• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cengkeh & Tradisi Merantau di Nusa Laut

Dalam dokumen Puthut EA – Ekspedisi Cengkeh (Halaman 81-88)

Nusa Laut kucinta

Beribu pohon cengkeh di sana

Itu hasil terutama dari kami di Nusa Laut … Oh, Nusa Laut, sudah jauh

Anyo-anyo dipukul ombak Pulau emas yang tak kulupa Hingga akhir kututup mata

(Pulau Emas, ciptaan N.N)

M

erantau menjadi tradisi yang mengakar dalam kehidupan masyarakat di Pulau Nusa Laut. Sebagai salah satu pulau penghasil cengkeh di kawasan Lease, kebiasaan bepergian ini punya hubungan erat dengan rempah-rempah tersebut.

Jangan kira bahwa kekayaan setiap kepala keluarga di Nusa Laut diukur dengan luas kebun atau berapa batang cengkeh yang mulai berbuah. Derajat kebanggaan setiap rumah di pulau ini ditakar dari jumlah anak yang berangkat merantau, baik demi menuntut ilmu maupun untuk bekerja. Wajar bila orang-orang berumur 30 tahun ke bawah yang tinggal di pulau ini sekarang tinggal empat orang

saja. Sebagai gambaran kecil, Negeri Sila yang dihuni 84 keluarga, diperkirakan berdiaspora sampai 600 keluarga yang bersebaran di Kota Ambon dan berbagai tempat lain di Nusantara.

Meski demikian, cengkeh menjadi penopang utama kehidupan yang berkaitan dengan semua itu. Bagi yang bersekolah, biaya pendidikan mereka yang dikirim oleh orangtua mereka dari Nusa Laut berasal dari hasil panen cengkeh. Setiap panen, Albert Soselissa (65) yang memiliki sekisar 60 batang cengkeh, menyimpan antara 30-40 karung untuk keperluan seperti itu. Dalam perkiraan pensiunan Dinas Kehutanan Maluku ini, setiap kepala keluarga di Nusa Laut rata-rata memiliki 20-25 batang. Pohon yang berbuah setahun sekali ini memang menjadi penopang utama kehidupan warga Nusa Laut, namun sandang pangan sehari-hari berasal dari buah berladang dan tangkapan melaut.

Albert kini tinggal bertiga dengan istri dan seorang cucunya yang bersekolah di bangku SMP. Keempat anaknya, di Ambon dan

Saparua, sudah berkeluarga. Pada pertemuan keluarga dalam suasana Natal, Albert selalu membagikan cengkeh kering tabungannya kepada cucu-cucunya --sebagai sebentuk angpao, hadiah hari raya. “Kami lebih suka memberi cengkeh ke tiap cucu. Nilai cengkehnya lebih besar daripada kalau dikasih uang. Tapi yang sekolah kita utamakan. Kalau sudah dibagikan semua [ke cucu], terus ada yang bilang ‘Saya mau bayar ini dan itu di sekolah’... Ya, masing-masing pemberian itu kita kasih tahu ke setiap anak kalau akan ambil sedikit-sedikit untuk menambahkan ke kakak sepupunya yang mau bayar uang sekolah tadi,” jelas Albert.

Albert, mantan Raja Negeri Sila 2003-2009, mengatakan, semua itu dilakukannya karena, “Ingat pesan datuk-datuk dulu bahwa cengkeh pemberian para datuk bukan untuk foya-foya dan bukan untuk cekcok,” tambahnya.

Tradisi merantau berjalinan juga dengan pengobatan tradisional menggunakan cengkeh. Kebiasaan bepergian orang-orang Nusa Laut, salah satunya, ke Pulau Seram untuk babalu (pukul sagu) rupanya membawa malaria, demam yang kerap dihubungkan dengan jazirah itu. Sudah biasa orang-orang tua Nusa Laut mengobati penderita malaria dengan memasak daun cengkeh secukupnya sampai airnya mendidih. Si penderita dipulihkan dengan bermandi uap dan harus ditutup rapat-rapat, biasanya menggunakan sarung, agar bisa memancing keringat sang penderita. Begitu keringatnya

Cengkeh & Tradisi Merantau di Nusa Laut | 55 keluar, orang sakit tersebut dimandikan lagi menggunakan air rebusan tadi. Cengkeh juga menjadi obat bagi sakit kepala penderita malaria, yakni dengan cara mengunyah cengkeh lalu menyemburkan ke kepala si penderita.

