• Tidak ada hasil yang ditemukan

Organisasi Tema Pembahasan dalam Hidayat al-habib

Sebagaimana dikemukakan oleh al-Raniri sendiri, sistematika pembahasan hadis dalam Hidayat al-habib ini dibagi menjadi beberapa bab, dengan tujuan untuk memudahkan dan memberikan manfaat bagi para pembacanya.

Al-Raniri mengatakan: wa-ja altuhu mubawwaban li-yu imma al-naf a li al- raghibi, yang diterjemahkan menjadi: dan kujadikan ia beberapa bab supaya manfaatnya bagi segala yang menggemari akhirat. Adapun organisasi bab tersebut selengkapnya adalah sebagai berikut:

1. Bab anjuran menggemari niat

2. Bab anjuran menggemari Islam, iman, ihsan dan ikhlash

3. Bab anjuran menggemari shalat dan larangan meninggalkannya 4. Bab anjuran menggemari zakat, shadaqah, memberi/dermawan

dan larangan mencegahnya

5. Bab anjuran menggemari memberikan hadiah

6. Bab anjuran menggemari jamuan (memberi jamuan kepada tamu) 7. Bab anjuran menggemari puasa dan larangan meninggalkannya 8. Bab anjuran menggemari haji dan umrah dan larangan

meninggalkannya

9. Bab keutamaan masjid dan keutamaan membangunnya

10. Bab anjuran menggemari membaca al-quran dan yang berhubungan dengannya, juga larangan meninggalkannya

11. Bab anjuran menggemari mimpi bertemu nabi Muhammad saw, menziarahinya, membaca shalawat atasnya dan larangan meninggalkannya

12. Bab anjuran menggemari ilmu, orang yang berilmu, orang yang mencari ilmu dan larangan meninggalkannya

13. Bab anjuran menggemari taqwa kepada Allah swt. dan larangan meninggalkannya

14. Bab anjuran menggemari cinta kepada Allah swt., mengingat-Nya dan taqarrub kepada-Nya

15. Bab anjuran menggemari qadha dan qadar

16. Bab anjuran menggemari bersyukur dan larangan meninggalkannya 17. Bab anjuran menggemari berbuat baik kepada orang tua,

menyambung silaturrahim dan larangan berbuat durhaka kepada orang tua, memutuskan silaturrahim dan hak anak atas orang tuanya

18. Bab anjuran menggemari sabar dan ridha

19. Bab anjuran menggemari hilim, menahan amarah dan larangan meninggalkannya

20. Bab anjuran menggemari tawakkal; 21. Bab larangan zina dan liwath 22. Bab larangan meminum khamr

23. Bab larangan memakan riba

24. Bab larangan berdusta, bersaksi dengan dusta dan bersumpah dengan dusta

25. Bab larangan mencuri, khianat dalam amanah orang, menyembunyikan barang temuan, tidak mengembalikan barang pinjaman, dan larangan memakan harta anak yatim dengan zalim 26. Bab anjuran menggemari membayar nadzar dan larangan

meninggalkannya

27. Bab larangan takabbur dan ujub 28. Bab larangan riya

29. Bab larangan hasud, dengki dan dendam

30. Bab larangan mengupat (membicarakan orang lain) dan mengadu domba

31. Bab larangan berbuat dzalim

32. Bab larangan membunuh orang mu’min

33. Bab anjuran menggemari pekerjaan raja, amir dan qadhi dan larangan meninggalkannya

34. Bab anjuran menggemari sunnah nabi dan larangan terhadap bid’ah

35. Bab anjuran untuk tidak menginginkan apa yang ada pada orang lain dan larangan tamak dan berlarut-larut dalam keinginan (angan- angan)

