• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengembangan Daerah Penyangga a. Perekonomian Lokal

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 99-105)

BAB I KEADAAN UMUM

B. Sumber Daya Hayati dan Ekosistem

4. Pengembangan Daerah Penyangga a. Perekonomian Lokal

Kondisi perekonomian setempat akan sangat berbeda dalam 25 tahun mendatang, sebagai akibat dari perkembangan ekonomi secara alami serta kehadiran taman nasional.

Sebagian besar proyek kawasan lindung di Indonesia dan di seluruh dunia telah menggunakan model Integrated Conservation and Development Project (ICDP).

Model tersebut berdasarkan pemikiran bahwa kelangsungan kawasan dilindungi bergantung kepada peningkatan manfaat lokal dari kawasan tersebut. Manfaat dapat berupa sumber nafkah alternatif untuk menggantikan mata pencaharian yang mengancam konservasi, Prasarana dan pelayanan sosial (sekolah, puskesmas dll) atau usaha berbasis konservasi (seperti eko-wisata, pembudidayaan kupu-kupu dll.) yang bergantung langsung kepada keberlanjutan kawasan lindung.

Analisis yang dilakukan oleh Bank Dunia terhadap ICDP di Indonesia pada tahun1997 telah mengisyaratkan bahwa pendekatan ini mengalami beberapa masalah seperti:

• Sumber daya proyek yang terbatas dan hambatan institusional umumnya membatasi sasaran penerima bantuan, walaupun dari proyek ICDP yang termahal, kepada hanya segelintir desa-desa di sekitar kawasan taman, atau sejumlah kecil individu dalam masyarakat, atau keduanya.

• ICDP berskala besar pun mempunyai sumber keuangan yang minim untuk konservasi yang efektif.

• Menghasilkan manfaat langsung dari taman nasional sangat sulit. Bahkan pendapatan dari pariwisata masih belum memenuhi harapan.

• Belum terdapat bukti yang meyakinkan bahwa tekanan terhadap sumber daya hayati dapat dikurangi dengan meningkatkan pendapatan dan produktivitas pertanian pada

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) III-146

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

desa-desa. Sebaliknya, intervensi tingkat masyarakat yang tepat dapat meningkatkan penekanan dari pendatang yang tertarik dengan prospek ekonomi baru. Terdapat indikasi bahwa beberapa proyek pengembangan pertanian dapat meningkatkan pembukaan lahan baru (CIFOR, 1999).

Walaupun masyarakat yang tinggal di sekitar taman nasional miskin uang, tetapi mereka berkecukupan dalam kebutuhan dasar dan umumnya tergolong di atas pendapatan rata- rata tingkat propinsi. Penyebabnya adalah pemanenan hasil hutan dari lahan tradisionalnya di dalam taman nasional dan di daerah penyangga, di samping juga stabilitas dan efisiensi sistem pertaniannya.

Menyediakan sumber nafkah alternatif yang setidaknya kelihatan mengurangi ancaman terhadap keragaman hayati TNKM, seperti pariwisata, agroforestry, dan agroindustri, akan susah untuk dikembangkan dengan cepat. Kekurangan dana, keterpencilan dan jarak ke pasar, dan masalah teknik seperti tanah miskin hara menjadi alasan mengapa pengembangan sumber nafkah alternatif berjalan lambat. Analisis berbagai alternatif yang lebih lengkap tercantum dalam paragraf berikut. Setidaknya untuk permulaan, masyarakat setempat akan terus bergantung pada pemanenan hasil hutan untuk kehidupannya.

Pengelolaan taman harus mencari cara-cara bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk menjamin keberlangsungan pemanenan tersebut, menggunakan teknik pengelolaan satwa serta penyuluhan tentang kepunahan; untuk meningkatkan kesesuaian dengan batasan atau larangan pemanenan jenis yang dianggap terancam punah secara lokal. Di samping itu, program pembangunan ekonomi dapat diperluas dan dikembangkan berangsur-angsur dalam masa pelaksanaan rencana pengelolaan taman selama 25 tahun.

Tugas tersebut adalah sebuah tantangan yang sulit, terutama dengan meningkatnya jumlah penduduk. Sebagian dari peningkatan tersebut adalah pertumbuhan masyarakat lokal.

