LK 1. 2 Eksplorasi Penyebab Masalah
Nama Mahasiswa : YUSUP BAEAHAKI, S.Pd.
Asal Institusi : SMP NEGERI 5 PAGELARAN
Petunjuk: Pada langkah ini, Anda akan melakukan eksplorasi penyebab-penyebab masalah yang telah diidentifikasi sebelumnya. Gunakan petunjuk berikut untuk membantu Anda dalam eksplorasi penyebab masalah:
1. Kajian Literatur
• Lakukan pencarian literatur terkait masalah yang diidentifikasi.
• Baca artikel, jurnal, buku, atau sumber informasi lain yang relevan dengan topik masalah.
• Identifikasi faktor-faktor yang dikaitkan dengan masalah tersebut berdasarkan temuan dalam literatur.
2. Wawancara dengan Guru/Kepala Sekolah/Pengawas Sekolah/Rekan Sejawat di Sekolah:
• Ajukan pertanyaan kepada guru, kepala sekolah, pengawas sekolah, atau rekan sejawat yang memiliki pengalaman terkait masalah yang diidentifikasi.
• Tanyakan pengalaman, pandangan, dan pemikiran mereka mengenai penyebab masalah tersebut.
• Catat informasi yang diperoleh dari wawancara sebagai referensi untuk menganalisis penyebab masalah.
3. Wawancara dengan Pakar dan Pihak Terkait Lainnya:
• Carilah pakar atau pihak terkait lainnya yang memiliki keahlian atau pengalaman dalam masalah yang diidentifikasi.
• Lakukan wawancara dengan pakar tersebut untuk mendapatkan wawasan dan pemahaman lebih mendalam tentang penyebab masalah.
• Tanyakan saran atau rekomendasi mereka mengenai langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengatasi masalah tersebut.
• Mintalah masukan, arahan, dan saran dari mereka untuk membantu Anda menganalisis penyebab masalah secara lebih mendalam.
Setelah Anda mengumpulkan informasi dari langkah-langkah di atas, Anda dapat menggunakan data yang terkumpul sebagai dasar untuk menganalisis dan mengidentifikasi penyebab masalah yang lebih spesifik. Selanjutnya, langkah selanjutnya adalah merencanakan strategi dan tindakan yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut.
Nama Mahasiswa : YUSUP BAEAHAKI, S.Pd.
Asal Institusi : SMP NEGERI 5 PAGELARAN
Tabel Hasil Eksplorasi Penyebab Masalah
No Masalah yang telah diidentifikasi
Hasil eksplorasi penyebab masalah Analisis eksplorasi penyebab masalah
1 Motivasi dan minat siswa dalam belajar masih rendah
Menurut Rike Sari (2021) Rendahnya motivasi belajar siswa karena:
1. Rendahnya disiplin belajar,
2. Sikap belajar siswa yang tidak terlibat aktif dalam pembelajaran di kelas, 3. Tingkat aktivitas siswa yang kurang, dan
4. Tingkat kepuasan belajar yang rendah.
Menurut Sudaryono (2012) Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar adalah:
1. Cita-cita atau aspirasi siswa, 2. Kondisi jasmani dan rohani siswa, 3. Kondisi lingkungan siswa,
4. Unsur-unsur dinamis belajar, dan 5. Upaya guru membelajarkan siswa.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Hendri Priandi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMPN 5 Pagelaran)
Penyebab motivasi belajar rendah : 1. Guru kurang variatif saat mengajar 2. Kurang perhatian dari orang tua 3. Siswa belum mempunyai cita-cita
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Nepi Megawati, S.Pd. (Teman Guru)
Setelah dilakukan analisis terhadap kajian literatur dan wawancara, penyebab rendahnya motivasi belajar siswa adalah sebagai berikut:
1. Peserta didik kurang dukungan dari orang tua, guru ataupun lingkungan sekitar
2. Penggunaan media pembelajaran masih Kurang
3. Pembelajaran didominasi metode ceramah
4. Guru tidak siap merancang pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
5. Suasana pembelajaran dikelas tidak terkondisikan dengan baik sehingga peserta didik yang malas bergantung kepada peserta didik yang lain 6. Tingkat kesulitan materi yang
diajarkan
7. Konsep dasar pembelajaran belum dikuasai oleh Peserta didik
Penyebab Motivasi belajar rendah :