36. Bab anjuran menggemari zuhud dan larangan mencintai dunia karena dunia

37. Bab anjuran menggemari mencari rizki yang halal dan larangan mencari rizki yang haram

38. Bab anjuran menggemari menolong orang mu’min dan mengasihani hamba Allah dan larangan meninggalkan mengasihani mereka 30. Bab anjuran menggemari sifat seorang mu’min dan menjauhi sifat

kair dan munaik

40. Bab anjuran menggemari berakhlak baik dan larangan berakhlak buruk

41. Bab anjuran menggemari berkasih-kasihan dengan istri dan larangan meninggalkannya, dan hak suami atas istri juga hak istri atas suami 42. Bab anjuran menggemari tawadhu (rendah hati) dan larangan

meninggalkannya

43. Bab anjuran menggemari musyawarah dan shalat istikharah dan larangan meninggalkannya

44. Bab anjuran menggemari diam dan larangan berkata dengan sesuatu yang tidak bermanfaat

45. Bab anjuran menggemari uzlah (mengasingkan diri) dan larangan bercampur gaul dengan makhluk

46. Bab anjuran menggemari bergaul atau bersahabat dengan orang shalih dan yang berhubungan dengannya dan larangan bergaul atau bersahabat dengan orang jahat

47. Bab anjuran menggemari menangis dan larangan banyak tertawa 48. Bab anjuran menggemari amal shalih selama hidup dan larangan

meninggalkannya

49. Bab larangan pergi bertenung (pergi kepada paranormal) dan percaya kepada yang memberi tanda dari burung dan menggemari sampingan yang banyak

50. Bab anjuran menggemari jihad dan larangan meninggalkannya 51. Bab anjuran menggemari amar ma’ruf dan nahyi munkar dan

larangan meninggalkannya

52. Bab anjuran menggemari untuk senantiasa mengingat kematian, mentalqinkan mayit, mengantarkan jenazah, menguburkan jenazah dan larangan untuk menginginkan kematian dan mencaci mayit 53. Bab anjuran menggemari istighfar (meminta ampunan) dan taubat

dan larangan meninggalkannya.

Penutup

Demikianlah, tulisan ini merupakan pembahasan tentang sejarah pemikiran intelektual Islam di Nusantara, khususnya pada masa awal Islamisasi. Selain bidang tasawuf dan hadis yang mendapat porsi diskusi lebih banyak dalam tulisan ini, tentu saja bidang-bidang lainnya pun masih harus dielaborasi dengan memanfaatkan data-data yang telah ada, khususnya dalam bentuk manuskrip. Tulisan ini hanya awal dan salah satu bagian saja dari sejarah pemikiran intelektual Islam Nusantara yang masih belum sepenuhnya terungkap.

Endnotes

1 Tentang teori-teori islamisasi di Nusantara, lihat bab pertama buku Azra 1994.

2 Lihat misalnya Syellabear (1896) Winstedt (1938, 1969), Liaw Yock Fang (1993) Teuku Iskandar (1995). Saya mendiskusikan topik ini dalam Fathurahman, 2012: 167-177.

3 Penelitian paling mutakhir berkaitan dengan informasi masa wafatnya Hamzah Fansuri

disampaikan฀ oleh฀ C.฀ Guillot฀ dan฀ Ludvik฀ Kalus.฀ “Batu฀ Nisan฀ Hamzah฀ Fansuri”฀ dalam฀

Inskripsi Islam Tertua di Indonesia (Jakarta: KPG, EFEO, dan Forum Jakarta-Paris, 2008), 71- 93, yang menjelaskan bahwa berdasarkan bukti arkeologis, Hamzah Fansuri kemungkinan sudah wafat di Mekah pada tahun 1527.

4 Lihat antara lain Doorenbos (1933), al-Attas (1970), Hasjmy (1975), Drewes and Brakel (1986), Bukhari Lubis (1993), dan Hadi (2001).

