapi juga merupakan

proses penemuan (Depdiknas, 2003: 1).

B. Tujuan Pembelajaran Fisika

Tujuan pembelajaran fisika harus meliputi tiga aspek yaitu

pengetahuan, proses dan sikap. Dari aspek pengetahuan tujuan

pembelajaran fisika adalah agar siswa mampu menguasai konsep-konsep

(24)

fisika adalah agar siswa memiliki ketrampilan proses dalam menemukan

pengetahuan (Fakta dan Konsep); sedangkan dari aspek sikap tujuan

pembelajaran fisika adalah agar siswa mempunyai sikap keilmuan untuk

memecahkan masalah yang dihadapi.

Pembelajaran fisika di sekolah diharapkan dapat memberikan

berbagai pengalaman pada siswa dengan mengijinkan siswa melakukan

berbagai penelusuran ilmiah yang relevan. Pembelajaran sains diharapkan

membimbing dan melatih siswa melakukan proses kegiatan ilmiah, secara

rasional dan empiris melakukan penyelidikan tentang hal-hal yang

dihadapi. Lewat penyelidikan dan mungkin dengan percobaan-percobaan

siswa diharapkan mampu mamahami serta merumuskan pengetahuannya.

Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh siswa merupakan hasil dari

proses kegiatan ilmiah yang dilakukan dan bukan hanya sekedar dihafal.

Tujuan utama pembelajaran sains adalah untuk mengembangkan

cara berpikir siswa dan untuk mengembangkan skill siswa dalam proses

keilmuan seperti pengumpulan data, analisis, pengajuan hipotesis dan

eksperimen. Hal tersebut sejalan dengan hakikat sains, yang dicapai

melalui pembelajaran sains yang harus dapat mengembangkan pemahaman

siswa tentang alam, mengembangkan keterampilan-keterampilan yang

diperlukan untuk memperoleh atau mengolah pengetahuan baru dan

(25)

C. Macam-macam Metode Pembelajaran

Metodologi mengajar adalah ilmu yang mempelajari cara-cara

untuk melakukan aktifitas yang sistematis dari sebuah lingkungan yang

terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling berinteraksi dalam

melakukan kegiatan sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan

baik dalam arti tujuan pengajaran tercapai. Agar tujuan pengajaran

tercapai sesuai yang telah dirumuskan oleh pendidik, maka perlu

mengetahui, mempelajari beberapa metode mengajar serta dipraktekkan

pada saat mengajar. Terdapat beberapa jenis metode pembelajaran, antara

lain:

a. Metode ceramah

b. Metode diskusi

c. Metode demonstrasi

d. Metode percobaan

e. Metode karya wisata

f. Metode penemuan ( discovery), dll.

D. Prestasi belajar

Prestasi merupakan hasil yang dicapai setelah seseorang atau siswa

melakukan kegiatan. Seseorang anak dikatakan memiliki prestasi yang

tinggi jika hasil evaluasi yang didapat adalah tinggi, begitu sebaliknya

(26)

evaluasi adalah rendah (Arikunto; 2001: 32). Sementara menurut Oemar

Hamalik (1982: 28), prestasi adalah hasil yang diperoleh dari hasil

kegiatan belajar, yaitu dari belum mengerti menjadi mengerti.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 45), dituliskan

bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari yang telah dilakukan.

Sedangkan menurut Tabrani dan Rusyan (1989: 8), prestasi belajar

merupakan tingkat atau besarnya perubahan tigkah laku yang dicapai dari

suatu pengalaman yang mengarah pada penguasaan pengetahuan,

kecakapan dan kebiasaan. Jadi, belajar saja tidak cukup, harus diiringi

dengan pengalaman. Pengalaman lebih mudah dipahami, untuk mencapai

penguasaan dan kecakapan dalam belajar. Dengan demikian dapat

dikatakan bahwa prestasi belajar diperoleh siswa setelah mengalami proses

belajar fisika.

Usaha mengevaluasi hasil belajar biasanya dilakukan dengan

mengadakan pengukuran dalam bentuk ujian tertulis, lisan, maupun

praktik yang kemudian diberi skor, yang biasanya berwujud angka. Skor

adalah angka yang menyatakan tingkat kebenaran jawaban siswa dalam

ujian atau tes. Hasil pengukuran ini merupakan data yang diwujudkan

dalam bentuk angka-angka, atau yang disebut nilai. Nilai adalah simbol

yang digunakan untuk menyatakan peringkat keberhasilan siswa selama

(27)

E. Metode Demonstrasi

Metode demonstrasi adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran

dengan mempertunjukkan secara langsung obyeknya, atau cara melakukan

sesuatu atau mempertunjukkan prosesnya (Jusuf, 1982: 93).

Dalam pembelajaran fisika, metode demonstrasi tidak hanya

dipergunakan untuk mempelihatkan sesuatu untuk dilihat, melainkan

banyak dipergunakan untuk mengembangkan suatu pengertian,

mengemukakan suatu masalah, memperlihatkan penerapan suatu prinsip,

menguji kebenaran suatu hukum dan untuk memperkuat suatu pengertian.

Metode demonstrasi dapat diterapkan untuk mencapai tujuan: 1)

menyelaraskan suatu konsep tertentu: 2) mengatasi suatu miskonsepsi atau

kesenjangan pemahaman; 3) membantu memahami penyelesaian suatu

persamaan; dsb.

Demonstrasi tidak harus selalu dilakukan oleh guru. Terkadang

dalam hal yang mudah dan tidak memerlukan suatu ketrampilan yang

tinggi, demonstrasi dapat dilakukan oleh siswa. Hal tersebut dimaksudkan

agar siswa menjalani proses keilmuan dan akhirnya memiliki sikap dan

nilai nilai keilmuan.

Demonstrasi yang dirancang, dipersiapkan, dan dilaksanakan

dengan baik, memberi peluang yang besar akan terlaksananya pendekatan

(28)

sebagai variasi kegiatan dan metode pembelajaran sehingga mengurangi

kebosanan siswa (Kartika Budi, 1991: 11).

Tujuan dan manfaat demonstrasi adalah sbb :

1) Demonstrasi memberikan gambaran dan penertian yang

lebih jelas daripada hanya penjelasan lisan.

2) Demonstrasi memberri kesempatan kepada siswa untuk

melakukan pengamatan secara cermat.

3) Menghindari adanya verbalisme karena dalam metode

ini setelah anak melihat peragaan kemudian siswa

sendiri bisa mencoba melakukannya.

4) Dalam metode ini anak lebih dapat berfikir karena

dengan melihat sesuatu maka siswa akan memikirkan

apa yang telah mereka lihat.

Langkah- langkah pelaksanaan demonstrasi:

1) Mempersiapkan langkah-langkah yang akan didemonstrsi

sehingga dapat dikuasai sepenuhnya.

2) Lakukan sendiri langkah tersebut sebelum didemonstrasikan di

muka kelas.

