• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jaka Wijaya Kusumah

Dalam dokumen Prosiding Semnas STKIP 2014 (Halaman 121-127)

Jurusan Pendidikan Matematika, STIE Bina Bangsa [email protected]

ABSTRAK

Pembelajaran matematika akan terasa efektif apabila guru mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa dalam meningkatkan kemampuan matematiknya. Tujuan dalam penelitian ini adalah menelaah hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode kumon dibandingkan dengan yang menggunakan metode kuantum. Penelitian dilakukan pada siswa SMPN kelas VII di Tirtayasa dengan bentuk penelitian eksperimen. Berdasarkan hasil analisis penelitian diketahui bahwa hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode kumon lebih baik daripada yang menggunakan metode kuantum.

Kata Kunci: Hasil Belajar Matematika, Metode Kumon, Kuantum.

1. Pendahuluan

1.1.Latar Belakang Masalah

Pada umumnya sebagian besar siswa mengeluh terhadap pelajaran matematika, dikarenakan adanya anggapan bahwa matematika merupakan pelajaran yang sulit, membosankan dan tidak menarik. Hal ini menyebabkan berkurangnya minat belajar matematika. Tetapi ada juga siswa yang menyenangi Matematika karena permainannya atau karena keindahan gambar atau angka-angka yang ada.Kita sebagai Guru harus tetap berupaya dengan berbagai cara untuk menumbuhkan minat belajar pada siswa dengan menggunakan metode yang berbeda-beda ditiap Pokok Materinya. Kenyataan hal di atas sangat beralasan, karena berdasarkan perolehan Skor Nilai UN (Ujian Nasional) tingkat SMP, pada umumnya diketahui jumlah Skor Nilai UN berkisar antara 25.00 sampai dengan 32.00. Khususnya di SMP Negeri 1 Tirtayasa Kabupaten Serang Banten, Skor UN yang diperoleh diantaranya sebagai berikut :

a Tahun Pelajaran 2007/2008 yaitu : 28.31 dan pelajaran Matematika rata-rata nilainya 4.81 b Tahun Pelajaran 2008/2009 yaitu : 29.01 dan pelajaran Matematika rata-rata nilainya 4.72 Selain Motivasi belajar, hal lain yang merupakan faktor dari dalam siswa yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah kemampuan berpikir, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, keluarga yang mempengaruhi jiwanya dan faktor fisik siswa. Faktor ini sangat besar pengaruhnya terhadap siswa, karena menurut Suryabrata (1990) : ―Belajar adalah membawa suatu perubahan, perubahan itu terjadi karena diusahakan dan akan didapatkannya kecakapan baru“. Sedangkan faktor yang berasal dari luar siswa antara lain : Guru, Teman Sebaya, Keluarga, Masyarakat dan Lingkungan Belajar. Namun demikian hasil belajar masih tetap bergantung pada faktor luar atau faktor lingkungan. Artinya ada faktor di luar dirinya yang dapat menentukan dan mempengaruhi hasil belajar yang dikehendaki.

Salah satu faktor luar yang mempengaruhi adalah Guru. Guru merupakan salah satu factor yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya proses belajar. Oleh karena itu Guru harus menguasai prinsip-prinsip belajar, Metode-metode yang akan digunakan, disamping menguasai materi yang akan diajarkan. Menurut Djumhur (Farid, 2010) : ―Guru harus mampu menciptakan suatu situasi dan kondisi belajar yang sebaik-baiknya

108 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi

Sementara itu, pembelajaran matematika akan terasa efektif apabila guru mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki siswa dalam meningkatkan kemampuan matematika siswa. Kreativitas kebiasaan belajar keras, mandiri, jujur, disiplin, dan memiliki sikap sosial yang baik serta berbagai keterampilan yang diperlukan dalam hidup bermasyarakat merupakan potensi siswa yang harus dikembangkan oleh guru. Seperti yang dikatakan Jaworski 1994, Ebbut dan Starker 1995 (Depdiknas, 2005) bahwa potensi siswa dapat dikembangkan secara optimal, asumsi tentang karakteristik subjek didik dan implikasi terhadap pembelajaran matematika diberikan sebagai berikut: murid akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai motivasi dengan cara sendiri, melalui kerja dengan temannya, dan memerlukan kontek yang berbeda-beda.

