i
LAPORAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI - NILAI DASAR, KEDUDUKAN DAN PERAN PNS UNTUK MENDUKUNG SMART
GOVERNANCE
PEMANFAATAN AGENSIA PENGENDALI HAYATI (APH) BEAUVERIA BASSIANA DAN PAENIBACILLUS POLYMYXA DI KELOMPOK TANI MAJU LANCAR DESA REDIN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN PURWOREJO
Disusun oleh :
NAMA : Felix Putra Daksa Andika, S.P.
NIP : 199210202020121004
NOMOR DAFTAR HADIR : 31
JABATAN : Ahli Pertama – Penyuluh Pertanian
COACH : Arif Efendy, S.H., M.M.
MENTOR : Ir. Eko Anang S.W., MMA.
PELATIHAN DASAR CPNS GOLONGAN III ANGKATAN XXXIII BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DAERAH
PROVINSI JAWA TENGAH
TAHUN 2022
ii
ABSTRAK
PEMANFAATAN AGENSIA PENGENDALI HAYATI (APH) BEAUVERIA BASSIANA DAN PAENIBACILLUS POLYMYXA DI KELOMPOK TANI MAJU LANCAR DESA REDIN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN PURWOREJO
Oleh: Felix Putra Daksa Andika, S.P.
Kegiatan aktualisasi dan habituasi merupakan bagian dari pembelajaran pada Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan XXXIII Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2022. Pelaksanaan aktualisasi dan habituasi dalam agenda Pelatihan Dasar CPNS bertujuan agar dapat untuk mengiplementasikan Nilai dasar PNS yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif (BerAKHLAK) serta kedudukan dan peran PNS untuk mendukung Smart Governance. Pelaksanaan aktualisasi dan habituasi yang penulis lakukan bertujuan untuk mengatasi belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang.
Kegiatan aktualisasi dan habituasi terdiri dari 5 kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 13 April – 28 Mei 2022. Kegiatan pertama: Membuat alat perbanyakan (inokulasi) APH dengan media cair. Kegiatan kedua: Mendatangkan isolat. Kegiatan ketiga: Melaksanakan penyuluhan di Kelompok Tani Maju Lancar secara in class dengan materi: Pemanfaatan APH untuk budidaya tanaman padi; kegiatan keempat:
melakukan pendampingan praktek aplikasi APH di lapangan dan kegiatan kelima:
mengevaluasi hasil penyuluhan dan dampak penyuluhan pertanian.
Capaian kegiatan aktualisasi dan habituasi yang dilaksanakan sebesar 100%
karena semua kegiatan telah terlaksana dan diperoleh hasil/output akhir sesuai harapan yaitu adanya pemanfaatan APH di Kelompok Tani Maju Lancar Desa Redin.
Kata kunci: Aktualisasi dan Habituasi, Smart Governance, BerAKHLAK
iii
HALAMAN PERSETUJUAN
LAPORAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI - NILAI DASAR, KEDUDUKAN DAN PERAN PNS UNTUK MENDUKUNG SMART
GOVERNANCE
PEMANFAATAN AGENSIA PENGENDALI HAYATI (APH) BEAUVERIA BASSIANA DAN PAENIBACILLUS POLYMYXA DI KELOMPOK TANI MAJU LANCAR DESA REDIN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN PURWOREJO
NAMA : Felix Putra Daksa Andika, S.P.
NIP : 199210202020121004
NOMOR DAFTAR HADIR : 31
Dinyatakan disetujui untuk diseminarkan pada : Hari : Sabtu
Tanggal : 4 Juni 2022
Tempat : BPSDMD Provinsi Jawa Tengah
Semarang, 3 Juni 2022 Menyetujui,
Coach Mentor
Kepala Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian
Arif Efendy, S.H., M.M. Ir .Eko Anang S.W., MMA
Widyaiswara Ahli Muda Pembina
NIP. 19691102 199003 1 003 NIP. 19650428 199303 1 009
iv
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN AKTUALISASI DAN HABITUASI NILAI - NILAI DASAR, KEDUDUKAN DAN PERAN PNS UNTUK MENDUKUNG SMART
GOVERNANCE
PEMANFAATAN AGENSIA PENGENDALI HAYATI (APH) BEAUVERIA BASSIANA DAN PAENIBACILLUS POLYMYXA DI KELOMPOK TANI MAJU LANCAR DESA REDIN KECAMATAN GEBANG KABUPATEN PURWOREJO
NAMA : Felix Putra Daksa Andika, S.P.
NIP : 199210202020121004
NOMOR DAFTAR HADIR : 31
Dinyatakan telah diseminarkan pada:
Hari : Sabtu
Tanggal : 4 Juni 2022
Tempat : BPSDMD Provinsi Jawa Tengah
Semarang, 4 Juni 2022 Mengesahkan,
Coach Mentor,
Kepala Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian
Arif Efendy, S.H., M.M. Ir .Eko Anang S.W., MMA
Widyaiswara Ahli Muda Pembina
NIP. 19691102 199003 1 003 NIP. 19650428 199303 1 009
Penguji,
Ir. Wardi Astuti, M.Pd.
Widyaiswara Ahli Utama NIP. 19660818 199203 2 015
v PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat, rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan “Laporan Aktualisasi dan Habituasi Nilai – Nilai Dasar, Kedudukan dan Peran PNS untuk Mendukung Smart Governance dengan judul: Pemanfaatan Agensia Pengendali Hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa di Kelompok Tani Maju Lancar Desa Redin Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo dengan baik.
Penyusunan laporan aktualisasi dan habituasi ini merupakan bagian dari pembelajaran pada Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan XXXIII Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah Provinsi Jawa Tengah Tahun 2022.
yang penulis ikuti. Penerapan nilai- nilai dasar Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif (BerAKHLAK) kedudukan dan peran PNS dalam aktualisasi dan habituasi yang akan penulis lakukan bertujuan untuk memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan diri dan institusi tempat penulis bekerja serta bagi masyarakat.
Laporan aktualisasi dan habituasi ini dapat terwujud berkat dukungan, saran, bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak. Penulis dengan rendah hati turut mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak R. H. Agus Bastian, S.E., M.M. selaku Bupati Purworejo
2. Bapak Drs. Mohamad Arief Irwanto, M.Si selaku Kepala BPSDMD Provinsi Jawa Tengah beserta jajarannya yang telah memfasilitasi penyelenggaraan Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan XXXIII.
3. Bapak Fithri Edhi Nugroho, S.E., M.M selaku Kepala BKPSDM Kabupaten Purworejo beserta jajarannya yang telah memfasilitasi penyelenggaraan Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan XXXIII.
4. Bapak Wasit Diono, S.Sos. selaku Plt. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo beserta jajaran.
5. Ibu Ir. Wardi Astuti, M.Pd selaku narasumber dalam kegiatan Seminar Laporan Aktualisasi dan Habituasi.
6. Bapak Arif Efendy, S.H., M.M selaku coach penulis dalam kegiatan Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan XXXIII.
vi
7. Bapak Ir. Eko Anang S.W., MMA selaku mentor penulis dalam kegiatan Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan XXXIII.
8. Bapak Totok Fitrianto, S.P. selaku koordinator penyuluh dan rekan – rekan penyuluh pertanian Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gebang 9. Seluruh Widyaiswara dalam pembelajaran Agenda I – IV Pelatihan Dasar
CPNS Golongan III Angkatan XXXIII.
