• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN A Pendekatan Metodolog

B. Ilmu Sosial Profetik; Alat Analisis Transformatif

Kuntowijoyo (1998, 288)

memaparkan bahwa yang kita butuhkan sekarang adalah ilmu sosial profetik, yaitu ilmu yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial, tetapi juga

memberi petunjuk ke arah mana transformasi dilakukan, untuk apa dan oleh siapa. Ilmu sosial profetik tidak saja

mengubah demi perubahan, tetapi

mengubah berdasarkan cita-cita

perubahan yang diinginkan masyarakat.

Pandangan lain yang diberikan

Kuntowijoyo (1998, 289) menjelaskan : Dengan ilmu sosial profetik, kita juga akan melakukan reorientasi terhadap epistemologi, yaitu orientasi terhadap

mode of thoughtdan mode ofinquiry, bahwa sumber ilmu pengetahuan tidak hanya dari rasio dan empirik, tetapi juga dari wahyu (normatif).

Ilmu sosial profetik menurut

Kuntowijoyo (1998, 288) merupakan

derivasi dari misi historis Islam

sebagaimana terkandung dalam Al Qur’an

surat Ali Imran ayat 110 :

Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia untuk berbuat

ma’ruf dan mencegah dari yang mungkardan beriman kepada Allah.

Sedangkan perintah untuk

melakukan pencatatan transaksi, yang digunakan sebagai dasar nilai normatif akuntansi syariah terdapat dalam Al Baqarah 282 :

Wahai orang-orang yang beriman ! Apabila kamu melakukan utang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah

seorang penulis diantara kamu

menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan

kepadanya, maka hendaklah ia

menuliskannya. Dan hendaklah orang yang

berutang itu mendiktekan, dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah, Tuhannya. Dan janganlah ia mengurangi sedikitpun dari

padanya………..

Humanis ; Wujud dari Fitrah Diri

Kandungan nilai yang terdapat pada ilmu sosial profetik terdiri dari empat

unsur, yaitu humanis,emansipatoris,

transendental dan teleologikal. Pandangan

humanis menganggap permasalahan

teknis di dunia transaksi modern

merupakan wujud dominasi nilai-nilai maskulin yang cenderung eksploitatif dan

hyper-ekspansionis (Heriyanto, 2003). Sehingga orientasi akhir yang bersifat

materi itu menjadi virus yang

menyebabkan terjadinya dehumanisasi

dan mengakibatkan ilmu mengarah

kepada sifat yang cenderung

reduksionistik. Hal ini dibuktikan dengan cara melihat keberadaan manusia yang tidak secara komprehensif, tetapi secara parsial. Menurut Triyuwono (2002b, 3),

humanis merupakan proses dalam

memandang suatu teori (akuntansi) dalam sifat yang manusiawi, sesuai fitrah manusia dan dapat digunakan sesuai kapasitas yang dimiliki manusia sebagai makluk yang berinteraksi antar sesama secara dinamis dalam kehidupan sehari- hari.

Nilai filosofi humanis kemudian diturunkan dalam dua konsep dasar yaitu ; (1) Instrumental yang dilandasi pemikiran baha sebuah ilmu pengetahuan (akuntansi syariah) merupakan instrument yang dapat dipraktekkan dalam dunia nyata. Sehingga konsep dasar instrumental ini

digunakan untuk mengembangkan ilmu tidak sebatas pada wacana, tetapi dapat dibangun dengan membawa kepada suatu fase perubahan dengan nilai profetik sebagai landasannya. (2) Social-economic,

diindikasikan bahwa teori keilmuan

(akuntansi syariah) tidak membatasi wacana pada transaksi ekonomi saja tetapi juga harus dilihat dari ilmu sosial atau ilmu yang lain (lingkungan dan budaya). Kondisi tersebut akan mengarahkan ilmu mampu mengakomodasi realitas yang lebih objektif, karena perumusan teori sosial secara transformatif harus mampu membaca gejala-gejala aktualdan historis yang munculdalam interaksi masyarakat, sehingga keterbukaan keilmuan menjadi relevan (Haryono dan Priyadi, 2002).