Metode kuantum menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar guru lewat pemaduan seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah. Dengan menggunakan metode Kuantum, guru akan menggabungkan keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa. Metode Kuantum adalah penggubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya, adanya interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar dan berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka belajar.

Selanjutnya metode kumon adalah metode belajar perseorangan. Langkah pertama untuk setiap siswa kumon ditentukan secara perseorangan dengan cara memberi soal yang paling mudah. Siswa mulai dari level yang dapat dikerjakannya sendiri dengan mudah dengan lembar kerja yang didesain sedemikian rupa sehingga siswa dapat memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Jika siswa terus belajar dengan kemampuannya sendiri, ia akan mengejar bahan pelajaran yang setara dengan tingkatan kelasnya dan bahkan maju melampauinya.

Metode tersebut di atas memiliki kelebihan masing-masing, untuk itu dalam penelitian ini akan mengkaji mengenai perbandingan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode kumon dengan metode kuantum.

1.2.Rumusan Masalah

Permasalahan yang muncul dalam tulisan ini adalah apakah hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode kumon lebih baik daripada yang menggunakan metode kuantum?

1.3.Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menelaah hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode kumon dibandingkan dengan yang menggunakan metode kuantum?

1.4.Manfaat Penelitian

Dengan diadakannya penelitian ini diharapkan dapat member masukan:

a Bagi Sekolah : Sebagai masukan yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tersebut.

b Bagi Guru : Memberikan alternative yang efektif dalam pemilihan Metode yang tepat guna meningkatkan hasil belajar siswa dari hasil belajar siswa sebelumnya.

c Bagi Siswa : Meningkatkan semangat belajar siswa karena siswa dapat belajar aktif dan menyenangkan dalam proses pembelajaran Matematika.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi 109

2. Kajian Pustaka

2.1.Metode Kumon

Metode Kumon adalah metode belajar perseorangan. Level awal untuk setiap siswa Kumon ditentukan secara perseorangan (Johky, 2006). Siswa mulai dari level yang dapat dikerjakannya sendiri dengan mudah, tanpa kesalahan. Lembar kerjanya telah didesain sedemikian rupa sehingga siswa dapat memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Jika siswa terus belajar dengan kemampuannya sendiri, ia akan mengejar bahan pelajaran yang setara dengan tingkatan kelasnya dan bahkan maju melampauinya.

Kumon (2006) : "Dengan menggali potensi yang ada pada setiap individu, dan mengembangkan kemampuan tersebut secara maksimal, kami berusaha agar dapat membentuk manusia yang sehat dan berbakat yang dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat."

Keistimewaan Kumon diantaranya: memulai dari level yang tepat, maju dengan kemampuan sendiri, mengembangkan kebiasaan belajar yang baik dan kemampuan belajar mandiri, maju melampaui tingkatan kelas, bimbingan perseorangan dengan Belajar pada tingkatan yang tepat, dan menggali potensi lebih maksimal (Ambarwati, 2004). Selanjutnya kekurangan Kumon diantaranya: kedisiplinan kadang membuat anak-anak menjadi tidak kreatif. Padahal matematika adalah petualangan yang kreatif, banyak memakan waktu, dan siswa jadi cepat bosan karena dijejali dgn PR.

Alur belajar dengan metode kumon adalah pertama menentukan level awal yaitu pertama-tama siswa akan mengerjakan tes penempatan. Guru kemudian akan menganalisa hasil tesnya dengan cermat dan menentukan level awal siswa. Ambarwati (2004) menuliskan bahwa metode kumon terdiri dari rangkaian lembar kerja yang terdiri dari beberapa level, dan siswa maju ke level berikutnya dengan kemampuannya sendiri. Menentukan level awal yang tepat adalah kunci untuk belajar mandiri sejak dari awal belajar di Kumon. Kedua siswa mempelajari lembar kerja secara mandiri yaitu Siswa didorong untuk mempelajari lembar kerjanya secara mandiri, tanpa harus diajari secara khusus. Lembar kerja Kumon didesain sedemikian rupa sehingga siswa dapat menyelesaikan soal-soal dengan kemampuannya sendiri. Ketiga memastikan tingkatan belajar yang tepat yaitu sebelum hari belajar di kelas dimulai, Guru menyiapkan lembar kerja yang tepat untuk setiap siswa. Di kelas, Guru mengamati siswa dengan cermat, untuk memastikan setiap siswa belajar pada tingkatan yang tepat untuknya.

