• Tidak ada hasil yang ditemukan

Syarat‐syarat umum kontrak

KONTRAK ASURANSI

B. Syarat‐syarat Umum Kontrak

2. Syarat‐syarat umum kontrak

Dengan  mempergunakan  cara‐cara  penafsiran  tersebut,  suatu  perjanjian  yang  semula isinya kurang lengkap dan kurang jelas, akan dapat ditafsirkan menjadi jelas.  Namun hal ini belumlah menjamin suatu perjanjian dapat dilaksanakan dengan sebaik‐ baiknya.  Bahkan  perjanjian  yang  sudah  dirumuskan  dengan  syarat  baku  sekalipun,  belum  menjamin  perjanjian  itu  pasti  dapat  dilaksanakan  sebagaimana  mestinya,  kecuali  perjanjian  itu  dilaksanakan  dengan  itikad  baik  (Goede  trouw,  utmost  good  faith). 

 

Itikad baik yang dimaksud adalah itikad baik seperti yang diatur dalam pasal 1338  ayat  (3)  KUHPdt,  yang  menyebutkan  bahwa:  ”Perjanjian  harus  dilaksanakan  dengan  itikad  baik”  artinya  bahwa  para  pihak  harus  melaksanakan  substansi  kontrak  berdasarkan  kepercayaan  atau  keyakinan  yang  teguh  atau  kemauan  baik  dari  para  pihak. 

 

2. Syarat‐syarat umum kontrak 

Ada  4  persyaratan  umum  yang  harus  dipenuhi  agar  kontrak  informal  mengikat  semua pihak (legal status of a contract), yaitu: 

 

1) Harus  ada  manifestasi  kesepakatan  bersama  atas  syarat‐syarat  kontrak  masing‐ masing pihak (mutual assent). 

2) Masing‐masing  pihak  dalam  kontrak  harus  mempunyai  “legal  capcity”  atau  contractual  capacity  (wewenang  atau  kompetensi  hukum)  untuk  membuat  kontrak. 

3) Masing‐masing pihak dalam kontrak harus saling memberi dan menerima sesuatu  yang bernilai sama (legally adequate consideration). 

4) Kontrak tidak bertentangan dengan hukum (lawful purpose).   

Dalam  hak  polis  asuransi  jiwa  sebagai  kontrak  informil,  keempat  persyaratan  tersebut harus dipenuhi. 

 

Menurut  Prof.  Subekti,  SH  dalam  bukunya  yang  berjudul  “Hukum  Perjanjian”  (2005 : 17) menyebutkan bahwa: sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat: 

1) Sepakat mereka yang mengikat dirinya;  2) Cakap untuk membuat suatu perjanjian; 

69 Kontrak Asuransi

3) Mengenai suatu hal tertentu;  4) Suatu sebab yang halal.   

Demikian  menurut  pasal  1320  KUHPdt.  Selanjutnya  Prof.  Subekti,  SH.  menjelaskan  bahwa  dua  syarat  yang  pertama,  dinamakan  syarat  subyektif,  karena  mengenai  orang‐orangnya  atau  subyeknya  yang  mengadakan  perjanjian,  sedangkan  dua  syarat  yang  terakhir  dimakan  syarat‐syarat  obyektif  karena  mengenai  pekerjaannya sendiri atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu. 

 

a.  Kesepakatan bersama (mutual assent) 

Apakah  satu  kontrak  dibuat  oleh  beberapa  pihak  dengan  menanda‐tangani  persetujuan  formil  tertulis  atau  kedua  belah  pihak  saling  bersalaman,  semua  itu  menunjukkan bahwa pihak yang bersangkutan telah sepakat menyetujui sesuatu  yang  diperjanjikan.  Ini  merupakan  dasar  persyaratan  hukum  dari  kesepakatan  bersama  yang  menganggap  bahwa  satu  pihak  telah  membuat  penawaran  dan  pihak  lain  telah  menerima  penawaran.  Jika  tidak  ada  manifestasi  kesepakatan  bersama  oleh  pihak‐pihak  yang  bersangkutan  terhadap  janji  dan  syarat‐syarat  persetujuan  berarti  tidak  ada  yang  dapat  memaksa  secara  hukum  adanya  kontrak.  Manifestasi  kesepakatan  berarti  dapat  memberikan  kelayakan  bagi  setiap orang sehingga ada persetujuan antara pihak‐pihak yang bersangkutan.     

