SYARAT‐SYARAT UMUM POLIS ASURANSI PERORANGAN
A. Ketentuan Umum Polis Standar
IHTISAR BAB TUJUAN Ketentuan Umum Polis Standar ¾ Free Look Provision ¾ Ketentuan satu‐kesatuan kontrak (entire contract provision) ¾ Ketentuan inkontesabilitas (incontestability provision) ¾ Misrepresentasi yang bersifat material (material misrepresentation) ¾ Ketentuan Masa Tenggang / Masa Leluasa (grace period provision) ¾ Ketentuan pemulihan (reinstatement provision) ¾ Pernyataan salah usia atau jenis kelamin (misstatement of age or sex provision) Ketentuan Unik Pada Polis Asuransi Jiwa Dengan Unsur Tabungan ¾ Pinjaman polis dan penebusan sebagian ¾ Ketentuan penebusan nilai tunai (Nonforfeiture provision) ¾ Pengecualian Dalam Polis Asuransi Jiwa Setelah mempelajari bab atau bagian ini diharapkan dapat: 1. Menyebutkan fitur‐fitur yang terdapat di ketentuan umum polis standar; 2. Menyebutkan fitur‐fitur unik yang hanya terdapat di ketentuan umum polis asuransi jiwa dengan tabungan; 3. Menjabarkan ketentuan penebusan nilai tunai; 4. Mengidentifikasi pengecualian‐ pengecualian yang sering terdapat di polis standar.
Polis asuransi jiwa individu pada hakikatnya merupakan sebuah kontrak antara penanggung dengan pemegang polis. Sebuah kontrak pasti berisikan hak dan kewajiban masing‐masing pihak. Di seluruh dunia, hak dan kewajiban yang tercantum dalam ketentuan polis asuransi jiwa individu pada hakikatnya adalah sama, yang berbeda hanyalah susunan redaksi kontrak.
Pada bab ini, kita akan mendiskusikan ketentuan‐ketentuan yang umum berlaku pada seluruh polis asuransi jiwa individu. Lalu kita akan membahas ketentuan‐ketentuan khusus yang berlaku hanya untuk polis‐polis asuransi jiwa tabungan, termasuk pula ketentuan‐ ketentuan mengenai dividen polis dan opsi pengaturan (settlement options).
A. Ketentuan Umum Polis Standar
Seluruh jenis polis asuransi jiwa individu memiliki ketentuan‐ketentuan yang menjelaskan mekanisme kerja dan dampak polis sebagai dokumen kontrak yang SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI PERORANGAN
berkekuatan hukum dan mengikat para pihak. Ketentuan‐ketentuan yang bersifat umum harus ada pada seluruh polis asuransi jiwa individu, walau dengan susunan redaksi yang dapat berbeda antara satu polis dengan polis yang lain. Ketentuan‐ketentuan umum yang dimaksud antara lain, ketentuan free look (free look provision), ketentuan satu‐kesatuan kontrak (entire contract provision), ketentuan inkontestabilitas (incontestability provision), ketentuan masa tenggang (masa leluasa) atau grace period provision, ketentuan pemulihan polis (reinstatement provision), dan ketentuan pernyataan salah usia atau jenis kelamin (misstatement of age or sex provision). Seluruh ketentuan polis harus tunduk pada peraturan perundangan yang berlaku di negara yang bersangkutan.
Di Amerika Serikat, peraturan perundangan yang mengatur bisnis asuransi jiwa terutama diatur oleh peraturan perundangan di tingkat negara bagian, dan hanya bagian kecil diatur oleh pemerintah federal. Dengan demikian, polis‐polis asuransi jiwa individu di Amerika Serikat dapat berbeda‐beda antara satu negara bagian dengan negara bagian yang lain. Walaupun demikian, para komisioner (pengawas) industri asuransi jiwa di Amerika Serikat selalu merancang model peraturan perundangan yang diharapkan dapat diterima oleh seluruh negara bagian. Prakteknya, banyak negara bagian mengadopsi model itu dan hanya melakukan modifikasi seperlunya untuk menyesuaikan dengan peraturan perundangan yang umum berlaku di negara bagian itu.
