• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. Universitas Kristen Petra"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Kompetensi

Setiap orang yang bekerja diharapkan mencapai kinerja yang tinggi.

Kinerja sebagai hasil dari kegiatan unsur-unsur kemampuan yang dapat diukur dan terstandarisasi. Keberhasilan suatu kinerja akan sangat tergantung dan ditentukan oleh beberapa aspek dalam melaksanakan pekerjaan. Agar mencapai kinerja yang optimal hendaknya pengaruh dari faktor-faktor kompetensi diupayakan semaksimal mungkin sesuai dengan area pekerjaan yang dibebankan kepada pegawai. Dengan demikian kompetensi sebagai karakteristik individual diperlukan untuk mencapai kinerja efektif dalam pelaksanaan tugas pekerjaan (Spencer dan Spencer, 1993).

Spencer dan Spencer (1993) membagi kompetensi menjadi 5 tipe karakteristik, yaitu motif (kemauan konsisten sekaligus menjadi sebab dari tindakan), faktor bawaan (karakter dan respon yang konsisten), konsep diri (gambaran diri), pengetahuan (informasi dalam bidang tertentu) dan keterampilan (kemampuan untuk melaksanakan tugas)

Hal ini sejalan dengan pendapat Becker and Ulrich dalam Suparno (2005) bahwa “competency refers to an individual’s knowledge, skill, ability or personality characteristics that directly influence job performance”. Artinya, kompetensi mengandung aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan (keahlian) dan kemampuan ataupun karakteristik kepribadian yang mempengaruhi kinerja.

Hughes & Rycus (1989) juga menyatakan bahwa kompetensi adalah pengelompokan dari pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas pekerjaan. Sehingga seorang pekerja dapat dikatakan kompeten apabila memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka.

(2)

Berbeda dengan Fogg (2004) yang membagi kompetensi menjadi 2 (dua) kategori yaitu kompetensi dasar dan kompetensi pembeda (differentiating). Perbedaan kompetensi dasar (threshold) dan kompetensi pembeda (differentiating) terletak pada kriteria yang digunakan untuk memprediksi kinerja suatu pekerjaan. Kompetensi dasar (threshold competencies) adalah karakteristik utama, yang biasanya berupa pengetahuan atau keahlian dasar seperti kemampuan untuk membaca, sedangkan kompetensi pembeda (differentiating) adalah kompetensi yang membuat seseorang berbeda dari yang lain.

Kata kompetensi memiliki banyak pengertian yang masing-masing menyoroti aspek dan penekanan yang relatif berbeda. Secara umum, kompetensi adalah tingkat keterampilan, pengetahuan dan tingkah laku yang dimiliki seorang individu dalam melaksanakan tugas yang ditekankan kepadanya.

Spencer dan Spencer (1993:9) menyatakan bahwa kompetensi individu yang digambarkan sebagai karakteristik dasar individu yang menggunakan kepribadiannya yang paling dalam dan dapat mempengaruhi perilakunya ketika menghadapi pekerjaan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap kemampuan untuk menghasilkan prestasi kerja. (A competency is an underlying characteristic of an individual that is causally related to criterian referenced effective and or superior performance in a job or situation). Berdasarkan dari definisi tersebut, maka beberapa makna yang terkandung didalamnya adalah sebagai berikut :

- Karakteristik dasar (underlying characteristic) kompetensi adalah bagian dari kepribadian yang mendalam dan melekat pada seseorang serta mempunyai perilaku yang dapat diprediksi pada berbagai keadaan dan tugas pekerjaan.

- Hubungan sebab akibat (causally related) berarti kompetensi dapat menyebabkan atau digunakan untuk memprediksikan kinerja seseorang, artinya jika mempunyai kompetensi yang tinggi, maka akan mempunyai kinerja tinggi pula (sebagai akibat).

(3)

- Kriteria (criterian referenced) yang dijadikan sebagai acuan, bahwa kompetensi secara nyata akan memprediksikan seseorang dapat bekerja dengan baik, harus terukur dan spesifik atau terstandar.

