KONTRAK ASURANSI
B. Syarat‐syarat Umum Kontrak
2. Syarat‐syarat umum kontrak
Dengan mempergunakan cara‐cara penafsiran tersebut, suatu perjanjian yang semula isinya kurang lengkap dan kurang jelas, akan dapat ditafsirkan menjadi jelas. Namun hal ini belumlah menjamin suatu perjanjian dapat dilaksanakan dengan sebaik‐ baiknya. Bahkan perjanjian yang sudah dirumuskan dengan syarat baku sekalipun, belum menjamin perjanjian itu pasti dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, kecuali perjanjian itu dilaksanakan dengan itikad baik (Goede trouw, utmost good faith).
Itikad baik yang dimaksud adalah itikad baik seperti yang diatur dalam pasal 1338 ayat (3) KUHPdt, yang menyebutkan bahwa: ”Perjanjian harus dilaksanakan dengan itikad baik” artinya bahwa para pihak harus melaksanakan substansi kontrak berdasarkan kepercayaan atau keyakinan yang teguh atau kemauan baik dari para pihak.
2. Syarat‐syarat umum kontrak
Ada 4 persyaratan umum yang harus dipenuhi agar kontrak informal mengikat semua pihak (legal status of a contract), yaitu:
1) Harus ada manifestasi kesepakatan bersama atas syarat‐syarat kontrak masing‐ masing pihak (mutual assent).
2) Masing‐masing pihak dalam kontrak harus mempunyai “legal capcity” atau contractual capacity (wewenang atau kompetensi hukum) untuk membuat kontrak.
3) Masing‐masing pihak dalam kontrak harus saling memberi dan menerima sesuatu yang bernilai sama (legally adequate consideration).
4) Kontrak tidak bertentangan dengan hukum (lawful purpose).
Dalam hak polis asuransi jiwa sebagai kontrak informil, keempat persyaratan tersebut harus dipenuhi.
Menurut Prof. Subekti, SH dalam bukunya yang berjudul “Hukum Perjanjian” (2005 : 17) menyebutkan bahwa: sahnya suatu perjanjian diperlukan 4 (empat) syarat:
1) Sepakat mereka yang mengikat dirinya; 2) Cakap untuk membuat suatu perjanjian;
69 Kontrak Asuransi
3) Mengenai suatu hal tertentu; 4) Suatu sebab yang halal.
Demikian menurut pasal 1320 KUHPdt. Selanjutnya Prof. Subekti, SH. menjelaskan bahwa dua syarat yang pertama, dinamakan syarat subyektif, karena mengenai orang‐orangnya atau subyeknya yang mengadakan perjanjian, sedangkan dua syarat yang terakhir dimakan syarat‐syarat obyektif karena mengenai pekerjaannya sendiri atau obyek dari perbuatan hukum yang dilakukan itu.
a. Kesepakatan bersama (mutual assent)
Apakah satu kontrak dibuat oleh beberapa pihak dengan menanda‐tangani persetujuan formil tertulis atau kedua belah pihak saling bersalaman, semua itu menunjukkan bahwa pihak yang bersangkutan telah sepakat menyetujui sesuatu yang diperjanjikan. Ini merupakan dasar persyaratan hukum dari kesepakatan bersama yang menganggap bahwa satu pihak telah membuat penawaran dan pihak lain telah menerima penawaran. Jika tidak ada manifestasi kesepakatan bersama oleh pihak‐pihak yang bersangkutan terhadap janji dan syarat‐syarat persetujuan berarti tidak ada yang dapat memaksa secara hukum adanya kontrak. Manifestasi kesepakatan berarti dapat memberikan kelayakan bagi setiap orang sehingga ada persetujuan antara pihak‐pihak yang bersangkutan.