3) Catatlah kerangka garis besar yang akan didemonstrasikan

(29)

4) Pelaksanaan demonstrasi dengan mengusahakan agar semua

siswa dapat mengikuti dengan baik.

5) Suruh salah satu atau beberapa orang siswa untuk mencoba

melakukannya.

6) Siswa disuruh merumuskan hasil pengamatan.

7) Melakukan tanya jawab mengenai hasil demonstrasi,

kesimpulan dan penjelasannya.

8) Kemudian melakukan diskusi dan penjelasan secara lengkap.

9) Siswa diberi evaluasi berupa soal atau pertanyaan.

Demonstrasi yang dipandu pertanyaan akan sangat membantu

mengungkap pemahaman siswa. Untuk itulah perlu dibahas pentingnya

bertanya dalam demonstrasi dan pemilihan pertanyaan dalam demonstrasi

F. Pemahaman Konsep

Salah satu tujuan pembelajaran di sekolah adalah agar siswa

memiliki kemampuan untuk memahami hal yang dipelajari. Pemahaman

adalah suatu bentuk pengertian yang menyebabkan seseorang mengetahui

apa yang sedang dibicarakan. Seseorang dikatakan memahami apabila dia

dapat menjelaskan suatu situasi, menafsirkan grafik, mengubah hukum

kedalam persamaan matematis, mengubah persamaan matematis kedalam

(30)

Fisika pada hakekatnya merupakan akumulasi hasil keilmuan

berupa konsep-konsep fisika, prinsip, hukum dan teori yang diperoleh

melalui proses keilmuan dan sikap keilmuan. Dengan demikian

memfasilitasi siswa, dapat diartikan sebagai memfasilitasi proses siswa

membangun konsep, hukum, teori. Bila hal ini dilakukan, maka tujuan

yang harus dicapai siswa dalam belajar fisika supaya dapat memahami

konsep adalah dengan melakukan proses keilmuan dan memiliki sikap

keilmuan yang diperlukan dalam melakukan proses tersebut. (Kartika

Budi, 1992: 133). Proses pembelajaran fisika yang benar haruslah

mengembangkan perubahan konsep. Pemahaman konsep merupakan dasar

dari pemahaman prinsip dan teori, artinya untuk memahami prinsip dan

teori haruslah dipahami terlebih dahulu konsep-konsep yang menyusun

prinsip dan teori yang bersangkutan. Berdasarkan hal ini pemahaman

konsep memegang peranan penting dalam kegiatan belajar mengajar agar

dapat dimengerti dan diterima sejauh tidak mengabaikan aspek-aspek

lainnya. Pemahaman merupakan aspek kognitif, karena berhubungan

(31)

16 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan dilakukan ini bersifat kuantitatif yaitu

suatu usaha untuk mengumpulkan, menyusun, menginterprestasikan data

yang ada kemudian menganalisis data tersebut, menggambarkan dan

menelaah secara lebih jelas dari berbagai faktor yang berkaitan dengan

keadaan situasi dan fenomena yang diselidiki. Dalam hal ini penulis

mencari fakta dan data untuk mengetahui efektifitas peningkatan

pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran dengan metode

demonstrasi pada pokok bahasan gaya Lorentz.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Menengah Atas Negeri I

Ngaglik Sleman Yogyakarta, pada bulan April 2010.

C. Subyek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa SMA kelas X1 IPA . Dari tiga

kelas kelas yang ada, dipilih dua kelas sebagai sampel, yaitu kelas X1

IPA2 sebagai kelas penelitian dan kelas X1 IPA1 sebagai kelas kontrol.

Kedua kelas itu dipilih berdasarkan nilai raport fisika yang tidak ada

perbedaan berarti semester satu yang diampu oleh guru yang sama. Tidak

(32)

terhadap nilai tersebut yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang

signifikan diantara kedua kelas itu.

D. Prosedur Pengambilan Data

Pengambilan data dilakukan pada masing-masing kelas, yaitu pada

kelas penelitian yang diajar dengan pendekatan metode demonstrasi dan

pada kelas kontrol yang diajar dengan pendekatan metode ceramah

(konvensional). Secara umum prosedur penelitian ini mencakup tiga

tahapan yaitu:

a) Pre test pada setiap kelas

Pada pertemuan awal, siswa pada masing-masing kelas yang

diteliti diberikan pengarahan singkat mengenai pokok bahasan

yang akan diajarkan. Pengarahan tersebut berupa deskripsi

mengenai pokok bahasan gaya Lorentz. Setelah itu, dilaksanakan

tes kemampuan awal siswa pada masing-masing kelas. Pre test

diberikan dengan soal yang sama untuk setiap kelas.

b) Pembelajaran pada setiap kelas

1) Langkah-langkah pembalajaran kelas penelitian

1. Kegiatan pendahuluan

Kegiatan pendahuluan pada kelas ini yaitu: peneliti

memberitahukan tentang pokok bahasan yang akan

(33)

2. Kegiatan inti

Dalam tahap ini peneliti melaksanakan langkah-langkah

pembelajaran untuk diterapkan dalam kelas. Kegiatan

pembelajaran dalam penelitian ini dilaksanakan dengan

mengikuti prosedur sebagai berikut:

a. Memusatkan perhatian siswa.

Peneliti yang bertindak sebagai guru menarik dan

memusatkan perhatian siswa dengan memberikan

contoh-contoh kejadian dalam kehidupan sehari-hari

yang pernah ditemui atau dialami oleh siswa sesuai

dengan pokok bahasan. Contoh-contoh dan

penggalian kembali fenomena-fenomena yang

pernah ditemui tersebut dijadikan dasar dan modal

untuk memasuki topik bahasan yang direncanakan.

b. Memunculkan pertanyaan-pertanyaan.

Dengan pengalaman dan pengetahuan dasar yang

telah dimiliki oleh siswa, peneliti mencoba

menstimulasi perhatian dan minat siswa dengan

mengajukan pertanyaan dan permasalahan yang

dapat memancing rasa keingintahuan mereka untuk

mengadakan pembelajaran dan penelitian lebih

(34)

c. Memberikan motivasi

Motivasi dirumuskan sebagai dorongan, baik

diakibatkan faktor dari dalam maupun luar siswa,

untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi atau

memuaskan suatu kebutuhan. Dari kedua tahap di

atas, guru dapat melihat tanggapan siswa terhadap

topik bahasan yang akan dipelajari. Kemudian

peneliti memberikan motivasi kepada siswa untuk

mengadakan penyelidikan lebih lanjut mengenai

pertanyaan-pertanyaan dan

permasalahan-permasalahan yang muncul dari pembelajaran

singkat. Sebisa mungkin diberikan motivasi kepada

siswa untuk terlibat aktif dan kreatif untuk

mengembangkan kemampuan kognitifnya.

d. Pengelolaan kelas.

