UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
ABSTRAK
Peran MAS belum berfungsi terhadap kinerja manajerial. Meskipun studi Mia dan Chenhall (1994) menperoleh temuan yang menunjukkan adanya hubungan management accounting system
terhadap kinerja manajerial. Namun demikian beberapa studi memperoleh temuan adanya kecenderungan variabel kontinjensi yang melemahkan peran management accounting system disaat situasi ketidakpastian rendah. Situasi rendahnya ketidakpastian cenderung membuat management accounting system tidak berfungsi. Rumusan masalah penelitian ini adalah: (1) Apakah ketidakpastian tugas mempengaruhi besar kecilnya hubungan broadscope terhadap kinerja manajerial? Dan (2) Apakah ketidakpastian tugas mempengaruhi besar kecilnya hubungan
broadscoper terhadap kinerja manajerial? Metode pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pemilihan sampel random acak. Ukuran sampel menggunakan rumus Rao (1996) diketahui besarnya sampel sebanyak 55 manajer. Teknik analisis data yang digunakan, statistik deskriftif, uji validitas, uji reliabilitas dan analisis regresi. Ketidakpastian tugas memperkuat hubungan management accounting system untuk broadscope terhadap kinerja manajerial. Dengan demikian management accounting system (MAS) dapat dijadikan alat dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan kinerja manajerial.
Kata Kunci: management accounting system, ketidakpastian tugas, kinerja manajerial
PENDAHULUAN
Informasi yang relevan dibutuhkan dalam pengambilan keputusan (Harrison 1996) salah satunya adalah informasi akuntansi.
Informasi akuntansi dapat dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan (Chung 2011) dan mendukung setiap perencanaan (Israelsen 2011). Dengan demikian ketersediaan informasi akuntansi di organisasi membantu dalam pengambilan keputusan (Siyanbola dan Tunji 2012).
Lebih dari itu informasi akuntansi merupakan salah satu mekanisme kontrol perusahaan yang penting dan juga digunakan mempromosikan dan mengukur kinerja manajemen dan karyawan (Sugijanto 2013).
Management accounting system (MAS) merupakan fenomena dan topik perdebatan di kalangan akademik dan praktisi (Zoni dkk. 2012).
Gordon dan Narayanan (1984) melakukan studi yang bertujuan melihat keberadaan MAS yang memfasilitasi pengambilan keputusan dalam suatu organisasi. Temuan studi memperlihatkan bahwa (1) MAS berhubungan dengan struktur organisasi; (2) MAS tidak berhubungan struktur organisasi saat variabel dikendalikan ketidakpastian lingkungan. Temuan Gordon dan Narayanan (1984) ini memperlihatkan bahwa ketidakpastian memiliki kekuatan mempengaruhi situasi di organisasi. Kemampuan ketidakpastian dalam mempengaruhi organisasi dibuktikan oleh
studi Bastian dan Muchlish (2012) yang menemukan bahwa ketidakpastian lingkungan memiliki signifikansi positif terhadap strategi bisnis dan kinerja organisasi. Temuan lain juga didapatkan Agbejule (2005) yang menyatakan bahwa peran MAS terhadap kinerja tergantung pada ketidakpastian lingkungan. Studi beberapa peneliti menunjukkan bahwa peran ketidakpastian mempengaruhi peran MAS dalam memfasilitasi pengambilan keputusan untuk meningkatkan kinerja manajerial. Seperti studi Gul (1991) yang mendapatkan temuan bahwa kinerja manajerial tergantung pada ketidakpastian lingkungan. Temuan studi lain menunjukkan bahwa ketidakpastian begitu dominan terhadap MAS dalam mempengaruhi kinerja manajerial (Chong 1996; Chong dan Chong 1997; Agbejule 2005; Chiou 2011).
Ketidakmampuan MAS berkontribusi terhadap kinerja manajerial pada kondisi ketidakpastian lingkungan rendah menarik minat peneliti melakukan studi MAS terhadap kinerja manajerial. Seperti studi yang dilakukan Gul dan Chia (1994), Chia (1995), Chong (1996; 1998; 2004); Chong dan Eggleton (2003), Agbejule (2005, 2011); Chung dkk. (2012); Hammad dkk. (2013).