Pada level keempat guru mengembangkan kebiasaan belajar yang baik dan memperdalam pemahaman siswa yaitu setelah menyelesaikan soal-soal pada lembar kerja dan memahami materi ajar, siswa menyerahkan lembar kerja yang telah dikerjakan kepada Guru. Lembar kerja kemudian dinilai dan dikembalikan kepada siswa. Jika ada kesalahan, siswa membetulkannya sendiri tentunya dengan bimbingan dari Guru secara langsung. Dengan menyelesaikan lembar kerjanya secara mandiri, siswa akan memperdalam pemahaman materinya dan mengembangkan kebiasaan belajar yang baik. Kelima setiap siswa diberikan pekerjaan rumah dengan tingkatan yang tepat. Setelah siswa menyelesaikan pelajarannya di kelas, guru memberikan lembar kerja yang tepat untuk dikerjakan di rumah, yang membuat dukungan orang tua di rumah menjadi sangat penting. Pekerjaan rumah yang telah dikerjakan kemudian dikumpulkan kepada Guru pada awal pertemuan berikutnya ketika siswa datang ke kelas. Pekerjaan rumah yang telah dikumpulkan kemudian dinilai oleh Guru dan jika perlu, siswa memperbaiki lembar kerjanya dengan mandiri sampai semua jawabannya benar.

2.2.Metode Kuantum

Metode Kuantum adalah penggubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya. Metode Kuantum menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar (DePorter, 2000). Metode Kuantum berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas, interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka belajar.

110 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi

Metode Kuantum menguraikan cara-cara baru yang memudahkan proses belajar guru lewat pemaduan seni dan pencapaian-pencapaian yang terarah, apa pun mata pelajaran yang diajarkan. Dengan mengguakan metode Quantum Teaching, guru akan menggabungkan keistimewaan belajar menuju bentuk perencanaan pengajaran yang akan melejitkan prestasi siswa. DePorter (1999) menyebutkan bahwa ―Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan luar biasa untuk melampaui kemampuan yang ia perkirakan. Ini karena manusia memiliki potensi yang belum tergali, apalagi terasah. Untuk menggali potensi itu, lingkungan mesti mendukung agar proses belajar berlangsung mudah, menarik, dan menyenangkan.Rasa aman dan saling percaya di antara murid dan guru merupakan hal esensial bagi proses belajar.‖

DePorter (2000) Kelebihan model kuantum yaitu adanya unsur demokrasi dalam pengajaran, memungkinkan tergali dan terekspresikannya seluruh potensi dan bakat yang terdapat pada diri siswa, adanya unsur pemantapan dalam menguasai materi atau suatu keterampilan yang diajarkan, alami sehingga mudah dimengerti, meningkatkan kepecayaan diri siswa, dan jadikan anak lebih kreatif. Namun demikian model kuantum juga ada kekurangannya yaitu terlalu memanjakan siswa, banyak memakan waktu dan cenderung mudah melenceng ke tujuan pembelajaran sebenarnya. Adapun alur belajar model kuantum yaitu menumbuhkan minat belajar siswa dengan menyampaikan tujuan pelajaran yang akan dipelajari, alami yaitu mengkaitkan materi dengan pengalaman umum yang dapat dimengerti siswa, menamai yaitu mengajak siswa menyediakan kata kunci dari konsep, model, rumus atau strategi yang merupakansebuah masukan bagi siswa, demonstrasikan yaitu memberi kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan ide mereka, ulangi yaitu melakukan refleksi, dan reward yaitu member penghargaan terhadap siswa yang berani berpartisipasi aktif selama pembelajaran (DePorter, 1999).

2.3.Hasil Belajar

Belajar bukan merupakan kegiatan menghafal dan bukan pula mengingat. Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil proses belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya, keterampilannya, kecakapan dan kemampuannya, daya reaksinya, daya penerimaannya, dan lain-lain aspek yang ada pada individu (Sudjana, 1989).