10. Keluarga besar peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III Angkatan XXXIII.
11. Orang tua, keluarga dan semua pihak yang telah mendoakan dan memberikan dukungan dalam penyelesaian laporan.
Penulis sadar bahwa laporan aktualisasi ini masih memiliki banyak kekurangan. Penulis berharap adanya masukan dan kritik yang membangun dari berbagai pihak guna membuat laporan ini menjadi lebih baik sehingga laporan aktualisasi ini dapat dijadikan dasar dalam pelaksanaan dan pelaporan aktualisasi dan habituasi nilai- nilai dasar ASN, serta memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.
Semarang, 4 Juni 2022
Penulis
vii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ………. i
ABSTRAK ………. ii
HALAMAN PERSETUJUAN ………. iii
HALAMAN PENGESAHAN ………. iv
PRAKATA ………. v
DAFTAR ISI ………. vii
DAFTAR TABEL ………. vii
DAFTAR GAMBAR ………. viii
BAB I PROFIL ORGANISASI DAN TUGAS PESERTA ………. 1
A. Gambaran Umum Organisasi ………. 1
1. Dasar Hukum Organisasi ………. 1
2. Tugas Fungsi Organisasi ………. 1
3. Susunan/ Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dasar …………. 2
4. Visi – Misi Kepala Daerah ………. 5
5. Tujuan Organisasi ………. 5
6. Nilai – Nilai Budaya Organisasi ………. 6
B. Tupoksi Jabatan Peserta ……….. 7
C. Role Model ……….. 8
BAB II RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI ……….. 10
A. Identifikasi Isu dan Deskripsi Isu ………... 10
B. Analisis Isu ……… 13
C. Analisis Penyebab Isu ……… 17
D. Dampak Apabila Isu Tidak Diselesaikan ……… 20
E. Gagasan Pemecahan Isu ……… 20
F. Rancangan Aktualisasi dan Habituasi ………. 22
G. Jadwal Rancangan Aktualisasi ……….. 35
BAB III PELAKSANAAN AKTUALISASI DAN HABITUASI ……….. 40
A. Perubahan Kegiatan dari Rancangan Awal ……….. 40
B. Pelaksanaan Aktualisasi dan Habituasi ………... 41
viii
C. Kondisi Sebelum dan Sesudah ……….. 60
BAB IV. SIMPULAN ………... 63
DAFTAR PUSTAKA ……….….. 65
CURRICULUM VITAE ………. 67
RENCANA AKSI TINDAK LANJUT AKTUALISASI DAN HABITUASI …… 68
LAMPIRAN ……….. 70
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Tabel identifikasi Isu ………. 12
Tabel 2. Tabel Analisis Isu APKL ………. 16
Tabel 3. Tabel Analisis Isu USG ………. 18
Tabel 4. Matriks rancangan aktualisasi dan habituasi ………. 25
Tabel 5. Jadwal Rancangan Aktualisasi dan Habituasi ………. 37
Tabel 6. Perubahan Kegiatan Aktualisasi ………... 40
Tabel 7. Kondisi Sebelum dan Sesudah ………. 60
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Bagan struktur organisasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Kabupaten Purworejo ………. 4
Gambar 2. Role Model 1 Totok Fitrianto, S.P. ………. 8
Gambar 3. Diagram fishbone analisis penyebab isu ……….. 21
Gambar 4. Alat dan bahan sudah tersedia dengan lengkap ……….. 42
Gambar 5. Proses merangkai alat dan alat perbanyakan APH yang sudah jadi ……….43
Gambar 6. Praktek cara kerja dan mengoerasikan alat perbanyakan APH …….. 43
Gambar 7. Isolat yang sudah didapatkan ……….…. 46
Gambar 8. Penyimpanan isolate di dalam lemari pendingin ………...47
Gambar 9. Praktek penggunaan isolate dengan petani ………...47
Gambar 10. Tampilan halaman depan PPT yang digunakan untuk Penyuluhan ………. 50
Gambar 11. Koordinasi dengan ketua KT Maju Lancar ………. 50
Gambar 12. Screenshot koordinasi dengan POPT ………. 51
Gambar 13. Proses saat melaksanakan kegiatan penyuluhan dengan POPT ………. 52
Gambar 14. Kondisi APH awal dan akhir monitoring ………. 52
Gambar 15. Pendampingan Aplikasi APH ………...55
Gambar 16. Pengamatan di lapangan dan gambar walang sangit yang terpatogen APH Beauveria bassiana ………...58
Gambar 17. Wawancara dengan petani ………...59
1 BAB I
PROFIL ORGANISASI DAN TUGAS PESERTA
A. Gambaran Umum Organisasi 1. Dasar Hukum Organisasi
Landasan hukum penyelenggaraan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo adalah:
Peraturan Daerah Kabupaten Purworejo Nomor 4 Tahun 2021 tanggal 31 Mei 2021 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah Kabupaten Purworejo, dan
Peraturan Bupati Purworejo Nomor 88 Tahun 2021 tanggal 24 September 2021 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi, Serta Tata Kerja Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo.
2. Tugas Fungsi Organisasi
Berdasarkan Perbup Purworejo Nomor 88 Tahun 2021 tanggal 24 September 2021 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi, Serta Tata Kerja Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kabupaten Purworejo Pasal 3 menyatakan bahwa Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Purworejo mempunyai tugas membantu Bupati dalam melaksanakan urusan pemerintahan bidang pangan dan pertanian sesuai dengan kewenangan daerah. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas, DKPP menyelenggarakan fungsi:
Perumusan kebijakan teknis bidang pangan, sarana dan perlindungan pertanian, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, serta prasarana dan penyuluhan pertanian;
Pelaksanaan kebijakan teknis bidang pangan, sarana dan perlindungan pertanian, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, serta prasarana dan penyuluhan pertanian;
Pelaksanaan evaluasi dan pelaporan bidang pangan, sarana dan perlindungan pertanian, kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner, serta prasarana dan penyuluhan pertanian;
2
Pelaksanaan, pembinaan administrasi dan kesekretariatan kepada seluruh unit organisasi di lingkungan DKPP; dan
Pelaksanaan fungsi lain yarg diberikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsi.
