• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Taman Nasional Kayan Mentarang

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 82-88)

BAB I KEADAAN UMUM

A. Aspek Kebijakan Dan Pengelolaan 1. Kebijakan

4. Manfaat Taman Nasional Kayan Mentarang

sumber daya alam dari semua wilayah adatnya. Bagi mereka, penentuan zona inti sementara di daerah yang berbeda untuk memungkinkan sumber daya alam pulih dari upaya pengambilan adalah pendekatan yang lebih alamiah dan logis.

Proyek Kayan Mentarang WWF Indonesia sudah mengidentifikasi lokasi yang berpotensi untuk zona inti (Tabel 25, Gambar 18) meliputi sekitar 238.000 ha, atau hampir 18% luas taman berdasarkan batas dalam SK penunjukkan taman nasional. Masyarakat di Wilayah Adat Kayan dan Long Pujungan sementara sudah sepakat atas beberapa zona inti yang diusulkan di wilayah mereka (Gambar 18). Pembahasan lanjutan dengan masyarakat diperlukan untuk memastikan bahwa mereka memahami sepenuhnya ukuran dan lokasi wilayah tersebut dan bahwa mereka menerima wilayah tersebut akan dijadikan Zona Inti.

Pembahasan lanjutan juga diperlukan untuk menentukan apakah Zona Inti tambahan dapat dibentuk di bagian lain taman nasional.

Jenis Substrat Tipe Hutan Lokasi (hektar)

Dataran tinggi batuan endapan Hutan Kerangas Punungan (31,036) dan S.

Rungan (557) Pegunungan batuan endapan Hutan Dipterocarpaceae Hulu Iwan (65,925)

perbukitan, hutan bukit campuran, dan hutan pegunungan Fagaceae- Myrtaceae

Lempengan basaltic, Hutan Pegunugnan Fagaceae- gunung di Long Puak (28,262), tumpahan lahar lama, Myrtaceae, Dipetrocarpaceae gunung di Long Jelet (13,410), Longsoran gunung berapi dan dataran tinggi, Punggungan Pegunungan di Data Dian gunung berapi yang berbentuk gunung, dataran tinggi (bagian zona inti Pujungan),

kerucut. Fagaceae-Myrtle, Pegunungan pegunungan di Long Alango

Theaceae dan hutan lumut. (27,779).

Pegunungan dan perbukitan Dipterocarpaceae perbukitan, Hulu Bahau/percabangan Hulu

batuan endapan perbukitan campuran, Krayan (28,724)

pegunungan Fagaceae-Myrtle dan punggungan gunung.

Pegunungan batuan endapan Pegunungan Fagaceae-Myrtle, G. Harun (16,735) & das sungai punggungan gunung, Sulon (24,157)

Fagaceae-Myrtaceae lebih tinggi, hutan lumut.

Timbunan batu gamping Ekosistem batuan endapan S. Pujungan (1,396) Keterangan: yang dicetak tebal adalah lokasi zona inti yang sementara ini disetujui oleh masyarakat

Tabel 25. Potensi Zona-Zona Inti di TNKM

Pengakuan bahwa kawasan dilindungi dapat mencakup kegiatan ini berkembang dengan dikeluarkannya Peraturan No. 5 tahun 1990. SK yang memutuskan pendirian TNKM menyatakan bahwa pemanfaatan taman nasional oleh masyarakat setempat boleh dilanjutkan. Arahan Khusus Pengelolaan Taman Nasional (Lampiran Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Taman Buru, dan Hutan Lindung menyatakan bahwa pemanfaatan tradisional diijinkan di dalam Zona Pemanfaatan dan Zona Rimba).

Lebih baru lagi, draft internal Petunjuk Teknis Pelaksanaan Hutan Kemasyarakatan di Kawasan Pelestarian Alam (1999) merekomendasikan:

• Pemanfaatan sumber daya alam oleh masyarakat setempat dengan jalan dan cara yang sesuai dengan fungsi-fungsi utama pelestarian alam.

• Kegiatan pemburuan di taman buru dengan cara tradisional seperti pemakaian anjing, panah, tombak, pisau, dsb.

