Menyiapkan ringkasan kebijakan (policy brief) menjadi keniscayaan yang dilakukan berbagai pihak dalam era revolusi informasi. Hal ini tidak hanya dilakukan lembaga-lembaga riset kebijakan, pusat studi, atau lembaga-lembaga nasional dan internasional, akan tetapi juga dilakukan berbagai elemen gerakan sosial di akar rumput. Tujuannya, untuk mengefektifkan penyampaian informasi ke berbagai pihak (stakeholders), yang tidak senantiasa memiliki waktu yang cukup panjang untuk menyimak laporan-laporan riset yang tebal dan detil.
Tabel 1. Produk Analisis Kebijakan
Jenis Muatan Presentasi
Policy alternative/initiative Rancangan kebijakan publik dalam bentuk draft akademis dan pasal-pasal perundangan
Sesuai dengan kebutuhan
Policy paper Rancangan kebijakan dalam
bentuk draft/ naskah akademis
20-25 halaman
Policy brief Ringkasan draft/naskah
akademis
3-4 halaman
Policy statement Pernyataan kebijakan dalam bentuk press-release.
Sekitar 2 halaman
Idealnya, policy brief merupakan turunan atau ringkasan dari rancangan kebijakan (policy paper) yang dihasilkan dari sebuah riset kebijakan yang komprehensif. Dengan kata lain, tidak akan mungkin lahir sebuah policy brief tanpa melalui suatu penelitian kebijakan. Penelitian kebijakan itu sendiri, seperti penelitian ilmu sosial pada umumnya, melalui tahapan-tahapan atau proses yang sistematis dan dapat dipertanggung-jawabkan secara metodologis. Metodologi yang dimaksud di sini adalah cara, strategi, atau proses pengumpulan data, analisis, dan penyajian yang tidak dilakukan secara serampangan, akan tetapi dapat diuji dan dipercaya kelaikannya.
Modul SAMBUNGKAN….! )nteraksi Organisasi Masyarakat Sipil dengan Pembuat Kebijakan di Indonesia. Page 131
Sebuah policy brief yang baik bukan hanya dilihat dari keindahan bahasa, tata-letak (lay-out), dan warna-warni, akan tetapi terutama dinilai dari kemampuannya untuk meyakinkan publik, pembuat kebijakan (policy-maker), kelompok sasaran, atau berbagai pihak yang terkait untuk melakukan, mendukung, atau menolak suatu kebijakan yang dianalisis atau diajukan. Kualitas bukan terletak pada aspek bahasa yang bombastis, akan tetapi pada level argumentasi, penyajian data, perspektif, dan persuasi yang meyakinkan.
Singkatnya, policy brief yang baik adalah sebuah rumusan ringkas tentang suatu kebijakan yang fokus, jelas, dan menarik, yang mampu mempengaruhi berbagai pihak untuk melakukan sesuatu sesuai dengan tujuan policy brief itu sendiri.
Komponen/isi policy brief
Tidak ada policy brief yang ideal. Idealitasnya terletak pada faktor yang disebutkan di atas: daya dorongnya untuk mencapai tujuan tertentu. Namun demikian, dari berbagai contoh policy brief yang dikembangkan dan diproduksi berbagai lembaga riset terkemuka, isi atau konten policy brief umumnya mencakup hal-hal sebagai berikut:61
Executive Summary:
• Rangkuman terdiri dari kurang-lebih 150 kata tentang maksud dan tujuan PB dan rekomendasinya. Rangkuman ini semacam alinea pembuka (abstraksi) sebuah tulisan.
• Berikan informasi pendek kepada siapa PB ini ditujukan, misalnya, NGO tertentu, lembaga pemerintah, legislator/politisi, cabang organisasi internasional, dll.
Statement of the Issue/Problem: Jelaskan masalah apa yang menjadi perhatian PB,
misalnya;
• Apa peran lembaga/organisasi untuk menyelesaikan problem sosial/politik/ekonomi yang Anda maksud?
• Apa yang harus mereka lakukan?
• Bagaimana seharusnya mereka merespons? • Siapa yang harus mengambil tanggung jawab? • Kapan harus diputuskan?
• Mengapa?
61
Modul SAMBUNGKAN….! )nteraksi Organisasi Masyarakat Sipil dengan Pembuat Kebijakan di Indonesia. Page 132
Background (of the problem):
• Masukkan fakta-fakta penting yang ―perlu diketahui‖ seorang pengambil keputusan untuk memahami konteks permasalahan. Asumsikan bahwa Anda ditugaskan menyaring segudang informasi karena kesibukan dan keterbatasan waktunya.