Bertambahnya pendatang juga harus disadari, dan kemungkinan masyarakat pendatang tidak mengetahui cara mengelola sumber hayati secara berkelanjutan. Mereka tidak akan mengikuti adat setempat, dan percampuran budaya dan agama akan menambah rumitnya pengelolaan. Transportasi keluar masuk akan meningkat secara perlahan-lahan. Manfaatnya adalah mempermudah mengembangkan mata pencaharian alternatif dengan mendirikan pasar serta menekan biaya transportasi. Dampak buruknya adalah kemudahan memanen dan memasarkan hasil hutan dalam tingkat tinggi, dengan nilai yang semakin meningkat akibat berlangsungnya penebangan sisa-sisa hutan di Kalimantan dan tempat lain di Indonesia.

b. Pengembangan Agroforestri

Pembangunan dalam bidang pertanian dan agroforestri di daerah penyangga Taman Nasional adalah tantangan yang luar biasa, dalam berbagai hal:

• Perladangan gilir balik dan sistem agroforestri yang dipraktekkan oleh masyarakat lokal tampak stabil, produktif dan berkelanjutan untuk jumlah penduduk saat ini. Karena pengalaman masyarakat dengan sistem tersebut, pendatang baru belum tentu dapat meningkatkan tata cara pertanian saat ini. Insentif bagi petani lokal untuk mengintensifkan

produksi pertanian kecil, khususnya jika membutuhkan tenaga buruh tambahan yang harus dijadwalkan secara teratur dan ketat, dan hasil tambahan yang sangat kecil.

• Pengkajian ICDP di Indonesia oleh Bank Dunia baru-baru ini menyimpulkan bahwa belum terdapat bukti yang meyakinkan dan mendukung pendapat bahwa tekanan terhadap sumber hayati dapat dikurangi dengan cara meningkatkan produktivitas pertanian pedesaan.

• Pihak Pengelola Taman yang berwenang tidak mempunyai pengalaman dalam pembangunan pertanian dan segala aktivitasnya yang berlangsung di luar kawasan taman nasional, di mana Pengelola Taman tidak mempunyai tanggung jawab atau wewenang langsung. PKA juga tidak mempunyai anggaran untuk program pembangunan pertanian tersebut.

• Tanah di sekitar taman nasional pada umumnya dalam kondisi yang miskin hara, membatasi jumlah tanaman baru yang dapat ditumbuhkan atau menanam yang mudah untuk menghasilkan keuntungan yang cukup.

• Biaya transportasi yang tinggi dan masa pengiriman yang lama berarti kebanyakan produk pertanian tidak dapat bersaing atau tidak mencapai pasar dalam kondisi prima.

Pedoman Umum:

Di samping berbagai kesulitan di atas, jelas bahwa proyek pertanian mempunyai peran dalam pembangunan daerah penyangga. Tetapi harapan atas dampak dan laju pembangunan tersebut harus realistis. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjamin kesesuaian pembangunan tersebut dengan sasaran perlindungan lingkungan dan keragaman hayati taman nasional.

Sayer (1991) membuat daftar kesimpulan utama sehubungan dengan aktivitas pembangunan pertanian di daerah penyangga. Daftar tersebut dapat membantu pengelola taman mengkaji proyek-proyek yang berpotensi. Pedomannya adalah:

• Proyek-proyek sebaiknya dimulai dalam ukuran kecil dan mengenali kebutuhan untuk mendapatkan pengetahuan tentang daerah sekitar dan kebutuhan masyarakat.

• Jangan memulai proyek kecuali terdapat kemungkinan bantuan yang dapat dipertahankan selama 10 sampai 15 tahun. Masalah di daerah penyangga jarang sekali dapat diselesaikan dalam 3 sampai 5 tahun dengan proyek bantuan biasa.

• Rencana teknis yang terperinci tidak dibutuhkan. Pusatkan cara menyampaikan bantuan dalam jumlah kecil dengan cara yang peka terhadap ekologi dan berasal dari pertimbangan atas peluang dan kebutuhan pembangunan, dengan merundingkannya secara intensif bersama masyarakat lokal.