Penawaran (offer)
Sebuah penawaran adalah sebuah proposal yang apabila diterima oleh pihak lain sesuai dengan syarat‐syaratnya akan dapat menciptakan persetujuan yang mengikat. Apabila kuasa yang diberikan kepada orang lain, apabila dicabut maka tidak memiliki kekuatan hukum. Orang‐orang yang membuat penawaran disebut Offeror dan orang menerima penawaran disebut Offeree.
Apabila penerima penawaran bermaksud untuk memberi jawaban ada beberapa pilihan, yaitu:
(1) Penerima dapat menolak penawaran;
(2) Membatalkan dan meminta penawaran baru yaitu dengan penawaran ulang, yang dalam hukum berarti sebuah penolakan dari penawaran yang pertama dan pemberian penawaran baru; atau
(3) Menerima penawaran sesuai dengan syarat‐syaratnya.
Suatu penawaran dapat berbentuk sebuah janji atau sebuah tindakan (a promise or an act). Dapat juga berbentuk janji untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Sebagai contoh, sebuah penawaran dapat berbentuk sebuah janji untuk membayar sejumlah uang apabila penerima penawaran melakukan tindakan atau membuat janji yang diminta oleh pemberi penawaran. Apabila pemberi penawaran meminta dilakukannya semua tindakan atas janjinya, maka kontraknya akan menjadi sebuah kontrak unilateral karena hal ini hanya melibatkan dari pemberi penawaran. Apabila Dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan
pemberi penawaran meminta sebuah janji dari orang yang membuat penawaran maka kontraknya menjadi kontrak bilateral.
Sebuah tindakan dapat ditukarkan untuk sebuah penawaran dengan sebuah janji. Hal ini sering terjadi dalam asuransi jiwa atau kesehatan. Tindakan tersebut adalah penyerahan dari permohonan untuk asuransi dan pembayaran dari premi pertama.
Jadi kontrak asuransi jiwa atau kesehatan anuitas seperti kontrak‐ kontrak informal yang lain terjadi dari satu pihak melakukan penawaran dan pihak yang lain menerima penawaran tersebut.
Penawaaran harus jelas dalam syarat‐syarat materialnya (atau harus memenuhi kejelasan dalam penerimaan) bahwa syarat‐syarat dari kontrak dapat ditegaskan secara pasti (a definite commitment).
Sebuah prinsip dasar dari hukum kontrak adalah bahwa seseorang dapat memilih kepada siapa dia akan melakukan kontrak, untuk alasan ini komunikasi berkontrak dari sebuah penawaran mensyaratkan bahwa pemberi penawaran memberitahu mengenai penawarannya kepada orang yang dia inginkan untuk melakukan kontrak (communication to the offeree). Apabila penawarannya dikirim melalui surat maka penawaran tersebut harus diterima oleh penerima penawaran.
Pemberi penawaran dapat menjelaskan batas waktu penawaran (duration of the offer) apabila dia menginginkannya. Penawaran dapat kemudian menjadi tertutup secara otomatis pada saat waktu berakhirnya atau penawaran setelah waktunya dilewati menjadi tidak efektif atau tidak sah, sebab waktu yang ditentukan dalam penawaran tersebut tidak dipenuhi.
Pemberi penawaran biasanya mempunyai hak untuk membatalkan atau mencabut penawarannya (withdrawal of the offer) kapan saja selama penawaran tersebut diterima.
Apabila penerima penawaran tak ingin menerima penawaran seperti yang ditawarkan tetapi ingin memperbaiki kontrak dengan syarat‐syarat yang berbeda maka penerima penawaran dapat menolak penawaran (rejection and counter offer) yang pertama dan membuat penawaran ulang. Dan kematian salah satu yang memberikan penawaran sebelum penawaran tersebut diterima juga menyebabkan gugurnya penawaran (death or incapacity of offeror or offeree).
Penerimaan (acceptance)
Penerimaan yang dilakukan oleh penerima penawaran harus merupakan hal yang positif dan tanpa syarat dan harus menyatakan persetujuan terhadap penawaran. Sebab penerimaan harus secara cukup dan positif menyatakan
71 Kontrak Asuransi
persetujuan dengan jelas terhadap syarat‐syarat yang diajukan oleh pemberi penawaran, bahwa penerima penawaran harus mempunyai niat untuk menerima.