3. Susunan/ Struktur Organisasi dan Tata Kerja Dasar
Berdasarkan Perbup Purworejo Nomor 88 Tahun 2021 tanggal 24 September 2021 tentang Kedudukan, Susunan Organisasi, Tugas Dan Fungsi, Serta Tata Kerja Dinas Ketahanan Pangan Dan Pertanian Kabupaten Purworejo, struktur organisasi dan tata kerja dasar Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo adalah sebagai berikut:
a. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo terdiri atas:
Kepala DKPP;
Sekretariat;
Bidang Pangan;
Bidang Sarana dan Perlindungan Pertanian;
Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner;
Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian
UPT; dan
Jabatan Fungsional
Selanjutnya, bagan organisasi DKPP sebagaimana dimaksud di atas terdapat pada bagan di Gambar 1.
b. Tata Kerja Dasar Organisasi a. Kepala DKPP
Mempunyai tugas memimpin pelaksanaan tugas dan fungsi DKPP b. Sekretariat
Sekretariat mempunyai tugas melaksanakan koordinasi dalam menyiapkan perumusan kebijakan teknis dan menyelenggarakan
3
tugas bidang, serta memberikan dukungan administrasi pada seluruh unit organisasi di lingkungan DKPP.
c. Bidang Pangan
Bidang pangan mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakar teknis, melaksanakan koordinasi, membina dan mengendalikan pelaksanaan tugas bidang kemandirian pangan, diversifikasi dan ketahanan pangan, serta kerawanan dan keamanan pangan.
d. Bidang Sarana dan Perlindungan Pertanian
Bidang sarana dan perlindungan tanaman mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijalan teknis, melaksanakan koordinasi, membina dan mengendalikan pelaksanaan tugas bidang pengawasan penggunaan sarana pertanian, pengelolaan Sumber Daya Genetik (SDG) pertanian serta pengendalian dan penanggulangan bencana pertanian.
e. Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner mempunyai tugas menyiapkan bahan perumusan kebijakan teknis, melaksanakan koordinasi, membina dan mengendalikan pelaksanaan tugas bidang kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner.
f. Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian
Bidang Prasarana dan Penyuluhan Pertanian mempunyai tugas menyiapkan bahar perumusan kebijakan teknis, melaksanakan koordinasi, membina dan mengendalikan pelaksanaan tugas bidang pengembangan prasarana pertanian, penyuluhan dan perizinan usaha pertanian.
g. UPT
UPT dibentuk untuk melaksanakan tugas teknis dan/atau tugas teknis penunjang tertentu di lingkungan Dinas.
h. Jabatan Fungsional
Jabatan Fungsional mempunyai tugas dan fungsi sesuai dengan Jabatan Fungsional masing-masing berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.
4
Gambar 1. Bagan struktur organisasi Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo (Sumber: Perbup Purworejo Nomor 88 Tahun 2021)
5 4. Visi – Misi Kepala Daerah
Visi dan Misi Kepala Daerah Kabupaten Purworejo Tertuang pada Perda Kabupaten Purworejo Nomor 11 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 2021 – 2026 dengan uraian sebagai berikut:
a. Visi Bupati Purworejo
Visi : “Purworejo Berdaya Saing 2025”
b. Misi Bupati Purworejo Misi:
Misi 1: Meningkatkan daya saing Sumberdaya Manusia yang Unggul dalam arti luas mengedepakan kompetensi keahlian dan keilmuan yang berbasis pada religiusitas masyarakat.
Misi 2: Meningkatkan daya saing sektor pertanian dalam arti luas yang sinergi dengan pengembangan UMKM, perdagangan dan industri.
Misi 3: Meningkatkan daya saing pertumbuhan ekonomi daerah berbasis UMKM, perdagangan, industri serta potensi pariwisata dan seni budaya.
Misi 4: Meningkatkan daya saing kualitas pelayanan publik dan penyelenggaraan pemerintahan yang baik (good governance).
Misi 5: Meningkatkan daya saing sarana prasarana dan infrastruktur yang didukung kemajuan teknologi informasi
5. Tujuan Organisasi
Tujuan organisasi tertuang pada Perda Kabupaten Purworejo Nomor 11 Tahun 2021 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Purworejo Tahun 2021 – 2026 dan juga pada Rencana Strategis (Renstra) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian tahun 2021 - 2026.
Berdasarkan dokumen tersebut misi kedua (Misi 2) dalam pembangunan jangka menengah Kabupaten Purworejo periode 2021-2026 adalah
6
meningkatkan daya saing sektor pertanian dalam arti luas yang sinergi dengan pengembangan UMKM, perdagangan, dan industri, dengan tujuan peningkatan pertumbuhan PDRB Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Guna mencapai tujuan tersebut, maka strategi yang akan dilaksanakan sesuai dengan kewenangan Pemerintah Kabupaten Purworejo yaitu: Meningkatkan nilai tambah pertanian, kehutanan dan Perikanan.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Purworejo menetapkan tujuan dan sasaran jangka menengah dalam rangka pencapaian visi dan misi selama tahun 2021 – 2026 sebagai berikut:
1. Tujuan Pemantapan Ketahanan pangan dengan sasaran meningkatnya ketahanan pangan.
2. Tujuan peningkatan kesejahteraan petani dengan sasaran meningkatnya produkivitas pertanian dan meningkatnya populasi ternak ruminansia.
3. Tujuan peningkatan kualitas pelayanan publik dengan sasaran meningkatnya kualitas pelayanan publik.
6. Nilai – Nilai Budaya Organisasi
Berdasarkan Peraturan Bupati Purworejo Nomor 36 Tahun 2014 tentang Budaya Kerja di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Purworejo menyatakan tentang nilai – nilai budaya kerja yaitu: BERIMAN- PROFESIONAL (Bersih, Ikhlas, Melayani, Akuntabel dan Profesional) yang mengandung maksud sebagai berikut:
Bersih mengandung arti bersih dalam berpikir, bertindak, dan bekerja, mentaati peraturan perundang yang berlaku;
Ikhlas yaitu dalam norma etika dan agama dapat diartikan rela sepenuh hati, datang dari lubuk hati, tidak mengharapkan imbalan atau balas jasa atas suatu perbuatan, khususnya yang berdampak positif pada orang lain, dan semata-mata karena menjalankan tugas/amanah demi Yang Maha Kuasa;
Melayani yaitu memberikan pelayanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat, akurat, berdaya guna dan berhasil guna yang memenuhi kepuasan pemangku kepentingan;
7
Akuntabel yaitu dalam melaksanakan tugas dapat mempertanggungjawabkan baik segi proses maupun hasil;
Profesional yaitu dalam melaksanakan tugas selalu menyelesaikan secara baik, tuntas, dan sesuai kompetensi/keahlian, orang yang terampil, andal dan sangat bertanggungjawab dalam menjalankan profesinya.
B. Tupoksi Jabatan Peserta
Berdasarkan SK Bupati Purworejo Nomor 813/8739 tanggal 21 Desember 2020 tentang Pengangkatan Calon Pegawai Negeri Sipil di Lingkungan Pemerintah Kabupaten Purworejo Formasi Tahun 2019 dan Surat Perintah Melaksanakan Tugas Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo Nomor 084/008/2021, penulis diangkat sebgai CPNS Ahli Pertama Penyuluh Pertanian dan ditugaskan di kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo dengan uraian tugas penulis yaitu sebagai Ahli Pertama Penyuluh Pertanian adalah sebagai berikut ini sesuai PermenpanRB Nomor 35 Tahun 2020 Bab IV Pasal 8:
1. Melakukan rekapitulasi dan mengolah data potensi wilayah sumber daya alam, sumber daya manusia, dan sumber daya (SDA, SDM, SDE);
2. Melakukan rekapitulasi dan mengolah data kegiatan penyuluhan pertanian sesuai kebutuhan masing-masing subsektor sebagai bahan penyusunan programa Penyuluhan Pertanian;
3. Melakukan diseminasi informasi pertanian (teknis, sosial dan ekonomi) sesuai kebutuhan;
4. Mengumpulkan dan mengolah data penumbuhan Poktan;
5. Mengumpulkan dan mengolah data peningkatan kelas kemampuan Poktan;
6. Mengumpulkan dan mengolah data penumbuhan Gapoktan;
7. Mengumpulkan dan mengolah data pengembangan Gapoktan;
8. Mengumpulkan dan mengolah data penumbuhan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP);
8
9. Mengumpulkan dan mengolah data pengembangan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP);
10. Melakukan evaluasi peningkatan kapasitas Poktan, Gapoktan, dan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP);
11. Melakukan fasilitasi peningkatan akses informasi teknologi, pasar, sarana dan prasarana Poktan/Gapoktan;
12. Mengumpulkan dan mengolah data fasilitasi penerapan teknologi melalui kegiatan sekolah lapang, studi banding, pameran dan gelar teknologi;
