• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I KEADAAN UMUM

B. Aspek Biologi 1. Ekosistem

3. Fauna Mamalia

Kekayaan mamalia di Borneo berasal dari benua Asia dengan pengaruh kuat dari wilayah Sunda, sekalipun demikian beberapa jenis diantaranya merupakan spesies dari Sulawesi dan pulau-pulau di wilayah Indonesia bagian timur. Kendatipun Borneo lebih luas dari Sumatera, tetapi Borneo tidak memiliki mamalia sebanyak di Sumatera, karena letak Borneo lebih jauh dari daratan utama Asia, dan mungkin lebih dulu terpisah sebagai akibat naiknya permukaan air laut (Medway, 1997, Hall & Blundell 1996).

Dari 228 jenis mamalia yang berada di pulau Borneo, diperkirakan lebih dari 150 jenis diantaranya berada di kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (Lampiran 2). Beberapa survey penting atau koleksi satwa dari kawasan taman nasional dan sekitarnya, termasuk Sabah dan Sarawak, secara berurutan telah dipublikasikan oleh: Low (1848), Everett (1893), Hose (1893), Jentink (1898), Lyon (1911), Miller (1915), Gyldenstolpe (1920), Lonnberg & Mjoberg (1925a, 1925b), von Plessen (1936a, 1936b), van Bemmel (1949),

I-25 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Tabel 7. Jenis Tumbuhan Yang dilindungi dan Terancam Punah di TNKM

Suku Marga Jenis Dilindungi CITES Status

Appendix IUCN

Anacardiacea Mangifera pajang VU

Anacardiacea Mangifera rufocostata VU

Anacardiacea Mangifera similis VU

Arecaceae Caryota no ya

Arecaceae Eugeissona utilis ya

Bombacaceae Durio duclis VU

Bombacaceae Durio kutejensis VU

Dipterocarpaceae Cotylelobium melanoxylon EN

Dipterocarpaceae Dipterocarpus Tempehes CR

Dipterocarpaceae Dryobalanops beccarii EN

Dipterocarpaceae Hopea beccariana CR

Dipterocarpaceae Hopea mangerawan CR

Dipterocarpaceae Shorea assamica CR

Dipterocarpaceae Shorea Johorensis CR

Dipterocarpaceae Shorea macroptera CR

Dipterocarpaceae Shorea ovalis CR

Dipterocarpaceae Shorea parvifolia EN

Dipterocarpaceae Shorea pauciflora EN

Dipterocarpaceae Shorea pinanga ya

Dipterocarpaceae Shorea polyyandra CR

Elaeocarpaceae Elaeocarpus becarri VU

Lauraceae Eusideroxylon zwageri VU

Magnoliaceae Magnolia cadollii III

Myristicaceae Horsfieldia Fragillima VU

Myristicaceae Horsfieldia polyspherula VU

Myristicaceae Knema ashtonii VU

Orchidaceae Grammatophyllum Speciosum ya

Thymelaeaceae Agualaria beccariana VU

Thymelaeaceae Agualaria malaccensis I VU

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) I-26

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II) Informasi ini dihimpun oleh Jarvie, 1999.

CR = Sangat terancam punah, EN = Terancam Punah, VU = Rawan

Sody (1949a, 1949b), Tate (1941), Stresemann (1938), Davis (1958), Arnold (1959), Pfeffer (1959a, 1959b, 1960a, 1960b, 1961, 1963), Piazzini (1965), Inger, (1966), Medway (1977), Blower et al. (1981), Yeager (1992), Haryono (1992), Awit Suwito (1992), Engstrom (1993), Balen (1995), Puri (1997), O’Brien (1997), dan WWF- KM b (1999).