Gul (1991) dalam studinya mengajukan pertanyaan apakah hubungan MAS dan kinerja tetap sama di saat terlepas dari ketidakpastian. Studi yang dilakukan pada perusahaan kecil yang memiliki kategori 10 sampai 100 karyawan ini memperoleh temuan bahwa dampak MAS terhadap kinerja tergantung pada ketidakpastian lingkungan. Temuan Gul (1991) menunjukkan bahwa ketidakpatian lingkungan dominan terhadap
MAS ini juga ditemukan oleh Chong dan Chong (1997), Agbejule (2005) dan Chiou (2011). Artinya beberapa studi memperoleh temuan bahwa peran MAS tidak berfungsi karena ada ketidakpastian. Meskipun demikian ada beberapa studi yang memperoleh temuan bahwa MAS berperan sesuai dengan teori yaitu meningkatkan kinerja manajerial.
Temuan ini didapatkan Mia dan Chenhall (1994), Chia (1995) dan Mia dan Patiar (2001). Koperasi merupakan salah satu organisasi yang melakukan perubahan terhadap struktur untuk menyesuaiakan diri dengan perubahan lingkungan ekonomi yang cepat berubah yang ditandai meningkatnya globalisasi dan industralisasi pertanian (Royer 1999). Koperasi telah lama mewakili organisasi ekonomi yang di rancang untuk melayani anggotanya dan bukan menghasilkan keuntungan bagi investor (Valentinov 2004).
Namun demikian Helmberger dan Hoos (1962) memberikan pernyataan berbeda yang menyatakan bahwa koperasi adalah institusi yang sepenuhnya mempertahankan diri dengan mencari keuntungan. Pernyataan tersebut menguatkan bahwa koperasi secara teoritis ekonomi merupakan organisasi bisnis (Robotka 1947) meskipun koperasi bukan sebagai perusahaan (Philips 1953).
Koperasi merupakan alternatif ekonomi dan layak di bentuk dari ketidakberdayaan (Bello dan Zaria 2005). Dinegara maju atau di barat koperasi lahir sebagai gerakan melawan ketidakadilan pasar oleh karenanya koperasi tumbuh dan berkembang dalam suasana persaingan pasar (Soetrisno 2003). Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa kelahiran koperasi di
seluruh dunia disebabkan tidak dapat dipecahkannya masalah kemiskinan atas dasar semangat individualisme (Masngudi 1990). Lebih lanjut Masngudi (1990) menambahkan bahwa koperasi lahir sebagai alat untuk memperbaiki kepincangan dan kelemahan dari perekonomian yang kapitalis. Dengan demikian koperasi di pandang sarana penting untuk pengembangan masyarakat (Zeuli dkk. 2004).
Dalam situasi krisis, koperasi mampu bertahan bahkan berkembang (Birchall dan Ketilson 2009). Dewasa ini banyak yang berpandangan bahwa koperasi itu identik dengan badan usaha marginal yang hanya bisa hidup bila mendapat bantuan pemerintah (Hutasuhut 2011). Lebih dari itu koperasi sering disejajarkan dengan suatu usaha yang tidak efisien (Soetrisno 2001). Namun demikian dilain pihak koperasi ditempatkan sebagai sebuah usaha yang efisien dan sejajar dengan badan-badan usaha non koperasi (Soetrisno 2001). Keefisienan dan kesejajaran koperasi dengan badan – badan usaha non koperasi tidak lepas dari kondisi keuangan koperasi. Terkait dengan hal tersebut maka peran manajer yang memiliki pemahaman kondisi keuangan dan kemampuan manajer dalam mengambil keputusan (Adzim 2011).
Hal ini menunjukkan bahwa peran manajer dalam koperasi merupakan hal penting salah satunya dengan pengambilan keputusan yang diambilnya untuk menghasilkan kinerja. Dari uraian yang dipaparkan terlihat bahwa peran MAS belum berfungsi terhadap kinerja manajerial. Meskipun studi Mia dan Chenhall (1994) menperoleh temuan yang menunjukkan adanya hubungan management accounting
system terhadap kinerja manajerial. Namun demikian beberapa studi memperoleh temuan adanya kecenderungan variabel kontinjensi yang melemahkan peran management accounting system disaat situasi ketidakpastian rendah. Situasi rendahnya ketidakpastian cenderung membuat
management accounting system tidak berfungsi. Hasil temuan studi terdahulu dan peran koperasi perlu dilakukan penelitian untuk melihat hubungan management accounting system dan kinerja manajerial di koperasi.
