• Tidak ada hasil yang ditemukan

Senandung Sutera

Dalam dokumen Novie Chamelia. Sulur Pustaka (Halaman 161-167)

T

iba saatnya hari dimana saya akan melanjutkan per-jalanan ke Singapura dengan menggunakan kereta api, setelah puas mengelilingi Malaysia dengan berkun-jung ke beberapa rumah kerabat yang menjadi tenaga kerja, baik yang legal maupun ilegal. Menurut info di internet, saya bisa membeli tiket kereta api di KL (Kuala Lumpur) Center. Maka saya segera bergegas ke KL Center dengan menggunakan monorail dari Chokit, tempat saya menginap.

Saya sedikit mengalami kebingungan mencari loket penjualan tiket kereta api di KL Center, yang begitu luas, yang merupakan pusat transportasi di Malaysia. Setelah bertanya sana sini, akhirnya saya pun menemukan loket-nya. Saya membeli tiket kereta api Senandung Sutera jurusan Singapura yang berangkat pukul 11 malam dengan kelas chair train (kursi). Tadinya pengen dapat tiket kelas sleeper train (tempat tidur), namun ternyata sudah full. Harga tiket kelas kursi hanya RM 25, sementara harga untuk kelas sleeper

RM 45, dan karena saya kadung membeli tiket pesawat PP Surabaya-Kuala Lumpur, maka saya pun membeli tiket PP kereta api Kuala Lumpur-Singapore. Untungnya, kereta api dari Singapura­Kuala Lumpur dapat kelas Sleeper.

Di blog yang saya baca, menyarankan untuk membeli tiket kereta api PP dari Malaysia, dengan alasan harga lebih murah. Jika membeli tiket kereta api dari Singapura, maka harganya $45 (dolar Singapura, 450.000) sementara jika beli tiket kereta api dari KL seharga RM 45 (Ringgit: 135.000). Kebetulan saya hanya ingin menghabiskan waktu dua hari di Singapura untuk sekedar berjalan-jalan saja.

Sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta api ke Singapura yang masih kurang lebih 5 jam lagi, maka saya pun mengusir jenuh dengan berjalan-jalan di pertokoan sekitar KL Center. Kebetulan terdapat banyak toko yang menjual pakaian dan makanan khas India, yang membuat saya begitu excited dengan sedikit melakukan wisata kuliner, dan belanja santai.

Satu jam sebelum keberangkatan, saya sudah berada di ruang tunggu stasiun sambil mengistirahatkan kedua kaki yang begitu lelah berjalan mengitari pertokoan. Hingga tidak lama kemudian kereta api yang saya tunggu pun tiba. Saya segera memasukinya, setelah memastikan pada seorang satpam apakah kereta itu benar-benar kereta yang akan membawa saya ke Singapura. Dan Saya tidak begitu kesulitan mencari gerbong atau nomor kursi milik saya, karena sistemnya tidak jauh berbeda dengan tiket kereta api

di Indonesia, yang sudah tertulis pada tiket.

Saya lebih menyukai menggunakan kereta api daripada transportasi lainnya di Indonesia, terutama kelas ekonomi, karena di sana saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa, seperti bertemu dan berbincang dengan banyak orang. Sementara kereta api kelas bisnis atau eksekutif, kebanyakan penumpangnya berasal dari kalangan kelas menengah atas, yang lebih memilih main gadget daripada ngobrol. Banyak pengalaman berharga selama saya menaiki kereta api ekonomi, dari yang duduk di toilet, duduk dan tidur di atas koran, sampai berdiri dari Yogyakarta sampai Jakarta, lantaran tiak dapat kursi, sampai bertemu dengan orang-orang yang menggetarkan hati. Untungnya saat ini, sistem pelayanan kereta api di Indonesia sudah mengalami kemajuan yang signifikan, yang tidak lagi menerapkan tiket tanpa kursi. Ada banyak perubahan yang terjadi di kereta api Indonesia saat ini. Seperti larangan merokok, AC untuk kelas ekonomi, dan tersedianya ‘colokan’ listrik, sehingga kelas ekonomi yang sebelumnya dijadikan sebagai ajang ‘silaturahmi dadakan’, kini berubah sepi lantaran para penumpang mulai sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Hal itu pun juga terjadi di kereta api Senandung Sutera yang saya naiki, namun sepinya bukan lantaran sibuk dengan gadget, tapi karena jumlah penumpangnya yang tidak banyak, sehingga tidak seorang pun yang bisa saya ajak berbincang. Lagipula saat itu hampir tengah malam, sehingga semua penumpang memilih untuk lang-sung tidur, begitu juga dengan saya.