Di Indonesia, peraturan perundangan yang berlaku didasarkan atas Undang Undang Dasar 1945, Undang‐Undang (saat ini yang berlaku adalah UU No: 2 tahun 1992 tentang Perasuransian), Peraturan Pemerintah, dan Keputusan Menteri Keuangan (KMK), Kitab Undang‐Undang Hukum Perdata, dan Kitab Undang‐Undang Hukum Dagang (KUHD). Secara umum, peraturan perundangan yang berlaku lebih banyak mengatur tentang bisnis asuransi jiwa secara institusional seperti permodalan, kesehatan keuangan perusahaan asuransi jiwa, uji layak dan kepatutan bagi direksi asuransi jiwa. Peraturan perundangan yang mengatur tentang mekanisme kerja asuransi jiwa masih sangat minim dan bersifat umum, sehingga tidaklah heran sering terjadi perbedaan pandangan antara penanggung dengan pemegang polis dalam menafsirkan ketentuan‐ketentuan polis asuransi jiwa.
1. Free Look Provision
Polis asuransi jiwa individu umumnya mengandung free look provision yakni ketentuan yang memberikan kesempatan kepada pemegang polis untuk mempelajari polis asuransi jiwa yang dibelinya dalam tenggang waktu tertentu – biasanya berkisar antara 7 – 10 hari sejak polis diterima. Selama masa itu, pemegang polis berhak untuk membatalkan polis dan menerima pengembalian premi inisial secara penuh. Pertanggungan asuransi jiwa tetap berlaku selama masa free look atau sampai dengan tanggal pembatalan polis, yang mana yang lebih dahulu.
Contoh, Nyonya Dewi menerima polis asuransi jiwa seumur hidup pada tanggal 1 Maret 2009. Masa free look adalah sejak tanggal 1 Maret 2009 sampai dengan 10 Maret 2009. Bila nyonya Dewi membatalkan polis tersebut pada tanggal 07 Maret 2009, maka pertanggungan polis tersebut menjadi batal pada tanggal 07 Maret 2009, bukan pada tanggal 10 Maret 2009. Bila nyonya Dewi tidak melakukan tindakan DASAR-DASAR ASURANSI JIWA DAN ASURANSI KESEHATAN
apapun, maka dianggap nyonya Dewi menerima polis itu dan polis berlaku sejak tanggal 1 Maret 2009. Namun bila nyonya Dewi meninggal pada tanggal 5 Maret 2009, maka pertanggungan tetap efektif, penanggung akan membayar santunan kematian kepada pihak yang ditunjuk.
2. Ketentuan satu‐kesatuan kontrak (entire contract provision)
Ketentuan satu‐kesatuan kontrak adalah ketentuan yang menetapkan jenis‐jenis dokumen sebagai bagian dari kontrak antara penanggung dengan pemegang polis. Dengan penetapan ini, para pihak harus merujuk arti istilah dan ketentuan‐ketentuan kontrak yang didasarkan atas pernyataan tulisan yang tercantum dalam dokumen tersebut. Hal ini penting untuk mencegah pernyataan‐pernyataan lisan yang dapat menimbulkan kontroversi bila digunakan untuk menafsirkan maksud kontrak.
Redaksi kontrak yang spesifik sangat tergantung dari sifat kontrak, bisa bersifat kontrak tertututp atau kontrak terbuka.
Dalam kontrak tertutup, syarat dan ketentuan yang berlaku adalah yang tercantum dalam dokumen‐dokumen yang dicetak atau yang dilekatkan pada kontrak tersebut. Ketentuan satu‐kesatuan kontrak menyatakan bahwa fotokopi surat permohonan asuransi jiwa, polis asuransi jiwa, endorsemen‐endorsemen, dan lampiran‐lampiran yang ada merupakan satu kesatuan kontrak. Untuk memahami maksud dan tujuan kontrak, maka para pihak harus menafsirkan isi dari dokumen‐ dokumen tersebut sebagai satu kesatuan. Pemegang polis harus memiliki akses penuh atas dokumen‐dokumen tersebut untuk menjamin adanya kesetaraan posisi para pihak.
