M
eski berkali-kali mengelilingi ka’bah, baik saat melakukan ritual thawaf atau hanya sebatas melak-sanakan solat wajib di Masjidil Haram, tidak pernah ter-bersit dalam hati untuk mencoba menyentuh hajar aswad, yaitu batu hitam yang terletak di salah satu ujung ka’bah, yang diyakini sebagai benda keramat, lantaran menjadi pijakan awal Sang Nabi saat melakukan ritual thawaf. Selain itu, konon batu hajar aswad juga diyakini sebagai batu surga yang turun dari langit. Dua alasan itulah yang oleh sebagian umat muslim ingin menyentuhnya, meski nyawa menjadi taruhan dengan ikut berdesakan-desakan.Melihat lautan manusia yang berdesakan ingin me-nyentuh hajar aswad dengan saling menyikut satu sama lain saja membuat saya begitu ngeri melihatnya. Apalagi sampai membayangkan bisa menyentuh hajar aswad yang notabene butuh energi yang kuat untuk bisa menembus lautan manusia tersebut. Laskar (polisi) yang berdiri di atas hajar aswad
terlihat tampak kesal dan kelimpungan mengatasi perilaku manusia yang terkadang terkesan anarkis, hanya untuk ingin menyentuh hajar aswad tersebut.
Salah satu peziarah pernah berkisah padaku, bahwa ia sudah sebelas kali menyentuh hajar aswad. Mendengar kisahnya seketika membuat dahi saya mengerut dan nurani berbisik, “Masa’ iya sih? Hebat banget nih orang”. Lalu saya iseng bertanya padanya, “Pasti saat Dhuha ya Bapak menyentuh hajar aswadnya? Kan saat itu ka’bah lagi lenggang?” Si bapak menjawab, “Tidak! Bahkan setiap selesai solat wajib, saya pasti langsung menyentuh hajar aswad.” Hati saya semakin melongo, “Ga susah ya, Pak?” Dengan entengnya si Bapak menjawab, “Gak, Neng, gampang banget kok. Sekali masuk, langsung nyentuh,” Jawaban sang bapak yang memanggil saya dengan sebutan ‘Neng’ ini semakin membuat otak rumit saya penasaran. “Caranya gimana, Pak? Kan ramai banget tuh disana? Kok Bapak bisa gampang?” Lagi-lagi si Bapak dengan entengnya menjawab, “Gak begitu ramai kok, Neng. Biasa saja.” Lalu saya bertanya lagi, “Caranya gimana, Pak?” si Bapak mulai berkisah, “Seperti biasa. Setelah saya melaksanakan solat, saya mendekati lengkungan yang berada di dekat ka’bah. Sebelum masuk ke lengkungan itu, saya menyentuh hajar aswad dulu. Kan gak jauh tuh dari lengkungan itu”
Akhirnya saya paham, yang dimaksud dengan hajar aswad versi si bapak itu adalah Maqom Ibrahim yang letaknya tak jauh dari lokasi Hijr Ismail (lengkungan). Hijr Ismail diyakini oleh sebagian umat muslim sebagai tempat pengabulan doa. Biasanya, banyak orang yang berebutan untuk bisa
masuk ke Hijr Ismail untuk melaksanakan solat sunnah dua rakaat dan dilanjutkan dengan doa. Konon siapapun yang melaksanakan solat sunnah di dalam Hijr Ismail, berarti sama dengan melaksanakan solat di dalam ka’bah (rumah Allah).
Sementara Maqom Ibrahim yang berbentuk seperti sangkar burung itu terdapat jejak telapak kaki yang diya-kini milik nabi Ibrahim, terletak di belakang lengkungan Hijr Ismail. Siapa pun bisa menyentuh Maqom Ibrahim tanpa susah payah, bahkan sambil melaksanakan ritual thawaf. Hingga saat ini, saya tidak tahu, mengapa banyak orang yang ingin menyentuh Maqom Ibrahim, bahkan disertai dengan perilaku yang sedikit unik. Ada yang setelah menyentuh Maqom Ibrahim, langsung mengusapkan sen-tuhan tersebut ke seluruh tubuhnya. Ada pula yang membentur-benturkan kepalanya, dan ada juga yang mengusapmengusap kain miliknya di Maqom Ibrahim tersebut.