Emansipatoris ; Kesetaraan yang Melintas Batas

Prinsip filosofis yang berikutnya adalah emansipatoris. Prinsip filosofis ini berasal dari pemahaman emansipasi yang berarti pembebasan diri dari perbudakan (Partono dan Al Barry, 2001). Maksud dari perbudakan tersebut adalah bebas dari

nahi munkar atas struktur sosial yang

eksploitatif, menuju pembebasan

penindasan (Pribadi dan Haryono, 2002). Menurut Triyuwono (2002b, 3) perubahan yang terjadi adalah perubahan yang membebaskan diri dari ikatan semu (materi) dan pembebasan dari ideologi semu (kapitalisme).

Untuk mentransformasikan prinsip

filosofis emansipatoris dalam teori

keilmuan, Triyuwono (2002b)

menurunkan prinsip tersebut dalan dua bentuk konsep dasar. Pertama, critical

yang merupakan turunan dari critical study Habermas. Konsep dasar kritis dalam pembangunan teori akuntansi berarti

adanya keterbukaan. Artinya suatu

keilmuan (akuntansi syariah) dapat

menerima segala masukan yang sesuai

dengan nilai ideologinya. Sehingga

konstruksi keilmuan yang di bawanya akan berdasar kepada nilai-nilai syariah.

Konsep dasar yang kedua adalah

justice (keadilan). Konstruksi keilmuan yang adil berarti tidak mengabaikan hak manusia dan alam. Sehingga terjadilan sinergi antara manusia dengan alam yang

saling memanfaatkan tanpa saling

merusak.

Transendental; Keterbukaan yang Bersinergi

Pandangan transendental adalah adanya keterbukaan yang menyeluruh (holistic). Hal tersebut merupakan lawan dari pandangan mekanik, yang melihat keseluruhan berdasarkan jumlah dari bagian-bagian. Pandangan transendental secara holistic merupakan cara pandang yang menyeluruh dengan penekanan pada interelasi, interkoneksi dan interdepedensi entitas (nilai-nilai agama) dalam sebuah jaringan (Heriyanto, 2003).

Filosofi transendental menurut

Triyuwono (2002b) memberikan

gambaran bahwa dalam membentuk teori (akuntansi syariah), dapat memperkaya dirinya dengan mengadopsi disiplin ilmu yang lain. Seperti sosiologi, psikologi, etnologi, fenomenologi dan sebagainya. Aspek transendental tidak terbatas pada disiplin ilmu, tetapi juga menyangkut aspek ontologi. Selain itu juga tidak

terbatas pada sifat materi (ekonomi) tetapi juga aspek non materi (mental dan spiritual). Kemudian berlanjut pada aspek epistemologinya dengan merangkai dari

berbagai pendekatan supaya teori

akuntansi syariah yang dibentuk benar- benar bersifat emansipatoris.

Supaya prinsip filosofis

transendental dapat masuk pada tataran teori keilmuan, maka diturunkan menjadi

konsep dasar. Triyuwono (2002b)

menurunkannya menjadi dua konsep dasar. Pertama, all inclusive, yaitu memberikan dasar pemikiran bahwa dalam pembentukan teori tidak bisa menutup diri dari teori lain yang sudah ada sebelumnya. Dengan kata lain, pembentukan konsep dan teori akuntansi syariah tidak bisa mengesampingkan kemapanan teori akuntansi keuangan konvensional yang telah digunakan oleh masyarakat bisnis. Sebagai konsekuensi dari konsep dasar all inclusive dalam membentuk akuntansi syariah, membawa implikasi pada kemoderatan yang harus dimiliki para akuntan Islam dengan tidak mengesampingkan makna (esensi nilai) yang ada.