Cara kinerja dalam suatu peran diukur untuk memberikan cakupan terbesar untuk mengenali kompetensi dalam setiap sistem penilaian yang memberikan umpan balik termasuk upah atas kontribusi yang telah diberikan. Sebagaimana telah dinyatakan bahwa kompetensi menguraikan hal-hal yang membuat orang berhasil dalam suatu peran tertentu, dan oleh karena itu dapat digunakan tanpa ragu-ragu dalam menilai kinerja (Spencer dan Spencer, 1993).

Kompetensi mempengaruhi kinerja dikemukakan oleh Gilley, Boughton dan Maycunich (1999):

”Competency are useful in recruiting and selection of employees a given job classification. They can also be used to determine the trainning and development activities in which employees must participate to acquire adequate levels of performance mastery.”

Dalam hal ini berarti kinerja dipengaruhi oleh kompetensi dari tiap individu yang ditentukan oleh pelatihan dan pengembangan sumber daya manusia agar mencapai tingkat yang diinginkan.

Menurut Spencer and Spencer (1993), bahwa pada saat ini banyak organisasi menjadi tertarik dalam manajemen untuk menilai kompetensi

”bagaimana” kinerja dilakukan. Kompetensi dapat dihubungkan dengan kinerja dengan mencakup niat, tindakan, dan hasil akhir. Dari gambaran dibawah, kompetensi seorang individu secara sebab akibat berhubungan dengan kinerja.

Gambar 2.1. Hubungan Sebab Akibat Kompetensi

Niat Tindakan Hasil Akhir

Sumber : Diadaptasi dari Spencer, Lyle and Sing Spencer, (1993:15) Competence at Work, Canada, John Wiley&Son, Inc.

Karakteristik

Pribadi Perilaku Prestasi

Kerja

(4)

2.1.2 Pengertian dan Konsep Akuntansi Forensik

Akuntansi forensik merupakan integrasi dari kemampuan akuntansi, audit dan investigasi. “Forensik”, menurut Webster Dictionary berarti

"Belonging to, used in or suitable to courts of judicature or to public discussion and debate." (DiGabriele, 2010). Sampai saat ini, berbagai definisi telah diberikan untuk menggambarkan akuntansi forensik.

(Rezaee, Crumbley dan Elmore, 2004) menyatakan bahwa akuntansi forensik adalah sebuah bidang khusus dalam akuntansi yang berhubungan dengan identifikasi financial fraud dan melaporkannya dengan cara yang sesuai ketika digunakan dalam hukum di pengadilan.

Menurut Howard dan Sheetz (2006) dalam Akhidime dan Uagbale- Ekatah (2014) mendefinisikan akuntansi forensik sebagai proses menafsirkan dan menyajikan ringkasan dari suatu masalah keuangan yang kompleks menjadi jelas, ringkas dan faktual yang dapat digunakan dalam pengadilan dan akuntan forensik juga dapat berperan sebagai saksi ahli. Akuntansi forensik juga disebut sebagai akuntansi investigatif atau audit fraud yang merupakan merger ilmu antara ilmu forensik dan ilmu akuntansi (Kasum, 2009). Sehingga seorang akuntan forensik harus mampu menunjukkan keterampilan khusus dalam aturan hukum, analitis dan keterampilan investigasi, identifikasi pola kekerasan, keterampilan interpersonal dan komunikasi yang baik, dan keterampilan organisasi yang luar biasa (Musalam dan Kukreja, 2015).

Menurut Filmer (2003), akuntansi forensik adalah metode dalam menyelidiki transaksi keuangan dan situasi bisnis untuk mendapatkan kebenaran dan mengembangkan pendapat ahli mengenai kemungkinan atas aktivitas fraud. Akuntan forensik harus dilatih dalam bidang investigasi, deteksi, dan berbagai teknik audit khusus dan biasanya akuntan forensik merupakan auditor yang telah berpengalaman (dalam Nunn et al., 2006).

Bologna dan Lindquist (1995) mendefinisikan akuntansi forensik sebagai aplikasi kecakapan finansial dan sebuah mentalitas penyelidikan terhadap isu-isu yang tak terpecahkan, yang dijalankan di dalam konteks

(5)

rules of evidence. Sedangkan (Hopwood, Leiner dan Young, 2012) lebih jauh mendefinisikan akuntansi forensik adalah aplikasi keterampilan investigasi dan analitik yang bertujuan untuk memecahkan masalah- masalah keuangan melalui cara-cara yang sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh pengadilan atau hukum.