Entah apa yang mereka yakini tentang Maqom Ibrahim tersebut. Tapi melihat perilaku aneh para peziarah, mem-buat sang penanggung jawab Masjidil Haram, mengutus dua laskar untuk menjaga Maqom Ibrahim tersebut dari tingkah laku aneh dan anarkis para peziarah. Mungkin karena melihat perilaku peziarah sedemikian itulah yang membuat si bapak (peziarah) menyakini bahwa Maqom Ibrahim itu adalah hajar aswad. Maka setelah melaksanakan ritual thawaf untuk ke sekian kalinya, saya mengajak si bapak ke dekat hajar aswad, dan menunjukkan bahwa itulah hajar aswad sesungguhnya. Lalu sang bapak berujar, “Wah kalau yang itu, saya gak berani,
Neng. Emang mau cari mati?”
Suatu ketika, saat saya melaksanakan solat di dalam Hijr Ismail, seorang perempuan paruh baya yang duduk tepat di sebelah saya, menepuk pundak saya sambil berbisik, “Tolong bantu saya, Dek. Saya ingin menyentuh hajar aswad”, saya pun kaget sembari memberitahukan resikonya, “Ibu bisa mati kalau ke sana.” Sambil menunjuk hajar aswad yang tak pernah sepi dari amukan massa berebutan untuk bisa menyentuh hajar aswad. Tapi sang ibu, yang tidak pernah saya tahu namanya itu, tetap ngotot, “Gak apa-apa, Dek. Saya sudah ikhlas. Saya sudah niat. Pokoknya saya harus bisa menyentuh hajar aswad”. Saya pun mengalah dan bertanya kembali, “Lalu apa yang bisa saya lakukan untuk Ibu?” Sang ibu pun memberitahukan strateginya pada saya, yaitu dengan mendorongnya dari belakang lalu memberi tumpuan untuk bisa naik melewati kepala orang agar bisa meneyentuh hajar aswad.
Meski strategi itu terasa cukup aneh di kepala, namun saya pun mengangguk dan bersedia menolongnya. Kami berdua meninggalkan Hijr Ismail dari sebelah kanan dan tetap berdekatan dengan ka’bah. Setelah mendekati ujung ka’bah yang terdapat hajar aswad, si ibu memberi saya aba-aba dengan mata yang berkedip untuk mendorongnya dari belakang dengan tenaga cukup keras. Tak peduli siapa yang tersungkur, pokoknya saya terus saja mendorongnya. Lalu si ibu kembali memberi saya sebuah kode untuk mem-bungkuk, dan menjadikan kedua tangan saya sebagai tumpuan untuk naik ke atas melewati kepala orang-orang yang sudah berada
tak jauh dari hajar aswad.
Setelah si ibu itu berada di atas kepala para peziarah, pandangan saya pun menjadi bengong melihat atraksi sang ibu bak Spiderman yang merayap di atas kepala ke kepala yang lain, hingga kemudian saya melihat sang ibu melambaikan tangan petanda untuk segera menariknya. Saya pun dengan sigap segera menarik tangannya ke belakang. Setelah mendapatkan sang ibu dengan selamat, spontan saya bertanya, “Gimana, Bu? Berhasilkan menyentuh hajar aswad?” Si ibu tersenyum dan mengajak saya ke bela-kang untuk menghindari lautan manusia yang sedang melaksanakan thawaf. Kemudian ia langsung sujud syukur dan saya masih bengong. Setelah bersujud, sang ibu pun berkata, “Makasih ya, Nak. Tadi saya tak hanya menyentuh hajar aswad, tapi juga bisa menciumnya. Sekali lagi, makasih ya, Nak. Rasanya, sempurna sudah ibadah umrah saya kali ini”.
Saya hanya tersenyum dan pamit pulang kembali ke hotel. Selama perjalanan pulang, otak rumit saya pun mulai memantul-mantul mencipta tanya. Apakah men-cintai Rasulullah itu memang harus begitu? Apakah sempurnanya sebuah ibadah harus menjadikan nyawa sebagai taruhan dan tidak memperdulikan orang di sekitar dengan menyikut dan menyakitinya?