Siwa yang kelasnya dijadikan sebagai kelompok

penelitian diajarkan dengan metode demonstrasi

e. Pendahuluan pembelajaran

Pendahuluan pembelajaran diselenggarakan dengan

memberikan penjelasan skenario pembelajaran,

penjelasan tujuan pembelajaran, pelaksanaan pre

test untuk mencari gambaran tertentu pemahaman

(35)

f. Pelaksanaan pembelajaran

Siswa diminta untuk mengikuti kegiatan

pembelajaran sesuai alur yang telah ditentukan

dalam rencana pembelajaran yaitu dengan

mengamati dan melakukan observasi pada

demonstrasi yang dilaksanakan tentang gaya

Lorentz.

3. Kegiatan penutup

Kegiatan penutup adalah kegiatan akhir dari suatu

proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan

siswa untuk merangkumseluruh materi, serta untuk

memberikan evaluasi berupa tanya jawab lisan dan

pemberian pertanyaan dalam bentuk soal.

2) Langkah-langkah pembelajaran kelas kontrol

Pada kelas kontrol langkah-langkah pembelajaran yang

diterapkan adalah pembelajaran biasa dengan metode

ceramah, dimana guru lebih dominan dalam proses belajar

mengajar. Berikut prosedur pembelajaran yang diberikan

bagi kelas kontrol:

1. Kegiatan pendahuluan

Sebelum melaksanakan proses pengajaran, terlebih

dahulu guru menyusun dan mempersiapkan materi yang

(36)

2. Kegiatan inti

a. Guru berbicara di depan kelas untuk menyampaikan

materi bahan ajar kepada siswa dengan bantuan

papan tulis sebagai media untuk menjelaskan

materi.

b. Penjelasan mengenai teori-teori yang ada dengan

memberikan sedikit contoh soal kepada siswa.

3. Kegiatan penutup

Kegiatan penutup adalah kegiatan dari suatu proses

pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk

merangkum yang sudah diterangkan dan memberikan

evaluasi berupa pertanyaan lisan.

c) Pos test pada setiap kelas

Pada kegiatan akhir dari pembelajaran, peneliti merangkum

seluruh rangkaian kegiatan, serta memberikan pos test sebagai

akhir dari kegiatan pembelajaran.

E. Instrumen penelitian

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui prestasi belajar

fisika bagi siswa yang diajar melalui pendekatan penemuan dengan

metode demonstrasi dan prestasi belajar fisika bagi siswa yang diajar

dengan pendekatan konvensinal (metode ceramah).

Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah

(37)

penguasaan pemahaman konsep baik sebelum maupun sesudah

pembelajaran.

F. Analisis Data

a) Teknik pengumpulan data

Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan

melalui:

1. Tes tertulis sebelum pembelajaran ( pre test)

2. Tes tertulis setelah pembelajaran ( pos test)

b) Metode analisis data

Pada penelitian ini, data hasil belajar siswa dianalisis secara

kuantitatif. Analisis uji beda (uji t) digunakan untuk menguji

keberhasilan perlakuan pendekatan penemuan terhadap pre test

belajar. Untuk mengetahui pengaruh pembelajaran dengan

pendekatan penemuan dengan metode demonstrasi yang telah

dilakukan, penulis melakukan pengujian terhadap prestasi belajar

dari kelas kontrol dan kelas penelitian. Prestasi belajar diukur

dari hasil pos test dan pre test dari kelas kontrol dan kelompok

penelitian.

Prestasi belajar siswa :

a) Hipotesis

Dengan parameter selisih nilai pos test dan pre test (∆X)

(38)

apakah terdapat perbedaan prestasi belajar di antara kedua

kelas, hipotesis pengujian dapat diberikan sebagai berikut:

Ho : tidak terdapat perbedaan selisih nilai pos test dan

pre test antara kelas kontrol dan kelas penelitian

H1 : terdapat perbedaan selisih nilai pos test dan pre

test antara kelas kontrol dan kelas penelitian

b) Data

Untuk menentukan kelas kontrol dan kelas penelitian

bahwa tidak terdapat perbedaan nilai raport yang signifikan

dapat dirangkum dalam tabel sebagai berikut.

Tabel 3.1. Tabel daftar nilai kelas sesuai nilai fisika raport

semester

Siswa Nilai A B

Jumlah (∆X)

Hasil jawaban pre test dan pos test siswa yang sudah

diperoleh, dirangkum seperti pada tabel dibawah ini.

Tabel. 3.2 . Selisih nilai pre test dan pos test

Siswa Nilai Selisih Nilai

Pos test – Pre test Pre test (X1) Pos test (X2)

A

B

(39)

Dari tabel diatas selanjutnya, hasil belajar ini digunakan

pula untuk membandingkan prestasi belajar kelas penelitian

dan kelas kontrol.

Tabel. 3.3 . Selisih nilai pre test dan pos test pada kelas

kontrol dan kelas penelitian.

Siswa Nilai pre test dan pos test pada kelas

Kontrol (∆Xk) Penelitian (∆Xp)

A B C

c) Pengujian data

Dari data pada tabel 3.2, selanjutnya dilakukan analisa

mengenai perbedaan prestasi belajar siswa pada kelas

kontrol dengan kelas penelitian. Statistika uji yang

digunakan yaitu :

(40)

(

)

∆ = Rata–rata selisih nilai pos test dan pre test pada

kelas kontrol.

p

X

∆ = Rata–rata selisih nilai pos test dan pre test pada

kelas penelitian.

nk = Jumlah siswa kelas kontrol.

np = Jumlah siswa kelas penelitian.

S

k

2

= Fariansi selisih nilai test siswa kelas kontrol.

S

p

2

= Fariansi selisih nilai test siswa kelas penelitian.

Pengambilan keputusan yang diberikan yaitu bahwa

Ho diterima jika thitung < ttabel , dan Ho ditolak jika thitung >

ttabel , dengan db = ( nk + np – 2). Apabila Ho diterima maka

tidak terdapat perbedaan selisih nilai pos test dan pre test

antara kelas kontrol dan kelas penelitian. Sebaliknya, jika

Ho ditolak maka terdapat perbedaan selisih nilai pos test

(41)

26 BAB IV

DATA DAN PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas X1 IPA 1 dan X1 IPA 2 SMA

Negeri 1 Ngaglik Sleman Yagyakarta, pada bulan April 2010, pada saat jam

pelajaran fisika berlangsung. Penelitian ini diawali dengan sedikit penjelasan

tentang peneltian pembelajaran dengan metode ceramah dan dengan metode

demonstrasi. Pada kelas X1 IPA 1 diajarkan dengan metode pembelajaran

ceramah dan X1 IPA 2 dengan metode demonstasi. Kedua kelas dari tiga kelas

yang ada, dipilih berdasarkan atas nilai raport fisika semester satu yangyang

berdasarkan uji t tidak menunjukkan perbedaan berarti. Kedua kelas tersebut

diberi pre test pada awal sebelum pembelajaran berlangsung dan pos test setelah

diberikan pelajaran mengenai pokok bahasan gaya Lorentz. Pre test diberikan

bertujuan untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang gaya Lorentz. Dalam

proses pembelajaran ini siswa dapat mengikuti dengan baik walaupun ada

beberapa yang kurang memperhatikan. Pembelajaran dengan metode ceramah

berlangsung selama dua jam pelajaran begitu juga untuk yang dengan metode

demonstrasi. Pada masing-masing akhir pembelajaran dilakukan pos test yang

bertujuan untuk mengetahui apakah terjadi peningkatan pemahaman setelah

proses pembelajaran tentang pokok bahasan gaya Lorentz. Dengan adanya pre test

dan pos test pada masing-masing kelas dapat diperoleh nilai yang berupa skor atau