Statement of your organization’s interests in the issue:
• Hal ini penting untuk mengingatkan pembaca mengapa isu/problem yang Anda ajukan terjadi sedemikian rupa.
Pre-existing Policies:
• Apakah ada kebijakan sebelumnya yang mencoba menyelesaikan masalah ini? Jika ada seperti apa? Di mana keberhasilan dan kegagalannya? Jika tidak ada, kenapa?
Policy Options:
• Bagian ini memberi pilihan-pilihan kebijakan yang disertai dengan pertimbangan. • Perlu dijelaskan secara ringkas, setiap pilihan memiliki kekuatan dan kelemahan,
keuntungan dan kerugian, pro-kontra, dan ke mana Anda cenderung mengarahkannya.
Recommendation:
• Dari beberapa policy options, pilihlah satu yang harus dilakukan lembaga/organisasi yang Anda maksud. Berikan penekanan yang jelas dan meyakinkan.
Referensi/rujukan:
• Meyakinkan pembaca bahwa sumber informasi yang Anda pergunakan tergolong bermutu tinggi.
Beberapa tips bermanfaat
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Policy Brief yang Efektif Sumber diadaptasi dari Jones, N and C Walsh (2008) Bukti/temuan
(evidence)
Argumen yang persuasif
Tujuan yang jelas argument yang kohesif, kualitas data/bukti; kejelasan dan transparansi bukti/data yang menopang rekomendasi kebijakan (missal studi tunggal, review terhadap bukti yang ada, dsb)
Otoritas Penyampai pesan (individu maupun organisasi) memiliki kredibilitas di mata para pembuat kebijakan
Modul SAMBUNGKAN….! )nteraksi Organisasi Masyarakat Sipil dengan Pembuat Kebijakan di Indonesia. Page 133 Konteks
Kebijakan
Spesifikasi konteks audiens
Policy Brief dibuat untuk konteks yang jelas, spesifik dan sesuai dengan sasaran (audiens)
Rekomendasi bisa ditindaklanjuti
Berhubungan dengan proses kebijakan tertentu, informasi jelas dan rekomendasi dapat ditindaklanjuti dengan pengambilan kebijakan
Keterkaitan Didasari dengan bukti dan temuan
Presentasi pandangan/opini penulis Policy Brief seputar implikasi kebijakan dari temuan riset, perjelas juga argument yang merupakan pandangan pribadi
Bahasa mudah dicerna
Dapat dipahami oleh orang yang berpendidikan meski bukan spesialisasinya
Tampilan/desain Secara visual menarik, mendukung penyampaian argument, dilengkapi dengan foto, table, grafik, kutipan, dll
Bahan Bacaan Pendukung
- Andreas Harsono dan Budi Setiyono (2008), Jurnalisme Sastrawi: Antologi Liputan Mendalam dan Memikat (edisi revisi), Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Dimpos Manalu, Gerakan Sosial dan Perubahan Kebijakan Publik: Studi Kasus Perlawanan Masyarakat Batak vs PT Inti Indorayon Utama di Sumatera Utara, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2009.
- Edward Aspinal and Marcus Mietzner (ed.), Problems of Democratization in Indonesia: Elections, Institutions, and Society, Singapore: ISEAS, 2010.
- Ignatius Haryanto (peny.) (2009), Menuju Jurnalisme Berkualitas: Kumpulan Karya Finalis dan Pemenang Mochtar Lubis Award 2008, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
- Roem Topatimasang, Mansour Fakih, Toto Rahardjo (penyunting), Mengubah Kebijakan Publik (edisi ke-4), Yogyakarta: Insist Press, 2005.
- Roem Topatimasang, Mansour Fakih, Toto Rahardjo (penyunting), Mengubah Kebijakan Publik (edisi ke-4), Yogyakarta: Insist Press, 2005.
- Stella Z. Theodoulou dan Matthew A. Cahn, Public Policy: The Essential Readings, New Jersey: Prentice Hall, 1995.
Modul SAMBUNGKAN….! )nteraksi Organisasi Masyarakat Sipil dengan Pembuat Kebijakan di Indonesia. Page 134
- Thomas A. Birkland, An Introduction to the Policy Process: Theories, Concepts, and Models of Public Policy Making, New York: M.E. Sharpe, 2005.
- Wijajono Partowidagdo, Memahami Analisis Kebijakan: Kasus Reformasi Indonesia, Bandung: Program Studi Pembangunan, Program Pascasarjana ITB, 1999.
- Wijajono Partowidagdo, Memahami Analisis Kebijakan: Kasus Reformasi Indonesia, Bandung: Program Studi Pembangunan, Program Pascasarjana ITB, 1999.