S
ebelum berangkat ke Singapura, saya mencari infor-masi di internet, tentang bagaimana saya mendapatkan hotel murah di sana, dan metemukan informasi, bahwa di Little India, saya bisa mendapatkan hotel murah ala back-packer. Maka setelah keluar Bandara Changi dan melewati imigrasi, saya segera mencari info rute ke Little India, dan ternyata transportasi yang paling mudah dan efektif menuju Little India adalah dengan menggunakan metro, atau kereta api bawah tanah.Ketika tiba di Stasiun Metro yang berada di luar Bandara Changi, saya membeli sebuah kartu sebagai tiket yang bisa dipakai untuk naik berbagai transportasi di Singapura, baik metro maupun bis. Kartu tersebut memiliki jangka waktu. Bisa sehari, dua hari, atau satu minggu untuk para turis, dan karena bakal hanya dua hari di Singapura, maka saya membeli kartu yang berjangka waktu dua hari.
yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Singa itu. Sistemnya tidak jauh beda dengan KRL (kereta dalam kota) Jakarta. Maka ketika Metro tiba, saya pun langsung masuk dan duduk dengan santai. Di dalam Metro, saya hanya clengak-clinguk seperti orang bodoh lantaran semua orang sibuk dengan dirinya sendiri. Sibuk dengan HP-nya masing-masing, sibuk dengan bukunya sambil mendengarkan musik lewat earphone, dan sibuk dengan kantuknya. Meskipun ada yang bersama teman, namun mereka malah sibuk sendiri-sendiri. Apakah di dalam kereta memang dilarang ngobrol ya? Semuanya bisu tak ada suara. Saya yang dari tadi ingin sekali berbincang dengan orang di sekitar, malah jadi segan dan enggan. Padahal saat itu, banyak hal yang ingin saya tanyakan tentang rute perjalanan di Singapura.
Untung saja, di dalam kereta terdapat informasi nama-nama stasiun berbentuk peta, yang menyala di setiap Stasiun, di atas pintu masuk kereta. Informasi itu seperti yang ada di KRL Jakarta, sehingga saya bisa mengetahui, berapa stasiun lagi yang akan saya lewati hingga tiba di stasiun Little India.
Sayangnya, petunjuk yang saya dapatkan dari internet mengenai lokasi hotel murah di Little India, tidak semudah realitanya. Saat keluar dari Stasiun, saya hanya bisa memandang sekeliling sambil bertanya pada nurani, bagaimana saya bisa menemukan hotel di sini, sementara saya tidak bisa mengakses internet lantaran belum beli sim card baru, dan saya terjebak di deretan ruko-ruko. Akhirnya meski tidak punya tujuan, saya memutuskan untuk terus
berjalan, menghindari sikap seperti orang bingung, agar tidak mengundang para penipu yang biasa para backpacker alami di negara lain. Katanya, penipu akan mendatangi turis turis yang sedang kebingungan, karena sikap bingung itu merepresentasikan orang yang baru datang pertama kali di negara tersebut, dan berpotensi untuk ditipu atau dirampok.
Setelah hampir 15 menit jalan ke sana-sini, tanpa bertanya pada orang sekitar, akhirnya saya menemukan sebuah hotel yang tertulis, ‘for backpacker’. Otak dan nura-ni saya seketika kegirangan, lantaran lelah yang saya rasakan, akan segera beristirahat. Tanpa berpikir panjang lagi, saya masuk ke dalam hotel dan menemui resepsionis. Untungnya masih ada kamar, meski kamar bertipe dorm (asrama), yaitu satu kamar dengan enam kasur dalam tiga ranjang atas-bawah, dengan kata lain, dalam satu kamar, terdapat enam orang yang tidak saling mengenal. Bagi saya yang pernah menjadi santri di pesantren, yang biasa hidup susah dan bisa berbagi, hal itu tidak menjadi masalah, bahkan salah satu keuntungan melakukan backpacker seorang diri, bisa berkomunikasi dengan turis lainya tanpa sibuk sendiri dengan sahabat.
Ternyata di kamar itu hanya tinggal satu kasur yang belum terisi, dan itu adalah kasur saya. Beruntung saya mendapatkan kasur bagian bawah, agar tidak perlu naik-turun tangga ranjang saat keluar kamar. Saya pun langsung berkenalan dengan para penghuni kamar itu yang semuanya perempuan. Ada dua perempuan ber-sahabat berasal dari Kanada, dan sudah lima hari di hostel itu. Tiga lainnya sama seperti saya,
datang seorang diri. Dua diantaranya berasal dari Belanda, dan satu orang berasal dari Spanyol yang baru datang hari itu juga. Setelah saling mengenalkan diri, saya pamit untuk mandi, di kamar mandi yang letaknya ada di luar kamar, lantaran merasa tidak enak dengan bau badan.