Pernyataan yang sederhana yang menyatakan saya setuju sudah cukup dijadikan referensi terhadap penawaran dan apabila pemberi penawaran telah meminta sebuah janji sebagai bayarannya atau sebagai pertukarannya. Pemenuhan dari tindakan yang diminta penawaran untuk sebuah kontrak bilateral adalah penerimaan yang cukup secara hukum apabila hanya orang yang diberi penawaran oleh pemberi penawaran dapat menerima penawaran tersebut. Untuk hal ini, dalam aturan‐aturan yang umum diam tidak dapat dianggap sebagai penerimaan.
Sebagai contoh, apabila seorang calon tertanggung asuransi jiwa menyerahkan aplikasi dan juga membayar premi pertama terhadap penanggung maka tindakan itu biasanya merupakan sebuah penawaran. Perusahaan asuransi mengkomunikasikan persetujuannya dengan menerbitkan polis calon tertanggung tersebut. Namun bagaimana pun juga apabila perusahaan asuransi menyatakan bukti‐bukti penerimaan premi atau sebaliknya bahwa asuransinya berlaku pada saat persetujuan dari aplikasi tersebut, maka komunikasi kepada tertanggung mengenai penerimaan asuransi tersebut bukanlah merupakan hal yang penting dalam membuat kontrak yang mengikat.
Perusahaan asuransi tersebut akan terikat dalam kontrak segera pada saat perusahaan menyetujui apliksi tersebut walaupun calon tertanggungnya belum mengetahui penerimaan tersebut.
Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya mengandung makna bahwa para pihak yang membuat perjanjian telah sepakat atau ada persesuaian kemauan atau saling menyetujui kehendak masing‐masing, yang dilahirkan oleh para pihak dengan tiada paksaan atau ketakutan (dwang), kekeliruan atau kekhilafan (dwaling), dan penipuan (bedrog). 3 hal tersebut yang mengakibatkan kesepakatan tidak sempurna (pasal 1321 – 1328 KUHPdt).
Untuk perjanjian‐perjanjian yang tunduk pada asas konsensualitas, menyebutkan bahwa perjanjian terjadi pada saat kesepakatan terjadi atau telah dimulai, sehingga dengan teori ini dalam kontrak asuransi banyak menerapkan bahwa kontrak asuransi dimulai, sesuai teori‐teori yang diterapkannya sebagai berikut:
(1) Perjanjian terjadi apabila atas penawaran telah dilahirkan kemauan menerimanya dari pihak lain atau tanggal atau hari ditandatanganinya SPA (Uitings theorie),
(2) Perjanjian terjadi pada saat surat penerimaan dikirimkan kepada si penawar atau saat SPA dan premi pertama dikirim ke Penanggung atau diterima oleh Agen atau tenaga penjual asuransi (Verzend theorie),
Dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan
(3) Perjanjian pada saat menerima surat penerimaan/sampai di alamat penawar atau tanggal atau hari SPA dan premi pertama diterima Penanggung (Onvangs theorie), dan
(4) Perjanjian baru terjadi, apabila si penawar telah membuka dan membaca surat penerimaan itu atau SPA telah diterima dan diakseptasi secara underwriting (Vernemings theorie).
Dalam hal polis asuransi jiwa, sebagaimana kontrak lainnya, persyaratan kesepakatan bersama itu dipenuhi melalui adanya proses penawaran dan persetujuan. Akan tetapi dalam asuransi jiwa terdapat beberapa variabel yang harus dipertimbangkan dalam menentukan siapa offeror, yaitu orang yang sesungguhnya membuat penawaran dan siapa offeree yaitu kepada siapa penawaran dibuat. Persyaratan penawaran dan persetujuan di dalam pembuatan kontrak asuransi jiwa akan dibicarakan kemudian dalam bab atau bagian ini pada waktu membahas surat permintaan yang diisi oleh seseorang yang mau membeli polis asuransi jiwa.
