• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masalah Kelembagaan a. Nama Taman Nasional

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 71-75)

BAB I KEADAAN UMUM

A. Aspek Kebijakan Dan Pengelolaan 1. Kebijakan

2. Masalah Kelembagaan a. Nama Taman Nasional

Sangat sedikit kalangan masyarakat setempat yang menyukai nama Taman Nasional Kayan Mentarang. Ada keluhan bahwa nama tersebut tidak mencerminkan secara tepat luasan

III-96 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

geografis kawasan tersebut, atau jumlah relatif berbagai daerah aliran sungai dan/

atau Wilayah Adat yang tercakup di dalam taman nasional. Lebih umum lagi, banyak masyarakat adat yang khawatir bahwa bagian “nasional” dari nama tersebut menyiratkan bahwa taman nasional tersebut juga bukan “milik mereka”, berlawanan dengan yang sudah berlangsung berabad-abad, dan hal ini merupakan gejala bahwa kawasan tersebut akan diambil-alih dari mereka. Anjuran untuk nama lain termasuk yang mengacu kepada warisan dan pemeliharaan oleh masyarakat, seperti “Taman Adat” dan “Taman Nasional Masyarakat Adat”.

b. Pengelolaan Bersama dengan Masyarakat Setempat

Ada kecenderungan di seluruh dunia dalam beberapa dekade yang lalu ini menuju pengelolaan bersama kawasan dilindungi antara lembaga konservasi pemerintah dan masyarakat setempat yang mempunyai kepemilikan tradisional yang erat atas lahan tersebut. Aspek-aspek yang penting dari kecenderungan ini diringkas dalam pernyataan WWF dan IUCN pada tahun 1998 yang menganjurkan agar kawasan dilindungi yang berada dalam wilayah penguasaan adat atau lahan tradisional masyarakat harus:

• Melindungi secara efektif atas lahan, kawasan, sumber daya, masyarakat dan kebudayaan terhadap ancaman dari luar;

• Mengakui hak masyarakat untuk mengontrol dan mengelola lahan, kawasan, dan sumber daya alam di dalam kawasan dilindungi dengan mentaati rencana dan aturan pengelolaan yang sudah disepakati;

• Memperkuat lembaga lokal dengan dukungan teknis, dana dan politik; dan mengalihkan wewenang kepada masyarakat terhadap lahan dan wilayah adatnya melalui kesepakatan pengelolaan atau pengelolaan bersama;

• Lembaga lokal yang bertugas untuk mengelola lahan dan wilayah adat tersebut harus bertanggung jawab kepada lembaga kawasan dilindungi yang berkaitan dalam pencapaian rencana dan tujuan yang telah disepakati;

• Mengakui hak masyarakat setempat untuk pengembangan-sendiri, yakni menentukan sendiri prioritas pembangunan di wilayah adatnya;

• Memadukan pola tata-guna tradisional dan konservasi.

• Masyarakat setempat harus mendapatkan keuntungan dari kesempatan kerja dan ekonomi yang berkaitan dengan kawasan dilindungi.

• Lembaga konservasi juga mempertahankan hak untuk tidak mendukung dan menentang secara aktif kegiatan masyarakat setempat yang tidak berkelanjutan terhadap jenis atau ekosistem, atau yang tidak sesuai dengan kebijakan yang menyangkut jenis langka atau terancam atau dengan persetujuan internasional tentang perlindungan kehidupan liar dan sumber daya lainnya.

Borrini-Feyerabend (1999) meringkas potensi keuntungan, hambatan dan biaya pengelolaan bersama dengan masyarakat setempat dan pihak-pihak lain seperti pemerintah daerah. Potensi keuntungan yang dimaksud adalah:

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) III-97

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

• Persekutuan antara instansi pemerintah dan pihak-pihak lokal untuk mengatasi upaya dari kepentingan non-lokal, yang seringkali merupakan ancaman terhadap kelestarian.

• Pembagian tanggung jawab pengelolaan yang efektif diantara semua pihak yang terlibat di dalam persetujuan, sering menurunkan biaya pengelolaan.

• Membahas keuntungan khusus untuk semua pihak yang terlibat dalam kesepakatan (ini mempunyai implikasi etis yang besar karena keuntungan yang dirundingkan mungkin sangat penting untuk kelangsungan hidup sebagian masyarakat adat).

