• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berjudi dalam Taksir

Dalam dokumen Puthut EA – Ekspedisi Cengkeh (Halaman 176-182)

S

etahun sudah Pak Tini (41) berada di kampung halamannya, Oro Gading, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, setelah lima tahun, sejak 2007 silam, bekerja sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Sarawak, Malaysia. Hasil bekerja di negeri jiran ia gunakan untuk membangun rumah beton, sisanya ia pakai sebagai modal usaha barunya: pappaja’ cengkeh.

Pappaja’ adalah istilah yang lazim digunakan untuk merujuk pada orang yang menawar harga cengkeh petani langsung dari pohonnya. Jika penawaran disepakati, maka cengkeh itu segera menjadi tanggungan sang pappaja’. Sejak itu, pappaja’ akan menghadapi sejumlah kendala. Mereka berada dalam perjudian permainan menaksir dan menghadapi harga pasar yang tak menentu.

Pak Tini adalah pemain baru dalam ‘perjudian’ ini. Modalnya kecil, hanya Rp 10 juta. Jauh sekali jika dibandingkan dengan pappaja’ lain yang ada di desanya. Pappaja’ yang sudah berpengalaman bertahun-tahun bermodal sampai ratusan juta rupiah. Pengalaman Pak Tini juga mutlak tak ada, hanya bermodal keberanian. Jika Pak Tini mappaja’ (menaksir) harga sekitar 30 pohon di lahan yang tepat berada di belakang rumahnya, maka pappaja’ besar dan berpengalaman mappaja’ bisa sampai empat dan lebih lahan cengkeh. Biasanya juga, daerah mappaja’ mereka sampai ke luar desa atau kabupaten. Pappaja’ besar dan berpengalaman itu di antaranya adalah Jamaluddin (45) dan Andi Bakri (41). Mereka berdua masih berasal dari desa yang sama dengan Pak Tini: Oro Gading. Desa tersebut memang dikenal sebagai daerah para pappaja’. Contohnya, Puang Bako, panggilan sehari-hari Andi Bakri. Ia punya beberapa keluarga di desa itu yang juga menjadi pappaja’.

Berjudi Dalam Taksir | 149

Panen cengkeh di Oro Gading, Kindang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, September 2013.

M U H A M M A D I M R A N

Puang Bako menjadi pappaja’ sejak tahun 2005. Pengalaman pertamanya dimulai saat mappaja’ di Kabupaten Bantaeng, daerah yang juga menghasilkan cengkeh. Puang Bako sendiri berasal dari daerah Kabupatan Bantaeng. Modalnya ia dapatkan dari pedagang besar: 400-an juta rupiah. Memang kebanyakan pappaja’ mengambil modal dari pedagang besar yang mereka sebut ‘Bos’. kepada Bos itulah mereka menyerahkan hasil mappaja’.

Jamaluddin juga pappaja’ besar dan sudah berpengalaman sebagaimana Puang Bako. Hanya saja ia masih relatif baru, mulai tahun 2007 silam. Pria dengan panggilan Pak Jama’ ini mengelola modal juga dari ‘Bos’nya di Bulukumba. Awalnya ia mengelola modal sebesar 50-an juta. Tahun-tahun berikutnya ia mulai dipercaya mengelola modal ratusan juta rupiah.

***

Pappaja’ adalah pekerjaan yang tegang antara ‘kalah’ atau ‘menang’. Maka dibutuhkan seni tersendiri untuk menang dan menghindari kekalahan, begitu pengakuan Pak Jama’.

Proses negosiasi pertama antara pappaja’ dengan petani adalah menentukan harga taksiran. Di tahap inilah permainan itu dimulai. Seorang pappaja’ mestilah memperhatikan benar taksiran jumlah buah cengkeh pada satu pohon. Misalkan, satu pohon ia taksir ada 200 liter. Maka ia akan menawar di bawah jumlah tersebut, katakanlah 150 liter. Berarti sisa 50 liter bakal menjadi keuntungannya. Itu pun jika petani sepakat dengan tawaran mappaja’ cengkehnya dengan taksiran tersebut. Misal, jika satu liter cengkeh di atas pohon seharga Rp 5.000 pada saat kesepakatan dibuat, maka pappaja’ menyerahkan uang ke petani sebanyak Rp 750.000.