13. Mengumpulkan, mengolah, dan merekapitulasi data fasilitasi peningkatan skala usaha tani Poktan/Gapoktan;
14. Melakukan evaluasi fasilitasi peningkatan produktivitas usaha tani melalui Demonstrasi plot (demplot);
15. Mengumpulkan, mengolah, dan merekapitulasi data penumbuhan Pos Penyuluhan Pertanian Desa (Posluhdes);
16. Mengumpulkan, mengolah, dan merekapitulasi data pengembangan Pos Penyuluhan Pertanian Desa (Posluhdes);
17. Mengumpulkan, mengolah, dan merekapitulasi data penumbuhan Penyuluh Pertanian swadaya; dan
18. Mengumpulkan, mengolah, dan merekapitulasi data pengembangan Penyuluh Pertanian swadaya.
C. Role Model
1. Role Model 1: Totok Fitrianto, S.P.
Gambar 2. Role Model 1 Totok Fitrianto, S.P.
9
Totok Fitrianto, S.P. adalah seorang koordinator penyuluh pertanian di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo. Riwayat pendidikan beliau adalah S1 Hama dan Penyakit Tanaman Universitas Gadjah Mada. Perjalanan karir beliau menjadi PNS dimulai sejak tahun 2006. Pada tahun tersebut, beliau sudah mengabdi di Pemerintah Kabupaten Purworejo sebagai seorang Penyuluh Pertanian Lapangan. Berkat pengalaman kerja dan penerapan nilai BerAKHLAK dalam karirnya, beliau ditunjuk menjadi koordinator BPP Kecamatan Bruno pada 2011, hal ini sekaligus mencatatkan prestasi sebagai koordinator PPL termuda di Kabupaten Purworejo pada saat itu. Selanjutnya per Januari 2021, beliau dipercaya untuk memimpin BPP Kecamatan Gebang sekaligus koordinator dari penulis.
Dari sosok beliau, penulis dapat mencontoh sikap – sikap dan jiwa nilai dasar BerAKHLAK pada diri beliau sehingga penulis menjadikan beliau sebagai salah satu role model dalam rancangan aktualisasi dan habituasi ini. Implementasi nilai BerAKHLAK yang beliau lakukan adalah ramah dan solutif baik kepada petani ataupun anggota penyuluh di BPP Kecamatan Gebang (Berorientasi pelayanan), jujur dan bertanggung jawab serta disiplin seperti tepat waktu saat kerja (Akuntabel), ahli di bidangnya sehingga menjadikan tempat penulis untuk bertanya terkait lingkup pekerjaan (Kompeten), menghargai setiap orang apapun latar belakangnya tanpa memandang SARA (Harmonis), memegang teguh ideologi Pancasila ditunjukkan dengan taat shalat 5 waktu dan tidak membeda – bedakan anggotanya berdasarkan SARA (Loyal), selalu berinovasi dalam memecahkan suatu masalah (Adaptif) dan beliau dapat bekerja sama dengan baik baik dalam lingkungan kantor ataupun lintas instansi (Kolaboratif).
10 BAB II
RANCANGAN AKTUALISASI DAN HABITUASI
A. Identifikasi Isu dan Deskripsi Isu 1. Identifikasi Isu
Identifikasi isu pada rancangan aktualisasi dan habituasi ini disusun berdasarkan isu – isu yang muncul pada bidang tugas penulis yaitu penyuluh pertanian lapangan (PPL). Isu yang diambil bersumber dari individu, unit kerja maupun organisasi. Berikut ini adalah isu – isu yang muncul dan diidentifikasi pada saat penulis menjalankan tugas sebagai penyuluh pertanian lapangan, di unit kerja Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo:
Tabel 1. Tabel identifikasi Isu
No Isu Kondisi yang Diharapkan
1 Kurang optimalnya pemanfaatan lahan sawah di desa binaan Desa Kalitengkek, Kecamatan Gebang.
(Sumber Isu: Individu)
(Ruang Lingkup Isu: tusi jabatan) (Keterkaitan: Manajemen ASN)
Pola tanam lahan sawah menjadi 3 kali dalam 1 tahun (IP 300).
2 Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang. (Sumber Isu:
Individu)
(Ruang Lingkup Isu: tusi jabatan)
Penggunaan dan pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) khususnya Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sebagai metode mengendalikan serangan OPT padi.
11
No Isu Kondisi yang Diharapkan
(Keterkaitan: Manajemen ASN) 3 Belum serempaknya penanaman
padi di wilayah binaan Desa Mlaran Kecamatan Gebang.
(Sumber Isu: Individu)
(Ruang Lingkup Isu: tusi jabatan) (Keterkaitan: Manajemen ASN)
Petani paham dan menerapkan tanam serempak dalam budidaya padi sehingga didapat manfaat seperti kemudahan pengaturan pengairan dan mengurangi serangan hama tikus.
4 Belum meratanya penerapan pola jajar legowo pada budidaya padi di wilayah binaan Desa Mlaran Kecamatan Gebang.
(Sumber Isu: Individu)
(Ruang Lingkup Isu: tusi jabatan) (Keterkaitan: Manajemen ASN)
Semua petani di wilayah binaan Desa Mlaran dapat menerapkan pola tanam jajar legowo baik itu legowo 4:1; 3:1 maupun 2:1.
5 Belum optimalnya penggunaan kartu tani di desa binaan Desa Redin, Desa Kemiri dan Desa Kalitengkek Kecamatan Gebang.
(Sumber Isu: Unit Kerja)
(Ruang Lingkup Isu: tusi jabatan dan tusi unit kerja)
(Keterkaitan: Manajemen ASN)
Persentase penggunaan kartu tani di semua desa binaan mencapai 100%.
2. Deskripsi Isu
1. Kurang optimalnya pemanfaatan lahan sawah di desa binaan Desa Kalitengkek, Kecamatan Gebang.
Pola tanam lahan sawah saat ini di Desa Kalitengkek adalah 2 kali dalam 1 tahun (IP 200). Hal ini diakibatkan karena lahan Desa Kalitengkek adalah lahan sawah dengan irigasi tadah hujan. Berdasarkan data BPP Kecamatan Gebang (2021) yang terdapat pada Programa Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gebang Tahun 2022, data petani yang belum
12
menerapkan pengelolaan tanaman terpadu sebesar 65% dari jumlah petani di Kecamatan Gebang dan petani yang belum memanfaatkan lahan marginal sebanyak 95%. Hal ini membuktikkan bahwa pemanfaatan lahan sawah belum optimal.
2. Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang.