Dari sudut hukum perjanjian, suatu kontrak dinyatakan sah apabila kontrak tersebut telah memenuhi ketentuan pasal 1320 KUHPdt di atas. Adanya “kesepakatan” yang merupakan salah satu syarat dari sahnya suatu kontrak tersebut dalam perjanjian asuransi, secara lebih khusus diatur dalam pasal 257 KUHD yang menyatakan bahwa perjanjian asuransi antara penanggung dan tertanggung telah terjadi dan mengikat kedua belah pihak atau diterbitkan seketika setelah ia ditutup; sedangkan pasal 1338 ayat (1) KUHPdt, menyebutkan bahwa semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai UU bagi mereka yang membuatnya.
b. Wewenang hukum (legal capacity)
Kewenangan hukum sangat berkaitan dengan pihak‐pihak yang Kompeten (competent parties) dalam melakukan kontrak, dan seseorang dengan umur yang secara hukum diakui tanpa mempunyai keterbatasan mental, mempunyai kelainan, secara hukum kompeten untuk melakukan kontrak, atau orang seperti itu dinyatakan mempunyai kapasitas dalam kontrak atau mempunyai kompetensi hukum untuk membuat sebuah kontrak yang sah.
Namun bagaimana pun juga kapasitas kontrak dari kelas tertentu dari orang‐ orang yang mempunyai keterbatasan, seperti orang yang dibawah umur, orang yang secara mental lemah, orang yang mabuk, narapidana, orang‐orang asing, dan perusahaan‐perusahaan. Beberapa kontrak dari orang‐orang seperti ini menjadi batal (void) atau dapat dibatalkan (voidable). o Orang yang dibawah umur (minors) Seorang yang dibawah umur tidak dapat memberikan kepastian hukum yang tidak dapat dibatalkannya, sehingga pihak‐pihak yang kompeten sering 73 Kontrak Asuransi
menolak melakukan kontrak dengan seorang yang dibawah umur hal ini merupakan kerugian dari orang dibawah umur tersebut.
Kontrak‐kontrak yang tidak dapat dihindari oleh orang‐orang yang dibawah umur (contracts that the minor cannot avoid). Orang‐orang dibawah umur juga bertanggung‐jawab atas nilai‐nilai yang wajar terhadap kebutuhan‐kebutuhan yang dibelinya untuk mereka sendiri. Dengan catatan: mereka tidak bertanggung jawab atas nilai kontrak tetapi lebih pada nilai yang wajar dari barang‐barang tersebut.
Bagi orang‐orang yang lemah mental, baik apakah mereka dibawah perwaliannya atau tidak akan bertanggung jawab atas nilai‐nilai yang wajar dari kebutuhannya, dibelinya asuransi bukanlah merupakan sebuah kebutuhan maka kontrak‐kontrak asuransi bagi orang yang secara lemah mental dapat dibatalkan.
Dalam praktek telah diberlakukan dan memberikan hak pada orang‐ orang yang dibawah umur diatas umur yang sudah ditentukan untuk membuat kontrak asuransi jiwa atau kontrak asuransi kesehatan dalam kondisi dan syarat‐syarat tertentu, contoh: kontrak asuransi jiwa/asuransi kesehatan dan asuransi kecelakaan untuk jiwa mereka sendiri untuk benefit yang diberikan kepada mereka sendiri/kepada ayahnya, ibunya, suaminya, istrinya, anaknya, saudara laki‐laki atau saudara perempuannya dan dapat melakukan/mendapatkan semua hal‐hal kekuatan‐kekuatan kontraktual seperti itu terhadap kontrak apa pun juga terhadap kontrak asuransi seperti itu yang mungkin dilakukan/dilaksanakan oleh orang yan berumur cukup secara hukum.