• Ditingkatkannya efektifitas pengelolaan sebagai hasil dari perpaduan pengetahuan, ketrampilan dan kelebihan dari pihak-pihak yang berkepentingan. Masyarakat setempat dapat menyumbangkan sejumlah besar pengetahuan praktis mengenai habitat dan keanekaragaman hayati setempat, sementara para ilmuwan dapat menerapkan pengetahuannya dalam hal analisis dan pengelolaan.

• Bertambahnya kemampuan dalam pengelolaan sumber daya bagi lembaga yang ditugaskan dan pihak-pihak lain, sebagai hasil dari komunikasi dan dialog yang meningkat.

• Meningkatnya kepercayaan antara instansi pemerintah dan pihak-pihak yang berkepentingan, kepemilikan bersama proses konservasi, dan komitmen yang lebih besar untuk melaksanakan keputusan yang diambil bersama.

• Pengurangan pengeluaran untuk penegakan hukum karena kepatuhan suka-rela.

• Meningkatnya rasa aman dan kemantapan (kebijakan, prioritas dan kepemilikan) yang menghasilkan peningkatan keyakinan dan investasi dan kepastian jangka panjang.

• Meningkatnya pemahaman dan pengetahuan diantara semua pihak atas pandangan dan posisi masing-masing sehingga mencegah adanya masalah dan sengketa

• Meningkatnya kepedulian masyarakat atas masalah koservasi.

• Keterpaduan pelestarian dalam agenda sosial, ekonomi dan budaya.

• Sumbangan menuju masyarakat yang demokratis dan berpartisipasi.

Potensi Hambatannya adalah:

• Investasi awal akan waktu, sumber dana dan sumber daya manusia yang besar dalam tahap persiapan dan proses pengembangan persetujuan kerjasama.

• Kemungkinan penolakan dari instansi atau individu yang enggan berbagi wewenang.

• Kemungkinan penolakan dari masyarakat setempat yang menduga bahwa kehadiran kawasan dilindungi sebagai penghalang bagi pengembangan ekonomi dan kesempatan kerja yang diperlukan. Sementara konservasionis mengkhawatirkan bahwa kebutuhan dan tekanan ekonomi akan mempengaruhi masyarakat untuk meninggalkan praktek tradisional dalam mengelola lahan secara berkelanjutan.

• Kemungkinan penolakan dari pihak-pihak yang berkepentingan yang akan mengambil keuntungan dari perselisihan antara masyarakat dan pihak taman nasional untuk memasuki kawasan dilindungi dan akhirnya menciptakan kegiatan ekonomi.

• Kemungkinan bahwa kesepakatan pengelolaan bersama tidak akan tercapai tanpa membahayakan tujuan pelestarian di kawasan dilindungi.

• Kemungkinan bahwa kesepakatan tidak dapat dipertahankan karena permasalahan tak terduga seperti perubahan kondisi ekonomi atau administrasi politik, munculnya pihak berkepentingan yang baru, kerusuhan, dsb.

Di Indonesia, Departemen Kehutanan dan Perkebunan telah mengarah pada pengelolaan bersama sumber daya alam yang dimanfaatkan dalam kawasan dilindungi selama 10 tahun terakhir.

Konsep Petunjuk Teknis Pelaksanaan Hutan Kemasyarakatan di Kawasan Pelestarian Alam terbaru (1999) mengijinkan:

• Pengelolaan wisata alam, sumber daya alam dan perburuan oleh masyarakat lokal yang diatur oleh koperasi di Zona Pemanfaatan taman nasional, berdasarkan fungsi khusus/pemanfaatan kawasan dilindungi;

• Hak pengelolaan diberikan kepada kelompok organisasi masyarakat setempat atau koperasi untuk jangka waktu tertentu (30 tahun).

Kecenderungan untuk memberikan hak dan tanggung jawab pengelolaan lebih besar kepada masyarakat lokal dan kelompok tampak pada peraturan bidang Kehutanan untuk area tidak dilindungi. UU 41/1999 khusus mengenai masalah “ Masyarakat Hutan Adat” (Bab III). Berdasarkan peraturan ini, besarnya wewenang terhadap hutan yang diakui dan mengakomodasi hak adat setempat sejauh mereka masih ada dan syah, dan mereka tidak konflik dengan kepentingan nasional. Pengadaan pengeloan hutan untuk tujuan khusus (Kawasan dengan tujuan khusus), sejarah perkembangan masyarakat dan lembaga informal

Gambar 14. Tingkat Keikutsertaan yang berbeda dari pihak-pihak Swastadalam Pengelolaan Kawasan Lindung (Dari Borrini- Feyerbend 1999).