Survei-survei yang dilaksanakan dalam kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang tersebut umumnya terkonsentrasi pada daerah dataran rendah di pinggiran taman nasional dan dilakukan terhadap jenis-jenis satwa besar (Gambar 6, Tabel 3). Daftar jenis-jenis mamalia diperkirakan akan bertambah banyak dengan dilakukannya survei yang lebih menyeluruh di kawasan Kayan Mentarang, khususnya untuk fauna kecil (Tikus, Kelelawar, Karnivora kecil yang aktif di malam hari, dan lain-lain)

Jenis mamalia baru dipastikan akan ditemukan di wilayah Kayan Mentarang, sebagaimana ditemukan baru-baru ini di Sarawak (Han, 1998), Vietnam, Laos, Irian Jaya dan wilayah Amazonia. Masyarakat Punan dari daerah Sungai Tubu mengenali lebih banyak jenis mamalia dari pada ahli taksonomi (O’Brien, 1997).

Jenis (Masyarakat Punan) Jenis (Taxonomist/zoologist)

Trenggiling 3 1

Kijang 3 2

Kancil 3 2

Binturong 3 1

Kucing hutan 2 1

Pandangan masyarakat Punan tersebut mungkin memiliki kredibilitas ilmiah. Kijang Borneo (Muntiacus atherodes) yang digambarkan sebagai jenis baru menyusul laporan oleh masyarakat setempat (Sabah) yang dianggap oleh para ahli zoology barat sebagai satu- satunya jenis ternyata sebenarnya ada dua jenis (Payne et al., 1985).

Pengelola taman nasional diharapkan lebih banyak perhatian pada jenis-jenis endemik, terancam punah, dilindungi dan/atau jenis yang menjadi “Flagship”. Keberadaan jenis

Flagship” ini mempunyai peranan penting sebagai simbol kawasan, membantu upaya pencarian dana dan daya tarik pengunjung. Beberapa contoh satwa yang dapat dijadikan jenis “flagship” antara lain seperti Badak (jika masih ada), Orang Utan dan jenis primata lain, burung Rangkong dan bahkan jenis Kupu-kupu tertentu yang berwarna-warni.

Jenis Endemik

Dari 44 jenis mamalia endemik Borneo, sedikitnya 14 jenis diantaranya telah dikumpulkan, dipelajari, atau dilaporkan berada di Taman Nasional Kayan Mentarang (Tabel 9). Jenis primata yang hidup di kawasan tersebut mencakup sedikitnya tiga jenis Lutung (Presbytis spp) dan Gibbon Borneo (Hylobates muelleri). Catatan satu-satunya mengenai keberadaan Bekantan (Nasalis larvatus) adalah ditemukannya 2 ekor bekantan di hulu Sungai Bahau.

Satwa tersebut kemungkinan merupakan Bekantan betina muda yang kebetulan melintasi kawasan itu karena habitat Bekantan biasanya berada di daerah pantai (Puri, 1997).

Selama akhir tahun 50-an, di sekitar hulu Sungai Bahau bagian timur laut Kalimantan dekat desa Apau Ping, telah tercatat dua kegiatan dimana bulu Kucing Merah (Felis badia atau Catopuma badia) dipakai sebagai topi upacara adat masyarakat Dayak. Tidak pernah ada yang melihat jenis satwa langka tersebut di Kayan Mentarang tetapi diperkirakan bahwa Kayan Mentarang terletak dekat dengan pusat penyebaran jenis satwa (Nowell dan Jackson, 1996). Informasi dari penduduk di desa Tau Lumbis menyebutkan bahwa Kucing Merah masih hidup dalam kawasan taman nasional (Sudana, 1999). Kijang Kuning Borneo (Muntiacus atherodes) merupakan jenis endemik Borneo dengan jumlah yang masih banyak serta tersebar luas di seluruh kawasan taman nasional.

Jenis-Jenis Langka dan Terancam Punah

Banyak mamalia endemik Borneo termasuk dalam Daftar Merah Satwa Terancam Punah IUCN (1999), dan banyak diantaranya juga termasuk jenis dilindungi undang- undang (Tabel 8). Tak satupun dari jenis endemik tersebut diklasifikasikan sebagai Critically Endangered atau Endangered, dua urutan tertinggi dalam klasifikasi IUCN.

Kucing Merah, Bajing Brooke (Sundasciurus brookei) dan Tikus Ranee (Haeromys margarettae) terdaftar sebagai Vulnerable, urutan tertinggi ketiga dalam klasifikasi IUCN. Gibbon Borneo diklasifikasikan sebagai Lower Risk-Near Threatened, hampir temasuk dalam kategori Vulnerable.