Pengendalian organisme penganggu tanaman (OPT) padi saat ini masih menggunakan pestisida kimia (sintetik). Penggunaan/ pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) sebagai metode pengendalian OPT belum diketahui petani di Desa Redin. Berdasarkan data BPP Kecamatan Gebang (2021) yang terdapat pada Programa Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gebang Tahun 2022 petani yang belum menerapkan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) sebesar 65%. Metode PTT di antaranya adalah penerapan pengendalian hama penyakit terpadu termasuk penggunaan APH.
3. Belum serempaknya penanaman padi di wilayah binaan Desa Mlaran Kecamatan Gebang.
Petani kurang memahami manfaat pentingnya tanam serempak dalam budidaya padi sehingga petani cenderung tidak sesuai jadwal tanam yang direncanakan. . Berdasarkan data BPP Kecamatan Gebang (2021) yang terdapat pada Programa Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gebang Tahun 2022 petani yang belum menerapkan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) sebesar 65%. Salah satu metode PTT adalah teknologi tata guna air yang dapat dicapai dengan penanaman serempak pada budidaya padi untuk menekan populasi organisme pengganggu tanaman khususnya tikus.
4. Belum meratanya penerapan pola jajar legowo pada budidaya padi di wilayah binaan Desa Mlaran Kecamatan Gebang.
Sebagian besar petani menanam dengan pola tanam tegel pada budidaya padi dan jarak tanam yang rapat. Hal ini membuat produktivitas kurang maksimal. Berdasarkan data BPP Kecamatan Gebang (2021) yang
13
terdapat pada Programa Penyuluhan Pertanian Kecamatan Gebang Tahun 2022 petani yang belum menerapkan pengelolaan tanaman terpadu (PTT) sebesar 65%. Salah satu metode PTT adalah penerapan jajar legowo 2:1, 3:1 ataupun 4:1.
5. Belum optimalnya penggunaan kartu tani di desa binaan Desa Redin, Desa Kemiri dan Desa Kalitengkek Kecamatan Gebang.
Berdasarkan data rekap kartu tani aktif BPP Gebang ( per Desember 2021) yang disusun oleh Tim Verifikasi dan Evaluasi Pupuk Bersubsudi Kecamatan Gebang, persentase penggunaan kartu tani aktif di Desa Redin:
52.35%; Desa Kemiri: 19,78% ; dan Desa Kalitengkek: 11.61%. Hal ini menyebabkan serapan pupuk rendah sehingga penyaluran subsidi tidak efektif.
B. Analisis Isu
Tahap selanjutnya setelah melakukan identifikasi isu – isu di bidang tugas penulis, maka selanjutnya dilakukan analisis isu. Analisis isu bertujuan untuk mendapatkan 1 isu prioritas. Alat analisis penulis gunakan adalah metode adalah Analisis APKL (Aktual, Kekhalayakan, Problematik, dan Kelayakan) dan Analisis USG (Urgency, Seriousness, Growth). Dari tapisan APKL diambil 3 isu yang termasuk pada peringkat 1-3, untuk dianalisis dengan USG, sehingga diperoleh 1 isu inti (core issue) yang perlu diselesaikan.
14 1. Analisis Isu dengan APKL
Analisis APKL memiliki 4 kriteria penilaian yaitu Aktual, Kekhalayakan, Problematik, dan Kelayakan. Aktual artinya isu tersebut benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan dalam masyarakat.
Kekhalayakan artinya Isu tersebut menyangkut hajat hidup orang banyak.
Problematik artinya Isu tersebut memiliki dimensi masalah yang kompleks, sehingga perlu dicarikan segera solusinya secara komperehensif, dan Kelayakan artinya Isu tersebut masuk akal, realistis, relevan, dan dapat dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya. Berikut ini adalah tabel analisis isu di lingkup bidang tugas penulis menggunakan tapisan APKL:
Tabel 2. Tabel Analisis Isu APKL
No Isu Kriteria Total
APKL Peringkat
A P K L
1. Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang.
5 5 4 5 19 I
2. Belum optimalnya penggunaan kartu tani di desa binaan Desa Redin, Desa Kemiri dan Desa Kalitengkek Kecamatan Gebang.
4 4 4 4 16 II
3. Kurang optimalnya pemanfaatan lahan sawah di desa binaan Desa Kalitengkek, Kecamatan Gebang.
4 3 4 3 14 III
4. Belum serempaknya penanaman padi di wilayah binaan Desa Mlaran Kecamatan Gebang.
4 3 3 3 13 IV
5. Belum meratanya penerapan pola jajar legowo pada budidaya padi di wilayah binaan Desa Mlaran Kecamatan
4 3 3 2 12 V
15
No Isu Kriteria Total
APKL Peringkat
A P K L
Gebang.
Keterangan Bobot :
5 = sangat mendesak 2 = kurang mendesak
4 = mendesak 1 = sangat kurang mendesak 3 = cukup mendesak
Keterangan tabel: dibuat skor APKL pada kisaran 1 - 5
a. Aktual : Isu sedang terjadi atau dalam proses kejadian, atau diperkirakan bakal terjadi dalam waktu dekat.
b. Problematik : Merupakan masalah mendesak yang memerlukan berbagai upaya alternatif jalan keluar dengan aktivitas dan tindakan nyata.
c. Kekhalayakan : Menyangkut hajat hidup orang banyak, masyarakat pada umumnya, bukan untuk seseorang atau kelompok.
d. KeLayakan : Logis, Pantas, Realitas, dapat dibahas sesuai dengan tugas, hak, kewenangan dan tanggung jawab.
Hasil analisis isu menggunakan metode APKL menunjukkan 3 isu dengan peringkat teratas berturut- turut adalah sebagai berikut:
Peringkat I: Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang..
Peringkat II: Belum optimalnya penggunaan kartu tani di desa binaan Desa Redin, Desa Kemiri dan Desa Kalitengkek Kecamatan Gebang.
Peringkat III: Kurang optimalnya pemanfaatan lahan sawah di desa binaan Desa Kalitengkek, Kecamatan Gebang.
16 2. Analisis Isu dengan USG
Tahap selanjutnya dilakukan analisis lanjutan terhadap 3 isu dengan peringkat teratas tersebut menggunakan analisis USG. Analisis USG (Urgency, Seriousness, dan Growth) mempertimbangkan tingkat kepentingan, keseriusan, dan perkembangan setiap variable dengan rentang skor 1-5 dengan kriteria sebagai berikut ini:
Urgency (urgensi), yaitu dilihat dari tersedianya waktu, mendesak atau tidak masalah tersebut diselesaikan.
Seriousness (keseriusan), yaitu melihat dampak masalah tersebut terhadap produktivitas kerja, pengaruh terhadap keberhasilan, membahayakan sistem atau tidak, dan sebagainya.
Growth (berkembangnya masalah), yaitu apakah masalah tersebut berkembang sedemikian rupa sehingga sulit dicegah.
Berikut ini adalah hasil analisis isu menggunakan analisis USG:
Tabel 3. Tabel Analisis Isu USG
No Isu Urgency Seriousness Growth Jumlah Ranking
1
Belum adanya
pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang.
5 4 3 12 I
2
Belum optimalnya penggunaan kartu tani di desa binaan Desa Redin,
4 4 3 11 II
17
No Isu Urgency Seriousness Growth Jumlah Ranking
Desa Kemiri dan Desa Kalitengkek Kecamatan Gebang.
3
Kurang optimalnya pemanfaatan lahan sawah di desa binaan Desa Kalitengkek, Kecamatan Gebang.