(42)

B. Data Penelitian dan Pembahasan.

a. Data Penelitian Perbedaan Kelas

Subyek penelitian ini adalah kelas X1 IPA. Dari tiga kelas yang ada dipilih

diambil dua kelas sebagai sampel penelitian yaitu kelas X1 IPA 1 sebagai kelas

kontol dan X1 IPA 2 sebagai kelas penelitian. Kedua kelas tersebut dipilih

berdasarkan nilai raport fisika selama satu semester tahun ajaran 2009/2010 yang

diampu oleh guru yang sama. Daftar nilai raport kelas kontrol maupun kelas

penelitian tersebut dapat dilihat sebagai berikut:

Tabel 4.1 Daftar nilai raport semester Kelas X1 IPA

No Siswa

(43)

Tabel 4.1 Daftar nilai raport semester Kelas X1 IPA (Lanjutan)

No Siswa Nilai Raport

Kelas X1 Ipa 1 Kelas X1 Ipa 2

Dengan tidak adanya perbedaan di kedua kelas tersebut dapat ditunjukkan

melalui hasil nilai uji terhadap nilai semester pelajaran fisika yang menunjukkan

bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada kedua kelas tersebut. Uji t nilai

raport kedua kelas tersebut sebagai berikut:

(44)
(45)

Sehingga :

artinya ragam kedua kelompok kelas adalah sama.

b. Pengambilan data prestasi belajar

Untuk menilai seberapa jauh hasil belajar siswa dalam suatu proses

pembelajaran, prestasi belajar merupakan salah satu indikatornya. Dari hasil

penelitian pada siswa kelas X1 IPA SMA negeri 1 Ngaglik Sleman, dapat

diperoleh nilai tes yang menunjukkan prestasi belajar siswa dari hasil

pembelajaran. Prestasi belajar diukur dari hasil pre test dan pos test dari kelas

kontrol dan kelas penelitian. Untuk tabel nilai prestasi belajar siswa dari kelas

(46)

Tabel. 4.2. Daftar nilai kelas kontrol kelas X1 IPA 1

No Siswa

Kelas Kontrol (A) Selisih Nilai Pos Test – Pre

Test Nilai Tes Prestasi

Pre Test Pos Test

Dari daftar nilai kelas kontrol di atas terlihat sebagian besar mengalami kenaikan

(47)

0,0

Siswa Kelas Kontrol

N

Sebaran nilai pre test dan pos test dari hasil tes prestasi pada kelas kontrol

secara umum dapat digambarkan seperti pada gambar grafik 4.2. Pada grafik

tersebut terlihat bahwa sebagian besar siswa pada kelas kontrol memiliki ke

naikan nilai prestasi.

Gambar 4.1. Grafik nilai prestasi belajar siswa kontrol

Sedangkan untuk prestasi belajar siswa pada kelas penelitian diperoleh

hasil sebagi berikut:

Tabel. 4.3. Daftar nilai kelas penelitian kelas X1 IPA 2

No Siswa

Kelas Penelitian (B) Selisih Nilai Pos Test – Pre

Test Nilai Tes Prestasi

(48)

Tabel. 4.3. Daftar nilai kelas penelitian kelas X1 IPA 2 (Lanjutan)

No Siswa

Kelas Penelitian (B) Selisih Nilai Pos Test – Pre

Test Nilai Tes Prestasi

Pre Test Pos Test

8 7,5 8,0 0,5

9 5,0 5,5 0,5

10 5,5 8,0 2,5

11 6,0 7,5 1,5

12 5,0 6,5 1,5

13 7,0 7,5 0,5

14 6,0 8,5 2,5

15 6,0 6,5 0,5

16 7,0 7,5 0,5

17 6,0 8,0 2,0

18 6,0 7,0 1,0

19 7,0 8,0 1,0

20 7,0 7,0 0,0

21 7,5 8,0 0,5

22 6,0 7,0 1,0

23 6,0 6,5 0,5

Rata-rata 6,22 7,30 1,09

Untuk nilai pre test dan pos test dari hasil tes prestasi pada kelas penelitian

secara umum dapat digambarkan seperti pada gambar grafik 4.3. Pada grafik

tersebut terlihat bahwa sebagian besar siswa pada kelas penelitian memiliki

kenaikan nilai prestasi. Kenaikan nilai tes prestasi pada kelas penelitian lebih

merata pada setiap siswa, selain itu peningkatan yang besar juga lebih banyak

(49)

0,0

Siswa Kelas Penelitian

N

Gambar 4.3. Grafik nilai Tes prestasi Belajar siswa kelas penelitian.

Hasil tes prestasi yang telah dilakukan oleh siswa pada kelas kontrol dan

kelas penelitian selanjutnya dihitung selisih antara nilai pos test dan nilai pre test.

Hal ini dilakukan sebagai langkah dalam menganalisis apakah terdapat perbedaan

pada prestasi belajar antara kedua kelas, yaitu untuk kelas kontrol yang diajarkan

dengan metode ceramah serta kelas penelitian yang diajarkan dengan memberikan

pendekatan metode demonstrasi pada mata pelajaran fisika dengan materi gaya

Lorentz. Selisih nilai pos test dan pre test pada kedua kelas dapat dilihat pada

tabel 4.4 berikut.

Tabel 4.4 Selisih nilai pos test dan pre test pada kelas kontrol maupun

pada kelas penelitian

No Siswa

Selisih Nilai Pos Test-Pre Test Kelas Kontrol

(A)

(50)

Tabel 4.4 Selisih nilai pos test dan pre test pada kelas kontrol

maupun pada kelas penelitian (Lanjutan)

No Siswa

Selisih Nilai Pos Test-Pre Test Kelas Kontrol

(A)

Kelas Penelitian (B)

Dari tabel 4.4 di atas dapat dilihat bahwa rata-rata selisih nilai pos tes dan

pre test untuk kelas kontrol dan kelas penelitian, masing-masing adalah 0,80 dan

1,09. Untuk menguji sejuah mana pengaruh peningkatan pemahaman dengan

perlakuan pendekatan metode demonstrasi yang diberikan pada kelas penelitian

dalam pembelajaran fisika terhadap prestasi belajar siswa, digunakan uji t pada

(51)

Analisis uji t yang digunakan untuk menguji keberhasilan perlakuan

dengan pendekatan demonstrasi terhadap nilai pre test dan nilai pos test kelas

kontrol dan kelas penelitian adalah sebagai berikut:

(52)
(53)

Terlihat bahwa thitung > ttabel, sehingga rata- rata selisih nilai pada kedua

kelas itu adalah berbeda. Dengan kata lain Ho ditolak maka terdapat perbedaan

selisih nilai pos test dan pre test antara kelas kontrol dan kelas penelitian.