• Pengambilan hasil hutan non-kayu seperti getah alam, sarang burung, obat tradisional, ganggang, madu, buah-buahan, sayuran, rotan dan umbi-umbian.

Secara internasional, pembuatan Kawasan Dilindungi Tipe VI IUCN, di mana ekosistem atau jenis kehidupan liar dilestarikan agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, juga sudah dibahas dalam bab lain Rencana Pengelolaan TNKM.

Managing Protected Areas in the Tropics (MacKinnon et al. 1986) menyatakan bahwa di mana pengambilan di dalam kawasan lindung diijinkan, di situ harus ada:

• Sistem perijinan untuk masuk;

• Kesepakatan atau kebijakan yang mengatur pengambilan, dan kegiatan pemanfaatan sumber daya lainnya;

• Sistem pemeriksaan dan pengkajian ulang terhadap sistem perijinan dan kesepakatan serta kebijakan yang mengatur pengambilan atau pemungutan; dan,

• Sistem pemantauan yang efektif.

Walaupun jelas bahwa ada kerangka kebijakan untuk mengijinkan pengambilan sumber daya alam oleh masyarakat setempat dari TNKM, ada beberapa masalah yang harus dipecahkan antara PKA dan masyarakat setempat. Masalah ini termasuk jenis apa saja yang boleh diambil, bolehkah masyarakat setempat menjual sumber daya alam yang diambil dari taman nasional, bolehkah masyarakat setempat menebang pohon di taman nasional, dan bolehkah gergaji mesin digunakan di taman nasional?

Jenis Apa Saja Yang Boleh Diambil?

Dalam menganalisis jenis tumbuhan dan hewan yang dapat diambil dengan aman oleh masyarakat setempat, beberapa aspek biologi konservasi perlu dipertimbangkan, termasuk jenis-jenis yang dilindungi hukum di Indonesia, daftar jenis terancam IUCN, dan tingkat populasi jenis di dalam dan sekitar Taman Nasional Kayan Mentarang. Tabel 26 menyajikan informasi tentang jenis-jenis dilindungi di Indonesia dan jenis yang ada di TNKM yang

III-117 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

III-118

diklasifikasi oleh IUCN sebagai Sangat terancam, Terancam, atau Rawan. Informasi mengenai populasi lokal dari sebagian besar jenis-jenis tersebut, sebagaimana diperkirakan oleh masyarakat setempat, termasuk di dalam Tabel 12 dan 15.

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan adalah beberapa jenis dilindungi dan/atau terancam tetapi dianggap melimpah di dalam dan sekitar TNKM, seperti jenis-jenis rusa. Rusa dan beruk juga merupakan hama tanaman pertanian. Jenis lain seperti landak, merupakan sumber pendapatan yang penting. Jenis lain lagi seperti rankong, macan dahan, penting dalam adat budaya setempat.

Pemecahan alternatif dideskripsikan dan dievaluasi dalam Bab IV dan V.

Bagaimana Kebijakan PKA terhadap Masyarakat Setempat yang Menjual Sumber Daya Alam Secara Terbatas dan Berkelanjutan dari beberapa zona dalam taman nasional?

Peraturan PKA mengenai pengambilan sumber daya alam oleh masyarakat setempat kadang-kadang ditafsirkan sebagai hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, dan penjualannya dilarang. Peraturan No. 5 tahun 1990 tidak menyebutkan secara khusus apakah penjualan sumber daya alam yang diambil dari taman nasional diperbolehkan atau tidak, hanya menyatakan bahwa fungsi kawasan tersebut adalah “pemanfaatan berkelanjutan sumber daya hayati dan ekosistemnya”. Pasal 36 dari Bab VIII peraturan tersebut menyatakan bahwa “pemasaran” jenis hewan dan tumbuhan liar diijinkan. Pedoman Penetapan Zonasi Taman Nasional (1995) menyatakan bahwa masyarakat setempat diperbolehkan mengambil sumber daya alam untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak ada definisi apakah yang dimaksud dengan kebutuhan sehari-hari, seperti kebutuhan non-lokal seperti tepung, gula, teh, kopi, kain, obat-obatan, uang sekolah, dsb, atau bagaimana masyarakat setempat mendapatkan kebutuhan sehari-hari kalau sumber pendapatan alternatif tidak ada. Pedoman yang sama menyatakan bahwa jenis ikan komersial boleh di ambil. “Surat Direktur Bina Kawasan Pelestarian Alam No. 706/IV/BKPA-2/1998 (2 Juli 1998) Tentang Petunjuk Pengusulan Rencana Zonasi Taman Nasional menyatakan bahwa aktivitas pengambilan dengan tujuan komersial dilarang di dalam Zona Pemanfaatan Tradisional.

