The Impact Of Mine Activities Excavation Class C Share Environmental Conditions Sub Gunung Sarik Kuranji District Of The City Of Padang
Yuliani Azmi*Elvi Zuriyani** Nefilinda***
GeographyEducationStudentsSTKIPPGRIWest Sumatra*
Lecturer inGeographyEducationSTKIPPGRIWest Sumatra**
ABSTRACT
Yuliani Azmi, (12030077), Impact of Mine Activities Excavation Class C Share Environmental Conditions Sub Gunung Sarik Kuranji District of the city of Padang, Geography Education Program STKIP West Sumatra, Padang, 2016.
Villageof Gunung Sarik is one of the villages in the sub Kuranji and is also the largest village in the district Kuranji. District of Kuranji topography consists of hills and daerahnnya not flat. Particularly the Village of Gunung Sarik bordered by hills, this is potentially the site of mining activities, mineral excavation class C.
This study aims to get the data, process, analyze and discuss the impact of quarry activity class C Sub District of Gunung Sarik Kuranji views of: 1) the condition of infrastructure, 2) air condition, 3) and catastrophic erosion. This research is classified as qualitative descriptive study, the population in this research is in the area of community activity groups quarry c. The research sample was taken by purposive sampling, sample amounted to 91 people. Collecting data using questionnaires, analysis used is descriptive statistics
Results of the study 1) people say that damage to access roads caused by the activity of class C quarry, which is a result of larger cars transporting excavated material class c pass through the mesh village of Gunung Sarik. 2) in addition to onccurrence damage to public infrastructure also says air pollution, car exhaust both material and dusty air carrier due to the remnants of the ground material that fell and scattered along the access road. 3) the occurrence of catastrophic erosion of the quarry site golonganc, but people who say the impact of catastrophic erosion during the rainy season water flooded the home environment of society and damage the rice fields merupaka people living at ± 100 m from the location of quarry activity class C.
Keyword: excanvation class C, infrastructure, air condition, and catastrophic erosion
PENDAHULUAN
Sumberdaya alam merupakan faktor yang sangat menentukan bagi kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan dalam kehidupannya, manusia tidak dapat hidup tanpa adanya sumberdaya alam. Ketergantungan manusia akan sumberdaya alam tersebut berpengaruh terhadap pola pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam yang ada.
Di Indonesia, sebagai negara sedang berkembang peningkatan jumlah penduduk yang terus terjadi mengakibatkan semakin meningkatnya jumlah permintaan akan pemenuhan kebutuhan hidup dari sumberdaya alam, sehingga berkorelasi terhadap semakin eksploitatifnya pemanfaatan sumberdaya alam yang ada. Hal ini nyata dari adanya peningkatan jumlah permintaan pasokan akan sumberdaya alam mineral bagi pemenuhan kebutuhan manusia dalam jumlah yang besar, namun seringkali tidak dapat terpenuhi karena terbatasnya persediaan sumberdaya alam mineral yang ada. Sehingga untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan adanya pengelolaan dan pemanfaatan yang baik terhadap sumberdaya alam mineral (Sulton,2011).
Pengelolaan dan pemanfaatan yang baik terhadap sumberdaya alam mineral menjadi faktor penentu keberlanjutan dari lingkungan hidup dan aktivitas kehidupan manusia ke depannya. Di Indonesia, pemanfaatan dan pengelolaan sumberdaya alam sangat tergantung pada kebijakan pemerintahan pada masanya. Pada era desentralisasi saat ini, pemberian wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya
alam memberikan dampak yang sangat berbeda dibandingkan di era sentralisasi.
Pemerintah daerah yang memiliki kekuasaan untuk memanfaatkan segala potensi sumberdaya alam di daerahnya, dapat mengalihkan haknya dengan memberikan izin kepada pihak swasta atau industri yang bergerak di bidang pertambangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam mineral (Sulton,2011).
Negara Indonesia terkenal sebagai negara yang kaya akan bahan tambang. Barang tambang biasanya termasuk kedalam sumberdaya alam mineral yang tidak dapat diperbaharui atau sering juga disebut sumberdaya alam habis pakai. Sumberdaya mineral dikembangkan melalui aktivitas pertambangan. Industri pertambangan selain mendatangkan devisa dan menyedot lapangan kerja juga rawan terhadap pengrusakan lingkungan.