Sepenuhnya dikuasai Pembagian wewenang antara Sepenuhnya dikuasai oleh badan berwenang Badan yang berwenang oleh stakeholders lain

dengan stakeholders lainnya

Pengelolaan kawasan lindung secara bersama (kolaboratif)

Konsultasi Aktif Pencapaian Negosiasi Berbagi Pemindahan konsensus (terlibat dalam kewenangan dan kewenangan dan

pengambilan) tanggung jawab tanggung jawab keputusan dan secara formal

mengembangkan (misalnya dengan kesepakatan duduk di badan

tertentu pengelola)

Tidak ada gangguan Tidak terjadi gangguan

atau sumbangan dari stakeholders lainnya atau sumbangan dari badan yang berwenang Meningkatkan rasa memiliki dari stakeholders

Meningkatkan sumbangan, komitmen dan akuntabilitas stakeholders

III-100 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

secara lokal seperti ‘lembaga adat’ harus dipertimbangkan, demikian juga catatan mereka dalam pengelolaan dan konservasi ekosistem. Perkembangan lain termasuk Hutan Adat dan Hutan kemasyarakatan.

Berdasarkan UU 41/1999, masyarakat adat yang sah adalah:

• Suatu masyarakat yang masih terorganisir dan dikenal sebagai satu asosiasi.

• Adanya lembaga yang aktif dan pejabatnya

• Adanya kontrol wilayah yang jelas oleh adat

• Adanya penegakan hukum (hukum adat/peraturan)

• Masyarakat setempat masih memanfaatkan hasil hutan untuk keperluan sehari-hari mereka.

Masyarakat hukum adat memiliki hak untuk memanfaatkan dan mengeksploitasi hasil hutan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan mengelola hutan berdasarkan hukum adat yang ada (yang tidak bertentangan dengan hukum nasional).

Pengakuan terhadap masyarakat adat dan pencabutannya terdapat dalam PERDA, juga dalam UU 22/ 1999, dalam administrasi pada tingkat desa dan kabupaten semestinya mengakui dan menghargai ‘hak, asal usul dan adat istiadat ’.

NRM/EPIQ dan PKA telah memulai serangkaian lokakarya di seputar Indonesia untuk membahas desentralisasi pengelolaan kawasan dilindungi di Indonesia. Peserta pada lokakarya di Sulawesi mendukung konsep pengelolaan konservasi harian di lapangan di laksanakan oleh penguasa pengelolaan kawasan yang terdiri dari wakil-wakil PKA, pemerintah daerah, LSM, masyarakat dan pihak swasta (NRM/EPIQ 2000). Berdasarkan visi yang muncul dari pertemuan ini, implementasi sebenarnya dari kegiatan pengelolaan ini dapat dilakukan melalui mitra penguasa pengelola kawasan, termasuk lembaga masyarakat. Jelaslah bahwa suatu kesepakatan pengelolaan bersama yang memberikan peran pengelolaan yang kuat kepada masyarakat setempat sangat dibutuhkan untuk TNKM, berdasarkan kriteria berikut:

• Masyarakat setempat memiliki hak adat yang sah atas kawasan dan dalam sejarahnya telah menunjukkan upaya yang kuat untuk mengatur dan menggelola pemanfaatan sumber daya alam di wilayah adatnya.

• Masyarakat setempat sangat terpengaruh oleh cara pengelolaan TNKM, karena berlangsungnya akses terhadap sumber daya alam di dalam TNKM sangat perlu untuk keamanan mata pencaharian masyarakat adat setempat

• Keputusan mengenai TNKM dan masyarakat adat setempat adalah rumit dan sangat kontroversial.

• Masyarakat adat setempat siap untuk bekerjasama dan meminta untuk melakukannya.

Masyarakat adat yang berada di TNKM sudah mulai mengembangkan rencana untuk membuat lembaga pengelolaan bersama taman nasional setempat yang disebut Forum Musyawarah Masyarakat Adat (FoMMA). Visi FoMMA adalah pada akhirnya menjadi lembaga pengelola utama TNKM, setelah satu periode yang panjang untuk pelatihan dan

Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN) III-101

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

pembinaan, dan dengan dukungan dan pengawasan dari PKA dan Pemerintah Daerah.

Visi FoMMA untuk masa depan dikemukakan secara lebih rinci dalam Lampiran 12.