Apalagi, penjualan beberapa sumber daya alam oleh masyarakat setempat diperbolehkan di taman nasional lain di Indonesia, sebagai contoh, ikan dari TN Bunaken dan Komodo, dan jenis eksotik rusa dari TN Wasur. Karena penafsiran atas undang-undang dan pedoman bisa berbeda-beda, penjualan terbatas sumber daya alam berdasar asas berkelanjutan sangatlah penting bagi masyarakat setempat, dan masalah apakah penjualan diijinkan atau tidak, akan menentukan apakah masyarakat setempat akan mendukung atau menolak TNKM, masalah ini harus dipecahkan dengan jelas. Hal ini akan mencegah timbulnya masalah yang lebih besar dari perbedaan penafsiran undang-undang dan kebijakan oleh berbagai pengelola taman nasional atau pihak-pihak yang berkepentingan.

Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan adalah:

• Penjualan secara komersial merupakan potensi ancaman mengingat populasi dikelola sebagai sumber daya alam yang bisa diperbarui untuk keuntungan ekonomi, sering terjadi konflik antara mengelola untuk hasil yang berlanjut dan untuk keuntungan ekonomi secara maksimum (Meffe and Carroll 1994). Apalagi, pemasaran sumber daya alam biasanya menguji atau melewati batas sistem pengelolaan sumber daya secara tradisional yang tidak pernah melayani sedemikian banyak orang atau memproduksi secara melimpah untuk pasar luar (Clay, 1966).

• Masyarakat setempat benar-benar berkepentingan untuk melestarikan sumber daya lokal untuk pemanfaatan di masa depan.

• Perdagangan sumber daya alam sudah menjadi bagian penting dari mata-pencaharian masyarakat selama berabad-abad. Sekarang, uang tunai diperlukan untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. Di antara kebutuhan tersebut adalah teh dan gula, yang lainnya termasuk biaya pendidikan, kesehatan dan alat-alat kerja. Pengembangan sumber pendapatan alternatif akan memakan waktu yang sangat lama.

III-120 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II) Tabel 26. Daftar Jenis Dilindungi di Indonesia dan Termasuk Klasifikasi Terancam

Menurut IUCN.

