• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dunia Dalam Cengkeh

Dalam dokumen Puthut EA – Ekspedisi Cengkeh (Halaman 71-77)

O

rang-orang tua di Pulau Haruku sering mengunyah cengkeh sebagai pengharum mulut menjelang berangkat beribadah ke gereja. Kebiasaan ini ada lantaran mereka menghindari mengemut kembang gula, penganan manis yang belakangan datang dari peradaban yang baru.

Dalam khasanah kuliner Haruku, cengkeh adalah bahan pengharum dan pengundang selera. Remukan cengkeh ditaburkan pada ikan yang sudah matang. Perbandingannya: 10 ikan ditabur 4 biji cengkeh remuk. Sementara dalam dunia kue-kuean, cengkeh sudah lazim. Perempuan-perempuan Haruku menumbuk cengkeh lalu diayak dan memasukkannya dalam adonan, bersama pala dan kayu manis. Dalam dunia pengobatan, ibu yang baru saja melahirkan di Haruku selalu mendapat perawatan pemulihan dari biyang (bidan kampung). Kedua pengobatan ini tetap dipakai oleh penduduk Haruku sembari menggunakan pengobatan modern.

Ada dua resep yang berkaitan dengan cengkeh. Resep pertama, bebatan untuk pinggang ibu yang baru melahirkan. Ramuan ini dibuat menggunakan daun cengkeh, pala, dan serai yang ditaruh di atas hamparan selembar handuk. Rempah-rempah itu kemudian ditangkup dengan pasir panas lalu diikat erat untuk menghindari kebocoran pasir panasnya. Resep kedua, perempuan yang baru melahirkan ditutup sarung dan menguapinya menggunakan uap panas dari rebusan daun cengkeh dan pala. Manfaat kedua ramuan itu tidak lain mengembalikan vitalitas tubuh perempuan yang baru bersalin. Ada pula resep obat cacing untuk anak-anak yang berisi cengkeh. Namun berbeda dengan obat cacing yang biasanya untuk obat dalam.

43 Salah seorang warga Negeri (Desa Haruku) di Pulau

Haruku, salah satu pulau dalam gugus Pulau-pulau Lease, Maluku Tengah, sedang memanen cengkeh dengan cara memanjat. A N D Y S E N O A JI

Resep ini adalah obat luar berupa kunyahan cengkeh, pinang, dan sirih disemburkan ke perut, punggung, dan pinggang si anak.

Selain memanfaatkan biji, warga Haruku menggunakan tangkai- tangkai kering buah cengkeh sebagai obat nyamuk bakar. Nyamuk, berkembang biak di sungai yang dirimbuni pohon sagu, banyak berkeliaran bila angin dari laut sedang tenang.

Pulau Haruku merupakan salah satu dari tiga pulau dalam gugusan yang kerap disebut Lease, berjarak sekisar 7 mil laut di timur Pulau Ambon. Sebagaimana pulau-pulau di Maluku, di Haruku tumbuh cengkeh jenis Tuni, Zanzibar, Zanzibar Pucuk Putih, Cengkeh Raja, dan Cengkeh Hutan. Konon, sejak lama orang-orang dari Pulau Seram mengambil bibit cengkeh di Haruku.

Harga Cengkeh Hutan dan Cengkeh Raja rata-rata kurang lebih separuh dari harga Tuni dan Zanzibar. Harga keduanya pada September 2013 ‘cuma’ Rp 50.000 per kilogram. Petani cengkeh Haruku, Clifford Kissya (43) mengatakan, masih banyak orang menanam dua jenis ini lantaran berbuah sampai dua kali dalam setahun. “Tapi, sepertinya, itu sebagai persiapan anak-anak mulai masuk sekolah, karena bulan Juni atau Juli Cengkeh Hutan dan Raja mulai berbuah,” kata Clif, nama panggilan Clifford.

Clif adalah petani cengkeh yang di sela waktu lowongnya membiakkan anakan cengkeh. Ketika ia mulai menggeluti pengembangan bibit, lelaki berkumis ini tak menyangka anakan cengkeh membutuhkan waktu lama. Setiap bibit membutuhkan sekisar 3 tahun dari memilih biji, membiakkannya sampai setinggi 50 centimeter, sampai menanam kembali di ladang. Tapi, kata Clif, “...cengkeh yang berumur dua tahun pun sebenarnya sudah bisa dipindahkan dan ditanam di kebun. Tapi sebaiknya menanam anakan cengkeh bila sudah tumbuh 50 cm agar jelas terlihat bila di kawasan hutan.”

Menanam cengkeh tidak boleh dilakukan di tanah atau lahan yang tergenang air. Tanaman ini lebih cocok dengan tanah yang mengandung pasir. Perbandingannya 40 pasir, 60 tanah. Begitu pula dengan sinar matahari—keteduhan dan keterikan harus berimbang. Tak heran kalau cengkeh biasanya tumbuh bersanding dengan pohon petai atau lamtorogung.

“Kalau kita lihat daun anakannya sudah berbintik coklat, itu

menandakan bibitnya sering terendam. Bisa juga karena terlalu dekat sungai seperti tempat kita sekarang,” kata Clif sambil menunjuk

sungai yang hanya 5 meter dari persemaian di kebunnya. Tapi petani cengkeh tidak perlu mengganti tanaman tersebut. Cukup menyiangi sekitar batangnya dari daun busuk dan rumput bila tiba musim hujan agar memungkinkan penguapan lebih lekas terjadi. Dengan begitu pula, daun yang berbintik akan berganti daun baru bila pertumbuhan

Tunas-tunas cengkeh baru (sekitar setahun) di pesemaian milik Cliff Kissya, salah seorang warga petani cengkeh di Haruku.