1. Karena anak berasal dari keluarga broken home dan dirumah tidak ada yang mendampingi belajar.
2. Selain itu anak merasa tidak pintar atau kurang percaya diri.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ajat Sudrajat, S.Pd. (Teman sejawat) Peserta didik masih memiliki motivasi belajar rendah disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya :
1. Materi yang dipelajari susah,
2. Siswa tidak menyukai cara pengajaran guru, 3. Siswa tidak menyukai mata pelajaran tertentu,
4. Kondisi lingkungan keluarga yang kurang mendukung.
2 Minat baca peserta didik kurang
Menurut Prasetyono (2008) menyatakan bahwa rendahnya minat membaca pada anak disebabkan oleh beberapa hal, seperti:
1. Judul dan isi buku yang kurang menarik,
2. Harga buku mahal, sehingga bagi mereka yang berpenghasilan pas-pasan tidak mampu membeli buku untuk memenuhi kebutuhan membaca.
Menurut Wahyuni (2010) Yang mengatakan bahwa penyebab rendahnya minat baca adalalah:
1. Faktor-Faktor Penyebab lingkungan keluarga dan sekitar yang kurang mendukung kebiasaan membaca.
2. Kesibukan orang tua dalam berbagai kegiatan berdampak pada minimnya waktu luang bahkan hampir tidak ada waktu untuk melakukan kegiatan membaca.
3. Anak yang setiap harinya jarang melihat keluarganya melakukan kegiatan membaca secara umum juga kurang memiliki kegemaran membaca.
Berdasarkan hasil kajian literatur dan wawancara, penyebab rendahnya minat baca siswa yaitu:
1. Kurang menariknya judul dan isi buku bacaan.
2. Guru belum menanamkan budaya membaca kepada siswa.
3. Sekolah tidak memiliki tempat khusus untuk membaca selain perpustakaan.
4. Program literasi belum berjalan maksimal.
5. Tidak tersedianya pojok baca di kelas.
6. Siswa kurang menyadari pentingnya membaca.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Hendri Priandi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMPN 5 Pagelaran)
1. Siswa tidak terbiasa/ tidak suka membaca 2. Buku bacaan tidak sesuai minat
3. Koleksi buku tidak sesuai dengan kebutuhan siswa
4. Belum adanya inovasi yang cocok untuk kegiatan literasi dalam pembelajaran Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Nepi Megawati, S.Pd. (Teman Guru) 1. Siswa mudah bosan saat melihat teks
2. Bahasa bacaan terlalu tinggi bagi siswa
3. Pengaruh gawai yang merusak kegiatan literasi
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ajat Sudrajat, S.Pd. (Teman sejawat) 1. Kurangnya minat baca siswa dikarenakan ketidak terbiasaan mereka dalam membaca.
2. Kemampuan guru dalam mengolah kelas harus ditingkatkan.
3. Guru harus memahami latar belakang siswa karena bisa jadi minat siswa baca kurang penyebabnya adalah guru tidak memahami bacaan apa yang mereka inginkan.
7. Pengaruh teknologi yang semakin canggih
3 Hubungan
komunikasi antar guru dan orang tua peserta didik terkait pembelajaran masih kurang
Menurut Nazarudin (2018) menyatakan penyebab kesulitan orang tua dan guru dalam menjalin kerja sama yaitu:
1. Guru kurang memberikan respon atas bantuan orang tua
2. Guru lebih banyak mengkritik karena mereka merasa lebih ahli dibandingkan orang tua.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Hendri Priandi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMPN 5 Pagelaran)
Penyebab Kurangnya hubungan komunikasi guru dan wali murid karena : 1. Orang tua sepenuhnya mempercayakan pendidikan anak kepada guru 2. Kurang hidupnya group WA kelas.
Berdasarkan hasil kajian literatur dan wawancara, penyebab belum
optimalnya kerja sama guru dan orang tua siswa yaitu:
1. Orang tua siswa terlalu sibuk bekerja 2. Persepektif orang tua yang tidak
tepat terkait pembelajaran anaknya 3. Orang tua melepas tanggung jawab
dalam hal mendidik.