• Sebuah proyek harus dapat menyumbangkan ketrampilan yang belum dimiliki oleh masyarakat, seperti teknik pertanian lebih tinggi, pengetahuan pasar luar, dan penghargaan terhadap lingkungan ekonomi makro.

• Jangan mendahului lembaga pambangunan desa milik pemerintah, walaupun terlihat kurang memadai. Mendahului struktur tersebut menghilangkan kelangsungan proyek.

• Tidak dianjurkan membayar petani untuk mengikuti tugas pembangunan atau menghonor pegawai pemerintah melebihi gaji tetapnya. Pembayaran tersebut tidak dapat bertahan jika bantuan luar akhirnya berakhir.

• Gunakan teknologi sederhana, dengan bahan dan tenaga kerja lokal.

• Pendirian lembaga lokal, yayasan atau Lembaga Swadaya Masyarakat dapat menarik dan mempertahankan bantuan luar untuk berbagai program di daerah penyangga.

Pengembangan Padi Sawah Irigasi:

Mengingat Kayan Mentarang adalah daerah yang terpencil dan susah untuk dicapai, swasembada pangan yang berkesinambungan dari pembudidayaan tanaman dan hasil hutan merupakan hal yang sangat penting bagi masyarakat lokal. Kekeringan dan krisis politik serta ekonomi belakangan ini, telah memperkuat masalah yang besar ini.

Salah satu jalan untuk mengatasi kekeringan di masa mendatang dan mengintensifkan pertanian adalah dengan memperbaiki sawah irigasi pada daerah-daerah yang sudah menjadi umum, seperti Kecamatan Krayan, serta membangun irigasi untuk padi sawah pada daerah lainnya (Limberg 1999). Swasembada pangan dapat meningkat dan terjadi surplus, seperti yang terjadi di daerah Krayan dapat pula terjadi di daerah lain seperti di sekitar Long Alango. Namun demikian, permukaan terjal pada sebagian daerah Kayan Mentarang menghambat perluasan irigasi untuk padi sawah. Jumlah dana yang besar akan diperlukan untuk membangun Prasarana yang penting bagi daerah yang relatif kecil.

Padi sawah irigasi juga memerlukan tenaga kerja yang banyak dan tetap yang mungkin tidak tersedia, atau budaya perladangan gilir balik yang membutuhkan tenaga kerja sedikit dan lebih luwes tidak tertarik dengan teknik pertanian baru ini, kecuali jika tidak dapat memenuhi kebutuhan peningkatan jumlah masyarakat. Masalah bertambah karena masyarakat setempat lebih menyukai padi kering. Manfaat lain dari pertanian padi irigasi adalah dapat menyediakan insentif untuk melindungi daerah aliran sungai yang menjadi sumber pengairan.

Peternakan:

Melimpahnya hewan buruan, budaya berburu dan kesenangannya, selera akan aroma dan cita rasa daging hewan liar, serta aspek-aspek lain yang menjadi hambatan mendirikan peternakan sebagai alternatif dari perburuan.

Beberapa pertimbangan penting dalam rancangan dan pengembangan program tersebut adalah:

a) Hewan pemamah-biak seperti Sapi, Kambing dan Kerbau bermanfaat karena dapat dipelihara dengan sedikit tenaga, karena masyarakat setempat tidak terbiasa dengan peternakan intensif. Namun di sebagian besar daerah, daging hewan pemamah biak kurang disukai. Pada umumnya, ternak Sapi dan Kambing kurang penting bagi masyarakat dan kurang digunakan dalam upacara-upacara adat maupun acara lain.