Konsep dasar yang kedua adalah

rational-intuitif yang mengindikasikan bahwa, secara epistemologi konstruksi keilmuan (akuntansi syariah) memadukan dua kekuatan rasional dan intuisi manusia (Triyuwono, 2002b). Menurut Nasution (2002), akuntansi masuk dalam kategori muamalah, sehingga pendekatan qauliyah

dan kauniyah dapat digunakan bersamaan. Keduanya saling melengkapi dan tidak bersifat dikotomis.

Teleologikal; Falah yang

Sesungguhnya

Prinsip filosofis ini memberikan suatu dasar penilaian bahwa akuntansi tidak sekedar memberikan informasi untuk mengambil keputusan ekonomi, tetapi juga memiliki tujuan transendental

sebagai bentuk pertanggungjawaban

manusia kepada Tuhan, sesama manusia

maupun kepada alam semesta.

Sebagaimana digambarkan dalam nilai transendental yang menerima segala bentuk nilai-nilai keilmuan; yang salah satunya adalah nilai agama (syariah), telah mengantarkan pemahaman bahwa ilmu ekonomi dan akuntansi sarat dengan nilai norma. Sehingga dengan sendirinya telah

mengantarkan pada kodrat manusia

sebagai hamba Tuhan (Afifudin, 2004). Untuk sampai pada pembentukan keilmuan dengan prinsip teleologikal, diturunkan dalam dua konsep dasar, yaitu

secara ethical dan holistic welfare

(Triyuwono, 2002b). Konsep dasar ethical

dilandasi dari pemikiran bahwa akuntansi syariah tidak bebas nilai seperti pada akuntansi konvensional. Tetapi memiliki nilai nilai etika dan moral sebagai wujud nilai agama dan intuisi. Etika merupakan tuntunan para akuntan dalam melakukan kegiatan akuntansi.

Konsep dasar yang kedua adalah

holistic welfare, dimana merupakan satu kesatuan yang utuh dalam mengartikan sebuah kesejahteraan yang dihasilkan oleh

suatu aktivitas transaksi akuntansi

syariah. Kesejahteraan tidak hanya

diartikan dalam bingkai materi, tetapi juga non materi.

Proses transformasi dengan

menggunakan ilmu sosial profetik

sebagaimana dijelaskan di atas,

merupakan serangkaian proses yang terjadi secara berkesinambungan dalam membentuk pola aktivitas transaksi mudharabah yang sinkron antara nilai normatif yang mengaturnya dengan kondisi riil pada praktek akuntansinya. Gambaran dari struktur hirarkisnya adalah sebagai berikut :

Gambar 1

Struktur Hirarkis Proses Derivasi Konsep Dasar Teori Akuntansi Syariah

PEMBAHASAN

Sebagaimana telah dijelaskan di awal bahwa penerapan nilai syariah di dalam

sebuah teknis akuntansi harus

memperhatikan dua unsur secara seimbang.

Pertama, adalah unsur teknis akuntansinya

yang benar benar meninggalkan ideologi kapitalis dan berubah bercirikan syariah.

Kedua, nilai dasar yang mengkonstruksi keilmuan ini (akuntansi syariah) supaya benar-benar mampu mewujudkan fitrah diri manusia yang sesungguhnya. Faktor yang pertama tentunya sudah dijalankan dengan adanya transaksi syariah pada lembaga keuangan dan sudah memiliki aturan dalam PSAK maupun dari Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). PSAK yang telah diterbitkan untuk mengatur

transaksi syariah adalah PSAK’59 yang

kemudian disempurnakan secara lebih

spesifik pada setiap transaksinya pada PSAK 101 sampai PSAK 106. Sedangkan faktor yang kedua sangat erat berhubungan dengan tingkat kepatuhan terhadap syariah dalam

penyajian informasi akuntansi. Suatu

pertanyaan yang akan kita uraikan

pembahasannya adalah apakah ketentuan dalam PSAK 105 dan aturan dari DSN-MUI tentang akad transaksi mudharabah dalam

pengakuan dan pengukuran, sudah

mengimplementasikan nilai-nilai syariah? Hal inilah yang akan dilihat transformasinya dengan menggunakan metode dalam ilmu sosial profetik.

A. Prinsip Mudharabah Pada Nilai