Sebelumnya, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa naskah yang mengandung teks Hidayat al-habib baru ditemukan di satu tempat saja, yakni dalam koleksi Perpustakaan Negara Malaysia (PNM) dengan kode MS 1042.76 Patut diduga
bahwa salinan naskah lainnya, terutama di wilayah Aceh, kemungkinan besar dapat ditemukan, meski tiga koleksi terbesarnya, yakni Museum Negeri Aceh, Dayah Tanoh Abee, dan Yayasan Ali Hasjmy, dipastikan tidak menyimpan salinan naskah tersebut.
Masalahnya, di Aceh, dan sebetulnya juga di wilayah-wilayah lain, pemilik naskah tidak hanya bersifat lembaga seperti museum dan perpustakaan saja, melainkan juga masyarakat secara perorangan, yang terkadang jumlahnya melebihi lembaga itu sendiri. Oleh karenanya, dugaan masih dapat dijumpainya salinan naskah
Hidayat al-habib di tangan masyarakat ini, tetap perlu dikemukakan. Tarmizi, misalnya, salah seorang kolektor naskah-naskah Aceh pernah mengemukakan bahwa di antara puluhan koleksinya terdapat naskah Hidayat al-habib, meski ia sendiri belum bisa memastikannya. Sayangnya, saya sendiri belum sempat memeriksanya sampai penulisan artikel ini dibuat.
Selain itu, penting dikemukakan bahwa teks ini sesungguhnya pernah dicetak terbatas oleh Penerbit Mustafa al-Babi al-Halabi di Cairo pada tahun 1346 H/1927
M sebagai teks pinggir dari sebuah teks lain berjudul Jam al-fawa’id wa-jawahir al-qala’id karangan Dawud al-Fatani. Akan tetapi, karena keterbatasannya itu maka akses terhadap kitab versi cetak ini pun tidak meluas, selain juga terdapat sejumlah perbedaan redaksi dengan versi naskah yang dijumpai di PNM.
Salah satu perbedaan yang cukup menonjol dalam versi cetak adalah judul kitabnya, yakni al-Fawa’id al-bahiyah i al-as’ilah al-nabawiyah, meskipun terjemahannya tetap mengacu pada judul dalam versi naskah, yakni “Haluan akan Nabi Saw. Pada menyatakan menggemari segala amal kebajikan dan menjauh daripada segala amal kejahatan”.77 Sayangnya tidak ada informasi versi
naskah mana yang dijadikan rujukan oleh sang Penerbit untuk mencetak kitab tersebut, sehingga perlu kajian lebih mendalam mengenai sebab perbedaan tersebut. Dalam perspektif ilologi dan tahqiq,78 judul sebuah teks seyogyanya
didasarkan pada informasi asal yang berasal dari teks itu sendiri, sejauh informasi terkait bisa dijumpai. Dalam hal kitab hadis Melayu karangan al-Raniri ini, tanpa diragukan lagi bahwa pengarang sendiri telah menyebutkan judul Hidayat al- habib tersebut dalam halaman pertamanya.
Al-Raniri menjelaskan bahwa hadis-hadis yang dihimpun dalam karyanya ini merupakan kumpulan hadis yang bersumber pada kitab-kitab hadis terpercaya. Sebagai ‘pertanggungjawaban akademis’, ia pun memberikan tanda tertentu pada setiap akhir hadis untuk menandai sumber kitab hadis yang menjadi rujukannya. Adapun tanda-tanda khusus, yang ditulis dengan tinta merah tersebut antara lain adalah huruf ‘kha’ untuk kitab hadis Sahih al-Bukhari, ‘mim’ untuk Sahih Muslim, ‘ta’ untuk al-Tirmidhi, ‘alif’ untuk Imam Ahmad ibn Hanbal, ‘dal’ untuk Ab Dawud, ‘ha dan ba’ untuk Ibn Hiban, ‘qaf dan a’ untuk al-Daruqu ni, ‘jim dan ha’ untuk Ibn Majah, dan seterusnya.
