Seiring dengan meningkatnya jumlah kasus TB resisten obat (TB RO) pada orang dewasa, jumlah kasus TB RO pada anak juga diestimasi semakin besar.
Artikel terbaru menunjukkan bahwa di dunia terdapat sekitar 25.000 sampai 32.000 anak dengan TB RO setiap tahunnya atau sekitar 3% dari keseluruhan TB anak. Hanya sekitar 3-4% dari jumlah tersebut yang menjalani pengobatan sebagai TB RO dan diperkirakan 21% dari anak dengan TB RO akan meninggal dunia. Upaya investigasi kontak terhadap anak-anak di sekitar TB RO pada dewasa diharapkan dapat menemukan kasus 12 kali lebih banyak daripada sebelumnya.23
Dalam meta-analisis dari 25 penelitian, 7,8% anak yang kontak serumah dengan TB-MDR menjadi sakit TB, sebagian besar terjadi dalam 3 tahun setelah kontak. Sebesar 47,2% anak kontak dengan pasien TB MDR mendapat infeksi TB laten. Schaaf melaporkan pengamatan selama 30 bulan
Kemoprofilaksis pada Anak Terpajan Tuberkulosis Sensitif atau Resisten Obat
terhadap 119 anak-anak yang kontak dengan TB MDR dewasa di Afrika Selatan, yang hasilnya 78% terinfeksi atau sakit TB. Dari 41 anak yang menerima kemoprofilaksis dua (5%) sakit TB, sedangkan dari 64 anak yang tidak mendapat kemoprofilaksis, 13 (20%) selama pengamatan mengalami sakit TB.24 Bamrah, dkk melaporkan studi tentang pengobatan LTBI untuk anak kontak pasien MDR-TB di Negara Federasi Mikronesia, 2009–2012. Di antara 104 kontak yang terinfeksi yang memulai pengobatan, tidak ada yang menjadi sakit TB-MDR. Sebanyak 93 (89%) anak menyelesaikan pengobatan, sementara 4 anak tidak melanjutkan karena efek samping. Dari 15 anak yang menolak diberikan pencegahan, 3 di antaranya mengalami sakit TB-MDR.25
Kebijakan tata laksana kontak anak bervariasi di berbagai negara, mulai dari observasi ketat hingga pemberian pengobatan pencegahan dengan pilihan paduan obat yang beragam. Menurut rekomendasi WHO, pemberian pengobatan pencegahan dapat dipertimbangkan pada kelompok risiko tinggi tertentu yang merupakan kontak serumah pasien TB resistan obat, berdasarkan penilaian risiko individual dan pertimbangan klinis.12,13 Di Indonesia, dengan mempertimbangkan bukti yang ada mengenai beratnya risiko kesakitan dan manfaat pengobatan pencegahan maka pengobatan pencegahan diberikan pada kontak TB RO yang berisiko tinggi sakit TB, yaitu balita atau anak dengan imunokompromais yang tidak bergejala TB.
Pemilihan paduan obat sebagai profilaksis TB RO sebaiknya didasarkan data profil resistensi obat dari sumber infeksi. Golongan fluorokuinolon generasi baru (misalnya levofloksasin dan moksifloksasin) diyakini sebagai komponen obat profilaksis yang penting, kecuali dideteksi adanya resistensi sumber infeksi terhadap obat tersebut. Etambutol merupakan obat bakteriostatik, namun bias bersifat bakterisidal jika diberikan pada dosis tinggi. Etambutol menghambat sintesis dinding sel, memiliki distribusi dan absorpsi yang baik kecuali dalam cairan serebro-spinal. Golongan fluoro kuinolon memiliki aktivitas bakteriosidal, menghambat DNA-gyrase dan diabsorpsi dengan baik serta dapat terdistribusi secara luas. Meskipun terdapat kekhawatiran terhadap penggunaan fluorokuinolon pada anak dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan kartilago yang dijumpai pada studi terhadap hewan coba, kondisi serupa ternyata tidak dijumpai pada studi terhadap manusia.21
Masih sedikit bukti mengenai durasi lamanya pengobatan pencegahan, sehingga penilaian klinis sangat diperlukan dalam mengambil keputusan.
Studi-studi yang ada sejauh ini memberikan pencegahan selama 6, 9 atau 12 bulan. Kelompok kerja TB Anak Kementrian Kesehatan Republik Indonesia yang terdiri dari tim ahli klinis dari Ikatan Dokter Anak Indonesia dan organisasi terkait lainnya mencantumkan alur tata laksana terhadap anak yang kontak erat dengan TB RO. Paduan obat pencegahan yang diberikan adalah Levofloksasin 15-20 mg/kgBB/hari dan Etambutol 15-25 mg/kgBB/hari
Prosiding Simposium LxxiV A to Z about infections pediatric antibiotic stewardship
selama 6 bulan. Obat diminum 1-2 jam sebelum makan. Selama pemberian obat, dilakukan pemantauan berkala terhadap munculnya gejala TB atau keluhan efek samping obat. Alur tata laksana anak kontak TB RO tersaji pada Gambar 2.
Simpulan
Upaya pemberian kemoprofilaksis merupakan strategi yang sangat penting untuk mencapai eliminasi TB. Kemoprofilaksis dilakukan dengan memberikan satu atau dua macam obat anti TB kepada anak balita atau kelompok risiko tinggi (yaitu anak dan dewasa yang memiliki penyakit yang menurunkan imunitas / imunokompromais) apabila terpajan sumber infeksi TB atau terinfeksi TB namun belum bergejala sakit TB aktif. Bila sumber infeksi adalah TB sensitif obat maka obat yang diberikan adalah INH selama 6, 9 atau 12 bulan atau INH/RIF selama 3 bulan atau rifapentin/INH selama 3 bulan. Jika sumber infeksi adalah TB RO maka obat pencegahan yang diberikan adalah etambutol dan levofloksasin.
