BAB I KEADAAN UMUM
A. Aspek Kebijakan Dan Pengelolaan 1. Kebijakan
5. Ancaman Terhadap Taman Nasional Kayan Mentarang
Analisis Bank Dunia (1997) terhadap 21 kawasan lindung di Indonesia, menemukan bahwa ancaman langsung dari masyarakat lokal berturut-turut adalah pembangunan jalan, penambangan, usaha penebangan hutan dan transmigrasi. Ancaman-ancaman tersebut perlu
ditangani dengan mekanisme seperti tata ruang, melibatkan pengelola taman dalam memutuskan investasi umum, peningkatan koordinasi pengembangan, dan upaya untuk mendidik para penentu kebijakan di pemerintahan bahwa konservasi dan perlindungan keragaman hayati dibutuhkan untuk pembangunan yang berkelanjutan. Banyak pejabat pemerintah yang tidak mengerti manfaat dalam segi ekonomi, nilai biologis dan manfaat lainnya yang terdapat pada taman nasional. Beberapa pejabat merasa bahwa taman nasional merupakan wilayah luas yang mubadzir, diambil secara tidak bijak dari pembangunan daerah.
a. Jalan Umum dan Sistem Transportasi Lainnya
Transportasi keluar masuk taman nasional dari daerah padat penduduk dan perkotaan di dekat pantai akan berkembang dalam 25 tahun mendatang. Pembagian Kabupaten Bulungan menjadi beberapa kabupaten baru akan meningkatkan laju pembangunan jalan umum, karena pusat kabupaten yang baru dapat dipastikan berencana membuka jalan yang menghubungkan berbagai bagian dalam wilayahnya. Jalan umum yang telah dipertimbangkan atau direncanakan oleh berbagai lembaga pemerintah meliputi (Gambar 19):
a. Sebuah jalan yang menghubungkan Malinau dengan Long Bawan.
b. Sebuah jalan yang menghubungkan Malinau dengan Long Pujungan dan Kecamatan Apo Kayan.
c. Sebuah jalan yang menghubungkan Malinau dengan daerah dekat desa Tau Lumbis.
d. Sebuah jalan yang menghubungkan Nunukan dengan Kecamatan Lumbis dan Krayan yang tidak melewati Malinau (kabupaten lain).
e. Sebuah jalan sepanjang perbatasan TNKM dengan Serawak dan Sabah.
Peningkatan kualitas jalur masuk ke daerah di atas mempunyai potensi untuk meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat melalui fasilitas pendidikan dan kesehatan yang lebih baik, harga barang didatangkan dari daerah lain di Indonesia yang lebih murah, peningkatan pariwisata, dan peningkatan akses ke pasaran luar. Namun, jalan umum dapat menyebabkan masalah yang cukup berat bagi pemerintah (biaya yang sangat tinggi untuk pembuatan dan pemeliharaan jalan pada gunung yang terjal), masyarakat setempat (akses migrasi dan transmigrasi tidak formal oleh penduduk luar lebih mudah) dan Taman Nasional (pemenggalan wilayah, erosi tanah kesempatan pasar untuk produk hutan yang meluas, dll.). Walaupun beberapa jalan akan diperlukan, bentuk transportasi alternatif patut dipertimbangkan dan jalur serta arah jalanan harus diteliti dengan cermat untuk meminimalkan dampak negatifnya.
