T
ak ada rencana ke China Town. Mungkin saya adalah tipe orang yang tidak suka merencanakan perjalanan, kecuali mencari tiket pesawat dan hotel. Biasanya setelah saya benar-benar tiba di kota atau negara yang saya kun-jungi, baru mulai mencari informasi, seperti tempat mana saja yang harus saya kunjungi. Tentu saja, tipe seperti itu ada baik-buruknya. Buruknya adalah ketika melakukan perjalanan tanpa perencanaan, akan banyak mengeluarkan uang melebihi budget, juga bisa mengahabiskan waktu dengan sia-sia. Sementara baiknya, bisa mendapatkan pengalaman yang tak terduga. Selama kita siap menerima segala kemungkinan yang akan terjadi, maka semuanya akan baik-baik saja. Dan saat melakukan perjalanan ke Singapura, saya benar-benar tidak membuat perencanaan. “Pokoknya nyampe Singapura dulu, trus cari hotel, dan baru mengeksplornya”Setibanya di Bandara Changi Singapura ternyata di pintu keluar bandara banyak brosur dan peta lengkap yang boleh
diambil secara gratis. Di salah satu brosur itu terdapat destinasi wisata yang wajib dikunjungi lengkap dengan bagaimana kita bisa tiba di destinasi tersebut. Kesempatan itu tak akan saya sia-siakan. Saya pun mengambil brosur dan peta sebanyak-banyaknya, dan setibanya di hotel, saya segera membaca brosur satu persatu dan mulai merencanakan perajalanan mengelilingi Singapura keesokan harinya.
Salah satu destinasi perjalanan saya ketika di Singapura adalah China Town, karena menurut informasi yang saya terima, bahwa di China Town terdapat pasar yang bisa mendapatkan oleh-oleh khas Singapura dengan harga yang sangat terjangkau. Maka segeralah saya menuju China Town dengan menggunakan Metro (kereta api cepat bawah tanah).
Setelah keluar dari Stasiun China Town, ternyata saya disambut langsung oleh pasar yang tidak hanya menjual oleh-oleh, tapi juga menjual berbagai macam jajanan kaki lima. Nurani pun riang, lantaran saya paling doyan berkuliner, nyobain semua makanan ‘aneh’ dan ‘lucu’. Sejak memasuki pasar, saya langsung membeli jajanan di sepanjang jalan sambil melihat ‘oleh-oleh’ yang dijual oleh beberapa toko. Sesekali saya belanja, dan sesekali cuma ngeliatin barang-barang yang harganya bikin dahi mengerut. Hingga sampailah saya di tengah pasar China Town, yang terdapat sebuah kuil dan museum. Kebetulan ada rombongan anak sekolah yang juga ingin masuk museum, sehingga saya pun bisa gabung dengan mereka, sayangnya ada aturan di dalam museum, yaitu tidak boleh memotret.
Tak banyak yang bisa saya peroleh dari museum, karena di dalamnya tidak jauh berbeda dengan kuil lainnya. Lagipula tempatnya tidak begitu luas, sehingga saya memilih untuk keluar museum lebih dulu, sementara rom-bongan anak sekolah, masih asyik mengelilingi museum. Saya meneruskan aksi memotret di luar museum, hingga kemudian aksi saya terhenti lantaran melihat keramaian. Tanpa berpikir panjang, saya pun mendekati segerombolan orang yang sedang mengelilingi pedagang es krim, yang ternyata menjual es krim dengan bentuk yang ‘aneh’. Aneh bagi saya, lantaran baru kali ini melihat bentuk es krim seperti itu, yaitu es krim berbentuk segi empat yang kemudian di ampit dengan dua biscuit seukuran es krim, dan saya pun tak sabar untuk membelinya.
Selain bentuk es krim yang membuat saya tertarik, wajah dan karakter si penjual es krim jauh tak kalah menariknya untuk saya jadikan objek memotret. Si penjual es krim adalah seorang pria yang umurnya sudah lumayan tua. Kira-kira umurnya 70 tahunan, namun tubuhnya terlihat kuat meski keriput mendominasi tubuhnya. Ingin rasanya saya berbincang dengan si penjual es krim, dan tentu saja, saya harus menunggu hingga pembeli sepi.
Saya tetap berada di dekat si penjual es krim sambil memotret sekeliling. Saking lamanya menunggu pembeli sepi, saya membeli es krim untuk kedua kalinya, dan si penjual hanya tersenyum melihat wajah saya, hingga akhirnya kesepatan untuk berbincang dengan penjual es krim pun terwujud juga.
Namun sayang sekali, pak tua penjual es krim itu tidak begitu fasih berbahasa Inggris, sehingga kami berdua mengalami kesulitan berkomunikasi. Katanya, ia hanya bisa bahasa Cina, dan sangat sedikit bisa berbahasa Inggris. Ia akan berbahasa Inggris hanya ketika memberitahukan harga es krimnya dan memberikan uang kembalian ke pembeli. Itupun sambil menggunakan jari tangannya, untuk menyakinkan para pembeli mengenai angka. Mendengar ucapannya, saya hanya bisa menelan ludah kering lantaran tidak bisa berbincang, namun tak henti-hentinya saya mengagumi wajahnya yang selalu tersenyum, dengan mata keriput yang indah.
Sambil menikmati es krim terakhir, saya duduk di depan museum (kuil) dan berbincang bersama nurani dan otak. Bagaimana Singapura yang luas negaranya seluas Jakarta, namun lebih modern dari Indonesia? Apakah lantaran Singapura lebih terbuka bagi para imigran yang datang dari berbagai negara, untuk tinggal di negaranya, bahkan dengan senang menamai daerahnya sesuai dengan negara para imigran, -seperti China town, misalnya- sehingga para imigran seperti tinggal di kampung halamannya, yang bebas beraktivitas dan bersaing di dunia bisnis ? Bukankah kemajuan ekonomi bermula dari daya saing yang signifikan antar para pelaku bisnis ?
Seandainya kota Pamekasan ini seperti Singapura. Karena selama saya tinggal di Pamekasan, terasa seperti tinggal di Eropa abad ke-16, dimana elite agama (gereja) mendominasi ilmu pengetahuan, hingga banyak ilmuwan yang menemukan
teori pengetahuan baru, harus mengorbankan nyawanya. Siapapun yang berinovasi di berbagai bidang, selalu mendapatkan hambatan dari pihak elite agama, sehingga dirinya tidak bisa maju dan berkembang, begitu juga dengan kotanya. Sama halnya di Pamekasan, yang secara politis dikuasai oleh tokoh agama (kyai) yang sedikit-sedikit melarang, sedikitsedikit haram, sehingga masyarakat yang memiliki potensi di bidang ekonomi kreatif atau memiliki pemahaman baru tentang dunia, tidak menemukan muaranya, dan terbuang begitu saja. Maka wajar jika hal tersebut berdampak pada perkembangan kotanya yang ‘begini-begini’ saja. Bisakah saya bermimpi tinggal di sebuah kota yang jauh lebih terbuka melebihi Negara Singapura?