Lutung Dahi Putih (Presbytis frontata) diklasifikasikan oleh IUCN sebagai ‘Data Deficient’ oleh karena kurangnya informasi mengenai penyebaran dan/atau status populasinya. Lutung Abu-abu dan Lutung Merah belum dievaluasi oleh IUCN. Lutung merupakan jenis yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat setempat, antara lain masyarakat Punan dan Punan Benalui pada saat Babi sulit diperoleh. Jenis primata tersebut lebih sering diburu untuk mendapatkan ‘batu guliga’ yang terdapat pada satwa usia lanjut (dan bila sakit). Lutung Merah, hidup pada daerah dengan elevasi yang lebih tinggi dan kurang mendapat ancaman perburuan dibandingkan dengan Lutung Abu-abu atau Lutung Dahi Putih. Masyarakat dari desa Long Ketaman, dekat ibu kota kecamatan Pujungan, juga melaporkan tentang keberadaan Simpai (Presbytis melalophos) di mana sebelumnya hanya dilaporkan terdapat di pantai barat Borneo.

Keberadaan jenis ini secara pasti belum dikonfirmasikan. Sejumlah mamalia bukan endemik di Taman Nasional Kayan Mentarang juga termasuk dalam ‘daftar merah’

IUCN dan dilindungi oleh undang-undang (Tabel 9). Diantara jenis-jenis yang termasuk dalam daftar tersebut, hanya Badak bercula dua (Dicerorhinus sumatrensis) diklasifikasikan sebagai Critically Endangered dari seluruh wilayah habitatnya.

Populasi Badak di kawasan taman nasional diyakini telah diburu sampai habis pada akhir tahun 50-an. Akan tetapi pada tahun 1994 beberapa laporan menyebutkan adanya beberapa Badak di dekat perbatasan di luar taman nasional (Meijaard, 1995).

Satwa tersebut kadang-kadang juga terlihat oleh penduduk di daerah hulu Sungai Pujungan dan bagian atas taman nasional disepanjang perbatasan Sabah dan Sarawak, Malaysia. Konsentrasi satwa Badak yang pernah diketahui, kurang dari 50 ekor, berada di bagian timur Sabah, Malaysia (Payne et al., 1985). Kelompok ahli Badak dari IUCN memperkirakan bahwa sisa populasi satwa tersebut mungkin masih hidup di hulu Limbang, Sarawak, Malaysia dekat perbatasan Kayan Mentarang, tetapi keberadaannya masih belum dapat dipastikan. Menurut kelompok ini, di Kalimantan Timur kemungkinan tidak ada populasi Badak.

Banteng (Bos javanicus), Musang Air (Cynogale bennettii) dan Gajah Asia (Elephas maximus), terdaftar sebagai Endangered. Gajah dipastikan ada di daerah Lumbis ke timur dari taman nasional dan juga ada dalam jumlah besar di sekitar perbatasan dengan Sabah (A.H.Ahmad, pers.comm). Satwa tersebut juga diketahui masuk ke dalam kawasan usulan konservasi Sebuku Sembakung, di sebelah timur dari Kayan Mentarang (Momberg et al., 1998).

Banteng diburu untuk dimakan dagingnya dan dibunuh jika mereka memasuki dan merusak ladang atau kebun. Ada laporan yang belum dapat dipastikan bahwa pemburu dari Malaysia melintasi perbatasan secara ilegal dengan menggunakan helikopter untuk berburu Banteng di padang rumput bagian barat laut desa Apau Ping, tempat populasi Banteng terbesar dan terpadat di taman nasional tersebut.

Sangat sedikit informasi mengenai Musang air, kecuali yang dilaporkan oleh masyarakat dari desa-desa hulu Sungai Bahau yang menyebutkan bahwa binatang ini memang jarang terlihat (Puri, 1997). Tampaknya binatang tersebut memang jarang terlihat di habitatnya di wilayah Sunda (Payne et al., 1985).