Terdapat dua bidang keahlian akuntansi forensik yaitu: dukungan litigasi dan investigasi fraud (Filmer, 2003; DiGabriele, 2010; Dar dan Sarkar, 2010; Crumbley et al., 2003). Dukungan litigasi termasuk atas penilaian bisnis, analisis pendapatan, keterangan saksi ahli, dan evaluasi untuk laba masa depan. Investigasi fraud adalah proses pengumpulan bukti atas tindak pidana, dan pembuktian adanya kerusakan (Nunn et al., 2006).

Akuntan forensik harus memiliki keterampilan komunikasi yang bagus secara tertulis dan lisan. Dalam profesi ini sangat penting untuk memiliki latar belakang pengetahuan akuntansi yang baik yaitu, pengetahuan mendalam tentang audit, penilaian risiko, dan pengendalian dan pendeteksian fraud serta, pemahaman yang mendasar tentang sistem hukum. Hal ini penting bagi akuntan forensik untuk memiliki kemampuan untuk mewawancarai dan memperoleh informasi secara efektif dari orang-orang yang mungkin tidak bersedia memberikan jawaban yang jujur (Nunn et al., 2006).

Hal tersebut telah menunjukkan peran seorang akuntan forensik. Dan dengan jelas menyatakan ada berbagai pandangan mengenai keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang akuntan forensik (Efiong, 2012). Harus disadari bahwa proses akuntansi forensik merupakan bentuk audit dengan keterampilan investigasi yang disertai dengan pengetahuan dan pengalaman yang mendalam. Akuntansi forensik harus diperkenalkan ke dalam perusahaan sebagai layanan yang dapat diperoleh ketika diperlukan penyelidikan atas fraud. Akuntansi forensik harus digunakan sebagai sistem untuk memantau kegiatan sehari-hari dari perusahaan untuk memastikan bahwa tingkat terjadinya fraud dapat diminimalisasi (Koh et al., 2009).

(6)

Harris dan Brown (2000) dalam Efiong (2012) mengidentifikasi keterampilan khusus dan kemampuan teknis yang harus dimiliki oleh para akuntan forensik pada saat memeriksa kualitas dari mereka. Studi keduanya menunjukkan bahwa akuntan forensik harus familiar dengan hukum perdana dan perdata. Selain itu, mereka menekankan perlunya memahami prosedur hukum didalam ruang sidang, keterampilan investigasi, dan cara berpikir kreatif dengan keterampilan komunikasi yang jelas.

Ramaswamy (2007) mengungkapkan bahwa seorang akuntan forensik menggunakan pengetahuannya tentang akuntansi, studi hukum, investigasi, dan kriminologi untuk mengungkap fraud, menemukan bukti dan selanjutnya bukti tersebut akan dibawa ke pengadilan jika dibutuhkan. Akuntansi forensik pada awalnya adalah perpaduan paling sederhana antara akuntansi dan hukum (misalnya dalam pembagian harta gono-gini).

Namun demikian, atas semua definisi yang dikemukakan, tidak terdapat definisi yang diakui secara umum mengenai akuntansi forensik.

Akan tetapi, Association of Certified Fraud Examiners (ACFE, 2011) mendefinisikan akuntansi forensik sebagai penggunaan keterampilan dalam sengketa perdata atau pidana, yang didalamnya termasuk penerapan prinsip akuntansi dan audit dalam menetapkan kerugian dan keuntungan, pendapatan, properti atau kerusakannya, estimasi atas pengendalian internal, fraud dan lain-lain yang melibatkan keahlian akuntansi dalam proses hukum. Oleh karena itu, akuntansi forensik melibatkan penerapan konsep akuntansi, teknik audit dan prosedur investigasi dalam memecahkan masalah hukum (Efiong, 2012; Dar dan Sarkar, 2010). Oleh sebab itu, sangat penting bagi akuntan forensik untuk memiliki keterampilan di berbagai bidang (Hopwood et al., 2012)

2.1.3 Kompetensi Akuntan Forensik

Untuk dapat dipertimbangkan mampu dan efektif, seorang akuntan forensik harus memiliki karakteristik atau kualitas sebagai berikut:

memiliki rasa ingin tahu, ketekunan, kreativitas, kebijaksanaan, sifat

(7)

berorganisasi, kepercayaan diri, dan penilaian profesional. Seorang akuntan forensik yang berkompetensi harus terbuka untuk mempertimbangkan semua alternatif, meneliti rincian sekecil apapun dan pada saat yang sama juga dapat melihat gambaran besar. Selain itu, akuntan forensik harus mampu mendengarkan secara efektif dan berkomunikasi dengan jelas dan ringkas (Eiya dan Otalor, 2013).