Perjalanan menuju Singapura ditempuh selama 7,5 jam, dan diperkirakan akan tiba di Singapura jam pukul 06.30, dan alangkah kagetnya ketika tiba-tiba saya dibangunkan oleh seorang petugas yang membawa seekor anjing. Dengan berbicara bahasa Inggris, si petugas meminta saya untuk turun dari kereta api untuk melakukan pemeriksaan paspor. Segera saya berdiri dari kursi dengan perasaan takut dan kaget menuju pintu gerbong. Saat saya melihat ke sekeliling, ternyata hanya tinggal saya saja yang belum keluar gerbong. Pantesan si petugas membawa anjing. Saya pun jadi sial! Lantaran buka mata, langsung disuguhkan wajah anjing pelacak hitam dengan lidah yang menjulur.

Setelah melakukan pemeriksaan paspor dan ransel di stasiun Johor Bahru, yang merupakan perbatasan antara Malaysia dan Singapura, saya dan penumpang lainnya kembali masuk ke dalam kereta api dan melanjutkan perjalanan ke Singapura. Entah setelah kejadian itu, saya pun sulit memejamkan mata kembali. Lagipula tidak lama kemudian, saya pun sudah tiba di Stasiun Singapura.

Di stasiun Singapura, saya mulai mengantri bersama para turis lainnya untuk pemeriksaan paspor, dan seperti lazim terjadi di setiap imigrasi, baik di Stasiun maupun di bandara, selalu terjadi drama. Misalnya, ada seorang turis yang ketahuan membawa barang-barang terlarang, atau terjadi cekcok dengan petugas imigrasi lantaran urusan paspor, yang saya sendiri tidak tahu penyebabnya, karena ‘mereka’ yang bermasalah kemudian digiring masuk ke sebuah ruangan

introgasi. Kejadian itu sempat membuat saya deg-degan, meski saya tidak melakukan kesalahan apa­apa.

Dari beberapa negara yang saya kunjungi, sepertinya hanya imigrasi di stasiun Singapura yang paling ketat. Saat tiba giliran saya diperiksa, berkali-kali si petugas melihat wajah saya dengan sinis tanpa senyum sambil mencocokkan foto di paspor saya. Kemudian si petugas bertanya, berapa hari di Singapura, apa nama hotel selama tinggal di Singapura, dll. Petugas juga meminta tiket kepulangan saya untuk mengkonfirmasi data. Untung, semuanya sudah saya siapkan sehingga akhirnya saya diperbolehkan untuk memasuki Negara Singapura.

Keesokan harinya pada pukul 23.00, saya kembali menggunakan kereta api menuju Malaysia, namun proses pemeriksaan paspor tidak serumit saat memasuki Negara Singapura. Setibanya di Stasiun Johor Bahru, lagi-lagi saya harus melakukan pemeriksaan paspor saat memasuki negara Malaysia. Bedanya dengan perjalanan sebelumnya, saat itu saya mendapatkan kereta api kelas Sleeper upper bed (kasur bagian atas), sehingga setelah melewati peme-riksaan paspor, saya langsung tidur dengan nyenyak lantaran kelelahan setelah mengelilingi kota Singapura dengan berjalan kaki.

Saya tidak tahu, mengapa setiap negara menerapkan aturan yang begitu ketat bagi orang asing ketika memasuki negaranya. Apakah ini bagian dari cara mereka untuk melindungi negaranya, atau justru untuk membatasinya? Apakah jika seseorang menerapkan aturan dalam interaksi

sosialnya secara ketat, seperti memilah-milih pertemanan, juga bisa dikatakan sebagai upaya melindungi dirinya? Jika iya, melindungi dari hal apa? Bukankah yang dilindungi adalah sesuatu yang rentan?

Dalam dokumen Novie Chamelia. Sulur Pustaka (Halaman 161-167)