BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kelainan refraksi merupakan permasalahan okular yang paling sering ditemukan di seluruh dunia. Penyebab utama gangguan pengliahatan di dunia ialah kelainan refraksi yang tidak terkoreksi dan mencangkup sebesar 53% dari seluruh penyebab gangguan penglihatan derajat sedang dan berat. Kelainan refraksi yang tidak terkoreksi merupakan penyebab terbanyak kedua kebutaan setelah katarak, atau sebanyak 21% dari seluruh penyebab kebutaan di dunia pada tahun 2015 (Ilyas, 2012).
Kelainan refraksi atau anomaly refraksi adalah keadaan dimana bayangan tegas tidak di bentuk pada retina, tetapi dibagian depan atau belakang bintik kuning dan tidak terletak pada satu titik yang tajam. Kelainan refraksi dikenal dalam beberapa bentuk, yaitu miopia, hipermetropia, dan astigmatisma.
Diantara kelainan refraksi tersebut, miopia adalah kelainan refraksi yang sering di jumpai, kemudian hypermetropia, dan terakhir astigmatisme (Ilyas,2012).
Berdasarkan penelitian dari berbagai populasi di berbagai negara, distribusi miopia pada siswa bervariasi. Beberapa studi menunjukkan bahawa angka kejadian miopia meningkat pada tingkat pembelajaran yakni usia 6-12 tahun (WHO, 2013). Angka kejadian dari kelainan refraksi diantara 3070 anak-anak
di china tahun 2010 sebanyak (12,51%) menderita hipermetropia, sebanyak (13,37%) menderita miopia, dan (11,17%) menderita astigmatisme (Lian_Hong Pi dkk, 2010).
Agar proses perkembangan mata pada anak normal tidak menyebabkan cacat penglihatan yang serius dan menyebabkan kebutaan, maka kelainan refraksi berat pada anak perlu di koreksi. Akan tetapi tidak semua kelainan refraksi / ametropi pada anak perlu dikoreksi. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan koreksi terbaik untuk kelainan refraksi pada anak dengan memperhatikan jenis dan derajat ametropia, umur anak dan potensi terjadinya ambliopia (Amalia, 2016).
Menurut data WHO, penyebab terjadinya penurunan penglihatan salah satunya di sebabkan oleh kelainan refraksi sebesar 43%. Kelainan refraksi mata yang tidak terkoreksi merupakan penyebab utama Low Vision di Dunia. Data dari Vision 2020, suatu program kerjasama antara International Agency For The Prevention Of Blindess (IAPB) dan WHO, menyatakan bahwa pada tahun 2006 diperkirakan 153 juta penduduk dunia mengalami gangguan visus akibat kelainan refraksi yang tidak terkoreksi. Penurunan tajam penglihatan dapat di koreksi dengan kacamata, lensa kontak ataupun dengan tindakan bedah. Dari 153 juta orang tersebut, sedikitnya 13 juta diantaranya adalah anak-anak usia 5-15 tahun dimana prevalensi tinggi terjadi di Asia Tenggara (WHO, 2008).
Di Indonesia angka kejadian kelainan refraksi menempati urutan pertama pada penyakit mata. Menurut suharjo kasus refraksi dari tahun ke tahun terus
mengalami peningkatan, di temukan jumlah penderita kelainan refraksi di Indonesia hampir 25% populasi penduduk atau sekitar 55 juta jiwa.
Penanggulangan gangguan penglihatan dan kebutaan (PGPK) pada tahun 2011 menyatakan bahwa gangguan penglihatan akibat kelainan refraksi dengan prevalensi 22,1% masih merupakan masalah besar di Indonesia. Dari hasir hasil survei Departemen Kesehatan Republik Indonesia yang dilakukan di delapan Propinsi di Indonesia seperti Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat pada tahun 2009 ditemukan kelainan refraksi sebesar 61,71%
dan menempati urutan pertama dalam sepuluh penyakit mata terbesar di Indonesia (Amalia Enira, 2016).
Kelainan refraksi pada anak merupakan suatu permasalahan yang harus segera ditanggulangi. Gangguan penglihatan merupakan masalah kesehatan yang penting, terutama pada anak, mengingat 80% informasi selama 12 tahun pertama kehidupan anak didapatkan melalui penglihatan. Keterlambatan melakukan koreksi refraksi terutama pada anak usia sekolah akan sangat mempengaruhi kemampuan menyerap materi pelajaran dan berkurangnya potensi untuk menigkatkan kecerdasan karena 30% informasi diserap dengan menglihat dan mendengar. Anak-anak yang menggalami kelainan refraksi sering tidak mengeluhkan gangguan penglihatan. Mereka hanya menunjukan gejala-gejala yang menandakan adanya gangguan penglihatan melalui prilaku mereka sehari-hari. Sebagai sosok yang diangap paling dekat dengan anak, orangtua di tungtut untuk memiliki kemampuan deteksi dini kelainan refraksi
dan mencari bantuan yang tepat. Dengan prilaku tersebut diharapkan koreksi refraksi dapat segera dilakukan untuk menghasilkan visus optimal (Aravind Eye Hospital and Postgraduate Institute of Ophthalmology, 2003).
B. Identifikas Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar berakang masalah di atas memberikan dasar bagi peneliti untuk mengindifikasi penelitian sebagai berikut.
“ Bagaimana tingkat analisa kelainan refraksi pada anak Sekolah Dasar “
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini untuk mencari hasil analisa kejadian kelainan refraksi pada siswa sekolah dasar.
2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui berapa besar angka kejadian kelainan refraksi pada siswa sekolah dasar berdasarkan jenis kelamin.
b. Untuk mengetahui berapa jumlah angka kejadian kelaian refraksi pada siswa sekolah dasar berdasarkan jenis kelainan refraksi.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoristis
Manfaat dari penelitian ini adalah unntuk memperluas ilmu pengetahuan dan bahan refrensi studi kepustakaan khususnya Ilmu Refraksi Optisi dan memberikan data ilmiah tentang gambaran angka dan penyebab kelainan refraksi pada siswa sekolah dasar.
2. Manfaat Praktis
a. Manfaat Untuk Peneliti
Hasil dari penelitian ini dapat menambah wawasan dan penglaman khususnya kepada penulis mengenai analisa kelainan refraksi baik kelainan akibat turunan maupun pola hidup yang di lakukan oleh siswa sekolah dasar.
b. Manfaat Bagi Institusi STIkes Dharma Husada Bandung
Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan manfaat bagi dunia keilmuan dan kesehatan, khususnya untuk refraksi Optisi dan umumnya untuk refrensi penelitian lanjutan dan kepustakaan.
E. Ruang Lingkup Penelitian
1. Ruang Lingkup Masalah
Masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah untuk mengetauhi tentang Analisa kelainan refraksi pada siswa Sekolah Dasar.
2. Ruang Lingkup Metode
Jenis metode dalam Penilitian ini berupa studi literatur dan analisa jurnal dengan pendekatan Studi Literatur dengan menggunakan data sekunder dengan pencarian jurnal.
3. Ruang Lingkup Keilmuan
Penelitian ini merupakan bidang keilmuan refraksi optisi khususnya Ilmu Refraksi Klinik, Ergonomi Penglihatan.
4. Ruang Lingkup Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan dimulai dengan penyusunan, pelaksanaan, dan pelaporan penelitian ini terhitung mulai bulan Februari higga Agustus 2020.