ƒ Penawaran (offer) 

Sebuah  penawaran  adalah  sebuah  proposal  yang  apabila  diterima  oleh  pihak  lain  sesuai  dengan  syarat‐syaratnya  akan  dapat  menciptakan  persetujuan yang mengikat. Apabila kuasa yang diberikan kepada orang lain,  apabila  dicabut  maka  tidak  memiliki  kekuatan  hukum.  Orang‐orang  yang  membuat  penawaran  disebut  Offeror  dan  orang  menerima  penawaran  disebut Offeree.   

 

Apabila  penerima  penawaran  bermaksud  untuk  memberi  jawaban  ada  beberapa pilihan, yaitu:  

(1)  Penerima dapat menolak penawaran;  

(2)  Membatalkan  dan  meminta  penawaran  baru  yaitu  dengan  penawaran  ulang,  yang  dalam  hukum  berarti  sebuah  penolakan  dari  penawaran  yang pertama dan pemberian penawaran baru; atau  

(3)  Menerima penawaran sesuai dengan syarat‐syaratnya.    

Suatu penawaran dapat berbentuk sebuah janji atau sebuah tindakan (a  promise or an act). Dapat juga berbentuk janji untuk melakukan sesuatu atau  tidak  melakukan  sesuatu.  Sebagai  contoh,  sebuah  penawaran  dapat  berbentuk  sebuah  janji  untuk  membayar  sejumlah  uang  apabila  penerima  penawaran  melakukan  tindakan  atau  membuat  janji  yang  diminta  oleh  pemberi  penawaran.  Apabila  pemberi  penawaran  meminta  dilakukannya  semua tindakan atas janjinya, maka kontraknya akan menjadi sebuah kontrak  unilateral  karena  hal ini  hanya  melibatkan  dari pemberi  penawaran.  Apabila  Dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan

pemberi  penawaran  meminta  sebuah  janji  dari  orang  yang  membuat  penawaran maka kontraknya menjadi kontrak bilateral.   

 

Sebuah  tindakan  dapat  ditukarkan  untuk  sebuah  penawaran  dengan  sebuah  janji.    Hal  ini  sering  terjadi  dalam  asuransi  jiwa  atau  kesehatan.  Tindakan  tersebut  adalah  penyerahan  dari  permohonan  untuk  asuransi  dan  pembayaran dari premi pertama.   

 

Jadi  kontrak  asuransi  jiwa  atau  kesehatan  anuitas  seperti  kontrak‐ kontrak informal yang lain terjadi dari satu pihak melakukan penawaran dan  pihak yang lain menerima penawaran tersebut.  

 

Penawaaran  harus  jelas  dalam  syarat‐syarat  materialnya  (atau  harus  memenuhi  kejelasan  dalam  penerimaan)  bahwa  syarat‐syarat  dari  kontrak  dapat ditegaskan secara pasti (a definite commitment).  

 

Sebuah  prinsip  dasar  dari  hukum  kontrak  adalah  bahwa  seseorang  dapat  memilih  kepada  siapa  dia  akan  melakukan  kontrak,  untuk  alasan  ini  komunikasi  berkontrak  dari  sebuah  penawaran  mensyaratkan  bahwa  pemberi  penawaran  memberitahu  mengenai  penawarannya  kepada  orang  yang dia inginkan untuk melakukan kontrak (communication to the offeree).  Apabila penawarannya dikirim melalui surat maka penawaran tersebut harus  diterima oleh penerima penawaran. 

 

Pemberi  penawaran  dapat  menjelaskan  batas  waktu  penawaran  (duration  of  the  offer)  apabila  dia  menginginkannya.  Penawaran  dapat  kemudian  menjadi  tertutup  secara  otomatis  pada  saat  waktu  berakhirnya  atau  penawaran  setelah  waktunya  dilewati  menjadi  tidak  efektif  atau  tidak  sah, sebab waktu yang ditentukan dalam penawaran tersebut tidak dipenuhi.   