Menurut penafsiran PKA atas kebijakan dan penerapan yang berlaku, pengelolaan taman nasional hanya dimungkinkan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) PKA. Lembaga setempat seperti FoMMA diikut sertakan terutama melalui dewan penasihat dan/atau forum diskusi. Pendekatan kerjasama yang digunakan oleh UPT dapat berkisar dari

“Konsultasi Aktif” sampai “Mencari Kesepakatan” dan mungkin “Merundingkan” (Lihat Gambar 14). Menurut penafsiran ini, visi keseluruhan FoMMA tidak mungkin terwujud di bawah perundang-undangan yang berlaku saat ini. Namun demikian, beberapa wakil dari masyarakat adat dan pemerintah daerah tidak sependapat dengan PKA tentang apa yang mungkin dilakukan sekarang ini dalam hal pengelolaan bersama taman nasional.

Pihak-pihak tersebut juga percaya bahwa kecenderungan kebijakan dan peraturan menuju desentralisasi politik dan ekonomi dan pengakuan yang lebih besar atas hak-hak masyarakat adat atas wilayah adatnya dan sumber daya alam (Lihat Bab II), akan segera dapat memungkinkan FoMMA untuk mencapai aspirasinya didalam pengelolaan taman.

Penafsiran yang berbeda tentang apa yang mungkin saat ini, serta apa yang diyakini oleh masyarakat dan pemerintah akan diperbolehkan dalam masa yang tidak terlalu lama, mempunyai potensi untuk menimbulkan masalah yang berat bagi TNKM. Banyak diantara masyarakat yang menolak sistem dan struktur pengelolaan taman nasional secara tradisional dan sistem yang dinyatakan oleh PKA masih diperlukan berdasarkan hukum yang berlaku.

Berdasarkan apa yang dikatakan masyarakat atas pengalaman mereka dengan instansi pemerintah yang lain, mereka khawatir keikutsertaan dalam dewan penasihat akan berarti bahwa nasihat, kekhawatiran dan aspirasi mereka akan diabaikan dengan mudah. Tantangan utama bagi PKA adalah mematuhi hukum yang berlaku sekaligus memberikan masyarakat dan lembaga setempat peranan yang kuat dalam pengelolaan taman, selain juga meyakinkan masyarakat setempat agar mendukung perubahan kebijakan yang akhirnya akan memperbolehkan masyarakat setempat untuk mewujudkan aspirasinya. Hal ini akan memerlukan penafsiran hukum yang berlaku secara sangat berpihak kepada pengelolaan bersama, didukung dengan keputusan yang sejalan dengan semangat konsep hukum yang sedang dibahas dan dikembangkan saat ini.

Tantangan utama PKA yang lain sehubungan dengan pengelolaan bersama adalah memberikan hak kepada masyarakat setempat beserta lembaganya untuk ikut-serta dalam pengelolaan taman, sementara pada saat yang sama juga menjamin agar mereka menerima tanggung jawab untuk melindungi taman nasional. Hal ini akan memerlukan penyusunan Nota Kesepahaman (MoU) atau Persetujuan yang menyatakan secara khusus peran dan tanggung jawab kelembagaan lokal. Ini juga memerlukan program pemantauan yang kuat dan konsisten untuk memastikan agar persetujuan-persetujuan tersebut dipatuhi.

c. Koordinasi

Sebagai tambahan untuk perencanaan dan koordinasi dengan masyarakat setempat, sangatlah penting bagi semua lembaga pengelola taman untuk bekerjasama dengan pihak- pihak lain yang kegiatannya akan mempengaruhi taman nasional, terutama yang

berkaitan dengan pengembangan daerah penyangga. Pihak lain yang perlu dipertimbangkan adalah sektor swasta, instansi pemerintah pada semua tingkat, LSM, perguruan tinggi, dan organisasi konservasi dan ilmiah baik di tingkat nasional maupun internasional.