5 Hadi (2001: 147). 6 Hadi (2001: 152).

7 Tidak banyak diketahui latar belakang kehidupannya, tapi namanya begitu saja muncul

sebagai฀“Syaykh฀al-Islam”฀di฀Istana฀mulai฀masa฀kekuasaan฀Sultan฀‘Alauddin฀Ri’ayat฀Syah฀

hingga dua penguasa berikutnya. Memperhatikan karya-karyanya, ia jelas mengenal dan sangat terpengaruh ajaran Hamzah Fansuri, meski tidak ada bukti apapun bahwa dia pernah bertemu dengannya (lihat Anthony Johns, “Relections on the Mysticism of

Syams฀al-Din฀al-Samatra’i฀(1550?-1630)”฀dalam฀Jan฀van฀der฀Putten฀and฀Mary฀Kilcline฀Cody฀ [eds.],฀Lost Times and Untold Tales from the Malay World (Singapore: NUS Press, 2009): 148-163). Kemudian, artikel ini diterbitkan ulang untuk pembaca yang lebih luas dalam

Studia Islamika Vol. 18 No. 2 (2011): 227-248. Lihat juga Peter Riddell, Islam and the Malay-Indonesian World: Transmission and Responses (Singapore: Horizon Books, 2001): 110-115.

8 Johns (2009: 150). 9 Johns (2009: 153).

10 Tentang hal ini, lihat Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Penerbit Mizan, cetakan II, 1994).

11 Henri Chambert-Loir & Oman Fathurahman. Khazanah Naskah: Panduan Koleksi Naskah Indonesia Sedunia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia kerja sama dengan EFEO, 1999). 12 Tauik Abdullah, Nasionalisme dan Sejarah, (Bandung: CV. Satya Historika, 2001), h. 14. 13 Lihat Peter Gregory Riddell, “Abd al-Rauf al-Singkili’s Tarjuman al-Mustaid: A Critical Study

of฀His฀Treatment฀of฀Juz฀16”,฀disertasi฀(Canberra:฀The฀Australian฀National฀University,฀1984);฀

Salman Harun, “Hakikat Tafsir Tarjuman al-Mustaid Karya฀Syeikh฀Abdur฀Rauf฀Singkel”,฀

disertasi (Jakarta: IAIN Syarif Hidayatullah, 1988); A.H. Johns, “The Qur’an in The Malay

World:฀Relections฀on฀‘Abd฀al-Ra´uf฀of฀Singkel฀(1615-1693),”฀Journal of Islamic Studies 9.2 (1998): 120-145.

14 Contoh paling mencolok dalam hal ini adalah kontestasi Nuruddin al-Raniri pada pertengahan abad ke-17 di Aceh dengan para penganut ajaran Wujudiyyah Hamzah Fansuri dan al-Sumatra’i, seperti akan dikemukakan di bawah.

15 Sebetulnya, pintu awal akses terhadap khazanah manuskrip Nusantara itu sudah cukup terbuka melalui penulisan berbagai katalog manuskrip. Tentang hal ini, lihat misalnya tulisan

tentang฀“Katalogisasi฀dan฀Pencatatan฀Naskah฀Nusantara”฀dalam฀Oman฀Fathurahman฀dkk.฀

(2010, bab kedua).

16฀฀ Anthony฀Johns,฀“Suism฀as฀a฀Category฀in฀Indonesian฀Literature฀and฀History”,฀JSEAH, 2,

II,฀(1998):฀14;฀lihat฀juga฀Zamakhsyari฀Dzoier,฀Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai (Jakarta: LP3ES 1980), 30; dan Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII (Bandung: Penerbit Mizan, second edition, 1994), bab 1.

17฀฀ Anthony฀Johns,฀“Suism฀in฀Southeast฀Asia:฀Relections฀and฀Reconsiderations.”฀Journal of Southeast Asian Studies 26 (1995): 177.

18฀฀ Merle฀Calvin฀Ricklefs,฀“Six฀Centuries฀of฀Islamization฀in฀Java.”฀Conversion to Islam. Ed. N. Levtzion. (London: Oxford University Press, 1979), 107.