 

Pemberi penawaran biasanya mempunyai hak untuk membatalkan atau  mencabut  penawarannya  (withdrawal  of  the  offer)  kapan  saja  selama  penawaran tersebut diterima.   

 

Apabila  penerima  penawaran    tak  ingin  menerima  penawaran  seperti  yang  ditawarkan tetapi ingin memperbaiki kontrak dengan syarat‐syarat yang berbeda  maka  penerima  penawaran  dapat  menolak  penawaran  (rejection  and  counter  offer)  yang  pertama  dan  membuat  penawaran  ulang.  Dan  kematian  salah  satu  yang  memberikan  penawaran  sebelum  penawaran  tersebut  diterima  juga  menyebabkan gugurnya penawaran (death or incapacity of offeror or offeree).   

ƒ Penerimaan (acceptance) 

Penerimaan yang dilakukan oleh penerima penawaran harus merupakan hal  yang  positif  dan  tanpa  syarat  dan  harus  menyatakan  persetujuan  terhadap  penawaran.  Sebab  penerimaan  harus  secara  cukup  dan  positif  menyatakan 

71 Kontrak Asuransi

persetujuan  dengan  jelas  terhadap  syarat‐syarat  yang  diajukan  oleh  pemberi  penawaran, bahwa penerima penawaran harus mempunyai niat untuk menerima.     

Pernyataan  yang  sederhana  yang  menyatakan  saya  setuju  sudah  cukup  dijadikan  referensi  terhadap  penawaran  dan  apabila  pemberi  penawaran  telah  meminta  sebuah  janji  sebagai  bayarannya  atau  sebagai  pertukarannya.  Pemenuhan  dari  tindakan  yang  diminta  penawaran  untuk  sebuah  kontrak  bilateral adalah penerimaan yang cukup secara hukum apabila hanya orang yang  diberi  penawaran  oleh  pemberi  penawaran  dapat  menerima  penawaran  tersebut.    Untuk  hal  ini,  dalam  aturan‐aturan  yang  umum  diam  tidak  dapat  dianggap sebagai penerimaan.   

 

Sebagai  contoh,  apabila  seorang  calon  tertanggung  asuransi  jiwa  menyerahkan aplikasi dan juga membayar premi pertama terhadap penanggung  maka tindakan itu biasanya merupakan sebuah penawaran. Perusahaan asuransi  mengkomunikasikan  persetujuannya  dengan  menerbitkan  polis  calon  tertanggung  tersebut.  Namun  bagaimana  pun  juga  apabila  perusahaan  asuransi  menyatakan  bukti‐bukti  penerimaan  premi  atau  sebaliknya  bahwa  asuransinya  berlaku  pada  saat  persetujuan  dari  aplikasi  tersebut,  maka  komunikasi  kepada  tertanggung  mengenai  penerimaan  asuransi  tersebut  bukanlah  merupakan  hal  yang penting dalam membuat kontrak yang mengikat. 

 

Perusahaan  asuransi  tersebut  akan  terikat  dalam  kontrak  segera  pada  saat  perusahaan  menyetujui  apliksi  tersebut  walaupun  calon  tertanggungnya  belum  mengetahui penerimaan tersebut.   

 

Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya mengandung makna bahwa para  pihak  yang  membuat  perjanjian  telah  sepakat  atau  ada  persesuaian  kemauan  atau saling menyetujui kehendak masing‐masing, yang dilahirkan oleh para pihak  dengan  tiada  paksaan  atau  ketakutan  (dwang),  kekeliruan  atau  kekhilafan  (dwaling),  dan  penipuan  (bedrog).  3  hal  tersebut  yang  mengakibatkan  kesepakatan tidak sempurna (pasal 1321 – 1328 KUHPdt). 

