Pemberian antibiotik profilaksis masih kontroversial dan sering diperdebatkan.
Pemberian profilaksis dapat mencegah ISK berulang dan menurunkan risiko pembentukan jaringan parut di ginjal, tetapi ada pendapat yang menyatakan bahwa pemberian profilaksis tidak bermakna menurunkan kejadian ISK beulang atau jaringan parut, malah meningkatkan resisten bakteri terhadap antibiotik.
Terdapat beberapa penelitian tentang antibiotik profilaksis yang hasilnya kontradiktif, tetapi hanya sedikit yang merupakan penelitian randomized controlled. Terdapat kecenderungan penurunan pemberian antibotik profilaksis jangka lama. Kelihatannya, pasien yang perlu mendapat antibiotik profilaksis adalah anak kecil dengan RVU dilatasi, terutama perempuan.1 .
Hasil penelitian tentang antibiotik profilaksis dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu penelitian yang menyebutkan profilaksis dapat mencegah ISK berulang, penelitian yang hasil pemberian profilaksis dan yang tidak mendapat profilaksis tidak berbeda, dan penelitian yang menyebutkan bahwa pemberian profilaksis menyebabkan meningkatnya risiko ISK berulang.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa antibiotik profilaksis dapat menurunkan kejadian rekurensi ISK bawah.10 Cooper dkk. melaporkan hasil penelitian pada 40 anak perempuan dan 11 anak laki-laki menderita RVU dengan hidronefrosis yang tidak signifikan dan proses berkemih normal.
Selama mendapat antibiotik profilaksis, riwayat ISK sangat minimal. Setelah penghentian antibiotik profilaksis, sebagian besar anak dalam keadaan baik, namun 1 anak mengalami sistitis, dan 5 anak dengan ISK demam. Infeksi terjadi dalam waktu rerata 2,3 tahun (4 bulan hingga 9.4 tahun) setelah antibiotik dihentikan dan tidak ada pembentukan jaringan parut.23 Craig dkk.
(2009) meneliti 576 anak usia 0-18 tahun yang dirandomisasi untuk mendapat antibiotik profilaksis dan yang tidak mendapat profilaksis dan dipantau selama 1 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa ISK berulang lebih rendah pada kelompok yang mendapat profilaksis dibandingkan yang dapat plasebo yakni 13% vs. 19% dengan hazard ratio 0,61% (IK 95% 0,40-0,93; p=0,02).24 Pada tahun 2001, penelitian meta-analisis mengidentifikasi ada 5 penelitian randomized control di antara anak yang mendapat antibiotik profilaksis yang melibatkan 463 anak. Tiga penelitian di antaranya melibatkan 392 anak usia 2-6 bulan dan dua penelitian melibatkan 71 anak untuk menilai efektvitas pemberian antibiotik dosis rendah jangka lama untuk mencegah ISK. Hasilnya menunjukkan antibiotik profilaksis menurunkan risiko terjadinya ISK (risiko relatif 0,31; IK 95% 0,10 – 1,00).25
Penelitian multisite, randomized, placebo-controlled trial oleh Hoberman dkk. (2014) melibatkan 607 anak, median usia 12 bulan yang didiagnosis
Urinary Tract Infection Prophylaxis: Cost Effectiveness
dengan RVU dan ISK simtomatik mendapat profilaksis kotrimoksazol dan plasebo untuk mencegah berulangnya ISK. Dilakukan evaluasi terhadap parut ginjal, kegagalan terapi (menurunnya kekambuhan), dan resistensi bakteri. Hasil penelitian menunjukkan kekambuhan ISK terdapat pada 39 di antara 302 anak (12,9%) yang mendapat profilaksis dibandingkan 72 di antara 305 (23,6%) yang mendapat plasebo (risiko relatif 0,55; IK 95% 0,38- 0,78). Pemberian antibiotik profilaksis menurunkan risiko rekurensi 50%
(hazard ratio 0,50; IK 95% 0,34-0,74), terutama efektif pada anak dengan demam (hazard ratio 0,41;IK 95%0,26-0,64) dan pada anak dengan disfungsi saluran kemih dan saluran cerna (hazard ratio 0,21; IK0,08-0,58), namun tidak terdapat perbedaan bermakna terjadinya parut ginjal pada anak yang mendapat profilaksis dan plasebo (11,9% vs. 10,2%, p=0,55) baik pada jaringan parut berat (4,0% vs.2,6%, p=0,37), maupun terbentuknya jaringan parut baru (8,2% vs. 8,4%, p=0,94), dengan number needed to treat (NNT) 10. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian antibiotik profilaksis menurunkan risiko berulangnya ISK pada anak dengan RVU, tetapi tidak terdapat perbedaan terhadap terjadinya parut ginjal antara anak yang mendapat antibiotik profilaksis dengan yang tidak. Penelitian juga menunjukkan bahwa antibiotik profilakis menurunkan berulangnya ISK hingga 50%.26
