• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peningkatan Kesadaran dan Pendidikan Lingkungan

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 134-138)

BAB IV ALTERNATIF

C. Pemanfaatan Kawasan 1. Wisata Alam

2. Peningkatan Kesadaran dan Pendidikan Lingkungan

Sasaran utama untuk kegiatan peningkatan kesadaran dan pendidikan adalah masyarakat setempat, instansi pemerintah, sektor swasta dan wisatawan. Tujuan, isi/

bahan, kegiatan yang mungkin, dan media yang mungkin untuk masing-masing sasaran terdapat di Tabel 29.

Mengingat pentingnya pengelolaan bersama taman nasional oleh masyarakat setempat, penekanan di dalam tahap pelaksanaan Rencana Pengelolaan sebaiknya lebih kepada pendidikan dari pada peningkatan kesadaran. Masyarakat setempat yang bertanggung jawab atas pengelolaan bersama taman nasional perlu dilatih dalam topik-topik seperti:

• Pengelolaan secara umum daerah dilindungi dan pembangunan yang berkelanjutan pada zona penyangga.

V-215 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

• Mengikutsertakan masyarakat dalam inventarisasi dan pemantauan sumber daya alam.

• Teknik pengelolaan hidupan liar, termasuk dinamika populasi, penentuan ukuran populasi, dan metode-metode pengelolaan seperti kuota, musim tertentu, penutupan kawasan, ukuran, umur, pengambilan satwa jantan dari pada betina, dsb.

• Wisata alam berbasis masyarakat, dan,

• Pengelolaan keuangan.

Dalam tahapan proyek WWF - Proyek Kayan Mentarang yang sedang berjalan, bahan pelatihan dan informasi mengenai institusi yang mampu merancang dan melaksanakan program pelatihan dalam aspek-aspek tersebut sedang disusun. Sebuah kelompok inter- disipliner dijadwalkan untuk bertemu di pertengahan Juli 2000 untuk merancang dengan lebih formal struktur dan isi dari sebuah program pelatihan untuk tahapan proyek yang akan datang, terutama untuk masyarakat setempat.

Proyek Sunda Bioregional dari WWF Indonesia juga mempunyai sejumlah dana yang tersedia untuk mendukung melanjutkan pendidikan bagi masyarakat setempat. Proyek Kayan Mentarang akan bekerjasama dengan Proyek Sunda Bioregional untuk mendaftar masyarakat lokal dari sekitar taman nasional untuk program sertifikat, diploma atau bergelar di dalam pengelolaan sumber daya alam, biologi konservasi, wisata alam berbasis masyarakat dan sebagainya.

Pembuatan material untuk peningkatan kesadaran dan pendidikan akan dikonsentrasikan untuk mendukung program pelatihan. Namun demikian, beberapa bahan peningkatan kesadaran yang umum, seperti newsletter dua kali setahun, selebaran dan poster juga akan diproduksi. Topik baru yang mungkin adalah lokasi final dari batas luar, zonasi di dalam taman nasional, bagaimana mengelola sumber daya alam di zona pemanfaatan tradisional, metode pemantauan dan penilaian, metode pengelolaan hidupan liar, jenis- jenis yang jarang dan dilindungi di taman nasional, masalah-masalah bioregional, sistem pengelolaan bersama, pariwisata, dan topik-topik pembangunan berkelanjutan tertentu.

Siaran pers dan artikel di newsletter instansi pemerintah juga akan ditulis.

Sasaran penting lainnya adalah karyawan pemerintah di tingkat kecamatan, kabupaten dan propinsi. Adalah penting untuk terus-menerus mengingatkan mereka akan pentingnya mempertimbangkan konservasi keragaman hayati dan tidak hanya ekonomi, politik dan faktor lain pada saat memutuskan bagaimana lahan yang bersambung dengan taman nasional dikembangkan dan dikelola.

Sebagai contoh, di hutan produksi, cara penebangan berdampak rendah yang dikembangkan oleh CIFOR seharusnya digunakan dan semua operasi penebangan seharusnya memenuhi kriteria sertifikasi berkelanjutan. Sasaran ini dapat juga dicapai melalui program pelatihan pendek, presentasi tahunan atau forum komunikasi, newsletter pemerintah, siaran pers yang dimuat di surat kabar, dan bahan-bahan peningkatan kesadaran dan pendidikan umum.

Pada tingkat propinsi, nasional dan internasional, proyek tersebut akan bekerja sama erat dengan Proyek Sunda Bioregional dan kantor WWF di Jakarta untuk menyebarluaskan TNKM.