Terkecuali masyarakat Krayan, masyarakat di kawasan mempunyai pengalaman yang terbatas dalam memelihara hewan ternak. Upaya Belanda dalam memperkenalkan Sapi

III-149 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

juga tidak berhasil. Pengembangan dan peningkatan pemeliharaan Kerbau di Krayan mempunyai potensi yang lebih besar. Banyak Kerbau yang telah dijual kepada petani Malaysia. Di daerah lain, tidak terlihat kemungkinan untuk pemeliharaan Sapi, Kambing atau Kerbau yang akan menjadi bagian utama dalam sistem pertanian jangka pendek atau menengah. Mengenalkan Sapi juga mengancam terjadinya kontaminasi genetik terhadap populasi Banteng dan mendorong pembukaan lahan dengan tujuan memperoleh padang rumput. Hewan ternak juga dapat menyebarkan penyakit baru terhadap satwa.

b) Babi lebih dianggap sebagai bahan pangan dari pada hewan pemamah-biak. Hambatan terbesar dalam mengembangkan peternakan Babi adalah diperlukannya pakan tambahan.

Sumber pakan yang mudah ditumbuhkan adalah ubi kayu atau sagu. Tanaman tersebut dapat menjadi pangan alternatif untuk masyarakat dalam masa kekurangan makanan.

Tetapi, ubi kayu menyerap unsur hara yang relatif banyak, dan ketika ditanam pada lereng terjal tanpa melakukan pergiliran tanaman dan sistim larikan, erosi tanah yang serius dapat terjadi. Pengembangan peternakan Babi dapat meningkatkan pemanenan sagu. Pembuatan pagar atau kurungan diperlukan untuk mencegah Babi merusak tumbuh-tumbuhan. Tidak adanya kayu ulin, kayu alternatif yang sesuai (jenis kayu yang tahan dan kuat) harus ditemukan. Mungkin diperlukan juga memperkaya pakan Babi dengan protein, yang susah didapatkan.

c) Kurangnya pelayanan dokter hewan di daerah tersebut adalah suatu hambatan pula.

Wabah penyakit seringkali mematikan semua populasi Ayam dan Bebek di desa-desa.

Karena pihak pemerintah akan mengalami kesulitan menyediakan pelayanan dokter hewan untuk daerah tersebut, perlu ditemukan jalan alternatifnya.

Kolam Ikan:

Beberapa kolam ikan sudah ada di berbagai tempat seperti di Long Alango. Dalam jangka panjang, pengembangan peternakan ikan yang sesuai dapat menyediakan sumber protein yang siap dikonsumsi oleh masyarakat. Dari pandangan kepentingan taman nasional, ancaman terbesar dari perluasan pembangunan kolam ikan adalah masuknya jenis ikan yang asing dan agresif, seperti Tilapia yang dapat mengancam kepunahan jenis lokal.

Pengelola taman harus memantau dengan baik rencana lembaga pemerintah ataupun independen, di samping sektor swasta dan individu yang kemungkinan akan memperkenalkan jenis ikan yang baru. Dianjurkan jenis lokal yang diternakan dalam kolam ikan. Namun demikian, sebagian besar dari jenis lokal belum pernah dikembang-biakkan secara buatan, dan memerlukan penyelidikan lebih lanjut.

Pohon Buah:

Jenis dan jumlah buah yang diperdagangkan dari Kayan Mentarang ke pasar-pasar di pesisir masih terbatas karena masa simpan yang pendek dan masalah transportasi. Walaupun terdapat hambatan besar untuk usaha pengembangan komersil pohon buah-buahan, namun perlu diupayakan dengan serius untuk mempertahankan atau memberi dorongan untuk meneruskan penanaman kebun buah di dalam daerah penyangga (Limberg 1999). Hal ini dapat menghasilkan pendapatan kalau kelak jalur transportasi ke daerah tersebut diperbaiki.

Karena produksi buah-buahan di seluruh Kalimantan Timur masih bergantung kepada

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) III-150

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

musim buah, daerah Kayan Mentarang mempunyai kelebihan berupa musim buah yang berbeda dengan musim buah di daerah pantai.

Sayuran:

Ketika jalur transportasi yang sudah ditingkatkan membuka daerah seperti Krayan, ketinggiannya dan suhunya yang lebih dingin memungkinkan untuk pengembangan sayuran yang tidak dapat tumbuh di daerah pantai yang lebih rendah. Pasar yang berpotensi adalah Tarakan, Samarinda dan Balikpapan.

