• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengapa perlu perlindungan saksi?

Dalam dokumen Hukum Pidana dalam Perspektif. pdf (Halaman 188-191)

Siradj Okta

1. Mengapa perlu perlindungan saksi?

1.1. Peranan saksi dalam sistem peradilan pidana

S

eluruh pihak yang terlibat dalam pengadilan berhak atas penghormatan privasi dan keamanan dan tidak dapat menjadi subjek atas perlakuan yang merendahkan martabat.1 Sehubungan dengan mandat ini, maka

pengadilan memiliki kepentingan yang lebih luas. Pada konsep pengadilan tradisional, fokus diberikan kepada terdakwa ketika peng- adilan harus menerapkan asas praduga tak bersalah kepada terdakwa.

Perluasan mandat pengadilan mengarah kepada kepentingan pengadilan

untuk melindungi saksi dan korban. Sebagai pihak yang akan terlibat dalam proses di dalam pengadilan, maka saksi dan korban juga harus mendapatkan perlindungan atas privasi dan keamanannya.2

Keterangan saksi memiliki peran yang sangat penting dalam

pembuktian. Saksi dapat dikatakan sebagai alat bukti terpenting. Sulit

sekali menegakkan dakwaan tanpa kesaksian, walaupun terdapat alat bukti lain yang saling mendukung dalam suatu kasus. Awal suatu perkara pidana, pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu penyelidikan dan penyidikan. Penyelidikan dimulai ketika diketahui telah terjadi suatu peristiwa hukum. Atas pengetahuan tersebut, kemudian dilakukanlah

serangkaian tindakan untuk menentukan keberadaan tindak pidana di

dalam peristiwa hukum tersebut. Pada umumnya, penyelidikan dimulai atas peristiwa hukum yang dilaporkan atau diadukan seseorang. Pelapor tadi pada bagiannya nanti akan menjadi saksi. Sehingga saksi memang

1 Pasal 6 dan 8 Konvensi HAM Eropa.

2 Jenny McEwan, The Testimony of Vulnerable Victims and Witnesses in Criminal Proceedings in the European Union, ERA Forum (2009) 10: 369–386.

Siradj Okta

senantiasa ada dalam setiap perkara pidana. Yang menjadi masalah

adalah ketika saksi tadi tidak bersedia memberikan keterangan. Hal ini akan membuat nalar penelusuran perkara pidana rusak, dan hampir

dipastikan pemidanaan tidak dapat djatuhkan.

1.2. Sejarah singkat perlindungan saksi

Pada 1970-an, Amerika Serikat berusaha membongkar kejahatan

terorganisasi yang dilakukan oleh maia Italia. Namun, dalam dunia maia Italia terdapat sumpah diam (code of silence) atau yang dikenal dengan

istilah omerta. Sumpah tersebut merupakan peraturan tidak tertulis yang

berlaku di kalangan maia Italia untuk tetap diam dan tidak membongkar keberadaan kelompok maia kepada siapapun. Begitu kuatnya omerta

sehingga mengancam nyawa siapapun yang melanggar sumpah tersebut dan bekerjasama dengan polisi. Saksi penting tidak dapat dibujuk dan cenderung menghilang. Pengalaman inilah yang kemudian mendorong

Departemen Hukum Amerika Serikat untuk melembagakan suatu program perlindungan saksi.3

Orang yang pertama kali melanggar omerta dari maia Italia di

Amerika Serikat adalah Joseph Valahi.4 Ia memberikan kesaksian tentang

struktur maia dan kejahatan terorganisasi kepada Komis Kongres Amerika Serikat pada tahun 1963. Kerjasama yang ia lakukan tersebut didorong oleh rasa takut akan dibunuh oleh pimpinan maia yang sangat kuat, yaitu Vito Genovese. Ketika hadir di hadapan Komis Kongres

Amerika Serikat, Valahi dilindungi oleh 200 petugas keamanan karena

ada rumor bahwa kepalanya dihargai US$ 100.000. Kemudian Valahi masuk dalam pengawasan protektif dan tetap ditahan di penjara hingga akhir hidupnya. Selama pengawasan, hubungan Valahi dibatasi kepada Biro Penyidikan Federal (FBI) dan staf dari Biro Lembaga Pemasyarakatan

Federal. Valahi menjadi orang pertama yang ditawarkan perlindungan

untuk kesaksiannya sebelum program perlindungan saksi dibentuk

secara formal.