Jenis-jenis yang terdaftar sebagai Vulnerable oleh IUCN antara lain meliputi Orang Utan (Pongo pygmaeus), Beruk (Macaca nemestrina), Landak biasa (Hystrix brachyura), Berang-berang Bulu Licin (Lutra perspicillata), Macan Dahan (Neofelis nebulosa) dan Kucing Tandang (Felis planiceps atau Prionailurus planiceps). Masyarakat setempat melaporkan adanya Orang Utan di sekitar desa Tau Lumbis, dan di dekat desa Long Peliran di daerah hulu Sungai Bahau sebelum WWII (Puri, 1992). Orang Utan diyakini tidak terdapat atau sangat jarang di kawasan Sungai Tubu, paling tidak di areal Penelitian Hutan Bulungan di bagian hulu taman nasional (O’Brien 1997). Jarangnya Orang Utan di Kayan Mentarang disebabkan oleh habitat yang tidak sesuai dan kegiatan perburuan di beberapa lokasi tempat satwa tersebut berada.

Dari sudut pandang konservasi, populasi Macan Dahan , jenis yang tersebar luas di wilayah Sunda, kemungkinan paling cocok berada di Borneo (Nowell dan Jackson, 1996). Kawasan konservasi yang luas seperti Taman Nasional Kayan Mentarang dan Taman Nasional Betung Kerihun di Kalimantan Barat merupakan daerah penting bagi kehidupan binatang tersebut, karena kawasan hutan lain di Borneo telah mengalami fragmentasi akibat kegiatan pembukaan lahan dan konversi menjadi lahan pertanian. Para pemburu setempat (Dayak), berburu macan dahan sebagai tropi sedangkan gigi serta kulitnya digunakan sebagai barang hiasan dan upacara adat. Puri (1997) menyatakan bahwa umumnya pemburu sangat jarang melihat macan dahan dan mereka sudah beruntung bilamana dapat memburu lebih dari enam ekor sepanjang masa hidupnya. Seorang Dayak Kenyah juga menyatakan bahwa seorang pemburu seharusnya tidak memburu lebih dari sepuluh ekor selama masa hidupnya Kucing Tandang (Felis planiceps atau Prionailurus planiceps) diketahui hidup sampai pada ketinggian 700m, tetapi sekalipun biasanya hidup di daerah dataran rendah, nampaknya hal tersebut tidak berlaku untuk daerah Kayan Mentarang (Nowell dan Jackson, 1996).

Hal ini terbukti dari laporan masyarakat yang menyebutkan bahwa satwa tersebut berada di sekitar desa Tau Lumbis (Sudana, 1999)

Landak sesekali diburu karena dagingnya dan bulunya diambil sebagai cendera mata, tetapi dengan semakin meningkatnya permintaan pasar akan ‘batu guliga’ yang diperdagangkan untuk bahan obat-obatan cina kepada para pedagang, maka hal tersebut semakin memprihatinkan. Dari 100 ekor Landak diketahui tidak lebih dari satu yang memiliki ‘batu guliga’ dan sayangnya binatang-binatang tersebut harus dibunuh sebelum diketahui apakah batu tersebut ada atau tidak.