Berdasarkan uraian sebelumnya maka dapat diberikan masalah penelitian ini, yaitu: Bagaimana peran MAS meningkatkan kinerja manajerial yang di moderasi oleh ketidakpastian tugas? Dari masalah penelitian tersebut maka dapat diberikan rumusan masalah penelitian: Apakah ketidakpastian tugas mempengaruhi besar kecilnya peran
management accounting system-brandscope
terhadap kinerja manajerial?
Management accounting system
Management accounting system (MAS) memberikan informasi internal kepada manajemen berkenaan dengan pengambilan keputusan (Watts dkk. 2014). Lebih jauh lagi Watts dkk. (2014) menambahkan dalam posisi taktis manajemen bergantung pada
management accounting system (MAS) selain itu juga management accounting system
berkemampuan untuk menentukan perubahan dalam organisasi.
MAS sebagai subsistem informasi formal dalam organisasi menjamin utilitas sebagai alat layanan untuk manajer (Moliner dan Ruiz 2004). MAS yang merupakan gabungan multidimensi perencanaan dan
subsistem pengendalian (J.Williams dan Seaman† 2002) ini memberikan informasi yang diperlukan manajer untuk pengambilan keputusan (Jerman dkk. 2012).
Menurut Zimmerman (2001) dalam studinya, MAS suatu perusahaan bertujuan menyediakan informasi tepat waktu dan relevan dalam memfasilitasi pengambilan keputusan. Bahkan lebih dari itu MAS dapat digunakan untuk memotivasi karyawan mencapai tujuan organisasi. Dengan demikian MAS menyediakan informasi bagi manajemen dan pengguna internal lainnya (Alikhani dkk. 2013). Dalam pembagian sistem informasi dalam suatu perusahaan terbagi menjadi dua, yakni: (1) management information system
(MIS) dan accounting information system
(AIS). Kedua sistem memiliki perbedaan MIS memiliki informasi transaksi keuangan dan non keuangan sedangkan AIS hanya hanya pada transaksi keuangan (Tokic dkk. 2011). Ada banyak pengertian diberikan terhadap MAS namun disini hanya diberikan dua pengertian yaitu:
Fleischman dkk. (2010):
MAS adalah layanan informasi, saran dan melaporkan kepada akuntan manjemen dan pengguna akhir untuk mendukung pengambilan keputusan.
Ajibolade (2013):
MAS didefinisikan dari persepktif tradisional sebagai prosedur dan siklus sistem pelaporan keuangan yang ada di organisasi yang relevan untuk perencanan dan pengendalian. MAS ini sebagai sistem yang berusaha meningkatkan kinerja dengan penggunaan sumberdaya yang efektif dan efisien.
Chenhall dan Morris (1986) membagi MAS sebagai informasi kepada manajer menjadi empat karakteristik, yaitu:
broadscope, timeliness, aggregationdan
integration. Terkait dengan penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut mengenai
broadscope:
Broadscope adalah salah satu dari
scope, scopesatunya adalah narrow scope
(Bouwens dan Abernethy 2000).Broadscope
yang merupakan salah satu karakteristik MAS ini yang memberikan keragaman kebutuhan informasi untuk pengambilan keputusan (Chia 1995).
Chia (1995) keragaman dimaksud terdiri dari informasi ekonomi ( Seperti: total penjualan dan pangsa pasar), non ekonomi (kemajuan teknologi, perubahan perkembangan lingkungan) dan aspek lingkungan. Broadscope ini mengacu pada dimensi fokus, kuantifikasi dan waktu yang membantu keputusan manajerial (Chenhall dan Morris 1986). Lebih lanjut Chenhall dan Morris (1986) menjelaskan bahwa broadscope
meliputi informasi eksternal, informasi non keuangan dan informasi yang berorientasi ke depan. Dengan demikian broadscope ini menyediakan informasi internal dan eksternal organisasi untuk pengambilan keputusan (Chia 1995).