Menurut Undang- Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan, pengerusakan lingkungan adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung/tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan (Juliana,2013).
Niode, (2013) Mengatakan salah satu usaha penambangan yang banyak dilakukan di Indonesia adalah penambangan bahan galian golongan C baik yang memiliki izin (legal) maupun yang tidak memiliki izin (illegal).
Sehingga hal ini menyulitkan dalam pengawasan dan terabaikan dalam pembinaan kegiatan penambangan yang
berwawasan lingkungan. Penambangan bahan galian golongan C adalah bukan merupakan bahan galian strategis ataupun vital, karena sifatnya tidak langsung memerlukan pasaran yang bersifat internasional. Bahan galian golongan C ini adalah bahan yang tidak dianggap langsung mempengaruhi hayat hidup ornag banyak. Kekayaan potensi bahan galian golongan C berupa material batu dan tanah timbun mengakibatkan maraknya kegiatan penambangan batu dan tanah timbun.
Pengelolaan sumberdaya mineral oleh industri pertambangan dilakukan karena dipandang dapat memberikan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang lebih tinggi sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan pembangunan Negara, serta terciptanya lapangan pekerjaan bagi masyarakat lokal maupun masyarakat di luar lokasi penambangan. Selain itu, karena pihak industri sebagai pihak yang memiliki modal berupa teknologi yang tinggi diharapkan mampu mengelola sumberdaya mineral secara baik dan efisien. Namun pada pelaksanaannya, pengelolaan sumberdaya mineral oleh industri tidak selamanya berjalan seperti apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan aktivitas pertambangan tersebut merupakan aktivitas pengerukan terhadap sumberdaya alam yang terkandung di tempat terbuka maupun bawah tanah, sedangkan pemanfaatan dengan penggunaan teknologinya seringkali berlebihan dalam mengeruk sumberdaya mineral yang ada sehingga pengelolaan sumberdaya alam tambang oleh industri pertambangan memberikan dampak terhadap perubahan ekosistem local (Sulton,2011).
Perubahan pada ekosistem lokal meliputi perubahan pada tataran sosial, ekonomi maupun lingkungan. Perubahan yang terjadi pada tataran sosial ekonomi diantaranya terjadinya perubahan sistem mata pencaharian masyarakat lokal yang awalnya bergerak di sektor pertanian sebagai sektor utama masyarakat, berubah menjadi masyarakat non pertanian seperti buruh pabrik, pedagang maupun kegiatan non pertanian lainnya.
Hal ini disebabkan menurunnya produktivitas lahan akibat rusaknya lahan pertanian yang ada dan berdampak terhadap penurunan pendapatan masyarakat. Sementara itu pada tataran lingkungan, terjadinya kerusakan ekologi seperti pencemaran air dan udara akibat limbah industri, serta kekeringan air yang kemudian berimplikasi pada penurunan produktivitas lahan pertanian (Sulton,2011).
Menurut Sulton (2011) Setiap kegiatan pembangunan di bidang pertambangan pasti menimbulkan dampak positif maupun dampak negatif.
Kegiatan penambangan bahan galian C mulai dari eksplorasi sampai eksploitasi dan pemanfaatannya mempunyai dampak terhadap lingkungan baik dampak positif maupun dampak negatif. Dampak positif yang ditimbulkan dari penambangan bahan galian C yaitu (1) terserapnya tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran, (2) menambah pendapatan masyarakat, (3) menambah pendapatan asli daerah (PAD) melalui pajak, iuran-iuran dan retribusi penambangan, dan (4) memperlancar akses transportasi dll. Sedangkan dampak negatifnya adalah berupa resiko akibat penambangan bahan galian C tersebut.
Kegiatan penambangan yang tidak
mempertimbangkan keseimbangan dan daya dukung lingkungan, serta tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
Dampak negatif akibat dari kegiatan penambangan antara lain: perubahan morfologi, perubahan iklim mikro yang disebabkan perubahan kecepatan angin, gangguan habitat biologi berupa flora dan fauna, penurunan produktivitas tanah, akibat tanah menjadi tandus atau gundul, meningkatkan intensitas erosi di daerah perbukitan, kerusakan jalan yang dilalui kendaraan pengangkut bahan tambang, dan mengganggu kondisi air tanah.