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) V-216

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Pemanfaatan Taman Nasional untuk Tujuan-tujuan Pendidikan

WWF Indonesia sedang mengusahakan hibah kecil dari TOTAL Foundation untuk memberi dana kepada beberapa fakultas dan mahasiswa dari Universitas Mulawarman di Samarinda untuk melakukan penelitian dan latihan lapangan di taman nasional, terutama di Stasiun Penelitian Hutan Lalut Birai. Kalau rencana untuk membentuk suatu konsorsium antara perguruan-perguruan tinggi nasional dan internasional dan/

atau museum yang secara bertahap mengambil alih Stasiun Penelitian Hutan Lalut Birai tercapai, akan ada lebih banyak kesempatan untuk pendidikan mahasiswa yang berkaitan dengan lembaga-lembaga tersebut.

Taman nasional juga sebaiknya mengusahakan cara-cara lain untuk menarik mahasiswa untuk mengerjakan S2 dan S3 mereka dengan topik yang berhubungan dengan taman nasional. Bantuan ini sebaiknya termasuk membantu mereka mendapatkan dana dari donor yang tertarik untuk mendukung penelitian semacam ini dan pengembangan sumber daya manusia.

Memanfaatkan taman nasional untuk membantu pendidikan murid SD dan SLTP masih sulit dilakukan dalam beberapa tahun lagi. Alasan utama adalah kesulitan membawa dan membiayai kelompok siswa dari luar daerah ke taman nasional. Terdapat potensi untuk mengembangkan program pendidikan untuk siswa SLTA di Long Pujungan, Long Bawan dan Long Nawang.

TNKM mempunyai potensi yang sangat besar untuk menarik wisatawan yang berminat untuk mempelajari aspek-aspek keragaman hayati, ekologi atau hubungan dengan masyarakat setempat. Institusi seperti “Earthwatch International”, yang mempertemukan orang-orang dengan ilmuwan yang memerlukan bantuan jangka pendek di dalam melakukan penelitian lapangan, sebaiknya dihubungi.

D. Penelitian Dan Pengembangan

Masalah 13. Kategori penelitian apakah yang penting untuk menunjang pengelolaan TNKM?

Alternatif A. Penelitian pengaruh kegiatan manusia terhadap lingkungan.

Alternatif B. Penelitian jenis.

Alternatif C. Penelitian populasi.

Alternatif D. Penelitian habitat.

Alternatif E. Penelitian skala bio-regional.

Alternatif F. Kesemua alternatif tersebut.

abel 29. Kelompok Sasaran, Tujuan, Materi, Kegiatan dan Media Program Pendidikan Konservasi Kelompok sasaran .Masayarakat local(Pribadi , Lembaga Lokal, Sekolah, Guru, etc.) .Instansi Pemerintah .Sektor-Sektor Swasta .Wisatawan Tujuan 1.Memberikan pengertian bahwa keuntungan Taman Nasional lebih besar daripada kerugiannya 2.Menambah pengetahuan mengenai ekologi dengan beberapa informasi dasar dari konservasi biologi 3.Meningkatkan kemampuan untuk mengelola sumber daya alam dan kegiatan di bidang kepariwisataan. 4.Meningkatkan kebanggaan akan kekayaan dan keunikan keanekaragaman hayati Taman Nasional 1.Meningkatkan pemahaman pada tingkat Kecamatan, Kabupaten, Propinsi dan nasional bahwa manfaat taman nasional lebih besar dari pada kerugian. 2.Meningkatkan kebanggaan terhadap taman nasional dan keanekaragaman hayatinya. 3.Meningkatkan koordinasi kegiatan berbagai pihak untuk efisiensi yang lebih baik. 1.Meningkatkan pengetahuan tentang keberadaan dan membuat batas Taman Nasional yang sebenarnya. 2.Meningkatkan upaya agar merancang kegiatan pekerjaan mereka untuk meminimkan dampak terhadap Taman Nasional 3.Meningkatkankebanggaan terhadap Taman Nasional dan pengakuan manfaatnya. 4.Pengumpulan dana atau berbagai macam sumbangan. 1.Menarik Wisatawan. 2.Membantu rencana kunjungan para turis 3.Meningkatkan pengetahuan mereka selama kunjungan.