19 Seperti halnya Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatra’i, dan Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al-Fansuri, Nuruddin al-Raniri sebetulnya juga seorang sui yang menulis tentang ajaran

Wujudiyyah mazhab Ibn ‘Arabi yang berujung pada doktrin wahdat al-wujud. Akan tetapi, terlepas dari status keilmuannya tersebut, ia seorang yang senang berpolemik dengan menuduh Hamzah dan Syamsuddin sebagai kair karena telah mengotori transendensi Tuhan dan mencampurkannya dengan pluralitas makhluk (Telaah komprehensif tentang geneologi keilmuan al-Raniri, lihat Azyumardi Azra, The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Indonesian-Malay and Middle Eastern ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Century (Australia & Honolulu: Allen & Unwin and University of Hawai’i Press, 2004): 54-69; lihat juga Riddell (2001): 110-125.

20 Dalam konteks sejarah intelektual Islam Aceh, Abdurrauf sering dikategorikan sebagai ulama ortodoks bersama al-Raniri yang berseberangan dengan pandangan-pandangan teosois Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatra’i. Akan tetapi, sesungguhnya ia adalah penulis dan pembela doktrin tasawuf Ibn Arabi, dan karenanya juga melakukan propaganda doktrin wahdat al-wujud, meski dengan kecenderungan yang lebih santun (Tentang peran Abdurrauf dalam konteks pembaharuan tasawuf di dunia Melayu- Nusantara, lihat Azra (2004): 70-86; Riddell (2001: 125-132.

21 Beberapa nama ulama lain yang sangat berpengaruh, tapi tidak akan dielaborasi dalam tulisan ini, antara lain: Muhammad Yusuf al-Makassari (w. 1699), Abdussamad al-Falimbani

(w.฀1789?),฀Muhammad฀Nais฀al-Banjari฀(1710-1812).฀Tentang฀tokoh-tokoh฀ini,฀lihat฀Azra฀

(2004), bab 5 dan 6.

22 Dalam konteks ini, istilah ortodoksi sering dihubungkan dengan faham atau mazhab yang dianggap benar berdasarkan norma yang dipakai saat itu, sedangkan heterodoksi mengacu pada faham yang sebaliknya, dianggap salah, dan bahkan sesat. Dalam

Encyclopedia of Religion, orthodoksi diartikan sebagai ‘correct and sound belief according to an authoritative norm’, sedangkan heterodoxy diartikan sebagai ‘belief in a doctrine differing from the norm’.฀฀Lihat฀Syeila฀McDonough,฀“Orthodoxy฀and฀Heterodoxy,”฀dalam฀ Lindsay฀Jones฀[ed.],฀Encyclopedia of Religionv. 10 (Detroit: Macmillan Reference, 2005): 6909.

23 Beberapa salinan manuskrip teks ini, berikut komentarnya dalam berbagai bahasa, lihat P. Voorhoeve Handlist of Arabic Manuscripts in the Library of the University of Leiden and Other Collection in the Netherlands (Leiden: Leiden University Press/The Hague/Boston/ London, 1980), 380-382.

24 Manuskrip al-Tuhfah al-mursalah tersimpan, antara lain, di Perpustakaan Britisy Library (Ad 12305) dan Perpustakaan Universitas Leiden (Cod. Or. 5594). Edisi teks ini berikut versi Jawanya yang ditulis dalam bentuk tembang Macapat, lihat Anthony Johns, The Gift Addressed to the Spirit of the Prophet (Canberra: Australian National University, 1965). 25 Johns, The Gift Adressed..., 6.

26 Fadl Allah al-Burhanpuri, al-Tuhfah al-mursalah ila ruh al-nabi, koleksi Surau Calau Sijunjung, Sumatra Barat, h. 1-5.