Dinas Sosial Kota Padang, (2012).Secara geografi kota Padang terletak di pesisir pantai barat pulau Sumatera, dengan garis pantai sepanjang 84 km. Luas keseluruhan Kota Padang adalah 694,96 km², dan lebih dari 60%
dari luas tersebut, sekitar ± 434,63 km² merupakan daerah perbukitan yang ditutupi hutan lindung, sementara selebihnya merupakan daerah efektif perkotaan. Hampir seluruh dataran (ketinggian 0-25 mdpl) dengan luas hampir 22% dari total luas Kota Padang, merupakan daerah terbangun (build-up area). Relatif di bagian selatan dan timur yang masih terbentang luas daerah belum terbangun. Di bagian selatan, khusus di Kecamatan Bungus teluk kabung, umumnya masih merupakan daerah pertanian. Sedangkan di bagian timur di dominasi oleh kawasan hutan yang berada pada daerah perbukitan dengan kemiringan yang cukup curam. Wilayah timur ini terdiri dari beberapa kecamatan yaitu mulai utara ke selatan berturut-turut dari Kecamatan Koto tangah, Pauh, Kuranji, dan Lubuk kilangan.
Berdasarkan observasi awal peneliti pada tanggal 23 februari 2016, di kecamatan Kuranji kelurahan Gunung Sarik terdapat aktivitas tambang galian golongan C. Tambang galian tersebut telah dibuka sejak tahun 1995, dan tambang ini merupakan tambang legal.
Sebelum tambang galian dibuka, awalnya tempat penambangan ini (bukit) merupakan milik masyarakat disekitar.
Karena PT Semen Padang membutuhkan bahan campuran untuk semen maka pihak PT Semen padang yang terdiri dari 5 perusahaan membuat kontrak pada pemilik tanah untuk mengambil material berupa tanah untuk campuran semen yang sebelumnya telah lulus uji laboratorium.Selain untuk bahan campur semen tanah ini juga untuk penimbunan proyek jalan By Pass dan material seperti batu sebagai pemecah ombak di pesisir pantai kota Padang. Selain meningkatkan perekonomian masyarakat, disamping itu pengambilan tanah serta material- material di bukit secara terus menerus menimbulkan kerusakan lingkungan disekitar aktivitas tambang.
Pada umumnya pengusaha penambangan bahan galian C menggunakan alat-alat berat untuk mengeruk bahan galian tersebut sehingga menyebabkan lingkungan sekitarnya menjadi rusak. Seperti Infrastruktur di daerah Gunung Sarik khususnya jalan dan jembatan mengalami kerusakan berat. selain itu minimnya aliran air ataudrainasedisekitar aktivitas tambang, baik dilingkungan tempat tinggal maupun disepanjang jalan. Saat terjadinya erosi atau pengikisan tanah oleh air hujan mengakibatkan jalan digenangi air serta material-material dari bukit tempat penggalian tersebut turun dan berserakan
dijalan. Terjadinya pencemaran udara akibat sisa-sisa material yang dibawa oleh mobil pengangkut seperti truk yang beserakan djalan, mengakibatkan kondisi udara berdebu, apalagi jalan tersebut sering dilalui oleh kendaran serta mobil pengangkut material dari bahan galian tambang tersebut. Padahal jalan ini merupakan jalan kota madya, yang artinya jalan ini sangat penting digunakan.