Materi 1.Keunikan dan Kepentingan Taman nasional, termasuk penghargaan dunia untuk keanekaragamana hayati yang tinggi dan endemik. 2.Keuntungan Taman Nasional bagi masyarakat lokal. 3.Hasil penelitian tentang Taman Nasional 4.Bagaimana cara menginventarisasi, memantau, mengelola tumbuhan dan satwa yang penting bagi mereka. 5.Wisata alam berbasisi masyarakat. 1.Pengaruh Positif dalam bidang Ekonomi. 2.Manfaat Hidrologi. 3.Pengakuan Dunia Terhadap Nilai-nilai Perlindungan Taman Nasional. 4.Bagaimana cara menghitung nilai keragaman hayati secara ekonomi. 1.Koordinat SPG batas-batas TNKM 2.Usulan bagaimana cara mengurangi dampak kegiatan perusahaan-perusahaan terhadap Taman Nasional. 3.Manfaat hubungan masyarakat untuk mengurangi dampak perusahaan terhadap Taman Nasional dan sumbangan dana atau sumbangan lainnya. 1.Obyek Wisata 2.Tumbuhan dan Hewan 3.Kebudayaan 4.Kegiatan dan Program TNKM Kemungkinan Kegiatan 1.Kampanye ke desa-desa dengan topik terpilih. 2.Program pelatihan singkat dalam berbagai topik pembicaraan. 3.Satuan pembelajaran dan buku pegangan bagi guru untuk sekolah setempat. 4.Program pelatihan guru. 5.Siaran radio. 6.Perlombaan untuk anak muda. 7.Gerakan pramuka 8.Kursus jangka panjang atau kuliah bidang pengelolaan sumber daya alam. 1.Keterlibatan dalam panitia pengarah atau suatu kominikasi terbuka dan forum koordinasi. 2.Presentasi secara individu kepada kementrian dan instansi lainnya. 3.Program pelatihan singkat. 4.Permainan simulasi 1.Keterlibatan salam panitia pengarah atau mungkin forum sektor swasta. 2.Berkunjung ke kantor-kantor lapangan, Kalimantan dan nasional. 3.Presentasi pada rapat koordinasi tahunan mereka. Jaringan internet, poster, Artikel dl. Majalah Pariwisata, Informasi pada Buku Panduan, wisata-mandiri dan wisata terpandu.

Kemungkinan Media 1.Pemutaran Film dan/atau Slide 2.Flayer 3.Poster 4.Warta berkala 5.Teater 6.Diskusi dan Pertemuan dengan Masyarakat 7.Media Masa 1.Pemutaran Film dan Slide 2.Penyajian Power Point 3.Permainan Simulasi 4.Fasilitas Pertemuan.Kominikasi dan Koordinasi 5.Artikel dalam buletin Pemerintah. 6.Media Masa 7.Bahan cetakan (poster, flayer, brosur dsb.) 1.Peta 2.Penyajian Power point 3.Film dan slide 4.Berbagai bahan cetakan Brosur, Peta, Buku Panduan, Poster,Interpretasi alam , Pusat Pengunjung aman Nasional (RPTN)V-217

Alternatif F merupakan satu-satunya pilihan yang mungkin. Kegiatan penelitian khusus untuk alternatif lainnya (A sampai F) diuraikan di dalam paragraf berikut:

Penelitian pengaruh kegiatan manusia terhadap lingkungan:

Aspek-aspek kunci dari penelitian ini adalah:

• Memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai tingkat pengambilan satwa.

• Memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai tingkat pengambilan hasil hutan non-kayu.

• Memperoleh informasi mengenai pengaruh perladangan gilir balik pada suksesi hutan dan keragaman satwa.

• Memperoleh informasi bekas desa, pondok di hutan yang ditinggalkan dan pengaruhnya pada pembentukan habitat dan keragaman tumbuhan dan satwa.

• Menganalisis pengaruh kegiatan ekonomi yang diperkenalkan terhadap lingkungan.

Penelitian dan Pengelolaan Jenis:

Poin B di bagian ini sudah menggambarkan beberapa dari inventarisasi dasar jenis yang perlu diselesaikan. Daftar jenis prioritas untuk penelitian terdapat pada halaman 180.

Penelitian mengenai sejumlah jenis tertentu akan berada di atas keahlian dan kemampuan pendanaan dari gabungan PKA dan WWF. Upaya besar diperlukan untuk menarik minat peneliti lain dan mahasiswa dari perguruan tinggi di Indonesia, LIPI, organisasi konservasi nasional dan internasional, dan perguruan asing.

