• Tidak ada hasil yang ditemukan

3 ETNOBOTANI MASYARAKAT SUKU MANGGARA

KAYU TENO

1. Kampung Mano

Kampung Mano berada di bawah kaki gunung Mandosawu topografi berada pada kemiringan pada ketinggian antara 900 sampai 1.300 m dpl. Kampung Mano saat ini masuk dalam wilayah administrasi kelurahan Mano sehingga kondisi kampung cukup maju. Masyarakat Mano telah menggunakan sepeda motor dan telepon seluler. Listrik sudah mengaliri hampir seluruh wilayah desa.

Wilayah kampung Mano terdiri dari kampung Mano yang berbentuk lingkaran, Pong Dode dan 10 lingko, yaitu: lingko nancang, nengkal, rutuk, boncu, bea empo, lobos, peor, wue, radi dan likang telu. Masyarakat memanfaatkan lingko nancang sebagai tempat tinggal modern di sepanjang jalan desa yang membelah lingko tersebut (Gambar 4.7).

Kampung Mano merupakan sentra produksi cengkeh (Syzygium aromatica) Manggarai. Masyarakat umumnya menggantungkan hidupnya pada hasil cengkeh yang ditanam pada sekeliling rumah dan ditanam pada pada lingko. Halaman sekitar rumah seluas kurang lebih 0.5 hektar dimanfaatkan untuk menanam cengkeh. Wilayah lingko lainnya ditanami cengkeh, kopi dan tanaman pelindung kopi seperti, sengon dan dadap. Masyarakat menanam cengkeh di kebun sekitar rumahnya dan menjual bunga cengkeh seharga Rp. 125 000 per kilogram dan daun cengkeh Rp. 5 000 per kilogram.

Tanaman cengkeh mulai berbunga pertama kali pada umur 4 sampai 8 tahun yang matang berukuran 1.5 sampai 2 cm. Pengeringan bunga cengkeh secara alami yang dijemur beralas tikar dari nyaman bambu, pandan atau terpal plastik. Selama proses pengeringan masyarakat membolak-baliknya agar kering merata dan

berwarna coklat kemerahan sampai mudah untuk mematahkannya dengan jari tangan. Waktu pengeringan selama beberapa hari atau lebih dari satu minggu tergantung cuaca.

Gambar 4.7 Peta pembagian lahan secara tradisional pada kampung Mano 2. Kampung Lerang

Kampung Lerang berada di bawah kaki gunung Golo Ranamese dengan topografi terjal bergelombang berada pada kemiringan pada ketinggian antara 900 sampai 1.200 m dpl. Kampung Lerang saat ini masuk dalam wilayah administrasi Desa Gololoni. Wilayah kampung Lerang terdiri dari kampung Lerang yang berbentuk lingkaran, 7 lingko, yaitu: pau, caru, pong, neol, tenda, rewek, jendol dan 2 bangka, yaitu: bangka tenda dan bangka golo gudang serta sedangkan wilayah keramat untuk ritual barong wae setiap tahun yang ada di sekitar danau Ranamese merupakan wilayah hutan konservasi (Gambar 4.9).

Pemukiman sekitar jalan negara trans flores sudah menikmati listrik namun pada kampung tradisional sekitar rumah gendang masih belum dialiri listrik. Beberapa keluarga telah menggunakan sepeda motor dan telepon seluler. Wilayah keramat menurut warga kampung Lerang adalah mata air barong wae dan Danau Ranamese yang saat ini merupakan tempat wisata yang dikelola Balai Besar KSDA NTT. Warga Lerang memanfaatkan danau untuk menangkap ikan untuk memenuhi kebutuhan protein dan sebagian dijual di pinggir jalan Trans Flores. Setiap tahun warga Lerang melakukan ritual Barong Wae di pinggir Danau Ranamese dan juga mata air barong wae sekitar kampung Lerang.

Masyarakat kampung Lerang mendapatkan uang tunai dari hasil menjual kopi sedangkan hasil padi dari sawah untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Pohon kopi

ditanam pada sekeliling rumah dan lingko. Wilayah permukiman selain pada kampung yang bentuknya melingkar juga sekitar jalan trans flores dan lingko jendong. Masyarakat memanfaatkan lingko jendong sebagai tempat tinggal modern dan halaman sekitar rumah seluas kurang lebih 0.5 hektar untuk menanam kopi. Wilayah lingko lainnya ditanami kopi dan tanaman pelindung seperti, sengon dan dadap.