27 Manuskrip teks ini dapat ditemui baik di perpustakaan-perpustakaan maupun milik perorangan. Lihat misalnya manuskrip no. Or. 2846 yang disebut dalam P. Voorhoeve

Handlist, h. 108. Salinan manuskrip yang terakhir saya identiikasi adalah koleksi Surau Calau, Sijunjung, Sumatra Barat.

28 Teks ini dapat dianggap sebagai salah satu sumber Arab terpenting yang memberikan penafsiran atas doktrin tawhid al-wujud yang ditulis dalam konteks Melayu-Nusantara, seperti akan didiskusikan secara khusus di bawah. Lihat Fathurahman 2011: 177-198, dan 2012.

29 Teks ini memiliki pengaruh tidak hanya di wilayah Melayu, tapi juga Jawa. Salah satu manuskrip dari teks ini dijumpai beserta terjemahannya dalam bahasa Jawa Pegon. 30 Dalam beberapa sumber, kitab ini diberi judul Tuhfat al-Mursalah, sama dengan teks aslinya,

lihat misalnya Syagir Abdullah, Penyebaran Thariqat-thariqat Syuiyah Mu’tabarah di Dunia Melayu (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah, 2000), 233. Akan tetapi,al-Palimbani

li al-Tuhfah…”,฀ (h.฀ 257).฀ Analisis฀ ringkas฀ mengenai฀ teks฀ ini,฀ lihat฀ Oman฀ Fathurahman,฀ “Penulis฀ dan฀ Penerjemah฀ Ulama฀ Palembang”,฀ dalam฀ Henri฀ Chambert-Loir฀ [ed.],฀Sadur: Sejarah Terjemahan di Indonesia dan Malaysia (Jakarta: KPG, EFEO, bekerja sama dengan Forum Jakarta-Paris, Pusat Bahasa, dan Unpad Bandung, 2009), 1052-1053.

31 Anthony Johns, “Relections…”,฀152.

32 Anthony Johns, The Gift Adressed..., 13-20.

33฀ Tim฀Behrend฀[ed.],฀Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara Jilid 4; Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Jakarta: Yayasan Obor Jakarta bekerjasama dengan EFEO, 1998), 6. 34 Oman Fathurahman dan Munawar Holil, Katalog Naskah Ali Hajsmy Aceh (Tokyo: Tokyo

University of Foreign Studies, bekerja sama dengan Manassa Jakarta, 2007), 156-157. 35 P. Voorhoeve, Handlist of Arabic Manuscripts…, 171.

36 Ibunya seorang Melayu, sedangkan ayahnya berasal dari keluarga imigran Hadrami yang mempunyai tradisi panjang berpindah ke Asia Selatan dan Asia Tenggara (lihat Azyumardi Azra, Jaringan Ulama… (1994), 169; Muhammad Naquib al-Attas, Raniri and the Wujudiyyah of the 17th Century Aceh (Singapore, Malaysian Branch, Royal Asiatic Society, 1966), 12.

37 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…,182.

38 Lihat misalnya Muhammad Naquib al-Attas, The Mysticism of Hamzah Fansuri (Kuala Lumpur: University of Malaya Press, 1970), 3; Abdul Hadi W.M., Tasawuf yang Tertindas

(Jakarta: Penerbit Paramadina,2001), 115-116.

39฀ Diskusi฀panjang฀lebar฀tentang฀hal฀ini,฀lihat฀Claude฀Guillot฀dan฀Ludvik฀Kalus,฀“Batu฀Nisan…”,฀

71-93.

40฀ Claude฀Guillot฀dan฀Ludvik฀Kalus,฀“Batu฀Nisan…”,฀82.

41 Lihat Azyumardi Azra, Jaringan Ulama… (1994), 182; Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam (Jakarta: PT Raja Graindo Persada, 1996), 53-54; dan C. Snouck Hurgronje,

Aceh, Rakyat dan Adat IstiadatnyaII (Jakarta: INIS, 1997), 12.