Dari tabel 4.4 di atas setelah dilakukan pengujian diperoleh thitung = 5,47

(tabel 4.2). Harga ini jauh lebih besar dari ttabel ( α = 0,05; db= 44) yaitu 2,021.

Selain nilai t, nilai signifikan diperoleh sebesar 0,238 atau lebih besar dari α =

0,05. dengan demikian, keputusan yang dapat diambil adalah menolak Ho dan

menerima Hi sehingga dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar siswa pada

pelajaran fisika pada pokok bahasan gaya Lorentz di kelas penelitian berbeda

(lebih baik) dengan kelas kontrol.

Dari penghitunan uji t ( analisis uji beda ) di atas bisa dirangkum sebagai

berikut:

Tabel 4.5. Ringkasan Hasil Statistik

Statistik Kelas kontrol Kelas penelitian

n 23 23

Rata-rata 0,80 1,09

SD 0,73 0,86

S2 0,026 0,049

S2 gabungan 0,037

thitung 5,47

ttabel 2,021

Sedangkan ringkasan hasil analisis baik kelas kontrol maupun kelas

(54)

Tabel 4.6. Ringkasan Hasil Analisis Tes Prestasi

Kelas

Jumlah

Siswa

Rata rata

Pre test

Rata rata

Pos Test

Rata rata

Selisih

tHitung tTabel Sign

Kontrol 23 5,98 6,78 0,80 5,47 2,021 0,238

Penelitian 23 6,22 7,30 1,09

Sehingga dengan semua penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini, yang

ditujukkan dengan uji t tersebut bahwa pembelajaran kelas penelitian dengan

metode demonstrasi ini terlihat meningkatkan pemahaman konsep siswa pada

pokok bahasan gaya Lorentz dengan lebih baik dibandingkan pembelajaran kelas

kontrol dengan metode ceramah walaupun pada kelas kontrol juga mengalami

(55)

40 BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, maka dapat

diperoleh kesimpulan bahwa perlakuan pendekatan metode demonstrasi yang

diberikan pada pembelajaran fisika mempunyai pengaruh yang berarti terhadap

hasil belajar siswa kelas X1 IPA SMAN 1 NGAGLIK Sleman Yogyakarta, yaitu

ada peningkatan hasil belajar pada kelas yang memperoleh pembelajaran dengan

pendekatan metode demonstrasi walaupun pada kelas yang dipilih sebagai sampel

tidak ada perbedaan yang besar berdasarkan nilai raport semester satu. Dengan

kata lain bahwa pembelajaran fisika dengan pendekatan metode demonstrasi lebih

terlihat peningkatan pemahaman konsep siswa dibandingkan dengan metode

ceramah pada kelas kontrol. Walaupun untuk kelas kontrol juga mengalami

kenaikan pada nilai rata-rata tetapi untuk kelas penelitian mempunyai kenaikan

nilai rata-rata lebih tinggi yaitu 1,09 dibanding kelas kontrol yaitu hanya 0,80.

B. Saran

Dengan segala keterbatasannya maka dari hasil penelitian ini dikemukakan

saran sebagai berikut:

1. Penggunaan pendekatan metode demonstrasi harus dilakukan

dengan hati-hati dan teliti, pengelolaan kelas dan waktu harus

(56)

2. Perlu adanya pembahasan antara guru dan siswa ataupun sesama

guru agar lebih bermakna dan terkontrol proses pembelajaran.

3. Perlu adanya kreatifitas guru untuk meningkatkan kualitas layanan

guru dalam pembelajaran dengan pendekatan metode demonstrasi

(57)

42

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2001. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Budi Aksara

Balitbang Depdiknas, Pusat kurikulum. 2002. Kurikulum Berbasisi Kompetensi (kegiatan Belajar Mengajar). Jakarta Pusat.

Budi Kartika, Fr.Y. (1991). Sikap Siswa Jurusan A1 da A2 Sekolah Menengah Atas De Brito dan Stama terhadap Pendekatan Ketrampilan Proses Dengan Metode Demonstrasi dan Pendapat Siswa Siswi Tersebut Tentang Pengaruh Pendekatan Sikap Mereka terhadap Kegiatan Belajar Mengajar Fisika. Penelitian Ilmiah. Yogyakarta. USD.

Budi Kartika, Fr. Y. 1992. Konsep dan Definisi dalam Fisika dan Implikasinya dalam Proses Belajar Mengajar Fisika, dalam Arena Almamater Majalah Ilmiah. Kopertis Wilayah V. Yogyakarta : Andi Offset.

Budi Kartika, Fr. Y. 1998. Pemetaan Konsep Sebagai strategi Membangun Kesatuan Pengetahuan IPA pada Siswa (Mahasiswa), Pendidikan Matematika dan Sains : Tantangan dan Harapan. Yogyakarta : USD.

Budi Kartika, Fr. Y. 2001. Berbagai Setrategi Untuk Melibatkan Siswa Secara Aktif dalam Pembelajaran Fisika di SMU, Efektifitasnya, dan Sikap Mereka dalam Setrategi Tersebut, dalam Widya Dharma. Yogyakarta : USD.

Demdikbud. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia . Jakarta : Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Hamalik, O. 1982. Metode Belajar dan Kesulitan Belajar. Bandung : Tarsito.

Irmina Umi P. 2002. Evaluasi Hasil Pembelajaran Fisika Berupa Pengetahuan dan Ketrampilan Proses, Yogyakarta : Skripsi pada FKIP Sanata Dharma.

Jusuf Djaja Disastra. 1982. Metode-Metode Mengajar. Bandung : Angkasa.

Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Bebasis Kompetensi, Konsep Karakteristik dan Implementasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset.

Sardiman, A.M. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raya Grafindo Persada.

(58)
(59)

Mata Pelajaran : Fisika

Kelas : XI IPA

Semester : Satu

Waktu : 2 JP

Topik : Gaya Lorentz

Sub Topik : Besar dan arah Gaya Lorentz

Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat memahami besar dan arah Gaya Lorentz

MODEL PEMBELAJARAN

“ Kawat Bergerak atau Berayun Karena Adanya Arus”

Langkah - langkah pembelajaran:

A. Kegiatan Awal

1. Motivasi

Dilakukan langkah - langkah motivasi sebagai berikut :

b. Pertama - tama disediakan alat alat sebagai berikut :

- Magnet U

- Kawat tipis atau kawat spull

- Baterai

- Kabel penghubung

- Statip

(60)

c. Kemudian rangkai alat - alat diatas seperti gambar dibawah ini:

Gambar. Rangkaian tanpa magnet.

d. Selanjutnya kepada siswa ditanyakan, “ Apa yang terjadi jika pada

rangkaian didekatkan magnet pada kawat? “siswa dipersilahkan

menyampaikan dugaan - dugaannya.