Usia yang sah untuk membuat kontrak Biasanya tiap individu mempunyai wewenang hukum untuk membuat kontrak jika telah berumur dewasa menurut hukum dan mempunyai kompetensi (kecakapan/ kemauan) mental. Tiap orang yang belum mencapai umur dewasa secara hukum atau tidak mempunyai kecapakan mental, tidak dapat membuat kontrak kecuali kontrak penyediaan dana untuk menutupi biaya kebutuhan yang rasionil. Biaya kebutuhan yang dimaksudkan adalah kebutuhan untuk hidup sehari‐ hari, seperti makanan, perumahan, pakaian. Kontrak untuk kebutuhan tersebut tetap berlaku meskipun salah satu pihak tidak mempunyai wewenang hukum terhadap kontrak. Kontrak polis asuransi jiwa belumlah dianggap sebagai kebutuhan pokok oleh pengadilan.
Kecuali untuk kontrak kebutuhan pokok dan jika tidak bertentangan dengan hukum dan peraturan yang berlaku, kontrak yang dibuat oleh orang yang masih di bawah umur hanya dapat dibatalkan atas permintaan dari orang yang di bawah umur tersebut.
Dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan
Orang yang dibawah umur ialah orang yang belum mencapai umur dewasa menurut hukum untuk membuat kontrak. Umur sah menurut hukum untuk dapat membuat kontrak adalah umur dewasa secara hukum. Di Amerika Serikat dan Canada umumnya umur dewasa adalah 18 tahun, tetapi ada juga di negara bagian tertentu yang menganggap umur 16, 15 atau 14 tahun sudah dewasa dan dapat membeli polis asuransi jiwa.
Undang‐undang perlu menetapkan umur dewasa menurut hukum pada saat pembelian asuransi jiwa untuk melindungi perusahaan asuransi dari kemungkinan adanya orang di bawah umur yang menolak kontrak di kemudian hari dengan alasan belum mempunyai wewenang (kapasitas) hukum. Jika seandainya perusahaan asuransi jiwa menjual polis kepada orang yang masih dibawah umur maka perusahaan asuransi harus mendukungnya sampai akhir kontrak. Akan tetapi, orang yang masih dibawah umur tersebut dapat menuntut untuk membatalkan polis dan perusahaan asuransi harus mengembalikan premi yang telah dibayar untuk polis tersebut walaupun polis tersebut telah lama berjalan aktif.
o Orang yang secara mental tidak mampu (mentally infirm persons)
Orang yang secara mental tidak mampu dapat disebabkan oleh kegilaan, keterbelakangan mental, penyakit, luka atau umur yang sudah tua, tingkat dari ketidakmampuan/kelemah mental berkisar dari keterbelakangan yang ringan sampai dari tingkat yang fungsi atau koma yang tetap yang sering terjadi pada saat seseorang menerima luka yang sangat berat di kepalanya. Kapasitas kontraktual dari orang yang lemah mental tergantung apakah pengadilannya telah memutuskan bahwa orang tersebut secara mentalnya telah kompeten dan telah menunjuk wali atas kekayaan orang itu atau jika tidak apakah orang itu dapat secara wajar memahami sifat‐sifat atau akibat‐ akibat dari persetujuan itu.
Apabila seorang wali telah ditunjuk (If a guardian has been appointed). Tujuan dari penunjukkan wali adalah untuk menjaga kekayaan dari orang yang lemah mental tersebut dari penyimpangan yang dilakukannya sendiri dan tujuannya ini akan dikalahkan apabila orang yang lemah mental itu mempunyai kekuatan untuk melakukan kontrak. Wali tersebut mempunyai kontrol terhadap properti dari orang yang lemah mental tersebut dan tunduk pada supervisi dari Pengadilan.