Tanaman Komersil:

Berdasarkan data yang telah dianalisis oleh RePPProt dan pertimbangan lainnya, tanaman komersil yang cocok, dari sudut pandang pertanian, untuk beberapa daerah sekitar taman nasional adalah teh, kopi, kakao, cengkeh, lada, kacang mete, nanas, pisang dan karet (Tabel 28).

Kopi (Robusta) telah ditanam dalam skala kecil dan dijual secara lokal. Melihat pengalamannya dengan tanaman tersebut, akan mudah bagi masyarakat untuk meniru teknik-teknik memelihara dan meningkatkan pembudidayaan kopi.

Komoditi kopi mempunyai pasar yang baik secara nasional, regional bahkan internasional.

Kopi juga lebih tahan dibandingkan dengan produk komersil lain seperti kakao. Hal ini penting mengingat jarak tempuh yang jauh mencapai pasar luar dan berbagai hambatan sehubungan dengan sistem transportasi yang tidak dapat diandalkan.

Komoditi kakao, kacang mete, nanas dan pisang menghadapi masalah pemasaran karena sifatnya yang mudah rusak dan/atau berat, sehingga tidak berpotensi untuk pemasaran di luar, setidaknya sampai sarana transportasi ditingkatkan.

Lada bukanlah tanaman yang baru untuk masyarakat lokal. Harga lada di pasar internasional juga tinggi pada saat ini. Kendala penanaman lada adalah ‘menguras’ kandungan tanah tanpa pemakaian pupuk kimia atau organik. Tetapi, sistem yang berkelanjutan menggunakan pohon pengikat nitrogen dan penutup tanah adalah merupakan upaya penyuluhan pertanian dan menjadi populer. Pasar untuk lada yang dibudidayakan secara organik juga sedang berkembang dan harga yang tinggi untuk jenis lada tersebut dapat menutup ongkos transportasi yang tinggi. Berbeda dengan suku Dayak lainnya di Kalimantan, perkebunan karet campuran bukanlah kebiasaan tradisional.

Masyarakat lokal di desa Long Midang dan Krayan Darat juga telah berusaha untuk bertanam cengkeh, dimana potensi produk tersebut perlu diselidiki lebih lanjut.

Terdapat sejumlah potensi untuk pengembangan pertanian organik, seperti yang tengah berjalan di daerah penyangga Taman Nasional Leuser. Para petani menghasilkan pala, minyak kemiri dan minyak pala tanpa menggunakan pestisida, herbisida ataupun pupuk buatan. Kesesuaian kerja mereka dengan metode pertanian organik terus diperiksa

902703 (67%)TTTTTTTTTTTTTTTTTT 142492 (11%)TTTTTTTTTTTTTTTTTT 96312 (7%)TTTTTTTTTTTTTTTTTT 61838 (5%)TTTTCTTTTCTTTTTTTT ongkok (BTK)30070 (>2%)CTTCCCCCCCCCCTCCCT ewai Baru (TWB)29934 (>2%)TTCTCTCTCCCCTTTTTT 21893 (<2%)TTTTTTTTTTTTTTTTTT eweh (TWH)21877 (>2%)TTCCCTCTCCCCCTCCCT 21671 (<2%)TTTTTTTTTTTTTTTTTT 7619 (<1%)TTTTTTTTTTTTTTTTTT abang (STB)4304 (<1%)TTTCCCCCCCCCTTTTCT W)1844 (<1%)TTTTTTTTTTCTTTTTTT WW)690 (<1%)CTCCTTCTCCTCCTCCCT (BTA)645 (<1%)TTTTTTTTTTTTTTTTTT 357 (<1%)TTTCCTCTCCCCTTTTTT 261 (<1%)TTTTTTTTTTTTTTTTTT Lahan Kering

Lahan Basah

T ernak Agro-Forest

Karet Kelapa Sawit

Kelapa T e h

Kopi Coklat Cengkeh Merica T ebu T embakau Kacang Mente

Nenas Pisang Sagu

Sistem LahanLuas

abel 28.Kecocokkan (C) atau Ketidakcocokan (T) Berbagai Macam Tanaman Pertanian Terhadap Sistem Lahan di Wilayah Taman Nasional Kayan Mentarang aman Nasional (RPTN)III-152

dan disahkan oleh Natural Association for Sustainable Agriculture Australia (NASAA).