Gambar 4.8 Peta pembagian lahan secara tradisional pada kampung Lerang Masyarakat memanfaatkan madu dari lebah hutan (Apis dorsata) yang biasanya membangun sarang pada pohon ara (Ficus variegata). Masyarakat memanen madu sekitar 100 sampai 150 botol aqua 600 ml dalam satu pohon. Harga jual satu botol madu tersebut seharga Rp. 20.000. Pendapatan tunai juga dengan menjual selada air dari Danau Ranamese seharga Rp. 5.000 per ikat dan buah markisa seharga Rp. 5.000 untuk 10 butir.

Masyarakat memetik kopi robusta dan arabika yang berwarna merah serta kolombia berwarna kuning saat pagi hari dan mengumpulkan dalam berek (ember dari anyaman pandan), memindahkan kopi dari berek ke karung dan membawanya ke rumah pada sore hari. Masyarakat menumbuk kopi, mengeringkan secara alami, menggiling kopi untuk memisahkannya dari kulit pertama yang keras dan menjual biji kopi atau konsumsi keluarga. Pengolahan kopi dengan menggoreng kering dalam wajan (sangrai) sampai berwarna agak hitam. Penumbukan kopi sampai halus untuk konsumsi sendiri dengan lesung dan alu.

Proses pemanenan padi sawah menggunakan sistem dodo, yaitu secara bergotong royong, bergantian atau bergilir atau dengan sistem upah berupa beras atau uang. Pemindahan padi menggunakan roto yaitu keranjang yang terbuat dari anyaman rotan atau bambu. Pemisahan bulir padi dengan cara memukul pada bertangkai berulang kali dengan dua batang kayu dengan dua tangan serta dua kaki

menarik-narik tangkai padi. Kemudian menginjak-injak bulir padi yang masih menempel agar tidak ada lagi bulir yang menempel dan mengayun-ayunkan ke udara supaya batang padi benar-benar terpisah dari batangnya, kemudian membuang daun-daun padi, sisa batang padi serta kotoran kasar yang melekat.

Pembersihan kotoran halus pada padi yang terkumpul dengan bantuan angin. Satu orang berdiri di atas kursi atau meja dengan mengangkat sekeranjang bulir padi, kemudian menjatuhkan bulir padi supaya kotoran halus terbawa angin namun bila angin tidak bertiup kencang maka satu orang lagi mengikipasinya dengan nyiru. Selanjutnya adalah menjemur padi yang sudah bersih hingga kering dan menyimpan padi kering dalam lansing (kotak penyimpanan) supaya tahan lama. Penumbukan padi menjadi beras menggunakan alu dan lesung secukupnya sesuai kebutuhan.

Gambar 4.9 Warga kampung di Mangarai telah memiliki penampungan air dekat pemukiman namun sumber mata air untuk upacara adat barong wae masih terpelihara.

Kebutuhan air bersih tercukupi dari bak penampungan air dengan menampung air menggunakan jerigen plastik (Gambar 4.9). Untuk masyarakat Lerang, sawah sudah menggunakan irigasi dari Danau Ranamese. Pemenuhan kebutuhan air yang semakin mudah menyebabkan gaya hidup dan tingkat kesehatan masyarakat semakin meningkat. Meskipun sudah terdapat bak penampung air pada setiap kampung namun mata air untuk upacara adat barong wae tetap terpelihara. 3. Kampung Wae Rebo

Kampung Wae Rebo berada di bawah kaki gunung Todo dengan topografi terjal bergelombang berada pada kemiringan pada ketinggian 1.100 m dpl. Kampung Wae Rebo merupakan enclave hutan Todo. Kampung ini memiliki 27 tanah lingko dan beberapa tempat penting ritual adat, yaitu: kampung Wae Rebo, Barong Wae dan 7 tempat keramat (Gambar 4.10). Masyarakat Wae Rebo belum mengerjakan seluruh lahan garapan yang ada di dalam enclave Wae Rebo. Lahan yang belum memiliki nama lingko merupakan cadangan untuk lahan garapan (rami) yang ditumbuhi semak belukar. Topografi yang cukup terjal menyebabkan

masyarakat memutuskan untuk tidak menanam padi ladang. Masyarakat mendapatkan beras pada masyarakat kombo, dusun di luar enclave Wae Rebo.