Apabila belum ada wali yang ditunjuk (if no guardian has been appointed). Apabila belum ada wali yang ditunjuk, maka kemampuan dari orang yang lemah mental tersebut untuk memahami kompleksitas dari perjanjian/persetujuan biasanya akan menentukan apakah kontraknya batal/dapat dibatalkan. Sebagai contoh orang yang lemah mental mungkin dapat memahami apa yang termaksud dalam pembelian sebuah sepeda tetapi tidak memahami apa yang termasuk dalam kaitan membeli saham dalam perusahaan. Apabila orang yang lemah mental tidak mempunyai 75 Kontrak Asuransi
pemahaman secara total sama sekali mengenai karakteristik/sifat dan akibat‐ akibat dari persetujuan maka kontraknya batal untuk dilaksanakan. Namun bagaimana pun juga, orang yang lemah mental tersebut masih mempunyai pemahaman atau tidak secara total tidak tau tetapi secara wajar tidak mengetahui sifat‐sifat/esensi dan akibat‐akibat dari perjanjiannya maka kontraknya menjadi dibatalkan dan oleh orang yang lemah mental itu seorang wali yang kemudian ditunjuk dapat membatalkan sebuah kontrak bagi orang dibawah umur.
Jika orang tersebut kemudian dinyatakan cakap mental oleh pengadilan, maka yang bersangkutan dapat membatalkan kontrak atau minta terus dilanjutkan. Pihak lainnya pada kontrak tidak mempunyai hak untuk membatalkan kontrak dan harus melaksanakan ketentuan‐ketentuan tersebut dalam kontrak jika diminta.
Lebih jauh Prof. Subekti, SH di dalam bukunya sehubungan dengan persyaratan yang kedua untuk sahnya perjanjian adalah sebagai berikut: Cakap untuk membuat suatu perjanjian; atau sama dengan pengertian tentang masing‐masing pihak dalam kontrak harus mempunyai legal capacity atau wewenang hukum untuk membuat kontrak.
Pada pasal 1330 KUHPdt disebut sebagai orang‐orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian ialah:
1) Orang‐orang yang belum dewasa; yaitu anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah melangsungkan perkawinan (pasal 47 UU No. 1 tahun 1774 tentang UU Perkawinan), sedangkan dalam pasal 330 BW menyebutkan belum dewasa dengan belum mencapai umur 21 tahun. 2) Mereka yang ditaruh di bawah pengampuan; yaitu yaitu orang‐orang
dewasa tetapi dalam keadaan dungu, gila, mata gelap, dan pemboros (pasal 433 KUHPdt)
3) Orang perempuan dalam hal‐hal yang ditetapkan oleh undang‐undang dan semua orang kepada siapa undang‐undang telah melarang membuat perjanjian‐perjanjian tertentu; misalnya pailit.
Yang dimaksud dengan “mereka yang ditaruh di bawah pengampuan“ adalah orang yang tidak sehat pikirannya, tidak mampu menginsyafi tanggung jawab yang dipikul oelh seorang yang mengadakan suatu perjanjian. Orang yang ditaruh di bawah pengampuan menurut hukum tidak dapat berbuat bebas dengan harta kekayaannya. Ia berada di bawah pengawasan pengampuan. Kedudukannya sama dengan seorang anak yang belum dewasa. Kalau seorang anak belum dewasa harus diwakili oleh orang tua atau walinya, maka seorang dewasa yang ditaruh di bawah pengampuan harus diwakili oleh pengampuan atau oratornya.
Dasar-dasar asuransi jiwa dan asuransi kesehatan
Menurut pasal 108 KUHPdt, seorang perempuan yang bersuami, untuk mengadakan suatu perjanjian, memerlukan bantuan atau izin (kuasa tertulis) dari suaminya.