 

Untuk  perjanjian‐perjanjian  yang  tunduk  pada  asas  konsensualitas,  menyebutkan bahwa  perjanjian  terjadi  pada  saat kesepakatan  terjadi  atau  telah  dimulai,  sehingga  dengan  teori  ini  dalam  kontrak  asuransi  banyak  menerapkan  bahwa  kontrak  asuransi  dimulai,  sesuai  teori‐teori  yang  diterapkannya  sebagai  berikut:  

(1) Perjanjian  terjadi  apabila  atas  penawaran  telah  dilahirkan  kemauan  menerimanya  dari  pihak  lain  atau  tanggal  atau  hari  ditandatanganinya  SPA  (Uitings theorie),  

 

(2)  Perjanjian terjadi pada saat surat penerimaan dikirimkan kepada si penawar  atau saat SPA dan premi pertama dikirim ke Penanggung atau diterima oleh  Agen atau tenaga penjual asuransi (Verzend theorie),  

Dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan

(3)  Perjanjian pada saat menerima surat penerimaan/sampai di alamat penawar  atau  tanggal  atau  hari  SPA  dan  premi  pertama  diterima  Penanggung  (Onvangs theorie), dan  

 

(4)  Perjanjian  baru  terjadi,  apabila  si  penawar  telah  membuka  dan  membaca  surat  penerimaan  itu  atau  SPA  telah  diterima  dan  diakseptasi  secara  underwriting (Vernemings theorie). 

 

Dalam  hal  polis  asuransi  jiwa,  sebagaimana  kontrak  lainnya,  persyaratan  kesepakatan  bersama  itu  dipenuhi  melalui  adanya  proses  penawaran  dan  persetujuan.  Akan  tetapi  dalam  asuransi  jiwa  terdapat  beberapa  variabel  yang  harus  dipertimbangkan  dalam  menentukan  siapa  offeror,  yaitu  orang  yang  sesungguhnya  membuat  penawaran  dan  siapa  offeree  yaitu  kepada  siapa  penawaran dibuat. Persyaratan penawaran dan persetujuan di dalam pembuatan  kontrak asuransi jiwa akan dibicarakan kemudian dalam bab atau bagian ini pada  waktu membahas surat permintaan yang diisi oleh seseorang yang mau membeli  polis asuransi jiwa. 

 

Dari  sudut  hukum  perjanjian,  suatu  kontrak  dinyatakan  sah  apabila  kontrak  tersebut  telah  memenuhi  ketentuan  pasal  1320  KUHPdt  di  atas.  Adanya  “kesepakatan”  yang  merupakan  salah  satu  syarat  dari  sahnya  suatu  kontrak  tersebut  dalam  perjanjian  asuransi,  secara  lebih  khusus  diatur  dalam  pasal  257  KUHD  yang  menyatakan  bahwa  perjanjian  asuransi  antara  penanggung  dan  tertanggung  telah  terjadi  dan  mengikat  kedua  belah  pihak  atau  diterbitkan  seketika setelah ia ditutup; sedangkan pasal 1338 ayat (1) KUHPdt, menyebutkan  bahwa  semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai UU bagi mereka  yang membuatnya. 

 

b.   Wewenang hukum (legal capacity) 

Kewenangan  hukum  sangat  berkaitan  dengan  pihak‐pihak  yang  Kompeten  (competent parties) dalam melakukan kontrak, dan seseorang dengan umur yang  secara hukum diakui tanpa mempunyai keterbatasan mental, mempunyai kelainan,  secara  hukum  kompeten  untuk  melakukan  kontrak,  atau  orang  seperti  itu  dinyatakan  mempunyai  kapasitas  dalam  kontrak  atau  mempunyai  kompetensi  hukum untuk membuat sebuah kontrak yang sah.   

 

Namun  bagaimana  pun  juga  kapasitas  kontrak  dari  kelas  tertentu  dari  orang‐ orang  yang  mempunyai  keterbatasan,  seperti  orang  yang  dibawah  umur,  orang  yang secara mental lemah, orang yang mabuk, narapidana, orang‐orang asing, dan  perusahaan‐perusahaan.  Beberapa  kontrak  dari  orang‐orang  seperti  ini  menjadi  batal (void) atau dapat dibatalkan (voidable).      o Orang yang dibawah umur (minors)  Seorang yang dibawah umur tidak dapat memberikan kepastian hukum  yang tidak dapat dibatalkannya, sehingga pihak‐pihak yang kompeten sering  73 Kontrak Asuransi

menolak  melakukan  kontrak  dengan  seorang  yang  dibawah  umur  hal  ini  merupakan kerugian dari orang dibawah umur tersebut.   