b. Hak Pengusahaan Hutan
Terdapat lima pemegang hak pengusahaan hutan yang mempunyai wilayah operasi bersebelahan dengan taman nasional (Gambar 20). Terdapat pula tiga pemegang hak pengusahaan hutan di Serawak yang berbatasan dengan taman nasional, dan beberapa yang beroperasi sangat dekat dengan taman nasional (Gambar 20). Di Sabah, Perusahaan CARIMAGAS, dekat S. Kobu dan desa Kobu juga terletak dekat dengan
Taman Nasional, dan seluruh area di sekeliling TNKM mempunyai potensi untuk pengusahaan penebangan. Ada beberapa kasus perusahaan-perusahaan di Sabah menyeberang perbatasan secara ilegal dan menebang pohon di wilayah Indonesia. Walaupun kasus-kasus yang telah dipastikan terjadi di daerah bagian timur dari Taman Nasional, beberapa laporan terbaru menunjukan bahwa sebuah perusahaan penebangan telah memasuki wilayah TNKM. Tetapi, berdasarkan survei udara perbatasan taman dengan Sabah dan Serawak pada akhir tahun 1999 dan awal 2000 menunjukan bahwa pihak penebang dari Malaysia belum memasuki wilayah Taman Nasional dengan melalui jalan atau jalur sarad. Beberapa masyarakat lokal juga berminat untuk mendapatkan hak pengusahaan hutan yang sekarang tersedia untuk koperasi masyarakat.
Operasi penebangan yang dikelola dengan baik dan berkelanjutan dapat menyediakan habitat “mendekati alami” untuk menyangga daerah yang betul-betul dilindungi dan berperan sebagai koridor habitat untuk kebanyakan jenis (Sayer 1991). Sayangnya, banyak operasi penebangan yang tidak dikelola dengan baik. Peraturan yang bertujuan memperkecil kerusakan terhadap lingkungan dan memungkinkan penebangan di masa mendatang, seringkali diabaikan karena pihak penebang berusaha mendapatkan keuntungan ekonomi maksimum dalam jangka pendek.
c. Penambangan
Berdasarkan informasi dari Pertamina dan Direktorat Geologi Indonesia (TAD 1963), jenis mineral yang terkandung dalam wilayah Taman Nasional adalah kaolin, batu bara dan pasir kwarsa di Kecamatan Krayan dekat Long Bawan (Gambar 21). Beberapa perusahaan penambangan telah mendapatkan izin untuk melakukan eksplorasi emas di dalam wilayah Taman Nasional (Gambar 21). Karena harga emas yang sangat rendah selama beberapa tahun silam, terdapat sedikit keuntungan untuk menyelidikinya, apa lagi memulai proses mahal membuka pertambangan baru. Jika kenaikan harga emas belakangan ini (September/Oktober 1999) terus berlangsung, kegiatan ekplorasi akan berkembang.
Dan jika terdapat emas dalam jumlah komersil, akan timbul tekanan berat untuk mengizinkan penambangan.
d. Pemukiman Transmigrasi
Tidak ada rencana untuk pemukiman transmigrasi di kesepuluh Wilayah Adat di sekitar Taman Nasional. Pemukiman tersebut akan menimbulkan bencana besar baik bagi masyarakat setempat maupun sumber daya hayati di dalam taman nasional. Karena kondisi tanah yang miskin, sistem pertanian yang produktif akan sulit untuk dilanjutkan. Pendatang baru akan terpaksa memanen hasil hutan dengan tujuan memenuhi kebutuhan pokok dan pencarian nafkah, menyebabkan pemanenan berlebihan. Persaingan dengan masyarakat setempat untuk mendapatkan hasil hutan dan lahan pertanian dapat mengakibatkan perseteruan antar suku bangsa atau agama seperti yang terjadi belakangan ini di beberapa bagian Kalimantan dan Indonesia. Terdapat kemungkinan besar penduduk memasuki wilayah Taman Nasional untuk membuka ladang atau perkebunan. Taman Nasional Kutai adalah contoh bagaimana sebuah kawasan dilindungi mengalami kerusakan akibat pendatang dalam jumlah besar yang bermukim di perbatasannya.
