• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bertaut Kenangan di Saparua

Dalam dokumen Puthut EA – Ekspedisi Cengkeh (Halaman 43-48)

D

i dalam kawasan Lapangan Mardika, di alun-alun kota Ambon, berdiri patung Kapitan Pattimura memegang pedang dan sawalaku (perisai). Di tempat itu juga, tiga ratusan tahun silam, Belanda

menghukum gantung sang pemberontak dari Saparua itu. Sejarah tidak mencatat di mana gerangan tubuhnya dikubur ataukah dibuang usai eksekusi. Demikian pula perlakuan Belanda pada jasad Said Perintah, Anthony Reebok, dan Philip Latumahina—tiga dari beberapa orang berani yang ada dalam pasukan Pattimura. Namun, Benteng Duurstede di Pulau Saparua, 55 kilometer di timur Kota Ambon, menjadi tanda bahwa perlawanan sang Kapitan terus akan dikenang orang-orang di Maluku.

Setiap pertengahan Mei, di lapangan depan Benteng Duurstede, bocah- bocah Saparua akan menari cakalele untuk mengenang penyerangan pasukan yang dipimpin panglima bernama asli Thomas Matulessy ini, satu sergapan sore pasukan Saparua terhadap 57 bala tentara Belanda di dalam benteng. Konon tusukan mematikan itu hanya menyisakan seorang bayi, bernama Jean Lubert van den Berg, anak residen Saparua,

Gerbang utama Fort Duurstede --dibangun tahun 1676-- di atas tebing karang alami pantai Teluk Saparua, Selain sebagai benteng pertahanan, bangunan ini juga sekaligus merupakan gudang cengkeh dan pala VOC.

Bertaut Kenangan di Saparua | 17 Joanes Rudolf van den Berg. Kelak keturunannya menamai diri mereka van den Berg van Saparua. Tambahan nama belakangan itu, menurut juru kunci Benteng Duurstede, Ricko Patti (39), lantaran sang bayi diambil oleh pasukan Pattimura, dibesarkan orang setempat, lalu dikirim pulang ke Negeri Kincir Angin setelah besar.

Benteng Duurstede asalnya dibangun oleh Portugis, lalu direbut oleh Belanda. Tahun 1676, dibangun kembali oleh Arnold de Vlaming van Quos Hoorn yang dilanjutkan oleh Gubernur Jenderal Nicholas Schagnen. Di dalamnya, di bagian utara benteng, terdapat satu bangunan yang dulunya adalah gudang cengkeh dan pala, dua hasil bumi yang mengundang kedatangan bangsa-bangsa Eropa itu.

***

Cengkeh dan pala adalah dua hasil bumi utama di Saparua. Pala menjadi andalan orang Saparua ketika harga cengkeh menurun, terutama pada tahun 1992. Ketika harga cengkeh perlahan menanjak, warga kembali membersihkan pohon cengkeh mereka, setelah lama membiarkannya dijalari semak. Cengkeh dan pala bisa kita temui di warung Om Gwan, seorang pedagang Tionghoa yang bermukim di Saparua sejak dua generasi. Pada September 2013, Saparua baru memasuki tahap awal memanen cengkeh, antara lain sekitaran Siri Sori Islam. Beberapa warga memperkirakan, pada kisaran Oktober, baru memasuki puncak panen.

Memanen cengkeh di Saparua sebagaimana di kawasan Maluku dan sekitarnya menggunakan alat bantu antara lain: [1] tali plastik seukuran besi 12 inci dengan panjang sekira 30 meter. Ukuran ini ukuran sedang yang mudah untuk diikat dan dilepaskan di batang dan dahan cengkeh; [2] baju longgar agar leluasa memasukkan cengkeh hasil petikan, terutama bila pohonnya masih berukuran 10 meter; dan [3] karung yang digunakan untuk mengumpulkan dan membawa hasil panen. Mungkin hanya bentuk takaran ukuran cupa yang berbeda, yakni bekas kaleng daging, sedang di tempat lain ukuran kaleng susu kental. Harga cengkeh memakai kedua takaran itu sama saja.