G. Jack Bologna dan Robert J. Lindquist, Fraud Auditing and Forensic Accounting: New Tools and Techniques menyebutkan karakteristik apa saja yang harus dimiliki oleh seorang akuntan forensik:

a. Kreatif – kemampuan untuk melihat sesuatu yang orang lain anggap situasi bisnis yang normal dan memeperhatikan interpretasi lain, yakni bahwa itu tidak merupakan situasi bisnis yang normal.

b. Rasa ingin tahu – keinginan untuk menemukan apa yang sesungguhnya terjadi dalam rangkaian peristiwa dan situasi.

c. Tak menyerah – kemampuan untuk maju terus pantang mundur walaupun fakta (seolah-olah) tidak mendukung, dan ketika dokumen atau informasi sulit diperoleh.

d. Akal sehat – kemampuan untuk mempertahankan prespektif dunia nyata. Ada yang menyebutnya, perspektif anak jalanan yang mengerti betul kerasnya kehidupan.

e. Business sense – kemampuan untuk memahami bagaimana bisnis sesungguhnya berjalan, dan bukan sekedar memahami bagaimana transaksi dicatat.

f. Percaya diri – kemampuan untuk memercayai diri dan temuan kita sehingga kita dapat bertahan dibawah cross examination (pertanyaan silang dari jaksa penuntut umum dan pembela).

Hopwood et al. (2012), menyatakan bahwa akuntan forensik yang terlatih memiliki tingkat pengetahuan dan keterampilan dalam bidang- bidang berikut ini:

a. Keterampilan auditing merupakan hal terpenting bagi akuntan forensik karena adanya sifat pengumpulan informasi dan

(8)

verifikasi yang terdapat pada akuntan forensik. Akuntan forensik yang terampil harus mampu mengumpulkan dan mengkaji informasi apapun yang relevan sehingga kasus-kasus yang mereka tangani akan didukung secara positif oleh pihak pengadilan.

b. Pengetahuan dan keterampilan investigasi, misalnya taktik-taktik surveillance dan keterampilan wawancara dan interogasi, membantu akuntan forensik untuk melangkah diluar keterampilan mereka di dalam mengaudit aspek-aspek forensik baik aspek legal maupun aspek finansial.

c. Kriminologi, khususnya studi psikologi tindak kejahatan, adalah penting bagi akuntan forensik karena keterampilan investigasi yang efektif sering bergantung pada pengetahuan tentang motif dan insentif yang dialami oleh perpetrator.

d. Pengetahuan akuntansi membantu akuntan forensik untuk menganalisis dan menginterpretasi informasi keuangan yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kasus di dalam investigasi keuangan, apakah itu dalam kasus kebangkrutan, operasi pencucian uang, atau skema-skema penyelewangan lainnya. Hal ini meliputi pengetahuan tentang pengendalian internal yang baik seperti yang terkait dengan kepemimpinan perusahaan (corporate governance).

e. Pengetahuan tentang hukum sangat penting untuk menentukan keberhasilan akuntan forensik. Pengetahuan tentang prosedur hukum dan pengadilan mempermudah akuntan forensik untuk mengidentifikasi jenis bukti yang diperlukan untuk memenuhi standar hukum yurisdiksi dimana kasus akan dinilai dan menjaga bukti melalui cara-cara yang memenuhi kriteria pengadilan.

f. Pengetahuan dan keterampilan bidang teknologi informasi (TI) menjadi saran yang penting bagi akuntan forensik di tengah dunia yang dipenuhi oleh kejahatan-kejahatan dunia maya. Pada taraf yang minimum, akuntan forensik harus mengetahui poin dimana

(9)

mereka harus menghubungi seorang ahli bidang piranti keras (hardware) atau piranti lunak (software) komputer. Akuntan forensik menggunakan keterampilan teknologi untuk mengkarantina data, ekstraksi data melalui penggalian data, mendesain dan menjalankan pengendalian atas manipulasi data, menghimpun informasi database untuk perbandingan, dan menganalisis data.

g. Keterampilan berkomunikasi juga dibutuhkan oleh akuntan forensik untuk memastikan bahwa hasil penyelidikan/analisis mereka dapat dipahami secara benar dan jelas oleh pengguna jasanya.

