Tiga hal yang dibutuhkan untuk transmisi penyakit, yaitu sumber infeksi atau mikroorganisma, pejamu atau pasien yang rentan serta media transmisi.3 Mikroorganisme penyebab HAI
Selama perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan, pasien dapat terpapar berbagai mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, dan protozoa) dari pasien lain, petugas kesehatan, atau dari pengunjung. Sumber mikroorganisme lainnya termasuk flora endogen pasien (misalnya, flora normal yang berada di kulit pasien, saluran pencernaan, atau saluran pernapasan) dan benda-benda yang telah terkontaminasi (misalnya, permukaan lingkungan kamar pasien, permukaan peralatan medis dan obat-obatan). Jenis mikroorganisme penyebab HAI bisa dilihat pada tabel 1.
Prosiding Simposium LxxiV A to Z about infections pediatric antibiotic stewardship
Kerentanan/suseptibilitas pejamu/pasien
Individu memiliki kerentanan yang bervariasi untuk terjadinya infeksi setelah terpapar organisme patogen. Beberapa individu memiliki mekanisme pertahanan bawaan sehingga tidak berkembang menjadi penyakit yang simptomatik karena pertumbuhan mikroba dapat dihambat atau memiliki kekebalan terhadap virulensi mikroba tertentu. Sedangkan individu lain yang terinfeksi mikroorganisme yang sama dapat membentuk hubungan komensal dan mempertahankan organisme penyebab sebagai pembawa asimtomatik (hanya berkolonisasi) atau berkembang prosesnya menjadi penyakit aktif.
Faktor intrinsik lainnya yang mempengaruhi suseptibilitas HAI pada seorang anak adalah adanya keadaan yang menyebabkan tidak optimalnya sistim imun karena faktor usia (seperti neonatus), menderita penyakit yang berat/parah, obat imunosupresif, atau dalam terapi medis tertentu atau pembedahan. Anak yang dalam kondisi gangguan sistim imun seluler maupun humoral juga sangat rentan untuk mengalami HAI. Demikian juga anak dengan defisiensi imun baik primer maupun sekunder.
Faktor risiko ekstrinsik meliputi prosedur bedah atau invasif lainnya, intervensi diagnostik atau terapeutik (mis., perangkat medis invasif, implan benda asing, transplantasi organ, obat imunosupresif), dan eksposur personel.
Chang dkk, menyatakan bahwa paling tidak 90% infeksi dikaitkan dengan peanggunaan/pemasangan alat medis yang invasif. Perangkat medis invasif akan memotong mekanisme pertahanan normal kulit atau selaput lendir dan memberikan fokus jalan masuk sehingga kuman patogen dapat berkembang, yang kemudian dilindungi secara internal dari pertahanan kekebalan pasien.
Tabel 1. Distribusi KLB berdasarkan penyebab dan karakteristiknya per-100 KLB (spesies yang dicantumkan hanya spesies yang ditemukan pada minimal 20 KLB)4
Jumlah KLB (%) Rerata jumlah
pasien* Rearata jumlah pasien
yang meninggal* Rerata jumlah staf yang terlibat*
Staphylococcus aureus Pseudomonas aeruginosa Klebsiella pneumonia Serratia marcescens Hepatitis B virus Hepatitis C virus Legionella pneumopila Enterobacter cloacae Eschericia coli Acitenobacter baumannii Hepatitis A virus Curkholderia cepacia Mycobacterium tuberculosis Candida albicans
151 (14,8) 91 (8,9) 73 (7,1) 67 (6,6) 60 (5,9) 42 (4,1) 38 (3,7) 34 (3,3) 27 (2,6) 24 (2,3) 22 (22) 21 (2,1) 21 (21) 20 (2,0)
56,820,3 23,136,4 18,310,4 15,319,0 44,126,3 13,632,0 18,740,9
3,11,8 3,01,5 0,80,1 3,11,1 2,01,1 0,14,6 10,93,2
6,30,1 0,10,9 1,50,3 3,90,4 3,00,2 7,60,1 6,01,3
* Hanya wabah dengan data lengkap yang dipertimbangkan untuk perhitungan ini
Healthcare Associated Infections (HAI) dan Kewaspadaan Bagi Tenaga Kesehatan Professional
Selain menyediakan jalan masuk untuk kolonisasi atau infeksi mikrobayang non-patogen, perangkat ini juga memfasilitasi transfer kuman patogen dari satu bagian tubuh pasien ke bagian yang lain, dari petugas kesehatan ke pasien, atau dari pasien ke petugas layanan kesehatan kemudian ke pasien lagi. Resiko ini bisa dikurangi dengan memahami dan mengaplikasikan Praktik Pengendalian Infeksi berbasis bukti. Perawatan yang lama ikut berkontribusi terhadap kerentanan pejamu terhadap infeksi karena memiliki lebih banyak kesempatan untuk menggunakan perangkat medis yang invasif dan lebih banyak waktu untuk terpapar mikroorganisme eksogen.