4. Respon atau tanggapan dari orang tua siswa lambat, sehingga
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Nepi Megawati, S.Pd. (Teman Guru) Penyebab kurangnya hubungan komunikasi guru dan orang tua murid :
1. Karena kebanyakan orang tua bekerja di luar kota.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ajat Sudrajat, S.Pd. (Teman sejawat) 1. Perbedaan pola pikir yang dianut orang tua dengan guru,
2. Siswa tinggal bersama nenek/kakek dan
3. Tidak semua orang tua memiliki HP yang memudahkan guru untuk berkomunikasi.
menghambat komunikasi guru dengan orang tua
4 Penggunaan model pembelajaran inovatif yang masih belum maksimal
Menurut Tibahary dan Maulana (2018) Pembelajaran kurang Inovatif : 1. Model pembelajaran berpusat pada siswa
Menurut Zahroh, dkk. (2020) menyatakan kurang optimalnya penerapan model pembelajaran inovatif karena
1. Guru hanya menggunakan model pembelajaran tanpa memikirkan tipe model yang digunakan.
2. Guru hanya sekedar membagi kelompok tanpa meminta siswa memberikan pendapat terkait materi pelajaran.
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Hendri Priandi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMPN 5 Pagelaran)
1. Siswa kurang semangat dan aktif dalam proses belajar akan semakin meningkat 2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih Panjang dibandingkan dengan metode
pembelajaran yang lain 3. Kurangnya keaktifan guru
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Nepi Megawati, S.Pd. (Teman Guru)
Penyebab penggunaan model pembelajaran inovatif yakni pengetahuan guru masih kurang, guru malas untuk merubah diriny dan enggan keluar dari zona nyaman
Setelah dilakukan analisis terhadap penggunaan model pembelajaran inovatif yang belum maksimal melalui berbagai sumber literatur dan
wawancara, maka dapat ditentukan penyebab kurang optimalnya penerapan model pembelajaran inovatif yaitu:
1. Guru cenderung dadakan saat
memberikan pembelajaran tanpa ada persiapan apapun sehingga
pembelajaran tidak efektif 2. Guru kurang memahami model
pembelajaran.
3. Guru kurang mampu pengelolaan dan pengawasan kelas.
4. Guru kesulitan mengalokasikan waktu.
5. Kurangnya pelatihan guru terkait model pembelajaran inovatif.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ajat Sudrajat, S.Pd. (Teman sejawat) 1. Guru belum mengikuti pelatihan penerapan model pembelajaran inovatif.
2. Kurangnya pengetahuan guru terkait model pembelajaran inovatif
6. Guru hanya sekedar menerapkan model pembelajaran tanpa
memfokuskan pada interaksi siswa.
7. Kurangnya keinginan guru untuk mengeksplorasi model model pembelajaran inovatif.
5 Pembelajaran di kelas masih belum berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skill)
Menurut Syah (2006) Kesulitan guru dalam menyusun perangkat pembelajaran ditandai dengan masih banyaknya guru yang mengalami kesulitan dalam menyusun RPP yang didalamnya menyangkut pengembangan bahan ajar, dan menyusun rubrik penilaian.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan guru antara lain : Faktor internal
1. Rendahnya kapasitas intelektual 2. Labilnya emosi.
3. Perilaku serta terganggunya alat-alat indera serta organ gerak.
Faktor Eksternal
1. Lingkungan sekolah dan 2. Masyarakat.
View of Analisis Kesulitan Guru Dalam Mengembangkan RPP Berbasis HOTS di Kelas Rendah (unram.ac.id)
Menurut Mufit (2020) Rendahnya kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa SMK berada di level rendah) yakni dikarenakan berbagai faktor seperti:
1. Siswa kurang siap dalam menghadapi proses pembelajaran ; 2. Budaya literasi siswa;
3. Faktor lingkungan;
4. Proses pembelajaran; dan
5. Kurikulum melakukan pembatasan dimensi proses kognitif siswa.
Setelah dilakukan analisis masalah terhadap tingkat kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik yang rendah dalam hal materi HOTS melalui sumber literature dan hasil wawancara maka dapat ditentukan penyebab masalah yang sesuai dengan kondisi satuan pendidikan adalah sebagai berikut :
1. Guru kurang termotivasi dalam membuat soal-soal HOTS
2. Guru kurang berdiskusi dengan guru yang lain tentang pembelajaran berbasis HOTS
https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal-pendidikan-teknik- elektro/article/view/34992
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Hendri Priandi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMPN 5 Pagelaran)
Tingkat kemampuan peserta didik yang rendah dalam hal materi HOTS yaitu peserta didik tidak terbiasa dan guru tidak sering memberikan Latihan soal HOTS.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Nepi Megawati, S.Pd. (Teman Guru) 1. Faktor genetik dari kedua orang tua
2. Karena guru belum melakukan pembelajaran Hots dan melibatkan peserta didik dalam pembelajaranya rendahnya literasi dari peserta didik
6 Guru masih belum mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi (TIK) dalam
pembelajaran
Menurut Tanti Nurhayati (2016) Problematika yang dihadapi guru dalam menguasai TIK pada pembelajaran:
1. Kemampuan dasar guru dalam bidang TIK yang memang masih rendah.
2. Ketersediaan fasilitas TIK yang masih belum memadahi.
3. Sekolah tidak mengharuskan guru menggunakan TIK dalam proses pembelajaran.
Sehingga guru kurang terangsang untuk lebih mengembangkan diri.