Cara yang efisien untuk mengatur pekerjaan ini adalah dengan mengundang spesialis untuk menulis analisis keadaan jenis-jenis tersebut, seperti yang sudah dimulai oleh WWF Indonesia - Proyek Kayan Mentarang untuk Cucak Rawa, Rangkong, Kuau, Babi Hutan dan Banteng. Analisis akan menyimpulkan apa yang diketahui tentang jenis yang umum, diekstrapolasi dari apa yang diketahui sampai ke keadaan khusus di dalam dan di luar Taman Nasional Kayan Mentarang, dan merekomendasi sebuah program penelitian pada jenis tersebut. Kalau dana tambahan tersedia, sebuah loka- karya perencanaan penelitian dapat di adakan. Analisis pendahuluan sudah ditulis untuk beberapa jenis atau jenis yang terkait. Untuk Banteng, Meijaard an Hedges (1999) merekomendasikan kegiatan berikut:

• Survei dan pemantauan populasi Banteng secara teratur;

• Menyelidiki cara yang terbaik untuk mengelola padang rumput agar produktivitasnya maksimal;

• Analisis seberapa jauh kontaminasi genetis Banteng dari Lembu domestik;

• Menghentikan pemburuan Banteng;

• Menentang rencana penghunian kembali desa yang sudah ditinggalkan di daerah padang rumput sepanjang hulu Sungai Bahau, dimana populasi terbesar Banteng di dalam taman terkonsentrasikan.

V-219 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Penelitian yang lain melihat Rangkong, Kuau dan burung-burung berkicau (van Balen (1999).

Rekomendasinya meliputi:

• Menghentikan perburuan jenis terancam punah;

• Melindungi dataran rendah yang jarang terdapat di TNKM;

• Memulai penelitian lapangan mengenai aspek ekologi dan sosio-ekonomi dari Kuau, Rangkong dan burung peliharaan;

• Memulai penelitian pada distribusi jenis menurut derajat ketinggian;

• Memulai penelitian pada kelompok fungsional (klas makanan, kesukaan habitat, dsb) dan kelompok taksonomi.

Dalam tinjauan terhadap jenis tumbuhan yang dilindungi/terancam di TNKM dan pengelolaannya, Jarvie (1999) merekomendasikan:

• Mengembangkan herbarium TNKM atau kesepakatan dengan herbarium yang telah ada, seperti herbarium nasional di Bogor.

• Melakukan penelitian kehidupan jenis tumbuhan yang dipanen;

• Inventarisasi habitat dan perambahan yang terjadi.

Pengelolaan Populasi

Karena terbatasnya dana dan tenaga, upaya permulaan untuk mengetahui jumlah satwa yang terdapat di ekosistem taman nasional akan dibatasi pada:

• Perkiraan densitas, terutama di sepanjang transek yang sudah ada;

• Pemahaman masyarakat setempat yang diperoleh melalui Metoda Penilaian Pedesaan Partisipatif (Participatory Rural Appraisal Methods). Pendekatan ini diakui semakin akurat dan hemat baik di Pulau Kalimantan maupun di kawasan tropis lainnya (Stuebing, komunikasi pribadi),

• “Point sampling” dari jenis indikator, dan kalau waktu dan anggaran masih tersedia,

• Penelaahan penandaan dan penangkapan ulang (mark-recapture).

Karena informasi mengenai habitat menjadi semakin tepat dan rinci, alat-alat pengelolaan populasi yang lebih menyeluruh mungkin akan bisa dipakai menjelang akhir masa Rencana Pengelolaan 25 Tahun. Salah satu metoda yang berpotensi adalah “Population Viability Analysis” (PVA), merupakan kajian kuantitatif, dalam basis data, atas hubungan antara kemungkinan kepunahan dan jumlah habitat yang tersedia bagi suatu jenis di daerah tertentu atau di seluruh kisarannya (Boyce, 1992). Model populasi yang bertataruang jelas yang menggabungkan lokasi aktual satwa dan bercak habitat yang sesuai, dan secara jelas mempertimbangkan pergerakan organisme di dalam bercak tersebut, juga akhirnya akan dimungkinkan. Model “Mobile Animal Population” atau MAP merupakan model simulasi populasi bertataruang jelas yang menunjukan demografi khusus dan tingkah laku sebaran organisme di layar komputer (Pulian et al 1992; Liu 1992). Kerja lapangan yang intensif selama bertahun-tahun diperlukan untuk mengumpulkan sejumlah besar data yang diperlukan untuk mengembangkan parameter untuk model tersebut. Pada awalnya, kegiatan ini mungkin harus dilakukan oleh ilmuwan perguruan tinggi atau mahasiswa S3.