Setelah mandi, dan berganti pakaian saya pun berkeliling sekitar hotel dengan berjalan kaki. Apalagi perut saya keroncongan sedari tadi, dan harus segera diisi. Jadi, destinasi pertama yang saya tuju adalah restoran. Sambil mencari restoran, saya benar-benar menikmati suasana sekitar hotel di Little India dengan tak henti-hentinya memotret aktivitas orang-orang yang sedang berbelanja di toko sayur, yang sedang nongkrong di warung kopi, dan bahkan yang sedang berdesakan di sebuah toko emas. Otak saya pun tergelitik, kenapa yang mengerumuni toko emas itu adalah para lelaki? Bukankah kalau di Pamekasan, kota kelahiran saya, justru para perempuan yang mengerumuni toko emas? Saya hanya memotret peristiwa yang bagi saya hal itu sangat aneh, kemudian pergi melanjutkan perjalanan mencari restoran.
Akhirnya saya tahu mengapa daerah itu diberi nama Little India. Hal itu lantaran sejauh mata memandang, semuanya adalah India. Dari orang-orangnya, toko pakaiannya, pasarnya, tempat ibadahnya, bahkan restorannya. Maka mau tidak mau, saya pun masuk ke dalam restoran India dan makan makanan India. Berhubung saya tidak tahu nama makanan India, maka saya hanya menunjuk ke salah satu turis yang sedang makan di restoran tersebut pada si pelayan,
“Saya ingin pesan makanan seperti itu….”, lalu si pelayan menggeleng-gelengkan kepalanya petanda oke, karena dalam tradisi India, menggeleng-gelengkan kepala ke atas ke bawah bermakna ‘iya’, sementara menggelengkan kepala ke kanan ke kiri, bermakna ‘tidak’.
Tidak lama kemudian, pelayan itu datang membawa pesanan saya, yang ternyata porsinya lumayan banyak. Mata saya sempat mendelik dan hati saya berteriak, bagaimana saya bisa menghabiskan makanan sebanyak itu? Seketika saya melihat sekitar, namun tidak satu pun mata yang memandang ke arah saya. Jangan-jangan porsi sebanyak itu memang sudah menjadi lumrah di sana? Tapi oke lah, toh perut saya memang sangat lapar, apa salahnya saya makan sebanyak ini, meski pada akhirnya saya pun tidak mampu menghabiskannya.
Kemudian saya melanjutkan perjalanan menikmati suasana malam di Little India, dan menuju tempat ibadah yang letaknya di pinggir jalan. Sebelum masuk, seorang petugas mengingat saya, agar tidak memotret di dalam rumah ibadah. Saya pun memberinya jempol petanda oke. Si petugas mempersilahkan saya masuk, dimana di dalamnya terdapat banyak orang yang sedang melaksanakan ritual ibadah. Tentu saja, saya hanya bisa duduk di dekat pintu masuk sambil mengamati perilaku mereka dalam beribadah.
Rumah ibadah tersebut tidak cukup luas hingga saat itu tak mampu menampung jumlah peziarah yang begitu banyak. Pandangan saya pun sering terhalang oleh banyaknya orang yang melintas di depan saya, ketika ingin mengamati
cara mereka beribadah dan bagaimana para ‘ustadz’-nya berperilaku. Terkadang otak saya ter-gelitik manakala melihat peziarah memberikan uang pada pendeta setelah melaksanakan ritual ibadahnya. Apakah uang tersebut untuk para pendeta, atau untuk biaya operasional rumah ibadah? Kalau memang untuk si pendeta, enak banget ya jadi pendeta? Tidak perlu kerja keras, cukup dengan menjadi pendeta saja, semua kebutuhan hidupnya bisa terpenuhi.
Tidak kurang dari 30 menit, saya pun keluar dari rumah ibadah, dan berjalan pulang menuju hotel. Sepanjang perjalanan pulang, lagi-lagi otak dan nurani saya saling berbincang, mengapa banyak orang India tinggal di Singapura? Apa yang ditawarkan oleh Singapura, hingga mereka rela meninggalkan Tanah Airnya? Apakah sama yang saya rasakan, ketika lebih memilih tinggal di Jakarta, daripada Pamekasan, tempat kelahiran saya? Atau apakah juga sama yang saya rasakan ketika memutuskan pulang kampung (Pamekasan) dan meninggalkan Jakarta? Semua itu bukan tentang ‘mencari apa’, tapi tentang ‘menghindari sesuatu’.