Ketidakpastian Tugas
Ketidakpastian didefinisikan sebagai ketidaksempurnaan hubungan antara informasi dan lingkungan (Palmer 2005). Pengolahan sistem informasi merupakan salah satu upaya mengurangi ketidakpastian, untuk itu diperlukan mengumpulkan informasi untuk pencapaian tujuan (Anselme 2010). Lebih dalam Anselme (2010)
menyatakan bahwa sistem informasi salah satu organik di organisasi untuk memperoleh pengetahuan yang lebih mengenai peristiwa ke depan yang signifikan dengan psikologis. Dengan demikian, ketidakpastian itu bukan hanya pada atribut peristiwa itu sendiri namun juga berkenaan dengan keadaa psikologis individu yang menghadapinya (Anselme 2010).
Ketidakpastian yang merupakan kunci kontinjensi antara kinerja karyawan dan kesejahteraan (Leach dkk. 2013) yang juga sebagai mekanisme mediasi yang menjelaskan perilaku komunikasi. Berdasarkan sumbernya, ketidakpastian ada tiga jenis, yaitu: (1) tugas (task), (2) lingkungan (environment) dan (3) saling ketergantungan (interdependence)(Daft dan Lengel 1986). beberapa definisi ketidakpastian tugas diberikan sebagai berikut:
(1)Hirst (1983)
Ketidakpatian tugas didefinisikan sebagai ketidakpastian dari kompleksitas dan keragaman tugas dari manajer. Keragaman tugas manajer.
(2)Chenhall (2003)
Ketidakpastian didefinisikan sebagai ketidakpastian yang disebabkan kompleksitas dan keragaman tugas yang dilakukan manajer. Batasan ini sama dengan batasan yang diberikan oleh Hirst (1983).
(3)Chang dkk. (2003)
Ketidakpastian tugas didefinisikan sebagai perbedaan antara junlah informasi dengan informasi yang dimiliki untuk keperluan penyelesaian masalah.
Keragaman definisi terhadap ketidakpastian tugas oleh Chong dan Eggleton
(2003) disimpulkan bahwa ketidakpastian tugas akan meningkatkan kompleksitas keputusan yang dihadapi manajer.
Kinerja manajerial
Kinerja manajerial menjadi topik menarik dan penelitian sejak Fayol menerbitkan karyanya pada tahun 1916 (Borman dan Brush 1993).
Hal ini karena kinerja manajerial mampu mempengaruhi budaya organisasi dan produktivitas (Young dkk. 2000) serta konsekuensi perilaku yang mempengaruhinya (Staw dan Barsade 1993).
Seperti studi yang dilakukan Emmanuel dkk. (2007) dikatakan bahwa literatur teoritis dalam pengendalian manajemen meningkatkan kinerja manajerial melalui motivasi manajerial. Pernyataan ini juga diberikan oleh Mia (1989) dengan argumen bahwa partisipasif berpotensi meningkatkan kinerja manajerial.
Mahoney dkk. (1963) melakukan studi yang berkontribusi meningkatkan pemahaman mengenai sifat kinerja manajerial. Dua dimensi yang memiliki relevansi dengan kinerja manajerial, yaitu:
managerial functions dan managerial competence. Kedua dimensi ini menyediakan kerangka kerja (framework) menganalisis kerja manajer (Mahoney dkk. 1963). Sehingga Mahoney dkk. (1963) menggunakan dimensi
managerials functions dalam studinya bahkan instrumen dimensi managerial functions ini digunakan oleh banyak peneliti. Sedangkan
managerial competence berfokus pada bidang kompetensi teknis atau pengetahuan yang meliputi: employess, finanaces, material and goods, purchaces and sales, methods and procedures, facilities and equipment. Kinerja
manajerial demikian menarik untuk di teliti sehingga Borman dan Brush (1993) melakukan studi yang bertujuan mendapatkan induktif taksonomi kinerja manajerial dari studi empiris kinerja manajerial.
Staw dan Barsade (1993) menyatakan bahwa kinerja manajerial merupakan topik menarik untuk menyelidiki konsekwensi yang diakibatkannya. Hal ini karena: (1) manajer relatif tidak terstruktur yang dimungkinkan subjek mempengaruhi peran Miner (1987), (2) berdasarkan penelitian psikologis menyatakan bahwa perilaku adalah sentral untuk kerja manajerial (Mintzberg 1990). Manajer secara interpersonal terlibat dengan peran rutin dengan pengambilan keputusan yang didasari oleh informasi dan tujuan organisasi (Mintzberg 1990). Pengambilan keputusan yang dilakukan manajerial lama menjadi perdebatan (Chalos dan Haka 1989). Dan banyak studi dilakukan untuk hal tersebut.