Hasil belajar dalam kontesktual menekankan pada proses yaitu segala kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Nilai siswa diperoleh dari penampilan siswa sehari-hari ketika belajar. Hasil belajar diukur dengan berbagai cara misalnya, proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, dan tes (Depdiknas: 2002).

Proses belajar adalah kegiatan yang dilakukan oleh siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran, sedangkan hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimilki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dengan demikian hasil belajar dapat dilihat dari hasil yang dicapai siswa, baik hasil belajar (nilai), peningkatan kemampuan berpikir dan memecahkan masalah perubahan tingkah laku atau kedewasaannya. Horward Kysley (Sudjana, 1989) membagi hasil belajar diantaranya: keterampilan dan kebiasaan, pengetahuan dan pengertian, dan sikap dan cita-cita. Hasil belajar yang dicapai oleh siswa dipengaruhi dua faktor utama yakni faktor dari dalam diri siswa itu dan faktor yang datang dari luar siswa atau faktor lingkungan. Namun (Sudjana, 1989) menyebutkan bahwa ada faktor lain seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

3. Metode Penelitian

3.1.Metode Kumon

Studi ini dirancang dalam bentuk eksperimen dengan disain kelompok kontrol pretes dan postes yang bertujuan menelaah hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode kumon

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi 111

dibandingkan dengan yang menggunakan metode kuantum. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII dari salah satu SMP yang ditetapkan secara purposif pada SMP di Tirtayasa dan dipilih dua kelas VIII secara acak dari kelas VIII yang ada. Kemudian dari kedua kelas tersebut ditetapkan secara acak yang menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Adapun instrumen dalam penelitian ini adalah seperangkat soal yang berbentuk uraian sebanyak 5 soal.

Desain penelitian ini yaitu sebagai berikut:

A : O X1 O

A : O X2 O

Keterangan:

A : Sampel diambil secara acak kelas

O : Pretes = Postes hasil belajar matematika siswa X1 : Pembelajaran matematika dengan metode kumon

X2 : Pembelajaran matematika dengan metode kuantum

Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam penelitian adalah 1) tahap persiapan yaitu: diambil dua sampel secara acak, kelompok eksperimen pertama siswa yang menggunakan metode pembelajaran kumon dan kelompok kedua siswa yang menggunakan metode kuantum dan sebelum dilakukan penelitian, dilakukan uji-coba soal-soal pada sampel selain kelas eksperimen dan kontrol, kemudian dihitung validitas, reliabilitas, daya pembeda dan indeks kesukarannya. 2) Tahap pelaksanaan yaitu: kedua sampel diberi tes awal terlebih dahulu dengan instrumen yang sama untuk mengetahui kemampuan awal kedua kelompok, melakukan penelitian dengan penetapan dan pemantapan pembelajaran yang menggunakan metode kumon dengan metode kuantum, dan pada akhir kegiatan siswa diberikan tes akhir. 3) Tahap evaluasi yaitu: data yang diperoleh dari tes awal dan tes akhir selanjutnya dianalisis untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan menelaah hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode pembelajaran kumon dibandingkan dengan metode pembelajaran kuantum dan kemudian penulisan laporan penelitian.

Dari hasil tes (baik pretes maupun postes) pada kedua kelas akan diolah dengan bantuan software Microsoft Excell dan SPSS 19 dengan langkah yaitu menghitung rata-rata dan simpangan baku, menguji normalitas dan homogenitas sampel, dan menguji perbedaan rata-rata kedua sampel.

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Berikut ini disajikan hasil temuan dari pengolahan data hasil belajar siswa dengan metode kuantum dan metode kumon sepeerti yang tersaji pada Tabel berikut:

Tabel 1. Deskripsi Data Hasil Penelitian

Kelas

Tes Awal Tes Akhir

� S N � S N

Metode Kumon 31,61 13,89 40 78,28 7,12 40

Metode Kuantum 31,48 12,09 40 74,45 8,23 40

Tabel 1 menunjukan bahwa secara deskriptif hasil belajar siswa yang pembelajarannya menggunakan metode kumon lebih baik dari pada metode kuantum. Untuk mendukung deskripsi tersebut, maka dilakukan analisis data hasil belajar matematika siswa melalui uji statistik dengan menggunakan uji perbedaan rerata. Selanjutnya dilakukan uji normalitas dan homogenitas sebagai uji prasyarat dan diperoleh bahwa data kedua kelas berdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan temuan tersebut, maka pengujian perbedaan rerata hasil belajar matematika kedua kelas dilakukan dengan uji perbedaan dua rerata (uji t) berikut hasil perhitungannya.