Media Transmisi penyakit
Ada 4 media penyebaran penyakit dari pasien ke pasien atau ke petugas kesehatan ataupun sebaliknya, meliputi:
a. Penyebaran melalui Kontak (Contact Transmission)
Inilah media penyebaran penyakit yang paling penting dan paling sering di fasilitas pelayanan kesehatan. Organisme ditransfer melalui kontak langsung antara pasien yang terinfeksi atau yang mempunyai kolonisasi dengan petugas kesehatan yang rentan atau pasien lain. Organisme pada tubuh pasien dapat dipindahkan ke kulit petugas kesehatan (tidak menyebabkan infeksi) dan kemudian dipindahkan ke pasien yang rentan sehingga pasien terinfeksi. Hal ini menunjukkan jenis transmisi kontak yang tidak langsung dari satu pasien ke pasien lainnya. Contoh lainnya adalah jika seorang pasien yang terinfeksi menyentuh kenop pintu, yang kemudian kenop tersebut disentuh oleh petugas kesehatan dan mikroorganisme yang ada di kenop tersebut kemudian dipindahkan ke pasien lain. Mikroorganisme yang dapat disebarkan melalui kontak termasuk diantaranya impetigo, abses, penyakit diare, skabies, dan organisme resisten antibiotik, misalnya, Methicillin Resistance Staphylococcus Aureus (MRSA) dan Vancomycin Resistance Enterococci (VRE).
b. Penyebaran melalui Droplet (Droplet Transmission)
Cairan tubuh berbentuk droplet yang mengandung mikroorganisme dapat dihasilkan selama proses batuk, bersin, berbicara, penyedotan lendir (melalui suction), dan bronkoskopi. Mikroorganisme tersebut akan disemprotkan atau dilepaskan ke udara dalam jarak dekat sebelum akhirnya turun dan menetap di permukaan. Mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan infeksi jika jatuh langsung ke permukaan mukosa orang yang rentan (misalnya, konjungtiva, mulut, atau hidung) atau ke permukaan lingkungan di dekatnya yang kemudian dapat disentuh oleh orang yang rentan yang melakukan autoinokulasi ke permukaan mukosa
Prosiding Simposium LxxiV A to Z about infections pediatric antibiotic stewardship
mereka sendiri. Contoh penyakit yang disebarkan melalui transmisi droplet adalah faringitis, meningitis, dan pneumonia.
c. Penyebaran melalui Udara (Airborne Transmission)
Mikroorganisme berukuran kecil seperti Tuberkel bacilli, Varisela, dan virus Rubeola dapat bertahan di udara untuk jangka waktu yang lama, dan dapat menyebar ke orang lain. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), teknik aseptik, kebersihan tangan, dan tindakan pengendalian infeksi lingkungan adalah metode utama untuk melindungi pasien dari transmisi mikroorganisme dari pasien lain dan dari petugas kesehatan.
Alat pelindung diri juga melindungi petugas kesehatan dari paparan mikroorganisme di fasilitas pelayanan kesehatan.
d. Penyebaran melalui Bahan atau Material (Vehicle Transmission) Penyebaran melalui bahan atau material tertentu ini bisa terjadi ketika banyak orang terpapar dan kemudian jatuh sakit setelah berhubungan dengan bahan atau material tertentu, seperti makanan yang terkontaminasi, air, obat-obatan, cairan atau alat medis. Penyebaran melalui media ini khusus untuk bakteri, dan tidak untuk virus. Contoh penyebaran dengan cara ini adalah makanan olahan yang terkontaminasi, botol obat multidosis yang terkontaminasi dan alat bronkoskopi yang terkontaminasi.