I-29 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Nama ilmiahNama IndonesiaNama InggrisStatusStatusHabitatKeterangan KMIUCN/RI Pipistrellus kitcheneriPipistrel coklatRed-brown pipistrelleCLRLD-HF Tupaia dorsalisTupai bergarisStriped treeshrewCHF,LD,2 Tupaia gracilisTupai kurusSlender treeshrew?LD, HFdi dekat Kelabit Tupaia montanaTupai gunungMountain treeshrewCLM-UM Presbytis hoseiLutung abu-abuHose’s langur, Grey leaf monkeyCLD-HFUM, SUDiburu untuk makanan dan batu bangat, paling umum Presbytis rubicundaLutung merahMaroon Langur, Red leaf monkeySPHF-LM-UMJuga diburu untuk batu bangat, kurang umum Presbytis frontataLutung dahi putihWhite-fronted langurRDD / PLD-HFJuga diburu untuk batu bangat, kurang umum Nasalis larvatusBekantan/kahauProboscis monkeySVU / P(LD)Di tepian hutan dataran rendah, mungkin jantan muda Hylobates muellerisKlampiauBornean gibbonCLR / PLD-HF-LM-(UM)Jarang diburu atau dimakan, kadang dipelihara Callosciurus orestesBornean black-banded squirrelCHF-LM Sundasciurus jentinkiBajing JentinkJentink’s squirrelCVULD-HF-LM Sundasciurus brookeiBajing BrookeBrooke’s squirrelCHF-LM Dremomys everettiBajing Kerdil MantokBornean mountain ground squirrel?LM Lariscus hoseiBajing tanah bergaris empatFour-striped ground squirrel (?)LDdi dekat Kelabit Exilisciurus exilisBajing kerdil pukangPlain pigmy squirrelCLD-HF-HD,2,LJarang diburu, kecuali oleh anak-anak Exilisciurus whiteheadiBajing kerdil WhiteheadWhitehead’s pigmy squirrelCHF-LMJarang diburu, kecuali oleh anak-anak Rheithrosciurus macrotisBajing tanahTufted ground squirrelCLD-HF,R-1,2Diburu dan dimakan Aeromys thomasiTupai terbang ThomasThomas’s flying squirrel?LD, HFLalut Birai Maxomys ochraceiventerTikus duri perut kastanyaChestnut-bellied spiny ratCHF-LM-UM Thecurus crassipinusLandak duri tebalThick-spined porcupuneT,SLRLD-HF-UM,2,L,GDiburu untuk daging dan batu landak Muntiacus atherodesKijang kuning BorneoBornean yellow muntjacCLD-HF-LM,2,SUDiburu untuk makanan Felis badia/CatopumaKucing merahBay catTVU / Pkulit digunakan untuk topi di Hulu Bahau badia(Pfeffer, 1958)

Tabel 8. Status Mamalia Endemik Borneo di Taman Nasional Kayan Mentarang Catatan: I.Status KM: C=dikoleksi; S=Terlihat; V=pengenalan suara; T=tropi teramati,; R=Dilaporkan, belum dikonfirmasi II.Status IUCN/RI : Vu=Rawan; LR=Resiko rendah, hampir terancam; DD=Kurang data; P=Dilindungi oleh Hukum Indonesia III.Habitat berdasarkan informasi dari Puri (1997) dan Payne et al., (1985)2 = Hutan sekunder 1 = Hutan primerLD = Hutan Meranti dataran rendahL = Ladang HF = Hutan Meranti perbukitanG = Kebun (biasanya dekat ladang) LM = Hutan Meranti pegunungan rendahVG = Kebun di desa (Campuran Eugenia-Fagaceae-Lauraceae)A = Padang rumput UM = Hutan pegunungan tinggiR = Sungai (R-2 sungai di hutan sekunser SU = Sumber air asin Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)I-30 Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Terancam dan Dilindungi yang Berada di Kawasan TNKM Terlihat; V = Pengenalan suara; T = Tropi teramati; R = Dilaporkan, belum dikonfirmasi. primerLD = Hutan Meranti dataran rendah2 = Hutan SekunderA = Padang rumput HF = Hutan Meranti perbukitanL= LadangR = Sungai (R-2 sungai di hutan sekunder) LM = Hutan Meranti pegunungan rendahG = Kebun (biasanya dekat ladang)SU = Sumber air asin (Campuran Eugenia-Fagaceae-Lauraceae)VG = Kebun di desa UM = Hutan pegunungan tinggiNama IndonesiaNama InggrisStatusStatusHabitatKeterangan KMIUCN/RI Tando, kubungFlying LemurCPLD,FD,2,VG Kelelawar muka celahHallow-faced batVUG,LD KukangSlow LorisRPG,1,2,LD-FD Binatang Hantu,Western TarsierRPLD,UM,2,SU Singapuar Bangka OrangutanOranghutanRVU / PLD-HFDilaporkan di wilayah Tau Lumbis, Pujungan dan Apau Kayan BerukPigtail macaqueCVULD-LM,2,L,G,RDimakan, tapi bukan daging yang disukai TrenggilingPangolinS, TLR / PG,LD-UM,2Mungkin dimakan Bajing tanah3-striped ground squirrelPLD,2 Bajing terbang ekor merahHorsefield’s flying squirrelPLD-HF Bajing terbang merahRed giant flying squirrelTLD-HF,2,L,G Landak biasaCommon porcupineCVU / PLD-UM,2,L,GDiburu untuk makanan dan batu guliga Landak ekor panjangLong-tailed porcupineRLD-UM,2,G ctos malayanusBeruang maduSun BearCDD / PLD-LM,2,R,GKulit, kuku dan empedu digunakan Teledu, sigungMalay badgerRPLD-UM,2,GMydaus javanensis lucifer Berang-berang Bulu licinSmooth-coated otterCVUR,LD-HFDianggap sebagai hama yang makan ikan Musang AirOtter civetREN / PHF-UM,2 ongBinturungBearcatSPLD-UM,2Diburu untuk empedu dan kulitnya Macan dahanClouded leopardS, TVU / PLD-UM,2Disukai sebagai tropi, kulit dan gigi digunakan dalam upacara LuwakMarbled catTDD / PLD-UM,2Diburu untuk kulit dan kukunya, daging juga dimakan Kucing tandangFlat-headed catVU / P1,2 Kucing hutanLeopard catSPLD-UM,2,L,G,V GajahAsian ElephantREN / PKadang tampak di wilayah Lumbis dan Mentarang orhinus sumatrensisBadak sumateraSumatran rhinocerosRCR / PLD-UM,2,R,SUbeberapa bekas-bekas KancilLesser mouse deerSPLD,2,GDiburu untuk kulit dan tanduknya NapuGreater mouse deerCPLD-UM,R,2,GDiburu untuk kulit dan tanduknya KijangCommon barking deerCPLD-UM,2,L,SUDiburu untuk daging, kulit dan tanduknya Rusa SambarSambar deerCPLD-UM,2,L,R,SUDiburu untuk kulit dan tanduknya BantengBantengS, TEN / PSU,HD-UM,2,L,ADiburu sebagai tropi, perburuan ilegal dari malaysia? aman Nasional (RPTN)I-31 Hanya ada sedikit informasi detail mengenai kelimpahan dan kebiasaan Berang-berang.