Seperti studi Wood dan Bandura (1991) yang menemukan hubungan antaraself-efficacy dengan pengambilan keputusan manajerial. Dalam suatu lingkungan pengambilan keputusan adalah proses berkelanjutan yang memerlukan integrasi kompleks dari beberapa sumber informasi (Mintzberg 1990). Yang terpenting keputusan manajerial dalam mencapai tujuan organisasi adalah bagaimana menggunakan bakat, membimbing dan memtivasi manusia (Wood dan Bandura 1991) dan data yang ambigu dan tidak lengkap (Staw dan Barsade 1993).
Studi Chia (1995) mendapatkan temuan bahwa MAS berkontribusi terhadap
kinerja manajerial. Chang dkk. (2003) juga memperoleh temuan yang menunjukkan bahwa kinerja dapat ditingkatkan dengan tersedianya MAS. Dengan menggunakan regresi ganda, Chong (1998) memperoleh temuan yang menunjukkan bahwa interaksi MAS dengan tolerance for ambiguity
mempengaruhi kinerja manajerial.
Studi Luthans dan Stewart (1978) menyatakan bahwa general contingency theory dapat digunakan untuk mengikat unsur-unsur teoritis manajemen. Selain itu disarankan oleh Luthans dan Stewart (1978) bahwa metodologi berbasis contingency
digunakan mengembangkan teori tertentu untuk menjadi disintesis dan teori umum manajemen yang terpadu.
Otley (1980) mengatakan bahwa pendekatan kontijensi untuk akuntansi manajemen didasarkan pada premis: tidak ada sistem akuntansi universal sesuai yang berlaku sama untuk semua organisasi dalam semua keadaan. Sebaliknya akuntansi manajemen akan tergantung pada suatu keadaan tertentu dimana sebuah organisasi berada. Di sanalah keberadaan teori kontinjensi harus mengidentifikasi spesifik aspek sistem akuntansi yang terkait dengan kondisi tertentu.
contingency mengembangkan pertanyaan yang mengukur tingkat ketidakpastian (uncertainty) dan komplesitias di tempat kerja. Ketidakpastian (uncertainty)
oleh Driskill dan Goldstein (1986) didefinisikan yang mengacu pada usulan Garbaith sebagai berbedaan antara jumlah informasi yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah dengan jumlah informasi yang sudah dimiliki. Studi Chong
(1996) mencoba meneliti efek interaktif MAS terhadap kinerja manajerial.
Dalam studinya ini Chong (1996) memasukan variabel kontinjensi yaitu ketidakpastian tugas (task uncertainty) sebagai variabel moderating. Temuan yang diperoleh Chong (1996) menunjukkan bahwa situasi ketidakpastian tugas tinggi dengan tingkat penggunaan MAS lingkup luas akan meningkatkan kinerja manajerial.
Studi Chong dan Eggleton (2001) menguji tiga arah interaksi antara locus of control, ketidakpastian tugas dan management accounting system (MAS) yang mempengaruhi kinerja manajerial. Hasil studi Chong and Eggleton (2001) tiga arah transaksi locus of control, ketidakpastian tugas dan MAS mempengaruhi kinerja. Artinya management accounting system mempengaruhi kinerja manajerial.
Dengan survei kuesioner dari 131 manajer senior perusahaan di Australia, VincentK.Chong (2004) menganalisis studinya yang bertujuan menguji job relevant information, antara management accounting system dan ketidakpastian tugas terhadap kinerja manajerial. Hasil studi memperoleh temuan interaksi tigaarah job relevant information, management accounting system
dan ketidakpastian tugas mempengaruhi kinera manajerial. Selain itu, disisi lain situasi ketidakpastian tugas yang tinggi pada penggunaan informasi management accounting systembroad scope dan timely,dan job relevant information untuk pengambilan keputusan mempengaruhi peningkatan kinerja manajerial. Chong (1996) dalam studinya menggunakan ketidakpastian tugas sebagai variabel moderating dalam
menyelidiki hubungan management accounting systembroad scope dengan kinerja manajerial.
Hasil studi Chong (1996) memperoleh hasil yang menunjukkan bahwa situasi ketidakpastian yang tinggi dengan penggunaan management accounting systembroad scope akan meningkatkan kinerja manajerial. Hal ini menunjukkan bahwa tingginya kinerja manajerial ketika informasi
management accounting systembroad scope
digunakan disaat situasi ketidakpastian tinggi (Chong 1996).