Ramaswamy (2007) mengungkapkan bahwa seorang akuntan forensik untuk menjadi ahli akuntan forensik selalu memerlukan peningkatkan jumlah keahlian dan kompetensi dalam menemukan penipuan. Berikut adalah terdapat beberapa keahlian yang berguna untuk akuntan forensik:

a. Pengetahuan dan kemampuan yang mendalam tentang menganalisa kritis laporan keuangan. Keterampilan ini membantu akuntan forensik menemukan pola abnormal dalam informasi akuntansi dan mengenali sumber mereka.

b. Skema tentang pemahaman penipuan, namun tidak terbatas pada pengelapan aset termasuk, pencucian uang, penyuapan dan korupsi.

c. Kemampuan untuk memahami sistem pengendalian internal perusahaan, dan untuk membuat sebuah sistem kontrol yang menilai risiko, manajemen mencapai tujuan, memberitahu karyawan mereka kontrol tanggung jawab, dan memantau kualitas program sehingga koreksi dan perubahan dapat dibuat.

d. Keahlian di ilmu komputer dan sistem jaringan. Keterampilan ini membantu akuntan forensik melakukan penyelidikan di era e- banking dan sistem komputerisasi akuntansi.

e. Pengetahuan tentang psikologi, dalam rangka untuk memahami faktor pendorong dibalik perilaku kriminal dan menyiapkan

(10)

program pencegahan penipuan yang mendorong dan memotivasi karyawan.

f. Interpersonal dan kemampuan komunikasi, yang membantu dalam penyebaran informasi tentang kebijakan etis perusahaan dan membantu akuntan forensik melakukan wawancara dan diperlukan memperoleh informasi yang sangat penting.

g. Pengetahuan dari kebijakan pemerintahan dan undang-undang yang mengatur kebijakan perusahaan tersebut.

h. Perintah hukum pidana dan perdata, serta dari sistem hukum dan prosedur pengadilan.

Sekumpulan kemampuan yang diharuskan bagi akuntan forensik diidentifikasi oleh DiGabriele (2008). Dimana kemampuan tersebut yaitu:

1) Kemampuan analisis deduktif, kemampuan untuk menganalisis kejanggalan yang terjadi dalam laporan keuangan, yang tidak sesuai dengan kondisi yang seharusnya.

Keterampilan ini dinilai sebagai salah satu yang paling penting.

Dilihat dari pertimbangan atas banyaknya skandal pelaporan keuangan baru-baru ini terjadi di seluruh dunia, keterampilan ini tampaknya diperlukan dan berperan penting bagi akuntan forensik dalam rangka memenuhi tujuannya untuk mengungkapkan adanya penipuan keuangan.

2) Kemampuan berpikir kritis, kemampuan untuk membedakan antara opini dan fakta.

Inti dari menjadi saksi ahli adalah untuk dapat membedakan fakta dari opini untuk menjaga kredibilitas kesaksian. Keterampilan berpikir kritis sangat penting untuk dapat memahami, menerapkan, dan mengadaptasi konsep dan prinsip-prinsip dalam berbagai konteks dan keadaan. Skeptisisme akuntan forensik dalam mempertanyakan tanggapan manajemen melibatkan pemikiran kritis untuk memeriksa sikap dan mengenali sarat emosi dan asumsi eksplisit atau tersembunyi di balik setiap pertanyaan.

(11)

3) Kemampuan memecahkan masalah yang tidak terstruktur, kemampuan memecahkan masalah dengan pendekatan yang tidak terstruktur, khusus pada situasi yang tidak wajar.

Pendidikan akuntansi berkonsentrasi pada kepatuhan terhadap peraturan dan prosedur. Namun, akuntansi forensik berbeda, sebab pemecahan masalah yang dilakukan melalui pendekatan 'improvisasi' daripada rencana 'terstruktur'. Jenis keterampilan ini secara langsung bertentangan dengan keterampilan akuntansi tradisional. Hal ini dapat dikatakan bahwa kekurangan auditor selalu melihat secara detail namun tidak secara keseluruhan.

