• Tidak ada hasil yang ditemukan

Korupsi sebagai extra ordinary crime

Dalam dokumen Hukum Pidana dalam Perspektif. pdf (Halaman 116-122)

Septa Candra

1. Korupsi sebagai extra ordinary crime

Korupsi di Indonesia telah merambah ke seluruh lini kehidupan

masyarakat dan dilakukan secara sistematis, sehingga merusak

perekonomian dan menghambat pembangunan serta memunculkan stigma negatif bagi bangsa dan negara Indonesia di dalam pergaulan

masyarakat internasional. Upaya pemberantasannya pun terkendala dan berpacu dengan munculnya beragam modus operandi korupsi yang semakin canggih (sophisticated). Korupsi mempunyai banyak segi

dan dapat dipandang dari segi politik, ekonomi, budaya, kriminologi dan sebagainya. Korupsi yang melanda negara Indonesia sudah sangat

serius dan merupakan kejahatan yang luar biasa (extra ordinary crime)

serta menggoyahkan sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan membahayakan keberadaan negara. Hal ini terjadi

karena perilaku korupsi merusak ber bagai macam tatanan, seperti

tatanan hukum, tatanan politik, dan tatanan sosial budaya dari negara yang bersangkutan.

Septa Candra

Dalam penanggulangan tindak pidana korupsi harus dilakukan

secara komprehensif, yang meliputi “legal substance, legal structure, dan

legal culture”. Meskipun undang-undang merupakan aspek penting yang

akan menentukan bekerjanya sistem peradilan pidana, namun keberadaan undang-undang saja tidak akan menjadi “suicient condition”. Sekalipun ia merupakan suatu “necessary condition”, akan tetapi adanya “political will”, perilaku aparat penegak hukum, konsistensi penerapan hukum,

dan budaya hukum adalah “determining factors”. Pendekatan struktur dan

substantif tidak akan berhasil jika tidak diikuti pendekatan budaya dan

etika dari penegak hukum itu sendiri yang sering terkontaminasi korupsi

lanjutan. Permasalahan korupsi di negara Indonesia masih merupakan

masalah besar dan menjadi agenda bersama untuk memeranginya. Tindak pidana korupsi tergolong sebagai “extra ordinary crime”,

sehingga untuk memberantasnya dibutuhkan “extra ordinary measure”.

Dalam hubungan ini, penerapan konsep “materiele wederrechteljk”, konsep “reversal of the burden of proof (omkering van de bewjslast)”, dan pembentukan institusi khusus sebagai “anti corruption agency” yang independen menjadi

cukup penting dan relevan dalam rangka pemberantasan tindak pidana

korupsi. Korupsi yang bersifat “extra-ordinary crime” juga mempunyai

arti bahwa korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa dan bersifat transnasional sehingga pemberantasannya diperlukan kerja sama internasional. Kerjasama ini dituangkan dalam United National Convention Against Corruption pada tanggal 29 September 2003.

Jeremy Pope1 mensinyalir korupsi makin mudah ditemukan di

berbagai bidang kehidupan. Pertama, karena melemahnya nilai-nilai

sosial, kepentingan pribadi menjadi lebih utama dibanding kepentingan umum, serta kepemilikan benda secara individual menjadi etika pribadi yang melandasi perilaku sosial sebagian besar orang. Kedua, tidak ada transparansi dan tanggung gugat sistem integritas publik.

Berbagai kalangan menganggap korupsi sepertinya sudah merasuk di seluruh lini kehidupan dan sepertinya telah menyatu dengan sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Meningkatnya aktivitas korupsi,

menurut Patrick Glynn, Stephen J. Korbin dan Moises Naim, baik yang

sesungguhnya maupun yang dirasakan ada di beberapa negara, karena terjadinya perubahan politik yang sistematik, sehingga memperlemah atau menghancurkan tidak saja lembaga sosial dan politik, tetapi juga

hukum.2

Upaya atau kebjakan untuk melakukan pencegahan dan penanggulangan kejahatan termasuk bidang ”kebjakan kriminal”.