Nama Indonesia Nama Ilmiah Status IUCN Status di Indonesia

Lutung merah Presbytis rubicunda Not classified Dilindungi

Lutung dahi putih Presbytis frontata Data deficit Dilindungi

Lutung abu-abu Presbytis hosei Not classified Tidak

Bekantan Nasalis larvatus Vulnerable Tidak

Orang utan Pongo pygmaeus Vulnerable Dilindungi

Beruk Macaca nemestrina Vulnerable Tidak

Landak Biasa Hystrix brachyura Vulnerable Dilindungi

Beruang madu Helarctos malayanus Data deficit Dilindungi

Berang-berang bulu licin Lutra perspicillata Vulnerable Tidak

Musang air Cynogale bennettii Endangered Dilindungi

Macan dahan Neofelis nebulosa Vulnerable Dilindungi

Kucing tandang Felis planiceps/ Vulnerable Dilindungi

Prionailurus planiceps

Kucing merah Felis badia/ Vulnerable Dilindungi

Catopuma badia

Gajah Elephas maximus Endangered Dilindungi

Badak Sumatra Dicerorhinus sumatrensis Critically Endangered Dilindungi

Kancil Tragulus javanicus Not classified Dilindungi

Napu Tragulus napu Not classified Dilindungi

Kijang Muntiacus muntjak Not classified Dilindungi

Rusa sambar Cervus unicolor Not classified Dilindungi

Banteng Bos javanicus Endangered Dilindungi

Bangau storm Ciconia stormi Endangered Tidak

Kuau-kerdil Kaliamantan Polyplectron Critically Endangered Tidak schleiermacheri

Sempidan merah Lophura erythropthalma Vulnerable Tidak

Sempidan biru Lophura ignita Vulnerable Tidak

Sempidan Kalimantan Lophura bulweri Vulnerable Dilindungi

Julang jambul hitam Aceros corrugatus Vulnerable Dilindungi

Cucak rawa Pycnonotuszeylanicus Vulnerable Tidak

Gaharu Aquilaria malacencis Vulnerable Tidak

• Sudah banyak pekerjaan yang dilakukan selama sepuluh tahun terakhir untuk mengembangkan usaha konservasi berbasis pengambilan sumber daya alam sebagai cara untuk memberikan insentif keuangan kepada masyarakat untuk melestarikan habitat alami yang menghasilkan bahan-bahan yang menghasilkan pendapatan (Clay 1996).

Faktor lain yang harus dipertibangkan adalah CITES’ Appendix 1, yang mencantumkan jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang dilarang dari perdagangan Internasional secara komersial karena dikhawatirkan akan punah. Appendix 1 tahun 1993 mengandung jenis yang ada di TNKM sebagai berikut:

Nama Ilmiah Nama Inggris Nama Indonesia

Hylobatydae spp. Gibbons Klampiau

Pongidae spp. Orangutans Orangutan

Helarctos malayanus Sun bear Beruang

Felis planiceps Flat-headed cat Kucing dampak

Neofilis nebulosa Clouded leopard Macan dahan

Elephas maximus Asia elephant Gajah

Rhinocerotidae Rhinoceroses Enggang

Buceros vigil Helmet hornbill Rangkong gading

Bolehkah Masyarakat Setempat Menebang Pohon didalam Taman Nasional?

Menurut peraturan PKA, pohon tidak boleh ditebang di kawasan lindung. Hal ini menimbulkan masalah sehingga PKA harus memecahkannya dengan masyarakat, karena mereka menebang pohon Aquilaria untuk mengambil gaharu, kayu untuk pembangunan rumah pribadi dan bangunan masyarakat seperti gereja.

Tabel 18 dan 19 menunjukkan ketergantungan masyarakat setempat kepada gaharu sebagai sumber pendapatan yang tidak bisa digantikan dengan mudah.

Aquilaria beccariana, Aquilaria malaccensis dan Aquilaria microcarpa, tiga jenis penghasil gaharu bila terinfeksi dengan jamur, sekarang diklasifikasi sebagai rawan (Vulnerable) oleh IUCN tetapi tidak dilindungi oleh hukum di Indonesia. Menurut pengumpul Dayak lokal, hanya satu di antara 30 pohon yang mengandung resin gaharu (Momberg et al.

1997). Masyarakat setempat menggunakan pengetahuan mereka tentang kondisi ekologis, bentuk pertumbuhan, dan sifat-sifat fisik lainnya untuk mendeteksi pohon yang terinfeksi.

Pohon yang memenuhi gejala tersebut, diperiksa dengan melukai sebagian batangnya.

Kalau resinnya ditemukan, pohonnya baru ditebang. Pengumpul lokal akan kembali untuk memeriksa pohon yang dilukai tetapi belum ditebang.

Cara yang berpotensi untuk berkelanjutan ini berlawanan dengan cara yang dipakai oleh pengumpul non-lokal, yang menebang semua pohon Aquilaria yang ditemui. Di beberapa

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) III-121

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

bagian taman nasional, tekanan lokal untuk mengambil gaharu sebelum orang luar datang mengakibatkan populasi pohon tereksploitasi secara berlebihan (Momberg et al. 1997). Upaya yang terus menerus dari adat setempat untuk menghentikan pengambilan oleh orang luar perlu didukung oleh pemerintah daerah, KSDA dan PKA untuk membantu memulihkan keyakinan masyarakat setempat agar mereka tetap menebang pohon yang terinfeksi saja. Meskipun gaharu dilaporkan semakin jarang dibanding dengan masa lalu, masih banyak masyarakat yang mencari dan mendapatkannya.