Dalam kontrak terbuka, misalnya pada polis asuransi jiwa yang diterbitkan oleh perkumpulan fraternal, satu‐kesatuan kontrak meliputi polis asuransi jiwa, endorsemen‐endorsemen dan lampiran‐lampiran, akta pendirian perkumpulan fraternal, anggaran dasar dan anggaran rumah tanggal fraternal, fotokopi surat permohonan keanggotaan fraternal, dan pernyataan layak asuransi (declaration of insurability) yang ditandatangani oleh pemohon. Dalam hal ini, perkumpulan fraternal tidak perlu melampirkan akta pendirian, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga pada polis asuransi jiwa yang diterbitkannya. Ini dimungkinkan karena pada saat tertanggung menjadi anggota perkumpulan, maka ia sudah pasti akan mendapatkan salinan akta pendirian, anggaran dasar dan anggaran rumah tangga perkumpulan itu, sehingga dapat memeriksa isi dari seluruh dokumen dimaksud.
Ketentuan satu‐kesatuan kontrak sering mencantumkan pernyataan (1) hanya orang‐orang dengan wewenang tertentu yang dapat mengubah isi kontrak, (2) perubahan kontrak hanya akan berlaku efektif bila dilakukan secara tertulis dan (3) perubahan kontrak tidak akan dibuat apabila tidak disetujui secara tertulis oleh pemegang polis.
SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI PERORANGAN
3. Ketentuan inkontesabilitas (incontestability provision)
Ketentuan ini mengatur tentang hak penanggung untuk membatalkan polis dan atau menghindarkan diri dari kewajiban terhadap kontrak asuransi. Hak ini timbul bila pemegang polis dan atau tertanggung melakukan tindakan misrepresentasi yang bersifat material (material misrepresentation). Hak penanggung ini hanya efektif pada beberapa tahun pertama sejak polis berlaku, biasanya berkisar dua atau tiga tahun. Setelah waktu yang telah ditetapkan, penanggung tidak dapat lagi menggunakan hak tersebut.
4. Misrepresentasi yang bersifat material (material misrepresentation)
Surat permohonan asuransi jiwa (SPAJ) selalu mengandung pertanyaan‐ pertanyaan yang harus dijawab oleh pemegang polis dan atau tertanggung. Jawaban dari pertanyaan‐pertanyaan tersebut merupakan sumber informasi yang benar dan relevan yang dibutuhkan oleh penanggung untuk memutuskan apakah ia akan mengambil alih risiko tersebut atau tidak. Bila jawaban tersebut tidak benar, maka penanggung dapat berbuat salah dalam proses pengambilan putusan. Penanggung bisa bersedia untuk menerima risiko tersebut, padahal bila penanggung tahu informasi yang sesungguhnya maka penanggung akan menolak untuk menanggung risiko itu. Informasi salah yang meyebabkan penanggung mengambil putusan yang berbeda disebut informasi yang material.
Dalam hukum kontrak, pernyataan yang dibuat oleh para pihak dapat bersifat ‘warranty’ atau representasi (representation). Disebut ‘warranty’ apabila pernyataan itu harus benar secara harafiah, bila tidak benar maka kontrak dapat dibatalkan. Disebut representasi apabila pernyataan itu harus benar secara substansi, bila tidak benar maka kontrak dapat dibatalkan.
Contoh: Dalam SPAJ, Tuan Mahavira menyatakan bahwa dua tahun lalu ia pernah mengajukan klaim kecelakaan atas luka robek pada betis kiri, padahal semestinya luka robek tersebut terdapat pada betis kanan. Oleh karena hal ini tidak berpengaruh besar pada proses seleksi risiko asuransi jiwa berjangka yang ia ajukan, maka informasi ini bersifat tidak material.
Misrepresentasi disebut material apabila kondisi yang sebenarnya diketahui oleh penanggung, sehingga penanggung tidak akan mengambil risiko tersebut atau mengambil risiko dengan syarat tertentu, misalnya uang pertanggungan yang lebih rendah atau dilakukan pembebanan premi ekstra. Seringkali penanggung tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya, untuk itu penanggung diberikan hak untuk membatalkan polis atas dasar misrepresentasi yang bersifat material. Dalam kondisi ini, penanggung diberikan kesempatan untuk kembali kepada posisi semula, sehingga ia dapat melakukan seleksi risiko ulang. Bila ia tetap tidak mau mengambil risiko tersebut, maka polis menjadi batal. Bila ia mau mengambil risiko itu maka penanggung menganggap informasi itu bersifat tidak material.