Masyarakat menganggap satwa tersebut sebagai hama karena memangsa ikan air tawar. Jenis ini diketahui masih ada dalam jumlah yang rasional ( Puri, 1997; WWF- KM, tidak diterbitkan; Yeager, 1999 ).

Beruk (Pig-tailed Macaques) digolongkan sebagai Vulnerable oleh IUCN kemungkinan karena adanya penurunan populasi akibat berkurangnya habitat yang sesuai. Beruk-beruk tersebut kelihatannya lebih suka hidup di hutan primer, sehingga digolongkan ke dalam klasifikasi tersebut (Blouch, 1994;C.4 Yeager pers.comm).

Sekalipun demikian masyarakat Krayan dan beberapa wilayah lain menganggap bahwa populasi satwa tersebut masih melimpah dan mereka menganggapnya sebagai hama.

Beruang Madu (Helarctos malayanus) dan Luwak (Pardofelis marmorata) diklasifikasikan sebagai Data Deficient oleh IUCN. Luwak diburu untuk diambil kulit, gigi dan kadang-kadang dagingnya. Bagian paling berharga dari Beruang Madu adalah kantong empedu yang digunakan sebagai obat. Kulit, gigi dan cakarnya digunakan sebagai hiasan atau dijual kepada para pedagang. Daging Beruang jarang dimakan karena baunya yang tajam. Sejauh ini perdagangan internasional akan Beruang Madu dan bagian-bagian tubuhnya belum menjadi tekanan yang berarti bagi jenis ini dalam kawasan taman nasional.