Tidak memasuki wilayah taman nasional tanpa izin menjadi salah satu kriteria untuk pengesahan. LSM seperti WWF dan Forest Trade memberi bantuan pelatihan, pengembangan dan pembangunan pasar. Sebuah persatuan petani organik didirikan.

Kelebihan produk pertanian organik adalah dapat terjualnya pada harga yang lebih tinggi.

Sebagai contoh, harga dari petani untuk pala organik adalah Rp 3000/Kg dibandingkan dengan harga pala non-organik Rp 2200/Kg; dan Rp 18500/Kg untuk minyak pala secara organik terahadap minyak pala non-organik pada harga Rp 14000/Kg. Di daerah Kayan Mentarang, komoditi kopi, teh, kayu manis, cengkeh dan lada adalah yang paling cocok untuk pertanian organik.

c. Hasil Hutan Non-Kayu

Harga berbagai Hasil Hutan Non-Kayu, termasuk hewan atau organ hewan, kemungkinan akan meningkat dalam 25 tahun mendatang. Alasan utamanya adalah persepsi menurunnya persediaan produk tersebut dengan meningkatnya hutan tropis dan habitat alami yang dihilangkan atau dirusak. Harga yang lebih tinggi akan mendorong pemanenan.

Pembangunan dan peningkatan transportasi menuju kawasan TNKM juga akan memudahkan pemasaran Hasil Hutan Non- Kayu (HHNK) dalam jumlah besar dan harga bersaing.

Tetapi, ada beberapa faktor yang dapat membantu mengurangi pemanenan tersebut, antara lain:

• Produksi buatan/pembudidayaan produk tertentu, seperti usaha menginokulasi pohon Aquilaria dengan kapang penyebab pembentukan getah Gaharu.

• Kemajuan dalam bidang obat-obatan dapat mengurangi permintaan atas HHNK.

Pengembangan obat Viagra dipercaya dapat mengurangi permintaan HHNK yang diyakini orang dapat menambah atau mengembalikan potensi seksual.

• Kelompok konservasi mengupayakan kerja sama dengan pengguna obat Tradisional Cina dan obat tumbuhan lainnya, untuk mendidik tentang dampak penggunaan obat- obat tersebut terhadap kepunahan jenis tertentu dan membantu mencari penyembuhan alternatif.

Komentar spesifik dan analisis mengenai HHNK tertentu tercantum dalam paragraf berikut.

Mengambil rotan ‘Liar’ dan Perkebunan rotan

Turunnya harga rotan akibat larangan ekspor tahun 1988/1989 menyebabkan pengambilan rotan liar di daerah taman nasional menurun hingga tingkat sangat rendah. Kenaikan harga belakangan ini dapat menyebabkan tingkat pemanenan ikut meningkat. Nilai stok rotan yang terdapat di dalam hutan primer, daerah Apo Kayan, di luar TNKM dapat menghasilkan paling tinggi sebesar US$ 5/ha/tahun-kotor (van Valkenberg 1997). Secara ekologis, penggunaan lahan tersebut mempunyai dampak yang sangat terbatas karena hanya sedikit

III-153 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

biomass dan keanekaragaman jenis yang terpilih dan diambil serta mempertahankan bentuk hutan. Secara ekologis, pemanenan rotan berkelanjutan selama vitalitas rumpun tidak dirusak dan diberi waktu yang cukup untuk pemulihan kembali. Secara tradisional, masyarakat lokal mengatasi hal ini baik dengan cara membatasi pengambilan jumlah batang untuk tiap rumpun, atau dengan membiarkan populasi rotan pulih kembali selama 10 tahun setelah panen. Cara yang terakhir, dimana sebagian akan ditutup selama 10 tahun setelah pemanenan, adalah yang dianjurkan. Pengendalian panen ditetapkan pada daerah yang jelas secara tidak terbatas, dan gangguan terhadap hutan dibatasi hanya sekali dalam 10 tahun. Prospek ekonomi untuk pemanenan rotan tergantung pada biaya tranportasi.

Dengan meningkatnya prasarana transportasi, pemanenan tersebut sangat berperan dalam kegiatan pencarian nafkah.