DASAR-DASAR ASURANSI JIWA DAN ASURANSI KESEHATAN
Contoh: Nyonya Kartika menyatakan bahwa pada tanggal 05 September 2003, ia melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di rumah sakit. Kondisi sebenarnya adalah nyonya Kartika berobat ke rumah sakit pada tanggal 06 September 2003 untuk penyakit jantung koroner. Kesalahan penyebutan tanggal 05 September 2003 tidak bersifat material, apabila nyonya Kartika benar‐benar melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, karena perbedaan tanggal (hanya 1 hari) tidak bersifat material. Pernyataan bahwa ia melakukan pemeriksaan kesehatan rutin padahal sesungguhnya ia berobat bersifat material, karena bila penanggung mengetahui bahwa ia menderita penyakit jantung koroner, maka penanggung bisa meminta pemeriksaan tambahan atau membebankan premi ekstra atau mengurangi uang pertanggungan yang diminta, bahkan menolak pengajuan asuransi jiwa yang diminta.
Bila misrepresentasi material diketahui oleh penanggung pada saat mengevaluasi SPAJ, maka penanggung dapat menolak risiko tersebut. Bila penanggung baru mengetahui adanya misrepresentasi material setelah polis efektif, maka penanggung berhak untuk membatalkan polis dalam kurun waktu tertentu (misalnya dua tahun) setelah polis efektif. Kurun waktu ini disebut sebagai periode kontes (contestable period). Penanggung tidak berhak untuk membatalkan polis karena misrepresentasi material apabila telah melampaui kurun waktu tersebut, kecuali bila pemegang polis bermaksud untuk melakukan penipuan (fraud). Biasanya penanggung tetap akan membayar manfaat pertanggungan, meskipun ada unsur penipuan, karena penanggung seringkali sulit mendapatkan bukti‐bukti yang meyakinkan bahwa telah terjadi penipuan oleh pemegang polis untuk mendapatkan manfaat pertanggungan. Hal ini perlu diperhatikan oleh praktisi klaim asuransi, karena hak penanggung untuk membatalkan polis tetap berlaku bila dapat dibuktikan bahwa pemegang polis telah melakukan penipuan.
Klausula misrepresentasi material perlu untuk melindungi kepentingan pemegang polis dan ahli waris karena penanggung tidak dapat menghindar dari kewajiban untuk membayar manfaat asuransi (walaupun telah terjadi misrepresentasi material) asalkan polis telah berusia dua tahun atau lebih.
Contoh klausula baku untuk inkontesabilitas adalah “penanggung tidak akan membatalkan polis bila telah berlangsung lebih dari dua tahun sejak tanggal polis diterbitkan dan tertanggung masih tetap hidup dalam masa tersebut.” atau dalam bahasa Inggris dinyatakan sebagai “we will not contest this policy after it has been inforce during the lifetime of the insured for two years from the date of issue.”
Frasa “tertanggung masih tetap hidup dalam masa tersebut” atau “during the lifetime of the insured” menyebabkan penanggung dapat membatalkan polis kapan saja apabila tertanggung meninggal dunia dalam periode kontes dan terbukti telah terjadi misrepresentasi material. Tanpa frasa tersebut, apabila tertanggung meninggal dunia dalam periode kontes dan pihak yang ditunjuk baru mengajukan klaim setelah periode kontes dilampaui, maka penanggung harus membayar manfaat pertanggungan walaupun telah terjadi misrepresentasi material. Dengan demikian SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI PERORANGAN
frasa itu berguna untuk melindungi penanggung atas potensi kerugian yang ditimbulkan misrepresentasi material.
Di Amerika Serikat, salinan SPAJ harus dilampirkan di dalam polis apabila penanggung ingin menggunakan misrepresentasi material sebagai dasar untuk pembatalan polis. Salinan SPAJ adalah satu kesatuan dan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kontrak asuransi. Apabila salinan SPAJ tidak dilampirkan, maka ia bukan merupakan bagian dari kontrak, sehingga tidak dapat digunakan sebagai dasar pembatalan polis. di Kanada, SPAJ merupakan bagian dari kontrak asuransi, jadi salinan SPAJ tidak perlu dilampirkan dalam kontrak asuransi.