Di bagian akhir kitab ini pula, ketika menyinggung masalah syarat bertaubat, al- Raniri menyebut kitab karangannya yang lain berjudul Durrat al-fara’id bi-sharh al-‘aqa’id, sebuah kitab terjemahan bahasa Melayu dari teks berbahasa Arab berjudul Sharh ‘aqa’id karangan Imam Sa d al-Din al-Taftazani (w. 791 H/1387/8 M). Oleh Naguib Al-Attas, naskah kitab ini pernah dinyatakan hilang dan tidak ditemukan lagi,79 meski ternyata setelah melalui penelaahan lebih saksama
diketahui bahwa sejumlah salinan naskahnya dapat dijumpai di beberapa lembaga penyimpan naskah, seperti Yayasan Ali Hasjmy Aceh (2 naskah)80,
Perpustakaan Nasional (1 naskah).81
Demikianlah, Hidayat al-habib mengandung 831 buah hadis tentang berbagai kebaikan yang dianjurkan untuk dilakukan serta aneka keburukan yang harus ditinggalkan. Sebagai sebuah kitab di bidang hadis, al-Raniri tampak ingin menyandarkan karyanya ini pada sumber-sumber terpercaya di bidang hadis yang sudah masyhur dan diakui validitasnya di kalangan para sarjana hadis khususnya, dan masyarakat Muslim pada umumnya.
Hidayat al-habib mengandung 831 buah hadis tentang
berbagai kebaikan yang dianjurkan untuk
dilakukan serta aneka keburukan yang harus
Oleh karena itulah di bagian awal, al-Raniri menyebutkan kitab-kitab hadis yang menjadi rujukannya dalam menyusun Hidayat al-habib tersebut, guna mengetahui sumber rujukan setiap hadis yang dikutipnya. Al-Raniri pun memberikan tanda-tanda khusus bagi setiap sumber. Adapun sumber-sumber rujukan selengkapnya adalah sebagai berikut:
1. Sahih al-Bukhari, yang ditandai dengan huruf ‘kh’; 2. Sahih Muslim, yang ditandai dengan huruf ‘m’; 3. Sunan al-Tirmidhi, yang ditandai dengan huruf ‘t’;
4. Sunan Imam Ahmad ibn Hanbal, yang ditandai dengan huruf ‘alif’; 5. Sunan Abu Dawud, yang ditandai dengan huruf ‘d’;
6. Kitab Ibn Hiban, yang ditandai dengan huruf ‘h dan b’; 7. Kitab al-Daruqu ni, yang ditandai dengan huruf ‘q dan ’; 8. Sunan Ibn Majah, yang ditandai dengan huruf ‘j dan h’; 9. Kitab al-Quda i, yang ditandai dengan huruf ‘ayn dan y’; 10. Kitab Imam Hakim, yang ditandai dengan huruf ‘k dan m’; 11. Kitab abrani, yang ditandai dengan huruf ‘ ’;
12. Kitab Imam Daylami, yang ditandai dengan huruf ‘m dan y’; 13. Kitab Ab al-Qasam, yang ditandai dengan huruf ‘ayn dan m’; 14. Kitab Imam al-Bayhaqi, yang ditandai dengan huruf ‘q dan y’; 15. Kitab al- Askari, yang ditandai dengan huruf ‘r dan y’;
16. Kitab Ab Ya la, yang ditandai dengan huruf ‘y dan ayn’; 17. Kitab al-Nasa’i, yang ditandai dengan huruf ‘n dan s’; 18. Kitab Ibn Adi, yang ditandai dengan huruf ‘ayn dan d’; 19. Kitab al-Kha ib, yang ditandai dengan huruf ‘kh dan ’; 20. Kitab al-Khuzaymah, yang ditandai dengan huruf ‘m dan h’; 21. Kitab Ibn Abi al-Dunya, yang ditandai dengan huruf ‘y dan alif’;