Akan tetapi dalam praktek para notaris sekarang sudah mulai mengizinkan seorang isteri, yang tunduk kepada Hukum Perdata Barat membuat suatu perjanjian dihadapannya, tanpa bantuan suaminya. Juga dari Surat Edaran Mahkamah Agung No. 3/1963 tanggal 4 Agustus 1963 kepada Ketua Pengadilan Negara dan Pengadilan Tinggi di seluruh Indonesia ternyata, bahwa Mahkamah Agung menganggap pasal‐pasal 108 dan 110 KUHPdt tentang wewenang seorang isteri untuk melakukan perbuatan hukum dan untuk menghadap di depan pengadilan tanpa izin atau bantuan suaminya, sudah tidak berlaku lagi.
o Orang‐orang yang mabuk (intoxicated persons)
Sebuah kontrak dapat menjadi batal apabila satu daripara pihak begitu sangat mempengaruh dengan alkohol atau obat‐obatan pada saat kontraknya dibuat sehingga membuatnya tidak dapat memahami karakteristik dari akibat dari kontrak tersebut dengan sembuhnya pihak yang dibawah pengaruh alkohol atau obat‐obatan tersebut maka dia dapat membatalkan kontraknya namun bagaimana pun juga dia akan tetap bertanggung jawab atas nilai yang wajar dari kebutuhan‐kebutuhan yang dibelinya.
o Para Narapidana (convicts)
Seorang narapidana tidaklah secara keseluruhan tidak mempunyai kapasitas dalam melakukan kontrak. Seorang narapidana, bertanggung jawab atas nilai wajar kebutuhannya.
o Orang asing (aliens)
Warga negara dari negara‐negara berbeda sering membuat kontrak satu sama lain kontrak‐kontrak ini biasanya sah dan dapat dipaksakan secara hukum dilaksanakan. Namun sebuah kontrak yang dilakukan oleh 2 orang warga negara dari 2 negara yang melakukan perang dinyatakan batal.
o Badan hukum (corporations)
Dari kapasitas Kontraktual, perusahaan ditentukan oleh aturan‐aturan dari anggaran dasarnya dan UU dari negara dimana perusahaan itu didirikan yaitu negara domisilinya.
Sebuah perusahaan mempunyai kekuasaan yang jelas diberitakan dalam anggaran dasarnya dan dalam UU dimana perusahaan itu didirikan dan sebuah perusahaan juga mempunyai kekuasaan/kekuatan yang tersirat dan kekuatan yang sekali‐kali diperlukan untuk digunakan dalam memperjelas kekuasaan‐kekuasaannya.
77 Kontrak Asuransi
Perusahaan asuransi yang melakukan bisnis disebuah negara tanpa mendapatkan lisensi atau ijin, maka seorang agen asuransi dari perusahaan asuransi tersebut dapat diberikan penalti atau sanksi.
Supaya kontrak mengikat semua pihak, masing‐masing harus mempunyai wewenang (kapasitas) hukum untuk membuat kontrak. Jika persyaratan ini diaplikasikan pada kontrak asuransi jiwa berarti perusahaan asuransi harus mempunyai wewenang hukum untuk menerbitkan polis dan pemohon harus mempunyai wewenang hukum untuk membeli polis.
Penanggung mempunyai wewenang hukum untuk membuat kontrak polis karena ada izin usaha atau izin operasi dari pemerintah dalam mengelola usaha asuransi jiwa. Perusahaan asuransi jiwa tidak mempunyai wewenang hukum untuk membuat kontrak asuransi. Seandainya ada Penanggung yang tidak mempunyai izin usaha menerbitkan polis kepada seseorang yang tidak mengetahui bahwa Penanggung tidak mempunyai wewenang hukum untuk membuat kontrak asuransi, maka polis‐polis tersebut memiliki kekuatan hukum untuk memproteksi orang yang memiliki polis tersebut. Jadi polis tersebut hanya dapat dibatalkan oleh Pemilik Polis.
c. Konsiderasi hukum (legal consideration)
Pertimbangan merupakan nilai atau hal yang dipakai oleh orang yang berjanji. Pertimbangan juga termasuk sebuah tawar‐menawar untuk pertukaran. Dalam hal kontrak asuransi jiwa pertimbangannya adalah aplikasi dan premi