5. Ketentuan Masa Tenggang / Masa Leluasa (grace period provision)
Ketentuan masa tenggang menyatakan suatu periode waktu tertentu dimana pertanggungan masih berlaku walaupun premi lanjutan yang telah jatuh tempo belum dibayar. Biasanya masa tenggang adalah 30 atau 31 hari setelah tanggal jatuh tempo premi lanjutan. Bila tertanggung meninggal pada masa tenggang, maka penanggung akan membayar manfaat pertanggungan setelah dikurangi dengan premi lanjutan yang jatuh tempo.
Jika premi lanjutan tidak dibayar walaupun telah melewati masa tenggang, maka pertanggungan berhenti atau lapse. Apabila polis memiliki nilai tunai, maka pertanggungan dapat dilanjutkan sesuai opsi yang tersedia (non‐forfeiture option).
Beberapa jenis polis, seperti polis asuransi jiwa universal, tidak mewajibkan pembayaran premi lanjutan secara teratur. Dalam hal ini, masa tenggang baru akan berlaku apabila nilai tunai polis itu tidak lagi mencukupi untuk membayar beban mortalita dan biaya bulanan. Masa tenggang dapat dimulai dari (1) tanggal pada saat nilai tunai tidak mencukupi untuk membayar beban mortalita dan biaya bulanan, masa tenggang yang berlaku adalah 61 atau 62 hari, atau (2) tanggal pada saat nilai tunai adalah nihil, masa tenggang yang berlaku adalah 30 atau 31 hari. Polis menyatakan bahwa paling sedikit 30 atau 31 hari sebelum pertanggungan berakhir, penanggung harus memberitahukan secara tertulis kepada pemegang polis bahwa nilai tunai polis yang tersedia tidak lagi mencukupi untuk membayar beban mortalita dan biaya bulanan.
6. Ketentuan pemulihan (reinstatement provision)
Apabila premi lanjutan tidak dibayar setelah masa tenggang dilampaui, maka pertanggungan akan terhenti pada polis yang tidak mengandung unsur tabungan. Sedangkan pada polis dengan unsur tabungan, polis diubah menjadi (1) polis bebas premi dengan uang pertanggungan yang lebih kecil dari semula atau (2) polis asuransi berjangka dengan uang pertanggungan yang sama. Penanggung biasanya tidak memperkenankan pemulihan polis bila polis ditebus dan pemegang polis telah menerima nilai tebus.
Pemegang polis dapat melanjutkan pertanggungan yang terhenti dengan mengajukan pemulihan polis kepada penanggung apabila memenuhi syarat‐syarat DASAR-DASAR ASURANSI JIWA DAN ASURANSI KESEHATAN
tertentu seperti (1) mengajukan permohonan pemulihan polis dalam kurun waktu tertentu seperti yang tercantum dalam polis, (2) melampirkan bukti‐bukti layak asuransi, (3) membayar premi yang tertunggak dan bunganya (bila ada).
Bukti‐bukti layak asuransi sangat diperlukan dalam proses pemulihan polis. Pemegang polis yang memiliki kesehatan kurang baik cenderung akan memulihkan polis, karena tidak dapat menjadi tertanggung dengan kualifikasi standar. Kebijakan masing‐masing penanggung dalam menetapkan bukti‐bukti layak asuransi bisa berbeda‐beda, mulai dari hanya membuat pernyataan sehat sampai dengan pemeriksaan kesehatan yang lebih lengkap. Biasanya pemeriksaan kesehatan akan diminta apabila (1) jangka waktu antara permohonan pemulihan polis dengan akhir masa tenggang lebih dari satu bulan, (2) kesehatan tertanggung diduga menurun, atau (3) uang pertanggungan yang tinggi.
Pada polis dengan pembayaran premi fleksibel seperti polis asuransi jiwa universal, premi yang dibayarkan paling sedikit sama dengan dua kali premi bulanan. Jumlah ini diperkirakan cukup untuk membayar beban mortalita dan biaya bulanan. Pada polis dengan pembayaran premi tetap seperti polis asuransi jiwa seumur hidup, premi yang dibayarkan adalah premi yang tertunggak ditambah dengan bunga (bila ada).