A N D Y S E N O A JI

anakan kembali sehat. Perlakuan ini juga harus terjadi pada cengkeh dewasa.

Seperti kawasan lainnya pada awal September 2013, hujan menyiram Haruku tanpa henti. Banyak petani mengurungkan panen meski

berbatang cengkeh mereka sudah layak panen. Hujan yang kebanyakan juga menghajar buah cengkeh sampai gugur. “Sementara anak-anak sekarang tidak seperti kami dulu. Mereka sudah malas ambil biji-biji jatuh,” ujar Clif.

Ancaman lain bagi cengkeh adalah ulat dan lawa-lawa (laba-laba) putih. Ulat penyebab daun cengkeh menguning ini sekilas seperti ulat sagu. Namun, kata Clif, ulat itu di dalam batang. Petani bakal kesulitan mencarinya karena tak ada lubang penanda. Berbeda dengan lawa-lawa putih penyebab daun kering karena tampak jelas jaring- jaring yang rekat di dahan dan ranting.

Clif lahir 1970. Ia merasakan sendiri bagaimana BPPC menghajar petani cengkeh. Harga cengkeh sebelum berkuasanya BPCC adalah Rp 7.500 per kilogram, turun menjadi Rp 2.000 per kilogram. Cliff ketika itu merupakan salah seorang pemuda Haruku yang menempuh pendidikan di Kota Ambon ketika harga cengkeh terjun bebas. “Uang angkutan ke sekolah waktu itu masih Rp 25 atau Rp 50. Uang jajan saya juga segitu.” kata Cliff, yang kini bertani cengkeh. “Karena BPPC, kami tidak bisa lanjut sekolah lagi. Kami tiba-tiba dilarang kuliah,” tambahnya, tertunduk.

Orangtua Clif, Eliza Kissya (64) dan Elizabeth Kissya Reiuwpassa (63), masa itu berprofesi sebagai pedagang cengkeh. Mereka membeli cengkeh seharga Rp 5.000 per kilogram, terpaksa dijual seharga Rp 2.500 per kilogram. Orangtuanya kemudian berpindah profesi. “Bapak waktu itu tanam sayur, saya menjahit karena harus membiayai enam anak yang waktu itu semuanya sudah sekolah,” terang Mama Liz, yang sampai kini masih menjahit.

Cliff mengaku, ia lebih banyak membiakkan anakan. “Waktu badan saya tambah berat, saya memilih bekerja di persemaian saja,” kata lelaki muda bertubuh subur itu tertawa terbahak.

Pemanenan cengkeh Clif sekarang diserahkan kepada kerabatnya dengan sistem bagi hasil atau gaji. Di Haruku, memilih sistem mana yang akan dipakai dan disepakati antara pemilik dan pemanen bergantung pada harga cengkeh. Bila harga cengkeh turun di bawah Rp 100.000 per kilogram, maka sistem bagi hasil yang mereka pakai. Jika harga sedang menanjak mencapai harga versi September 2013, maka sistem penggajian yang akan diberlakukan. “Dalam sistem gaji, konsumsi mereka tidak kita sediakan, diganti dengan 5-8 cupa saat terakhir panen,” terang Clif.

Cengkeh Zanzibar menjadi jenis yang banyak ditanam petani Haruku. Jenis ini hanya butuh waktu sekisar 4-5 tahun untuk

berbuah, dibanding dengan Cengkeh Tuni yang mengharuskan petani menunggu sampai 7 tahun. Namun itu bergantung pada seberapa besar hawa air laut menyentuh tanaman ini. Panen selalu dimulai dari kawasan pesisir, lalu pelan bergerak menyusur lereng dan sampai terakhir ke cengkeh-cengkeh yang tumbuh di puncak gunung atau bukit.

Sebenarnya cengkeh adalah tanaman yang baru dikembangkan oleh Clif. Ia mengaku baru menanam cengkeh pada 2002, ketika anaknya Victor Patarira Kissya lahir. Clif memelihara cengkeh sebagai bekal masa depan anak ketiganya. Menurut Clif, kelak ketika Victor sudah besar, anak lelakinya akan bertanggungjawab atas kehidupan anak dan istrinya. Anak laki-laki yang menjadi pihak yang diberi bagian lebih besar dalam sistem pewarisan yang berlaku dalam adat-istiadat Haruku.

Apakah ini berkaitan dengan pendidikan Victor kelak?

“Bukan. Justru saya memfokuskan pada bekal masa depan tadi. Karena kenyataannya, laki-laki justru yang lebih banyak tinggal di Haruku ketimbang perempuan yang kebanyakan mereka di luar Haruku karena harus bersekolah. Mungkin ini berkaitan dengan sistem pewarisan tadi, bahwa ada jalan lain bagi perempuan untuk memperoleh jaminan hidup, seperti dengan pendidikan yang tinggi,” pungkas Clif. v

Orang-orang TNS

Dalam dokumen Puthut EA – Ekspedisi Cengkeh (Halaman 71-77)