Salah satu jenis rotan, Calamus trachycoleus ditanam di pinggiran sungai yang tergenang secara rutin di daerah pertengahan sungai Mahakam dan beberapa daerah di Kalimantan Selatan (van Valkenberg). Perkebunan rotan tersebut mampu menghasilkan pendapatan bersih rata-rata per tahun sebesar US$ 224/ha pada tahun 1987. Penggunaan lahan tersebut adalah yang paling kompetitif per satuan luas dan satuan tenaga kerja, walaupun harga di tingkat petani anjlok sebesar 30-75% setelah larangan ekspor tahun 1988/1989. Perkebunan tersebut terlihat berkelanjutan secara ekologis, tutupan hutan dipertahankan dan rotan jenis lokal.

Perkebunan jenis rotan dengan diameter yang lebih kecil di Kalimantan Timur mampu menghasilkan pendapatan bersih tahunan sebesar US$ 7-15/ha (Priasukmana 1989).

Nampaknya, penggunaan lahan tergolong kompetitif secara ekonomis dan dampak ekologis dapat dibandingkan dengan pertanian padi lahan kering. Jika lahan tersebut dikelola sebagai perkebunan rotan yang permanen, aspek ekologis lebih diterima karena bentuk hutan permanen dapat dipertahankan.

Rotan juga khusus ditanam oleh masyarakat di Apau Ping (Syahirsyah. 1997) dan Long Uli (Sirait. 1997) serta Long Pujungan. Di Apau Ping, penanaman dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga rotan.

Saat ini, hutan bekas penebangan tanpa prospek komersil untuk HPH, diperuntukkan sebagai hutan konversi, baik sebagai HTI atau untuk proyek transmigrasi. Daerah tersebut dapat disewakan atau diberikan kepada masyarakat lokal dengan syarat bentuk hutannya dipertahankan. Hal ini akan membuka peluang untuk memperkaya hutan dengan penanaman rotan, pohon buah-buahan atau pohon yang berguna lainnya.

Gaharu:

Pemanenan Gaharu dari taman nasional dibahas di bagian Peraturan dan undang-undang untuk Zona Pemanfaatan Tradisional dan Zona Inti. Sebagai tambahan dapat diupayakan untuk meneliti kemungkinan menginfeksi pohon Aquilaria dengan kapang secara buatan.

Penelitian sejenis tengah dilakukan di berbagai bagian Asia Selatan dan Tenggara, namun belum mengalami keberhasilan yang konsisten. Jika sebuah metode yang konsisten dapat dikembangkan, harga Gaharu diperkirakan akan menurun dan mungkin menghilangkan pemanenan dari alam.

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) III-154

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Tumbuhan Obat:

Banyak tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat lokal sebagai obat-obatan. Walaupun saat ini tumbuhan tersebut tidak dikenal di pasar luar, namun perlu dilanjutkan upaya untuk menarik kedatangan ahli etno-botani dan ahli tumbuhan obat untuk menseleksi tumbuhan yang berpeluang untuk diterapkan secara komersil.

d. Kayu

Masyarakat setempat di berbagai desa telah memperkirakan kekurangan kayu untuk bangunan karena pepohonan yang sesuai menjadi semakin langka di dekat pedesaan.

Dalam jangka pendek hingga menengah, kebutuhan masyarakat lokal akan kayu harus dipenuhi melalui:

• Kecukupan lahan tradisional berpohon tersedia di luar wilayah taman dan terlindungi dari penebangan oleh perusahaan.

• Hak mengambil kayu untuk penggunaan pribadi dari Zona Pemanfaatan Tradisional di dalam wilayah taman nasional dan/atau,

• Hak dan pelatihan untuk ikut serta dalam penanaman pohon serba guna untuk memperkaya hutan yang telah ditebang di daerah penyangga.

Program seperti di atas juga dapat menjamin persediaan kayu bakar jauh ke masa depan.