Kerjasama dengan dan dukungan dari pihak pemerintah daerah akan menjadi sangat penting mengingat Indonesia melakukan desentralisasi wewenang politik dan anggaran. Ada kekhawatiran desentralisasi akan mengancam kawasan dilindungi dengan kemungkinan konversi untuk keuntungan ekonomi jangka pendek (NRM II 2000). Di bawah kerangka kerja desentralisasi saat ini, pemerintah daerah akan mendapat tekanan untuk menyediakan dana bagi kegiatan pembangunan yang mahal untuk menyenangkan rakyat, sehingga konversi kawasan lindung mungkin akan membantu penyediaan dana tersebut. Bahaya konversi kawasan lindung semakin meningkat karena anggaran subsidi dan hibah pemerintah pusat menipis dan pemerintah daerah harus beralih pada sumber daya yang ada di daerah. Peningkatan persentase pendapatan dari pemanfaatan sumber daya alam masuk ke pemerintah daerah di bawah UU 25/99 membuat konversi kawasan lindung semakin menarik. Kekhawatiran ini sangat beralasan terutama pada kabupaten baru Malinau dan Nunukan yang sebagian besar kawasannya berada di dalam TNKM. TNKM mencakup sekitar 20% wilayah Malinau.

Secara tradisional taman nasional di Indonesia sudah mengembangkan kerjasama dan komunikasi yang luas atau dewan penasihat. Sebuah tim penasihat Proyek Kayan Mentarang WWFI pada mulanya merekomendasikan badan semacam itu dengan lebih dari 50 anggota yang berasal dari pemerintah daerah propinsi dan kabupaten. Mengingat TNKM sekarang berada di dua kabupaten, bukan satu kabupaten seperti pada saat rekomendasi tersebut disusun, badan semacam ini akan membengkak untuk mengakomodir kedua kabupaten.

Badan tersebut mungkin akan meningkatkan komunikasi dan memberikan jaringan dukungan, tetapi akan sangat mahal dan sulit untuk dikelola.

Alternatif baru “Pemegang Wewenang Pengelolaan Taman (Park Management Authority/

PMA)” muncul dari lokakarya PKA/NRMII-EPIQ mengenai pengelolaan taman nasional di Manado pada bulan Agustus 1999. Setiap PWPT terdiri atas pemerintah daerah, perwakilan pemerintah pusat di lapangan, dan keterlibatan masyarakat setempat, LSM dan sektor swasta.

Sektor swasta memainkan peranan yang semakin besar dalam dukungan dan pengelolaan kawasan dilindungi di Indonesia dan seluruh dunia. Pariwisata dan jasa pendukung semakin banyak di sub-kontrakkan ke perusahaan swasta. “The Friends of Kutai National Park

terdiri atas wakil-wakil dari perusahaan pertambangan, PHP dan lain-lain yang beroperasi di kawasan taman nasional tersebut dan memberikan bantuan dana. TNKM harus mencari jalan untuk melibatkan sektor swasta untuk meminimalkan sengketa dan mencari sumber dana atau dukungan non-material.

d. Dana dan Anggaran

Pemerintah saat ini tidak mampu menyediakan dana untuk beberapa taman nasional baru,

termasuk TNKM. Juga sangat sulit untuk menyediakan dana yang cukup melebihi dari sekedar pembayaran gaji/upah dan kebutuhan kantor untuk taman nasional yang sudah lebih tua dan mapan.

Hingga dana yang cukup tersedia, langkah-langkah sementara yang dapat membantu PKA mengatasi kekurangan dana adalah:

• Kemitraan dengan LSM yang sering mendapatkan bantuan internasional dari sumber-sumber yang tidak tersedia untuk Pemerintah Indonesia.

• Mengembangkan rencana dan anggaran taman yang efisien dan realistik.

• Mengembangkan susunan manajemen kolaborasi dengan institusi masyarakat setempat, yang dapat menyediakan jasa pengelolaan dengan biaya yang rendah dan lebih efisien. Persetujuan pengelolaan kolaborasi juga mempermudah untuk LSM seperti WWFI untuk mendapatkan bantuan dari donor guna pengelolaan taman, yang tidak ingin mendanai proyek taman nasional yang mereka pikir tidak mengakui penuh hak-hak masyarakat setempat untuk berpartisipasi dalam pengelolaan taman pada tingkat tinggi.

• Menjajagi alternatif dana debt-for-nature swaps dan carbon sequestration.

• Bernegosiasi dengan pemerintah propinsi dan kabupaten untuk menyediakan bantuan bagi kawasan dilindungi sebagai hasil desentralisasi politis, keuangan dan kekuatan administrasi. Pemerintah lokal dapat mendukung pembiayaan konservasi melalui koleksi dan distribusi penghasilan pajak dan non-pajak demikian juga melalui mekanisme pembiayaan yang mungkin.

• Memeriksa potensi sumber penghasilan inovatif, seperti pajak komersil lokal, pemanenan hasil hutan non-kayu secara berkelanjutan.