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) V-220

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Topik penelitian yang penting lainnya untuk mempertahankan hasil buruan dari satwa yang diambil oleh masyarakat adalah mempelajari efektifitas metoda pengelolaan hidupan liar berpotensi seperti musim pembatasan, pembatasan ukuran/umur atau jenis kelamin, penutupan kawasan, kuota, dan sebagainya.

Penelitian Habitat

Poin B dari bagian ini telah menunjukkan perlunya membuat plot vegetasi dan transek permanen di habitat tambahan yang dimasukkan ke dalam kawasan di sekitar Stasiun Penelitian Hutan Lalut Birai. Penelitian dapat diperluas secara bertahap ke daerah lain di dalam taman nasional, terutama karena lebih banyak ilmuwan melakukan penelitian di bidang biologi. Pos-pos lapangan di dalam kawasan dapat dilengkapi untuk melaksanakan beberapa macam penelitian dasar, termasuk tenda dan perlengkapan ekspedisi penelitian yang dapat dipindahkan. Kalau contoh habitat yang baik tidak termasuk di dalam plot permanen Lalut Birai dan terdapat cukup dekat dengan pos lapangan, karyawan pos lapangan dapat melakukan pengamatan pembungaan, gugur daun, dan fenologi pembuahan secara teratur. Penelitian mengenai mekanisme persebaran dan kemampuan tumbuhan hutan, melalui pengumpulan biji dan identifikasi dari kotoran (pada lembaran plastik di tempat terbuka) oleh pemakan buah seperti burung dan kelelawar.

Pengelolaan dan Penelitian Skala Bioregional

Juga penting penelitian yang mempelajari bagaimana fauna taman nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bentang alam yang lebih besar. Beberapa mamalia seperti Kelelawar dan Babi, Burung, dan Ikan diketahui melakukan perjalanan jarak jauh setiap hari atau setiap musim. Tahap awal yang dianjurkan adalah, melakukan studi pustaka mengenai potensi perpindahan atau perpindahan aktual satwa untuk masuk atau keluar dari taman nasional.

Topik penelitian lapangan permulaan yang dianjurkan adalah Babi Hutan, yang mengikuti daur pembuahan ke kawasan di luar taman nasional. Masyarakat melaporkan bahwa kawasan yang penting bagi migrasi Babi Hutan adalah di antara DAS Tubu dan DAS Malinau dan hilir Sungai Bahau (Puri 1997). Kalau daerah ini rusak, dampak pertama yang mungkin terjadi adalah Babi akan mengakibatkan kerusakan di sebagian kawasan dalam usahanya mencari makanan, atau juga merusak ladang dan kebun. Akhirnya, populasi Babi mungkin akan menurun dan menyebabkan pemburu mencari satwa lain termasuk jenis yang terancam atau dilindungi. Predator Babipun akan terkena dampaknya. Penelitian yang rumit dan lama seperti ini akan melibatkan sejumlah orang dengan spesialisasi yang berbeda, dan paling baik dikerjakan bersama dengan lembaga riset yang lain. CIFOR yang mengelola Hutan Penelitian Bulungan, merupakan calon mitra dalam penelitian ini, dimana areal penelitiannya meliputi kawasan yang mungkin akan teridentifikasi sebagai daerah jelajah yang penting untuk Babi Hutan di dalam taman nasional, merupakan calon mitra dalam penelitian ini.

Sebuah topik penelitian yang menyertainya adalah bagaimana satwa menyebar melewati halangan alam dan aliran gen antar populasi. Hasil penelitian ini akan membantu perencanaan

dan pemeliharaan koridor habitat. Pekerjaan ini akan penting bagi taman nasional kalau keinginan dari beberapa kelompok masyarakat untuk menghuni kembali beberapa desa yang sudah ditinggalkan bisa tercapai dan enclave bisa diciptakan, yang menambah pemisahan habitat.

Pengelola taman harus bekerja sama dengan Bappeda kabupaten dan propinsi untuk memelihara koridor habitat antara TNKM dan habitat di luar batasnya. Daerah kunci adalah Hutan Lindung, daerah Sebuku-Sembakung (terutama daerah apapun yang pada akhirnya dijadikan hutan lindung, cagar alam, atau taman nasional), dan bagian-bagian lain di Kalimantan Timur dan propinsi lain yang sudah direkomendasikan pada masa lalu sebagai kawasan konservasi keragaman hayati berprioritas tinggi, seperti Ulu Kayan, Ulan Kayan dan Apo Kayan (Gambar 25).

