Perlu diketahui kaidah etik yang tercakup dalam pengambilan keputusan penggunaan antibiotik. Kaidah autonomy mengutamakan keinginan dan preferensi pasien, didukung dengan kaidah beneficence yang menggambarkan perlunya seorang dokter memberikan pelayanan yang optimum bagi pasien.3 Dalam hal ini, banyak yang berargumen bahwa pemberian antibiotik yang dikurangi dapat menyebabkan dampak negatif bagi pasien, sehingga tidak seharusnya dilakukan. Di sisi lain, memikirkan justice berarti memikirkan pasien-pasien potensial yang mungkin akan menjadi pasien namun belum terjadi dan bagaimana tindakan yang dilakukan harus juga memikirkan kerugian yang nantinya mungkin dihadapi.
Keseimbangan yang diharapkan dari penyelesaian masalah etik ini bertujuan untuk memberikan pelayanan sebaik mungkin, sambil memutuskan penggunaan antibiotik secara bijak. Dalam hal ini, terdapat beberapa batasan yang cukup jelas, misalnya saja antibiotik tidak diberikan pada pasien yang dicurigai mengalami infeksi virus, dan antibiotik diberikan dengan dosis terapetik.2 Selanjutnya, terdapat kasus-kasus yang batasan ini menjadi kurang jelas, misalnya saat etiologi infeksi tidak dapat ditemukan, atau pada saat pasien dirasa tidak mengalami perbaikan setelah pemberian antibiotik.
Diperlukan panduan, namun lebih dari itu, dibutuhkan pemahaman mengenai penggunaan antibiotik yang etis untuk mengambil keputusan paling bijak mengenai pemberian, penggantian, dan penghentian antibiotik.1
Penyelesaian masalah etik penggunaan antibiotik
Langkah pertama untuk menyelesaikan masalah etik penggunaan antibiotik adalah dengan mengidentifikasi stakeholders yang berperan dalam penggunaan antibiotik terutama di lingkungan rumah sakit. Terdapat setidaknya 4 hal yang perlu diperhatikan dalam mengatasi masalah etik dalam pemberian antibiotik1, yaitu:
Antibiotic Resistance Control Program (ARCP) in Indonesia
y Etik
– Para pakar dalam hal etik harus mampu menyelaraskan pemberian antibiotik pada pasien dengan kepentingan orang banyak, dan dengan demikian memberikan pertimbangan yang adil dan dapat digunakan secara umum dalam populasi.
y Kebijakan
– Berdasarkan panduan berbasis bukti, pemangku kebijakan harus mampu membuat kebijakan dan aturan yang jelas sehingga bila ada sengketa etik nantinya, akan dapat diselesaikan berdasarkan peraturan tersebut. Peraturan yang dibuat harus mencakup perlu tidaknya dilakukan informed consent dalam pemberian antibiotik, bagaimana pemberian antibiotik dan bijak, serta keadaan-keadaan khusus yang tidak mengikuti panduan, misalnya dalam kondisi syok septik maupun infeksi yang berat.
y Tenaga kesehatan
– Tenaga kesehatan harus memiliki kemampuan yang mumpuni mengenai antibiotik untuk mengambil keputusan, karena gerbang akses terhadap antibiotik berada pada tenaga kesehatan. Peran dari tenaga kesehatan termasuk di dalamnya memberikan edukasi mengenai pemberian antibiotik yang baik dan benar kepada pasien, mencegah pembelian antibiotik secara bebas, dan melakukan pemilihan terhadap antibiotik yang diberikan untuk setiap pasien. Tenaga kesehatan menginterpretasikan panduan dan peraturan yang telah dibuat untuk diaplikasikan pada pasien sesuai dengan kebutuhan individual.
y Industri
– Sebagai bagian dari pencegahan resistensi antibiotik, industri berperan besar dalam menentukan distribusi dari antibiotik untuk mencegahnya sampai ke tangan yang tidak tepat. Industri juga membiayai dan meneliti berbagai antibiotik baru yang walaupun semakin lama semakin sedikit, namun dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi bahaya resistensi antibiotik. Regulasi dalam produksi dan pendistribusian antibiotik yang berkualitas akan membantu dalam penyelesaian masalah.