III-128 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)
Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)
III-129
III-131
e. Daerah Penyangga di Malaysia
Karena perbatasan Taman Nasional bagian utara dan barat bersinggungan dengan negara bagian Serawak dan Sabah, terdapat sekitar 50% daerah penyangga TNKM di negara lain. Hal ini menciptakan tantangan khusus untuk pengelolaan daerah penyangga. Potensi ancaman dari perusahaan penebangan kayu Malaysia telah dibahas di atas pada bagian ancaman hak penebangan hutan. TNKM, Pemerintahan Kabupaten dan Propinsi perlu mengembangkan kerja sama yang baik dengan Pejabat Pemerintahan Malaysia untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah yang terjadi.
f. Pengambilan Jenis Secara Berlebihan
Meskipun masyarakat setempat mengatakan bahwa mereka memperkirakan populasi beberapa jenis akan menurun pada masa mendatang akibat tekanann pengambilan (Tabel 27), satu-satunya jenis yang mengkhawatirkan untuk saat ini adalah Cucak Rawa. Jenis tersebut telah diambil secara berlebihan dan telah menghilang atau sangat langka di beberapa daerah di dekat desa-desa di sekitar TNKM. Lembaga Adat Krayan Hilir telah mengeluarkan peraturan melarang sementara penangkapan jenis tersebut, dengan tujuan melindunginya dari kepunahan lokal. Denda pelanggaran peraturan adat tersebut ditetapkan sebesar Rp. 500,000.
Jenis lain yang mungkin menghadapi ancaman serupa yaitu pemanenan berlebihan di masa mendatang, adalah Banteng, Bwa-owa, dan Landak. Banteng kelihatannya terkonsentrasikan di sekitar padang rumput daerah hulu Sungai Bahau, langka, dan kepala serta tanduknya dapat dijual dengan harga yang cukup tinggi. Pada Wilayah Adat Hulu Bahau desa Long Tua, baru-baru ini, telah mengeluarkan peraturan yang melarang pemburuan Banteng. Langur dan Landak diburu untuk mendapatkan batu benzoar, yang mempunyai harga pasaran yang tinggi.
Ancaman pemanenan berlebihan terhadap jenis akan meningkat jika kegiatan berburu dan pengambilan hasil hutan non-kayu oleh pendatang tidak dihentikan, karena dua alasan, sebagai berikut:
a. Pendatang mempunyai pengetahuan dan kepentingan yang terbatas terhadap metode berkelanjutan dan sistem pemanfaatan sumber daya alam. Mereka juga tidak menghormati adat istiadat dan peraturan yang mengatur pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
b. Masyarakat lokal tidak akan mau membatasi panenannya atau meluangkan waktu dan tenaga untuk melindungi sumber daya alam yang mungkin diambil sewaktu-waktu oleh orang lain.
Pencegahan pengambilan yang berlebihan terhadap suatu jenis membutuhkan sebuah program terpadu. Langkah yang sangat penting adalah mendapatkan dukungan Pemerintah atas upaya masyarakat lokal untuk menghentikan eksploitasi yang dilakukan oleh pendatang dan pengusaha dari luar. Kegiatan kepedulian dan pendidikan, pemantauan populasi jenis yang umum dipanen, bekerja bersama dengan masyarakat lokal untuk mengidentifikasi
jenis dalam bahaya dan menentukan langkah-langkah intervensi yang diperlukan untuk menolongnya, dan peningkatan sumber nafkah alternatif secara bertahap juga penting.
Pengembangan dan pelaksanaan program tersebut tidaklah mudah. Dengan harapan pendapatan masyarakat setempat yang meningkat, bidang transportasi dan hubungan dengan pasar luar juga meningkat, tekanan terhadap pengambilan jenis juga meningkat.
Namun demikian, terdapat kemungkinan kegiatan di atas dapat mencegah menghilangnya jenis lainnya di samping badak yang telah mengalami kepunahan lokal.
Informasi lebih lanjut mengenai aktivitas yang diperlukan untuk mengatasi ancaman tersebut terdapat pada Bab IV dan V dalam Rencana Pengelolaan ini.
III-133 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)
Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)