Tak satupun dari jenis-jenis lain yang disajikan dalam tabel 8 dan 9 serta lampiran 2 telah dikaji oleh IUCN. Dari jenis-jenis tersebut Binatang Hantu/Singapuar (Tarsius bancanus barneanus) dianggap dalam kondisi Threatened oleh beberapa pengamat (Mackinnon et al., 1996), sekalipun kesukaan binatang tersebut terhadap habitat yang terganggu mungkin dapat membantu mempertahankan kelangsungan hidupnya Habitat

Pengetahuan mengenai penyebaran dan kebutuhan habitat musiman bagi satwa-satwa herbivora besar relatif sangat terbatas. Informasi secara umum mengenai habitat mamalia terlihat dalam tabel 8, tabel 9 dan lampiran 2, berdasarkan data dari Payne et al (1985). Mackinnon et al (1996), Puri (1997), dan Wulffraat and Samsu (2000).

Puri (1992, 1997) bekerjasama dengan masyarakat Punan Benalui yang tinggal di desa Long Peliran dekat muara Sungai Lurah dan Sungai Bahau, untuk memantau tipe habitat dan lokasi dalam habitat dimana binatang buruan ditangkap. Sekitar 95%

dari binatang yang berhasil ditangkap berada dalam empat tipe habitat di luar lahan pertanian sekitar desa (lihat Tabel 10).

Puri mengemukakan adanya korelasi yang jelas antara Lutung abu-abu dengan Sungan.

Berdasarkan wawancara dengan masyarakat, setiap kelompok jenis tersebut ditemui dalam jarak kurang dari 1 km dari Sungan. Banyak jenis mamalia yang memanfaatkan beberapa tipe habitat berbeda dalam taman nasional dan studi pendahuluan di Lalut Birai telah menunjukkan bahwa penyebaran lokal dari satwa-satwa tersebut relatif tidak jauh (kurang dari 1 km) dan tidak merata (Yeager, 1999).

Padang rumput di hulu Sungai Bahau tampaknya merupakan pusat populasi Banteng yang tersisa di taman nasional.

Informasi tentang habitat di luar kawasan taman nasional yang digunakan oleh jenis mamalia untuk mencari makan, berkembang biak atau berpindah, relatif sangat terbatas.

Salah satu jenis mamalia yang penting dan memiliki mobilitas yang tinggi adalah Babi Hutan. Di dalam kawasan hutan yang luas seperti Kayan Mentarang, Babi Hutan membentuk kelompok-kelompok untuk melakukan perjalanan jauh/panjang guna mencari makan, dan seringkali mengikuti siklus musim buah dari Dipterocarpaceae dalam wilayah tertentu (Payne et al., 1985). Orang Punan dari daerah hulu Sungai Bahau telah mengidentifikasikan daerah di bagian timur Sungai Bahau dan di bagian utara hilir Sungai Kayan sebagai bagian penting dari rute perpindahan Babi Hutan tersebut (Puri, 1997). Padatnya jenis-jenis Dipterocarpaceae, pohon oak dan jenis- jenis lain, memberikan buah-buahan dan biji-bijian sebagai sumber makanan utama untuk Babi Hutan. Hutan di daerah tersebut relatif masih belum terganggu, tetapi telah dialokasikan sebagai areal HPH atau konversi ke perkebunan. Di dalam kawasan hutan yang telah mengalami fragmentasi, populasi Babi Hutan dalam jumlah lebih kecil nampaknya masih dapat bertahan dan beradaptasi dengan hutan sekunder dan kebun. Dalam kondisi demikian, mereka mudah diburu hingga menuju kepunahan (Payne et al., 1985).

I-33 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

Kepadatan Populasi Mamalia

Informasi secara rinci mengenai kepadatan populasi jenis-jenis mamalia dalam wilayah Kayan Mentarang relatif masih kurang. O’Brien (1997) dalam salah satu studi kuantitatif Tabel 10. Proporsi Penangkapan Beberapa Kelompok Mamalia Pada Tipe-tipe

Habitat

Kelompok Tipe Habitat Jumlah total

Mamalia F1 F2 R SU L G VG V tertangkap

Babi hutan 37 19 43 0.1 0.3 0.1 642

Ungulata lain 40 28 17 2 13 53

Primata 50 21 8 21 14

Rodensia 18 9 9 64 11

Karnivora 16 28 4 32 20 25

Lain-lain 14 36 36 14 14

Total 36 20 39 0.7 2.2 0.13 2.2 0.3

Catatan: F1= Hutan tua, F2=Hutan sekunder, R= sungai, SU=Sumber air asin, L=ladang, G=Kebun di sekitar ladang, VG=kebun di sekitar desa, V= lahan desa