4) Kemampuan fleksibilitas penyidikan, kemampuan untuk menjauh dari standar prosedur audit dan memeriksa situasi secara menyeluruh untuk tanda-tanda peringatan yang tipikal.

Sangat dibutuhkan kebutuhan untuk berpikir terbuka dalam akuntansi.

Kemampuan untuk memecahkan teka-teki (puzzle) dalam keuangan dengan suatu potongan yang tidak lengkap merupakan karakteristik yang sangat penting bagi akuntan forensik.

5) Kemampuan analitik, kemampuan untuk memeriksa apa yang seharusnya disediakan daripada apa yang sudah tersedia.

Kemampuan analitik dapat berguna bagi akuntan forensik karena mereka sering mengungkapkan hubungan yang tidak biasa yang perlu diperiksa dengan teliti.

6) Kemampuan berkomunikasi lisan, kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif secara lisan melalui kesaksian ahli dan penjelasan umum tentang opini dasar.

Bekerja di lapangan dan berbicara dengan karyawan perusahaan yang mungkin ataupun tidak terlibat dalam tindak penipuan merupakan bagian dari pekerjaan akuntan forensik. Selain itu, akuntan forensik juga sering dipanggil untuk menjadi saksi ahli di pengadilan sehingga kesaksian dan bukti yang kompleks harus disajikan dengan cara yang dapat dimengerti oleh pihak-pihak dalam pengadilan.

(12)

7) Kemampuan berkomunikasi tertulis, kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif dalam tulisan melalui laporan, diagram, grafik dan jadwal tentang opini dasar.

Akuntan forensik perlu untuk mendokumentasikan pekerjaan mereka.

Sebuah laporan yang ditulis oleh akuntan forensik dapat menjadi suatu alat yang penting ketika memberikan dukungan litigasi dan dapat membantu untuk memberi kesan kepada hakim atau juri.

Keterampilan ini sangat penting ketika akuntan forensik memberikan kesaksian ahli mereka kepada hakim dan jaksa.

8) Kemampuan tentang pengetahuan hukum, kemampuan untuk mengerti tentang proses hukum dasar dan isu hukum termasuk aturan barang bukti.

Untuk memahami masalah hukum tertentu, maka dibutuhkan akuntan forensik. Para akademisi dan praktisi berpendapat bahwa akuntan forensik harus memiliki pengetahuan mengenai proses hukum dan aturan mengenai bukti.

9) Kemampuan bersikap tenang. kemampuan untuk mempertahankan sikap tenang dalam situasi yang menekan.

Sikap tenang dari seorang ahli dapat menjadi komponen integral dalam hasil akhir suatu kasus.

Berdasarkan pernyataan DiGabrielle mengenai sembilan kompetensi khusus yang dibutuhkan bagi akuntan forensik, maka terbentuk null hipotesis yaitu:

H0: Kompetensi khusus tidak diperlukan bagi akuntan forensik

2.2 Kajian Penelitian Terdahulu

Satu set kompetensi yang dibutuhkan oleh akuntan forensik telah diidentifikasi oleh DiGabriele (2008). Kompetensi ini meliputi, (1) kemampuan analisis deduktif, (2) kemampuan berpikir keritis, (3) kemampuan memecahkan masalah yang tidak terstruktur, (4) kemampuan fleksibilitas penyidikan, (5) kemampuan analitik, (6) kemampuan berkomunikasi lisan, (7) kemampuan berkomunikasi tertulis, (8) kemampuan

(13)

tentang pengetahuan hukum, (9) kemampuan bersikap tenang. Selanjutnya, DiGabriele (2008) melakukan studi empiris mengenai keterampilan akuntan forensik yang relevan yang diidentifikasi seperti diatas berdasarkan pandangan dari akademisi akuntansi, praktisi akuntansi forensik dan pengguna akhir dari jasa akuntansi forensik. Menggunakan analisis komponen utama, hasil temuan mengidentifikasi dua komponen utama akuntansi dengan total varian 64,73% di antara sembilan variabel. Enam variabel (atau keterampilan) termasuk kemampuan analisis deduktif, kemampuan berpikir kritis, kemampuan pemecahan masalah yang tidak terstruktur, kemampuan fleksibilitas penyidikan, kemampuan analitik dan kemampuan tentang pengetahuan hukum dimuat secara signifikan pada komponen pertama dan disebut sebagai pengetahuan dan kemampuan. Pada komponen yang kedua disebut kinerja memiliki tiga variabel termasuk kemampuan komunikasi lisan, kemampuan komunikasi tertulis dan kemampuan bersikap tenang.