Terlebih lagi, Gubernur Kalimantan Timur sudah mengecualikan Gaharu dari peraturan Hutan Lindung yang melarang penebangan pohon. Pengecualian ini mungkin akan diterapkan juga di Zona Pemanfaatan Tradisional di dalam taman nasional. Faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah dengan tingginya harga gaharu dan semakin langkanya produk ini, penelitian tentang bagaimana cara menginfeksi pohon Aquilaria akan meningkat di beberapa negara. Saat cara menginfeksi ini ditemukan, yang mungkin akan menjadi kenyataan, harga akan turun dan pengumpulan di hutan akan berkurang banyak.

Bolehkah gergaji mesin digunakan untuk menebang pohon?

Gergaji mesin merupakan alat yang penting dan mudah digunakan oleh masyarakat setempat. Mereka tidak akan setuju untuk meninggalkan penggunaan gergaji mesin di lahan tradisional yang merupakan bagian dari taman nasional. Salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan adalah gergaji mesin dapat membantu masyarakat untuk menggunakan lebih banyak bagian pohon karena sampahnya hanya sedikit.

b. Wisata Alam Berbasis Masyarakat

Pariwisata merupakan bagian dari pengembangan dan operasionalisasi taman nasional.

Adalah penting untuk memaksimumkan manfaatnya dan meminimumkan potensi dampak negatifnya pada masyarakat setempat dan lingkungan. Ada kaitan yang lebih jelas antara perlindungan lingkungan dan pariwisata daripada dengan pengembangan ekonomi lainnya. Kalau lingkungan rusak, lebih sedikit wisatawan yang akan datang.

Semua kegiatan pariwisata di TNKM harus berbasis masyarakat seluas mungkin.

Pendekatan berbasis masyarakat akan sangat membantu dalam upaya untuk menunjukkan bahwa melindungi dan mendukung TNKM akan memberikan manfaat ekonomi dan manfaat lainnya.

Faktor-faktor yang menyumbang keberhasilan wisata alam berbasis masyarakat termasuk:

• Masyarakat setempat mempertahankan kepemilikan atas unsur yang terpenting dari pengalaman pariwisata, seperti di G. Bromo, dimana mereka memiliki dan mengoperasikan kuda dan jip yang membawa wisatawan ke kawah.

• Upah yang memadai diberikan kepada desa di dekat kawasan wisata sebagai sewa atas lahan masyarakat dengan bentuk uang tunai atau sarana seperti rumah sekolah atau klinik kesehatan.

• Usaha pariwisata yang sesuai dengan struktur budaya yang ada.

• Adanya ketransparanan tentang bagaimana pendapatan pariwisata dikumpulkan dan digunakan.

• Perusahaan swasta dari luar kawasan membuka penginapan atau jasa pemanduan sebagai usaha bersama dengan masyarakat setempat, untuk menjamin pembagian keuntungan yang adil.

• Peningkatan kepedulian masyarakat setempat mengenai sifat-sifat dan tuntutan wisatawan dan kemungkinan dampaknya pada pariwisata.

• Mempelajari harapan masyarakat setempat terhadap pariwisata dan juga kekhawatiran mereka, membahas cara-cara untuk membatasi pengaruh negatif dari pariwisata, dan menyusun mekanisme yang bisa diterima budaya untuk menyebarkan manfaat pariwisata seadil mungkin.

• Pelatihan untuk masyarakat setempat yang ingin membuka usaha wisata kecil atau yang akan terlibat dalam pariwisata, misalnya dalam bidang bahasa asing, panduan alam, teknik kesehatan dan keamanan, pengelolaan usaha kecil, keramahan dan katering.