Ketidakpastian tugas juga dijadikan variabel moderating dalam studi Chong (2004).Variabel moderating ini diinteraksikan dengan management accounting system dan informasi pekerjaan yang relevan (job- relevant information). Temuan yang diperoleh Chong (2004) menunjukkan bahwa situasi ketidakpastian yang tinggi dengan menggunakan management accounting systembroad scope dan penggunaan informasi pekerjaan yang relevan akan meningkatkan kinerja manajerial. Dengan melihat hasil studi yang telah dilakukan maka hipotesis yang dapat diberikan adalah sebagai berikut: Ha :ketidakpastian tugas mempengaruhi
besar kecilnya peran management accounting system terhadap kinerja manajerial.
Secara umum tujuan penelitian ini adalah menganalisis peran management accounting system (MAS) terhadap kinerja manajerial yang ada di koperasi Kabupaten Ponorogo. Sedangkan secara khusus penelitian ini bertujuan:
(1)Menganalisis dan mengevaluasi besar kecilnya ketidakpastian tugas
mempengaruhi hubungan broadscope
terhadap kinerja manajerial.
METODE PENELITIAN
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah para manajer koperasi yang berada di Kabupaten Ponorogo- Jawa Timur. Populasi penelitian ini adalah manajer koperasi yang ada di Kabupaten Ponorogo - Provinsi Jawa Timur dengan dengan asumsi bahwa mereka memahami semua kegiatan operasional koperasi.
Alasan penggunaan koperasi di Kabupaten Ponorogo – Provinsi Jawa Timur karena provinsi ini sampai tercatat per 31 Desember 2014 memiliki 30.850 koperasi (Depkop 2014). Angka tersebut adalah jumlah koperasi terbanyak bila dibandingkan dengan Provinsi lain di Indonesia di mana salah satunya adalah Kabupaten Ponorogo. Koperasi di Kabupaten Ponorogo 760 koperasi aktif (Indakop 2015) namun koperasi sejumlah ratus tersebut tidak seluruhnya memiliki manajer, hanya 121 koperasi yang memiliki manajer (Indakop 2015).
Metode pemilihan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pemilihan sampel random acak. Ukuran sampel menggunakan rumus Rao (1996) diketahui besarnya sampel sebanyak 55 manajer.
Terdapat 3 (empat) variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu:
Management accounting system,
ketidakpastian tugas (task uncertainty) dan kinera manajerial (managerial performance).
Adapun definisi dan pengurkurannya adalah sebagai berikut:
Broadscope dalam penelitian ini didefinisikan sebagai karakteristik luas lingkup dari management accounting system
yang meliputi dimensi fokus, horison waktu dan kuantifikasi (Gordon dan Narayanan 1984). Instrumen terdiri lima item yang dipergunakan oleh Chenhall dan Morris (1986) dengan 7 skala likert.
Ketidakpastian tugas (task uncertainty) didefinisikan sebagai perbedaan jumlah informasi yang diperlukan dengan jumlah informasi yang siap diproses Chong (1996). Variabel ketidakpastian tugas (task uncertainty) dalam penelitian ini diukur dengan instrumen yang digunakan oleh Chong (1996) dan Chong (2004) yang mengembangkan instrumen dari Withey dkk. (1983). Instrumen ketidakpastian tugas (task uncertainty) ini di ukur dengan menggunakan skala 1 sampai 7, sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
Kinerja manajerial (managerial performance) adalah hasil kerja kualitas dan kuantitas yang dicapai seorang dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Variabel kinerja manajerial diukur dengan menggunakan instrumen Borman dan Brush (1993) yang dikenal dengan megadimensi. Dalam instrument ini, setiap responden diminta untuk mengukur kinerjanya terhadap instrumen dari megadimensi. Instrument ini diukur dengan skala 1 sampai 7, sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
Teknik Analisis Data Statistik Deskriftif
Statistik deskripsi digunakan untuk memberikan informasi mengenai karakteristik variabel-variabel penelitian.