Keterlibatan Masyarakat Setempat dalam Penelitian

Disamping pengelola taman dan ilmuwan, masyarakat setempat sebaiknya juga dilibatkan di dalam merencanakan, melaksanakan dan interpretasi penelitian. Dengan menggunakan pengetahuan ekologi mereka akan meningkatkan hasil dan mengurangi biaya.

Satu aspek di mana mereka mungkin akan memberikan sumbangan adalah menggunakan sistem tradisional masyarakat untuk mengelompokkan vegetasi hutan untuk menentukan jenis dan lokasi tipe-tipe sub-vegetasi di dalam kategori utama vegetasi yaitu hutan dataran rendah, bukit, pegunungan rendah dan pegunungan tinggi. Sebagai contoh adalah Eugeissona utilis, atau palem sagu, yang tumbuh di daerah aliran sungai (DAS) Sungai Lurah. Prosedur yang paling sederhana adalah mengidentifikasi kategori vegetasi lokal bersama masyarakat, mengidentifikasi lokasi dari kategori ini pada peta dasar, dan sampel struktur vegetasi dan keragaman flora pada kategori yang berbeda. Pengambilan titik GPS di daerah yang berbeda juga akan memungkinkan untuk menentukan bagaimana kategori yang berbeda muncul pada citra penginderaan jarak jauh yang akan dapat digunakan untuk pengembangan lebih jauh dan memastikan lokasi kategori vegetasi lokal yang berbeda di seluruh kawasan.

Demikian juga, apabila inventarisasi keragaman hayati lebih lanjut dilaksanakan, informan lokal yang membantu harus ditanya mengenai klasifikasi lokal atas habitat yang dijumpai.

Topik yang berkaitan adalah menindak-lanjuti informasi pendahuluan yang sudah diberikan oleh masyarakat setempat tentang distribusi jenis yang jarang, terancam, dan/atau umum diambil. Masyarakat setempat sudah menyusun peta yang menunjukkan tempat banyak jenis terancam dan dilindungi dapat dijumpai dengan mudah di wilayah desa mereka.

Pembahasan lebih lanjut dengan masyarakat setempat tentang mengapa jenis-jenis tersebut menyukai habitatnya, juga survei di daerah tersebut akan membantu menjawab pertanyaan tentang mikro-habitat dan memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai kebutuhan habitat dan kesukaan dari banyak jenis.

Masyarakat dan lembaga setempat perlu selalu mendapatkan informasi tentang hasil- hasil penelitian biologi sebagai bagian dari proses pengelolaan bersama. Hal ini akan memungkinkan mereka untuk ikut serta secara lebih efektif dalam pembuatan keputusan mengenai pengelolaan fauna dan flora, dan juga meningkatkan penerimaan masyarakat atas keputusan-keputusan pengelolaan. Keuntungan tambahannya adalah berkurangnya kecurigaan bahwa orang-orang atau lembaga yang melakukan penelitian menjadi kaya dari “pencurian” tumbuhan dan satwa yang bernilai ekonomi tinggi.

Sebelum memulai penelitian di suatu daerah, peneliti harus menjelaskan tujuan penelitian kepada masyarakat di daerah tersebut. Pemberian laporan pendahuluan sesudah penelitian selesai juga harus dilakukan, demikian pula dengan penyerahan laporan akhir.

Anggota karyawan peningkatan kesadaran dan pendidikan dari taman national perlu menterjemahkan hasil penelitian ke dalam bentuk yang sesuai untuk masyarakat setempat.

Masalah 14. Apakah penangkaran dan penanaman merupakan kegiatan prioritas tinggi?.

Alternatif A. Tidak terlalu menekankan kegiatan ini pada awalnya, dan lebih berkonsentrasi pada penelitian dan pengelolaan yang berdasarkan keadaan lapangan (“field-based”).

Alternatif B. Memberikan penekanan awal yang tinggi pada penangkaran dan penanaman.

Alternatif A direkomendasikan, secara umum. Namun demikian, pengelola taman dapat mencoba mencari peneliti yang memiliki dana sendiri untuk bekerja di bidang tersebut.

Penangkaran Cucak Rawa di dalam kandang sebaiknya dijadikan prioritas tertinggi.

E. Perlindungan dan Pengelolaan Sumber Daya Kawasan

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 134-138)