3 3 4 10 III
Keterangan Bobot :
5 = sangat mendesak 2 = kurang mendesak
4 = mendesak 1 = sangat kurang mendesak 3 = cukup mendesak
Kesimpulan dari hasil analisis metode APKL dan USG didapat bahwa isu inti (core issue) yang perlu diselesaikan adalah: “Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang.” Selanjutnya penulis memfokuskan aktualisasi dan habituasi pemecahan isu tersebut secara khusus di Kelompok Tani Maju Lancar, Desa Redin, Kecamatan Gebang.
C. Analisis Penyebab Isu
Dari hasil analisis metode APKL dan USG didapat bahwa isu inti (core issue) yang perlu diselesaikan adalah: “Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang”. Akar penyebab masalah selanjutnya didiagnosa menggunakan fishbone diagram.
Diagram ini merupakan merupakan suatu alat untuk mengidentifikasi, mengeksplorasi, dan menggambarkan secara detail semua penyebab yang
18
berhubungan dengan suatu permasalahan. Kategori penyebab permasalahan yang digunakan sebagai start awal meliputi manpower (sumber daya manusia), material (bahan baku), method (metode), dan milieu (faktor lingkungan) atau melaluI pendekatan lain yang dimantapkan melalui brainstorming bersama rekan kerja di instansi, sehingga hasilnya dirumuskan pada Gambar 5.
19
Sebab Akibat
Gambar 3. Diagram fishbone analisis penyebab isu MAN
MATERIAL MILIEU
METHOD
Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa
sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik)
berlangsung terus menerus pada budidaya
padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan
Gebang 1. Petani belum
megetahui/ mau memanfaatkan
teknologi pemanfaatan APH.
2. Belum meratanya penyebaran informasi teknologi APH karena keterbatasan jumlah PPL
1. Belum tersedianya / petani tidak memiliki isolat APH Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa.
2. Belum tersedianya alat perbanyakan APH.
1. Petani belum mengetahui metode perbanyakan APH.
2. Petani belum mengetahui praktek pengaplikasian APH di lapangan.
1. Serangan OPT berupa hama wereng batang coklat (WBC) dan walang sangit serta penyakit kresek (hawar daun bakteri) pada budidaya padi yang menghambat peningkatan produksi
2. Kebiasaan lingkungan petani di Desa Redin menggunakan pestisida sintetik (kimia) dengan yang lebih cepat terlihat hasilnya, kemudahan aplikasi dan daya bunuh yang tinggi.
20
D. Dampak Apabila Isu Tidak Diselesaikan
Berikut ini adalah dampat apabila core issue tidak diselesaikan:
Biaya sarana produksi pertanian (saprodi) tinggi.
Mengakibatkan keracunan bagi pengguna secara cepat maupun lambat.
Meningkatkan resistensi (kekebalan) hama terhadap pestisida yang berbahan aktif sama dan diaplikasikan secara terus menerus.
Terjadinya resurgensi (ledakan) hama generasi berikutnya karena aplikasi pestisida kimia ikut membunuh musuh alami.
Timbulnya hama sekunder karena terbunuhnya musuh-musuh alami menyebabkan hewan yang mulanya bukan hama akhirnya berkembang pesat hingga pada tingkat merusak.
Merusak atau membunuh makhluk hidup yang berguna seperti serangga penyerbuk, patogen, parasit, dan predator.
Mencemari lingkungan karena kandungan racunnya menimbulkan efek residu yang tidak mudah terurai.
Dalam jangka panjang, mengkonsumsi hasil pertanian yang diaplikasikan pestisida dapat menimbulkan gangguan kesehatan.
E. Gagasan Pemecahan Isu
Berdasarkan hasil identifikasi, analisis, penyebab dan dampak isu, maka penulis menyusun gagasan kegiatan aktualisasi dan habituasi sebagai pemecahan isu dengan judul : Pemanfaatan Agensia Pengendali Hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa di Kelompok Tani Maju Lancar Desa Redin Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo. Penulis memilih agensia pengendali hayati (APH) secara khusus adalah jenis jamur Beauveria bassiana dan bakteri Paenibacillus polymyxa dengan pertimbangan bahwa penyebab (milieu) adalah adanya OPT berupa walang sangit dan hawar daun bakteri yang dapat
21
dikendalikan dengan APH jenis tersebut. Penulis secara khusus memfokuskan aktualisasi dan habituasi di Kelompok Tani Maju Lancar, Desa Redin dengan tujuan menjadikan kelompok tani tersebut sebagai pelopor penggunaan APH di Desa Redin Kecamatan Gebang.
Berikut ini adalah uraian kegiatan yang akan penulis lakukan pada saat pelaksanaan aktualisasi dan habituasi:
1. Membuat alat perbanyakan (inokulasi) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa APH dengan media cair. (Sumber kegiatan: inovasi)
2. Mendatangkan isolat Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa. (Sumber kegiatan: inovasi).
3. Melaksanakan penyuluhan di Kelompok Tani Maju Lancar secara in class dengan materi: Pemanfaatan APH Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa untuk budidaya tanaman padi. (Sumber kegiatan: SKP).
4. Melakukan pendampingan praktek aplikasi APH Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa di lapangan (lahan sawah milik anggota Kelompok Tani Maju Lancar). (Sumber kegiatan:
SKP).
5. Mengevaluasi hasil penyuluhan dan dampak penyuluhan pertanian dengan materi: Pemanfaatan APH Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa untuk budidaya tanaman padi. (Sumber kegiatan: SKP).
22
F. Rancangan Aktualisasi dan Habituasi
Unit Kerja : Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Gebang Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian
Kabupaten Purworejo
Identifikasi Isu : 1. Kurang optimalnya pemanfaatan lahan sawah di desa binaan Desa Kalitengkek, Kecamatan Gebang.
2. Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang.
3. Belum serempaknya penanaman padi di wilayah binaan Desa Mlaran Kecamatan Gebang.
4. Belum meratanya penerapan pola jajar legowo pada budidaya padi di wilayah binaan Desa Mlaran Kecamatan Gebang.
5. Belum optimalnya penggunaan kartu tani di desa binaan Desa Redin, Desa Kemiri dan Desa Kalitengkek Kecamatan Gebang.
Isu yang Diangkat : Belum adanya pemanfaatan agensia pengendali hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa sehingga penggunaan pestisida kimia (sintetik) berlangsung terus menerus pada budidaya padi di desa binaan Desa Redin, Kecamatan Gebang.
Judul Gagasan : Pemecahan Isu
Pemanfaatan Agensia Pengendali Hayati (APH) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa di Kelompok Tani Maju Lancar Desa Redin Kecamatan Gebang Kabupaten Purworejo (matriks disajikan pada Tabel 4).
23
Tabel 4. Matriks rancangan aktualisasi dan habituasi
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
1 Membuat alat perbanyakan (inokulasi) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa APH dengan media cair. (Sumber kegiatan:
inovasi)
a. Menyiapkan/ membeli alat dan bahan yang akan digunakan untuk
pembuatan alat
perbanyakan APH dengan
Output Kegiatan:
Petani memahami cara
pembuatan dan cara kerja alat
Perbanyakan APH
a. Tersedianya alat dan bahan yang akan
digunakan untuk merangkai
Keterkaitan kegiatan dengan MASN dan
Smart ASN:
Pembuatan alat perbanyakan
(inokulasi) APH saya lakukan dengan cermat dan disiplin (Kode Etik ASN) sehingga dapat menghasilkan hasil kerja dengan kualitas baik dan dalam merangkai alat memakai panduan dari video Youtube (digital skill)
a. Dalam melakukan persiapan dan pengadaan alat dan
bahan yang
digunakan untuk membuat alat APH saya melakukannya
Dengan petani memahami cara
pembuatan dan cara kerja alat
Perbanyakan APH
maka memberikan kontribusi terhadap visi Pemerintah Kab.