Di kampung Wae Rebo listrik hanya saat malam hari menggunakan generator, rumah adat menggunakan tenaga surya ukuran kecil untuk kebutuhan penerangan lampu dalam rumah. Dengan adanya listrik masyarakat sudah mulai mengenal televisi, setrika dan peralatan listrik lainnya yang menuntut peningkatan pendapatan uang tunai.

Gambar 4.10 Peta pembagian lahan secara tradisional pada kampung Wae Rebo Penghasilan masyarakat Wae Rebo utamanya adalah dari hasil ekowisata dan menanam kopi. Biji kopi dijual ke pasar Dintor dengan cara memikulnya sejauh kurang lebih 15 km. Kopi yang dijual memiliki berat antara 30 - 35 kg seharga Rp. 25.000 per kilogram. Hasil lainnya adalah dari kain tenun seharga Rp. 500.000 untuk satu helainya. Sebagian masyarakat menjadi petunjuk jalan dan pembawa barang bagi turis yang mengunjungi ke Wae Rebo dengan upah Rp. 100.000,- untuk sekali jalan atau Rp. 200.000 pulang pergi.

Beberapa orang penduduk Wae Rebo memiliki telepon seluler meskipun belum ada sinyal telepon. Masyarakat menggunakan telepon seluler untuk berkomunikasi bila keluar dari kampung dan sebagai hiburan bila berada di kampung untuk radio, foto, video dan fungsi lainnya selain alat komunikasi. 4.3.3 Peranan Masyarakat Adat dalam Pengelolaan Hutan

Kepemimpinan tua golo lebih dominan dari pada kepala desa sehingga memiliki peran penting dalam konservasi hutan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sinabutar (2015) bahwa hutan negara di Indonesia lebih memilih legalitas dari pada

legitimasi sehingga lembaga informal sering lebih mendapatkan pengakuan dalam pengelolaan hutan. Masyarakat tradisional berkontribusi pada pelestarian hutan jika mereka menerima manfaat dari hutan baik secara langsung maupun tidak langsung. Di kampung Wae Rebo, masyarakat setempat memiliki akses untuk mengambil kayu membangun rumah adat dari hutan Todo dan mengelola pariwisata sehingga Hutan Todo memiliki tutupan hutan lebih baik dari Hutan Ruteng.

Hutan di pegunungan Ruteng dalam kondisi relatif baik terutama kampung Wae Rebo, karena peran masyarakat tradisional dalam melindungi hutan. Hal yang sama disampaikan oleh Sinabutar et al. (2015) bahwa jika pemerintah melakukan sesuatu yang belum memiliki implikasi bagi masyarakat sehingga ada tumpang tindih kekuasaan maka pelaksanaan kearifan lokal yang lebih berkelanjutan. Masyarakat tradisional membagi wilayahnya menjadi beberapa daerah meliputi hutan keramat dan hutan untuk pemanfaatan. Pemanfaatan kayu dilakukan melalui tetua adat secara selektif untuk memenuhi kebutuhan subsisten.

Lembaga adat melakukan pertemuan paling sedikit sebulan sekali untuk membicarakan permasalahan sosial termasuk pemanfaatan hutan dan lahan. Pertemuan dilakukan lebih dari satu kali apabila ada rencana kunjungan dari pejabat daerah atau untuk pelaksanaan ritual adat pada waktu-waktu tertentu. Pertemuan lembaga adat dihadiri oleh laki-laki sedangkan perempuan hanya mendukung pelaksanaan seperti penyediaan konsumsi. Hal ini disebabkan adanya perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan dan dalam budaya Manggarai yang patriarkat laki-laki lebih banyak melakukan peranan.