Pemegang polis seyogyanya mempertimbangkan untung rugi pemulihan polis dibandingkan bila ia membeli polis baru. Keuntungan pemulihan poils adalah (1) tingkat premi yang dibebankan adalah berdasarkan usia masuk, bukan berdasarkan pada usia saat pemulihan, dan (2) nilai tunai langsung terbentuk sesuai yang dijanjikan.
Pada pemulihan polis, berlaku periode kontes baru yang didasarkan atas pernyataan‐pernyataan yang tercantum dalam surat permohonan pemulihan polis. Penanggung tidak dapat membatalkan polis berdasarkan misrepresentasi material yang tercantum pada SPAJ bila periode kontes awal telah terlampaui.
7. Pernyataan salah usia atau jenis kelamin (misstatement of age or sex
provision)
Usia dan jenis kelamin adalah faktor penting dalam menetapkan jumlah premi yang harus dibayar. Semakin tinggi usia maka semakin besar jumlah premi yang harus dibayar. Penanggung sering menemukan terjadi kesalahan usia tertanggung yang tercantum dalam SPAJ.
Bila penanggung menemukan kesalahan usia setelah tertanggung meninggal dunia, maka jumlah uang pertanggungan akan disesuaikan berdasarkan usia sesungguhnya. Pada umumnya penanggung akan menyesuaikan jumlah uang pertanggungan, bila usia sesungguhnya lebih besar daripada usia yang tercantum di SPAJ. Bila sebaliknya, maka jumlah uang pertanggungan akan tetap dan penanggung akan mengembalikan kelebihan premi yang telah dibayarkan.
SYARAT-SYARAT UMUM POLIS ASURANSI PERORANGAN
Contoh: Nyonya Lisa, usia 50 tahun, uang pertanggungan Rp. 100.000.000,‐ tingkat premi 8 per mil, premi yang dibayarkan berjumlah Rp. 800.000,‐ per tahun. Pada tahun ke empat, nyonya Lisa meninggal dunia dan baru diketahui usia sesungguhnya pada saat awal pertanggungan adalah 51 tahun. Tingkat premi usia 51 tahun adalah 10 per mil.
Perhitungan :
a. Jumlah premi (usia 51 tahun) = 10 per mil x Rp. 100.000.000,‐ = Rp. 1.000.000,‐ x 4 tahun = Rp. 4.000.000,‐ b. Jumlah premi (usia 50 tahun) = 8 per mil x Rp. 100.000.000,‐ = Rp. 800.000,‐ x 4 = Rp. 3.200.000,‐ c. Uang pertanggungan yang disesuaikan = (Rp. 3.200.000,‐ / Rp. 4.000.000,‐) x Rp. 100.000.000,‐ = Rp. 80.000.000,‐ Bila nyonya Lisa berusia 51 tahun, tapi tertulis usia 50 tahun, maka jumlah premi yang telah dibayarkan adalah Rp. 4.000.000,‐ untuk uang pertanggungan Rp. 100.000.000,‐ Bila berdasarkan usia 50 tahun, maka jumlah premi yang harus dibayar adalah Rp. 3.200.000,‐. Penanggung akan membayar uang pertanggungan Rp. 100.000.000,‐ dan mengembalikan premi sebesar Rp. 800.000,‐ (= Rp. 4.000.000,‐ ‐ Rp. 3.200.000,‐)
Bila penanggung menemukan kesalahan pada saat tertanggung masih hidup, maka penanggung biasanya akan memberikan pilihan yakni (1) penyesuaian uang pertanggungan atau (2) pengembalian kelebihan premi yang telah dibayarkan
Contoh: Apabila kesalahan usia ditemukan pada saat nyonya Lisa masih hidup dan usia sesungguhnya adalah 50 tahun, sedang yang tercantum adalah 51 tahun, maka nyonya Lisa akan menerima pengembalian premi. Sebaliknya bila usia sesungguhnya adalah 51 tahun dan yang tercantum adalah 50 tahun, maka nyonya Lisa bisa menambah jumlah premi yang harus dibayar agar uang pertanggungan tetap sama, atau meminta penyesuaian uang pertanggungan dan jumlah premi yang dibayar akan tetap sama.