Purworejo yaitu Purworejo Berdaya Saing 2025 dan Misi 2 yatu
Meningkatkan daya saing sektor
Dengan
adanya petani memahami cara
pembuatan dan cara kerja alat
Perbanyakan APH
ini
memberikan penguatan pada nilai organisasi yaitu:
1. Ikhlas 2. Melayani 3. Profesiona
l
24
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi media cair.
b. Merangkai alat perbanyakan APH dengan media cair.
c. Mempraktekkan cara kerja alat perbanyakan APH di hadapan petani.
alat
perbanyaka n APH.
b. Terangkainy a alat perbanyaka n APH.
c. Terselengga ranya
praktek cara kerja alat perbanyaka n APH di
sebagai bentuk memahami dan memenuhi
kebutuhan masyarakat (Berorientasi pelayanan)
b. Dalam merangkai alat perbanyakan
APH saya
melakukan agar hasil yang dilakukan memiliki kualitas baik (Kompeten) dan merupakan bentuk inovasi dan kreativitas saya (Adaptif)
c. Dalam
mempraktekkan cara kerja alat perbanyakan APH di hadapan petani saya lakukan
pertanian dalam arti luas yang sinergi dengan pengembanga n UMKM, perdagangan dan industry serta tujuan organisasi yaitu
Pemantapan Ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani daan peningkatan pelayanan publik.
25
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi hadapan
petani.
secara jujur, cermat dan disiplin.
(Akuntabel) 2 Mendatangkan isolat
Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa.
(Sumber kegiatan: inovasi).
a. Membuat surat permohonan pembelian
Output kegiatan:
Petani mengetahui cara
penggunaan isolat.
a. Tersusunny a surat permohonan
Keterkaitan kegiatan dengan MASN dan Smart ASN: Dalam proses mengadakan isolat saya lakukan
dengan penuh
pengabdian, kejujuran, kesadaran dan tanggung jawab (Kewajiban ASN) dan saya menggunakan kecakapan digital dalam membuat surat permohonan (digital
skills) dan
berkmonunikasi
menggunakan aplikasi pesan dengan pihak POPT secara etis (digital ethics).
a. Saya melakukan kerja sama dengan
POPT untuk
Dengan petani mengetahui cara
penggunaan isolat maka memberikan kontribusi terhadap visi Pemerintah Kab.
Purworejo yaitu Purworejo Berdaya Saing 2025 dan Misi 2 yatu
Meningkatkan daya saing sektor pertanian dalam arti luas yang
Dengan adanya petani mengetahui cara
penggunaan isolat ini memberikan penguatan pada nilai organisasi yaitu:
1. Ikhlas 2. Melayani 3. Profesional
26
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi isolate Beauveria bassiana
dan Paenibacillus polymyxa ditujukan ke BPTPHP Provinsi Jawa Tengah.
b. Membayar dan menerima isolat Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa .
c. Menyimpan isolat yang sudah diterima dengan baik sehingga isolat dapat bertahan dan tidak rusak hingga saatnya digunakan.
pembelian isolat yang siap dikirim melalui POPT.
b. Tersedianya isolat untuk bahan praktek perbanyaka n APH.
c. Isolat dapat tahan dalam kondisi baik hingga waktu pelaksanaa n praktek.
membuat surat permohonan isolat dan pengirimannya (Kolaboratif)
b. Pembayaran dan serah terima isolate adalah bentuk komitmen saya dalam
mengusahakan tersedianya isolate APH bagi petani (Akuntabel)
c. Penyimpanan
isolate dengan baik adalah tindakan
saya untuk
menjaga kualitas isolat sehingga tidak rusak dapat digunakan pada saat pelaksanaan
sinergi dengan pengembanga n UMKM, perdagangan dan industry serta tujuan organisasi yaitu
Pemantapan Ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani daan peningkatan pelayanan publik.
27
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi
d. Mempraktekkan cara penggunaan isolat di hadapan petani.
d. Terselengga ranya
praktek cara penggunaan isolat di hadapan petani.
praktek
(Berorientasi pelayanan)
d. Praktek
penggunaan isolate yang saya lakukan adalah bentuk membantu petani untuk belajar (Kompeten)
3 Melaksanakan penyuluhan di Kelompok Tani Maju Lancar secara in class dengan materi: Pemanfaatan APH Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa untuk budidaya tanaman padi.
(Sumber kegiatan: SKP).
Output kegiatan:
Berubahnya perilaku, sikap dan
keterampilan petani dengan mengetahui APH dan mau memanfaatkan nya.
Keterkaitan kegiatan dengan MASN dan Smart ASN: Pada saat melakukan penyuluhan saya lakukan dengan prinsip memberikan informasi secara benar
dan tidak
menyesatkan kepada petani (Kode Etik ASN) dan saya menyaring literatur saya gunakan (digital culture) dan menggunakan
Dengan Berubahnya perilaku, sikap dan
keterampilan petani dengan mengetahui APH dan mau memanfaatka nnya maka memberikan kontribusi terhadap visi Pemerintah Kab.
Purworejo
Dengan Berubahnya perilaku, sikap dan
keterampilan petani dengan engetahui APH dan mau memanfaatka nnya ini memberikan penguatan pada nilai organisasi yaitu:
1. Ikhlas
28
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi
a. Mempelajari pustaka (literatur) tentang APH untuk dibuat menjadi bahan materi penyuluhan.
b. Menyusun bahan materi
penyuluhan dan
dituangkan dalam media penyuluhan berupa PPT (Power Point).
c. Melakukan koordinasi dengan kelompok tani waktu pelaksanaan
a. Tersedianya literatur untuk
penyusunan bahan penyuluhan APH.
b. Tersusunny a PPT untuk bahan
penyuluhan dengan petani.
c. Teragendak annya waktu pertemuan dengan
kecakapan digital saya untuk menyusun bahan dan materi penyuluhan (digital skills)
a. Mempelajari
pustaka adalah bentuk peningkatan kompetensi diri (Kompeten)
b. Saya menyusun
PPT dengan
memanfaatkan komputer milik negara dengan baik (Akuntabel)
c. Koordinasi dengan kelompok tani yang saya lakukan adalah bentuk
yaitu Purworejo Berdaya Saing 2025 dan Misi 2 yatu
Meningkatkan daya saing sektor pertanian dalam arti luas yang sinergi dengan pengembanga n UMKM, perdagangan dan industry serta tujuan organisasi yaitu
Pemantapan Ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani daan peningkatan
2. Melayani 3. Profesiona
l
29
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi kegiatan.
d. Mengkoordinasikan
dengan POPT untuk bersama melakukan penyuluhan.
e. Mempresentasikan materi penyuluhan dengan media PPT di hadapan petani.
kelompok tani.
d. POPT dapat hadir dan memberi penyuluhan sesuai waktu yang ditentukan.
e. Petani mengetahui APH secara teori dan praktek penggunaan alat
perbanyaka n APH.
menghargai orang lain apapun latar belakangnya
(Harmonis)
d. Koordinasi dengan
POPT dalam
melakukan
penyuluhan adalah bentuk memberikan kesempatan
berbagai pihak
untuk ikut
berkontribusi (Kolaboratif)
e. Presentasi di hadapan petani adalah bentuk memenuhi
kebutuhan masyarakat (Berorientasi pelayanan)
pelayanan publik.