Semua tugas tanggung jawab kepengurusan lembaga adat merupakan tanggung jawab tua golo kecuali dalam hal permasalahan tanah, pembagian lahan komunal dan hal mengusahakan lahan menjadi tanggung jawan tua teno. Pelaksanaan ritual adat dipimpin oleh tua golo yang berperan sebagai pemimpin spiritual dan skaligus juga pemimpin lembaga adat. Penentuan pohon yang ditebang untuk rumah adat dan juga pemanfaatan kayu lainnya juga atas ijin dan sepengetahuan tua golo. Pengawasan tidak dilakukan secara khusus namun oleh seluruh anggota masyarakat. Pelanggaran peraturan adat seperti penebangan pohon pada wilayah sekitar mata air akan dilaporkan pada lembaga adat dan dimusyawarahkan bersama mengenai pemberian sanksi adat atas pelanggaran. Hukum adat memberikan sanksi sosial seperti rasa malu dan dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Hukuman sosial memberikan dampak menjaga perilaku yang baik dari setiap warga sehingga kehidupan kampung berjalan dengan baik.

Kondisi penutupan hutan Todo lebih baik daripada Hutan Ruteng karena lembaga adat lebih berperan dalam pengelolaan hutan. Luas hutan primer Ruteng menurun sejak tahun 1993 sampai 2014. Tahun 2014 luas hutan primer pegunungan Ruteng seluas 8.272.26 hektar menurun seluas 8.000.16 hektar (25.76%) dari luas tahun 1993 seluas 16.272.36 (52.41%). Hutan sekunder mengalami penurunan selama kurun waktu 10 tahun dari tahun 1993 sampai 2003 sebesar 2.493.44 hektar (8.04%). Penurunan tersebut sebagai dampak perluasan semak belukar dan kebun serta areal terbuka untuk lahan pertanian kering dan permukiman. Hutan sekunder kembali mengalami kenaikan luas kawasan selama tahun 2003 sampai dengan 2014 sebagai dampak penurunan kualitas penutupan hutan primer (Gambar 4.11).

Sumber: Analisis citra landsat Hutan Ruteng pada Tahun 1993, 2003 and 2014

Gambar 4.11 Penutupan Hutan Ruteng pada Tahun 1993, 2003 dan 2014 Penutupan hutan primer wilayah hutan Todo relatif stabil sejak tahun 1993 sampai tahun 2014 dan hanya terjadi penurunan seluas 102.49 hektar (2.67%), yaitu dari luasan 3.841.92 hektar menjadi 3.739.43 hektar. Penurunan luas hutan primer ini diikuti oleh kenaikan jumlah luasan hutan sekunder seluas 32.7 hektar (0.66%), yaitu dari 4.951.12 hektar menjadi 4.983.82 hektar. Penurunan luasan yang cukup besar selama 20 tahun terakhir pada Hutan Todo adalah luasan semak belukar sejumlah 774.42 hektar (53.28%), yaitu dari 1.453.38 hektar menjadi 678.96 hektar. Penurunan jumlah luasan semak belukar ini sebagai akibat penambahan jumlah luasan lahan untuk perkebunan yang cukup signifikan seluas 888.03 hektar (183.13%), yaitu dari 484.92 hektar menjadi 1 372.95 hektar dan lahan areal terbuka untuk pemukiman seluas 203.14 hektar (625.43%), yaitu dari 32.48 hektar menjadi 235.62 hektar (Gambar 4.12).

Hutan primer dan sekunder ditandai dengan warna hijau tua dan hijau muda terletak pada bagian tengah kawasan. Pada wilayah Hutan Todo penambahan luas kebun yang ditandai dengan warna kuning pada peta penutupan lahan terletak pada wilayah enclave Wae Rebo, pinggir kawasan yang berada pada sisi timur, barat dan utara. Penambahan areal terbuka untuk pemukiman ditandai dengan warna merah yang berada di sisi timur dan utara kawasan. Penambahan areal permukiman ini karena letak kawasan yang berbatasan dengan wilayah padat penduduk (Gambar 4.14). Pada wilayah Hutan Ruteng penambahan luas kebun dan pemukiman terjadi pada semua bagian pinggir kawasan. Wilayah hutan yang masih relatif baik kondisinya berada pada bagian tengah kawasan yang jauh dari jangkauan masyarakat (Gambar 4.13).