112 Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi

Tabel 2. Uji Signifikansi Perbedaan Dua Rata-rata

Kelas n � � P Interpretasi

Metode Kumon 40 78,28

2.26 0,026 Tolak Ho Metode Kuantum 40 74,45

Dari Tabel 2 diperoleh harga P sebesar 0,026 yaitu P < 0,05 atau dengan kata lain Ho ditolak. Dalam hal ini berarti hasil belajar matematika siswa yang menggunakan metode Kumon lebih baik dari pada yang menggunakan metode Kuantum. Dari hasil pengamatan, pembelajaran dengan menggunakan metode kumon memang sedikit menguras tenaga dan waktu. Untuk itu dalam penerapannya harus bisa mengelola waktu sedemikian sehingga proses pembelajaran dengan metode kumon dapat berjalan sesuai rencana. Beberapa keistimewaan metode kumon yaitu siswa dilatih maju dengan kemampuan sendiri, memulai dari level yang tepat karena ditentukan secara perorangan, bahan ajar yang mengarahkan siswa untuk mengembangkan kebiasaan belajar mandiri dan menggali potensi siswa lebih maksimal, serta ada tahapan bimbingan belajar perorangan pada tingkatan yang tepat.

Lain halnya dengan pembelajaran dengan metode kumon, metode kuantum mengajak siswa menggunakan pengalaman umum siswa untuk memahami materi. Namun demikian, pembelajaran seperti ini cenderung mudah melenceng dari tujuan pembelajaran yang sedang diajarkan sehingga tidak sedikit siswa kurng fokus terhadap materi yang sedang disampaikan. Selama pembelajaran dengan metode kuantum siswa dapat saling bertukar pikiran dan tidak kaku untuk bertanya pada temannya, namun siswa sering kali mengandalkan teman sekelompoknya sehingga berpotensi melatih siswa menjadi kurang mandiri.

5. Simpulan dan Saran

Berdasarkan hasil analisis penelitian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang pembelajarannya menggunakan metode kumon lebih baik daripada yang menggunakan metode kuantum. Disarankan, perlu penyusunan bahan ajar yang matang sehingga menimalis waktu dapat digunakan sesuai sasaran guna mendukung proses pembelajaran metode kumon. Selanjutnya, disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dengan menyertai aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Ambarwati. (2004). Kumon dan Perkembangannya. Jakarta: PT Kie Indonesia

Depdiknas. (2005). Materi Pelatihan Terintegrasi Matematika Buku 3. Jakarta: Depdiknas DePorter, et. al. (2000). Quantum Teaching. Bandung: Kaifa

DePorter & Hernacki, M. (1999). Quantum Learning membiasakan belajar nyaman dan menyenangkan. Bandung : Mizan Media Utama.

Farid, I. (2010). Upaya Guru dalam Meningkatkan Prestasi Siswa Pada Mata Pelajaran Fiqih Ibadah. Online 23 Januari 2010, (http://manhijismd.wordpress.com/2010/04/06/upaya-guru-dalam-meningkatkan-prestasi-siswa-pada-mata-pelajaran-fiqih-ibadah/)

Johky. (2006). Metode Kumon - Cara Efektif Belajar Matematika. Online 20 Februari 2010, (http://www.sentrainfo.com/artikel/2/metode/kumon/cara/efektif/belajar/matematika/busines s_article.htm)

Kumon, T. (2006). Metode Kumon. Jakarta: PT Kie Indonesia

Selman, Victor, Ruth Corey Selman, Jerry Selman. Quantum Learning: Learn Witahout Learning. International Bussiness & Economics Research Journal. Volume 2 Number 4.

Sudjana, N. (1989). Dasar- dasar proses belajar mengajar. Bandung: Sinar Baru. Suryabrata, S. (1990). Psikologi Pendidikan.Jakarta: Rajawali Pers

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Matematika STKIP Siliwangi 113

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI

Dalam dokumen Prosiding Semnas STKIP 2014 (Halaman 121-127)