Berdasarkan masalah yang dijelaskan tadi, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul
“Dampak Aktivitas Tambang Galian Golongan C Bagi Kondisi Lingkungan Kelurahan Gunung Sarik Kecamatan Kuranji Kota Padang”
METODOLOGI PENELITIAN
Sesuai dengan permasalahan yang diajukan dalam penelitian ini, maka Penelitian ini tergolong kepada jenis penelitian deskriptif, hal ini dikarenakan penelitian tertuju kepada pengungkapan masalah yang terjadi pada masa sekarang dan mengungkapkan masalah tersebut apa adanya (Sudjana 2007:64).Dalam penelitian ini dilihat dariDampak Aktivitas Tambang Galian Golongan C Bagi Kondisi Lingkungan Kelurahan Gunung Sarik Kecamatan Kuranji Kota Padang Berkaitan dengan permasalahan diatas, maka variabel yang akan diteliti meliputi (1) Kondisi infrastruktur (2) Kondisi udara (3) Bencana erosi.Jumlah KK (kepala keluaraga) di Kelurahan Gunung Sarik adalah 3.828. penarikan sampel wilyah dilakukan dengan menggunakan teknik Purposive Sampling yaitu sampel bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random atau daerah tetapi
didasarkan atas adanya tujuan tertentu (Arikunto, 2002:117), penarikan sampel dilakukan pada daerah yang mengalami kerusakan akibat aktivitas tambang galian C Yaitu sampel berjumlah 90 responden.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertama,dilihat dari kondisi infrastruktur akibat aktivitas tambang galian golongan C di Kelurahan Gunung Sarikmasyarakat yang mengatakan akses jalan mengalami kerusakan sebanyak 95,55%, kerusakan jembatan 58,90%
dan 56,66% masyarakat mengatakan kondisi jalan sudah rusak parah.
Kerusakan yang parah tersebut terjadi dekat dengan lokasi penambangan, karena lokasi penambangan berada pada daerah ketinggian dan akses jalan yang tidak datar. Pada daerah ini 83,33%
masyarakat menjawab pengendara motor, mobil dan mobil truk mengalami kesulitan untuk melewati jalan hingga rawan terjadi kecelakaan 46,67%.
Sedangkan masyarakat yang menjawab kerusakan pada akses jalan mengakibatkan jalan berlumpur 42,23%
dan jalan berlobang 80%. Dari jawaban masyarakat 90% mengatakan jalan yang rusak sudah pernah diperbaiki oleh Pemrintah Daerah, namun jalan tersebut rusak kembali. 20% masyarakat mengatakan Pemerintah Derah berencana melakukan perbaikan jalan dan 16,67%
mengatakan perbaikan jalan yang dilakukan oleh Pemerintah berbeda dengan bentuk jalan yang sekarang.
Sedangkan dalam segi darainase atau aliran air banyak masyarakat menjawab 68,90% tidak tersedianya drainase atau aliran air, kalaupun ada sistem drainase tersebut tidak berfungsi dengan baik.
Berdasarkan penelitian dampak aktivitas tambang galian golongan C bagi kondisi infrastruktur di Kelurahan Gunung Sarik mengalami kerusakan pada akses jalan. Kerusakan paling parah terjadi di dekat lokasi tambang galian golongan C. Semakin jauh akses jalan dari lokasi tambang galian golongan C kerusakan akses jalan semakin sedikit, pada ± 2-3 Km akses jalan mengalami kerusakan bagian sebelah saja. Hal ini dikarenakan bagian jalan yang rusak sering dilalui mobil-mobil besar yang sedang bermuatan material tambang galian golongan C. Kerusakan jembatan mengalami rusak sedang karena hanya beberapa jembatan yang dapat ditemui di Kelurahan Gunung Sarik. Disepanjang akses jalan hampir semua tidak adanya sistem drainase, hal ini menyebabkan limpasan air hujan tidak berjalan lancar dan ketika limpasan air hujan menggenangi akses jalan menyebabkan terjadinya kerusakan jalan terutama ketika mobil besar melewati jalan tersebut.
Hal ini diperkuat dengan wawancara bersama ketua RT 02 Kelurahan Gunung Sarik, pada tahun 2013 Pemerintah Daerah sudah pernah melakukan perbaikan jalan pada ±2-3Km dari lokasi tambang galian golongan C.
Dilihat dari keadaan sekarang jalan yang sudah pernah diperbaiki ini rusak kembali. Menurut ketua RT 02 sebaiknya jalan di Kelurahan ini seharusnya terbuat dari aspal beton, karena berapa kalipun pemerintah memperbaiki jalan dengan aspal biasa kalau mobil-mobil besar pengangkut material melewati jalan ini maka jalan tersebut rusak kembali.
Senada dengan pendapat Risyanto, et al (2001) Jalan merupakan
fasilitas untuk mempelancar perhubungan antar daerah. Jalan juga menunjang arus pertukaran barang dan manusia, misalnya mempermudah untuk mencapai daerah tujuan dan penukaran barang untuk kebutuhan sehari-hari.