Wang dkk., (2015) melakukan penelitian meta-analisis yang menyertakan 1.594 pasien usia 8,6 bulan hingga 21,3 bulan (median 12 hingga 24 bulan), dengan pemantauan 1-3 tahun. Hasilnya menunjukkan bahwa pemberian antibiotik profilaksis berkesinambungan secara bermakna menurunkan risiko berulangnya ISK simtomatik (OR 0,63; IK95%: 0,42-0,96), tetapi jika terjadi ISK maka terdapat peningkatan risiko organisme yang resisten terhadap antibiotik (OR 8,75; IK 95%: 3,52-21,73). Pemberian antibiotik profilaksis tidak terkait dengan penurunan pembentukan jaringan parut baru. Kejadian efek samping tidak berbeda antara pasien yang mendapat antibiotik profilaksis dengan yang tidak. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa pemberian antibiotik profilaksis berkelanjutan menurunkan risiko ISK febris dan ISK simtomatik secara bermakna, namun meningkatkan risiko resistensi bakteri dan tidak berkaitan dengan terbentuknya jaringan parut baru dan efek samping.11 Penelitian Roussey-Kesler dkk. (2008) terhadap 225 anak usia 1 bulan – 3 tahun dengan RVU grade I-III dirandomisasi untuk mendapat antibiotik profilakis dan tidak mendapat profilaksis, menunjukkan bahwa setelah 18 bulan pemantauan, tidak terdapat perbedaan terjadinya ISK berulang (17% vs. 26%, p=0,15) 27 Penelitian Pennesy dkk. (2008) terhadap 100 anak usia 0 bulan- 2
½ tahun dengan pielonefritis yang mendapat antibiotik profilaksis dan tidak mendapat profilaksis selama 2 tahun, menunjukkan bahwa setelah 2 tahun pemantauan pasca penghentian antibiotik profilaksis tidak terdapat perbedaan berulangnya ISK pada kedua kelompok (36% vs.30%). Demikian juga dengan
Prosiding Simposium LxxiV A to Z about infections pediatric antibiotic stewardship
kejadian jaringan parut ginjal, tidak terdapat perbedaan pada pasien yang mendapat antibiotik profilaksis dan yang tidak mendapat profilaksis (40% vs.
36%, p=0,4).28 Penelitian Montini dkk. (2009) melibatkan 338 anak usia 2 bulan-7 tahun dengan RVU grade I-III yang mendapat antibiotik profilaksis dan yang tidak mendapat profilaksis. Pada akhir pemantauan 1 tahun, tidak terdapat perbedaan pada kedua kelompok terhadap terjadinya ISK berulang dan terbentuknya jaringan parut.20 Penelitin Garin dkk (2005) melibatkan 218 anak berusia 1 bulan-18 tahun dengan pielonefritis akut yang dirandomisasi mendapat antibiotik profilaksis dan tidak mendapat profilaksis untuk menilai jaringan parut dengan skintigrafi DMSA. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah satu tahun, tidak terdapat perbedaan kejadian parut ginjal pada anak yang mendapat antibiotik profilaksis dan yang tidak mendapat profilaksis.29 Penelitian meta-analisis terhadap ISK anak dengan RVU primer. melibatkan 809 anak dengan risiko relatif berulangnya ISK dengan profilaksis 0,82 (IK 95$: 0,62-1,08, p=0,16) Selain itu, meta-analisis terhadap 4 penelitian untuk mengevaluasi parut ginjal yang melibatkan 662 anak dengan ISK mendapat profilaksis menunjukkan risiko relatif 1,04 (IK 95% 0,84-1,30, p=0,69) Hasil meta-analisis ini menyebutkan tidak ada manfaat pemberian antibiotik profilaksis untuk mencegah ISK berulang dan pembentukan jaringan parut, namun interpretasi hasil ini harus hati-hati karena berbagai keterbatasan penelitian seperti blindness, jumlah anak dengan RVU, metode pengambilan sampel urin untuk mendiagnosis ISK, lebarnya kelompok usia, tingginya persentase pasien dengan displasi ginjal, kriteria inklusi derajat RVU, durasi follow-up yang relatif singkat yang memengaruhi hasil penelitian.13 Pada tahun 1980-an, ada dua penelitian randomized- control trial yang membandingkan pemberian antibiotik profilaksis saja dengan tindakan bedah atau kombinasi dengan profilaksis ajuvan yang menunjukkan hasil hampir sama.20 Pada penelitian randomized clinical trial oleh The RIVUR, insidens jaringan parut baru (new renal scars) sama pada anak dengan pemberian antibiotik profilaksis dengan tanpa antibiotik profilaksis (8,2 vs. 8,4 %), dan tidak dapat menentukan apakah antibiotik profilaksis dapat mencegah kerusakan ginjal.8
Penelitian Hari dkk. (2015) melaporkan bahwa pemberian antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol sebagai profilaksis jangka panjang meningkatkan risiko ISK berulang pada anak dengan RVU derajat I-III dibandingkan dengan yang mendapat plasebo.30 Hal yang sama juga dilaporkan oleh Garin dkk.
(2006) yang menyebutkan bahwa risiko kejadian pielonefritis lebih tinggi pada anak yang mendapat antibiotik profilaksis dibandingkan yang tidak mendapat antibiotik profilaksis.29 Hal ini kemungkinan disebabkan pada kelompok yang mendapat antibiotik profilaksis terjadi eradikasi flora protektif periuretra yang menyebabkan kolonisasi bakteri dan peningkatan virulensi bakteri.30
Urinary Tract Infection Prophylaxis: Cost Effectiveness