Uji kualitas data
Kualitas data yang dihasilkan dari penggunaan instrument penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan ujivaliditas. Uji ini dilakukan untuk mengetahui konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instrumen. Uji reliabilitas dalam penelitian ini di ukur dengan menggunakan cronbach alpha. Suatu variabel dikatakan relibel jika memiliki nilai
cronbach alpha> 0.6 (Nunnaly dan Berstein 1994)
Uji Hipotesis
Penelitian ini menggunakan analisis regresi untuk menguji semua hipotesis penelitian. Dengan model analisis sebagai berikut: (1)MP = a + b1BS + b2TU + b3BS.TU + e Keterangan : BS = Broadscope TL = Timeliness MP = Managerial performance (kinerja manajerial) TU = Task uncertainty (ketidapastian tugas) a = konstanta
BS.TU = Interaksi broadscope
dengan taskuncertainty
b1……b3 = koefisien
e = error
Pengujian hipotesis penelitian didasarkan pada estimasi parameter dari full model persamaan struktural. Pengujian hipotesis masing-masing hipotesis penelitian didasarkan pada nilai koefisien regresi (parameter). Hipotesis penelitian diterima jika nilai CR lebih besar dari nilai t-tabel (± 1,96) atau tingkat signifikansi sama atau di bawah 5% (p ≤ 0,05) (Hair dkk. 2010).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ketidakpastian tugas (task ucertainty)
selalu hadir dalam organisasi. Ketidakpastian tugas terkadang memberikan penguatan atau pelemahan terhadap situasi yang dihadapi manajer. Dalam penelitian ini memiliki model sebagai berikut:
Gambar 1. ketidakpastian tugas sebagai variabel moderating
Berdasarkan perolehan data maka diperoleh output dari SPSS maka diketahui validitas dan reliabilitas
Tabel 1. Uji validitas dan reliabilitas variabel validitas Reliabilitas
(cronbach alpha) keterangan Broadscope (BS) Task uncertainty Kinerja manajerial (MP)
broadscope 0.000 0.750 Valid dan reliabel Ketidakpastian tugas 0.033 0.733 Valid dan reliabel Kinerja manajerial 0.000 0.745 Valid dan reliabel Sumber: di olah dari data primer, 2015
Selain itu diperoleh tabel 2 yang menunjukkan statistik deskriptif variabel penelitian dan tabel 2 menunjukkan korelasi antar variabel. Tabel tersebut adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Statistik Deskriftif (n=45)
Variabel Mean Standard
deviation
min max
MP Kinerja manajerial 1.9862E2 22.65682 143.00 231.00
BS Broadscope 25.7333 4.14729 17.00 35.00
TL Timelines 19.7111 2.76029 15.00 24.00
TU Ketidakpastian
tugas 32.4000 6.39744 15.00 43.00
Sumber: di olah dari data primer, 2015
Tabel 2. Korelasi antar variabel
variabel Kinerja Manajerial
broadscope timeliness Ketidakpastian tugas
MP 1 .329* .021 .355*
BS 0.329 1 -.056 .393**
TL .021 -.056 1 -.044
TU .355* .393** -.044 1
Sumber: di olah dari data primer, 2015
Uji hipotesis yang dilakukan dalam penelitian ini memiliki model sebagai berikut: MP = a + b1BS + b2TU + b3BS.TU + e ……… ( )
Hasil di tunjukkan pada tabel 3 dan tabel 4 yang dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 3. Hasil regresi sederhana uji hipotesis pertama
Koefisien Standar Error Beta Nilai t Probabilitas
konstanta 154.785 19.477 7.947 .000 BS 2.088 .915 .329 2.282 .027
R2= 0,108 F= 5.209 Sig F= .027
Sumber: di olah dari data primer, 2015
Tabel 4. Hasil regresi ganda uji hipotesis pertama
Koefisien Standar Error Beta Nilai t Probabilitas
BS 6.655 5.277 1.048 1.261 .214 TU 3.629 2.742 1.059 1.323 .193 BS.TU -.141 .139 -1.357 -1.009 .319
R2= .188 F= 3,169 Sig F= 0,034
Sumber: di olah dari data primer, 2015 Tabel 3 menunjukkan R2 (r square)
menunjukkan angka 0,108 Angka tersebut mengartikan bahwa besarnya pengaruh
broadscope terhadap kinerja manajerial sebesar 10,8% saat terdapat ketidakpastian tugas. Besaran 10,8% mengartikan bahwa ketidakpastian tugas mempengaruhi hubungan broadscope terhadap kinerja manajerial. Sisanya 89,2% di pengaruhi oleh