Raden, et al (2010) Dalam pembuatan jalan, Iebar dan kemiringan jalan harus sesuai dengan yang direncanakan sehinggga hambatan-hambatan dalam pengangkutan material mineral dapat diatasi dan tingkat keamanan pengguna jalan lebih terjamin. Untuk pembuatan jalan dapat dilakukan dengan menggunakan bulldozer.
Dampak kondisi fisik merupakan dampak yang ditimbulkan oleh adanya aktivitas pertambangan pada kondisi pencemaran pada air, udara, polusi suara,kerusakan jembatan dan jalandi sekitar wilayah pertambangan Pertiwi, (2011) dalam Apriyanto, (2012).
Kerusakan jalan yang disebabkan oleh kegiatan pertambangan baik pengangkutan keperluan pertambangan seperti alat berat maupun kebutuhan bahan bakar juga turut memberikan dampak negatif terhadap kondisi fisik di daerah pertambangan.
Kedua, selain menimbulkan dampak pada kerusakan infrastruktur akibat aktivitas tambang galian golongan C 96,67%masyarakat menjawab aktivitas tambang galian golongan C juga menimbulkan pencemaran udara,yaitu pencemaran udara akibat asap kendaraan mobil besar pengangkut material dan pencemaran oleh debu disepanjang akses jalan. Dari jawaban masyarakat 88,89%
mengatakan pencemaran asap pada mobil besar sangat dirasakan oleh masyarakat yang tinggal sepanjang akses jalan.
Sedangkan 94,45% masyarakat
menjawabpencemaran udara yang paling sering dirasakan adalah udara berdebu.
83,43% masyarakat mengatakan udara yang berdebu kondisinya parah, hal ini dapat dibuktikan 66,66%dari jawaban masyarakatudara berdebu tersebut menibulkan penyakit. Penyakit yang paling banyak diderita adalah ISPA (Inspeksi Saluran Pernapasan Akut).
86,66% masyarakat mengatakan pencemaran udara sangat menggangu aktivitas sehari-hari khususnya yang berprofesi sebagai pedagang disepanjang akses jalan. Namun Sebagian besar masyarakat menjawab 74,75%mengtakan bisa mengatasi pencemaran udara yaitu dengan menyiram dengan air.
Berdasarkan hasil penelitian pencemaran udara terjadi akibat asap kendaran mobil pengangkut material tambang galian golongan C dan akibat udara berdebu. Pencemaran udara akibat asap kendaraan mobil pengangkut material terjadi ketika mobil-mobil besar tersebut beroperasi pada pagi hingga sore hari. Peraturan bagi penambang galian golongan C dilarang menambang pada saat musim hujan. Sedangkan pencemaran udara berdebu terjadi sisa- sisa tanah yang diangkut oleh mobil pengangkut material tersebut berserakan dijalan kemudian jalan tersebut dilalui oleh mobil-mobil besar dan kendaraan lainnya. Pencemaran udara juga menimbulkan penyakit, dilihat pada tahun 2014 di Puskesmas Belimbing penyakit yang paling dominan yang diderita oleh pengunjung adalah ISPA (Inspeksi Saluran Pernapasan Akut) yaitu berjumlah 2.469 orang, data ini diperoleh dari Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungn dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL). Selain itu
pencemaran udara sangat menganggu aktivitas masyarakat di Kelurahan Gunung Sarik, sebab hampir semua masyarakat yang tinggal disepanjang akses jalan berprofesi sebagai pedagang (Dokumen Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan UKL-UPL, 2015).
Senada dengan pendapat Niode, (2013) Selain berdampak pada kondisi fisik,aktivitas tambang bahan galian golongan C juga menimbulkan dampak terhadap lingkungan yaitu pencemaran udara oleh debu yang dihasilkan dari aktivitas penambangan bahan batu dan tanah timbun. Debu yang dihasilkan ini dapat menggangu pekerja tambang dan masyarakat sekitar penambangan yang sering dilewati oleh truk-truk pembawa batu dan tanah timbun.
Substansi pencemaran yang terdapat di udara dapat masuk ke dalam tubuh melaui sistem pernapas. Jauhnya penetrasi zat pencemar kedalam tubuh bergantung kepada jenis pencemar.