Gambar. Rangkaian ditambah magnet dengan arah kutub magnet seperti gambar

diatas

e. Selanjutnya untuk mengetahui persis apa yang terjadi, dilakukan

pendekatan magnet pada rangakaian dan siswa diminta untuk

mengamati apa yang terjadi ?

KU

(61)

Gambar. Belum ada magnet Gambar. Diberikan magnet

dengan arah kutub

seperti gambar diatas

f. Kemudian siswa ditanya, “ Apa yang terjadi jika arah kutub

magnet dirubah dari keadaan awal pada percobaan point d”.

Gambar. Arah kutub magnet dibalik.

g. Untuk mengetahui persis apa yang terjadi, percobaan dilakukan.

Siswa diminta untuk mengamati apa yang terjadi?

KU

KS

KS

(62)

Gambar. Tanpa magnet. Gambar. Ada magnet dengan

arah kutub seperti

gambar diatas

Gambar. Ada magnet dengan arah kutub seperti gambar diatas

B. Kegiatan inti

1. Perumusan masalah

Kepada siswa diajukan pertanyaan: “ Mengapa kawat tetap

diam walaupun magnet didekatkan dalam keadaan saklar terbuka

atau tidak dihubungkan?”

2. Pengajuan hipotesis

Siswa diberi kesempatan untuk mencoba menjawab

pertanyaan diatas. ( langkah ini sekaligus sebagai penggalian KU

KS

KS

(63)

pengetahuan awal siswa). Berbagai inti penjelasan siswa ditulis

sebagai hipotesis hipotesis.

3. Pengumpulan data dan penyimpulannya

Dilakukan serangkaian percobaan dengan mengubah arah

medan ,arah arus dan jarak magnet.

a. Percobaan pertama

• Dilakukan percobaan sebagai berikut.

• Siswa diminta untuk melakukan pengamatan

terhadap gerakan kawat setelah saklar ditutup.

• Hasilnya dicatat sebagai data dalam bentuk tabel.

Keadaan saklar Gerakan kawat

Sebelum saklar ditutup Diam

Sesudah saklar ditutup Berayun atau bergerak

• Mengapa setelah saklar ditutup kawat berayun atau

bergerak? ( jawaban yang diharapkan karena adanya

arus).

• Dengan adanya arus maka kawat akan timbul gaya. KU

KS

(64)

• Gaya yang ditimbulkan oleh kawat berarus atau

muatan bergerak dalam medan magnet inilah yang

disebut gaya lorentz.

• Faktor- faktor apa yang mempengaruhi besar dan

arah gaya lorentz? ( jawaban yang diharapkan

panjang kawat, kuat arus kuat medan magnet).

• Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor- faktor yang

mempengaruhi besar dan arah gaya lorentz yaitu

panjang kawat, kat arus dan kuat medan magnet.

b. Percobaan kedua (arah batere yang diuabah).

• Dilakukan percobaan sebagai berikut;

• Siswa diminta untuk melakukan pengamatan

terhadap gerakan kawat setelah saklar ditutup.

• Hasil dicatat sebagai data dalam bentuk tabel;

Keadaan saklar Gerakan kawat

Sebelum saklar ditutup Diam

Sesudah saklar ditutup Berayun atau bergerak

KU

KS

(65)

• Apa yang akan terjadi apabila arah batere (arus)

dibalik? (Jawaban yang diharapkan yaitu kawat

akan tetap berayun).

• Kemanakah arah kawat untuk arah batere yang

dibalik? ( jawaban yang diminta mendekati kita atau

menjauhi kita).

• Jadi kesimpulannya apabila arah batere dibalik

maka arah gaya yang ditimbilkan oleh kawat juga

berbeda.

c. Percobaan Ketiga (jarak medan magnet diubah)

• Dilakukan percoabaan sebagai beikut :

KU

KS

Saklar ditutup Saklar ditutup

(66)

• Siswa diminta untuk melakukan pengamatan

terhadap gerakan kawat setelah saklar ditutup

apabila jarak medan magnet dirubah. (dijauhkan

atau didekatkan).

• Apa yang akan terjadi pada kawat apabila saklar

ditutup dan medan magnet didekatkan?

• Apa yang akan terjadi pada kawat apabila saklar

ditutup dan medan magnet dijauhkan?

• Jadi jaraknya medan magnet terhadap kawat juga

berpengaruh terhadap besar kecilnya gerakan kawat.

Jadi dari ketiga percobaan diatas dapat disimpulkan

bahwa besarnya gaya lorentz bergantung pada arah

arus, panjang kawat dan medan magnet. Jadi besar

gaya lorentz dapat ditulis dalam ersamaan F = B. I .

L

C. Kegiatan pemantapan

1. Perangkuman

Dengan kawat bergerak atau berayun karena di aliri arus

dan berada dalam medan magnet akan mendapat gaya. Gaya yang

dialami oleh penghantar ber arus dalam medan magnet disebut

Gaya Lorentz.

Dari hasil pengamatan percobaan 1, 2, 3 dapat ditunjukkan

(67)

magnet dan arah arus yang dapat ditunjukkan seperti gambar di

bawah ini.

Gambar. Aturan genggaman tangan kanan

Rantangkan ibu jari, telunjuk dan jari tengah tangan

kananmu seperti gambar diatas. Ibu jari menunjuk arah arus,

telunjuk menunjuk arah medan magnet dan jari tengah

menunjukkan arah gaya lorentz.

Dari hasil percobaan dapat diketahui lebih lanjut bahwa

gaya lorentz akan semakin besar jika :

a. Semakin kuat medan magnetnya.

b. Semakin besar kuat aruanya.

c. Semakin panjang bagian kawat yang menerima gaya.

Gaya lorentz sebanding dengan kuat medan magnet, arus

listrik, panjang kawat. Kedudukan gaya, kuat medan magnet dan

arus listrik saling tegak lurus. Besar gaya lorentz dapat di tuliskan

dalam persamaan sebagai berikut :

(68)

Keterangan :

F : Gaya lorent dengan satuan Newton ( N )

B : Kuat medan magnet dengan satuan Tesla ( T )

i : Kuat arus dengan satuan Ampere ( A )

L : Panjang kawat dengan satuan kawat ( m )

2. Penerapan

Motor listrik, Amperemeter, Multimeter dll.

3. Evaluasi, pekerjaan rumah dan atau tugas.

• Apa yang terjadi pada gerakan kawat apabila

percobaan digunakan kawat penghantar berukuran

tebal atau besar?

• Apa yang terjadi pada gerakan kawat apabila

percobaan digunakan magnet berbentuk lain?