Dalam jangka panjang, masyarakat lokal juga dapat menerima bantuan dalam mendirikan dan mengelola perkebunan kayu skala kecil milik masyarakat.

e. Pembangunan Wirausaha Kecil

Membantu masyarakat lokal mengembangkan wirausaha skala kecil berasaskan pada ekowisata alam, kerajinan tangan, penjualan produk pertanian, dan hasil hutan non-kayu, menjadi bagian yang penting dalam pembangunan ekonomi daerah. Kerajinan tangan hasil masyarakat setempat dengan mutu yang baik, menarik, dan populer, terutama anjat, tikar dan topi. Terdapat potensi untuk mengembangkan penjualan, baik secara lokal kepada wisatawan yang mengunjungi taman nasional maupun pada pasar-pasar di perkotaan Kalimantan Timur dan tempat lain di Indonesia, Asia Tenggara dan seluruh dunia. Karena pasar di sekitar taman nasional memiliki sedikit uang tunai dan jarak pasar yang jauh sehingga sulit dan mahal dicapai, pengembangan wirausaha berukuran kecilpun menjadi tantangan. Clay (1996) mengemukakan 20 prinsip wirausaha yang didapatkan dari pengkajian ratusan proyek di seluruh dunia dengan tujuan menghasilkan pendapatan dan melestarikan sumber daya, sebagai berikut:

1. Perhatikan hak-hak atas lahan dan sumber daya sebagai hal yang mendasar untuk dua hal yaitu peningkatan pendapatan dan konservasi.

2. Lakukan inventarisasi sumber daya masyarakat.

3. Mulai dengan produk yang telah diproduksi dan mempunyai pasar.

4. Ambil nilai tambah selama produk berjalan melalui sistem pasar, seperti penggudangan, transportasi, perdagangan, pemrosesan dan pemasaran, atau jika tidak dapat dilakukan

oleh produsen, rundingkan kemitraan (dengan broker, distributor, pedagang atau pemasar), bonus lingkungan dan/atau perjanjian pembagian laba.

5. Perbaiki tata cara pemanenan produk sementara.

6. Tekan kerugian pasca-panen.

7. Tingkatkan persaingan produk masyarakat di pasar melalui kegiatan seperti mengurangi biaya produksi, mencari pedagang alternatif, pemasangan iklan, dan peningkatan pengelolaan sumber daya hayati.

8. Pertahankan strategi sederhana dan berhubungan dengan evaluasi sumber daya yang realistis dan jumlah biaya keseluruhan.

9. Ragamkan produksi dan kurangi mengandalkan satu jenis produk.

10. Ragamkan pasar untuk hasil hutan mentah dan yang telah diproses.

11. Tambahkan nilai lokal.

12. Kenali dan gunakan teknologi produksi dan proses yang sesuai.

13. Gunakan usaha untuk membeli produk dalam jumlah besar (grosir) untuk mengurangi harga penjualan di masyarakat.

14. Kenali apa yang anda jual: Buat standar untuk tiap produk.

15. Bekerja sama dengan kelompok produsen di tempat lain untuk menghasilkan jumlah yang cukup untuk menarik pabrik yang mempunyai kebutuhan besar, dan mengurangi biaya produksi dan pengiriman.

16. Tetapkan laba yang lazim dan pastikan bahwa produsen memahami laba marginal dan mempunyai harapan realistis.

17. Pertimbangkan keadilan sosial dan jangan membuat atau memperkuat wewenang individu dan kelompok elit dari pihak produsen atau kelompok luar yang lebih kuat.

18. Ingat bahwa solusi terbaik dari sudut pandang sosial atau lingkungan yang tidak ekonomis adalah sebuah bentuk kesejahteraan yang bergantung pada bantuan luar dan akan rusak tanpanya. Pemecahan harus sebanding dengan masalahnya, namun dapat dibagi, mulai dengan satu desa atau kelompok atau satu komoditi.

19. Minta investasi masyarakat dan, jika membutuhkan dana luar, gunakan pinjaman dan bukan bantuan.

20. Dirikan sistem pemasaran secara ekologis yang memberi contoh keberlanjutan sistem produksi dan upayakan komoditi dengan sertifikat “hijau,” “ramah lingkungan,” “organik,” atau “berkelanjutan” untuk dapat menarik lebih banyak pembeli dengan harga yang lebih tinggi.

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 99-105)