Partikulat berukuran besar dapat tertahan disaluran pernafasan bagian atas, sedangkan partikulat bagian kecil dan gas dapat mencapai paru-paru. Dari paru- paru, zat pencemar diserap oleh sistem peredaran darah dan menyebar keseluruh tubuh. Dampak kesehatan yang paling umum dijumpai adalah ISNA (infeksi saluran pernafasan atas), termasuk diantaranya, asma, brongkitis, dan gangguan pernafasan lainnya. Beberapa zat pencemar dikategorikan sebagai toksik dan karsinogenik (Mustakin, 2012).
Ketiga, lokasi tambang galian golongan C di Kelurahan Gunung Sarik Kecamatan Kuranji merupakan daerah perbukitan atau memiliki kelerengan. Hal
ini menyebakan daerah tersebut berpotensi terjadi bencana erosi. Dari jawaban masyarakat 44,45% bencana erosi terjadi pada kawasan tambang galian golongan C, yaitu terjadi pada musim hujan. 7,78% masyarakat mengatakan tingkat bencana erosi tersebut parah, 13,34% bencana erosi sampai ketempat tinggal penduduk, dan 8,88% genangan air saat musim hujan sampai ketempat tinggal penduduk.
Masyarakat yang menjawab bertempat tinggal dekat dengan lokasi tambang galian golongn C atau masyarakat yang merasakan langsung bencana erosi tersebut. Bencana erosi juga berdampak pada lingkungan sekitar, hal ini dibuktikan dari jawaban masyarakat 55,10% mengatakan bencana erosi menimbulkan kerusakan yaitu terjadi kerusakan pada lahan pertanian52,22%, kerusakan lahan pertanian yang terkena dampak erosi berada dekat dengan lokasi tambang galian golongan C. 42,23% dari jawaban masyarakat pada saat musim panen dari 10 karung yang seharusnya dipanen menjadi 3 karung yang bisa di peroleh dan pemerintah tidak bersedia mengganti rugi hasil panen yang berkurang tersebut.
Berdasarkan peneliti terhadap masyarakat tentang bencana erosi, bencana terjadi akibat aktivitas tambang galian golongan C. Namun tidak semua masyarakat terkena dampak dari bencana erosi tersebut, masyarakat yang terkena dampak bencana erosi yaitu masyarakat yang tinggal dekat dengan kawasan tambang galian golongan C yaitu sekita sekitar ±100m. Biasanya erosi terjadi pada saat musim hujan, apalagi hujan yang turun sangat lebat dan terus menerus. Hal ini berdampak pada lahan
pertanian yang berada dekat dengan kawasan tambang galian golongan C, yaitu berkurangnya hasil panen dari 10 karung yang seharus di panen menjadi 3 karung. Namun kerugian petani pemerintah tidak mengganti rugi, karena bencana erosi terjadi pada saat musim hujan. Area persawahan yang terkena dampak erosi juga sedikit, karena hanya berada dekat dengan kawasan tambang galian golongan C.
Dampak yang ditimbulkan oleh bencana erosi ini tidak terlalu luas, lokasi yang terkena erosi Menurut Undang- Undang Nomor 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan, pengrusakan lingkungan adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung/ tidak langsung terhadap sifat fisik dan atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan. Salah satu indikator kerusakan lingkungan adalah erosi. Erosi adalah proses berpindahnya tanah atau batuan dari satu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah akibat dorongan air, angin, atau gaya gravitasi.
Proses tersebut melalui tiga tahapan, yaitu pelepasan, pengangkutan atau pergerakan, dan pengendapan.
Bahaya erosi banyak terjadi di daerah-daerah lahan kering terutama yang memiliki kemiringan lereng sekitar 15 % atau lebih . Keadaan ini sebagai akibat dari pengelolaan tanah dan air yang keliru, tidak mengikuti kaidah- kaidah konservasi tanah dan air dan tanah. Yakin A, (2004) dalam Yudishtira, et al (2011) erosi mempunyai dampak negatif terhadap usaha pertanian/
perkebunan maupun diluar pertanian.