1 Jeremy Pope, Strategi Memberantas Korupsi, (Jakarta:Transparency International Indonesia, 2003), hlm. 2

2 Lihat Kimberly Ann Elliot, Corruption and The Global Economy, edisi pertama, (Jakarta: terjemahan Yayasan Obor Indonesia, 1999), hlm. 11

Tindak pidana korupsi; Upaya pencegahan dan pemberantasan

Kebjakan kriminal pun tidak terlepas dari kebjakan yang lebih luas, yaitu ”kebjakan sosial” (social policy) yang terdiri dari kebjakan untuk

mencapai kesejahteraan masyarakat (social walfare) dan kebjakan untuk

perlindungan masyarakat (social defence).3 Dengan demikian sekiranya

kebjakan penanggulangan kejahatan menggunakan sarana penal (hukum

pidana) maka kebjakan tersebut harus mengarah pada tercapainya kesejahteraan masyarakat dan perlindungan masyarakat.

Dalam konteks yang komprehensif, tidak dapat dipungkiri lagi bahwa korupsi merupakan white collar crime dengan perbuatan yang

selalu mengalami dinamisasi modus operandinya dari segala sisi sehingga

dikatakan sebagai invisible crime yang sangat sulit memperoleh prosedural

pembuktiannya, karenanya seringkali memerlukan “pendekatan sistem” (system approach) terhadap pemberantasannya.4 Upaya pencegahan

korupsi di Indonesia masih bersifat masiv, perkembangan hukum

tentang tindak pidana korupsi terfokus pada upaya represif, tetapi sangat

minim perhatian pada fungsi preventif, dalam hukum pidana umumnya pencegahan suatu tindak pidana, termasuk tindak pidana korupsi

dibedakan menjadi dua, yaitu General prevention (prevention for potential ofender) dan Special prevention (prevention for ofender), tetapi semuanya

itu passive prevention dan terkadang mengabaikan upaya yang sifatnya active prevention, padahal pencegahan tindak pidana korupsi seharusnya

dilakukan dengan membangun sistem kekebalan (immunity system),

sehingga orang tercegah sebelum terjangkit korupsi.

2. Pengertian korupsi

Dilihat dari sudut terminologi, istilah korupsi berasal dari kata “corruptio

dalam bahasa Latin yang berarti kerusakan atau kebobrokan, dan dipakai pula untuk menunjuk suatu keadaan atau perbuatan yang busuk. Dalam perkembangan selanjutnya, istilah ini mewarnai perbendaharaan kata

dalam bahasa berbagai negara, termasuk bahasa Indonesia. Istilah korupsi

yang sering dikaitkan dengan ketidakjujuran atau kecurangan seseorang

dalam bidang keuangan. Dengan demikian, melakukan korupsi berarti

melakukan kecurangan atau penyimpangan menyangkut keuangan

negara. Hal itu dikemukakan pula oleh Henry Campbell Black,5 yang

mengartikan korupsi sebagai: “an act done with an intent to give some advantage inconsistent with oicial duty and the rights of others”. (terjemahan

3 Barda Nawawi Arief, Masalah Penegakan Hukum dan Kebjakan Hukum Pidana dalam Pen- anggulangan Kejahatan, Cetakan pertama, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), hlm. 77

4 Indriyanto Seno Adji, Korupsi Kebjakan Aparatur Negara dan Hukum Pidana, (Jakarta: CV. Diadit Media, 2007), hlm 374

5 Henry Compbell Black, Black’s Law Dictionary With Pronounciations, (St. Paul, Minn: West Publishing Co., 1983), hlm. 182

Septa Candra

bebasnya: sesuatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak sesuai dengan kewajiban resmi dan hak-hak dari pihak lain). Termasuk pula dalam pengertian “corruption” menurut Black adalah, perbuatan seorang pejabat yang secara

melanggar hukum menggunakan jabatannya untuk mendapatkan suatu keuntungan yang berlawanan dengan kewajibannya. “an act done with an intent to give some advantage inconsistent with oicial duty and the rights of others”. (terjemahan bebasnya: sesuatu perbuatan yang dilakukan dengan

maksud untuk memberikan suatu keuntungan yang tidak sesuai dengan kewajiban resmi dan hak-hak dari pihak lain). Dalam Webster’s New American Dictionary, kata “corruption” diartikan sebagai “decay” (Lapuk),

contamination” (kemasukan sesuatu yang merusak), dan “impurity

(tidak murni). Sedangkan kata “corrupt” djelaskan sebagai “to become roten or putrid” (menjadi busuk, lapuk atau buruk), juga “to induce decay in something originally clean and sound” (memasukkan sesuatu yang busuk,

atau yang lapuk ke dalam sesuatu yang semula bersih dan bagus).6

Sementara itu, di dalam kamus umum bahasa Indonesia, kata

korupsi diartikan sebagai perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang sogok dan sebagainya.7 Sedangkan menurut