 

Kontrak‐kontrak  yang  tidak  dapat  dihindari  oleh  orang‐orang  yang  dibawah umur (contracts that the minor cannot avoid). Orang‐orang dibawah  umur  juga  bertanggung‐jawab  atas  nilai‐nilai  yang  wajar  terhadap  kebutuhan‐kebutuhan yang dibelinya untuk mereka sendiri. Dengan catatan:  mereka  tidak  bertanggung  jawab  atas  nilai  kontrak  tetapi  lebih  pada  nilai  yang wajar dari barang‐barang tersebut.   

 

Bagi  orang‐orang  yang  lemah  mental,  baik  apakah  mereka  dibawah  perwaliannya  atau  tidak  akan  bertanggung  jawab  atas  nilai‐nilai  yang  wajar  dari  kebutuhannya,  dibelinya  asuransi  bukanlah  merupakan  sebuah  kebutuhan  maka  kontrak‐kontrak  asuransi  bagi  orang  yang  secara  lemah  mental dapat dibatalkan. 

 

Dalam  praktek  telah  diberlakukan  dan  memberikan  hak  pada  orang‐ orang  yang  dibawah  umur  diatas  umur  yang  sudah  ditentukan  untuk  membuat  kontrak  asuransi  jiwa  atau  kontrak  asuransi  kesehatan  dalam  kondisi  dan  syarat‐syarat  tertentu,  contoh:  kontrak  asuransi  jiwa/asuransi  kesehatan dan asuransi kecelakaan untuk jiwa mereka sendiri untuk benefit  yang  diberikan  kepada  mereka  sendiri/kepada  ayahnya,  ibunya,  suaminya,  istrinya,  anaknya,  saudara  laki‐laki  atau  saudara  perempuannya  dan  dapat  melakukan/mendapatkan  semua  hal‐hal  kekuatan‐kekuatan  kontraktual  seperti itu terhadap kontrak apa pun juga terhadap kontrak asuransi seperti  itu  yang  mungkin  dilakukan/dilaksanakan  oleh  orang  yan  berumur  cukup  secara hukum.  

 

Usia  yang  sah  untuk  membuat  kontrak  Biasanya  tiap  individu  mempunyai  wewenang  hukum  untuk  membuat  kontrak  jika  telah  berumur  dewasa menurut hukum dan mempunyai kompetensi (kecakapan/ kemauan)  mental.  Tiap  orang  yang  belum  mencapai  umur  dewasa  secara  hukum  atau  tidak  mempunyai  kecapakan  mental,  tidak  dapat  membuat  kontrak  kecuali  kontrak  penyediaan  dana  untuk  menutupi  biaya  kebutuhan  yang  rasionil.  Biaya  kebutuhan  yang  dimaksudkan  adalah  kebutuhan  untuk  hidup  sehari‐ hari,  seperti  makanan,  perumahan,  pakaian.  Kontrak  untuk  kebutuhan  tersebut  tetap  berlaku  meskipun  salah  satu  pihak  tidak  mempunyai  wewenang  hukum  terhadap  kontrak.  Kontrak  polis  asuransi  jiwa  belumlah  dianggap sebagai kebutuhan pokok oleh pengadilan. 

 

Kecuali  untuk  kontrak  kebutuhan  pokok  dan  jika  tidak  bertentangan  dengan hukum dan peraturan yang berlaku, kontrak yang dibuat oleh orang  yang  masih  di  bawah  umur  hanya  dapat  dibatalkan  atas  permintaan  dari  orang yang di bawah umur tersebut. 

 

Dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan

Orang  yang  dibawah  umur  ialah  orang  yang  belum  mencapai  umur  dewasa menurut hukum untuk membuat kontrak. Umur sah menurut hukum  untuk  dapat  membuat  kontrak  adalah  umur  dewasa  secara  hukum.  Di  Amerika Serikat dan Canada umumnya umur dewasa adalah 18 tahun, tetapi  ada  juga  di  negara  bagian  tertentu  yang  menganggap  umur  16,  15  atau  14  tahun sudah dewasa dan dapat membeli polis asuransi jiwa. 