4. Keterbatasan waktu yang digunakan untuk mempersiapkan media TIK di dalam pembelajaran.
5. Anggapan guru yang menganggap bahwa materi yang ada dibuku sudah cukup untuk mengajarkan siswa dengan baik sehingga tidak diperlukan media TIK.
6. Kenyamanan guru dalam menggunakan metode belajar konvensional, yang dianggap lebih mudah dan tidak menyulitkan.
7. Tidak adanya kegiatan pelatihan-pelatihan bagi guru untuk meningkatkan kemampuan guru dalam bidang TIK
(http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/6024/1/093911069.pdf
Setelah dilakukan analisis terhadap kajian literatur dan
wawancara, penyebab Guru masih belum mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi (TIK) dalam pembelajaran adalah :
1. Kemampuan dasar guru dalam bidang TIK yang memang masih rendah.
2. Ketersediaan fasilitas TIK yang masih belum memadai.
3. Sekolah tidak mengharuskan guru menggunakan TIK dalam proses pembelajaran. Sehingga guru kurang terangsang untuk lebih
mengembangkan diri.
Menurut Kukuh Andri Aka (2017) Pada pemanfaatannya,
1. Fasilias komputer/laptop/jaringan internet ini seringkali tidak termaksimalkan,
2. Masih banyak guru yang belum memanfaatkan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.
3. Guru masih cenderung menggunakan cara-cara tradisional dalam pembelajaran, atau yang sering disebut dengan pembelajaran berpusat pada guru.
4. Guru aktif sementara peserta didik menjadi pendengar pasif di dalam kelas.
http://download.garuda.kemdikbud.go.id/article.php?article=1228808&val=11388&title=
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Hendri Priandi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMPN 5 Pagelaran)
1. Guru masih belum mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi (TIK) dalam pembelajaran
2. Guru Kurang menguasai IT,
3. Guru kurang paham media apa saja yang perlu disiapkan, 4. Jaringan internet atau wifi yang belum memadai.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Nepi Megawati, S.Pd. (Teman Guru) 1. Guru mengaggap terbatas waktu dan kerepotan,
2. Guru harus menyiapkan perangkatnya sendiri dari bawa leptop, oloran, lcd, speker dan buku materi
Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Ajat Sudrajat, S.Pd. (Teman sejawat) 1. Guru masih belum mengoptimalkan pemanfaatan teknologi informasi (TIK) 2. Terkadang terkendala waktu dan jaringan
4. Keterbatasan waktu yang digunakan untuk mempersiapkan media TIK di dalam pembelajaran.
5. Anggapan guru yang menganggap bahwa materi yang ada dibuku sudah cukup untuk mengajarkan siswa dengan baik sehingga tidak diperlukan media TIK.
6. Kenyamanan guru dalam menggunakan metode belajar konvensiona, yang dianggap lebih mudah dan tidak menyulitkan.
7. Tidak adanya kegiatan pelatihan- pelatihan bagi guru untuk
meningkatkan kemampua guru dalam bidang TIK
7 Guru belum
menerapkan asesmen sesuai dengan tujuan pembelajaran
Menurut Syamsul Bahri (2011) menjelaskan bahwa:
1. Guru tidak membuat rencana pembelajaran,
2. Kurangnya kepedulian dalam menganalisis hasil evaluasi, dan
3. Terbatasnya informasi yang diperoleh terkait pengayaan ilmu yang dimiliki, sarana dan prasarana yang kurang mendukung dalam melaksanakan pembelajaran.
Setelah dilakukan analisis terhadap kajian literatur dan wawancara, penyebab Guru belum menerapkan asesmen sesuai denagn tujuan pembelajaran adalah :
Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Hendri Priandi, S.Pd., M.Pd. (Kepala Sekolah SMPN 5 Pagelaran)
Kendala yang dihadapi oleh sekolah dalam pelaksanaan Asesmen Nasional, yaitu 1. Ketersediaan perangkat TIK,
2. Kesulitan dalam melakukan penggantian peserta, serta 3. Anggaran untuk mendukung Asesmen Nasional.
1. Guru belum meiliki kecakapan atau keterampilan menyusun perangkat persiapan untuk pembelajaran 2. Guru enggan untuk membuat
rencana perangkat pembelajaran 3. Guru Merasa kerepotan dalam
memberikan penilaian