S
udah hampir dua tahun belakangan ini, bis yang mem-bawa peziarah dilarang untuk memasuki kawasan Jabal Magnet, lantaran banyak terjadi kecelakaan di lokasi tersebut. Sebenarnya Jabal Magnet ini baru ditemukan oleh pihak Saudi lima tahun yang lalu, hingga kemudian menjadi salah satu destinasi ziarah kota Madinah bagi peziarah. Tiba-tiba tersiar larangan berkunjung ke lokasi tersebut, sementara para peziarah penasaran dan ingin tahu tentang fenomena tersebut, yang bisa membuat kendaraan berjalan sendiri (mesin dimatikan) padahal jalanannya menanjak.Akan tetapi larangan tersebut hanya berlaku bagi bis yang berasal dari sebuah perusahaan, dan bagi sopir yang bukan warga lokal, karena dari pengalaman selama saya menjadi peziarah di kota suci, saya selalu bisa mendatangi lokasi tersebut dengan tanpa kendala jika menggunakan bis non-perusahaan dan sopir dari warga lokal. Butuh nyali yang sangat besar untuk bisa ke Jabal Magnet, karena resiko
bagi yang melanggar tiada ampun. Jika menggunakan bis perusahaan, maka perusahaannya akan mendapat denda dengan jumlah yang sangat besar dari pemerintah Saudi. Sementara jika sopirnya bukan warga lokal, maka izin tinggalnya akan dipermasalahkan.
Meski bisa mengeksplor Jabal Magnet dengan melihat langsung bagaimana bis yang saya tumpangi bisa tetap berjalan dengan mesin yang mati, namun di hati terdalam menyimpan rasa deg-degan, takut bakal terkena masalah. Khawatir ada polisi di sepanjang jalan antara kota Madinah-Jabal Magnet, yang tiba-tiba memberhentikan perjalanan kami. Namun untungnya, kami semua aman-aman saja tanpa kendala.
Setahu saya, pihak pemerintah Arab Saudi selalu me-nerapkan aturan yang sering berubah-ubah, bahkan pe-rubahan aturan tersebut datang dengan dadakan dan ‘menakutkan’. Tidak hanya larangan ke Jabal Magnet saja yang menjadi aturan baru, tapi juga berlaku bagi peziarah yang ingin mengunjungi Museum Masjidil Haram (Ka’bah).
Dulu-dulunya, terdapat aturan bagi peziarah yang ingin mengunjungi museum dengan membayar tiket, kemudian aturan tersebut berubah menjadi gratis, dan setahun belakangan ini, aturan awal pun kembali diberlakukan. Bedanya, tiket masuk tersebut tidak lagi diberlakukan per-kepala, tapi per-rombongan dengan biaya SR. 200 . Namun mengacu pada kalimat, “Tak ada aturan yang dilanggar”, maka yang namanya manusia selalu saja mencari celah gratis,
yaitu dengan membuat surat bertanda tangan Muassasah (sponsor) dari Arab Saudi.
Akhirnya, saya pun membuat surat ke Muassasah dua hari sebelum berkunjung ke Museum. Setelah ditanda tangani, surat tersebut saya berikan pada pihak Museum. Bukti jika surat tersebut telah disetujui oleh pihak Museum, yaitu dengan memberikan tanggal dan waktu, kapan saya dan rombongan bisa berkunjung ke Museum.
Ternyata, usut punya usut aturan membayar uang tiket masuk museum adalah hoax dan akalakalan para sopir bis saja. Biaya tersebut bukanlah untuk tiket masuk Museum, namun untuk membayar jasa sopir bis yang telah membuatkan surat, lalu meminta tanda tangan Muassasah, kemudian diberikan ke pihak Museum untuk mendapatkan izin kunjung. Artinya, aturan yang dite-tapkan oleh pihak Saudi, harus ada pemberitahuan ter-lebih dahulu ke pihak Museum berupa surat, agar bisa menentukan jam kunjung, dan tidak terjadi bentrok dengan rombongan peziarah lainnya. Dulunya, Museum tersebut seringkali terlihat penuh dengan peziarah, hingga tidak maksimal dalam mengeksplor Museum.
Aturan lain yang tak kalah hebohnya adalah diterbitkan sebuah aturan mengenai visa umroh bagi peziarah yang mendatangi kota suci lebih dari satu kali dalam tiga tahun selanjutnya. Misalnya, jika saya ke sana di bulan Januari, maka saya masih dikenakan biaya visa regular dengan harga normal, namun jika saya kembali melakukan perjalanan ke
tanah suci di bulan Maret (di tahun yang sama atau pada dua tahun kemudian) maka saya akan dikenakan visa progresif dengan harga visa normal, ditambah dengan membayar biaya SR. 2000 / orang, yang jika di kurs-kan ke rupiah menjadi Rp. 7.500.000 / orang (2017). Akhirnya bagi ayah dan ibu yang bertugas sebagai pembimbing ibadah umroh di setiap kali keberangkatan, selalu dikenakan biaya visa progresif.
Tudak butuh waktu lama, aturan tersebut kemudian berubah, bahwa visa progresif hanya berlaku pada satu tahun saja. Artinya, jika tahun depan saya ke tanah suci lagi, maka saya tidak akan dikenakan visa progresif, namun jika berangkat di tahun yang sama, maka saya tetap dikenakan visa progresif.
Begitulah aturan di Saudi. Selalu berubah-ubah, dan dadakan. Maka tak jarang pula saya mendengar keluh kesah para perantau Indonesia di Saudi, lantaran merasa dirugikan dengan kebijakan pemerintah Saudi yang selalu berubah dan serba dadakan itu. Misalnya saja aturan tentang denda pelanggaran lalu lintas. Tiba-tiba saja biaya denda naik empat kali lipat secara mendadak. Namun apa yang bisa dilakukan oleh para perantau, selain hanya pasrah mematuhi aturan tersebut, demi keselamatan dan keamanan hidup mereka di negeri orang.
Saya jadi berpikir, bukankan kenyataan hidup itu juga tak bisa di prediksi dan sering berubah dengan tiba-tiba. Lalu bagaimana seharusnya menghadapinya? Jika yang di hadapi saja sering berubah, apakah kita juga tidak ingin berubah?
Sangat mengerikan menjadi pribadi yang kaku dalam menghadapi hidup yang berubah-ubah itu. Setidaknya, kita memiliki banyak ‘alternatif ’ dalam hidup, agar tidak menjadi orang ‘kagetan’ ketika semuanya berubah dengan tiba-tiba. Tentu saja, ‘alternatif ’ itu hanya bisa didapatkan dengan pengalaman yang kaya dan teruji, karena terkadang masalah hidup tak selamanya buruk, tapi justru menjadi berkah.