Dalam sebuah studi tentang karakteristik dan keterampilan akuntan forensik oleh Davis, Farrell dan Ogilby (2010). dimana studi tersebut menyelidiki pandangan pengacara, akademisi dan CPA (Certified Public Accountant) mengenai keterampilan dasar yang harus memiliki akuntan forensik. Sementara ditemukan tidak ada kecenderungan umum dalam peringkat kepentingan kecuali keterampilan analitik, dimana ketiga kelompok responden memberikan peringkat nomor satu, serta hasil temuan menyatakan akuntan forensik harus berpikir analitik berorientasi pada detail, etika, responsif dan berwawasan, gigih dan skeptis.

Demikian pula, Bhasin (2013) melakukan survei atas keterampilan yang dibutuhkan oleh akuntan forensik dengan bukti dari negara berkembang, yaitu India. Hasil temuan penelitian ini tidak cukup berbeda dari Davis et al.

(2010). Oleh karena akuntan forensik harus menampilkan keterampilan dalam bidang yang disebutkan di atas, ia harus memiliki setidaknya tingkat pengetahuan dalam keterampilan audit, keterampilan investigasi, kriminologi, akuntansi, hukum, teknologi informasi dan keterampilan komunikasi.

(14)

Ramaswamy (2007) melakukan survei terhadap kecakapan, hasil yang menunjukan bahwa akuntan forensik memiliki posisi yang unik karena mereka harus mampu mengungkap kecurangan dalam laporan keuangan.

selanjutnya hasil penelitian ini juga meyakini bahwa akuntan forensik harus memiliki kemampuan untuk memahami sistem pengendalian internal serta mampu menghadapi resiko yang kemungkinan menghadangnya. Terakhir, pengetahuan tentang psikologi juga dapat membantu akuntan forensik untuk memahami impuls-impuls dibalik perilaku kriminal yang mendorong terjadinya tindak pelanggaran. Selain itu, (a) kecakapan antar personal dan komunikasi yang membantu di dalam penyebaran informasi tentang etika perusahaan dan (b) pemahaman tentang hukum pidana dan hukum perdata serta sistem hukum dan prosedur pengadilan merupakan sejumlah kecakapan yang membantu kinerja akuntan forensik.

 

Referensi

Dokumen terkait

Dunia keuangan sekarang ini telah berubah menjadi lebih maju, sehingga saat ini terdapat banyak sekali pilihan instrumen dalam investasi. Perubahan- perubahan di bidang keuangan

Bass, et al., (dalam Mariam, 2009) serta Humphreys (dalam Mariam, 2009) menjelaskan kemampuan pemimpin transformasional mengubah sistem nilai bawahan demi mencapai

Identifier merupakan kunci kandidat (candidat key) yang dipilih sebagai karakteristik unik dari tipe entitas atau identifikasi dari sebuah entitas yang sifatnya

Selain itu, organisational innovaion juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk dapat mentransformasi pengetahuan dan ide yang dimiliki menjadi produk, proses,

Dari berbagai definisi intellectual capital diatas, dapat disimpulkan bahwa IC merupakan modal yang penting yang harus dimiliki perusahaan karena merupakan aset

lokasi yang strategis, lingkungan yang aman dan nyaman, sarana dan prasarana yang lengkap, luas kapling yang besar, desain bangunan perumahan yang sesuai permintaan pasar dan

Brand image memegang peranan penting dalam pengembangan sebuah merek. Brand image menyangkut reputasi dan kredibilitas suatu produk, yang.. kemudian akan dijadikan

Jadi brand personality adalah suatu cara yang bertujuan untuk menambah daya tarik merek dengan memberi karakteristik pada merek tersebut, yang bisa didapat melalui