Persoalan menjadi kacau jika taksiran si pappaja’ ternyata salah. Ia akan menanggung kerugian. Belum lagi jika saat harga tiba-tiba turun drastis, maka pappaja’ menderita kerugian lebih besar. Baik Pak Jama’ maupun Puang Bako pernah mengalami hal ini.

“Kerja pappaja’ ini memang untung-untungan. Umpamanya, saya beli 30 juta cengkeh petani. Habis saya petik, harga turun, misalnya 35.000 per kilo. Saya sudah beli dan taksir di atas pohon 45.000 per kilo. Berarti saya rugi 10.000 per kilo. Satu ton berarti rugi 10 juta,” terang Pak Jama’.

pekerja. “Tapi petani dalam hal ini tetap tak dirugikan. Mereka masih bisa bilang ‘Untung saya jual cepat’. Untung-untungan. Tapi kalau pun pappaja’ untung misalnya dua juta, petani tetap bisa bilang: ‘Biar mi, uang dua juta itu pun kalau sama saya pasti hancur juga,” terang Pak Jama’.

Meski pun pappaja’ bisa salah taksir, namun hal itu jarang terjadi. Bagi pappaja’ dengan modal besar, kerugian karena salah taksir biasanya tertutupi oleh keuntungan dari taksiran di lahan lain. “Misalnya, saya bisa saja salah taksir di satu lahan, katakanlah rugi satu juta. Tapi saya untung di lahan lain sebanyak tujuh juta. Berarti saya masih untung total enam juta,” kata Puang Bako.

Satu-satunya hal yang paling bisa menjadi ancaman besar bagi

pappaja’ untuk merugi adalah harga pasar. Pak Jama’, Puang Bako dan Pak Tini mengakui hal tersebut. Mereka bertiga belum punya strategi jitu untuk mengatasi persoalan harga pasar ini. Puang Bako sendiri saat ini, sedang resah. Persoalannya: modalnya belum kembali, sementara harga cengkeh mulai menurun lagi, belum ada tanda-tanda akan naik.

***

Kecamatan Kindang dikenal sebagai salah satu penghasil cengkeh terbanyak di Kabupaten Bulukumba. Beberapa desa penghasil

cengkeh di kecamatan ini di antaranya adalah Oro Gading, Gantarang, Kelurahan Borrong Rappoa, dan lain-lain. Ahmad Lulu, mantan Kepala Desa Borrong Rappoa menjelaskan, cengkeh pertama kali masuk di Kecamatan Kindang pada tahun 1972.

Muhammad Hatta dan Pak Bussara, dua warga Desa Batu Rappa, Kelurahan Borrong Rappoa, menjelaskan, cengkeh ini dibawa oleh pemerintah, dan dibagikan gratis kepada penduduk. “Dulu kalau ada yang tak bersedia menanam cengkeh, ia akan disebut PKI (Partai Komunis Indonesia),” jelas Pak Bussara.

Bertahun-tahun kemudian, cengkeh menyesaki lahan-lahan pertanian penduduk. Ia dianggap membawa perubahan besar. “Era 80-an, ‘Haji Cengkeh’ mulai dikenal pertama kali di Kecamatan Kindang. Bayangkan, saat itu, sekali musim haji, sampai tujuh kloter,” terang Ahmad Lulu.

Di balik kesuksesan petani cengkeh itu, pappaja’ memainkan perannya sendiri. Lazim di daerah Kelurahan Borrong Rappoa petani menjual cengkeh mereka ke pappaja’. Ada beberapa alasan, sebagaimana

dijelaskan Muhammad Hatta. “Pertama itu, soal kurang tenaga. Petani tak punya cukup tenaga buat memetik seluruh pohon cengkehnya.” Pak Jama’ senada dengan Hatta. “Sebab kalau terlambat dipetik, cengkeh bisa rusak. Tahun depan bisa tidak berbuah. Kalau terlalu tua baru dipetik, bisa lambat perputaran buahnya tahun depan.”

Selain itu, jelas Bussara, juga disebabkan petani sedang sangat membutuhkan uang. Alasan lain, disebutkan Pak Tini, karena jarak lahan si pemilik dengan rumahnya jauh. Pohon cengkeh yang dipaja’ Pak Tini --yang berada tepat di belakang rumahnya-- adalah milik seorang pegawai negeri yang berada di desa tetangga.