30
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi f. Memonitoring inokulasi
APH yang sudah dipasang (2 minggu ke depan).
f. Tersedianya APH setelah 2 minggu inokulasi yang siap aplikasi.
f. Monitoring inokulasi yang saya lakukan adalah bentuk dedikasi saya untuk memastikan hasil pekerjaan berhasil baik (Loyal).
4 Melakukan pendampingan praktek aplikasi APH Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa di lapangan (lahan sawah milik anggota Kelompok Tani Maju Lancar). (Sumber kegiatan:
SKP).
Output kegiatan:
Petani dapat mempraktekka n aplikasi APH di lapangan.
Keterkaitan kegiatan dengan MASN dan
Smart ASN:
Pendampingan
aplikasi APH yang saya lakukan sebagai
bagian dari
Menunjukkan
integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku, ucapan dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam maupun di luar kedinasan (Kewajiban
ASN). Saat
berkoordinasi
menggunakan aplikasi
pesan saya
Dengan Petani dapat mempraktekk an aplikasi APH di lapangan maka
memberikan kontribusi terhadap visi Pemerintah Kab.
Purworejo yaitu Purworejo Berdaya Saing 2025 dan Misi 2 yatu
Meningkatkan daya saing
Dengan adanya
Petani dapat mempraktekk an aplikasi
APH di
lapangan ini memberikan penguatan pada nilai organisasi yaitu:
1. Ikhlas 2. Melayani 3. Profesiona
l
31
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi
a. Mengkoordinasikan
dengan petani waktu pelaksanaan kegiatan.
b. Mengkoordinasikan
dengan petani untuk persiapan alat dan bahan yang akan digunakan untuk praktek aplikasi APH.
c. Mengkoordinasikan
dengan POPT untuk bersama melakukan
a. Teragendak annya waktu pelaksaan aplikasi APH di lapangan.
b. Petani dapat menyiapkan alat semprot dan APH yang sudah jadi.
c. POPT dapat hadir di lapangan saat aplikasi
menggunakan
kecakapan digital (digital skill) dan etika digital (digital ethics).
a. Koordinasi dengan petani adalah bentuk menghargai
orang lain
(Harmonis).
b. Kerja sama dengan petani agar kegiatan praktek aplikasi dapat berlangsung dengan baik (Kolaboratif).
c. Melibatkan POPT dalam
pendampingan aplikasi adalah bentuk untuk
sektor pertanian dalam arti luas yang sinergi dengan pengembanga n UMKM, perdagangan dan industry serta tujuan organisasi yaitu
Pemantapan Ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani daan peningkatan pelayanan publik.
32
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi pendampingan.
d. Melaksanakan
pendampingan aplikasi APH di lahan budidaya padi milik petani.
APH.
d. Aplikasi APH di lapangan dapat berjalan dengan baik.
mewujudkan kinerja terbaik dan keberhasilan
aplikasi (Kompeten).
d. Pendampingan aplikasi APH yang dilakukan adalah bentuk dedikasi pada petani (Loyal).
5 Mengevaluasi hasil penyuluhan dan dampak penyuluhan pertanian dengan materi: Pemanfaatan APH Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa untuk budidaya tanaman padi.
(Sumber kegiatan: SKP).
Output kegiatan:
Mengetahui hasil
penyuluhan dan langkah perbaikannya.
Keterkaitan kegiatan dengan MASN dan Smart ASN: Evaluasi yang dilakukan adalah bentuk Melaksanakan tugas kedinasan
dengan penuh
pengabdian, kejujuran, kesadaran, dan tanggung jawab.
(Kewajiban ASN).
Penyusunan laporan evaluasi dilakukan dengan computer
Dengan Mengetahui hasil
penyuluhan dan langkah perbaikannya maka
memberikan kontribusi terhadap visi Pemerintah Kab.
Purworejo yaitu Purworejo
Dengan adanya Mengetahui hasil
penyuluhan dan langkah perbaikannya ini
memberikan penguatan pada nilai organisasi yaitu:
1. Ikhlas 2. Melayani
33
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi
a. Melakukan koordinasi dengan POPT dan petani untuk bersama- sama melakukan pengecekan lapangan hasil aplikasi APH.
b. Melakukan pengecekan hasil aplikasi APH di lapangan bersama POPT dan petani.
a. Petani dan POPT dapat hadir di
lapangan untuk bersama melihat hasil aplikasi.
b. Petani mengetahu i
bagaimana kondisi aplikasi yang baik dan
berhasil.
kantor (digital skill).
a. Terbuka dalam bekerja sama dengan POPT untuk pengecekan hasil aplikasi
(Kolaboratif).
b. Pengecekan di lapangan yang dilakukan adalah perwujudan perilaku kompeten yaitu Evaluasi
(Kompeten)
Berdaya Saing 2025 dan Misi 2 yatu
Meningkatkan daya saing sektor pertanian dalam arti luas yang sinergi dengan pengembanga n UMKM, perdagangan dan industry serta tujuan organisasi yaitu
Pemantapan Ketahanan pangan, peningkatan kesejahteraan petani daan peningkatan pelayanan publik.
3. Profesiona l
34
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/ Hasil KeterkaitanSubstansi Mata Pelatihan
Kontribusi Terhadap
Visi Misi Organisasi
Penguatan Nilai Organisasi c. Melakukan wawancara
dengan petani untuk mengetahui testimoni.
c. Penyuluh mengetahu i langkah perbaikan yang dapat dilakukan
c. Wawancara
testimoni petani hasil pengaplikasian APH adalah bentuk perbaikan tiada henti (Berorientasi pelayanan).
35 G. Jadwal Rancangan Aktualisasi
Kegiatan aktualisasi dan habituasi akan dilaksanakan mulai tanggal 13 April 2022 sampai dengan 28 Mei 2022. Jadwal rancangan aktualisasi disajikan pada Tabel 5 berikut ini:
Tabel 5. Jadwal Rancangan Aktualisasi dan Habituasi
13 14 15 16 17 18 19 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7 2 8 2 9 3 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 2 0 2 1 2 2 2 3 2 4 2 5 2 6 2 7 2 8
Membuat alat perbanyakan (inokulasi) Beauveria bassiana dan Paenibacillus polymyxa APH dengan media cair.
a. Menyiapkan/ membeli alat dan bahan yang akan digunakan untuk pembuatan alat perbanyakan APH dengan media cair.
Foto alat dan bahan
b. Merangkai alat perbanyakan APH dengan media cair.
Foto alat perbanyakan APH yang sudah terangkai c. Mempraktekkan cara kerja alat
perbanyakan APH di hadapan petani.
Foto kegiatan praktek cara kerja alat APH
APRIL 2022 MEI 2022
No Kegiatan Bukti Kegiatan
1