Wisatawan asing lebih banyak datang ke Hutan Todo daripada Hutan Ruteng (Tabel 4.7). Turis domestik lebih banyak datang ke Hutan Ruteng karena atraksi wisata utama adalah pemandangan alam sedangkan di Wae Rebo wisata budaya

0 2000 4000 6000 8000 10000 12000 14000 16000 18000 Hutan Primer Hutan Sekunder Kebun Areal terbuka

Semak Tubuh air Awan Hektar

yang menarik lebih banyak turis asing, yaitu rumah tradisional dan kehidupan sehari-hari di dalam enclave hutan Todo seperti: pertanian organik, peralatan tradisional, sayuran dari hutan dan sebagainya.

Sumber: Analisis citra landsat Hutan Todo pada Tahun 1993, 2003 and 2014

Gambar 4.12 Penutupan Hutan Todo pada Tahun 1993, 2003 dan 2014 Tabel 4.7 Jumlah turis pada wilayah Hutan Ruteng dan Todo

Tahun

Hutan Ruteng Hutan Todo Turis Domestik Turis Asing Turis Domestik * Turis Asing 2014 808 449 - 2.493 2013 305 167 - 679 2012 145 141 - 573 2011 1.391 78 - 425 2010 5 4 - 334

Keterangan: * = Tidak ada data karena sedikit turis domestik yang datang.

Masyarakat tradisional di Hutan Ruteng memperoleh pendapatan tunai dengan menjual hasil hutan dan Wae Rebo dari ekowisata (Tabel 4.8). Pemanfaatan kayu bangunan dan kayu bakar dari dalam Hutan Ruteng berdampak degradasi hutan. Hal ini sesuai dengan pendapat Pei et al. 2009 bahwa pemanfaatan hasil hutan untuk komersial akan menyebabkan degradasi hutan.

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000 Hutan Primer Hutan Sekunder Kebun Areal terbuka

Semak Tubuh air Awan Hektar

Tabel 4.8 Perbandingan kondisi kampung tradisional di Hutan Ruteng dan Todo

No Uraian Hutan Ruteng Hutan Todo

1 Kampung sampel Mano dan Lerang Wae Rebo 2 Forest area 32.245.6 ha 10.089.2 ha 3 Fungsi Hutan Hutan Lindung Hutan Konservasi 4 Penutupan Hutan Penurunan selama

periode 1993 – 2014

Penutupan hutan periode 1993 – 2014 relatif baik. 5 Pemanfaatan kayu

dalam kawasan

Tidak ada ijin pemanfaatan

Ijin pemanfaatan untuk pembangunan rumah adat

6 Pengelolaan wisata Wisata dikelola pemerintah pusat

Wisata dikelola masyarakat tradisional 7 Pengelolaan

kampung

Sulit untuk membangun rumah adat

Kampung tradisional terkelola dengan baik 8 Tanggung jawab

konservasi hutan

Hutan dianggap sebagai tanggung jawab

pemerintah

Ada tanggung jawab untuk konservasi hutan 9 Pendapatan tunai

dari hutan

Kayu bangunan, kayu bakar, sayuran, buah dan ikan.

Wisata alam dan budaya 10 Harga tiket wisata Rp. 10.000,- untuk

pemerintah

Rp. 250.000,- untuk penduduk lokal

4.4 Simpulan

Masyarakat Suku Manggarai memiliki sistem tata guna lahan yang mendukung konservasi tumbuhan hutan dan ekosistem Pegunungan Ruteng serta memberikan kesejahteraan. Pengelolaan lahan dilakukan dengan sistem tata guna lahan yang terbagi menjadi beberapa fungsi, yaitu: beo (kampung), roas (halaman sekitar rumah), lingko (kebun komunal), rami (hutan sekunder cadangan pertanian), puar (hutan), pong cengit (hutan keramat) dan cengit (daerah keramat). Pembagian lahan tersebut untuk menjaga sistem ekologi baik dan mencukupi kebutuhan masyarakat. Masyarakat menjaga sistem ekologi dengan menempatkan permukiman pada wilayah rata, wilayah perbukitan untuk kebun agroforestry dan menjaga hutan pada wilayah gunung yang lebih tinggi. Pengelolaan lahan secara tradisional masih dipertahankan karena lahan komunal merupakan ikatan sosial kekerabatan dan tempat ritual tradisional yang memiliki nilai keagamaan lokal yang dipatuhi. Pada wilayah Hutan Todo memiliki penutupan hutan yang lebih baik karena adanya dukungan masyarakat tradisional dalam mendukung kelestarian hutan.