Secara umum, perhitungan mengenai hak pasien sebenarnya sangat sederhana, yaitu menyeimbangkan antara hak pasien dengan pencegahan potensi kerugian yang mungkin dihadapi di masa depan. Model ini merupakan model cost-benefit dan cost-effective yang formal, keseimbangan akan dicapai bila kedua belah pihak diuntungkan secara kurang lebih sama besar.3
Prosiding Simposium LxxiV A to Z about infections pediatric antibiotic stewardship
Di sisi lain, terdapat pengecualian dan keadaan khusus yang memerlukan perhitungan lebih detail mengenai hal ini. Hak pasien untuk mendapat kesembuhan dengan antibiotik yang optimal dapat diprioritaskan dalam keadaan khusus, misalnya pasien dengan keadaan yang gawat darurat atau kronik dengan keadaan umum yang buruk. Pertimbangan khusus yang lebih dari sekadar menyeimbangkan terapi pasien ini dengan keuntungan yang akan didapat oleh pasien berikutnya diperlukan. Oleh sebab itu, harus ada aturan yang mengatur kapan tindakan khusus boleh dan harus diambil untuk mencapai pelayanan yang terbaik dengan tujuan mencapai “greatest good”.1
Walaupun memikirkan otonomi pasien, perlu dipikirkan juga mengenai pembatasan dari otonomi pasien tersebut. Kebebasan dalam memilih yang diberikan kepada pasien harus dibatasi pada keputusan yang tidak merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Analogi dalam otonomi yang terlalu luas menyebabkan kerugian yang besar misalnya pada gerakan antivaksin.
Banyaknya yang menganggap otonomi berarti memilih sebebas-bebasnya menyebabkan banyak orang yang berakhir tidak menyetujui vaksin bagi anaknya dan menyebabkan outbreak yang seharusnya dapat dicegah. Dalam hal ini, analogi di atas memiliki makna bahwa pembatasan pemberian antibiotik merupakan salah satu cara yang mengurangi kerugian bagi pasien lain di masa depan, dan sampai pada titik tertentu, mencegah penggunaan antibiotik sembarangan yang juga dapat merugikan pasien sendiri.2
Harus diingat bahwa tujuan akhir dari pertimbangan etik adalah kebaikan terbesar bagi pasien saat ini dan di masa depan. Oleh sebab itu, hal ini akan berhubungan dengan perlindungan bagi pasien dengan membuat panduan yang tidak merugikan keselamatan mereka. Dalam konsep keselamatan pasien/
patient safety, keselamatan pasien dan pencegahan dari resistensi antibiotik adalah dengan mencuci tangan untuk mencegah penyebaran kuman.3 Namun, lebih dari itu, konsep ini juga memikirkan kepentingan pasien walaupun membuat peraturan demi kepentingan orang banyak, sehingga pemenuhan tujuan dari penggunaan antibiotik yang etis akan mencapai juga keselamatan bagi pasien.
Simpulan
y Keseimbangan antara otonomi pasien dengan keadilan bagi pasien di masa depan perlu ditegakkan
y Panduan dan peraturan perlu mencakup etik sebagai salah satu pertimbangan
y Hingga titik tertentu otonomi pasien dapat dibatasi demi kepentingan pasien dan orang banyak
Antibiotic Resistance Control Program (ARCP) in Indonesia
y Keselamatan pasien dapat dicapai dengan menjalankan penggunaan antibiotik yang etis dan sesuai aturan
Daftar pustaka
1. Leibovici L, Paul M, Ezra O. Ethical dilemmas in antibiotic treatment. Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2012; 67:12-6
2. Littman J. The ethical significance of antimicrobial resistance. Public Health Ethics 2015; 8: 209-24
3. Littman J, Buyx A, Cars O. Antibiotic resistance: an ethical challenge. Int J Microbiob Agents 2015; 46: 359-61
4. Garau J. Impact of antibiotic restrictions: the ethical perspective. Clinical Microbiology and Infection 2006;12: 16-24
5. Leibovici L, Paul M. Ethical dilemmas in antibiotic treatment: focus on the elderly.
Clinical Microbiology and Infection 2015; 2: 27-9