42 Lihat Oman Fathurahman, Tanbih al-Masyi: Menyoal Wahdatul Wujud, Jakarta: Mizan, bekerja sama dengan EFEO, 1999.

43 Nuruddin al-Raniri, Fath al-Mubin ‘ala al-mulhidin, manuskrip No. 179/TS/4/YPAH/2005 koleksi Yayasan Ali Hasjmy Aceh, 2. Tentang koleksi ini, lihat Oman Fathurahman dan Munawar Holil, Katalog Naskah… (2007), 146-147.

44 Nuruddin al-Raniri, Fath al-Mubin..., 3.

45 Peter Mundy, The Travel of Peter Mundy Vol. III Part 2 (London: tp., 1919) 330. 46 Nuruddin al-Raniri, Fath al-Mubin…,฀3-4.

47 Nuruddin al-Raniri, Fath al-Mubin…,฀3-4.

48 Lihat, antara lain, Simuh, Tasawuf dan Perkembangannya…, 139-158.

49 Lihat Syagir Abdullah, Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara I (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah, 1991), 53.

50 Nuruddin al-Raniri, Tibyan i ma’rifat al-adyan, manuskrip no. 4209/07.1437 koleksi Museum Negeri Aceh, 2-3.

51 Analisis ilologis dan sejarah mengenai teks ini, lihat Oman Fathurahman, “Ithaf al-

dzaki…”.

52 Diskusi tentang karya ini telah secara mendalam dibahas dalam Oman Fathurahman,

Tanbih al-Masyi…

53 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…, 191.

54 S. Soebardi, The Book of Cabolek (The Hague: Martinus Nijhoff, 1975), 17. 55 S. Soebardi, The Book of Cabolek…, 27.

56 Hamid Nasuhi, Serat Dewaruci: Tasawuf Jawa Yasadipura I (Jakarta: Usyul Press, 2009), 180-181.

57 S. Soebardi, The Book of Cabolek…, 41.

58 Lihat Muhajirin, “Transmisi Hadis di Nusantara: Peran Ulama Hadis Muhammad Mahfuzh

al-Tarmasi”.฀Disertasi฀di฀UIN฀Syarif฀Hidayatullah฀Jakarta.฀2009.

59 Lihat H.W.M. Shagir Abdullah, Khazanah Karya Pusaka Asia Tenggara (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah, jilid I 1991), h. 42-61; Hoesein Djajadiningrat, Tinjauan Kritis tentang Sajarah Banten (Jakarta: Penerbit Djambatan, 1983), h. 59.

60 Lihat misalnya Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…; Oman Fathurahman & Munawar Holil,

Katalog… h. 21.

61 H.W.M. Shagir Abdullah, Khazanah…, h. 173.

62 H.W.M. Shagir Abdullah, Penyebaran Islam dan Silsilah Ulama Sejagat Dunia Melayu Jilid 6, Pengenalan Siri Ke-7, (Kuala Lumpur: Persatuan Pengkajian Khazanah Klasik Nusantara & Khazanah Fathaniyah), h. 28; dan Jilid 13 (2000), h. 37.

63 H.W.M. Shagir Abdullah, Penyebaran… (jilid 13, 2000), h. 17. 64 H.W.M. Shagir Abdullah, Penyebaran… (jilid 10, 2000), h. 21. 65 H.W.M. Shagir Abdullah, Penyebaran… (jilid 13, 2000), h. 42.

66 H.W.M. Shagir Abdullah, Al’Allamah Syeikh Ahmad Al Fathani Ahli Fikir Islam dan Dunia Melayu (Kuala Lumpur: Khazanah Fathaniyah, 1992), h. 44-48.