Negeri Sila merupakan sentrum adat dan gereja di Nusa Laut. Soselissa, nama marga pewaris kepemimpinan raja, bermukim di dalam negeri ini, sekaligus tempat berdiri Gereja Eben Haezer, gereja tertua di Maluku yang berdiri pada tahun 1715, titimangsa berdasarkan prasasti yang ditemukan setelah lama terkubur di bawah mimbar kala dipugar tahun 1932.

Sejarah awal Nusa Laut pun demikian --cengkeh menjadi bumbu utamanya. Berdasarkan cerita para tetua yang didengar Albert, bahwa negeri-negeri di pulau ini awalnya berada di gunung-gunung. Bahkan ketika moyang marga Soselissa dari Seram tiba, pulau ini dilanda perang antara Inahaha dan Inahuhu, dua bangsa awal Nusa Laut yang berdiam di pegunungan. Anak cucunya, kata Albert, lalu turun pelan-pelan bermukim di pesisir lantaran persentuhan mereka dengan bangsa Portugis dan Belanda.

Sejarah bagian berikutnya adalah cengkeh di Nusa Laut ditampung oleh Portugis di Sila. Begitu juga dengan Belanda setelah itu. Albert mengaku sering mendengar cerita, “Kakek saya dulu jadi pemerintah negeri Sila, namanya Raja Amelos. Dia satu-satunya Raja di

Nusa Laut memberontak karena tidak mau menjual cengkeh sama Belanda.”

Albert Sosellisa di depan Eben Haezer, gereja tertua di Maluku, dibangun pada tahun 1715. A N D Y S E N O A JI

Panen cengkeh di pulau kecil yang berada di ujung tenggara gugus pulau-pulau Lease ini baru berlangsung pada sekisar Oktober (masa sebagian cengkeh di Nusa Laut mulai berbunga) dan mencapai puncak pada November, tepat ketika angin laut mulai tenang dan musim kemarau sudah mulai. Siklus iklim ini berbeda dengan pulau seperti Jawa dan Sulawesi, tempat musim hujan justru mulai Oktober sampai Maret.

Wangi panenan cengkeh ini kemudian menarik iringan pedagang membawa barang-barang mereka, baik menggunakan bodi (perahu

Cengkeh & Tradisi Merantau di Nusa Laut | 57 fiber tanpa atap dan bermesin) maupun kapal feri yang setiap Selasa menyeberang ke Nusa Laut. Para pedagang menyewa rumah warga setempat dan mendapat perlindungan dari pencurian maupun perampokan. Penghuni seperti Albert akan memanggil orang-orang terdekat untuk membantu memanen, seperti Kris, menantunya yang berada di Saparua. Hasil panen mereka dibagi dua (maano).

“Kita harus berbagi berkat dengan orang lain. Karena kata orangtua kita dulu, kalau sampai terjadi musim panen yang kacau, panen bisa tertunda sampai lima atau enam tahun. Sama juga kalau ada orang Ambalau (gandong atau saudara kandung Sila) ikut panen terus dilarang --pohon yang dinaiki itu bisa jadi kering,” terang Albert. Segala yang berhubungan dengan kehidupan penghuni Nusa Laut, yang memeluk Kristen, berpanutan pada gereja, mulai menentukan dan membuka sasi (masa larangan mengambil apapun dari alam), sampai hal yang berkaitan dengan cengkeh. Mereka menunggu doa bersama sebelum panen yang dilangsungkan di gereja Eben Haezer. “Warga sini tidak akan pergi panen kalau belum berdoa bersama mengucapkan terima kasih kepada Allah dan mohon doa agar panen lancar sampai selesai, berdoa supaya tidak ada lagi yang jatuh dari pohon. Bisa juga dengan cara misalnya kita punya 20 pohon lalu kita serahkan ke gereja dua batang --satu untuk gereja satunya lagi untuk keperluan gereja yang lain,” pungkas Albert. v

Fort Bouvewijk, Nusa Laut, Lease. Saksi sejarah kejayaan cengkeh masa lalu.

A N D Y S E N O A JI

Dalam dokumen Puthut EA – Ekspedisi Cengkeh (Halaman 81-88)