Gambar 2. Alur tata laksana anak kontak TB RO11
Kemoprofilaksis pada Anak Terpajan Tuberkulosis Sensitif atau Resisten Obat
Daftar pustaka
1. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2017. Geneva: World Health Organization; 2017.
2. World Health Organization. Guidance for national tuberculosis programmes on the management of tuberculosis in children. Geneva: World Health Organization; 2014. Available at http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/137094/
1/9789241564809_eng.pdf?ua=1. Accessed on 6 January 2015.
3. Hawkridge T. Tuberculosis contact and prophylaxis. SAMJ. 2007;97:998-1000.
4. Marais BJ, Gie RP, Schaaf HS, Beyers N, Donald PR, Starke JR. Childhood pulmonary tuberculosis: old wisdom and new challange. Am J Respir Crit Care Med. 2006;173:1078−90.
5. Fox GJ, Barry SE, Britton WJ, Marks GB. Contact investigation for tuberculosis:
a systematic review and meta-analysis. Eur Resp J. 2013;41:140-56.
6. Nguyen TH, Odermatt P, Slesak G, Barennes H. Risk of latent tuberculosis in- fection in children living in households with tuberculosis patients: a cross sectional survey in remote northern Lao People’s Democratic Republic. BMC Infect Dis. 2009;9:96.
7. Tipayamongkholgul M, Podhipak A, Chearskul S, Sunakorn P. Factors associated with the development of tuberculosis in BCG immunized children. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2005;36:145–50.
8. David SG, Sant’Anna CC, Marques AM. Antituberculosis chemoprophylaxis in children. J Pediatr (Rio J). 2000;76:109-14.
9. Smieja MJ, Marchetti CA, Cook DJ, Smaill FM . Isoniazid for preventing tuberculo- sis in non-HIV infected persons. Cochrane Database Syst Rev 2000;2:CD001363.
10. Ayieko J, Abuogi L, Simchowitz B, Bukusi EA, Smith AH, Reingold A. Efficacy of isoniazid prophylactic therapy in prevention of tuberculosis in children: a meta–analysis. BMC Infect Dis. 2014;14:91-100.
11. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Manajemen dan Tata Laksana TB Anak. Jakarta: Kementrian Kesehatan Republik Indonesia; 2016.
12. Lancella L, Vecchio AL, Chiappini E, Tadolini M, Cirillo D, Tortoli E, dkk.
How to manage children who have come into contact with patients affected by tuberculosis. J ClinTuberc Other Mycobact Dis. 2015;1:1-12.
13. World Health Organization. Guideline on the management of latent tuberculosis infection. Geneva: World Health Organization; 2015.
14. UKK Respirologi PP IDAI. Rekomendasi infeksi laten tuberculosis pada anak.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI; 2017.
15. Cruz AT, Starke JR, Lobato MN. Old and new approaches to diagnosing and treating latent tuberculosis in children in low-incidence countries. Curr Open Pediatr. 2014;26:106-13.
16. Rutherford ME, Ruslami R, Maharani W, Yulita I, Lovell S, Crevel RV, dkk. Adherence to isoniazid preventive therapy in Indonesian children:
a quantitative and qualitative investigation. BMC. 2012;5:2-7.
Prosiding Simposium LxxiV A to Z about infections pediatric antibiotic stewardship
17. van Zyl S, Marais BJ, Hesseling AC, Gie RP, Beyers N, Schaaf HS. Adherence to anti-tuberculosis chemoprophylaxis and treatment in children. Int J Tuberc Lung Dis. 2006;10:13-8.
18. Spyridis NP, Spyridis PG, Gelesme A, Sypsa V, Valianatou M, Metsou F, dkk. The effectiveness of a 9-month regimen of isoniazid alone versus 3- and 4-month regimens of isoniazid plus rifampin for treatment of latent tuberculosis infection in children: results of an 11-year randomized study. Clin Infect Dis. 2007;45:715-22.
19. Bright-Thomas R, Nandwani S, Smith J, Morris JA, Ormerod LP. Effectiveness of 3 months of rifampicin and isoniazid chemoprophylaxis for the treatment of latent tuberculosis infection in children. Arch Dis Child. 2010;95:600-2 20. Ena J, Valls V. Short-course therapy with rifampin plus isoniazid, compared with
standard therapy with isoniazid, for latent tuberculosis infection: a meta-analysis.
Clin Infect Dis. 2005;40:670-6.
21. World Health Organization. Latent tuberculosis infection: update and consolidated guidelines for programmatic management. Geneva: World Health Organization; 2018.
22. Cruz AT, Ahmed A, Mandalakas AM, Starke JR. Treatment of latent tuberculosis infection in children. Pediatr Infect Dis J. 2013;30:1-11.
23. 23 Jenkins HE, Yuen CM. The burden of multidrug-resistant TB in children.
Intl J TB Lung Dis. 2018;22:S3-6.
24. Schaaf HS, Gie RP, Kennedy M, Beyers N, Hesseling PB, Donald PR. Evaluation of young children in contact with adult multidrug-resistant pulmonary tuberculosis;
a 30-months follow-up. Pediatrics. 2002;109:765-71.
25. Bamrah S, Brostrom R, Dorina F, Setik L, Song R, Kawamura LM, dkk. Treatment for LTBI in contacts of MDR-TB patients, Federated States of Micronesia, 2009- 2012. Int J Tuberc Lung Dis. 2014;18:912-8.