Pada tahun 1970, Jaksa Agung Amerika Serikat mendapatkan

wewenang untuk memberikan perlindungan keamanan bagi saksi yang bersedia memberi kesaksian terkait kasus-kasus kejahatan terorganisasi dan bentuk kejahatan serius lainnya. Wewenang tersebut diperoleh berdasarkan Undang-Undang Pengendalian Kejahatan Terorganisasi. Berdasarkan wewenang tersebut terbentuklah program WITSEC (Witness Security) yang kemudian berwenang memastikan keamanan isik saksi

3 Fred Montanino, Unintended Victims of Organized Crime Witness Protection, Criminal Jus- tice Policy Review, vol. 2, No. 4 (1987), hlm. 392-408.

4 Tim UNODC, Ilias Chatzis, et.al, Praktik Terbaik Perlindungan Saksi dalam Proses Pidana yang Melibatkan Kejahatan Terorganisir, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Jakarta: 2010, hlm. 6.

Perlindungan saksi di Indonesia

baik berupa penempatan pada tempat tinggal baru dan rahasia maupun perubahan nama dan identitas baru.5

Setelah Amerika Serikat, program perlindungan saksi mulai diadaptasi oleh negara-negara lain. Di Eropa, program perlindungan saksi telah berlaku di Jerman pada pertengahan 1980-an. Pada tahun 1994, telah hadir Undang-Undang Perlindungan Saksi pada tingkat Persemakmuran

yang kemudian berlaku di Australia. Di Asia, Wilayah Administrasi

Khusus Hong Kong telah mengadopsi program perlindungan saksi pada

tahun 2000. Di Afrika, Strategi Nasional Pencegahan Kejahatan 1996 Afrika Selatan mengakui perlindungan saksi sebagai komponen penting penegakan hukum.

1.3. Hambatan struktural dalam sistem peradilan pidana di Indonesia

Hukum pidana Indonesia bersifat monodualistik, yaitu hukum pidana

yang memperhatikan segi-segi objektif dari perbuatan dan juga segi- segi subjektif dari pembuat.6 Fokus pada perbuatan dan pembuat/pelaku

merupakan manifestasi dari dua pilar pokok, yakni asas legalitas dan

asas culpabilitas. Asas legalitas merupakan asas kemasyarakatan yang

bermaksud memberikan kepastian hukum.7 Asas culpabilitas merupakan

asas kemanusiaan yang melahirkan unsur kesalahan sehingga pada gilirannya akan memberi batasan yang jelas antara perbuatan dan

tindak pidana.8 Hukum pidana monodualistik merupakan model yang

yang realistik karena memperhatikan berbagai kepentingan yang harus

dilindungi oleh hukum pidana, yakni kepentingan negara; kepentingan umum; kepentingan individu; kepentingan pelaku tindak pidana; dan

kepentingan korban kejahatan.

Hukum pidana Indonesia secara tegas menyatakan bahwa hadir

menjadi saksi merupakan kewajiban yang jika tidak dipatuhi terdapat sanksi pidananya. Diatur oleh KUHP dalam Pasal 224 bahwa saksi wajib hadir bila dipanggil, dengan ancaman hukuman maksimal 9 bulan (untuk kasus pidana) dan 6 bulan (untuk kasus perdata).

Sehingga sangat jelas bahwa kedudukan saksi sangat penting sekaligus sangat rentan. Individu dibebani kewajiban untuk menjadi saksi, namun tidak mendapat jaminan keamanan apapun atas dirinya. Kondisi ini berlangsung sejak berlakunya KUHP di Indonesia hingga lahirnya

5 Ibid.

6 Barda Nawawi Arief, Bunga Rampai Kebjakan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Band- ung, hlm. 107-108.

7 Loebby Loqman,Perkembangan Azaz Legalitas Dalam Hukum Pidana Indonesia, makalah, Semarang, 2004, hlm. 6-7

Siradj Okta

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan

Korban, kurang lebih selama 100 tahun. Kondisi ini menunjukan bahwa

hukum pidana Indonesia masih awam dalam menempatkan perspektif

korban pada penegakannya.

Dalam dokumen Hukum Pidana dalam Perspektif. pdf (Halaman 188-191)