Sudarto, istilah korupsi berasal dari perkataan “corruption”, yang berarti

kerusakan. Disamping itu perkataan korupsi dipakai pula untuk menunjuk keadaan atau perbuatan yang busuk. Korupsi banyak disangkutkan kepada ketidak-jujuran seseorang dalam bidang keuangan.8 Undang-

Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana

Korupsi dalam Pa sal 3 memberikan pengertian korupsi sebagai berikut : Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

Secara umum korupsi berhubungan dengan perbuatan yang merugikan kepentingan negara atau masyarakat luas untuk kepentingan

pribadi, kelompok, atau keluarga tertentu. Dalam perkembangan

selanjutnya, istilah ini mewarnai perbendaharaan kata dalam bahasa

berbagai negara, termasuk bahasa Indonesia. Istilah korupsi sering

dikaitkan dengan ketidakjujuran atau kecurangan seseorang dalam bidang

keuangan. Dengan demikian, melakukan korupsi berarti melakukan

kecurangan atau penyim pangan menyangkut keuangan.

Brooks, sebagaimana dikutip oleh Alatas, memberikan perumusan 6 Lihat A. Mariam Webster, New International Dictionary, (G & C Marriam Co. Publishers

Springield Mass USA, 1985 )

7 W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976) 8 Sudarto, Hukum dan Hukum Pidana, (Bandung: Penerbit Alumni, 1986), hlm 42

Tindak pidana korupsi; Upaya pencegahan dan pemberantasan

korupsi, sebagai berikut: “dengan sengaja melakukan kesalahan atau melalaikan tugas yang diketahui sebagai kewajiban, atau tanpa hak menggunakan kekuasaan, dengan tujuan memperoleh keuntungan yang sedikit banyak bersifat pribadi”. Selanjutnya ciri-ciri korupsi diringkaskan

se bagai berikut:

a. Suatu penghianatan terhadap kepercayaan.

b. Penipuan terhadap badan pemerintah, lembaga swasta atau masyarakat umumnya.

c. Dengan sengaja melalaikan kepentingan umum untuk kepentingan

khusus.

d. Dilakukan dengan rahasia, kecuali dalam keadaan dimana orang-

orang yang berkuasa atau bawahannya menganggap tidak perlu.

e. Melibatkan lebih dari satu orang atau pihak.

f. Adanya kewajiban dan keuntungan bersama, dalam bentuk uang atau yang lain.

g. Terpusatnya kegiatan (korupsi) pada mereka yang menghendaki keputusan yang pasti dan mereka yang dapat mempengaruhinya. h. Adanya usaha untuk menutupi perbuatan korup dalam bentuk-

bentuk pengesahan hukum.

i. Menunjukkan fungsi ganda yang kontradiktif pada mereka yang

melakukan korupsi.

Dari segi tipologi, menurut Alatas, korupsi dapat dibagi dalam

tujuh jenis yang berlainan, yaitu:

1. Korupsi transaktif (transactive corruption). Di sini menunjukkan

kepada adanya kesepakatan timbal balik antara pemberi dan pihak

penerima demi keuntungan kedua belah pihak dan dengan aktif

diusahakan tercapainya keuntungan ini oleh kedua-duanya.

2. Korupsi yang memeras (extortive corruption) adalah di mana pihak

pemberi dipaksa untuk menyuap guna mencegah kerugian yang sedang mengancam dirinya, kepentingan dirinya, atau orang- orang, dan hal-hal yang dihargainya.

3. Korupsi investif (investive corruption) adalah perilaku korban

korupsi dengan pemerasan. Korupsinya adalah dalam rangka mempertahankan diri, seperti pemberian barang atau jasa tanpa ada

pertalian langsung dengan keuntungan tertentu, selain keuntungan

yang dibayangkan akan diperoleh di masa yang akan datang.

4. Korupsi perkerabatan (nepotistic corruption) adalah penunjukan yang

tidak sah terhadap teman atau sanak saudara untuk memegang

jabatan dalam pemerintahan, atau tindakan yang memberikan perlakuan yang mengutamakan dalam bentuk uang atau bentuk-

bentuk lain, kepada mereka, secara bertentangan dengan norma

dan peraturan yang berlaku.