• Dukungan pemerintah kepada pendekatan wisata alam berbasis masyarakat.

Jumlah Wisatawan yang Diperhitungkan akan Datang

Sudah dikemukakan bahwa jumlah wisatawan yang mengunjungi TNKM masih sangat kecil, sekitar 25 orang setiap tahunnya. Penyebabnya termasuk kurangnya pengetahuan tentang TNKM, biaya perjalanan yang mahal, transportasi yang tidak teratur serta jarak dari rute normal bagi pejalan kaki (backpackers) dan wisatawan lainnya. Sangat sulit untuk meramalkan dengan tepat jumlah wisatawan yang akan mengunjungi TNKM pada 25 tahun mendatang.

Beberapa faktor yang mempengaruhi jumlah wisatawan adalah:

• Kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia akan meningkat lagi setelah situasi politik dan ekonomi menjadi lebih stabil, dan karena pasar pariwisata internasional makin meluas. Makin banyak orang yang mencari wisata yang lebih berbasis pada kegiatan dan pengetahuan, merupakan pasar yang bisa diincar oleh TNKM.

• Sebagaimana masyarakat Indonesia menjadi semakin moderen dan golongan menengah semakin membesar, kecenderungan akan wisatawan domestik juga semakin meningkat. Juga masuk akal untuk mengharap akan adanya peralihan ke kegiatan seperti pengamatan burung, pendakian dan penyelaman daripada tekanan pariwisata saat ini yang mengambil liburan dalam kelompok besar di mana banyak orang lain. Hal ini telah terjadi di Malaysia, dimana proporsi golongan menengahnya lebih besar.

• Sarana transportasi dan komunikasi di dalam dan sekitar TNKM akan membaik.

• Karena lingkungan alam yang indah semakin jarang di Kalimantan, Indonesia, Asia Tenggara dan Dunia, TNKM akan menjadi lebih menarik sebagai tujuan wisata.

Skenario yang paling mungkin adalah sesudah adanya upaya yang keras dalam pengembangan dan promosi, dan setelah situasi politik menjadi semakin stabil, jumlah wisatawan akan meningkat secara perlahan dan bertahap. Jumlahnya mungkin akan naik menjadi 200 sampai 300 orang per tahun selama 5 tahun, 700 sampai 800 orang per tahun setelah 10 tahun, 1.500 per tahun setelah 15 tahun, 2.000 orang per tahun setelah 20 tahun dan 3.000 orang per tahun setelah 25 tahun (Cochrane 1999). Kemungkinannya kecil untuk lonjakan kedatangan sampai ribuan wisatawan atau tidak ada peningkatan sama sekali.

Hal ini berarti bahwa rencana pengembangan harus memperhitungkan kenaikan jumlah wisatawan secara bertahap dan mantap daripada suatu lonjakan, dan pariwisata akan berperan kecil di dalam ekonomi setempat. Harus dilakukan tindakan yang berhati-hati agar harapan masyarakat setempat tidak melambung melewati kenyataan. Mengingat kemiskinan ekonomi di kawasan, setiap penambahan dollar dari wisatawan akan menguntungkan ekonomi lokal, terutama kalau industrinya disusun untuk memaksimalkan partisipasi lokal dan pengadaan pendapatan bukannya untuk keuntungan perusahaan dari luar.

Jenis Wisatawan yang Mungkin Tertarik ke TNKM:

Jenis wisatawan yang mungkin akan tertarik untuk mengunjungi TNKM dimasa 25 tahun mendatang adalah pengunjung internasional seperti penjelajah, pejalan kaki (backpackers) dan wisatawan khusus dalam studi-wisata, pengamatan burung, dan sebagainya. Jenis wisatawan semacam ini biasanya lebih menyukai kondisi yang keras dan terisolir seperti TNKM.

Kegiatan Pariwisata:

Bab I. C Buku II Rencana Pengelolaan menggambarkan potensi wisata taman nasional, dan objek wisata di wilayah yang berbeda di taman nasional dicantumkan dalan Lampiran 8. Bagian ini mengandung analisis kesempatan dan tantangan dalam pengembangan kegiatan wisatawan.