 

Undang‐undang  perlu  menetapkan  umur  dewasa  menurut  hukum  pada  saat  pembelian  asuransi  jiwa  untuk  melindungi  perusahaan  asuransi  dari  kemungkinan  adanya  orang  di  bawah  umur  yang  menolak  kontrak  di  kemudian  hari  dengan  alasan  belum  mempunyai  wewenang  (kapasitas)  hukum. Jika seandainya perusahaan asuransi jiwa menjual polis kepada orang  yang masih dibawah umur maka perusahaan asuransi harus mendukungnya  sampai akhir kontrak. Akan tetapi, orang yang masih dibawah umur tersebut  dapat  menuntut  untuk  membatalkan  polis  dan  perusahaan  asuransi  harus  mengembalikan  premi  yang  telah  dibayar  untuk  polis  tersebut  walaupun  polis tersebut telah lama berjalan aktif. 

 

o Orang yang secara mental tidak mampu (mentally infirm persons)  

Orang yang secara mental tidak mampu dapat disebabkan oleh kegilaan,  keterbelakangan  mental,  penyakit,  luka  atau  umur  yang  sudah  tua,  tingkat  dari  ketidakmampuan/kelemah  mental  berkisar  dari  keterbelakangan  yang  ringan  sampai  dari  tingkat  yang  fungsi  atau  koma  yang  tetap  yang  sering  terjadi pada saat seseorang menerima luka yang sangat berat di kepalanya.  Kapasitas  kontraktual  dari  orang  yang  lemah  mental  tergantung  apakah  pengadilannya  telah  memutuskan  bahwa  orang  tersebut  secara  mentalnya  telah  kompeten  dan  telah  menunjuk  wali  atas  kekayaan  orang  itu  atau  jika  tidak apakah orang itu dapat secara wajar memahami sifat‐sifat atau akibat‐ akibat dari persetujuan itu. 

 

Apabila  seorang  wali  telah  ditunjuk  (If  a  guardian  has  been  appointed).  Tujuan  dari  penunjukkan  wali  adalah  untuk  menjaga  kekayaan  dari  orang  yang  lemah  mental  tersebut  dari  penyimpangan  yang  dilakukannya  sendiri  dan  tujuannya  ini  akan  dikalahkan  apabila  orang  yang  lemah  mental  itu  mempunyai  kekuatan  untuk  melakukan  kontrak.  Wali  tersebut  mempunyai  kontrol terhadap properti dari orang yang lemah mental tersebut dan tunduk  pada supervisi dari Pengadilan. 

 

Apabila  belum  ada  wali  yang  ditunjuk  (if  no  guardian  has  been  appointed).  Apabila  belum  ada  wali  yang  ditunjuk,  maka  kemampuan  dari  orang  yang  lemah  mental  tersebut  untuk  memahami  kompleksitas  dari  perjanjian/persetujuan  biasanya  akan  menentukan  apakah  kontraknya  batal/dapat  dibatalkan.  Sebagai  contoh  orang  yang  lemah  mental  mungkin  dapat  memahami  apa  yang  termaksud  dalam  pembelian  sebuah  sepeda  tetapi  tidak  memahami  apa  yang  termasuk  dalam  kaitan  membeli  saham  dalam  perusahaan.  Apabila  orang  yang  lemah  mental  tidak  mempunyai  75 Kontrak Asuransi

pemahaman secara total sama sekali mengenai karakteristik/sifat dan akibat‐ akibat  dari  persetujuan  maka  kontraknya  batal  untuk  dilaksanakan.  Namun  bagaimana  pun  juga,  orang  yang  lemah  mental  tersebut  masih  mempunyai  pemahaman  atau  tidak  secara  total  tidak  tau  tetapi  secara  wajar  tidak  mengetahui  sifat‐sifat/esensi  dan  akibat‐akibat  dari  perjanjiannya  maka  kontraknya  menjadi  dibatalkan  dan  oleh  orang  yang  lemah  mental  itu  seorang  wali  yang  kemudian  ditunjuk  dapat  membatalkan  sebuah  kontrak  bagi orang dibawah umur.   