Septa Candra

tetapi si penerima yang bersalah. Misalnya, seorang penguasa yang kejam menginginkan hak milik seseorang, tidak berdosalah

memberikan kepada penguasa tersebut sebagian dari harta itu

untuk menyelamatkan harta selebihnya.

6. Korupsi otogenik (autogenic corruption) suatu bentuk korupsi yang

tidak melibatkan orang lain dan pelakunya hanya seorang diri.

7. Korupsi dukungan (supportive corruption) di sini tidak langsung

menyangkut uang atau imbalan dalam bentuk lain. Tindakan- tindakan yang dilakukan adalah untuk melindungi dan memperkuat korupsi yang sudah ada.

Deinisi tentang korupsi dapat dipandang dari berbagai aspek, bergantung pada disiplin ilmu yang digunakan9 sebagaimana

dikemukakan oleh Benveniste dalam Suyatno, korupsi dideinisikan

menjadi empat jenis, yaitu :

1. Discretionery corruption, ialah korupsi yang dilakukan karena

ada nya kebebasan dalam menentukan kebjaksanaan, sekalipun nampaknya bersifat sah, bukanlah praktik-praktik yang dapat diterima oleh para anggota organisasi. Misalnya, seorang pelayan perizinan Tenaga Kerja Asing, memberikan pelayanan yang lebih cepat kepada “calo”, atau orang yang bersedia membayar lebih, ketimbang para pemohon yang biasa-biasa saja. Alasannya karena calo adalah orang yang bisa memberikan pendapatan tambahan.

Dalam kasus ini, sulit dibuktikan tentang praktik korupsi,

walaupun ada peraturan yang dilanggar. Terlebih lagi apabila dalih memberikan uang tambahan itu dibungkus dengan jargon “tanda ucapan terima kasih”, dan diserahkan setelah pelayanan

diberikan.

2. Illegal corruption, ialah suatu jenis tindakan yang bermaksud

menga caukan bahasa atau maksud-maksud hukum, peraturan dan

regulasi tertentu. Misalnya, di dalam peraturan lelang dinyatakan bahwa untuk pengadaan barang jenis tertentu harus melalui proses pelelangan atau tender. Tetapi karena waktunya mendesak (karena turunnya anggaran terlambat), maka proses tender itu tidak memungkinkan. Untuk itu pimpinan proyek mencari dasar hukum mana yang bisa mendukung atau memperkuat

pelaksanaan pelelangan, sehingga tidak disalahkan oleh inspektur.

Dicarilah pasal-pasal dalam peraturan yang memungkinkan

untuk bisa dipergunakan sebagai dasar hukum guna memperkuat

sahnya pelaksanaan tender. Dari sebagian banyak pasal, misalnya ditemukanlah suatu pasal yang mengatur perihal “keadaan darurat” atau “force mayeur”. Dalam pasal ini dikatakan bahwa

Tindak pidana korupsi; Upaya pencegahan dan pemberantasan

“dalam keadaan darurat, prosedur pelelangan atau tender dapat dikecualikan, de ngan syarat harus memperoleh izin dari pejabat yang berkompeten”. Dari sinilah dimulainya illegal corruption,

yakni ketika pemimpin memimpin proyek mengartikulasikan

tentang keadaan darurat.

3. Mercenery corruption, ialah jenis tindak pidana korupsi yang

dimaksud untuk memperoleh keuntungan pribadi, melalui penya- lahgunaan wewenang dan kekuasaan. Misalnya, dalam sebuah persaingan tender, seorang panitia lelang memiliki kewenangan

untuk meluluskan peserta tender. Untuk itu, secara terselubung

atau terang-terangan ia mengatakan bahwa untuk memenangkan

tender, peserta harus bersedia memberikan uang sogok atau semir

dalam jumlah tertentu.

4. Ideological corruption, ialah jenis korupsi illegal maupun discretionery

yang dimaksudkan untuk mengejar tujuan kelompok. Misalnya,

kasus skandal Watergate adalah contoh ideological corruption, dimana

jumlah individu memberikan komitmen mereka kepada presiden

Nixon ketimbang kepada undang-undang atau hukum. Penjualan

aset BUMD untuk mendukung pemenangan pemilihan umum

untuk partai politik tertentu adalah contoh dari jenis korupsi ini.10

Dalam dokumen Hukum Pidana dalam Perspektif. pdf (Halaman 116-122)