Cengkeh menjadi bagian dalam kehidupan warga pulau ini, terutama untuk dunia kesehatan, dengan memasukkan daun cengkeh sebagai salah satu ramuannya. Konon, ketika teh dan gula belum masuk di Saparua, orang-orang tua di pulau ini kerap memasak daun kuning dan kering cengkeh sebagai minuman mereka.

A N D Y S E N O A JI

Ada pula tradisi beupuk (mandi uap), perlakuan khusus untuk pemulihan tubuh perempuan pasca-melahirkan. Mandi ini menggunakan sarung sebagai penangkup dan penangkap uap air yang ditaburi bebijian cengkeh agar tetap mengenai badan si perempuan. Cara yang hampir sama dilakukan bagi penderita malaria. Bedanya, uapnya dihirup oleh si penderita.

Selain mendapat tempat dalam dunia pengobatan tradisional, daun cengkeh pun tetap bernilai, kendati harganya sangat murah. Menurut Ricko, entah akan dijadikan apa, tapi daun cengkeh yang dikeringkan dulu dihargai Rp 1.000/kg. “Satu karung paling banyak naik sampai 5 kilo,” terangnya.

Panen cengkeh di Saparua banyak memunculkan cerita. Ketika terpal plastik belum dikenal, alas jemur yang dipakai warga setempat merupakan produk yang dibawa orang-orang Buton yang berlayar mengarungi Laut Banda dari Sulawesi Tenggara untuk menjual tikar daun pandan. Orang Saparua, kata Ricko, kalau sudah panen tidak minum sopi (arak lokal yang disuling dari nira kelapa), tapi mereka membeli dan menenggak berbotol-botol bir.

Sopi merupakan minuman beralkohol hasil penyulingan sadapan rambu (jantung) pohon mayang (palem nira). Minuman itu kini dihargai mahal, dikirim sampai ke Papua. Tak mengherankan jika minuman tersebut kemudian menjadi komoditas baru yang pelan- pelan menggantikan gula merah. Menurut Ricko, membuat sopi mudah dan dan harga jualnya lebih mahal ketimbang gula aren, karena dapat dibuat dalam waktu lebih singkat (sehari saja) dan bahan produksi (kayu bakar) jauh lebih sedikit.

Sebagai produk lokal, cengkeh dan sopi pun bisa dipadukan. Hasilnya, bukan sopi biasa, tetapi sopi ‘istimewa’ yang harum oleh aroma butir-butir cengkeh dan pala. Caranya, masukkan lima butir cengkeh dan tumbukan pala halus secukupnya di dalam satu liter sopi. “Konon, banyak orang menggunakannya sebagai obat pembuang angin sebelum makan, biar lebih lahap,” jelas Ricko. Rupanya, sejak lama pula orang-orang Saparua sudah mengenal rokok kretek. Meski belum bisa dilacak kapan tepatnya, tapi menurut kabar, bila panen tiba, para perokok mencampur serbuk bunga cengkeh yang sudah dikeringkan dengan tembakau. “Kata orang, rasanya nikmat, seperti ada mint-nya,” tambah Ricko.

*** A N D Y S E N O A JI

Cengkeh dan benteng sungguh bertaut kenangan di Saparua. Gudang cengkeh di dalam Benteng Duurstede masih utuh hingga kini. Bukan hanya timbunan cengkeh dan pala yang pernah disaksikan gudang tersebut. Di depan gudang terdapat lantai seluas 15 × 30 meter yang dulunya adalah bangunan kantor pejabat-pejabat VOC, satu titik tempat para punggawa kompeni bersibuk mengurus monopoli cengkeh dan mencengkeramkan kuku penjajahan di Maluku. Benteng itu kini ramai dikunjungi para pemuda Saparua untuk berakhir pekan. Sekisar Oktober atau Desember setiap tahun, Benteng Duurstede Saparua akan kedatangan tamu, yakni keturunan van den Berg van Saparua. Mereka mengunjungi benteng ini untuk mengenang nenek moyang mereka kala bertugas di sana, orang- orang yang ditugaskan untuk satu perihal: cengkeh! v

Seorang warga Negeri Siri Sori Islam, Saparua, memanen cengkeh hanya bertumpu pada ranting dan tali.

Dalam dokumen Puthut EA – Ekspedisi Cengkeh (Halaman 43-48)