 

Jika orang tersebut kemudian dinyatakan cakap mental oleh pengadilan,  maka  yang  bersangkutan  dapat  membatalkan  kontrak  atau  minta  terus  dilanjutkan.  Pihak  lainnya  pada  kontrak  tidak  mempunyai  hak  untuk  membatalkan  kontrak  dan  harus  melaksanakan  ketentuan‐ketentuan  tersebut dalam kontrak jika diminta.  

 

Lebih  jauh  Prof.  Subekti,  SH  di  dalam  bukunya  sehubungan  dengan  persyaratan  yang  kedua  untuk  sahnya  perjanjian  adalah  sebagai  berikut:  Cakap untuk membuat suatu perjanjian; atau sama dengan pengertian tentang  masing‐masing  pihak  dalam  kontrak  harus  mempunyai  legal  capacity  atau  wewenang hukum untuk membuat kontrak. 

 

Pada  pasal  1330  KUHPdt  disebut  sebagai  orang‐orang  yang  tidak  cakap  untuk membuat suatu perjanjian ialah: 

1)  Orang‐orang yang belum dewasa; yaitu anak yang belum mencapai umur  18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan (pasal 47 UU No. 1  tahun  1774  tentang  UU  Perkawinan),  sedangkan  dalam  pasal  330  BW  menyebutkan belum dewasa dengan belum mencapai umur 21 tahun.  2)  Mereka  yang  ditaruh  di  bawah  pengampuan;  yaitu  yaitu  orang‐orang 

dewasa  tetapi  dalam  keadaan  dungu,  gila,  mata  gelap,  dan  pemboros  (pasal 433 KUHPdt) 

3)  Orang perempuan dalam hal‐hal yang ditetapkan oleh undang‐undang dan  semua  orang  kepada  siapa  undang‐undang  telah  melarang  membuat  perjanjian‐perjanjian tertentu; misalnya pailit. 

 

Yang  dimaksud  dengan  “mereka  yang  ditaruh  di  bawah  pengampuan“  adalah  orang  yang  tidak  sehat  pikirannya,  tidak  mampu  menginsyafi  tanggung  jawab  yang  dipikul  oelh  seorang  yang  mengadakan  suatu  perjanjian. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan menurut hukum tidak  dapat  berbuat  bebas  dengan  harta  kekayaannya.  Ia  berada  di  bawah  pengawasan pengampuan. Kedudukannya sama dengan seorang anak yang  belum dewasa. Kalau seorang anak belum dewasa harus diwakili oleh orang  tua atau walinya, maka seorang dewasa yang ditaruh di bawah pengampuan  harus diwakili oleh pengampuan atau oratornya. 

 

Dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan

Menurut  pasal  108  KUHPdt,  seorang  perempuan  yang  bersuami,  untuk  mengadakan suatu perjanjian, memerlukan bantuan atau izin (kuasa tertulis)  dari suaminya. 

 

Akan  tetapi  dalam  praktek  para  notaris  sekarang  sudah  mulai  mengizinkan  seorang  isteri,  yang  tunduk  kepada  Hukum  Perdata  Barat  membuat suatu perjanjian dihadapannya, tanpa bantuan suaminya. Juga dari  Surat  Edaran  Mahkamah  Agung  No.  3/1963  tanggal  4  Agustus  1963  kepada  Ketua  Pengadilan  Negara  dan  Pengadilan  Tinggi  di  seluruh  Indonesia  ternyata,  bahwa  Mahkamah  Agung  menganggap  pasal‐pasal  108  dan  110  KUHPdt  tentang  wewenang  seorang  isteri  untuk  melakukan  perbuatan  hukum dan untuk menghadap di depan pengadilan tanpa izin atau bantuan  suaminya, sudah tidak berlaku lagi. 