Pengamatan kehidupan liar:

Walaupun TNKM mempunyai keragaman burung yang tinggi untuk menarik pengamat burung yang bersemangat mengalami kesulitan untuk menambah daftar jenis burung yang berhasil dilihatnya, namun mungkin akan sulit untuk memancing mereka datang ke TNKM.

Banyak, dan mungkin sebagian besar jenis burung dapat dilihat di tempat yang lebih mudah dicapai seperti G. Kinabalu, Lembah Danum dan tempat-tempat lain di Sabah.

Salah satu pusat pengamatan burung dan kehidupan liar lainnya yang berpotensi adalah di sekitar Stasiun Penelitian Hutan Lalut Birai dan jalur setapak dari Long Tebulo ke Long Alango. Terdapat serangkaian ketinggian dan habitat yang bagus di sekitar tempat tersebut, dengan tempat yang berpotensi untuk mendirikan panggung atau menara pengamatan.

III-124 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Sejalan dengan pengembangan pariwisata, tempat pengamatan tersembunyi (“hides” atau

blind”) perlu dibangun di dekat kubangan air, sumber garam, atau tempat hewan berkumpul lainnya.

Daerah penting lainnya untuk mengintai kehidupan liar adalah padang rumput di sebelah barat laut desa Apau Ping, dan mata-air Sungai Lurah kearah hulu dari desa Long Bena, dimana banyak kebun buah yang menyediakan makanan untuk banyak jenis hewan. Tempat tersebut sayangnya, cukup sulit untuk dicapai, terutama saat permukaan air Sungai Lurah sedang dangkal sehingga perjalanan perahu menjadi lambat atau tidak mungkin sama sekali.

Arung-jeram:

Sungai Bahau dan Tubu mempunyai potensi untuk perjalanan perahu atau rakit. Namun demikian usaha untuk mendirikan operasi arung jeram di daerah terpencil lainnya di Indonesia seperti di Sulawesi Selatan dan Tengah, belum pernah berhasil. Operasi arung- jeram yang paling berhasil di Sumatera, Jawa Barat dan Bali di mana tempat awal dan akhir perjalanan mudah diakses melalui jalan.

Wisata Budaya:

Wisatawan independen di kawasan biasanya tidak menjumpai tarian adat atau pertunjukan budaya lainnya kecuali mereka kebetulan datang pada saat ada pertunjukan. Menyewa masyarakat desa untuk menggelar pertunjukan adalah sangat mahal bagi kebanyakan wisatawan yang mengunjungi TNKM, setidaknya pada tahap awal. Namun demikian, kalau ada sebuah kelompok wisatawan, pertunjukan tarian dan musik setempat dapat merupakan atraksi bagi mereka dan sumber pendapatan bagi masyarakat.

Kerajinan Kalimantan sudah cukup terkenal akan kualitas dan keindahannya, dan seharusnya dapat dijual kepada wisatawan yang sedang berkunjung, dengan mengantarkan produk yang tebaik ke tempat wisatawan biasanya berkumpul.

International Wildernes and Cultral Study Tours.

Ada sebuah grup yang beranggotakan 10 biro perjalanan di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang yang khusus menyelenggarakan wisata ke tempat-tempat liar, studi, dan budaya ke seluruh dunia untuk kelompok yang terdiri dari 10 sampai 15 wisatawan. Perusahaan ini mempunyai langganan wisatawan berpenghasilan tinggi. Mereka mempunyai reputasi yang baik dalam bekerjasama dengan perusahaan wisata lokal, karena sangat menghargai adat dan budaya setempat, dan memastikan agar masyarakat setempat mendapatkan bagian yang adil dari pendapatan pariwisata. Karena mereka berurusan dengan kelompok yang lebih besar, biaya carter yang mahal dapat dipikul bersama oleh orang banyak. Karena kelompok-kelompok akan dikirim secara rutin maka akan lebih mudah untuk mengembangkan dan meningkatkan sistem sarana dan pendukung pariwisata.

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) III-125

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 82-88)