Dampak utama erosi terhadap pertanian
adalah kehilangan lapisan atas tanah yang subur, berkurangnya kedalaman lahan, kehilangan kelembapan tanah dan kehilangan kemampuan lahan untuk menghasilkan tanaman yang menguntungkan.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkanuraian pada deskripsi data dan pembahasan data diatas dapat diambil kesimpulan bahwa:
1. Dampak aktivitas tambang galian golongan C di Kelurahan Gunung Sarik kecamatan Kuranji kota Padang dilihat dari kondisi infrastruktur yaitu banyak masyarakat mengatakan terjadinya kerusakan pada akses jalan akibat mobil-mobil besar pengangkut material dari aktivitas tambang galian golongan C.
2. Masyarakat di Kelurahan Gunung Sarik mengatakan terjadi pencemaran udara. Pencemaran udara dalam kondisi yang parah, hal ini biasanya terjadi pada musim panas. Pencemaran udara tersebut berasal dari asap kendaraan mobil pengangkut material maupun udara yang berdebu. Dampak dari pencemaran udara menimbulkan penyakit yaitu ISPA (Inspeksi Saluran Pernapasan Akut) dan pencemaran udara menganggu aktivitas sehari-hari khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang.
3. Lokasi aktivitas tambang galian golongan CKelurahan Gunung Sarik berada pada daerah perbukitan.
Material yang diambil yaitu dari
penggerukan tanah bukit. Pada derah ini saat musim hujan rawan terjadinya bencana erosi. Daerah yang terkena dampak erosi yaitu
±100m. Salah satu dampak erosi adalah dlingkungan tempat tinggal masyarakat tergenang air, selain itu dampak erosi juga terjadi kerusakan pada lahan pertanian.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan diatas maka peneliti memberikan saran sebagai berikut:
1. Bagi masyarakat dikelurahan Gunung Sarik Kecamatan Kuranji Kota Padang untuk memperhatikan dampak yang terjadi pada di sekitar lingkungan akibat aktivitas tambang galian golongan C yang akan membuat kerugian pada diri masyarakat maupun secara fisik.
2. Bagi pemerintah daerah agar memberikan masukan tentang dampak yang ditimbulkan akibat aktivitas tambang bahan galian golongan C baik dari segi infrastruktur, kesehatan maupun bahaya yang ditimbulkan dari kawasan lokasi tambang seperti bencana erosi
3. Dapat menjadi acuan dan tolak ukur bagi pemerintah dan instasi terkait untuk mengetahui keberadaan aktivitas tambang galian golongan C dan tanggapan dari masyrakat dikeluarahan Gunung Sarik Kecamatan Kuranji sehingga dapat mengambil kebijakan dalam menetukan arah pembangunan masyarakat yang akan mendatang.
4. Sebagai bahan masukan bagi peneliti selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Apriyanto, Dedek (2012). Dampak Kegiatan Pertambangan Batubara Terhadap Kondisi Sosialekonomi Masyarakat Di Kelurahan Loa Ipuh Darat, Tenggarong, Kutai Kartanegara.
Skripsi. Kutai kartanegara:ITB.
Diakses 20 Maret 2016
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian suatu pendekatan praktek. Jakarta. Rineka Cipta.
Dinas Sosial Kota Padang. (2012). Profil kota padang. Jurnal:Padang.
Diakses 22 januari 2016
Dyahwanti N, Inarni. (2007). Kajian Dampak Lingkungan Kegiatan Penambang Pasir Pada Daerah Sabuk Hijau Gunung Sumbing Di Kabupaten Temanggung.
(Tesis):Universitas Diponegoro Semarang.Diakses 15 februari 2016
Hakim R, Maryana. (2013). Model Pengelolaan Lingkungan Pertambangan Batu Kapur Terhadap Potensi Kerusakan Lingkungan Dan Sikap Masyarakat Di Gunung Jaddih Desa Parseh Kecamatan Socah Kabupaten Bangkala. Sripsi Pendidikan Geografi. Bangkalan:
Jurusan Pendidikan Geografi.
Diakses 20 Maret 2016
Juliana. (2013). Dampak Penambangan Batu Cadas Terhadap Lingkungan Fisik di Wilayah Desa Banjarasem Kecamatan
Serikit Kabupaten Buleleng.