 

o Orang‐orang yang mabuk (intoxicated persons) 

Sebuah  kontrak  dapat  menjadi  batal  apabila  satu  daripara  pihak  begitu  sangat  mempengaruh  dengan  alkohol  atau  obat‐obatan  pada  saat  kontraknya  dibuat  sehingga  membuatnya  tidak  dapat  memahami  karakteristik dari akibat dari kontrak tersebut dengan sembuhnya pihak yang  dibawah  pengaruh  alkohol  atau  obat‐obatan  tersebut  maka  dia  dapat  membatalkan  kontraknya  namun  bagaimana  pun  juga  dia  akan  tetap  bertanggung  jawab  atas  nilai  yang  wajar  dari  kebutuhan‐kebutuhan  yang  dibelinya.   

 

o Para Narapidana (convicts) 

Seorang  narapidana  tidaklah  secara  keseluruhan  tidak  mempunyai  kapasitas  dalam  melakukan  kontrak.  Seorang  narapidana,  bertanggung  jawab atas nilai wajar kebutuhannya.  

 

o Orang asing (aliens) 

Warga negara dari negara‐negara berbeda sering membuat kontrak satu  sama  lain  kontrak‐kontrak  ini  biasanya  sah  dan  dapat  dipaksakan  secara  hukum  dilaksanakan.  Namun  sebuah  kontrak  yang  dilakukan  oleh  2  orang  warga negara dari 2 negara yang melakukan perang dinyatakan batal.    

o Badan hukum (corporations) 

Dari  kapasitas  Kontraktual,  perusahaan  ditentukan  oleh  aturan‐aturan  dari anggaran dasarnya dan UU dari negara dimana perusahaan itu didirikan  yaitu negara domisilinya.   

 

Sebuah perusahaan mempunyai kekuasaan yang jelas diberitakan dalam  anggaran  dasarnya  dan  dalam  UU  dimana  perusahaan  itu  didirikan  dan  sebuah  perusahaan  juga  mempunyai  kekuasaan/kekuatan  yang  tersirat  dan  kekuatan  yang  sekali‐kali  diperlukan  untuk  digunakan  dalam  memperjelas  kekuasaan‐kekuasaannya.   

 

77 Kontrak Asuransi

Perusahaan  asuransi  yang  melakukan  bisnis  disebuah  negara  tanpa  mendapatkan  lisensi  atau  ijin,  maka  seorang  agen  asuransi  dari  perusahaan  asuransi tersebut dapat diberikan penalti atau sanksi. 

 

Supaya  kontrak  mengikat  semua  pihak,  masing‐masing  harus  mempunyai  wewenang  (kapasitas)  hukum  untuk  membuat  kontrak.    Jika  persyaratan  ini  diaplikasikan  pada  kontrak  asuransi  jiwa  berarti  perusahaan  asuransi  harus  mempunyai  wewenang  hukum  untuk  menerbitkan  polis  dan  pemohon harus mempunyai wewenang hukum untuk membeli polis. 

 

Penanggung  mempunyai  wewenang  hukum  untuk  membuat  kontrak  polis  karena  ada  izin  usaha  atau  izin  operasi  dari  pemerintah  dalam  mengelola  usaha  asuransi  jiwa.  Perusahaan  asuransi  jiwa  tidak  mempunyai  wewenang  hukum  untuk  membuat  kontrak  asuransi.    Seandainya  ada  Penanggung  yang  tidak  mempunyai  izin  usaha  menerbitkan  polis  kepada  seseorang  yang  tidak  mengetahui  bahwa  Penanggung  tidak  mempunyai  wewenang  hukum  untuk  membuat  kontrak  asuransi,  maka  polis‐polis  tersebut memiliki kekuatan hukum untuk memproteksi orang yang memiliki  polis tersebut. Jadi polis tersebut hanya dapat dibatalkan oleh Pemilik Polis.   

c.   Konsiderasi hukum (legal consideration) 

 Pertimbangan  merupakan  nilai  atau  hal  yang  dipakai  oleh  orang  yang  berjanji. Pertimbangan juga termasuk sebuah tawar‐menawar untuk pertukaran.  Dalam  hal  kontrak  asuransi  jiwa  pertimbangannya  adalah  aplikasi  dan  premi