• Lakukanlah percobaan demikian dan jelaskan apa

(69)

SOAL PRE TEST DAN SOAL POS TEST

1. Cara memperbesar gaya lorent yaitu...

a. memperbesar arus listrik’ memperpanjang kawat, dan menambah

kekuatan magnet.

b. Memperbesar arus listrik, memperpanjang kawat, dan

mengurangikekuatan magnet.

c. Memperbesar arus listrik, mengurangi panjang kawat, dan

mengurangi kekuatan magnet.

d. Memperkecil arus listrik, memendekkan kawat dan mengurangi

kekuatan magnet.

2. Untuk menentukan besarnya gaya lorent dapat menggunakan rumus....

a. F = B.I.L

b. F = B.V.L

c. F = V.I.L

d. F = B.V.I

3. Arah gaya lorent yang tepat ditunjukkan oleh gambar...

a. c.

b. d.

B

I

F

F B

I

I

F B

B

(70)

4. Berikut adalah faktor- faktor yang mempengaruhi besr gaya lorent,

kecuali...

a. panjang kawat

b. kuat medan magnet

c. kuat arus liatrik

d. jenis penghantar.

5. Arah gaya lorent berikut ini benar adalah...

a. c.

b. d.

6. Kawat berarus listrik 0,5 A berada dalam medan magnet sehingga

menimbulkan gaya lorentz sebesar 70N. Jika kawat tersebut panjangnya

25 cm, kuat medan magnetnya adalah...

a. 650 T

b. 560 T

c. 140 T

d. 35 T

F

B I

B I

F

F

B

I B

I

(71)

7. Kawat yang panjangnya 50 cm berada didalam muatan magnet yang

berkekuatan 20 T. Apabila arus listrik yang mrngalir pada kawat itu 5A,

gaya lorent yang dihasilkan adalah...

a. 500 N

b. 75 N

c. 50 N

d. 25 N

8. Suatu alat menghasilkan gaya lorent 20 N dengan kuat arus listrik 2 A

dan kumparan yang panjangnya 200cm. Besarnya kekuatan medan

magnet itu adalah....

a. 5 T

b. 40 T

c. 80 T

d. 222 T

9. Peralatan listrik dalam kehidupan sehari-hari yang prinsip kerjanya

berdasarkan gaya lorent adalah sebagai berikut, kecuali...

a. kipas angin

b. multimeter

c. lemari es

d. motor mesin jahit

10. Berikut iniyang bukan termasuk komponen utama motor listrik adalah...

a. kumparan putar

(72)

c. komutator

d. alternator

11. Gaya Lorent adalah :...

a. Gaya tarik antar Magnet

b. Gaya yang menyebabkan jarum kompas menyimpang

c. Gaya yang ditimbulkan oleh kawat berarus dalam medan magnet

d. Gaya dalam medan magnet

12. Gaya lorent pasti akan lebih besar jika :...

a. Arus diperkuat, medan diperlemah

b. Arus diperkuat, medan diperkuat

c. Arus diperkecil, medan diperkuat

d. Arus diperkecil, medan diperlemah

13. Mana yang menunjukkan arah gaya lorent yang benar...

a) b)

c) d)

I B

F

I

B

F I

B F

I B

(73)

14. Berapa panjang kawat nirkom yang diperlukan agar pada kawat terjadi

gaya lorent 72 N. Jika kawat dilalirir arus listrik 0,25 A dan berada

dalam medan magnet 600 T !

a. 0,25 m c) 0,72 m

b. 0,48 m d) 0,15 m

15. Sebuah kawat panjangnya 50 m terletak dalam medan magnet dan saling

tegak lurus dialiri arus 5A. Berapa Gaya Lorent yang terjadi pada kawat

tersebut B = 20 T?

a. 100 N c) 2500 N

b. 250 N d) 5000 N

16. Sebuah kawat dialiri arus 2A terletak dalam medan magnet B = 40 T,

pada kawat terjadi gaya lorent sebesar 1000 N. Berapa panjang kawat ?

a. 12,5 m c) 10 m

b. 10,5 m d) 12 m

17. Seutas kawat panjangnya 50 cm terletak dalam medan magnet 100 T dan

saling tegak lurus dialiri arus 2 A. Berapa gaya lorent pada kawat ?

a. 25 N c) 75 N

b. 50 N d) 100 N

18. Saat elektron memasuki medan magnet, elektron mendapat gara lorent

yang searah dengan ...

a. Sumbu X positif

(74)

c. Sumbu Z positif

d. Sumbu Z negative

19. 1 ampere adalah ….

a. arus yang menimbulkan gaya lorent sebesar 2.10-7 N pada dua

kawat yang berarus listrik.

b. arus kawat yang menimbulkan gaya lorentz sebesar 2.10-7N pada

dua kawat yang berarus listrik.

c. arus yang mengalir pada dua kawat sejajar dengan jarak 1 cm

sehingga menimbulkan gaya lorentz sebesar 2. 10-7N.

d. arus yang mengalir pada dua kawat sejajar dan jarak 1 m sehingga

menimbulkan gaya lorentz sebesar 1 N.

20. Arah gaya lorent pada penghantar adalah...

a. Keatas

b. Berlawanan dengan arah medan magnet

c. Mendekati pengamat

(75)

KUNCI JAWABAN PRE TEST DAN POST TEST

1. A 11. C

2. A 12. B

3. A 13. D

4. D 14. B

5. A 15. D

6. B 16. A

7. C 17. D

8. A 18. A

9. C 19. D

(76)

Kelas

:

XI

IPA

Semester :

Satu

Waktu

: 2 JP

Topik

:

Gaya

Lorentz

Sub Topik

: Besar dan arah Gaya Lorentz

Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat memahami besar dan arah Gaya Lorentz

Kompetensi Dasar

Indikator Materi

-

Dapat menerapkan

indiksi magnetik dan

gaya magnetik pada

beberapa produk

tehnologi

Dapat:

-

memformulasikan gaya

magnetik ( gaya

lorentz) pada magnetik

(gaya lorentz) pada

kawat berarus atau

partikel bermuatan

yang bergerak dalam

medan magnet

-

mengaplikasikan gaya

lorentz pada persoalan

fisika sehari – hari.

1.

Gaya lorentz (besar dan

arah) pada kawat

berarus atau muatan

bergerak dalam medan

magnet.

(77)

Konsep Pengertian/uraian

Indikator

pemahaman

Alat ukur pemahaman

Penilaian pemahaman

-

gaya lorentz

-

aturan

gengaman

tangan kanan

-

Yang

menentukan

gaya lorentz

-

Persamaan

gaya lorentz

-

Penerapan

pada beberapa

produk

tehnologi

-

gaya yang dialami oleh

penghantar berarus

didalam medan magnet

disebut gaya lorentz

-

terdapat hubungan

antara gaya lorentz,

arah medan magnet

dsn arah arus yang

dapat ditunjukkan

dengan aturan

genggaman tangan

kanan. Rentangkan ibu

jari ,telunjuk dan jari

tengah tangan kanan .

ibu jari menunjukkan

arah arus, telunjuk

menunjukkan arah

medan magnet dan jari

-

dapat menunjukkan

adanya gaya

lorentz

-

dapat

memformulasikan

gaya magnetik

(gaya lorentz) pada

medan magnetik

pada kawat berarus

atau partikel

bermuatan yang

bergerak dalam

medan magnet

-

dapat

mengaplikasikan

gaya lorentz pada

penerapan fisika

sehari hari

-

obsevasi

pengamatan

demonstrasi

-

tes tertulis

1.