Skripsi (Undiksha Singaraja) Kustantini, Diana (2014). Pentingnya
Konservasi Tanah Pada Pengelolaan Kebun Sumber Benih Kopi (Jurnal). Surabaya:
BBPPTP. Diakses 5 maret 2016 Lestari, dkk. (2008). Analisis Vegetasi di
Lahan Bekas Penambangan Timah Desa Rebo Kabupaten Bangka. Jurnal pertanian. (Vol. 2 No. 2). Halm 1. Diakses 20 Maret 2016.
Mustakim, Rahman. (2012). Dampak Pencemaran Udara Dan Solusinya. Artikel pencemaran lingkungan. Bandung. Diakses 25 Mret 2016
Najib, dkk. (2009). Kajian Kelayakan Kegiatan Pertambangan Galian Golongan C Di Kecamatan Cepogo Kaupaten Boyolali.
Jurnal teknik. (Vol.30 No.2).
Halm 136. Boyolali: Program Studi Teknik geologi Undip.
Diakses 20 Maret 2016
Niode, Amelia. (2013). Dampak Aktivitas Penambangan Bahan Galian Golongan C Pada Kondisi Lingkungan Masyarakat Desa Pilohayanga BaratKecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo.
(Skripsi). Gorontalo: Universitas Negeri Gorontalo. Diakses 15 februari 2016
Pohan, Nurhasmawati (2002).
Pencemaran Udara Dan Hujan Asam. Medan: Universitas Sumatra Utara (USU). Diakses 5 maret 2016
Puspa, Dara (2014). Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK). Artikel
planologi. Jogyakarta:UGM.
Diakses 5 maret 2016
Raden, dkk (2010). Kajian Dampak Penambangan Batubara Terhadap Pengembangan Sosial Ekonomi Dan Lingkungan Dikabupaten Kutai Kartanegara.
Laporan penelitian. Badan Penelitian Dan Pengembangan Daerah Kutai Kartanegara.
Diakses 15 februari 2016
Rissamasu dkk et al. (2012).
Pengelolaan Penambangan Bahan Galian Golongan C Di Kabupaten Merauke. Laporan
penelitian. Badan
PengembanganDaerah Kabupaten Merauke
Risyanto, dkk. (2001). Identifikasi Kerusakan Lingkungan Akibat Penambangan Bahan Galian Golongan C Dikecamatan Paciran Kabupaten Lamongan Dan Kecamatan Panceng Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur. Laporan penelian.
Yogyakarta: UGM. Diakses 20 Maret 2016
Saputro S, Ery. (2009 ). Analisis Tingkat Bahaya Erosi (Tbe) Pada Lahan Kering Tegalan Di Kecamatan Tretep Kabupaten Temanggung.
Skripsi geografi. Semarang:
UNNES. Diakses 20 Maret 2016.
Sucipto. (2007) Analisis Erosi Yang Terjadi di Lahan Karena Pengaruh Kepadatan Tanah.
Jurnal Teknik Sipil.(vol. 12 No.1). Hlm. 51. Semarang: UNS.
Diakses 5 maret 2016
Sudjana, dkk (2007) Penelitian dan Penilaian Pendidikan, Bandung:
Sinar
Sugiyono. 2014. Statika Untuk Penelitian. Bandung. Alfabeta Suprapto J, Sabtanto. (2010). Tinjauan
Reklamasi Lahan Bekas Tambang dan Aspek Konservasi Bahan Galian. Jurnal kelompok program penelitian konservasi: Almahera.
Diakses 20 maret 2016
Sulton, Ali. (2011). “Dampak Aktivitas Pertambangan Bahan Galian Golongan C Terhadap Kondisi Kehidupan Masyarakat Desa Cipinang Kecamatan Rumpin Kabupaten Bogor Jawa Barat (Skripsi). Bandung:IPB. Diakses 15 februari 2016
Wibowo, Mardi. (2003). Teknologi Konservasi Untuk Penanganan Kawasan Resapan Air Dalam Suatu Daerah Aliran Sungai.
Jurnal teknologi lingkungan.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi:Jakarta. Diakses 20 Maret 2016
Yudhistira, dkk. (2011).Kajian Dampak Kerusakan Lingkungan Akibat Kegiatan Penambangan Pasir Di Desa Keningar Daerah Kawasan Gunung Merapi. Jurnal ilmu lingkungan. (Vol. 9). Halm 77.
Semarang: UNDIP. Diakses 20 Maret 2016