Namun, pertanggung jawaban terakhir bagi pembiayaan TNKM mungkin akan tetap pada tingkat pusat.

e. Prasarana

Tipe, lokasi dan waktu untuk mengembangkan pengelolaan taman, pariwisata dan prasarana lainnya harus dipertimbangkan dengan hati-hati. Walaupun prasarana merupakan lambang keberadaan taman yang penting, beberapa faktor menunjukkan bahwa pembangunan sebagian besar prasarana akan ditunda sampai:

• Ketidakpastian tentang batas luar taman nasional teratasi.

• Bagaimana sistem transportasi propinsi akan membuka wilayah berbeda dari taman nasional pada saat yang berbeda dan menyalurkan ancaman dan pengunjung,

• Jumlah pengunjung meningkat sampai jumlah yang cukup untuk menutup biaya pembangunan dan pemeliharaan prasarana tertentu.

Beberapa keputusan pokok yang harus dibuat adalah lokasi kantor pusat taman, lokasi pusat pengunjung dan pusat informasi serta lokasi resort dan rayon.

Penelitian akan menjadi kegiatan penting di TNKM, terutama karena lebih banyak informasi diperlukan untuk mengelola taman nasional secara lebih baik. Habitat alami TNKM juga menyediakan kesempatan untuk penelitian yang lebih dasar. Stasiun penelitian semacam ini harus memiliki potensi untuk menarik banyak ilmuwan dan siswa, tidak hanya dari Indonesia tapi juga dari seluruh dunia. Ini tidak hanya meningkatkan citra Taman Nasional Kayan Mentarang di mata dunia tetapi juga meningkatkan jumlah penelitian yang diperlukan oleh pengelolaan taman dan memberikan pemasukan dan kesempatan bekerja bagi masyarakat setempat sebagai asisten lapangan dan tugas-tugas lainnya. Sebuah pertanyaan kunci adalah bagaimana prasarana taman dapat dipersiapkan sebaik-baiknya untuk mendukung penelitian tersebut.

f. Ketenaga-kerjaan

Masalah ini mirip dengan masalah anggaran. Karena biaya upah/gaji karyawan biasanya merupakan porsi terbesar dari anggaran, anggaran yang terbatas berarti jumlah karyawan juga terbatas. Metode untuk mengatasi batas karyawan, mirip dengan cara untuk mengatasi anggaran yang rendah, seperti:

• Bermitra kerja dengan Lembaga Swadaya Masyarakat yang dapat menugaskan staf mereka sendiri untuk bekerja pada berbagai masalah pengembangan dan pengelolaan taman.

• Mengembangkan rencana dan anggaran taman yang realistik dan efisien.

• Mengembangkan aturan pengelolaan bersama dengan institusi masyarakat setempat, yang dapat menyediakan beberapa jasa pengelolaan dengan biaya yang rendah dan lebih efisien.

Memberikan beberapa tugas kepada institusi lokal dan masyarakat juga akan banyak meningkatkan dukungan kepada taman nasional. Di beberapa kasus, pelatihan yang luas akan menjadi penting untuk mempersiapkan institusi lokal dan masyarakat untuk bekerja. Dalam jangka yang lebih panjang, mitra PKA dan LSM dapat mencari beasiswa bagi masyarakat setempat untuk mendapatkan sertifikat, diploma dan/atau gelar dalam berbagai topik yang berhubungan dengan pengelolaan taman dan pengembangan daerah penyangga.

PKA juga dapat meningkatkan dukungan lokal untuk taman dengan cara memaksimalkan jumlah masyarakat setempat yang direkrut sebagai karyawannya sendiri.

Juga penting untuk seluruh karyawan UPT tersebut dan LSM mitra konservasi untuk lebih berlapang-dada terhadap pengelolaan bersama antara TNKM dengan institusi masyarakat setempat. Para karyawan harus bisa menyeimbangkan antara mengakui hak-hak masyarakat setempat untuk berpartisipasi dengan sepenuh hati dalam pengelolaan taman dan sekaligus menekankan tanggung-jawab mereka. Hal ini akan sangat sulit untuk dilakukan, dan akan memerlukan kemampuan yang besar dalam komunikasi, diplomasi, negosiasi, dan meredakan sengketa.

III-104 Rencana Pengelolaan Taman Nasional (RPTN)

Kayan Mentarang Periode 2001-2025 (Buku II)

3. Penyusunan Masalah-masalah Kawasan

Dalam dokumen Buku II RPTN Taman Nasional Kayan Mentarang (Halaman 71-75)