67฀ Abdurrahman,฀ Mas’ud,฀ “Mahfuz฀ al-Tirmisi฀ (d.฀ 1338/1919):฀ An฀ Intellectual฀ Biography”.฀

Studia Islamika 5:2 (Jakarta: PPIM UIN Jakarta), h. 33-35.

68 Muhammad Idris ‘Abdurrauf al-Marbawi al-Azhari, Bahr al-madhi sharh bagi Mukhtasar Sahih al-Turmudhi (Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi wa-Awladuh, I 1933), h. 3.

69 Seperti halnya Hamzah Fansuri, Shamsuddin al-Sumatra’i, dan Abdurrauf ibn Ali al-Jawi al- Fansuri, Nuruddin al-Raniri, yang wafat pada 1068 H/1658 M sebetulnya juga seorang sui yang menulis tentang ajaran Wujudiyyah mazhab Ibn ‘Arabi yang berujung pada doktrin

wahdat al-wujud. Akan tetapi, terlepas dari status keilmuannya tersebut, ia seorang yang senang berpolemik dengan menuduh Hamzah dan Shamsuddin sebagai kair karena telah mengotori transendensi Tuhan dan mencampurkannya dengan pluralitas makhluk (Telaah komprehensif tentang geneologi keilmuan al-Raniri, lihat Azyumardi Azra, The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Indonesian-Malay and Middle Eastern ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Century (Australia & Honolulu: Allen & Unwin and University of Hawai’i Press, 2004): 54-69; lihat juga Riddell (2001): 110-125.

70 Azyumardi Azra & Oman Fathurahman. “Jaringan Ulama. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam, Ed. Azyumardi Azra (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve), V, h. 115.

71 Azyumardi Azra, Jaringan Ulama…,฀h.฀169.

72 H.W.M. Shagir Abdullah, Penyebaran…jilid 6, (1999), h. 7.

73 Oman Fathurahman, Tanbih al-Masyi: Menyoal Wahdatul Wujud, Kasus Abdurrauf Singkel di Aceh Abad 17 (Bandung-Jakarta: Mizan, EFEO, 1999), h. 36.

74 Lihat Azyumardi Azra, Jaringan… h. 182; hal ini dikemukakan juga dalam Oman Fathurahman, Tanbih al-Masyi… h. 36-37.

75 Azyumardi Azra, Jaringan…, h. 182.

76 H.W.M. Shagir Abdullah, Khazanah… II, h. 65.

77 Lihat Dawud ibn al-Shaykh ‘Abd Allah al-Fatani, Jam’ al-fawa’id wa-Jawhar al-Qala’id

(Kairo: Mustafa al-Babi al-Halabi wa-Awladuh, 1346), h. 3.

78 Tahqiq merupakan terjemahan dari kata ‘criticism’, yang secara sederhana dapat diartikan sebagai ‘ihkam al-shay’ (menghakimi sesuatu). Dalam konteks sastra, tahqiq dideinisikan sebagai ‘al-fahs al-‘ilm li-al-nusus al-adabiyah min haythu masdaruha wa-sihhat nassuha wa-insha’uha wa-sifatuha wa-tarikhuha’ (sebuah telaah ilmiah atas teks-teks sastra, dari aspek sumber, validitas teks, penyebaran, sifat, dan sejarah teks tersebut). Lihat Lihat ‘Abd al-Hadi al-Fadli, Tahqiq al-turath, (Jeddah: Maktabat al-‘Ilm, 1982), h. 31-32.

79 Muhammad Naquib al-Attas, The Oldest Known Malay Manuscript: A 16th Century Malay Translation of the `Aqa’id of al-Nasai (Kuala Lumpur: University of Malaya, 1988), h. 8. 80 Oman Fathurahman & Munawar Holil, Katalog… h. 53-54.

81 Ph. S. van Ronkel, Catalogus der Maleische HSS in het Museum van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Batavia, VBG LVII, 1909), h. 401; Sutaarga,

BAB III

Islam dalam Teks Sastra