Hubungan pappaja’ dan petani cengkeh ini tidaklah tegang. Hatta dan Bussara mengaku pappaja’ cukup membantu petani. Tak ada masalah serius. Terjadi simbiosis-mutualisme. Meski begitu, di Desa Oro Gading, warga pernah mengalami kejadian yang menempatkan mereka sebagai korban. Pada 2008 silam, datang pappaja’ dari luar kabupaten. Ia menaksir cengkeh masyarakat, tapi saat merugi, ia melarikan diri tanpa membayar penuh cengkeh milik warga. Sejak saat itu, warga tak mau lagi memaja’ cengkeh mereka tanpa dibayar tunai. Tapi itu hanya berlaku buat pappaja’ dari luar. Pak Jama’ dan Puang Bako mengaku masih membayar cengkeh warga dalam dua tahapan. Itu dimungkinkan, karena mereka adalah warga Oro Gading sendiri, dan sudah dipercaya oleh sesama warga setempat.

***

Begitulah proses mappaja’. Sejak tawaran harga pappaja’ diterima petani, maka sejak itu pappaja’ memulai kerja kerasnya. Pappaja’ menyiapkan sejumlah pekerja untuk memetik saat panen tiba. Para pekerja itu dibayar per liter. Baik Pak Jama’ dan Puang Bako sama- sama membayar pekerja mereka Rp 2.500 per liter. Pak Jama’ memiliki 15 pekerja, Puang Bako punya 20 pekerja. Pak Jama’ mempekerjakan orang dari Oro Gading sendiri, sedangkan pekerjanya Puang Bako didatangkan dari Kabupaten Bantaeng. Para pekerja itu mereka inapkan di rumah mereka, ditanggung segala konsumsinya. Pappaja’ masih harus mengeluarkan sejumlah uang untuk

menanggung peralatan seperti tangga dari bambu, dan tali untuk mengikat bambu. Setiap peralatan ini digunakan untuk satu musim saja. Musim cengkeh berikutnya harus diganti dengan yang baru. Pencatatan dilakukan pappaja’ dengan rapi. Ada waktu tertentu di

mana mereka harus segera mengirimkan hasil produksi cengkeh kepada Bos. Jika terlambat, maka modal tidak berputar. Cengkeh yang mereka serahkan kepada Bos berupa cengkeh basah. Tidak dikeringkan. Tapi ini hanya berlaku bagi pappaja’ yang dimodali oleh pedagang besar. Tak berlaku buat pappaja’ dengan modal sendiri seperti Pak Tini. Ia bebas membawa cengkehnya ke pedagang besar mana saja. Ia juga bebas menjualnya dalam keadaan basah atau kering. Berbagai macam cara pappaja’’untuk memperbesar keuntungan atau mengantisipasi kerugian. Salah satu caranya adalah dengan mengambil modal dari beberapa Bos. Tapi ini jarang terjadi. Besar risikonya. “Bisa-bisa ia tidak diberikan modal lagi oleh Bos,” jelas Pak Jama’.

Berjudi Dalam Taksir | 153

Ada juga kasus yang disebut ‘leper’ atau di’pihak-ketiga’kan. Pak Jama’ pernah melakukannya. “Tahun lalu (2012) saya paja’ cengkeh Rp 22.500.000. Memang saya dapatkan terlalu murah. Lalu pihak ketiga masih menganggapnya murah harga yang disetujui. Jadi ia mau mengambilnya dengan harga di atasnya,” kata Pak Jama’.

Panjang perjalanan pappaja’ dalam usahanya untuk ‘menang’ dalam menaksir dan menghadapi harga pasar. Sementara saat para pappaja’ bertarung dengan seni menaksir dan menghadapi harga pasar tak tentu, petani sibuk membelanjakan uang hasil mammaja’ mereka untuk keperluan dan kebutuhan rumah tangga. v M U H A M M A D I M R A N

Dua orang petani cengkeh di Oro Gading, Kindang, Bulukumba, mulai memanen hasil tanaman mereka yang sudah dibeli secara ijon oleh seorang pappaja’.

Saudagar Unyil:

Dalam dokumen Puthut EA – Ekspedisi Cengkeh (Halaman 176-182)