Cara memperbesar gaya lorentz

yaitu...

a.

memperbesar arus listrik’

memperpanjang kawat, dan

menambah kekuatan magnet.

b.

Memperbesar arus listrik,

memperpanjang kawat, dan

mengurangikekuatan magnet.

c.

Memperbesar arus listrik,

mengurangi panjang kawat, dan

mengurangi kekuatan magnet.

d.

Memperkecil arus listrik,

memendekkan kawat dan

mengurangi kekuatan magnet.

2.

Untuk menentukan besarnya gaya

lorentz dapatmenggunakan rumus....

a.

F = B.I.L

(78)

tengah menunjukkan

arah gaya lorentz.

-

Gaya lorentz akan

semakin besar jika

semakin kuat medan

magnet, semakin kuat

kuat arusnya,semakin

panjang bagian kawat

yang menerima gaya

-

Besar gaya lorentz

dapat ditulis dalam

persamaan: F = B. i. L

F = gaya lorentz

satuan newton

B = kuat medan satuan

tesla

i = kuat arus satuan

amere

L= panjang kawat

satuan meter

-

memberikan contoh

-

c.

F = V.I.L

d.

F = B.V.I

3.

Arah gaya lorentz yang tepat

ditunjukkan oleh gambar...

a.

c.

b.

d.

4.

Berikut adalah faktor- faktor yang

mempengaruhi besr gaya lorentz,

kecuali...

a.

panjang kawat

b.

kuat medan magnet

c.

kuat arus liatrik

d.

jenis penghantar.

(79)

contoh penerapan

produk tehnologi

5.

Arah gaya lorentz berikut ini benar

adalah...

a.

c.

b.

d.

6.

Kawat berarus listrik 0,5 A berada

dalam medan magnet sehingga

menimbulkan gaya lorentz sebesar 70N.

Jika kawat tersebut panjangnya 25 cm,

kuat medan magnetnya adalah...

a.

650 T

b.

560 T

c.

140 T

d.

35 T

7.

Kawat yang panjangnya 50 cm berada

didalam muatan magnet yang

berkekuatan 20 T. Apabila arus listrik

F

B

I

B

I

F

F

B

I

B

I

(80)

yang mrngalir pada kawat itu 5A, gaya

lrentz yang dihasilkan adalah...

a.

500 N

b.

75 N

c.

50 N

d.

25 N

8.

Suatu alat menghasilkan gaya lorentz

20 N dengan kuat arus listrik 2 A dan

kumparan yang panjangnya 200cm.

Besarnya kekuatan medan magnet itu

adalah....

a.

5 T

b.

40 T

c.

80 T

d.

222 T

9.

Peralatan listrik dalam kehidupan

sehari- hari yang prinsip kerjenya

berdsarkan gaya lorentz adalah sebagai

berikut, kecuali...

(81)

b.

multimeter

c.

lemari es

d.

motor mesin jahit

10.

Berikut iniyang bukan termasuk

komponen utama motor listrik

adalah...

a.

kumparan putar

b.

magnet tetap

c.

komutator

d.

alternator

11.

Gaya Lorentz adalah :....

a.

Gaya tarik antar Magnet

b.

Gaya yang menyebabkan jarum

kompas menyimpang

c.

Gaya yang ditimbulkan oleh

kawat berarus dalam medan

magnet

d.

Gaya dalam medan magnet.

12.

Gaya lorentz pasti akan lebih besar

jika :...

Figur

Gambar 4.2. Grafik Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Kelas Penelitian………. 34
Gambar 4 2 Grafik Nilai Tes Prestasi Belajar Siswa Kelas Penelitian 34 . View in document p.14
Tabel 4.3. Daftar Nilai Kelas Penelitian Kelas XI IPA 2…………………..
Tabel 4 3 Daftar Nilai Kelas Penelitian Kelas XI IPA 2 . View in document p.15
Tabel. 3.2 . Selisih nilai pre test dan pos test
Tabel 3 2 Selisih nilai pre test dan pos test . View in document p.38
Tabel 3.1. Tabel daftar nilai kelas sesuai nilai fisika raport
Tabel 3 1 Tabel daftar nilai kelas sesuai nilai fisika raport . View in document p.38
Tabel. 3.3 . Selisih nilai pre test dan pos test pada kelas
Tabel 3 3 Selisih nilai pre test dan pos test pada kelas . View in document p.39
Tabel 4.1 Daftar nilai raport semester Kelas X1 IPA
Tabel 4 1 Daftar nilai raport semester Kelas X1 IPA . View in document p.42
Tabel 4.1 Daftar nilai raport semester Kelas X1 IPA (Lanjutan)
Tabel 4 1 Daftar nilai raport semester Kelas X1 IPA Lanjutan . View in document p.43
Tabel. 4.2. Daftar nilai kelas kontrol kelas X1 IPA 1
Tabel 4 2 Daftar nilai kelas kontrol kelas X1 IPA 1 . View in document p.46
Gambar 4.1. Grafik nilai prestasi belajar siswa kontrol
Gambar 4 1 Grafik nilai prestasi belajar siswa kontrol . View in document p.47
Tabel. 4.3. Daftar nilai kelas penelitian kelas X1 IPA 2 (Lanjutan)
Tabel 4 3 Daftar nilai kelas penelitian kelas X1 IPA 2 Lanjutan . View in document p.48
Gambar 4.3. Grafik nilai Tes prestasi Belajar siswa kelas penelitian.
Gambar 4 3 Grafik nilai Tes prestasi Belajar siswa kelas penelitian . View in document p.49
tabel 4.4 berikut.
tabel 4.4 berikut. . View in document p.49
Tabel 4.4  Selisih nilai pos test dan pre test pada kelas kontrol
Tabel 4 4 Selisih nilai pos test dan pre test pada kelas kontrol . View in document p.50
Tabel 4.6. Ringkasan Hasil Analisis Tes Prestasi
Tabel 4 6 Ringkasan Hasil Analisis Tes Prestasi . View in document p.54
Gambar. Rangkaian ditambah magnet dengan arah kutub magnet seperti gambar
Gambar Rangkaian ditambah magnet dengan arah kutub magnet seperti gambar . View in document p.60
Gambar. Belum ada magnet
Gambar Belum ada magnet . View in document p.61
Gambar. Tanpa magnet.
Gambar Tanpa magnet . View in document p.62
Gambar. Aturan genggaman  tangan kanan
Gambar Aturan genggaman tangan kanan . View in document p.67

Referensi

Memperbarui...