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) I-34

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

menghitung kepadatan populasi berdasar data awal beberapa jenis primata di daerah hulu Sungai Tubu. Ia menyebutkan bahwa kepadatan beberapa jenis primata tidak begitu rendah, walaupun ada tekanan perburuan secara reguler. Hal tersebut juga dibuktikan oleh hasil- hasil survey yang baru dilakukan di Stasiun Penelitian Hutan Lalut Birai yang menunjukkan bahwa semua jenis primata lokal kecuali Beruk, memiliki kepadatan populasi yang relatif banyak (D=2-4 individu/km2 atau D>4 individu/km2). Lutung Abu-abu merupakan jenis mamalia yang memiliki kepadatan tertinggi dan tersebar secara luas (Yeager, 1999).

Berdasarkan penampakan mamalia besar selama survei keanekaragaman hayati yang dilaksanakan secara cepat oleh WWF Indonesia, proyek Kayan Mentarang menunjukkan indikasi umum tentang betapa luasnya penyebaran beberapa jenis mamalia besar (diurnal) di taman nasional (Tabel 11). Selama pelaksanaan sebelas kali survey pada bulan Mei 1999 telah dicatat penyebaran beberapa jenis mamalia seperti:Babi Hutan, Kancil, Napu dan Beruang Madu yang dihitung berdasarkan pengamatan langsung maupun melalui pencatatan tanda-tanda keberadaanya. Untuk jenis primata, hasil survei menunjukkan bahwa penyebaran Lutung Merah (Presbytis rubicunda) lebih terbatas daripada Lutung Abu-abu. Walaupun dari survei tersebut belum dapat memastikan adanya Lutung Dahi Putih (Presbytis frontara), meskipun menurut salah seorang penduduk setempat disebutkan bahwa satwa tersebut berada di sekitar Tau Lumbis (Sudana, 1999).

Sebagian besar informasi mengenai kepadatan populasi vertebrata di kawasan Kayan Mentarang didasarkan atas laporan masyarakat yang dikumpulkan melalui metode participatory rural appraisal. Berdasarkan hasil wawancara Puri (1997) pada sebagian penduduk di sekitar Long Peliran hulu Sungai Bahau, dapat disimpulkan bahwa kepadatan hewan-hewan vertebrata, kecuali Macan Dahan dan Beruang Madu, relatif cukup stabil (Tabel 12). Ia percaya bahwa populasi Macan Dahan dan Beruang Madu mengalami penurunan karena perburuan, tetapi sekalipun demikian disebutkan bahwa populasi Beruang Madu relatif masih cukup. WWF Indonesia mendapatkan informasi mengenai penyebaran dan tingkat populasi satwa yang dilindungi undang-undang dan atau yang terancam punah, sesuai dengan yang dikemukakan oleh kelompok-kelompok masyarakat di beberapa desa sekitar taman nasional (Tabel 12).

Burung

Birdlife International telah menentukan bahwa daerah dengan elevasi tinggi (>1000 m) di Kalimantan Timur merupakan salah satu dari 221 Daerah Burung Endemik di dunia.

Areal tersebut merupakan konsentrasi beberapa jenis yang unik, sehingga perlu mendapat prioritas dalam upaya konservasinya (Sujatnika et al., 1995). Lebih dari 50% dari kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang berada pada ketinggian lebih dari 1000m dan merupakan salah satu daerah konsentrasi jenis-jenis burung di Borneo. Sejauh ini jenis burung yang telah diidentifikasi mencapai sebanyak 337 jenis (Wulffraat and Samsu, 1999; lampiran 3). Jumlah tersebut melebihi total spesies yang ada di Betung Kerihun (291) dan SM Lanjak-Entimau (213) di Sarawak, (Soedjito, 1999 ; Grubh 1994)

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 33-43)